#30 tag 24jam
Kevin Warsh Resmi Pimpin The Fed Saat Inflasi AS Kian Mengkhawatirkan
Kevin Warsh resmi memimpin The Fed saat inflasi AS meningkat, harga energi melonjak, dan sentimen konsumen memburuk. [763] url asal
#suku-bunga #bank-sentral-as #inflasi-as #ketua-the-fed #gubernur-the-fed #kevin-warsh
(Kompas.com - Money) 23/05/26 09:18
v/229733/
KOMPAS.com – Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) pada Jumat (22/5/2026) waktu setempat.
Ia mengambil alih kepemimpinan di tengah situasi ekonomi yang kompleks, ketika lonjakan harga energi mendorong inflasi naik dan kepercayaan konsumen melemah.
Pelantikan Warsh berlangsung di East Room Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump hadir langsung dalam prosesi tersebut bersama sejumlah pejabat tinggi pemerintahan.
Warsh, yang hadir mengenakan setelan jas gelap didampingi istrinya Jane Lauder, diambil sumpahnya oleh Hakim Mahkamah Agung Clarence Thomas.
Momen pergantian kepemimpinan The Fed ini terjadi ketika ekonomi AS menghadapi tekanan dari berbagai arah.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (23/5/2026), kenaikan harga BBM akibat konflik Iran mendorong inflasi lebih tinggi, sementara biaya impor, tarif perdagangan, serta kenaikan biaya utilitas turut menambah tekanan.
Pada saat yang sama, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga mulai mengubah struktur ekonomi dan dunia kerja, menciptakan tantangan baru bagi pembuat kebijakan moneter.
Trump, yang selama ini kerap mengkritik mantan Ketua The Fed, Jerome Powell karena dinilai tidak cukup agresif memangkas suku bunga, menyatakan pemerintahannya akan memberikan dukungan penuh kepada Warsh.
Meski menegaskan pentingnya independensi bank sentral AS, Trump kembali menyoroti arah kebijakan suku bunga.
"Kita akan menurunkan suku bunga," kata Trump dalam kesempatan terpisah di New York.
Menurut dia, penurunan harga energi berpotensi membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Janji reformasi The Fed
Dalam pidato usai pelantikan, Warsh menyebut penunjukannya sebagai "kehormatan terbesar" dalam karier pengabdiannya di sektor publik.
Ia berjanji akan membawa pembaruan di tubuh The Fed dengan tetap belajar dari keberhasilan maupun kesalahan kebijakan sebelumnya.
"Kami akan memimpin Federal Reserve yang berorientasi pada reformasi, meninggalkan pola pikir yang terlalu statis, serta menjaga standar integritas dan kinerja," ujar Warsh.
Warsh juga menegaskan mandat utama The Fed tetap tidak berubah, yakni menjaga stabilitas harga dan mendukung penciptaan lapangan kerja.
Menurut dia, kebijakan moneter yang dijalankan dengan independensi dan ketegasan dapat membantu menekan inflasi, memperkuat pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan pendapatan riil masyarakat.
Tak lama setelah pelantikan, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) secara bulat menetapkan Warsh sebagai ketua panel penentu suku bunga The Fed.
Keputusan tersebut menempatkan Warsh langsung di pusat perdebatan besar soal arah kebijakan moneter AS.
Tekanan inflasi dan peluang kenaikan suku bunga
Perdebatan mengenai kebijakan suku bunga kini semakin menguat setelah Gubernur The Fed Christopher Waller mengubah pandangannya terkait prospek kebijakan moneter.
Waller menilai bank sentral perlu menghapus kecenderungan kebijakan yang terlalu condong pada pelonggaran dan membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga.
Menurut dia, data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi semakin meluas di berbagai sektor.
The Fed, kata Waller, perlu menegaskan bahwa peluang kenaikan suku bunga saat ini sama besarnya dengan peluang penurunan.
Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar keuangan, dengan pelaku pasar mulai meningkatkan ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga bisa terjadi paling cepat pada Oktober mendatang.
Warsh, 56 tahun, sebelumnya sudah lama disebut sebagai kandidat kuat ketua The Fed.
Selama proses pencalonannya, ia beberapa kali mengkritik arah kebijakan bank sentral yang dinilai terlalu bergantung pada pola pikir lama.
Namun kini, tantangan utamanya justru datang dari persoalan paling mendesak: bagaimana mengendalikan inflasi tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Saat sidang konfirmasi di Senat AS sebelumnya, Warsh menegaskan inflasi merupakan persoalan yang bisa dikendalikan The Fed melalui instrumen suku bunga.
Bank sentral memiliki kewenangan untuk mendorong atau menahan aktivitas ekonomi melalui pengaturan biaya pinjaman.
Masalahnya, target inflasi The Fed sebesar 2 persen sudah meleset selama lebih dari lima tahun dan saat ini berada lebih dari satu poin persentase di atas sasaran.
Dilema kebijakan
Upaya menurunkan inflasi berpotensi membawa konsekuensi sulit.
Kenaikan suku bunga dapat membantu meredam tekanan harga, tetapi juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memengaruhi pasar tenaga kerja.
Di sisi lain, Warsh juga akan menghadapi tekanan politik dari Gedung Putih.
Trump selama ini dikenal tidak menyukai kenaikan suku bunga karena dinilai dapat menghambat agenda pertumbuhan ekonominya.
Selain itu, pasar obligasi global mulai mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi melalui kenaikan imbal hasil surat utang jangka panjang AS.
Warsh juga akan menjadi sorotan terkait sikapnya terhadap independensi bank sentral, termasuk menyangkut dinamika hukum terkait upaya Trump memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook.
Pertemuan kebijakan The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni 2026.
Selain menentukan arah suku bunga, rapat tersebut juga akan menghasilkan proyeksi ekonomi terbaru.
Salah satu keputusan awal yang akan diamati pasar adalah apakah Warsh akan menyampaikan proyeksi pribadinya mengenai posisi suku bunga hingga akhir tahun.
Langkah itu dinilai penting untuk melihat apakah pandangannya sejalan dengan pejabat The Fed lainnya atau justru menghadirkan arah baru yang berpotensi mengubah ekspektasi pasar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Profil Kevin Warsh, Sosok Pilihan Donald Trump yang Jadi Ketua The Fed
Senat Amerika Serikat (AS) resmi mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve atau The Fed yang baru pada Rabu (13/5/2026). [962] url asal
#donald-trump #kevin-warsh #kevin-warsh-jadi-gubernur-the-fed #kebijakan-kevin-warsh #kapan-kevin-warsh-bertugas-di-the-fed #profil-kevin-warsh #kevin-warsh-dari-partai-mana
(Kompas.com - Money) 16/05/26 08:58
v/222241/
KOMPAS.com - Senat Amerika Serikat (AS) resmi mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve atau The Fed yang baru pada Rabu (13/5/2026).
