Pembukaan Selat Hormuz memberi angin segar bagi manufaktur, tetapi pemulihan industri diperkirakan berlangsung bertahap dalam 30-60 hari. [1,155] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pembukaan kembali Selat Hormuz mulai 19 Juni 2026 diperkirakan menjadi sentimen positif bagi sektor manufaktur nasional setelah beberapa bulan dibayangi lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok global. Namun, normalisasi jalur perdagangan tersebut belum otomatis mengembalikan kinerja manufaktur dalam waktu singkat.
Tidak dipungkiri, aktivitas manufaktur terutama sektor yang bergantung pada energi dan bahan baku impor sangat terdampak ketika jalur perdagangan Selat Hormuz ditutup. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz.
Gangguan pada jalur pelayaran strategis tersebut sempat mendorong kenaikan harga minyak, ongkos logistik, hingga premi asuransi pengiriman yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi industri.
Dengan dibukanya kembali jalur tersebut, harga minyak dunia mulai terkoreksi sehingga biaya impor energi maupun transportasi diperkirakan ikut menurun. Namun, transmisi ke sektor riil menurut Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, akan berlangsung bertahap karena penyesuaian tarif pengiriman, harga bahan baku antara, hingga kontrak pembelian membutuhkan waktu.
"Manfaat terbesar kemungkinan baru akan lebih terasa pada kuartal III/2026 ketika rantai logistik global mulai kembali stabil," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (17/6/2026).
Adapun sektor yang paling diuntungkan dengan dibukanya Selat Hormuz adalah industri dengan struktur biaya yang didominasi energi dan bahan baku impor, seperti petrokimia, plastik, tekstil, baja, keramik, dan kaca. Penurunan harga energi memberi ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan utilisasi pabrik sekaligus memperbaiki efisiensi operasional.
Kendati demikian, Yusuf mengingatkan bahwa keputusan perusahaan untuk meningkatkan produksi maupun melakukan ekspansi investasi tetap ditentukan oleh prospek permintaan. Selama beberapa bulan terakhir, aktivitas manufaktur lebih banyak ditopang oleh membaiknya permintaan domestik dibandingkan faktor eksternal.
"Stabilitas biaya memang penting, tetapi faktor penentu utama tetap berada pada kekuatan pasar. Pelaku usaha juga masih mencermati perkembangan geopolitik, arah suku bunga global, dan kondisi perdagangan internasional," katanya.
Recovery Tidak Singkat
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, pemulihan industri tetap membutuhkan waktu karena implementasi kesepakatan geopolitik masih harus diterjemahkan ke dalam kondisi riil di lapangan. Dia memperkirakan proses normalisasi dapat berlangsung dalam 30 hingga 60 hari ke depan.
"Kita lihat, mungkin dalam waktu 30-60 hari ini sudah bisa kembali senormal mungkin. Kita lihat hasilnya," ujarnya kepada Bisnis di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Anin menyampaikan, pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut diharapkan mampu mengurangi gangguan rantai pasok global yang selama konflik, menyebabkan kenaikan harga bahan baku serta kelangkaan sejumlah komoditas.
Menurutnya, membaiknya arus logistik internasional akan menjadi katalis positif bagi aktivitas manufaktur, meski dampaknya tidak akan dirasakan secara instan. "Dengan sumbatan ini sudah mulai dibuka lebih sedikit, kita berharap ekonomi bisa kembali lebih baik lagi, tapi tidak akan se-normal seolah-olah belum ada perang," sebut Anin.
Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa momentum pemulihan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan daya tahan ekonomi domestik. Menurutnya, Indonesia tidak dapat sepenuhnya bergantung pada membaiknya kondisi global mengingat sekitar 50% hingga 55% pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh konsumsi domestik.
Oleh karena itu, Kadin mendorong pemerintah memperkuat konsumsi rumah tangga, perdagangan, dan investasi agar pemulihan industri memiliki fondasi yang lebih kuat. Selain itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga harus menjadi bagian dari proses pemulihan karena secara agregat memiliki kontribusi investasi yang besar terhadap perekonomian nasional.
Lebih lanjut, Anin menuturkan, momentum pascapembukaan Selat Hormuz perlu dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan industri nasional menghadapi potensi disrupsi global di masa mendatang.
