PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) menghentikan tender wajib, fokus pada rebranding dan penambahan modal untuk memperkuat struktur keuangan. [372] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) memberikan klarifikasi terkait kelanjutan aksi korporasi dan rencana strategis perusahaan pasca berakhirnya masa Penawaran Tender Wajib (MTO) oleh PT Morris Capital Indonesia (MCI).
PIPA menegaskan tidak ada rencana untuk memperpanjang masa tender tersebut meski target kepemilikan belum tercapai.
Berdasarkan surat jawaban permintaan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen PIPA menyampaikan beberapa poin mengenai arah bisnis ke depan.
Hingga saat ini, PT Morris Capital Indonesia (MCI) selaku pemegang saham pengendali tidak memiliki rencana untuk memperpanjang pelaksanaan Penawaran Tender Wajib.
Meskipun hasil tender belum memenuhi target kepemilikan MCI sebesar 57,37%, PIPA menilai hal tersebut tidak memberikan kendala signifikan terhadap operasional perusahaan.
Beberapa faktor yang dinilai mempengaruhi absennya pemegang saham yang melakukan tender antara lain, preferensi pemegang saham untuk tetap mempertahankan kepemilikan, dan persepsi positif terhadap prospek usaha perseroan di masa depan. Selain itu, kondisi pasar modal yang dinamis dan harga penawaran yang mungkin belum sesuai ekspektasi.
Sebagai bagian dari strategi masa depan, PIPA tengah menyiapkan rencana besar berupa perubahan nama, logo, serta penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Langkah rebranding ini bertujuan untuk mencerminkan arah bisnis dan pengembangan usaha baru, sementara penambahan KBLI dimaksudkan untuk memperluas ruang lingkup kegiatan usaha.
“Perseroan menargetkan untuk meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang direncanakan akan diselenggarakan sebelum akhir semester I/2026,” tulis pengumuman manajemen PIPA.
Selain pengembangan usaha, PIPA juga mengkonfirmasi adanya rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Rencana penambahan modal melalui mekanisme HMETD tersebut tentu disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan pasar yang ada. Oleh karena itu, manajemen terus mencari alternatif mekanisme penambahan modal dan atau pendanaan lain untuk memperkuat struktur keuangan.
Saat ini, jumlah dana dan jadwal pelaksanaan masih dalam tahap kajian internal dan akan segera diumumkan setelah mendapatkan persetujuan regulator serta internal perusahaan.
Menanggapi pantauan Bursa terkait Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek, PIPA menjelaskan bahwa saat ini sedang melakukan proses identifikasi dan verifikasi data Pemilik Manfaat (Ultimate Beneficial Owner) tingkat perorangan.
Belum tercantumnya nama individu secara spesifik disebabkan oleh struktur kepemilikan yang saat ini masih berbentuk badan hukum.
Perseroan memastikan bahwa hingga saat ini tidak terdapat informasi atau kejadian material lainnya yang dapat memengaruhi harga efek perusahaan yang belum diungkapkan kepada publik.
PT Multi Makmur Lemindo (PIPA) menegaskan tidak terlibat dalam kasus saham gorengan setelah PT Morris Capital Indonesia menjadi pengendali baru. PIPA kini fokus pada rebranding dan ekspansi bisnis ke [516] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) buka suara soal kasus penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) yang diduga tidak layak. Adapun, sejumlah pihak terkait dengan IPO emiten berkode saham PIPA ini sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Dalam pengumumannya (3/2), Bareskrim Polri menemukan PT MML dengan kode saham PIPA tidak layak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena valuasi aset perusahaan tidak memenuhi persyaratan.
Direktur Utama Multi Makmur Lemindo Firrisky Ardi Nurtomo pun mengklarifikasi saat ini perseroan sudah tidak memiliki afiliasi dengan pimpinan PIPA saat kasus tersebut menjadi perhatian penegak hukum.