Kevin Warsh menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada pekan ini setelah memimpin bank sentral AS selama delapan tahun.
Pengangkatan Kevin Warsh menjadi sorotan karena berlangsung di tengah tekanan inflasi AS, lonjakan harga minyak akibat konflik Iran, hingga desakan Presiden AS, Donald Trump agar suku bunga segera diturunkan.
Mengutip Reuters, suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Namun pasar mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat pada akhir tahun seiring tekanan inflasi yang belum mereda.
Kevin Warsh jadi Ketua The Fed
Kevin Warsh disetujui melalui voting ketat di Senat AS dengan perolehan suara 54 banding 45.
Proses pemungutan suara hampir sepenuhnya mengikuti garis partai politik. Hanya Senator Partai Demokrat asal Pennsylvania John Fetterman yang mendukung pencalonan Warsh.
Trump sendiri telah mencalonkan Warsh sejak Januari 2026. Selama beberapa bulan terakhir, Trump juga terbuka mengkritik Jerome Powell karena dinilai mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat.
Dalam proses pencarian pengganti Powell, nama Warsh bersaing dengan sejumlah kandidat lain, termasuk Gubernur The Fed Christopher Waller dan Michelle Bowman.
Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai menyebut pengesahan Warsh sebagai langkah penting untuk memulihkan kepercayaan terhadap pengambilan keputusan The Fed.
“Pengesahan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve merupakan langkah positif untuk memulihkan akuntabilitas, kompetensi, dan kepercayaan dalam pengambilan keputusan The Fed,” ujar Desai.
Profil Kevin Warsh
Kevin Warsh bukan nama baru di dunia keuangan Amerika Serikat.
Pria berusia 56 tahun itu pernah menjadi gubernur termuda dalam sejarah modern The Fed saat ditunjuk pada 2006 di usia 35 tahun.
Sebelum masuk ke bank sentral AS, Warsh bekerja di pemerintahan Presiden George W. Bush melalui National Economic Council.
Ia juga memiliki pengalaman panjang di Wall Street setelah berkarier di divisi merger dan akuisisi Morgan Stanley pada era 1990-an.
Namanya mulai dikenal luas saat krisis finansial global 2008-2009. Ketika itu, Warsh membantu mantan Ketua The Fed Ben Bernanke dalam merancang langkah penyelamatan lembaga keuangan dan stabilisasi pasar.
Karena koneksinya yang luas di Wall Street, Warsh bahkan sempat dijuluki sebagai “whisperer” pasar keuangan The Fed.
Senat Amerika Serikat (AS) resmi menyetujui Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru pada Rabu (13/5/2026).Kapan Kevin Warsh bertugas di The Fed?
Kevin Warsh pertama kali bertugas di The Fed sebagai gubernur pada periode 2006-2011.
Ia berada di lingkaran pengambil kebijakan saat AS menghadapi krisis subprime mortgage dan gejolak finansial global.
Pada periode tersebut, The Fed menjalankan berbagai kebijakan besar, termasuk quantitative easing atau pembelian aset dalam jumlah besar untuk menopang perekonomian AS.
Namun, Warsh saat itu menilai kebijakan tersebut sudah terlalu berlebihan.
Setelah keluar dari The Fed pada 2011, ia aktif mengajar di Stanford Graduate School of Business dan bergabung dengan Hoover Institution di Stanford University.
Warsh juga bekerja bersama investor kawakan Stanley Druckenmiller di Duquesne Family Office untuk membantu mengelola aset miliaran dollar AS.
Kevin Warsh dari partai mana?
Kevin Warsh bukan politikus aktif maupun pejabat partai.
Namun, ia selama ini dikenal dekat dengan lingkaran Partai Republik dan sejumlah tokoh konservatif AS.
Kedekatannya dengan Donald Trump membuat Warsh dipandang sebagai sosok yang lebih sejalan dengan agenda ekonomi Gedung Putih, terutama terkait dorongan suku bunga lebih rendah.
Meski demikian, dalam proses konfirmasi di Senat, Warsh menegaskan dirinya tetap akan menjaga independensi The Fed dan tidak membuat janji khusus kepada Trump terkait arah kebijakan suku bunga.
Kebijakan Kevin Warsh dan rencana perubahan di The Fed
Setelah resmi ditunjuk, Kevin Warsh menyampaikan rencana melakukan “perubahan rezim” di tubuh The Fed.
Ia ingin memperkuat koordinasi dengan Departemen Keuangan AS dan pemerintahan Trump, terutama dalam kebijakan non-moneter.
Warsh juga mengkritik pendekatan The Fed yang dinilai terlalu bergantung pada data masa lalu dalam menentukan arah kebijakan.
Selain itu, ia dikenal kritis terhadap gaya komunikasi bank sentral yang terlalu sering memberikan panduan arah kebijakan kepada pasar.
Menurut Warsh, kondisi tersebut bisa membuat bank sentral menjadi “tahanan kata-katanya sendiri”.
Masuknya Warsh juga dinilai berpotensi mengubah pendekatan The Fed terhadap pengelolaan neraca keuangan bank sentral.
Dibanding Jerome Powell, Warsh dinilai lebih mendukung ukuran neraca The Fed yang lebih kecil dan lebih terbuka terhadap reformasi internal bank sentral.
Ia juga disebut memiliki pandangan lebih hawkish terhadap inflasi, meski tetap membuka peluang suku bunga lebih rendah jika tekanan harga mulai mereda.
Dekat dengan elite bisnis AS
Selain dikenal di dunia kebijakan moneter, kehidupan pribadi Kevin Warsh juga kerap menjadi perhatian publik.
Ia menikah dengan Jane Lauder, pewaris kerajaan kosmetik Estee Lauder.
Keluarga Lauder dikenal memiliki pengaruh besar di dunia bisnis dan politik Amerika Serikat.
Warsh juga disebut memiliki jaringan kuat di kalangan investor besar dan elite bisnis AS.
Tantangan Kevin Warsh di The Fed
Kevin Warsh dijadwalkan memimpin rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pertamanya sebagai Ketua The Fed pada 16-17 Juni 2026.
Ia menghadapi tantangan berat karena inflasi AS masih berada di atas target 2 persen, sementara harga energi terus meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Bahkan, sebagian investor mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Anggota DPR AS dari Partai Republik asal Arkansas, French Hill, menilai Warsh memiliki rekam jejak kuat dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
“Ketua Warsh berulang kali menekankan pentingnya keterjangkauan dan stabilitas harga sebagai pusat agenda ekonomi kita. Komitmennya terhadap kebijakan moneter yang disiplin akan membantu memulihkan kepercayaan terhadap ekonomi dan mendukung kemakmuran jangka panjang,” ujar Hill.