Dia berpendapat, Indonesia perlu mempercepat kemandirian di sektor pangan, energi, dan sumber daya strategis lainnya agar dampak gejolak geopolitik dapat diminimalkan. Anin juga meminta pemerintah memberikan perhatian kepada sektor-sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, elektronik, dan pertanian, sekaligus menjaga iklim investasi bagi industri padat modal agar ekspansi usaha dapat terus berlanjut.
“Itu kita mesti proteksi supaya, investasinya masuk. Jadi, padat modal, tapi juga padat karya itu penting sekali ditingkatkan,” tambahnya.
Selat Hormuz
Industri Pantau Harga
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi menyampaikan, industri tekstil menyambut positif meredanya konflik di Timur Tengah.
"Iya bagus kalau memang ada gencatan senjata. Semoga hasil ini sifatnya permanen dan tidak ada eskalasi lagi," harapnya.
Meski demikian, dia mengatakan harga bahan baku tekstil hingga kini masih bergerak fluktuatif karena sebagian besar industri masih menggunakan persediaan yang dibeli saat harga minyak berada pada level tinggi.
Menurutnya, penurunan harga bahan baku baru akan terjadi setelah harga petrokimia menyesuaikan pelemahan harga minyak dunia.
"Kalau bahan baku petrokimianya turun karena dampak turunnya harga minyak, pasti akan di-adjust juga harganya," kata Aqil.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyampaikan, industri plastik nasional kini tidak lagi terlalu bergantung pada pasokan bahan baku dari Timur Tengah karena telah melakukan diversifikasi sumber impor sejak konflik terjadi. Akan tetapi, pembukaan Selat Hormuz tetap diperkirakan mempercepat penurunan harga bahan baku karena pasokan energi global kembali meningkat.
"Sekarang memang trennya turun karena harga energi lagi turun dan nanti kalau Selat Hormuz dibuka, pasokannya lebih banyak, akan mempercepat penurunan tadi," tuturnya kepada Bisnis.
Selain faktor tersebut, Fajar menilai pelemahan harga juga dipengaruhi kondisi pasar China yang tengah mengalami keterbatasan bahan baku sehingga mengurangi ekspor produk petrokimia ke pasar global.
Di pasar domestik, permintaan produk plastik disebut masih cukup baik. Namun, sejumlah produsen memilih menurunkan utilisasi sementara waktu, untuk menghabiskan stok lama yang dibeli pada harga tinggi sebelum membeli bahan baku dengan harga baru yang lebih murah.
Menurutnya, harga bahan baku telah turun sekitar Rp4.000 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir. Harga resin juga diperkirakan turun mendekati US$1.100 per metrik ton atau semakin dekat dengan level sebelum konflik.
"Artinya harga barang plastik lebih murah lagi dan makin dekat ke harga normal," katanya.
Meski prospek biaya produksi membaik, Fajar mengingatkan industri masih menghadapi tantangan lain, terutama ketersediaan feedstock dan keandalan pasokan listrik. Pemadaman listrik yang lebih sering terjadi di sejumlah kawasan industri, khususnya di Jawa Timur, disebut telah menekan utilisasi pabrik karena proses produksi membutuhkan waktu berjam-jam hingga beberapa hari untuk kembali normal.
Dia berharap penurunan harga energi juga diikuti perbaikan keandalan pasokan listrik sehingga utilisasi industri dapat kembali meningkat. “Dengan turunnya harga komoditi ini PLN bisa menjaga konsistensi dan stabilitas pasokan listrik,” sebutnya.
Sementara itu, untuk mempercepat pemulihan daya saing manufaktur, Inaplas mendorong pemerintah menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan melalui pengawasan impor yang lebih ketat, khususnya terhadap produk plastik jadi.
“Impor bahan baku jadi plastik jangan sampai banjir. Bahan baku juga diamankan biar supply-demand bisa memberikan napas untuk pasokan lokal. Tapi yang jelas kali ini harga lokal jauh lebih murah daripada harga impor,” tambah Fajar.
PMI manufaktur RI mencapai level netral 50 pada Mei 2026, menunjukkan stabilisasi. Ekonom menilai perlu peningkatan output dan ekspor untuk pemulihan nyata. [610] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan pada Mei 2026 setelah Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur kembali menyentuh level netral 50,0. Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menjadi sinyal pemulihan sektor industri.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet menilai, posisi PMI pada Mei lebih tepat dibaca sebagai indikasi stabilisasi dibandingkan ekspansi. Menurutnya, angka 50 merupakan batas pemisah antara fase kontraksi dan ekspansi sehingga belum dapat diartikan sebagai pertumbuhan manufaktur yang solid.
