#30 tag 24jam
Wall Street Melemah, Pernyataan The Fed dan Saham Teknologi Jadi Sorotan
Bursa saham AS melemah tipis, ditekan sektor teknologi meski Meta menguat. Pernyataan The Fed Kevin Warsh redakan inflasi, namun pasar tetap waspada. [527] url asal
#federal-reserve #bursa-saham-as #saham-teknologi #meta-platforms
(Kompas.com - Money) 02/07/26 05:58
v/265759/
NEW YORK, KOMPAS.com- Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan Rabu (2/7/2026) waktu setempat.
Mengutip Reuters, Kamis (2/7/2026), indeks S&P 500 turun 14,34 poin atau 0,19 persen menjadi 7.485,02.
Sementara, indeks Nasdaq Composite terkoreksi 169,56 poin atau 0,65 persen ke level 26.044,16.
Adapun indeks Dow Jones Industrial Average turun tipis 3,62 poin atau 0,01 persen menjadi 52.315,58.
Pelemahan saham-saham teknologi menekan pergerakan indeks utama Wall Street, meski kenaikan saham Meta Platforms membantu membatasi penurunan, setelah pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang menyebut risiko inflasi mulai mereda dalam beberapa waktu terakhir.
Warsh juga menegaskan bahwa bank sentral Amerika Serikat akan tetap berpegang teguh pada target inflasi sebesar 2 persen.
Ia mengatakan tidak akan memenuhi harapan pihak-pihak yang menginginkan kebijakan moneter longgar, meskipun Presiden Donald Trump kembali menyerukan agar suku bunga diturunkan.
Setelah Warsh menyampaikan pernyataannya, pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga.
Namun, berdasarkan data yang dihimpun LSEG, pasar masih memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat pada tahun ini.
Saham Meta Platforms (META) menguat setelah Bloomberg News melaporkan perusahaan tersebut tengah membangun bisnis layanan komputasi awan (cloud) untuk menjual kapasitas komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang tidak terpakai.
“Hal ini tampaknya akan terus menjadi faktor yang mendukung pergerakan saham Meta,” kata Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey.
Menurutnya, selama ini kinerja saham Meta masih tertinggal dibandingkan kelompok “Magnificent Seven” atau tujuh saham berkapitalisasi besar di sektor teknologi.
Meski demikian, saham Meta masih mencatatkan kinerja negatif sejak awal tahun.
Ghriskey mengatakan investor juga terus mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut dia, pelaku pasar masih bersikap hati-hati, terutama menjelang libur panjang di Amerika Serikat pada akhir pekan ini.
Pelaku pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan bulanan Amerika Serikat yang akan dirilis pada Kamis (3/7/2026) waktu setempat.
Bursa saham AS juga akan ditutup pada Jumat (4/7/2026) untuk memperingati Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Fourth of July).
Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan pembahasan antara Amerika Serikat dan Iran berjalan dengan baik.
Kedua negara menggelar pembicaraan teknis tidak langsung di Qatar pada Rabu terkait Selat Hormuz.
Vance menambahkan, Washington tidak akan kembali melancarkan operasi militer secara penuh kecuali jika memang diperlukan.
Amerika Serikat dan Iran juga telah menandatangani kesepakatan sementara pada bulan lalu.
Investor juga mencermati data dari Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan aktivitas manufaktur Amerika Serikat melambat pada Juni, meski masih berada pada tingkat yang dinilai cukup solid.
Pergerakan yang relatif lesu pada perdagangan Rabu terjadi setelah Wall Street membukukan kinerja yang sangat kuat sepanjang kuartal II-2026.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat kenaikan kuartalan terbesar sejak 2020, sedangkan Dow Jones membukukan performa kuartalan terbaik sejak 2022.
Di jajaran saham yang melemah, saham Alcoa turun setelah perusahaan tambang asal Australia, South32, menyepakati penjualan sebagian besar aset aluminiumnya kepada Alcoa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Tokenisasi Aset Makin Diminati, Investor Indonesia Ramai Berburu Saham AS
Minat investor Indonesia terhadap tokenisasi aset atau tokenized assets terus menunjukkan peningkatan. [627] url asal
#saham-as #aset-kripto #blockchain #tokenisasi
(Kompas.com - Money) 30/06/26 18:32
v/264142/
JAKARTA, KOMPAS.com – Minat investor Indonesia terhadap tokenisasi aset atau tokenized assets terus menunjukkan peningkatan.
Instrumen investasi berbasis teknologi blockchain ini mulai menjadi alternatif bagi investor yang ingin memperoleh eksposur ke berbagai aset global, termasuk saham-saham Amerika Serikat (AS).
Platform investasi aset kripto PT Pintu Kemana Saja (PINTU) mencatat pertumbuhan transaksi tokenisasi aset sepanjang semester I 2026.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi investor, investor saham, investor ritel.Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya minat investor kripto domestik untuk melakukan diversifikasi investasi ke aset global yang tersedia dalam bentuk token di jaringan blockchain.
Head of Product Marketing PINTU Iskandar Mohammad mengatakan, jumlah investor yang aktif memperdagangkan tokenisasi aset terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
"Perdagangan tokenisasi aset di PINTU mengalami peningkatan yang signifikan di mana jumlah monthly unique trader tokenized stocks tumbuh 40 persen pada bulan Mei dibandingkan dengan Januari 2026," ujar Iskandar dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, pertumbuhan juga terlihat pada sejumlah produk tokenisasi aset yang merepresentasikan indeks saham AS.
"Secara spesifik bahkan, tokenisasi aset seperti Nasdaq (QQQX) dan SP500 (SPYX) mengalami kenaikan pesat secara bulanan April-Mei, naik masing-masing 64 persen dan 51 persen. Kenaikan ini sejalan dengan minat investor secara global terhadap tokenisasi aset," kata Iskandar.
Kapitalisasi pasar RWA tembus 32,23 miliar dollar AS
Di tingkat global, sektor tokenisasi aset atau Real-World Assets (RWA) juga terus berkembang.
FREEPIK/MACROVECTOR Ilustrasi tokenisasi aset.Berdasarkan data RWA.xyz per 25 Juni 2026, total kapitalisasi pasar sektor Real-World Assets (RWA) on-chain mencapai 32,23 miliar dollar AS.
Nilai tersebut meningkat tajam dibandingkan awal 2024 yang masih berada di level 1,8 miliar dollar AS.
Menurut PINTU, lonjakan tersebut didorong oleh semakin luasnya adopsi tokenisasi aset oleh institusi keuangan global serta meningkatnya minat investor ritel terhadap akses investasi di pasar global yang lebih fleksibel.
Faktor yang mendorong minat investor
Iskandar menilai terdapat beberapa faktor yang membuat tokenisasi aset semakin diminati investor di Indonesia.
"Seiring dengan meningkatnya transaksi tokenisasi aset secara global, di Indonesia tumbuhnya transaksi tokenisasi aset di kalangan investor finansial didorong oleh beberapa faktor di antaranya, pajak final hanya 0,21 persen yang dikenakan hanya saat melakukan penjualan," ujarnya.
Selain itu, menurut dia, fleksibilitas perdagangan juga menjadi salah satu daya tarik utama karena transaksi dapat dilakukan selama 24 jam tanpa harus menunggu jam operasional bursa.
"Fleksibilitas trading yang menjadi kunci karena 24 jam penuh bisa melakukan perdagangan tanpa perlu menunggu pasar buka. Terakhir kemudahan pembelian langsung menggunakan mata uang rupiah tanpa perlu konversi," kata Iskandar.