Selain menjadi Ketua The Fed ke-11 dalam era modern, Warsh juga tercatat sebagai Ketua The Fed terkaya dalam sejarah modern dengan total aset diperkirakan melampaui 100 juta dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Senat AS Setujui Kevin Warsh Jadi Ketua Baru The Fed
Senat Amerika Serikat (AS) resmi menyetujui Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru pada Rabu (13/5/2026). [718] url asal
#suku-bunga-as #senat-as #jerome-powell #ketua-the-fed #gubernur-the-fed #kevin-warsh
(Kompas.com - Money) 14/05/26 08:26
v/220953/
KOMPAS.com - Senat Amerika Serikat (AS) resmi menyetujui Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru pada Rabu (13/5/2026).
Warsh akan memimpin bank sentral AS di tengah tekanan inflasi yang semakin tinggi dan perdebatan mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
Dikutip dari CNBC, Warsh (56 tahun), lolos melalui voting ketat dengan perolehan suara 54 banding 45. Hasil tersebut menjadi pemungutan suara paling sengit dalam sejarah modern pengangkatan Ketua The Fed.
Ia menggantikan Jerome Powell yang telah menjabat sejak 2018 dan masa tugasnya sebagai ketua berakhir pada Jumat pekan ini.
Proses pemilihan pengganti Powell berlangsung selama berbulan-bulan sejak musim panas 2025.
Voting di Senat berlangsung hampir sepenuhnya mengikuti garis partai, dengan hanya Senator Partai Demokrat asal Pennsylvania John Fetterman yang memberikan dukungan kepada Warsh.
Warsh menjadi Ketua The Fed ke-11 dalam era modern sistem perbankan AS.
Meski tak lagi menjabat sebagai ketua, Powell tetap berada di The Fed karena masih memiliki dua tahun masa jabatan sebagai gubernur bank sentral.
Bulan lalu, Powell menyatakan akan bertahan setidaknya hingga investigasi renovasi kantor pusat The Fed selesai. Terakhir kali mantan Ketua The Fed kembali menjadi anggota dewan gubernur terjadi hampir 80 tahun lalu.
Sebelumnya, Trump secara terbuka menginginkan Ketua The Fed baru yang lebih agresif memangkas suku bunga. Selama beberapa waktu terakhir, Trump juga kerap mengkritik Powell karena dinilai mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat.
Dalam proses pencarian Ketua The Fed baru, nama Warsh bersaing dengan sejumlah kandidat lain, termasuk Gubernur The Fed Christopher Waller dan Michelle Bowman.
Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai mengatakan, pengesahan Warsh menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan terhadap pengambilan keputusan The Fed.
“Pengesahan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve merupakan langkah positif untuk memulihkan akuntabilitas, kompetensi, dan kepercayaan dalam pengambilan keputusan The Fed,” ujar Desai.
Tantangan inflasi masih tinggi
Pengesahan Warsh berlangsung di tengah munculnya laporan terbaru yang menunjukkan inflasi AS masih berada jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen. Tekanan harga dari sisi produsen juga tercatat meningkat pada level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Bahkan, sebagian pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Anggota DPR AS dari Partai Republik asal Arkansas, French Hill, memuji rekam jejak Warsh dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
“Ketua Warsh berulang kali menekankan pentingnya keterjangkauan dan stabilitas harga sebagai pusat agenda ekonomi kita. Komitmennya terhadap kebijakan moneter yang disiplin akan membantu memulihkan kepercayaan terhadap ekonomi dan mendukung kemakmuran jangka panjang,” ujar Hill.
Meski demikian, Warsh belum memberikan komentar terkait pengesahannya tersebut.
Pernah kritisi kebijakan The Fed
Ini bukan pertama kalinya Warsh berada di lingkungan The Fed. Ia pernah menjabat sebagai gubernur bank sentral AS pada periode 2006-2011, termasuk saat krisis keuangan global akibat runtuhnya pasar kredit perumahan subprime mortgage.
Pada masa itu, The Fed menjalankan berbagai kebijakan besar untuk menyelamatkan perekonomian AS, termasuk program pembelian aset dalam jumlah besar atau quantitative easing yang membuat neraca The Fed melonjak hingga lebih dari 4 triliun dollar AS.
Warsh saat itu menilai kebijakan tersebut sudah terlalu berlebihan.
Setelah meninggalkan The Fed, Warsh konsisten menjadi pengkritik kebijakan moneter bank sentral. Ia bahkan menyerukan “perubahan rezim” di tubuh The Fed.
Di luar aktivitasnya di bank sentral, Warsh diketahui menjadi pengajar di Stanford School of Business dan duduk di sejumlah dewan direksi perusahaan.
Warsh menggantikan Stephen Miran di dewan gubernur The Fed. Miran sendiri ditunjuk menjadi gubernur pada September 2025 untuk menyelesaikan sisa masa jabatan Adriana Kugler yang mengundurkan diri secara mendadak pada Agustus 2025.
Selama menjabat, Miran beberapa kali berbeda pendapat dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
Pada tiga rapat terakhir tahun 2025, saat mayoritas anggota mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, Miran justru menginginkan penurunan lebih besar hingga 50 basis poin.
Tahun ini, Miran juga menolak keputusan mempertahankan suku bunga acuan dan mendorong pemangkasan sebesar 25 basis poin.
Rapat pertama Warsh sebagai Ketua FOMC dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni 2026.
Selain itu, Warsh juga tercatat sebagai Ketua The Fed terkaya dalam sejarah modern dengan total aset diperkirakan melampaui 100 juta dollar AS. Sesuai aturan etika terbaru di The Fed, ia diwajibkan melepas sejumlah investasi pribadinya selama menjabat sebagai ketua.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangPertimbangkan Inflasi, The Fed Pertahankan Suku Bunga
Bank sentral tersebut memperkirakan inflasi yang lebih tinggi, tingkat pengangguran yang stabil, dan hanya satu kali penurunan biaya pinjaman tahun ini. [525] url asal
#the-fed #suku-bunga #inflasi #gubernur-the-fed #jerome-powell
(IDX-Channel - Market News) 19/03/26 07:27
v/168764/
IDXChannel - Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil, Rabu (18/3/2026).
Bank sentral tersebut memperkirakan inflasi yang lebih tinggi, tingkat pengangguran yang stabil, dan hanya satu kali penurunan biaya pinjaman tahun ini, seiring para pejabat mengevaluasi risiko ekonomi akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
“Dalam jangka pendek, kenaikan harga energi akan mendorong inflasi secara keseluruhan, tetapi masih terlalu dini untuk mengetahui sejauh mana dan berapa lama dampak potensialnya terhadap perekonomian,” kata Gubernur The Fed, Jerome Powell dilansir dari Reuters, Kamis (19/3/2026).