"Secara teknis, angka 50 merupakan garis pemisah antara kontraksi dan ekspansi sehingga belum dapat dianggap sebagai ekspansi yang sesungguhnya," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/6/2026).
Dia mengakui terdapat perbaikan dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 49,1. Selain itu, hasil survei juga melampaui ekspektasi pasar. Kendati demikian, komponen penyusun PMI menunjukkan aktivitas industri masih cenderung mendatar.
Menurut Yusuf, permintaan domestik mulai menunjukkan perbaikan, tetapi belum diikuti peningkatan produksi. Output manufaktur justru masih mengalami penurunan sehingga aktivitas industri belum sepenuhnya bergerak menuju fase pemulihan.
Oleh karena itu, dia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan sektor manufaktur telah keluar dari tekanan. Pemulihan baru dapat dikonfirmasi apabila PMI mampu bertahan di atas level 50 selama beberapa bulan berturut-turut dan didukung oleh peningkatan output, ekspor, serta penyerapan tenaga kerja secara bersamaan.
Kualitas perbaikan PMI juga disebut relatif rapuh. Salah satu faktor yang menopang indeks berasal dari memburuknya waktu pengiriman pemasok. Dalam metodologi PMI, komponen tersebut dihitung secara terbalik sehingga keterlambatan pengiriman justru dapat memberikan kontribusi positif terhadap angka utama indeks.
Selama delapan bulan terakhir, waktu pengiriman pemasok terus memanjang akibat gangguan distribusi dan keterbatasan pasokan bahan baku. “Secara statistik kondisi tersebut membantu mendorong PMI, tetapi secara ekonomi justru menunjukkan adanya tekanan pada rantai pasok,” jelasnya.
Di sisi lain, volume output manufaktur tercatat masih mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Banyak perusahaan melaporkan tingginya harga bahan baku dan keterbatasan pasokan menjadi hambatan utama untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Pun kenaikan pesanan baru yang belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan yang sehat. Sebagian pelanggan disebut meningkatkan pembelian untuk mengamankan stok di tengah risiko kenaikan harga dan keterbatasan pasokan.
"Pola seperti ini biasanya bersifat sementara dan berbeda dengan pertumbuhan permintaan yang didorong oleh peningkatan konsumsi atau investasi secara organik," kata Yusuf.
Kerentanan manufaktur juga terlihat dari kinerja ekspor yang terus melemah. Penjualan ke pasar internasional tercatat mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut dengan laju penurunan terdalam sejak Agustus 2021.
Kondisi tersebut membuat industri manufaktur semakin bergantung pada pasar domestik sebagai sumber pertumbuhan. Padahal, sebagian dorongan permintaan dalam negeri saat ini masih berkaitan dengan aktivitas penimbunan stok.
Yusuf berpendapat, apabila aktivitas tersebut mulai mereda sementara permintaan global belum pulih, ruang pertumbuhan manufaktur berpotensi kembali menyempit dan mendorong PMI turun ke bawah level 50.
Memang, Indonesia masih memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar. Konsumsi rumah tangga dinilai tetap menjadi bantalan utama yang menjaga aktivitas ekonomi nasional.
“Namun sektor-sektor yang memiliki orientasi ekspor tinggi, seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik, tetap menghadapi tekanan yang cukup besar akibat lemahnya permintaan global,” tambahnya.
Dia melanjutkan, tantangan terbesar industri saat ini justru berasal dari sisi biaya produksi. Inflasi biaya input pada Mei 2026 mencapai level tertinggi sejak survei PMI manufaktur Indonesia dimulai pada September 2013.
Lonjakan tersebut terutama dipicu kenaikan harga bahan baku yang terus berlanjut. Di tengah kondisi pasar yang sensitif terhadap harga, perusahaan tidak sepenuhnya mampu meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen sehingga sebagian harus ditanggung melalui penyusutan margin keuntungan.
Persoalan itu semakin kompleks karena struktur industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku dan barang setengah jadi. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah otomatis meningkatkan biaya impor dan memperbesar beban produksi.
