Bisnis.com, CIREBON - Penyaluran kredit perbankan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat sepanjang 2025 menunjukkan ketimpangan yang masih lebar antara pembiayaan untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan sektor usaha skala besar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total pinjaman sepanjang tahun berkisar di angka Rp2,3 triliun hingga Rp2,5 triliun per bulan. Sementara itu, kredit untuk sektor non-UMKM berada di kisaran Rp8 triliun hingga Rp9 triliun dalam periode yang sama. Kesenjangan tersebut menggambarkan bahwa struktur pembiayaan ekonomi di daerah ini masih berat pada sektor usaha besar.
Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, mengatakan tren kredit UMKM sebenarnya menunjukkan peningkatan sepanjang tahun, meski pertumbuhannya relatif terbatas jika dibandingkan dengan besarnya kredit yang mengalir ke sektor usaha non-UMKM.
“Nilai pinjaman UMKM pada Januari 2025 tercatat sekitar Rp2,36 triliun dan meningkat hingga mencapai Rp2,51 triliun pada Oktober. Artinya ada peningkatan aktivitas pembiayaan, tetapi skalanya masih jauh dibandingkan kredit yang diterima sektor usaha besar,” kata Januarto, Rabu (11/3/2026).
Selain nilai pinjaman, jumlah rekening kredit UMKM juga mengalami kenaikan sepanjang tahun. Pada Januari 2025 tercatat 22.509 rekening UMKM, kemudian meningkat menjadi 23.820 rekening pada Desember. Pertumbuhan ini mengindikasikan semakin banyak pelaku usaha kecil yang mulai mengakses layanan pembiayaan dari perbankan.
Namun demikian, peningkatan jumlah debitur tersebut belum mampu mengejar dominasi pembiayaan usaha besar. Kredit non-UMKM secara konsisten berada di atas Rp8 triliun sepanjang sebagian besar tahun 2025, bahkan sempat menembus Rp9,16 triliun pada Juni.
Menurut Januarto, kondisi ini mencerminkan struktur ekonomi daerah yang masih sangat dipengaruhi oleh aktivitas usaha berskala menengah dan besar, termasuk sektor perdagangan, industri, dan proyek-proyek investasi.
“Kalau dilihat dari komposisinya, kredit untuk UMKM hanya sekitar seperempat dari total pembiayaan perbankan di daerah. Ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah pelaku UMKM banyak, skala pembiayaannya masih relatif kecil,” ujarnya.
Dia menilai kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi upaya penguatan ekonomi daerah. Tanpa akses pembiayaan yang lebih besar, pelaku UMKM akan sulit meningkatkan kapasitas produksi maupun memperluas pasar.
Di sisi lain, data perbankan juga menunjukkan dinamika menarik pada akhir tahun. Pada Desember 2025, nilai pinjaman sektor non-UMKM tercatat turun cukup tajam menjadi sekitar Rp6,28 triliun dari posisi Rp8,81 triliun pada November. Penurunan tersebut juga diikuti oleh berkurangnya jumlah rekening kredit dari 57.498 menjadi 37.919.
Januarto mengatakan fluktuasi tersebut kemungkinan berkaitan dengan penyesuaian portofolio kredit perbankan menjelang tutup buku tahunan.
“Biasanya pada akhir tahun ada pelunasan kredit atau penataan kembali portofolio pinjaman oleh bank. Itu bisa mempengaruhi angka pada bulan Desember,” katanya.
Meski demikian, dia menekankan bahwa secara umum tren kredit sepanjang 2025 masih mencerminkan aktivitas ekonomi daerah yang relatif stabil. Permintaan pembiayaan tetap tumbuh, terutama pada sektor usaha yang membutuhkan modal kerja.
Namun tantangan ke depan, menurut dia, adalah bagaimana meningkatkan porsi pembiayaan bagi sektor UMKM agar lebih seimbang dengan sektor usaha besar. “UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Jika akses kredit mereka meningkat, dampaknya bisa langsung terasa pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal,” kata Januarto.