Proyeksi baru menunjukkan suku bunga acuan semalam The Fed akan turun hanya sebesar seperempat poin persentase hingga akhir tahun ini, tanpa petunjuk mengenai waktunya.
The Fed pada 2025 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50 persen sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75 persen.
Sementara itu, pada Januari 2026, The Fed menahan suku bunga acuan.
Jerome Powell menggambarkan tantangan signifikan dalam menekan inflasi, mulai dari kenaikan harga yang terus-menerus akibat tarif hingga kenaikan harga energi akibat konflik di Iran, yang mungkin tidak dapat dianggap oleh bank sentral AS sebagai guncangan sementara.
Powell mengatakan, bank sentral perlu melihat inflasi inti turun tahun ini seiring dengan berlalunya dampak satu kali dari tarif Presiden Donald Trump dalam perekonomian.
"Inflasi, sebagaimana diukur oleh indikator pilihan The Fed, tetap berada jauh di atas target 2 persen bank sentral, yaitu sekitar 3 persen, dan “sebagian besar dari angka itu, antara setengah hingga tiga perempatnya, sebenarnya disebabkan oleh tarif, jadi kami menantikan kemajuan dalam hal itu,” kata Powell.
Harapan The Fed adalah tarif akan menyebabkan lonjakan harga satu kali, tetapi bukan kenaikan dari tahun ke tahun, dan efeknya seharusnya memudar seiring waktu, kata Powell, yang menambahkan bahwa ada ketidakjelasan mengenai tarif di masa depan.
Tarif AS sedikit turun setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global luas Trump berdasarkan undang-undang darurat, tetapi pemerintahan Trump berencana mengganti tarif tersebut dengan tarif lain, termasuk pada barang dari 16 mitra dagang utama berdasarkan undang-undang praktik perdagangan yang tidak adil.
Proyeksi terbaru menunjukkan para pembuat kebijakan The Fed secara keseluruhan memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan memotong suku bunga kebijakan sebesar seperempat poin persentase hingga akhir tahun ini, pandangan yang secara permukaan tidak berubah dari proyeksi terakhir mereka pada Desember.
Namun, Powell mencatat bahwa proyeksi individu menunjukkan sejumlah “signifikan” pembuat kebijakan memperkirakan pelonggaran yang lebih sedikit tahun ini dibandingkan tiga bulan lalu.
"Kemungkinan langkah Fed berikutnya mungkin berupa kenaikan memang dibahas dalam rapat tersebut, sama seperti pada rapat sebelumnya. Meskipun sebagian besar pejabat tidak menjadikan hasil tersebut sebagai skenario dasar mereka," katanya.
Kebijakan moneter, katanya Powell, berada dalam posisi yang tepat untuk menentukan besaran dan waktu penyesuaian tambahan terhadap suku bunga kebijakan berdasarkan data terbaru, prospek yang terus berkembang, serta keseimbangan risiko.
"The Fed berada dalam posisi sulit di mana harus menyeimbangkan risiko inflasi yang lebih tinggi di tengah guncangan baru dan risiko penurunan di pasar tenaga kerja," kata Powell.
“Saya tidak akan mengatakan bahwa jelas sekali bahwa salah satunya lebih berisiko daripada yang lain," lanjut pria masa jabatannya sebagai Ketua Fed akan berakhir pada bulan Mei 2026.
(Nur Ichsan Yuniarto)
Mekanisme Pemilihan Ketua The Fed jelang Jerome Powell Lengser: Proses, Masa Jabatan, hingga Gaji
Jerome Powell akan lengser sebagai Ketua The Fed pada 2026. Proses penggantian melibatkan Presiden AS dan Senat, dengan gaji sekitar US$250.600 per tahun. [1,139] url asal
#mekanisme-pemilihan-ketua-the-fed #mekanisme-pemilihan-gubernur-the-fed #masa-jabatan-ketua-the-fed #masa-jabatan-gubernur-the-fed #masa-jabatan #gaji-ketua-the-fed #gaji-gubernur-the-fed #gaji-jerome
(Bisnis.Com - Ekonomi) 17/12/25 06:35
v/75249/
Bisnis.com, JAKARTA — Proses pencarian pengganti Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve alias The Fed kembali menarik perhatian pasar global, seiring semakin dekatnya akhir masa jabatan pimpinan bank sentral Amerika Serikat tersebut.
Melansir Bloomberg, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut sejumlah nama yang masuk dalam radar Gedung Putih untuk memimpin Federal Reserve berikutnya, di tengah dorongan agar kebijakan suku bunga bergerak lebih agresif. Dua nama yang masuk ke dalam daftar Trump yaitu Kevin Hassett dan Kevin Warsh.
Namun demikian, Pernyataan Trump itu kembali menyoroti relasi sensitif antara otoritas politik dan independensi bank sentral di Amerika Serikat.
Di balik dinamika politik tersebut, pergantian Ketua The Fed sejatinya berjalan dalam mekanisme hukum yang ketat dan berlapis. Kerangka ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kewenangan presiden sebagai kepala eksekutif dan independensi kebijakan moneter yang menjadi fondasi kredibilitas Federal Reserve.
Untuk diketahui, Jerome Powell mulai menjabat sebagai Ketua Federal Reserve pada 5 Februari 2018, setelah dinominasikan oleh Presiden Donald Trump dan dikonfirmasi oleh Senat Amerika Serikat.
Powell kemudian dilantik kembali untuk masa jabatan kedua pada 23 Mei 2022. Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed berakhir pada 15 Mei 2026, sesuai dengan ketentuan pengangkatan dan konfirmasi yang telah dilalui.
Selain menjabat sebagai Ketua, Powell juga merupakan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve. Masa jabatan Jerome Powell sebagai Anggota Dewan Gubernur The Fed dijadwalkan berakhir pada 31 Januari 2028.
Lalu seperti apa alur pemilihan Ketua The Fed? Begini penjelasannya.
Alur dan Mekanisme Pemilihan Ketua The Fed
Secara hukum, struktur dan tata kelola Federal Reserve System diatur dalam Federal Reserve Act, khususnya Pasal 10 yang mengatur Dewan Gubernur Sistem Federal Reserve. Aturan ini menegaskan bahwa Federal Reserve dipimpin oleh Board of Governors yang terdiri dari tujuh orang anggota.
Merujuk laman resmi Federal Reserve, beleid tersebut menegaskan bahwa seluruh anggota Dewan Gubernur tersebut dinominasikan oleh Presiden Amerika Serikat dan harus memperoleh persetujuan Senat. Mereka menjabat dengan masa jabatan panjang hingga 14 tahun, dengan pola berlapis sehingga tidak seluruh kursi berakhir secara bersamaan.
Pasal 10 Federal Reserve Act juga mengatur kriteria penting dalam pemilihan anggota Dewan Gubernur. Presiden diwajibkan memperhatikan keterwakilan yang adil dari kepentingan keuangan, pertanian, industri, dan perdagangan, serta sebaran geografis wilayah Amerika Serikat.