Pasalnya, PT Morris Capital Indonesia (MCI) telah masuk sebagai pengendali baru PIPA sejak 24 November 2025. Hingga kini, MCI telah menggenggam 49,52% saham di PIPA dan menjadi pengendali baru.
"Kami tidak memiliki keterkaitan hubungan kepemilikan, baik operasional maupun manajerial dan tidak lagi terafiliasi dengan pemegang saham pengendali lama atau direksi lama. Dan kasus-kasus yang melibatkan tersangka baru yang terlibat dalam perkara review atau manipulasi saham. Itu clean and clear," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Selain itu, dia juga menegaskan bahwa posisi direksi dan komisaris yang menjabat di PIPA saat ini tidak memiliki keterkaitan dengan manajemen PIPA sebelum backdoor listing.
Dengan begitu, Firrisky menegaskan bahwa PIPA saat ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan manajemen PIPA saat kasus terjadi. Proses akuisisi juga disebut berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.
"Terkait semua yang berhubungan dengan sanksi administratif, kami yakin akan diselesaikan dengan baik oleh BoD lama dan PSP lama sesuai dengan tanggung jawab mereka," katanya.
Kini, PIPA tengah berupaya melakukan rebranding terhadap perusahaannya selepas kasus ini kembali ramai. Manajemen menerangkan, PIPA memiliki rencana untuk mengubah nama, logo, hingga menambah KBLI perseroan.
Pasalnya, selepas MCI masuk sebagai pengendali baru, lini bisnis PIPA tidak hanya berfokus pada produksi pipa. Namun, PT Multi Makmur Lemindo Tbk. kini masuk ke lini bisnis migas, distribusi BBM, logistik energi darat-laut, serta infrastruktur penyimpanan dan distribusi bahan bakar. Transformasi ini menjadikan PIPA sebagai pemain rantai pasok energi dari hulu ke hilir.
"Yang tidak kalah pentingnya adalah segera kami akan melakukan perubahan nama, logo, domisili, tambahan KBLI dan administrasi lainnya. Tentunya jika nanti diperlukan adanya RUPS kami akan lakukan," katanya.
Adapun nama PIPA kembali menjadi sorotan dalam kasus manipulasi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol. Ade Safri Simanjuntak mengatakan dalam pengembangan kasus lain, pihaknya menggeledah kantor PT Shinhan Sekuritas Indonesia di kawasan Jakarta Selatan terkait dugaan tindak pidana pasar modal.
Penggeledahan tersebut merupakan rangkaian pengembangan dari perkara yang telah berkekuatan hukum tetap. Dalam perkara tersebut, terdapat lima tersangka, dua di antaranya telah berstatus terpidana, yakni Junaedi selaku Direktur PT Multi Makmur Lemindo (MML) dan Mugi Bayu selaku mantan pejabat di Bursa Efek Indonesia.
“Perolehan dana PT MML pada saat IPO adalah sebesar Rp97 miliar di mana selaku perusahaan penjamin emisi efek (underwriter) adalah PT Shinhan Sekuritas Indonesia,” ucap Ade.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PT Multi Makmur Lemindo (PIPA) menegaskan tidak terlibat dalam kasus saham gorengan setelah PT Morris Capital Indonesia menjadi pengendali baru. PIPA kini fokus pada rebranding dan ekspansi bisnis ke [516] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) buka suara soal kasus penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO yang diduga tidak layak. Adapun, sejumlah pihak terkait dengan IPO emiten berkode saham PIPA ini sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Dalam pengumumannya (3/2), Bareskrim Polri menemukan PT MML dengan kode saham PIPA tidak layak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena valuasi aset perusahaan tidak memenuhi persyaratan.
Direktur Utama Multi Makmur Lemindo Firrisky Ardi Nurtomo pun mengklarifikasi saat ini perseroan sudah tidak memiliki afiliasi dengan pimpinan PIPA saat kasus tersebut menjadi perhatian penegak hukum.