"Jika kenaikan biaya di Indonesia berlangsung lebih cepat dibanding negara pesaing, daya saing produk nasional di pasar global juga berpotensi menurun," jelasnya.
IDXChannel - Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang berlanjut pada Oktober 2025. Di mana indeks manufaktur nasional naik ke level 51,2 dari 50,4 pada bulan sebelumnya berdasarkan data Purchasing Managers’ Index (PMI).
Capaian ini menandai tiga bulan berturut-turut ekspansi, menegaskan sinyal positif bagi sektor industri pengolahan tanah air.
Menurut riset Samuel Sekuritas, kenaikan PMI terutama ditopang oleh peningkatan pesanan baru dan pertumbuhan tenaga kerja. Permintaan baru yang terus meningkat selama tiga bulan terakhir membantu menstabilkan output produksi, sementara pelaku industri mulai meningkatkan aktivitas pembelian bahan baku serta penyerapan tenaga kerja. Bahkan, penciptaan lapangan kerja pada Oktober tercatat sebagai yang tercepat sejak Mei lalu.
Di sisi lain, tumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan terus menurun selama tujuh bulan berturut-turut, meskipun dengan laju yang lebih lambat. Kondisi ini menunjukkan tekanan kapasitas yang relatif ringan.
Namun, rantai pasok mengalami sedikit pelemahan dengan waktu pengiriman kembali memanjang untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir akibat keterlambatan pengiriman dan perbaikan jalan yang masih berlangsung.
Samuel Sekuritas mencatat dari sisi biaya, pelaku industri menghadapi kenaikan harga input paling tajam dalam delapan bulan terakhir seiring meningkatnya harga bahan baku. Meski demikian, tekanan kompetitif di pasar membuat produsen tidak dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya tersebut ke harga jual.
"Harga output hanya naik tipis karena pelaku industri masih berhati-hati menjaga margin keuntungan di tengah sentimen bisnis yang belum sepenuhnya pulih," tulis analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi, Senin (3/11/2025).
Prasetya menjelaskan, perbaikan kinerja sektor manufaktur ini sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen pada Oktober 2025.
Dengan inflasi stabil di 2,65 persen secara tahunan atau masih berada dalam target 2,5 persen ± 1 persen, BI menitikberatkan kebijakannya pada stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap likuiditas domestik.
Nilai tukar rupiah yang relatif stabil di sekitar Rp16.600 per USD turut membantu menekan biaya impor bahan baku dan menjaga ekspektasi inflasi. Sentimen global juga ikut menopang, di antaranya peningkatan bertahap permintaan manufaktur dunia serta penurunan harga minyak mentah ke kisaran pertengahan USD 60-an per barel, yang memberi ruang napas bagi sektor padat energi.
Sinyal positif bagi pasar keuangan
Samuel Sekuritas menilai, penguatan PMI memberikan sinyal pemulihan ekonomi yang bertahap dan terukur. Di pasar obligasi, prospek inflasi yang stabil dan sikap hati-hati BI berpotensi menjaga imbal hasil tenor pendek tetap terkendali, sementara spread kredit bagi emiten berkualitas tinggi bisa menyempit seiring membaiknya momentum manufaktur.
Dari sisi pasar saham, sektor-sektor seperti komponen otomotif, kemasan, dan bahan bangunan berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari normalisasi permintaan dan turunnya biaya energi.
Namun, emiten dengan margin tipis dan daya tawar harga rendah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap laba jika harga bahan baku belum stabil.
Ke depan, Samuel Sekuritas memperkirakan PMI Indonesia akan tetap berada sedikit di atas level 50 dalam beberapa bulan mendatang, didukung oleh resiliensi permintaan domestik dan stabilitas makroekonomi.
Jika hambatan logistik dapat diatasi dan harga bahan baku mulai stabil, sektor manufaktur berpeluang memulihkan profitabilitas dan memperkuat daya saing.
"Data PMI Oktober mencerminkan optimisme yang berhati-hati. Pemulihan manufaktur Indonesia terus berlanjut secara stabil, didukung oleh fondasi ekonomi domestik yang solid, meski tantangan biaya dan logistik masih perlu diwaspadai," kata Prasetya.
(DESI ANGRIANI)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56