Bahkan, ketentuan ini secara eksplisit mensyaratkan bahwa setidaknya satu anggota Dewan Gubernur harus memiliki pengalaman utama yang terbukti dalam bekerja di atau mengawasi bank-bank komunitas dengan total aset di bawah US$10 miliar.
Dari tujuh anggota Board of Governors, Presiden AS kemudian menunjuk Ketua dan Wakil Ketua Federal Reserve. Penunjukan tersebut tidak bersifat sepihak karena harus kembali melalui proses konfirmasi di Senat, terpisah dari pengangkatan sebagai anggota Dewan Gubernur.
Ketua The Fed Terpilih Menjabat selama 4 Tahun
Ketua Federal Reserve menjabat selama empat tahun dan dapat diperpanjang, sepanjang kembali memperoleh persetujuan legislatif. Adapun Ketua Federal Reserve bertindak sebagai pejabat eksekutif aktif yang memimpin Dewan Gubernur dan menjadi wajah utama komunikasi kebijakan moneter kepada publik dan pasar keuangan.
Namun demikian, kewenangan Ketua tetap dibatasi oleh mekanisme kolektif Dewan Gubernur dan Federal Open Market Committee (FOMC), forum yang secara resmi menetapkan arah kebijakan moneter termasuk suku bunga acuan. Di Indonesia, forum seperti ini bernama Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).
Meskipun Presiden AS memiliki peran dalam proses penunjukan pimpinan bank sentral, kebijakan moneter Federal Reserve tidak berada di bawah kendali langsung Gedung Putih.
Setiap keputusan strategis wajib dicatat, dipertanggungjawabkan, dan dilaporkan kepada Kongres sebagai bentuk akuntabilitas publik. Inilah yang membuat setiap isu pergantian Ketua Federal Reserve selalu dicermati pelaku pasar global karena menyangkut kredibilitas dan independensi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Gaji Ketua The Fed
Dalam aspek profesionalisme, seluruh anggota Dewan Gubernur diwajibkan mencurahkan seluruh waktu kerjanya untuk urusan Federal Reserve dan menerima gaji yang ditetapkan berdasarkan ketentuan hukum federal, beserta penggantian biaya perjalanan yang diperlukan.
Masih dalam Pasal 10 Federal Reserve Act, turut diatur secara eksplisit mengenai kompensasi anggota Dewan Gubernur. Ketentuan awal undang undang tersebut menyebutkan bahwa setiap anggota Dewan Gubernur menerima gaji tahunan sebesar US$15.000, yang dibayarkan secara bulanan, di luar penggantian biaya perjalanan yang diperlukan untuk menjalankan tugas.
Dalam praktiknya, ketentuan tersebut mengacu pada Executive Schedule, sehingga gaji Ketua Federal Reserve tidak ditetapkan secara internal oleh The Fed, melainkan mengikuti standar kompensasi pejabat negara di level federal.
Melansir Investopedia menyebutkan bahwa data Ketua Fed masuk ke dalam kategori Executive Schedule Level I. Menelisik lebih lanjut, berdasarkan tabel gaji yang diterbitkan oleh Office of Personnel Management (OPM), imbalan tahunan untuk level I adalah sekitar US$250.600 per tahun pada Januari 2025. Dengan catatan, besaran gaji setiap tahun disesuaikan.
Dengan besaran gaji sekitar US$250.600 per tahun, remunerasi Ketua Federal Reserve setara dengan sekitar Rp3,9 miliar atau hampir Rp4 miliar jika dikonversi menggunakan kurs tengah Bank Indonesia yakni Rp15.680 per dolar AS.
Sebagai informasi, Executive Schedule merupakan skema penggajian resmi bagi pejabat tinggi pemerintah federal Amerika Serikat yang ditetapkan melalui undang undang dan dikelola oleh pemerintah AS. Rujukan gaji ditentukan oleh Kongres AS, yang mencakup posisi-posisi setara di pemerintahan, termasuk Ketua Federal Reserve.
Skema ini berfungsi sebagai standar nasional untuk menentukan besaran gaji jabatan strategis di tingkat eksekutif, termasuk menteri, kepala lembaga federal, dan pimpinan lembaga independen seperti Ketua Federal Reserve.
Selain soal gaji, mereka dilarang merangkap jabatan, menjadi pengurus, atau memiliki saham di lembaga perbankan, baik selama menjabat maupun dalam periode tertentu setelah masa jabatan berakhir. Hal ini guna mencegah konflik kepentingan.
Perbandingan dengan Bank Indonesia
Lalu bagaimana di Indonesia? Prinsip independensi bank sentral juga tercermin dalam tata kelola di Indonesia, meskipun diatur melalui kerangka hukum yang berbeda.
Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia memiliki kedudukan yang secara tegas dinyatakan independen dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia beserta perubahannya.
Merujuk undang undang tersebut, menegaskan bahwa Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya, kecuali sebagaimana diatur secara eksplisit dalam peraturan perundang undangan.
Gubernur Bank Indonesia diusulkan oleh Presiden dan harus memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Adapun masa jabatannya yakni lima tahun dan dapat dipilih kembali satu kali.
Hal ini berbeda dengan struktur Federal Reserve yang mengandalkan masa jabatan panjang Dewan Gubernur sebagai penyangga independensi kebijakan.
Dari sisi gaji, berbeda dengan Ketua Federal Reserve yang gajinya ditetapkan secara eksplisit dalam Executive Schedule Amerika Serikat, gaji Gubernur Bank Indonesia tidak ditentukan secara nominal dalam undang-undang. Undang-Undang Bank Indonesia hanya mengatur bahwa remunerasi Dewan Gubernur ditetapkan oleh internal BI dan dilaporkan kepada DPR, dengan kedudukan jabatan setara menteri negara.
Perbedaan kerangka kelembagaan ini menunjukkan bahwa posisi Ketua bank sentral tidak hanya diukur dari aspek administratif seperti masa jabatan dan remunerasi, tetapi terutama dari bobot strategis kebijakan yang diembannya.
Dalam konteks tersebut, proses penggantian Jerome Powell tidak semata menjadi isu domestik Amerika Serikat. Pergantian pucuk pimpinan The Fed berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter global, aliran modal, serta stabilitas pasar keuangan internasional. Oleh karena itu, peristiwa ini dicermati secara erat oleh pelaku pasar dan otoritas moneter di berbagai negara, termasuk Indonesia.