Akses ke saham global
Saat ini, PINTU menyediakan 48 aset tertokenisasi dari berbagai sektor industri global.
Aset tersebut mencakup token yang merepresentasikan saham sejumlah perusahaan besar seperti Apple, Alphabet, Meta Platforms, Tesla, NVIDIA, Microsoft, Amazon, dan JPMorgan Chase & Co.
Selain saham perusahaan teknologi dan keuangan, tersedia pula instrumen investasi yang memberikan eksposur terhadap sektor consumer goods, layanan kesehatan, energi, aerospace & defense, logam mulia, obligasi pemerintah Amerika Serikat, hingga exchange traded fund (ETF) global.
PEXELS/ROMULO QUEIROZ Ilustrasi saham, pasar saham, bursa saham.Menurut Iskandar, tokenisasi aset membuka peluang bagi investor Indonesia untuk mengakses berbagai instrumen investasi global yang sebelumnya lebih sulit dijangkau.
"Aplikasi PINTU menjadi pionir dalam penyediaan tokenisasi aset yang memungkinkan investor Indonesia mendapatkan eksposur terhadap berbagai aset global secara mudah, aman, dan teregulasi. Kami melihat tokenisasi aset bukan hanya menjadi tren, tetapi juga inovasi yang membuka akses investasi lintas batas yang sebelumnya sulit dijangkau oleh investor ritel," ujar Iskandar.
Ia menambahkan, PINTU akan terus memperluas pilihan aset tertokenisasi sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
"Ke depan, PINTU akan terus menghadirkan pilihan aset tertokenisasi yang berkualitas serta edukasi yang komprehensif agar masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan peluang investasi global dengan lebih optimal," tutup Iskandar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangIndeks Wall Street Turun, Nasdaq Lesu Lima Hari Berturut-turut
Wall Street ditutup melemah dengan Indeks Nasdaq jatuh lima sesi beruntun karena investor memindahkan dana dari saham teknologi besar ke sektor yang lebih defensif. [547] url asal
Bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup menurun pada perdagangan Jumat (26/6) dengan Nasdaq Composite mencatatkan penurunan lima sesi beruntun.
Lesunya Nasdaq di tengah aksi investor yang mengalihkan dana dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar ke sektor-sektor yang dinilai lebih defensif.
Indeks Nasdaq Composite turun 0,24% ke level 25.297,62. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi tipis 0,05% ke posisi 7.354,02 dan Dow Jones Industrial Average melemah 44,51 poin atau 0,09% menjadi 51.876,11.
Secara mingguan, S&P 500 turun hampir 2%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 4,6%. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones justru naik 0,6% sepanjang pekan.
Tekanan pada saham teknologi dipicu laporan New York Times yang menyebut OpenAI tengah mempertimbangkan menunda rencana penawaran umum perdana saham (IPO) hingga tahun depan. Langkah itu dinilai karena buruknya kinerja SpaceX setelah IPO dan tingginya volatilitas saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI).
Analis JPMorgan menilai kabar tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan belanja infrastruktur AI jika pendanaan dari pasar modal tertunda. Senada, pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli, mengatakan penundaan IPO OpenAI berpotensi memperlambat laju investasi infrastruktur AI.
Sentimen negatif itu membebani saham-saham semikonduktor. Saham Micron Technology anjlok lebih dari 6%, Advanced Micro Devices (AMD) turun 2%, sedangkan Intel terkoreksi lebih dari 3%.
Gelombang aksi jual juga menjalar ke bursa Asia. Saham SoftBank Group, salah satu investor utama OpenAI, merosot lebih dari 12%. Di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok 5,81% ke level 8.411,21, sementara Kosdaq turun 4,10% menjadi 851,37, seiring aksi jual besar-besaran pada saham-saham teknologi.
Ahli strategi investasi di Baird, Ross Mayfield, memperkirakan rotasi dana dari saham teknologi ke sektor lain masih akan berlanjut hingga Juli. Menurutnya, hal itu dipengaruhi oleh reli yang sudah terlalu tinggi pada sejumlah saham produsen chip.
Meski demikian, Mayfield tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang sektor tersebut. Ia menilai saham-saham cip dan infrastruktur AI masih berpotensi mengungguli pasar dalam 12 bulan ke depan, didukung permintaan yang dinilai tetap sangat kuat.
Di sisi lain, ia menilai masih ada ruang bagi saham-saham yang sebelumnya tertinggal untuk mengejar kenaikan di tengah pergeseran minat investor.
“Saya tidak sepenuhnya yakin bahwa ini merupakan rotasi penuh di mana saham infrastruktur AI akan menjadi yang tertinggal selama 12 bulan ke depan atau semacamnya,” kata Mayfield, dikutip CNBC International, Senin (29/6).
Sektor teknologi informasi dalam indeks S&P 500 melemah 1% pada perdagangan Jumat (26/6). Seiring investor mengurangi eksposur pada saham-saham chip dan mengalihkan dana ke sektor yang lebih defensif, terutama kesehatan.
Saham perusahaan farmasi menjadi penopang utama sektor tersebut. Saham Eli Lilly melonjak 7%, Johnson & Johnson naik hampir 4%, hingga AbbVie menguat lebih dari 4%.
Selain kesehatan, sektor barang konsumsi pokok, keuangan, dan utilitas juga mencatatkan kenaikan. Sektor barang konsumsi pokok naik hampir 1%, diikuti sektor keuangan sebesar 0,8% dan utilitas sebesar 0,4%.
Di sisi lain, data sentimen konsumen AS yang lebih baik dari perkiraan serta prospek inflasi yang dinilai membaik turut menopang pergerakan pasar. Namun, Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan kini memperkirakan masih ada satu kali kenaikan suku bunga tahun ini, menyusul meningkatnya tekanan inflasi akibat konflik di Timur Tengah.
Sedangkan harga minyak dunia ditutup melemah meskipun Presiden Donald Trump menyatakan Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Wall Street Jagokan Micron Jadi "Nvidia Berikutnya", Apa Penyebabnya?
Micron mencuri perhatian Wall Street usai valuasinya sempat melampaui Meta dan Tesla, didorong lonjakan permintaan chip memori AI. [785] url asal
#micron-technology #wall-street #kapitalisasi-pasar #saham-as #chip-memori #saham-micron
(Kompas.com - Money) 29/06/26 05:38
v/262223/
KOMPAS.com – Perusahaan pembuat chip memori asal Amerika Serikat (AS), Micron Technology, menjadi sorotan Wall Street setelah nilai pasarnya melonjak tajam berkat ledakan permintaan industri kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari Yahoo Finance, lonjakan tersebut membuat Micron sempat melampaui kapitalisasi pasar Meta dan Tesla pada perdagangan Kamis (25/6/2026) waktu AS.
Meski sehari kemudian nilainya kembali turun, perusahaan itu tetap berada di jajaran emiten teknologi dengan valuasi terbesar di dunia.
Optimisme investor didorong oleh tingginya permintaan chip memori untuk pusat data AI yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2027.
Saham Micron melonjak lebih dari 236 persen dalam sebulan
Micron yang berbasis di Boise, Idaho, menutup perdagangan Jumat dengan kapitalisasi pasar sekitar 1,27 triliun dollar AS.
Sebagai perbandingan, kapitalisasi pasar Meta mencapai sekitar 1,39 triliun dollar AS, sedangkan Tesla sekitar 1,42 triliun dollar AS.