Pasalnya, PT Morris Capital Indonesia (MCI) telah masuk sebagai pengendali baru PIPA sejak 24 November 2025. Hingga kini, MCI telah menggenggam 49,52% saham di PIPA dan menjadi pengendali baru.
"Kami tidak memiliki keterkaitan hubungan kepemilikan, baik operasional maupun manajerial dan tidak lagi terafiliasi dengan pemegang saham pengendali lama atau direksi lama. Dan kasus-kasus yang melibatkan tersangka baru yang terlibat dalam perkara review atau manipulasi saham. Itu clean and clear," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Selain itu, dia juga menegaskan bahwa posisi direksi dan komisaris yang menjabat di PIPA saat ini tidak memiliki keterkaitan dengan manajemen PIPA sebelum backdoor listing.
Dengan begitu, Firrisky menegaskan bahwa PIPA saat ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan manajemen PIPA saat kasus terjadi. Proses akuisisi juga disebut berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.
"Terkait semua yang berhubungan dengan sanksi administratif, kami yakin akan diselesaikan dengan baik oleh BoD lama dan PSP lama sesuai dengan tanggung jawab mereka," katanya.
Kini, PIPA tengah berupaya melakukan rebranding terhadap perusahaannya selepas kasus ini kembali ramai. Manajemen menerangkan, PIPA memiliki rencana untuk mengubah nama, logo, hingga menambah KBLI perseroan.
Pasalnya, selepas MCI masuk sebagai pengendali baru, lini bisnis PIPA tidak hanya berfokus pada produksi pipa. Namun, PT Multi Makmur Lemindo Tbk. kini masuk ke lini bisnis migas, distribusi BBM, logistik energi darat-laut, serta infrastruktur penyimpanan dan distribusi bahan bakar. Transformasi ini menjadikan PIPA sebagai pemain rantai pasok energi dari hulu ke hilir.
"Yang tidak kalah pentingnya adalah segera kami akan melakukan perubahan nama, logo, domisili, tambahan KBLI dan administrasi lainnya. Tentunya jika nanti diperlukan adanya RUPS kami akan lakukan," katanya.
Adapun nama PIPA kembali menjadi sorotan dalam kasus manipulasi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol. Ade Safri Simanjuntak mengatakan dalam pengembangan kasus lain, pihaknya menggeledah kantor PT Shinhan Sekuritas Indonesia di kawasan Jakarta Selatan terkait dugaan tindak pidana pasar modal.
Penggeledahan tersebut merupakan rangkaian pengembangan dari perkara yang telah berkekuatan hukum tetap. Dalam perkara tersebut, terdapat lima tersangka, dua di antaranya telah berstatus terpidana, yakni Junaedi selaku Direktur PT Multi Makmur Lemindo (MML) dan Mugi Bayu selaku mantan pejabat di Bursa Efek Indonesia.
“Perolehan dana PT MML pada saat IPO adalah sebesar Rp97 miliar di mana selaku perusahaan penjamin emisi efek (underwriter) adalah PT Shinhan Sekuritas Indonesia,” ucap Ade.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA— PT Morris Capital Indonesia (MCI), yang mengambil alih PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA), resmi mengumumkan Penawaran Tender Wajib (PTW) atau Mandatory Tender Offer.
Manajemen MCI dalam keterangan resminya menyebutkan dana yang disiapkan untuk buyback saham publik dalam tender wajib mencapai maksimal Rp93.457.762.581 (Rp 93,45 miliar). Harga yang ditawarkan adalah Rp 54,47 per lembar saham.
“Harga ini merupakan harga terendah yang diwajibkan, dihitung dari rata-rata harga tertinggi perdagangan harian saham PIPA di bursa selama 90 hari terakhir,” paparnya dalam keterangan resmi, Selasa (23/12/2025).
Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pengendali PIPA setelah mengakuisisi 1.500.000.000 (1,5 miliar) lembar saham, atau sekitar 43,78% kepemilikan, dari Para Penjual pada 6 dan 10 Oktober 2025. Setelah akuisisi, MCI akan mengembangkan PIPA sebagai bagian dari ekosistem distribusi energi nasional yang terintegrasi.