The Fed Masuki Tahun Konflik Politik dan Transisi Kepemimpinan pada 2026
The Fed menghadapi transisi kepemimpinan dan tekanan politik pada 2026, dengan pergantian ketua dan tantangan independensi di tengah proses nominasi ketat. [786] url asal
#the-fed #politik-the-fed #transisi-kepemimpinan-the-fed #jerome-powell #calon-ketua-the-fed #independensi-the-fed #suku-bunga-the-fed #trump-dan-the-fed #dewan-gubernur-the-fed #fomc #kebijakan-monete
(Bisnis.Com - Ekonomi) 10/12/25 07:31
v/67152/
Bisnis.com, YOGYAKARTA - Rapat terakhir Federal Reserve (The Fed) pada 2025 menjadi awal dari periode penuh gejolak menuju 2026, dengan pergantian ketua bank sentral pada Mei mendatang dan meningkatnya tekanan politik yang menguji independensi The Fed.
Selain agenda rapat rutin dan perdebatan kebijakan yang kian memecah pandangan pembuat kebijakan mengenai risiko ekonomi dan arah suku bunga, beragam persoalan kepegawaian diperkirakan akan mendominasi bulan-bulan awal 2026.
Melansir Reuters pada Rabu (10/12/2025), masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026. Trump diperkirakan mengumumkan calon pengganti pada awal tahun depan dari daftar pendek yang mencakup penasihat ekonominya, Kevin Hassett, dan sejumlah kandidat lain.
Proses nominasi akan dilanjutkan dengan uji kelayakan di Komite Perbankan Senat, sebelum pemungutan suara konfirmasi di pleno Senat. Ketua baru diprediksi mulai bertugas untuk memimpin rapat kebijakan The Fed pada Juni 2026.
Powell selama ini memperoleh dukungan bipartisan kuat, dengan lolos konfirmasi melalui suara 84–13 saat pertama kali diangkat Trump pada 2018, dan 80–19 ketika kembali ditunjuk Presiden Joe Biden pada 2022.
Namun, proses konfirmasi calon ketua berikutnya berpotensi lebih ketat mengingat upaya terbuka pemerintahan Trump memengaruhi The Fed, sementara di kalangan parlemen tetap berkembang dukungan luas atas independensi bank sentral.
Calon anggota Dewan Gubernur terbaru yang diajukan Trump, Stephen Miran, hanya lolos tipis 48–47, dengan empat senator Partai Republik tidak memberikan suara.
“The Fed Versi Trump” Bisa Lebih Lama Terbentuk
Struktur kekuasaan The Fed tergolong kompleks. Sistem ini melibatkan Dewan Gubernur beranggotakan tujuh orang yang dicalonkan presiden dan disetujui Senat, 12 presiden bank sentral regional, serta Federal Open Market Committee (FOMC) sebagai pengambil keputusan suku bunga yang terdiri dari para gubernur dan lima presiden bank regional, empat di antaranya bergilir menjadi pemilik hak suara.
Keputusan suku bunga terkini telah menunjukkan perbedaan tajam pandangan, dengan sejumlah presiden bank regional menolak pemangkasan suku bunga karena khawatir inflasi, sementara tiga gubernur yang diangkat Trump mendorong penurunan agresif.
Meraih dukungan mayoritas FOMC untuk pemangkasan lanjutan diperkirakan tidak mudah, terlebih beberapa anggota pemilik suara tahun depan dikenal berpandangan hawkish.
Meskipun keputusan akhirnya bergantung pada data ekonomi, proses konsensus bisa berjalan lebih lambat daripada harapan Trump, terutama menjelang pemilu sela (midterm) yang menentukan komposisi Kongres.
Dewan Gubernur juga memiliki pengaruh besar di luar kebijakan suku bunga, mulai dari aturan komunikasi publik bank sentral, penetapan anggaran dan jumlah pegawai bank regional, hingga regulasi perbankan besar.
Namun, perubahan signifikan memerlukan mayoritas dewan. Bahkan dengan kehadiran ketua baru, Trump baru akan menempatkan tiga dari tujuh anggota dewan karena masa jabatan 14 tahun para gubernur tersusun bergiliran. Masa jabatan Miran berakhir pada Januari, dan ia diperkirakan kembali memimpin Council of Economic Advisers Trump guna membuka kursi bagi ketua baru.
Belum jelas kapan kursi dewan berikutnya akan lowong. Walau masa jabatan Powell sebagai ketua berakhir Mei 2026, jabatan dewan miliknya berlangsung hingga 2028, tahun penuh terakhir Trump menjabat presiden.
Ketua yang habis masa tugas umumnya juga akan mundur dari dewan. Namun, di tengah tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya, Powell belum memberikan kepastian.
Wakil Ketua Philip Jefferson baru mengakhiri masa jabatan kepemimpinannya pada September 2027, sementara periode jabatannya di dewan berlaku sampai 2036. Dua gubernur lain yang ditunjuk Presiden Biden juga memiliki masa jabatan yang melampaui akhir pemerintahan Trump.
Kasus Lisa Cook jadi Faktor Tak Terduga
Trump juga berupaya membuka satu kursi tambahan di dewan dengan mencoba memberhentikan gubernur Lisa Cook, yang masa jabatannya seharusnya berjalan hingga 2038.
Cook menggugat pemecatan tersebut ke pengadilan. Mahkamah Agung AS sejauh ini mengizinkannya tetap menjabat selama proses hukum berjalan, alih-alih segera memberhentikannya seperti yang diminta Trump.
Pengadilan tertinggi dijadwalkan mulai menyidangkan perkara ini pada Januari mendatang. Putusan nantinya diperkirakan menjadi sorotan tajam karena berimplikasi besar terhadap independensi bank sentral dan ruang pengaruh Trump terhadap kebijakan moneter.
Sorotan ke Bank Regional
Proses seleksi presiden bank sentral regional yang biasanya luput dari perhatian juga mulai disorot, setelah Menteri Keuangan Scott Bessent mempertanyakan kenyataan bahwa banyak pimpinan bank regional direkrut dari luar wilayah yang mereka wakili.
Sistem bank regional sejatinya dibentuk untuk menyeimbangkan dominasi pusat kekuasaan politik dan keuangan di Washington dan New York. Namun saat ini, para presiden bank regional mengelola organisasi besar dan kompleks sekaligus terlibat dalam perumusan kebijakan moneter nasional.
Mereka dipilih oleh dewan direksi lokal melalui pencarian kandidat skala nasional, baik dari sektor korporasi, akademisi, maupun internal The Fed.
Meski Bessent menyatakan usulan soal syarat domisili tidak berlaku surut, langkah tersebut tetap dianggap sebagai intervensi langka Washington dalam proses yang biasanya bersifat lokal.
Dewan Gubernur Fed memiliki kewenangan pengawasan atas bank regional, dan sejumlah pendapat hukum menyebut para presiden bank regional dapat diberhentikan oleh mayoritas dewan, membuka potensi tekanan terhadap keputusan suku bunga.
Seluruh presiden bank regional saat ini tengah memasuki periode evaluasi untuk perpanjangan masa jabatan lima tahun, dengan keputusan pengangkatan kembali dijadwalkan keluar pada awal tahun depan.
