Bisnis.com, JAKARTA - Langkah Bank Raya untuk bertransformasi digital adalah dengan melakukan strategi perbaikan kualitas guna mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Meskipun terdapat perlambatan dalam kinerja keuangan tahun 2025, dikarenakan perusahaan mengambil langkah perbaikan pada debitur-debitur legacy yang secara bertahap portofolionya akan diturunkan melalui pembentukan cadangan. Di sisi lain Bank Raya terus memperkuat pertumbuhan bisnis digital yang saat ini porsinya terus meningkat menjadi 39,8% dari sebelumnya yaitu sebesar 32,1%.
Bank Raya terus berkomitmen untuk menjaga rasio likuiditas pada level yang aman dimana rasio LDR tercatat 80,83%, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) di angka 84,41%, serta rasio LCR (Liquidity Coverage Ratio) tercatat 474,93% dan Rasio Net Stable Funding Ratio (NSFR) tercatat sebesar 171,98% di atas ketentuan minimum sebesar 100%. Selain itu dari sisi permodalan juga masih terjaga terlihat dari rasio Total CAR sebesar 40,25% dan rasio Tier 1 CAR sebesar 39,30% yang akan mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis Bank Raya ke depan.
“Komitmen kami untuk melakukan perbaikan pada debitur legacy dilakukan agar bank dapat bertumbuh lebih sehat secara jangka panjang. Dengan dukungan dari BRI dan strategi kami untuk terus bersinergi eksplorasi di ekosistem BRI Group, kami optimis dapat terus melanjutkan tren positif ini melalui pertumbuhan bisnis yang berkualitas dan efisiensi yang berkesinambungan. ”Tambah Bagus.
Komitmen pertumbuhan ini sudah terlihat pada Kinerja di Februari 2026, dimana Bank Raya telah mencetak laba bersih sebesar Rp5,11 miliar. Pendapatan bunga tercatat sebesar Rp194 miliar dengan pertumbuhan positif dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan bunga dikontribusi dari pendapatan bunga digital lending yang terus tumbuh sejalan dengan peningkatan outstanding digital lending yang tumbuh double digit.
Giatkan Keuangan Berkelanjutan untuk Memberikan Dampak Lebih Luas dan Penerapan GCG untuk Tata Kelola yang Baik
Bank Raya juga berkomitmen untuk terus membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Penerapan inisiatif keberlanjutan Bank Raya selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs). Di bidang ekonomi, penyaluran kredit UMKM dan digital lending menunjukkan kinerja yang tumbuh secara berkelanjutan. Di bidang lingkungan, Bank Raya berhasil menurunkan konsumsi energi dan kertas secara signifikan, pelaporan emisi karbon kepada OJK, serta melaksanakan program penanaman mangrove dengan melibatkan nasabah. Di bidang sosial, Bank meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia melalui sertifikasi dan pelatihan ESG, serta menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial dan literasi keuangan bagi masyarakat.
Salah satu langkah nyata Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pada pilar lingkungan, Bank Raya telah meluncurkan Pantura Greenbelt Program untuk penanaman 3500 bibit pohon bakau dari setiap transaksi keuangan nasabah di Aplikasi Raya. Pantura Greenbelt Program ini, diharapkan mampu berkontribusi pada lingkungan sekitar dan menyerap karbon sebanyak 28 tCO2/tahun, yang akan bertambah seiring bertambahnya usia tanaman. Komitmen TJSL lainnya dari pilar sosial, Bank Raya aktif mendorong literasi keuangan di masyarakat. Hingga Desember 2025, Bank Raya telah menghadirkan lebih dari 100 episode yang bekerja sama dengan pakar pengelolaan keuangan maupun komunitas pelaku usaha.
Bank Raya juga berhasil masuk pada beberapa indeks bergengsi pada tahun 2025 seperti Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI (ESGS KEHATI) yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia untuk periode September 2025 - November 2025 dan meraih Katadata ESG Index (KESGI) Score sebesar 53,17 meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 48,58.
Konsisten Melakukan Pengembangan Teknologi Informasi (TI) dan Tata Kelola
Untuk memperkuat tata kelola TI dan keamanan informasi, Bank Raya telah menerapkan standar internasional ISO/IEC 27001:2022 Information Security Management System, dimana Bank mengimplementasikan sistem manajemen keamanan informasi yang komprehensif dan terstruktur, mencakup pengelolaan risiko, perlindungan data, serta pengendalian operasional TI yang sejalan dengan praktik terbaik global. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memastikan keandalan TI perbankan digital Bank Raya serta menjaga kepercayaan nasabah, mitra, dan pemangku kepentingan.
Pada tahun 2025 Bank Raya meraih predikat “Sangat Terpercaya” atau “Most Trusted” Company berdasarkan Corporate Governance Perception Index (CGPI), meningkat dari tahun 2024. Predikat ini membuktikan komitmen Bank Raya dalam menerapkan prinsip-prinsip GCG yang terus berpedoman terhadap pengelolaan perusahaan yang Transparan, Akuntabel, Responsible, Independent, dan Fairness sesuai dengan pedoman tata kelola di industri perbankan. Bank Raya juga terus melakukan perbaikan dalam hal bisnis model, proses bisnis & operasional, penerapan kode etik perusahaan, komitmen anti fraud, serta melakukan berbagai sertifikasi seperti ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan, ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu, ISO/IEC 27001:2022 Sistem Manajemen Keamanan Informasi (Information Security Management System/ISMS), dan ISO 20000-1:2018 IT Service Management System.
”Kami optimis kinerja Bank Raya akan terus bertumbuh secara berkelanjutan melalui komitmen kami untuk terus berinovasi serta didukung dengan optimalisasi sinergi dengan ekosistem BRI Group serta partnership dan kolaborasi dengan berbagai ekosistem bisnis, cluster usaha, maupun komunitas.” Tutup Bagus.