“Kami melihat PIPA memiliki potensi strategis yang bisa di-leverage untuk masuk ke sektor energi dan logistik,” ujar manajemen.
Rencananya, PIPA akan bertransformasi mencakup kegiatan perdagangan dan logistik Bahan Bakar Minyak (BBM), serta pengembangan infrastruktur pendukung seperti fasilitas penyimpanan dan jaringan distribusi darat-laut yang efisien. Strategi ini akan memposisikan PIPA sebagai pemain utama dalam rantai pasok energi nasional.
Jadwal Tender Wajib Saham PIPA
Periode Penawaran Tender Wajib: 23 Desember 2025 - 22 Januari 2026.
Tanggal Pembayaran: 3 Februari 2026.
Harga Penawaran: Rp 54,47 per lembar saham.
Jumlah Saham yang Ditawar: Sebanyak-banyaknya 1.715.765.790 lembar saham (sekitar 50,08% dari modal ditempatkan dan disetor penuh).
MCI juga menegaskan bahwa mereka tidak berencana melikuidasi, mengubah kebijakan dividen, atau menghapus pencatatan saham (delisting) PIPA dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Tapi ini adalah sinyal positif buat stabilitas perusahaan ke depannya.
Jual beli saham sehubungan dengan Penawaran Tender Wajib akan dilakukan melalui mekanisme crossing di BEI. Pembayaran akan dilakukan sesuai dengan peraturan KSEI.
Dengan ini pengendali baru menyatakan bahwa MCI memiliki dana yang cukup dan sanggup untuk melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pembayaran penuh kepada pemegang saham yang berhak sehubungan dengan penawaran tender wajib.
Morris Capital Indonesia (MCI) merupakan perusahaan investasi dan pengembangan bisnis yang berfokus pada sektor energi, logistik, dan infrastruktur distribusi. Melalui anak perusahaan dan entitas afiliasinya, MCI menjalankan kegiatan usaha utama di bidang perdagangan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dengan sistem rantai pasok (supply chain) end-to-end.
Selain itu, perusahaan bergerak di bisnis pengembangan infrastruktur pendukung seperti fasilitas penyimpanan (storage), sistem distribusi darat dan laut, dan jaringan logistik energi terintegrasi di berbagai wilayah Indonesia.
MCI juga melakukan integrasi bisnis energi hulu dan hilir, termasuk kolaborasi dengan entitas industri pipa dan energi, guna memperkuat efisiensi pasokan dan distribusi.
Kegiatan usaha ini dijalankan dengan pendekatan berbasis aset dan kontrak jangka panjang untuk memastikan arus pendapatan berulang, efisiensi operasional, serta peningkatan nilai strategis dalam pembangunan ekosistem energi nasional.
Bisnis.com, JAKARTA— PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) berencana melakukan pendanaan eksternal melalui penerbitan obligasi danrights issueseiring dengan rencana ekspansi bisnis.
Direktur Utama Multi Makmur Lemindo Imanuel Kevin Mayola menyatakan PIPA tengah memasuki fase transisi strategis dari entitas manufaktur berbasis PVC menjadi holding investasi yang berfokus pada sektor energi, khususnya pengembangan ekosistem minyak dan gas (migas) terintegrasi.
Langkah ini sejalan dengan upaya nasional untuk memperkuat infrastruktur dan ketahanan pasokan energi dalam negeri. Perubahan fundamental PIPA juga didorong oleh masuknya PT Morris Capital Indonesia (MCI) sebagai pemegang saham pengendali baru.
"Kami optimistis bahwa rangkaian aksi korporasi ini akan menjadi katalis positif bagi peningkatan nilai Perseroan dalam jangka menengah hingga panjang, termasuk potensi pertumbuhan kapitalisasi pasar," ujar Imanuel Kevin Mayola dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).