Gubernur The Fed Waller Dukung Penurunan Suku Bunga pada FOMC Desember
Gubernur The Fed, Christopher Waller, mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember karena pasar tenaga kerja AS melemah. Keputusan ini bisa berubah tergantung data ekonomi terbaru. [292] url asal
#gubernur-the-fed #christopher-waller #pemangkasan-suku-bunga #pertemuan-desember #pasar-tenaga-kerja-as #mandat-ganda-the-fed #data-ekonomi-tertunda #kebijakan-pertemuan-ke-pertemuan #statistik-ketena
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/11/25 09:11
v/49051/
Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dirinya mendorong pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang di tengah sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS.
“Kekhawatiran saya terutama terkait pasar tenaga kerja dalam konteks mandat ganda The Fed. Karena itu saya mendorong pemangkasan suku bunga pada pertemuan berikutnya,” ujar Waller dalam dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/11/2025).
Menurut Waller, data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih dalam kondisi lemah.
Namun, dia menambahkan derasnya rilis data ekonomi yang tertunda dan baru akan keluar setelah pertemuan Desember bisa membuat keputusan Januari lebih rumit.
“Mulai Januari, Anda mungkin akan melihat kebijakan yang lebih berbasis pertemuan-ke-pertemuan," kata Waller.
Statistik ketenagakerjaan untuk Oktober dan November dijadwalkan dirilis pada 16 Desember, sedangkan data inflasi konsumen untuk November akan diterbitkan pada 18 Desember.
“Jika data mendadak menunjukkan inflasi atau pasar kerja kembali menguat, atau ekonomi melaju lebih kencang, itu bisa menimbulkan kekhawatiran,” ujarnya.
Waller menambahkan, dirinya masih tidak melihat pasar tenaga kerja akan membaik dalam 6 hingga 8 minggu ke depan.
Waller juga disebut-sebut tengah dipertimbangkan oleh pemerintahan Donald Trump sebagai kandidat pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed tahun depan. Dia mengatakan telah melakukan pertemuan yang sangat baik dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sekitar 10 hari lalu, yang memimpin proses seleksi tersebut.
“Kami langsung cocok saat berbicara tentang ekonomi, kondisi perekonomian, dan pasar keuangan. Pembicaraan itu tidak pernah bersifat politis. Semuanya murni soal ekonomi, dan bagi saya itu menjadi pengalaman yang sangat baik," kata Waller.
Investor memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan 9–10 Desember mendatang, berdasarkan perdagangan kontrak berjangka.
Namun, para pejabat The Fed tampak terbelah mengenai apakah pemangkasan suku bunga tambahan diperlukan setelah pengurangan yang dilakukan pada September dan Oktober.
Pasar Tenaga Kerja AS Melemah, Pejabat The Fed Beri Sinyal Pemangkasan Bunga
Gubernur The Fed, Christopher Waller, mendorong pemangkasan suku bunga pada Desember 2025 karena pelemahan pasar tenaga kerja AS dan tekanan pada konsumen. [439] url asal
#pasar-tenaga-kerja #suku-bunga #pemangkasan-suku-bunga #the-fed #kebijakan-moneter #inflasi-inti #federal-reserve #fomc #risiko-inflasi #pasar-tenaga-kerja-as #gubernur-the-fed #pertemuan-desember #ba
(Bisnis.Com - Ekonomi) 18/11/25 06:31
v/41293/
Bisnis.com, JAKARTA — Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve atau The Fed Christopher Waller kembali menegaskan pandangannya bahwa bank sentral perlu kembali memangkas suku bunga pada pertemuan Desember mendatang, dengan alasan pelemahan pasar tenaga kerja serta kebijakan moneter yang semakin menekan konsumen berpendapatan rendah dan menengah.
Dalam pidato berjudul “The Case for Continuing Rate Cuts” di London, Waller menyebut bahwa pemangkasan suku bunga tambahan akan menjadi langkah manajemen risiko yang tepat bagi Federal Open Market Committee (FOMC).
Menurutnya, risiko percepatan inflasi atau kenaikan ekspektasi inflasi saat ini rendah, mengingat permintaan tenaga kerja menunjukkan pelemahan yang jelas.
“Dengan inflasi inti yang mendekati target FOMC dan bukti bahwa pasar tenaga kerja melemah, saya mendukung pemangkasan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan Desember,” ujar Waller dalam pidatonya di Society of Professional Economists Annual Dinner dikutip dari Bloomberg, Selasa (18/11/2025).
Waller melanjutkan, fokusnya kini berada pada kondisi pasar tenaga kerja. Setelah pelemahan selama berbulan-bulan, Waller menyebut kecilnya kemungkinan laporan pekerjaan September atau data lain dalam beberapa minggu ke depan akan mengubah pandangannya bahwa pemangkasan tambahan diperlukan.
Laporan ketenagakerjaan untuk September dijadwalkan rilis Kamis ini, setelah sebelumnya tertunda akibat shutdown pemerintah federal.
Waller menyoroti tekanan yang dihadapi rumah tangga akibat tingginya biaya kredit pemilikan rumah dan pinjaman kendaraan. Dia juga mencatat reli harga saham yang dipicu optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) belum sepenuhnya berdampak pada penciptaan lapangan kerja.
Waller selama ini dikenal sebagai anggota FOMC yang dovish dan beberapa kali berbeda pandangan dengan mayoritas pejabat The Fed, termasuk seruannya untuk pemangkasan suku bunga lebih awal tahun ini.
Pernyataan terbarunya mempertegas perbedaan pandangan yang semakin dalam di antara para pembuat kebijakan, antara kubu yang menyoroti risiko inflasi yang masih membandel dan kubu yang fokus pada pelemahan pasar tenaga kerja.
The Fed memangkas suku bunga acuannya bulan lalu sebesar 25 basis poin untuk kedua kalinya berturut-turut, mencerminkan kekhawatiran berkelanjutan terhadap pasar tenaga kerja. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember bukan hal yang pasti.
Komentar bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed belakangan ini menekan ekspektasi pasar, dengan probabilitas pemangkasan suku bunga Desember turun menjadi sekitar 40% dari hampir 100% sebelum pertemuan Oktober, berdasarkan kontrak futures federal funds.
Waller, yang ditunjuk sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed oleh mantan Presiden Donald Trump pada 2020, termasuk dalam lima kandidat yang dipertimbangkan Gedung Putih untuk posisi Ketua The Fed setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei.
FOMC dijadwalkan menggelar pertemuan berikutnya pada 9–10 Desember 2025. “Pemangkasan suku bunga Desember akan memberikan perlindungan tambahan terhadap potensi pelemahan lebih tajam di pasar tenaga kerja dan membawa kebijakan moneter menuju posisi yang lebih netral,” ujar Waller.