Harga saham Micron juga mencatat kenaikan luar biasa. Dalam satu bulan terakhir, saham perusahaan tersebut melesat lebih dari 236 persen hingga ditutup di level 1.132 dollar AS per saham.
Kenaikan ini menjadi pencapaian yang signifikan mengingat selama bertahun-tahun hingga pertengahan 2025 harga saham Micron berada di bawah 100 dollar AS.
Diuntungkan ledakan pembangunan pusat data AI
Jika dahulu Micron lebih dikenal sebagai produsen kartu memori berukuran kecil untuk komputer pribadi maupun ponsel, kini bisnis utamanya justru mendapat keuntungan besar dari pembangunan pusat data AI secara masif.
Permintaan chip memori jenis DRAM, NAND, terutama High-Bandwidth Memory (HBM) meningkat pesat karena dibutuhkan dalam server AI.
HBM merupakan jenis memori berkecepatan tinggi yang dirancang untuk mengolah data dalam jumlah besar dengan konsumsi daya lebih efisien. Teknologi ini menjadi komponen penting pada akselerator AI modern.
Satu server AI membutuhkan kapasitas memori yang jauh lebih besar dibandingkan sebuah laptop, sehingga kebutuhan chip memori meningkat drastis.
Google Ilustrasi data center AI.Nvidia hingga Microsoft borong chip memori
Permintaan tersebut datang dari berbagai perusahaan teknologi besar.
Produsen sistem AI seperti Nvidia, bersama perusahaan penyedia layanan komputasi awan berskala besar (hyperscaler), membeli chip memori dalam jumlah sangat besar.
Di antaranya Microsoft, Amazon Web Services (AWS), Google, Meta, dan Oracle.
Kondisi ini membuat perusahaan lain yang juga membutuhkan chip memori ikut melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk mengamankan pasokan, mulai dari produsen komputer seperti Dell dan HP hingga berbagai produsen perangkat elektronik lainnya.
Akibatnya, pasokan chip memori global menjadi semakin ketat.
Fenomena "RAMageddon" diperkirakan berlanjut hingga 2027
Kelangkaan chip memori tersebut kini dikenal dengan istilah RAMageddon.
Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika permintaan memori jauh melampaui kemampuan industri dalam memproduksi chip, sehingga memicu kenaikan harga.
Menurut laporan Yahoo Finance, kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2027.
Dampaknya mulai dirasakan konsumen karena harga berbagai produk elektronik, termasuk perangkat Apple dan konsol Xbox, ikut terdorong naik akibat meningkatnya biaya komponen memori.
Pendapatan dan laba Micron melonjak tajam
Permintaan yang tinggi tercermin dalam kinerja keuangan Micron pada kuartal ketiga tahun fiskalnya.
Pendapatan perusahaan meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 41,45 miliar dollar AS.
Sementara itu, laba bersih melonjak dari 1,88 miliar dollar AS menjadi 28,2 miliar dollar AS.
Micron juga memberikan prospek positif dengan memperkirakan pendapatan kuartal keempat berada di kisaran 49 miliar dollar AS hingga 51 miliar dollar AS.
Kinerja tersebut semakin memperkuat keyakinan investor bahwa Micron berpotensi menjadi salah satu perusahaan AI dengan pertumbuhan tercepat setelah Nvidia.
Perjanjian jangka panjang menjadi penopang optimisme
Industri chip memori selama ini dikenal memiliki siklus bisnis yang fluktuatif.
Produsen seperti Micron maupun Samsung harus mengeluarkan investasi besar untuk membangun fasilitas produksi baru. Namun, ketika kapasitas produksi meningkat, permintaan sering kali justru mulai melemah sehingga terjadi kelebihan pasokan dan harga chip turun.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Micron menegaskan telah mengamankan sejumlah kontrak pasokan jangka panjang.
Perusahaan menyebut telah menjalin kerja sama dengan Nvidia dan laboratorium AI Anthropic, serta menandatangani 16 perjanjian strategis dengan pelanggan di sektor pusat data, elektronik konsumen, dan otomotif.
Dalam presentasi kinerjanya, Micron mengatakan kesepakatan tersebut diharapkan dapat mengubah model bisnis perusahaan secara fundamental sekaligus memberikan kepastian pendapatan dalam jangka panjang.
Analis teknologi William Blair, Sebastien Naji, menilai pertumbuhan permintaan chip memori masih lebih cepat dibandingkan penambahan kapasitas produksi global.
"Kami melihat kemungkinan besar harga jual rata-rata (ASP) akan terus meningkat dalam beberapa kuartal mendatang. Ditambah semakin banyaknya perjanjian jangka panjang dengan pelanggan utama, kami melihat potensi pertumbuhan laba yang lebih berkelanjutan dan mempertahankan rekomendasi Outperform," tulis Naji.
Meski demikian, menurut laporan tersebut, masih terlalu dini untuk memastikan apakah Micron benar-benar mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi tanpa kembali mengalami siklus penurunan yang selama ini menjadi karakter industri chip memori.
Namun, untuk sesaat pekan lalu, perusahaan asal Amerika Serikat itu berhasil mencatatkan valuasi yang melampaui sejumlah raksasa teknologi dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saham SpaceX Anjlok 17 Persen, Langkah Tambah Utang Jadi Sorotan
Saham SpaceX ditutup melemah 17,2 persen pada pekan penuh pertamanya sebagai perusahaan publik. [620] url asal
#elon-musk #kapitalisasi-pasar #saham-as #pasar-saham #ipo-spacex #saham-spacex
(Kompas.com - Money) 27/06/26 09:37
v/261389/
KOMPAS.com – Saham SpaceX ditutup melemah 17,2 persen pada pekan penuh pertamanya sebagai perusahaan publik.
Penurunan tersebut menyeret kapitalisasi pasar SpaceX kembali mendekati 2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 35.720 triliun (asumsi kurs Rp 17.860 per dollar AS).
Nilai tersebut turun dari posisi puncaknya yang sempat melampaui 2,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 44.650 triliun pada hari-hari awal perdagangan.
Dilansir dari Yahoo Finance, Sabtu (27/6/2026), pelemahan ini memperpanjang debut yang kurang mulus bagi salah satu perusahaan dengan penawaran umum perdana (IPO) yang paling dinantikan investor dalam beberapa tahun terakhir.
Pada level saat ini, harga saham SpaceX mendekati harga IPO sebesar 135 dollar AS per saham dan telah turun di bawah level pembukaan 150 dollar AS per saham.
Bagi pelaku pasar, level tersebut merupakan batas psikologis yang penting sekaligus mengingatkan pada sejumlah IPO besar lain yang pada akhirnya diperdagangkan di bawah harga penawaran.
Penawaran obligasi jumbo jadi sorotan
Di tengah tekanan terhadap harga saham, SpaceX pada Selasa lalu menetapkan harga penawaran obligasi senilai 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 446,5 triliun.
Penawaran itu disambut antusias investor dengan nilai pemesanan mencapai hampir 90 miliar dollar AS. Besarnya minat tersebut mendorong perusahaan menaikkan nilai penerbitan obligasi dari target awal 20 miliar dollar AS.
Di satu sisi, tingginya permintaan mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek SpaceX. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan mengapa perusahaan masih membutuhkan tambahan utang dalam jumlah besar setelah berhasil menghimpun dana besar melalui IPO.
Menurut laporan Bloomberg, obligasi SpaceX justru mencatat kerugian di pasar sekunder sejak mulai diperdagangkan.
Nilai kerugian di atas kertas (paper losses) diperkirakan telah mencapai sekitar 305 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,45 triliun dibandingkan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasurys) yang menjadi acuan.