Manajemen PIPA menjelaskan bahwa sejak Oktober 2025, kendali perusahaan secara resmi telah berpindah kepada PT Morris Capital Indonesia (MCI). Saat ini, MCI tengah memproses Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) yang ditargetkan rampung pada awal 2026.
Komposisi kepemilikan saham PIPA saat ini terdiri dari 49,92% saham milik MCI dan 50,08% saham publik. Hal ini menunjukkan komitmen perseroan untuk tetap menjaga kepemilikan publik yang signifikan.
Sebagai fondasi transformasi ke depan, PIPA memaparkan sejumlah inisiatif strategis pada 2026. Perseroan merencanakan investasi aset pengolahan minyak dan gas dengan estimasi nilai hingga Rp300 miliar.
“Investasi ini diharapkan menjadi sumber pendapatan utama jangka panjang dengan margin yang lebih baik,”tuturnya.
Selanjutnya dalam penguatan infrastruktur, perseroan berencana menerbitkan obligasi senilai sekitar Rp460 miliar. Pendanaan tersebut digunakan untuk memperkuat logistik dan infrastruktur energi, termasuk transportasi, penyimpanan, dan distribusi migas.
Lalu, dalam ekspansi perdagangan, PIPA menargetkan ekspansi usaha melalui akuisisi perusahaan afiliasi di sektor perdagangan migas. Rencana ini akan dibiayai melalui penerbitan obligasi dengan nilai hingga Rp200 miliar.
Serangkaian langkah ini ditujukan untuk menciptakan sumber pendapatan berulang, memperbaiki struktur margin, dan memperkuat posisi PIPA dalam rantai pasok industri energi nasional.
Sebagai bagian dari penyesuaian struktur organisasi dan tata kelola pasca-akuisisi, PIPA berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Februari 2026.
Agenda utama rapat tersebut mencakup perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi, serta pemberian persetujuan awal atas rencana aksi korporasi penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (right issue). Rights issue ditargetkan terlaksana pada kuartal III/2026.
PT Morris Capital Indonesia (MCI) membeli 2 juta saham PIPA, meningkatkan kepemilikan menjadi 49,92% untuk memperkuat posisi sebagai pemegang saham pengendali. [453] url asal
Bisnis.com, JAKARTA—PT Morris Capital Indonesia (MCI) menambah kepemilikan saham dan memperkuat posisinya sebagai pemegang saham pengendali (PSP) PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA).
Morris Capital Indonesia melaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa perseroan kembali menambah porsi kepemilikan sahamnya di PIPA. Aksi tersebut dilakukan melalui transaksi pembelian saham pada 24 November 2025.
Melalui surat pemberitahuan yang disampaikan oleh Direktur Utama Morris Capital Indonesia Noprian Fadli pada Selasa (25/11/2025), perseroan mencatat bahwa kepemilikan saham sebelum transaksi berjumlah 1.708.331.400 (1,70 miliar) lembar atau setara 49,86% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh.
"Setelah transaksi dilakukan, kepemilikan meningkat menjadi 1.710.331.400 (1,71 miliar) lembar saham atau sekitar 49,92%," papar Noprian dalam surat pemberitahuan, dikutip Rabu (26/11/2025).
Noprian menjelaskan, penambahan kepemilikan tersebut berasal dari pembelian 2.000.000 saham PIPA. Transaksi dilakukan dalam dua tahap, yakni masing-masing 1.000.000 lembar saham pada harga Rp290 per saham dan 1.000.000 lembar saham lainnya pada harga Rp300 per saham.
Dia menambahkan bahwa aksi korporasi ini dilakukan untuk tujuan investasi, dan status kepemilikan saham tercatat sebagai kepemilikan langsung.
Laporan perubahan kepemilikan saham ini disampaikan sesuai ketentuan Pasal 2 Peraturan OJK Nomor 4 Tahun 2024 mengenai kewajiban pelaporan kepemilikan atau perubahan kepemilikan saham pada perusahaan terbuka.