Pejabat The Fed Adriana Kugler Mundur Imbas Skandal Trading Saham
Pengunduran diri anggota Dewan Gubernur The Fed Adriana Kugler terungkap dalam dokumen yang dirilis oleh Office of Government Ethics (OGE) akhir pekan lalu. [746] url asal
#the-fed #federal-reserve #anggota-dewan-gubernur-the-fed #adriana-kugler #jerome-powell #bank-sentral-as
(Bisnis.Com - Ekonomi) 17/11/25 06:12
v/40037/
Bisnis.com, JAKARTA - Pengunduran diri anggota Dewan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Adriana Kugler pada Agustus 2025 terjadi di tengah temuan sejumlah transaksi keuangan, salah satunya trading saham, yang melanggar kode etik bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut.
Hal tersebut terungkap dalam sejumlah dokumen yang dirilis oleh Office of Government Ethics (OGE) pada akhir pekan lalu.
Melansir Bloomberg pada Senin (17/11/2025), dalam pekan-pekan terakhir sebelum mundur, Kugler berupaya menyelesaikan persoalan terkait kepemilikan aset keuangannya.
Namun, menurut seorang pejabat The Fed, Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell, menolak permintaan pengecualian (waiver) yang dibutuhkannya sebelum pertemuan kebijakan moneter 29–30 Juli. Kugler absen dalam pertemuan itu dan beberapa hari kemudian mengumumkan pengunduran dirinya.
OGE juga merilis laporan keuangan terbaru Kugler, yang mengungkap adanya aktivitas perdagangan saham individual sepanjang 2024 — beberapa di antaranya dilakukan pada masa blackout period — sehingga melanggar aturan etika The Fed.
Pejabat etika The Fed telah merujuk kasus ini ke kantor inspektur jenderal (IG) pada awal tahun, sebagaimana tercantum dalam formulir tersebut. Mereka juga menolak mengesahkan laporan keuangan yang diajukan Kugler sekitar sebulan setelah dirinya mundur. Juru bicara IG menyatakan penyelidikan masih berlangsung.
Pengunduran diri Kugler memberi Trump kesempatan lebih cepat dari perkiraan untuk mengisi kursi Dewan Gubernur The Fed, di tengah tekanan kerasnya agar bank sentral menurunkan suku bunga secara agresif.
Posisi tersebut akhirnya diisi penasihat Trump, Stephen Miran, yang mengambil cuti tanpa bayaran dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih dan selama ini vokal menyerukan pemangkasan suku bunga yang cepat.
Kugler, yang ditunjuk Presiden Joe Biden pada September 2023, menolak memberikan komentar.
Adapun, Kugler mengumumkan pengunduran dirinya pada 1 Agustus dan efektif mundur pada 8 Agustus—hampir enam bulan sebelum masa jabatannya berakhir—tanpa memberikan alasan, setelah absen dalam pertemuan The Fed pada Juli. Saat itu, The Fed menyebut ketidakhadirannya disebabkan urusan pribadi.
Menjelang pertemuan tersebut, Kugler meminta izin untuk melakukan transaksi guna menyelesaikan kepemilikan finansial yang dinilai tidak sesuai aturan. Tidak ada keterangan jelas mengenai aset mana yang menjadi persoalan.
Menurut pejabat The Fed, Kugler meminta pengecualian terhadap aturan yang mewajibkan pejabat tinggi memperoleh izin sebelum bertransaksi dan larangan perdagangan selama blackout period. Powell menolak permintaan itu.
Pelanggaran Perdagangan
Ini bukan pertama kalinya Kugler melanggar aturan etik The Fed. Dalam laporan keuangannya tahun lalu, dia mengakui pelanggaran karena suaminya melakukan sejumlah transaksi saham.
Kugler menyatakan saat itu suaminya melakukan pembelian tanpa sepengetahuannya. Saham-saham tersebut kemudian dijual dan Kugler dinyatakan kembali sesuai regulasi.
Namun, dokumen terbaru menunjukkan adanya perdagangan saham individual sepanjang 2024 — yang dilarang bagi pejabat The Fed dan keluarga dekat mereka — termasuk saham Materialise NV, Southwest Airlines, Cava Group, Apple Inc., dan Caterpillar.
Beberapa transaksi juga terjadi saat blackout period. Contohnya, pembelian saham Cava pada 13 Maret 2024, beberapa hari sebelum pertemuan The Fed 19–20 Maret, serta penjualan saham Southwest pada 29 April 2024, sehari sebelum pertemuan 30 April–1 Mei. Laporan tersebut juga mencantumkan sejumlah transaksi reksa dana yang jatuh pada masa larangan.
Sebuah catatan kaki terkait penjualan saham Materialise NV pada 2 Januari 2024 berbunyi: “Sesuai pengungkapan tanggal 15 September 2024, sebagian aktivitas perdagangan dilakukan oleh pasangan Dr. Kugler tanpa sepengetahuan Dr. Kugler dan pasangannya tidak berniat melanggar aturan apa pun.”
Laporan Keuangan
Pengungkapan itu mencakup tahun kalender 2024 dan 2025 hingga masa pengunduran dirinya. Pejabat tinggi The Fed wajib melaporkan pengungkapan keuangan setiap tahun dan setelah mundur, termasuk laporan transaksi berkala.
Juru bicara kantor IG The Fed mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima rujukan kasus dari bagian etika dewan.
“Kami telah membuka penyelidikan dan, sebagaimana prosedur kami, tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut hingga penyelidikan selesai,” katanya.
Pada 2022, Powell memperketat aturan perdagangan dan investasi bagi pembuat kebijakan serta staf senior, menyusul temuan aktivitas perdagangan tidak biasa pada 2020 oleh beberapa pejabat The Fed.
Presiden The Fed Boston Eric Rosengren dan Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan mengundurkan diri setelah kontroversi tersebut, dengan Rosengren menyebut alasan kesehatan. Meski penyelidikan internal tidak menemukan pelanggaran hukum, mereka ditegur karena merusak kepercayaan publik terhadap integritas The Fed.
Aturan baru itu meningkatkan kewajiban pengungkapan keuangan dan dirancang untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap independensi bank sentral.
Senator Elizabeth Warren dari Partai Demokrat, yang sejak lama mendesak aturan etika lebih ketat, mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan perlunya legislasi bipartisan untuk membuat The Fed lebih transparan dan akuntabel.
Ketua Komite Perbankan Senat Tim Scott menambahkan, skandal terbaru ini menunjukkan bahwa The Fed masih belum memiliki pengaman maupun budaya akuntabilitas yang diharapkan publik.
"Ketua The Fed berikutnya harus memulihkan integritas, memperkuat transparansi, dan mengakhiri pola pejabat dalam bermain dengan aturan mereka sendiri," jelasnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56