Paper losses merupakan penurunan nilai investasi yang belum direalisasikan karena surat utang tersebut belum dijual.
Muncul kekhawatiran valuasi terlalu tinggi
Sebagian pelaku pasar di Wall Street menilai aksi penghimpunan dana melalui IPO dan penerbitan obligasi dalam waktu berdekatan merupakan sinyal yang perlu dicermati.
Pandangan pesimistis menyebut SpaceX tengah berupaya mengumpulkan dana sebanyak mungkin selama kondisi pasar masih kondusif.
Langkah tersebut juga dinilai sebagai pertanda bahwa reli saham perusahaan antariksa dan kecerdasan buatan (AI), yang telah menciptakan kekayaan di atas kertas hingga triliunan dollar AS selama setahun terakhir, mulai memasuki fase jenuh.
Dalam FT Global Insurance Summit, Chief Investment Officer Allianz, Ludovic Subran, mengatakan transaksi pendanaan SpaceX menunjukkan pasar mulai bergeser "dari ledakan pertumbuhan yang sudah terlalu tinggi menuju wilayah gelembung."
OpenAI dikabarkan menunda IPO
Perubahan sentimen pasar juga disebut berdampak pada perusahaan AI.
Menurut laporan Bloomberg, OpenAI dikabarkan memperlambat rencana IPO yang telah lama dinantikan investor.
Langkah tersebut ditafsirkan sebagai sinyal bahwa euforia terhadap perusahaan AI mulai mereda seiring meningkatnya biaya operasional dan melambatnya pertumbuhan arus kas.
Ist Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, akan mulai diperdagangkan di bursa Nasdaq, New York City, AS pada Jumat (12/6/2026) waktu setempat, dengan kode saham SPCX. SpaceX bidik bisnis layanan seluler
Di tengah tantangan tersebut, Financial Times melaporkan SpaceX sedang mempertimbangkan ekspansi ke bisnis layanan seluler untuk konsumen.
Perusahaan disebut mengeksplorasi layanan nirkabel berbasis Starlink yang memungkinkan pelanggan membeli paket seluler langsung dari SpaceX sehingga dapat bersaing dengan operator telekomunikasi yang telah lebih dulu beroperasi.
Rencana tersebut akan memperkuat ambisi Starlink mengembangkan teknologi direct-to-cell, yakni layanan yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa bergantung pada menara seluler konvensional.
Apabila terealisasi, layanan itu diharapkan menjadi sumber pendapatan berulang (recurring revenue) bagi SpaceX.
Pendapatan yang lebih stabil dinilai penting untuk mempertahankan valuasi perusahaan yang masih berada di kisaran 2 triliun dollar AS sekaligus mendukung target pertumbuhan jangka panjangnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bittime: Negosiasi AS-Iran berpotensi jadi penentu arah pasar global
Platform perdagangan aset keuangan digital, Bittime menilai hasil negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang ... [499] url asal
#bittime #kripto #bitcoin #saham-as #dolar-as #konflik-as-iran
Apa pun hasil negosiasi AS-Iran nantinya dapat menjadi katalis yang mendorong pergerakan signifikan di berbagai instrumen investasi global.
Jakarta (ANTARA) - Platform perdagangan aset keuangan digital, Bittime menilai hasil negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi mempengaruhi arah pasar global dalam waktu dekat.
Hasil negosiasi dapat menjadi katalis penting bagi pergerakan berbagai instrumen investasi di tengah ketidakpastian geopolitik dan sikap hati-hati Bank Sentral AS.
“Pasar saat ini berada dalam fase menunggu kepastian. Apa pun hasil negosiasi AS-Iran nantinya dapat menjadi katalis yang mendorong pergerakan signifikan di berbagai instrumen investasi global,” ujar Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu.
Selain negosiasi AS-Iran, sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon.
Di sisi lain, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Kondisi ini membuat pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan moneter AS berikutnya.
Kombinasi berbagai sentimen tersebut turut mempengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk aset kripto dan indeks saham AS.
Berdasarkan data CoinMarketCap per 23 Juni 2026, harga Bitcoin berada di level 62.300 dolar AS, turun 3,94 persen dalam 24 jam terakhir dan melemah 6,58 persen dalam sepekan.
Koreksi tersebut mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
Sementara di pasar saham AS, pergerakan indeks menunjukkan respons yang beragam. Nasdaq turun 1,32 persen, S&P 500 melemah 0,37 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,30 persen. Sementara itu, NYSE Composite menguat 0,41 persen.
Menurut Ryan, meningkatnya ketidakpastian pasar memang dapat memicu volatilitas, namun pada saat yang sama juga membuka peluang bagi investor yang mampu membaca momentum dengan tepat.
“Ketika ketidakpastian meningkat, volatilitas biasanya ikut naik. Namun kondisi seperti ini juga dapat menciptakan peluang bagi investor untuk mengidentifikasi titik masuk yang lebih menarik sesuai dengan strategi dan profil risikonya,” katanya pula.
Di tengah perkembangan pasar tersebut, Ryan menyoroti tokenized US stocks sebagai salah satu inovasi di sektor aset digital. Instrumen ini memungkinkan representasi saham-saham AS dalam bentuk token yang diperdagangkan melalui jaringan blockchain.
“Investor yang ingin mendapatkan eksposur ke saham Amerika Serikat tanpa harus memiliki aset secara langsung dapat mempertimbangkan tokenized US stocks, yang memungkinkan akses lebih fleksibel terhadap pergerakan saham global dalam satu ekosistem investasi,” ujarnya.
Ryan menambahkan, pasar saham AS masih menjadi salah satu instrumen yang banyak diperhatikan investor global, karena didukung kinerja perusahaan teknologi besar serta prospek ekonomi AS yang relatif stabil.
Sejalan dengan tren tokenisasi aset yang berkembang secara global, Bittime menghadirkan berbagai aset berbasis real-world assets (RWA) seperti Tether Gold (XAUT), Silver Token (SLVON), SP500 Tokenized ETF (SPYX), Nasdaq Tokenized ETF (QQQX), serta Tokenized US Stocks seperti Tesla (TSLAX), Alphabet (GOOGLX),Apple (AAPLX), dan Nvidia (NVDAX) yang memberikan akses lebih luas bagi investor
“Melalui beragam pilihan tokenized US stocks yang tersedia, investor Indonesia memiliki lebih banyak alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap perusahaan-perusahaan global terkemuka,” kata Ryan.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Krisis, Reformasi, dan Reindustrialisasi: Pelajaran dari Luka Lama Pembangunan
Krisis pasar keuangan Indonesia pada 2026 ditandai pelemahan IHSG dan rupiah, namun modal justru mengalir ke bursa AS dan Korea yang sedang booming. [1,002] url asal
#krisis #reformasi #industrialisasi #pembangunan #pasar-keuangan-indonesia #ihsg #bursa-saham-as #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 24/06/26 08:05
v/258016/
Sepanjang 2026, pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan berat. IHSG tercatat sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia, investor asing membukukan net sell sekitar Rp67 triliun, dan rupiah melemah hingga menembus angka diatas Rp18.000 per dolar AS.
Sepintas, publik menilai bahwa Indonesia sedang ditinggalkan pasar. Namun, pasar keuangan tidak sesederhana itu. Ketika modal keluar dari satu aset, ia mencari aset lain. Karenanya, kita tidak hanya perlu memahami kenapa modal tersebut keluar dari dalam negeri, tetapi juga melihat ke mana modal itu pergi.