PT Morris Capital Indonesia menegaskan bahwa penyampaian laporan ini merupakan bagian dari kepatuhan perseroan terhadap ketentuan pasar modal yang berlaku.
Sebelumnya, pada 20 November 2025, Noprian juga menyampaikan surat kepada OJK mengenai pembelian 33.656.400 unit saham PIPA, setara 0,98% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan.
Saham-saham tersebut dibeli pada harga Rp300 per saham dan transaksi terjadi pada 19 November 2025. Total kepemilikan MCI pada PIPA di periode tersebut sebesar 49,86%.
Jumlah kepemilikan tersebut terbilang meningkat dibanding periode akhir Oktober 2025 sebesar 48,88 persen seperti dilaporkan dalam Laporan Registrasi Pemegang Efek yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia.
Sebagai tambahan informasi, PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi Pengendali Baru PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) setelah menandatangani CSPA dengan Junaedi, Hendrik Saputra dan Nanang Saputra untuk melakukan pembelian sejumlah 1.500.000.000 (1,5 miliar) saham atau sekitar 43,78% dari total modal ditempatkan dan disetor PIPA.
Sesuai dengan POJK No.9/2018, MCI selaku PSP baru berencana untuk melakukan pembelian melalui Penawaran Tender Wajib atas seluruh Saham dengan jumlah sebanyak-banyaknya 1.626.422.190 (1,62 miliar) lembar saham atau sekitar 47,47% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.
Setelah selesainya Penawaran Tender Wajib oleh Pengendali Baru, maka kepemilikan saham atas perseroan sebanyak-banyaknya sejumlah 3.301.097.190 (3,30 miliar) lembar saham atau 96,35% atas modal ditempatkan dan disetor penuh.
Bisnis.com, JAKARTA—PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) memacu pendapatan pada 2025 seiring dengan proses akuisisi oleh antara PT Morris Capital Indonesia (MCI).
Per September 2025, total pendapatan usaha Multi Makmur Lemindo mencapai Rp25,89 miliar atau meningkat 30,49% dari periode 30 September 2024 Rp19,84 miliar. Sumber pendapatan perseroan makin besar dari kontribusi pipa.
Perinciannya, pendapatan usaha dari pipa mencapai Rp22,69 miliar atau naik 31% dari Rp17,32 miliar. Catatan itu membuat kontribusi pipa terhadap pendapatan usaha Multi Makmur Lemindo menjadi 87,6%, naik tipis dari sebelumnya 87,3%.
Direktur Utama PIPA Imanuel Kevin Mayola menyampaikan pencapaian itu menegaskan kembali bisnis pipa yang menjadi andalan bagi Multi Makmur Lemindo. Apalagi, perusahaan akan melakukan diversifikasi bisnis ke pasar minyak dan gas, hingga pengembangan teknologi manufaktur produk polyethylene seperti pipa HDPE dan sejenisnya.
"Tentu saja hal itu menunjukkan bahwa bisnis pipa masih prospektif dan menjadi penopang performa keuangan perseroan," kata Kevin dalam keterangan resmi, Rabu (12/11/2025).
Dengan pencapaian hingga sembilan bulan tahun ini, Imanuel pun tetap optimistis Multi Makmur Lemindo bisa meraup pendapatan hingga Rp38 miliar. Peningkatan proyek infrastruktur dan properti menjadi pendorong utama permintaan pipa.
Di sisi lain, Imanuel memastikan proses pengambilalihan saham PIPA oleh PT Morris Capital Indonesia (MCI) yang sudah memasuki masa Penawaran Tender Wajib tidak mengganggu proses bisnis Multi Makmur Lemindo. Proses itu justru semakin melecut semangat perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham.
Penawaran Tender Wajib itu sendiri merupakan dampak dari penandatanganan CSPA antara PT Morris Capital Indonesia (MCI), yang merupakan Pengendali Baru, dengan Junaedi, Hendrik Saputra dan Nanang Saputra (Para Penjual) untuk melakukan pembelian sejumlah 1,5 miliar saham atau sekitar 43,78% saham PIPA pada 10 Oktober 2025.
Sesuai ketentuan dalam POJK No.9/2018, harga Penawaran Tender Wajib saham PIPA ditetapkan sebesar Rp21. Adapun setelah selesainya Penawaran Tender Wajib oleh Pengendali Baru, maka kepemilikan saham atas perseroan sebanyak-banyaknya sejumlah 3.301.097.190 lembar saham atau 96,35%.
Menjelang akhir 2025, sejumlah emiten Indonesia seperti DRMA, INET dan RAJA aktif dalam akuisisi strategis untuk memperkuat bisnis dan diversifikasi portofolio. [1,805] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Aksi korporasi berupa akuisisi kembali mewarnai pasar modal Indonesia menjelang akhir 2025. Sejumlah emiten lintas sektor mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat struktur usaha dan memperluas portofolio bisnisnya.
Langkah paling anyar datang dari PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA), emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat. Perseroan tengah dalam tahap finalisasi akuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik kendaraan roda empat, PT Mah Sing Indonesia.
Dalam keterbukaan informasi, Corporate Secretary DRMA Ari Indra Gautama menjelaskan proses legal dan dokumentasi akuisisi masih dalam tahap negosiasi. Nilai transaksi disebut berada di bawah ambang batas transaksi material.
“Dampak dari akuisisi nantinya adalah peningkatan pendapatan serta penambahan portofolio produk khususnya pada komponen plastik untuk kendaraan roda empat [4W],” tulis Ari dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).
DRMA akan mengambil sekitar 82% saham PT Mah Sing Indonesia dari Vital Routes Sdn. Bhd. dan PT Kingsanindo Perkasa Indah.
Sepanjang Januari—September 2025, DRMA mengantongi penjualan Rp4,39 triliun atau tumbuh 9,2% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Lebih terperinci, penjualan dari segmen roda dua tercatat sebesar Rp2,72 triliun dan masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan porsi sebesar 62%.
Adapun, segmen roda empat (4W) menyumbang penjualan sebesar Rp988,18 miliar, disusul segmen lainnya sebesar Rp680,63 miliar. DRMA juga mencatat penjualan ekspor sebesar Rp18,37 miliar sepanjang 9 bulan 2025.
Pada saat yang sama, laba bersih DRMA tercatat naik tipis 1,69% YoY menjadi sebesar Rp428,11 miliar.
Irianto Santoso, Presiden Direktur Dharma Polimetal, menyampaikan capaian pertumbuhan perseroan lebih tinggi dari laju pertumbuhan industri secara nasional, di mana data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menunjukkan bahwa penjualan kendaraan bermotor di Indonesia sampai September tahun ini turun 11,28% YoY menjadi 561.819 unit.
“Perseroan meraih kinerja solid di situasi sulit ini berkat strategi diversifikasi produk serta efisiensi di lini manufaktur yang turut memperkuat profitabilitas,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (27/10/2025).
Dalam hal diversifikasi produk, lanjut Irianto, DRMA terus membangun dan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik sebagai rencana strategis dalam diversifikasi produk-produk perseroan. Untuk itu, DRMA telah mengembangkan unit bisnis Dharma Connect (DC) sebagai ekosistem komponen kendaraan listrik kolaboratif yang lengkap.
Selain itu, DRMA juga masuk ke after market dengan mengembangkan produk Aki Lithium 12V, 6Ah. Tidak hanya komponen otomotif, DRMA juga telah mengembangkan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai salah satu diversifikasi bisnis Perusahaan.
Pabrik komponen otomotif Dharma Polimetal (DRMA)
Selain DRMA, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) juga mengumumkan rencana akuisisi 53,57% saham PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA) dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat).