Pada saat IHSG terpuruk, bursa Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan justru mencetak rekor baru, karena didorong optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor. Di Korea Selatan, Samsung dan SK Hynix meraup keuntungan dengan kapitalisasi pasar tahun ini US$1 triliun atau meningkat hingga 200%.
Bagi Indonesia, kerugian terbesar bukanlah penurunan harga saham atau pelemahan rupiah, melainkan opportunity cost yang menyertainya. Di tengah dunia yang menikmati gelombang pertumbuhan teknologi, Indonesia nyaris tak memiliki aset yang mampu menangkap gelombang itu.
Masalah utama kita bukan sekadar pelemahan ekonomi jangka pendek, melainkan absennya eksposur terhadap agenda pertumbuhan (directionality) yang sedang diburu investor global. Bursa Indonesia masih didominasi sektor perbankan dan komoditas seperti batu bara, sawit, dan nikel.
Sementara itu, emiten yang menjadi pemain penting dalam rantai nilai AI maupun semikonduktor masih absen. Ketika dunia berlomba membangun pusat data, cip, dan infrastruktur digital, pasar modal Indonesia kehilangan daya tarik komparatifnya sebagai tujuan investor global.
Tekanan itu diperberat oleh persoalan twin deficit yang nyata. Pada kuartal I-2026, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, neraca pembayaran Indonesia mencatat defisit ganda. Transaksi berjalan defisit US$4 miliar, yang terlebar sejak 2019, sementara transaksi modal dan finansial yang biasanya menambal kekurangan itu justru ikut defisit US$4,9 miliar.
Akibatnya, ketika kebutuhan dolar untuk impor dan pembayaran utang meningkat, tidak ada lagi cukup arus modal asing yang mengisinya, dan beban penyesuaian jatuh penuh ke pundak rupiah.
Soal Reformasi
Kondisi pasar hari ini sulit dihindarkan dari bayangan memori kolektif peristiwa reformasi 1998 lalu. Bedanya, kali ini stabilitas politik masih cukup terkonsolidasi dan mayoritas masyarakat berpendapatan rendah masih terjaga bantalan sosial dengan inflasi yang masih relatif terjaga di 3,08% per Mei 2026 (YoY).
Di sisi lain, gelombang kegusaran dari kelas menengah yang semakin terhimpit ekspektasi taraf hidup dan realitas beban kemahalan semakin sulit terbendung. Di tengah keterbatasan APBN dan beban utang yang mendekati kulminasinya.
Jika suara nyaring kelas menengah tidak direspons dengan baik, dan bertemu dengan kepercayaan pasar yang semakin memburuk, bukan tidak mungkin hal ini dapat memicu kembali eskalasi dinamika politik yang berujung skenario terburuk.
Kendatipun skenario terburuk krisis itu terjadi, sepatutnya pemerintah mengingat kembali pil pahit dari peristiwa reformasi agar tidak terjatuh ke lubang yang sama. Saat itu, terlepas dari bantuan jangka pendek yang membantu memulihkan sejenak kondisi perekonomian dalam negeri, industri strategis berikut piranti kebijakan industri dilucuti sebagai bagian dari klausul bantuan finansial lembaga keuangan global.
Sementara itu, negara maju, bahkan AS justru memanfaatkan momentum krisis untuk semakin proaktif dalam menggencarkan kebijakan industri untuk menjadi lokomotif pembangunannya.
Misalnya, AS mengeluarkan paket kebijakan CHIPS Act dan Inflation Reduction Act pada 2022 untuk keluar dari krisis ekonomi pasca-Covid-19. pemerintah AS menggelontorkan US$ 300 miliar insentif untuk industri semikonduktor (Mazzucato, 2026). Pascakrisis, industri semikonduktor menjadi salah satu faktor utama menguatnya arus modal di pasar AS saat ini.
Pascareformasi, alih-alih mengikuti jejak kemajuan industrialisasi negara-negara maju, kita justru secara praktis mengalami apa yang disebut Rodrik (2016) sebagai deindustrialisasi prematur. Kesempatan produktivitas dan tenaga kerja dari industri sirna di kala taraf penghidupan berada jauh dibawah negara maju lainnya.
Alhasil, struktur ekonomi pascareformasi bergantung pada peruntungan ekstraksi komoditas pada usaha besar dan informalitas UMKM, tanpa penggerek taraf kesejahteraan yang memadai.
Perlu perjalanan lebih dari dua dekade untuk memulai upaya reindustrialisasi dengan jangkar hilirisasi. Walaupun masih tahap awal, hilirisasi SDA paling tidak sudah menarik investasi sekitar 30% dari total investasi di setiap tahunnya sejak tahun 2021. Misalnya, investasi untuk hilirisasi di kuartal I-2026 mencapai Rp145, 5 Triliun.
Soal Reindustrialisasi
Momentum krisis dan pembelajaran berharga dari reformasi sudah sepatutnya menjadi pengingat untuk melakukan reindustrialisasi secepat-cepatnya. Kendati masih tertatih-tatih untuk menyelesaikan subordinasi teknologi dan finansial dari hilirisasi SDA yang berjalan, upaya reindustrialisasi perlu segera didorong ke arah transformasi industri hijau yang lebih kompleks sebagaimana diamanatkan dokumen perencanaan RPJPN, RIPIN, dan peta jalan hilirisasi.
Meskipun 26 proyek hilirisasi dengan indikasi nilai investasi Rp206 triliun yang dikembangkan oleh Satgas Hilirisasi bersama Danantara telah groundbreaking, dampak proyek tersebut, seperti serapan sekitar 637 ribu tenaga kerja, baru akan terasa saat industri tersebut beroperasi.
Terdekat, proyek ekosistem industri baterai dari konsorsium ANTAM-IBC-CATL dengan nilai investasi US$6,9 miliar segera memproduksi battery cells untuk kendaraan listrik dan penyimpanan energi (BESS) di pertengahan tahun ini. Hal ini dapat memberikan sinyal positif bagi pasar untuk menarik kembali arus modal ke dalam negeri.
Upaya awal reindustrialisasi melalui proyek-proyek hilirisasi strategis tersebut memerlukan dukungan kebijakan industri yang memadai. Upaya paling minimal yakni dengan tidak berupaya mempersulit proyek tersebut, seperti dalam pengurusan perizinan yang kerap berbelit.
Lebih dari itu, dukungan insentif yang atraktif, seperti reformulasi tax holiday untuk industri pionir (PMK 69/2024) akan sangat membantu tidak hanya untuk kalkulasi pengembalian investasi (RoI) proyek, melainkan juga memicu industri lain untuk tumbuh.
Keterbatasan ruang fiskal dan depresiasi mata uang terhadap dolar bukan alasan untuk menghentikan reindustrialisasi. Modal akan mengalir ketika pemerintah memberikan arah (directionality) sesuai tren transformasi industri global dan dukungan kebijakan industri memadai.
Jika resep lama digunakan kembali dengan mengeuthanasia kebijakan industri berikut dengan proyek hilirisasi yang baru berjalan, maka kita kehilangan kesempatan naik kelas kesekian kalinya. Begitu juga dengan opportunity cost yang teramat mahal untuk dibebankan ke generasi selanjutnya.
Krisis, reformasi dan reindustrialisasi adalah tantangan yang seolah saling menegasikan. Tetapi, belajar dari praktik baik negara maju dan pengalaman masa lalu, situasi sulit adalah momentum paling tepat untuk memacu transformasi industri.
Syaratnya, hilirisasi tidak berhenti di titik menciptakan produk turunan semata, melainkan bergeser ke arah industri hijau yang kompleks sesuai dengan tren pasar global. Dengan begitu, kita menjaga agar investasi hilirisasi tidak hengkang dan mendatangkan arus modal lainnya untuk memacu transformasi industri Indonesia.
Wall Street Bisa Menguat 10 Persen, AI Tak Lagi Jadi Andalan
Wall Street diprediksi masih menguat hingga akhir tahun, didorong sektor keuangan dan industri, bukan lagi saham AI. [670] url asal
#wall-street #the-fed #pertumbuhan-ekonomi #pasar-saham #pasar-saham-as #saham-ai
(Kompas.com - Money) 20/06/26 21:46
v/255366/
KOMPAS.com - Kenaikan pasar saham Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan tidak lagi hanya ditopang saham-saham kecerdasan buatan (AI).
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, dan kebijakan suku bunga yang stabil dinilai dapat mendorong penguatan pasar secara lebih luas.
Pasar saham AS diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan tanpa harus bergantung pada lonjakan saham AI atau penawaran saham perdana (IPO) berskala besar.
Pendiri Macro Compass, Alfonso Peccatiello, menilai kondisi ekonomi saat ini menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pasar saham.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tetap solid, inflasi relatif terkendali, dan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menjaga arah kebijakan moneter tetap dapat diprediksi dengan mempertahankan suku bunga.
"Kombinasi tersebut secara historis menjadi kondisi yang positif bagi pasar saham," tulis Peccatiello, dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (20/6/2026).
Berdasarkan kerangka analisis yang digunakannya, indeks S&P 500 berpotensi mencapai kisaran 8.000 hingga 8.150 dalam enam bulan ke depan. Proyeksi itu berarti indeks masih berpeluang naik sekitar 8-10 persen dibandingkan posisi penutupan pada Kamis lalu.
Kondisi "Goldilocks" Dinilai Mendukung Pasar
Peccatiello menyebut kondisi pasar saat ini sebagai skenario "Goldilocks", yakni ketika pertumbuhan ekonomi tetap kuat setelah memperhitungkan inflasi, tetapi tidak terlalu panas.
Dalam kondisi tersebut, inflasi inti masih terkendali dan The Fed tidak melakukan pengetatan agresif. Menurut definisinya, bank sentral hanya menahan suku bunga atau menaikkannya paling banyak satu kali.
Data Macro Compass menunjukkan, sejak 1990, kondisi seperti itu menghasilkan rata-rata kenaikan S&P 500 sebesar 9,5 persen dalam periode enam bulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan 5,8 persen pada periode enam bulan biasa.
Tingkat keberhasilan pola tersebut juga mencapai 96 persen.
Peccatiello menilai pasar saham tidak memerlukan kondisi yang sempurna untuk mencatat kenaikan di atas rata-rata. Yang dibutuhkan adalah kombinasi pertumbuhan ekonomi dan kepastian arah kebijakan.
Ia melihat likuiditas di ekonomi AS masih cukup kuat, didukung oleh defisit fiskal pemerintah dan pertumbuhan kredit sektor swasta yang menopang pertumbuhan nominal.
Di sisi lain, indikator pasar tenaga kerja menunjukkan kondisi yang mulai membaik tanpa menimbulkan tekanan berlebihan. Perlambatan inflasi sektor perumahan juga dinilai dapat membantu meredam kenaikan inflasi barang.
Peran The Fed Tetap Krusial
Menurut Peccatiello, keberhasilan skenario tersebut tidak bergantung pada pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
Yang lebih penting adalah bank sentral tidak memberikan kejutan yang lebih agresif dari ekspektasi pasar.
Pertemuan pertama The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh menjadi ujian bagi asumsi tersebut.
Meski suku bunga tetap dipertahankan, pernyataan resmi yang lebih singkat dan berkurangnya panduan mengenai arah kebijakan ke depan membuat pasar memperoleh kepastian yang lebih terbatas.
Karena itu, rotasi sektor yang terjadi belakangan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Kepemimpinan Pasar Mulai Bergeser
Pada Juni 2026, sektor-sektor yang memimpin penguatan pasar bukan lagi kelompok saham AI yang mendominasi dalam beberapa tahun terakhir.
Sektor jasa keuangan, industri, dan material menjadi kelompok yang menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan sektor lain.
Sebaliknya, sektor teknologi yang didominasi perusahaan kapitalisasi besar, layanan komunikasi, dan barang konsumsi non-primer justru tertinggal. Sektor energi juga mengalami tekanan.
Meski demikian, Peccatiello menegaskan bahwa AI masih memiliki peran besar terhadap pergerakan pasar saham AS.
Ia memperkirakan sekitar 70 persen variasi pergerakan S&P 500 masih dapat dijelaskan oleh faktor AI.
Namun, karena valuasi saham teknologi raksasa AS dinilai semakin berat, ia lebih memilih menempatkan pandangan optimistisnya pada saham-saham di pasar negara berkembang dan Eropa dibandingkan saham teknologi berkapitalisasi besar di AS.
Pandangan serupa juga tercermin dari kinerja pasar terbaru. ETF Roundhill Magnificent Seven (MAGS), yang berisi saham-saham teknologi raksasa AS, tercatat turun sekitar 8 persen sepanjang Juni.
Penurunan tersebut memperpanjang tekanan pada kelompok saham "Magnificent Seven" yang sebelumnya telah menghapus nilai pasar hingga triliunan dollar AS.
Pada akhirnya, menurut Peccatiello, faktor penentu bagi pasar bukanlah apakah The Fed akan memangkas suku bunga atau tidak, melainkan apakah bank sentral mampu menjaga ekspektasi investor dan menghindari kejutan kebijakan yang terlalu agresif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Wall Street Ditutup Anjlok usai The Fed Tahan Suku Bunga
Wall Street merosot pada hari Rabu, setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga seperti yang diperkirakan. [202] url asal
#wall-street #the-fed #saham-as #kevin-warsh
(IDX-Channel - Market News) 18/06/26 06:13
v/252754/
IDXChannel- Wall Street merosot pada hari Rabu, setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga seperti yang diperkirakan. Tetapi Fed mengisyaratkan bahwa setidaknya satu kenaikan suku bunga seperempat poin dapat terjadi akhir tahun ini.
Dilansir dari laman Investing Kamis (18/6/2026), para pelaku pasar juga menelaah rencana ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, untuk perubahan besar guna meningkatkan pelaksanaan kebijakan moneter.
Sebelumnya, pasar sebagian besar mempertahankan kenaikan setelah Presiden Donald Trump menegaskan kembali bahwa kesepakatan perdamaian AS-Iran akan segera ditandatangani dan akan membuka kembali Selat Hormuz yang penting.
Indeks acuan S&P 500 turun 1,2 persen menjadi 7.420,72 poin, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 1,4 persen menjadi 26.021,66 poin, dan Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip turun 1 persen menjadi 51.493,16 poin.
Dolar AS yang cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga tinggi melonjak. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah yang sensitif terhadap suku bunga meningkat karena obligasi pemerintah dijual besar-besaran.
Imbal hasil obligasi AS dalam 2 tahun terakhir naik 17 basis poin menjadi 4,216 persen, sementara imbal hasil obligasi acuan 10 tahun yang lebih panjang naik 7 basis poin menjadi 4,494 persen.
(kunthi fahmar sandy)
Saham SpaceX Terbang pada Hari Pertama, Naik 19 Persen
Saham SpaceX melonjak 19,2 persen pada hari pertama perdagangannya di Nasdaq, Jumat (12/6/2026) waktu AS [766] url asal
#bursa-saham #elon-musk #pasar-saham-as #bursa-nasdaq #ipo-spacex #ipo-spacex-elon-musk #saham-spacex
(Kompas.com - Money) 13/06/26 09:11
v/248986/
KOMPAS.com – Saham SpaceX melonjak 19,2 persen pada hari pertama perdagangannya di Nasdaq, Jumat (12/6/2026) waktu AS, setelah perusahaan milik Elon Musk itu mencatatkan penawaran saham perdana (IPO) terbesar dalam sejarah pasar modal.
Dikutip dari Yahoo Finance, saham SpaceX yang diperdagangkan dengan kode SPCX dibuka pada harga 150 dollar AS, atau naik sekitar 11 persen dibandingkan harga IPO sebesar 135 dollar AS per saham yang ditetapkan sehari sebelumnya.
Saham perusahaan roket dan satelit tersebut bahkan sempat melonjak lebih dari 30 persen pada awal perdagangan sebelum memangkas sebagian kenaikannya dan ditutup di level 160,95 dollar AS per saham.
IPO SpaceX berhasil menghimpun dana sebesar 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.345 triliun (kurs Rp 17.941 per dollar AS), menjadikannya penawaran saham perdana terbesar yang pernah tercatat.
Mengutip CNBC, lonjakan harga saham pada hari pertama perdagangan mengangkat valuasi SpaceX menjadi sekitar 2,1 triliun dollar AS atau setara Rp 37.676 triliun (asumsi kurs Rp 17.941 per dollar AS).
Dalam perdagangan setelah jam bursa, saham SpaceX masih menguat hingga mendekati 167 dollar AS per saham sehingga kapitalisasi pasarnya mendekati 2,2 triliun dollar AS.
Investor Berebut Saham SpaceX
Minat investor terhadap saham SpaceX terbilang sangat tinggi sejak masa penawaran awal.
SpaceX menawarkan sekitar 555,6 juta saham dalam IPO tersebut. Penjamin emisi juga memiliki opsi greenshoe untuk menjual tambahan sekitar 83 juta saham jika permintaan pasar melebihi alokasi awal.
Laporan Reuters menyebutkan IPO SpaceX mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga empat kali lipat.
Data awal dari Vanda Research menunjukkan investor ritel menjadi salah satu pendorong utama reli saham SpaceX pada hari pertama perdagangan.
"SPCX kini menjadi saham yang paling banyak dibeli investor ritel hari ini dan bahkan tidak ada yang mendekati," tulis Vanda Research dalam catatannya.
X/@SpaceX SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.Sementara itu, CNBC melaporkan volume perdagangan saham SpaceX menembus lebih dari 500 juta saham pada hari pertama, mendekati rekor yang pernah dicatat Facebook saat melantai di bursa pada 2012.
Citadel Securities juga menyebut debut SpaceX mencatat aktivitas pemesanan investor ritel tertinggi yang pernah terjadi dalam sebuah IPO.
SpaceX Jadi Perusahaan AS Terbesar Keenam
Menurut Bespoke Investment Group, valuasi SpaceX saat ini menjadikannya perusahaan publik terbesar keenam di Amerika Serikat.
Nilai perusahaan tersebut berada di bawah Amazon yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar 2,54 triliun dollar AS, tetapi sudah melampaui Broadcom yang bernilai sekitar 1,81 triliun dollar AS.
Bespoke juga mencatat nilai SpaceX kini sekitar 700 miliar dollar AS lebih besar dibandingkan Tesla, perusahaan kendaraan listrik yang juga dipimpin Musk. Kapitalisasi pasar SpaceX bahkan lebih dari dua kali lipat nilai Berkshire Hathaway.
Ist Ilustrasi SpaceX akuisisi xAI.Ambisi Besar di Bisnis AI dan Satelit
Elon Musk mengatakan SpaceX telah mencatat arus kas positif sejak sekitar 2015.
Musk menjelaskan keputusan membawa perusahaan ke pasar saham dilakukan untuk mendanai fase pertumbuhan berikutnya.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperluas jaringan satelit komunikasi Starlink, menambah lebih dari 100.000 satelit di orbit, serta membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa.
Pada Februari 2026, SpaceX juga mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan xAI milik Musk. Akuisisi tersebut membawa model AI Grok, pusat data, dan platform media sosial X ke dalam ekosistem bisnis SpaceX.
Analis Wedbush Dan Ives mengatakan IPO SpaceX merupakan momen penting bagi sektor teknologi, khususnya di tengah pesatnya perkembangan industri AI.
"SpaceX melantai di bursa merupakan momen penting bagi sektor teknologi yang lebih luas ketika revolusi AI dan data memasuki fase berikutnya," tulis Ives dalam catatan risetnya.
Analis Ingatkan Risiko Volatilitas
Meski mendapat sambutan luar biasa dari investor, sejumlah analis memperingatkan bahwa pergerakan saham SpaceX berpotensi sangat fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.
Pendiri dan CEO Kurv Investment Management Howard Chan mengatakan volatilitas harga saham masih akan tinggi hingga pasar menemukan valuasi yang dianggap wajar.
"Saham ini diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi," ujar Chan.
Pandangan serupa juga disampaikan analis CFRA Research Keith Snyder. Dikutip dari CNBC, Snyder menilai valuasi SpaceX saat ini sulit dibenarkan berdasarkan fundamental perusahaan.
Menurut prospektus, SpaceX masih membukukan akumulasi kerugian sebesar 41,3 miliar dollar AS sejak berdiri pada 2002. Pada 2025, perusahaan mencatat pendapatan sekitar 18,7 miliar dollar AS dan rugi bersih sekitar 4,9 miliar dollar AS.
Meski demikian, debut gemilang SpaceX semakin memperkuat posisi Elon Musk sebagai orang terkaya di dunia. Bahkan, kombinasi kepemilikannya di SpaceX dan Tesla membuat Musk tercatat sebagai triliuner pertama dalam sejarah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Wall Street Berguncang, Saham Chip AI Rontok dan Nasdaq Anjlok 4 Persen
Nasdaq anjlok 4,18 persen setelah aksi jual besar-besaran saham chip AI. Investor beralih ke saham defensif dan obligasi. [606] url asal
#wall-street #bursa-saham #pasar-saham #pasar-saham-as #nasdaq-composite #saham-amerika #saham-ai
(Kompas.com - Money) 06/06/26 11:43
v/241967/
KOMPAS.com – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat. Gelombang aksi jual pada saham-saham semikonduktor dan teknologi menyeret indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2025.
Nasdaq Composite anjlok 4,18 persen ke level 25.709,43. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 2,64 persen ke posisi 7.383,74 dan Dow Jones Industrial Average melemah 695,15 poin atau 1,35 persen ke level 50.866,78.
Penurunan tersebut sekaligus mengakhiri reli Wall Street dalam beberapa pekan terakhir. Sepanjang pekan ini, S&P 500 terkoreksi lebih dari 2 persen, menjadi penurunan mingguan pertama dalam 10 pekan terakhir. Nasdaq bahkan merosot sekitar 4,7 persen dalam sepekan.
Saham chip jadi sumber tekanan
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor yang selama ini menjadi motor penggerak reli kecerdasan buatan (AI).
Dana indeks iShares Semiconductor ETF anjlok 10 persen, mencatat kinerja harian terburuk sejak Maret 2020.
Saham Broadcom turun hampir 8 persen setelah sehari sebelumnya merosot lebih dari 12 persen. Marvell Technology jatuh lebih dari 16 persen, sementara Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing kehilangan sekitar 11 persen.
Produsen chip memori Micron Technology juga terpuruk 13 persen setelah sehari sebelumnya sudah melemah 8 persen.
Mengutip CNBC, Sabtu (6/6/2026), pelaku pasar menilai koreksi tajam ini dipicu kombinasi aksi ambil untung dan meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi saham-saham AI yang telah melesat tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
"Kebanyakan investor sebenarnya sudah bersiap menekan tombol jual. Bukan untuk keluar sepenuhnya dari pasar, tetapi untuk merealisasikan keuntungan setelah kenaikan besar saham semikonduktor selama dua bulan terakhir," kata Kepala Strategi Pasar Nationwide, Mark Hackett.
Data tenaga kerja dorong lonjakan yield
Sentimen negatif semakin kuat setelah pemerintah AS melaporkan penambahan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) sebanyak 172.000 pada Mei 2026.
Angka tersebut jauh melampaui perkiraan ekonom yang hanya memperkirakan tambahan sekitar 80.000 pekerjaan.
Data yang lebih kuat dari ekspektasi memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor 10 tahun menembus 4,5 persen, sedangkan yield tenor 30 tahun melampaui 5 persen.
Kenaikan yield tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga meningkatkan biaya pendanaan perusahaan, termasuk emiten teknologi yang tengah agresif membangun infrastruktur AI.
Pasar keuangan AS bertahan meski Gedung Putih menggulirkan kebijakan kontroversial. Arus dana ke ETF saham terus mengalir deras.Investor bersiap menyambut IPO SpaceX
Di tengah koreksi saham teknologi, sebagian analis melihat investor mulai mengalihkan dana untuk mempersiapkan partisipasi pada penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Perusahaan antariksa dan AI milik Elon Musk itu disebut akan melantai di bursa dengan valuasi sekitar 1,77 triliun dollar AS, menjadikannya IPO terbesar sepanjang sejarah.
Menurut Hackett, investor yang ingin masuk ke IPO SpaceX kemungkinan besar akan mencari sumber dana dari portofolio teknologi dan saham AI yang telah menghasilkan keuntungan besar, bukan dari saham-saham defensif.
Fenomena tersebut turut memicu tekanan tambahan pada saham semikonduktor, saham berbasis momentum, hingga aset kripto.
Bitcoin bahkan sempat turun di bawah level 60.000 dollar AS untuk pertama kalinya sejak akhir 2024, menandakan berkurangnya minat terhadap aset berisiko tinggi.
Dana mengalir ke saham defensif
Saat saham teknologi tertekan, investor justru memburu saham-saham defensif yang dianggap lebih aman menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Saham Colgate-Palmolive naik 4 persen, Coca-Cola menguat lebih dari 3 persen, sedangkan Johnson & Johnson bertambah sekitar 2 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan terjadinya rotasi sektor, yakni perpindahan dana dari saham pertumbuhan berisiko tinggi menuju sektor kebutuhan pokok dan kesehatan yang dinilai lebih stabil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangWall Street Berguguran, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Bursa saham AS melemah pada 5 Juni 2026 akibat spekulasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data ketenagakerjaan kuat, menekan saham teknologi dan semikonduktor. [660] url asal
#wall-street #suku-bunga-the-fed #bursa-saham-as #saham-teknologi #data-ketenagakerjaan-as #kenaikan-suku-bunga #indeks-dow-jones #indeks-s-amp-p-500 #indeks-nasdaq-composite #saham-nvidia #saham-broad
(Bisnis.Com - Market) 06/06/26 06:11
v/241734/
Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat. Koreksi dipimpin saham-saham teknologi dan semikonduktor setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,3%, sedangkan indeks S&P 500 terkoreksi 2,6%. Adapun indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi merosot lebih dalam hingga 4,1%.
Saham-saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pasar. Saham produsen cip kecerdasan buatan (AI) Nvidia anjlok 6,2%, disusul Broadcom yang merosot 7,9% dan Micron Technology yang terperosok 13,3%, menjadi saham dengan penurunan terdalam di indeks S&P 500.
Selain itu, saham Advanced Micro Devices (AMD), Intel, hingga Meta Platforms juga terkoreksi tajam. Saham Meta bahkan turun 5,5% setelah muncul laporan bahwa perusahaan tengah mempertimbangkan penerbitan saham baru untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI.
Tekanan terhadap pasar muncul setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan perekonomian masih cukup kuat. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 172.000 lapangan kerja pada Mei 2026, jauh melampaui ekspektasi ekonom yang hanya sekitar 88.000 pekerjaan.
Sementara itu, tingkat pengangguran tetap bertahan di level 4,3%.
Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa The Fed belum memiliki alasan untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Bahkan, pelaku pasar mulai meningkatkan taruhan bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga hingga akhir 2026. Sebaliknya, peluang pemangkasan suku bunga praktis menghilang setelah rilis data tenaga kerja terbaru.
"Harapan terhadap pemangkasan suku bunga The Fed secara efektif telah lenyap setelah laporan tenaga kerja yang kuat pagi ini," kata Chief Market Strategist Lazard Ronald Temple dalam risetnya, mengutip TV News Check.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,54% dari sebelumnya 4,50%, sedangkan yield tenor dua tahun melonjak menjadi 4,16% dari 4,04%.
Di sisi lain, rotasi keluar dari saham teknologi dan semikonduktor semakin menguat setelah laporan kinerja Broadcom awal pekan ini memicu kekhawatiran investor terhadap valuasi sektor AI yang telah melambung tinggi sepanjang tahun.
Akibat koreksi tersebut, indeks S&P 500 mencatat penurunan mingguan sebesar 2,5% dan mengakhiri tren penguatan selama sembilan pekan berturut-turut. Jika berhasil mempertahankan kenaikan, indeks acuan tersebut berpeluang mencatat rekor reli terpanjang sejak 1985.
Sentimen pasar juga dibayangi ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS dan Iran. Meski Presiden Donald Trump menyatakan negosiasi kedua negara telah memasuki tahap akhir, laporan mengenai mandeknya proses perundingan masih memicu kekhawatiran investor.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 2% dan ditutup di level US$93,09 per barel. Meski demikian, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan posisi sekitar US$70 per barel sebelum konflik AS-Iran memanas.
Kenaikan harga energi dalam beberapa bulan terakhir turut memperburuk tekanan inflasi di AS. Indikator inflasi pilihan The Fed menunjukkan harga-harga pada April 2026 meningkat 3,8% secara tahunan, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
FAQ tentang Wall Street dan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
1. Mengapa bursa saham AS melemah pada 5 Juni 2026?
Bursa saham AS melemah karena data ketenagakerjaan yang kuat memicu spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.
2. Saham sektor mana yang paling terpengaruh oleh penurunan ini?
Saham teknologi dan semikonduktor paling terpengaruh, dengan perusahaan seperti Nvidia dan Broadcom mengalami penurunan signifikan.
3. Apa dampak dari laporan tenaga kerja AS terhadap kebijakan The Fed?
Laporan tenaga kerja yang kuat memperkuat keyakinan bahwa The Fed mungkin akan menaikkan suku bunga lagi sebelum akhir tahun.
4. Bagaimana ekspektasi suku bunga mempengaruhi imbal hasil obligasi AS?
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, seperti yield Treasury tenor 10 tahun.
5. Apa faktor lain yang mempengaruhi sentimen pasar selain kebijakan The Fed?
Ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS dan Iran serta kenaikan harga energi turut mempengaruhi sentimen pasar.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56