Direktur Utama INET Muhammad Arif menjelaskan, negosiasi dilakukan pada 23 Oktober 2025 dan telah menghasilkan penandatanganan Indikasi Syarat dan Ketentuan Jual Beli.
“Perseroan [INET] akan menjadi pengendali baru perusahaan target,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).
PADA sendiri baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2022 dengan dana IPO Rp90 miliar. Sebagian besar hasil IPO digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan pengembangan bisnis jasa outsourcing, teknikal, hingga IT.
Masih di Oktober, aksi akuisisi juga datang dari sektor properti. PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) melalui dua anak usahanya, PT Abadi Jaya Sakti (AJS) dan PT Tigamitra Ekamulia (TME), resmi mengakuisisi aset Imperial Aryaduta Hotel & Country Club (IAHCC) dari entitas asal Singapura, First Real Estate Investment Trust (First REIT).
Transaksi senilai Rp332,2 miliar itu melibatkan pembelian seluruh saham PT Karya Sentra Sejahtera (KSS), pemilik IAHCC. Corporate Secretary LPKR Ratih Safitri menyebut transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap keuangan maupun operasional perseroan.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif First REIT Management Limited Victor Tan menilai divestasi ini mencerminkan premi 22,2% dibandingkan biaya investasi awal pada 2006. “Divestasi tersebut merupakan langkah tepat waktu dalam strategi capital recycling yang kami jalankan,” ujarnya dalam keterbukaan di Bursa Singapura (SGX).
Beberapa hari sebelumnya, PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) setelah membeli 43,78% saham perseroan pada 10 Oktober 2025.
Direktur Utama MCI Noprian Fadli menyebut transaksi melibatkan 1,5 miliar saham dengan total nilai Rp15,9 miliar, dilaksanakan di dua harga berbeda, yakni Rp2,9 dan Rp26 per saham.
“Tujuan dari transaksi adalah rencana akuisisi. Status kepemilikan saham secara langsung,” ujarnya dalam keterbukaan informasi (13/10/2025).
Corporate Secretary PIPA Imanuel Kevin Mayola menjelaskan, MCI juga berkomitmen menginjeksi aset senilai Rp3 triliun untuk memperkuat ekspansi ke sektor utilitas dan infrastruktur, termasuk pengembangan pipa berteknologi tinggi seperti HDPE.
“Akuisisi ini menjadi babak baru bagi PIPA. Didukung oleh injeksi aset triliunan rupiah dan jalinan kerja sama internasional, PIPA di bawah kendali Morris Capital siap bertransformasi,” ujar Imanuel.
Sebelumnya, di penghujung September, PT Astra International Tbk. (ASII) juga merampungkan transaksi besar. Melalui entitas usahanya PT Saka Industrial Arjaya, Astra resmi menjadi pengendali PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP) setelah menuntaskan akuisisi senilai Rp3,34 triliun pada 30 September 2025.
Sekretaris Perusahaan Astra Gita Tiffani Boer menyampaikan, akuisisi itu melibatkan pembelian 83,67% saham MMLP dari PT Suwarna Arta Mandiri, Bridge Leed Limited, dan beberapa pemegang saham minoritas.
“Dengan demikian, pada 30 September 2025, PT Saka Industrial Arjaya telah menjadi pengendali baru MMLP,” tulis Gita.
Transaksi jumbo ini juga tercatat di pasar negosiasi BEI dengan total 5,76 miliar saham berpindah tangan. Astra menegaskan bakal melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan POJK No. 9/2018.
Di sektor energi, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) mencuri perhatian dengan rangkaian akuisisi strategis sepanjang paruh kedua 2025. Setelah menuntaskan akuisisi Grup Hafar pada Agustus, RAJA melalui anak usahanya menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat untuk mengakuisisi perusahaan perdagangan gas di Banten.
Perseroan juga sedang menjalani due diligence untuk dua perusahaan pelayaran dengan aset berupa dua kapal LNGC dan satu VLGC. Selain itu, RAJA bersama mitranya tengah melakukan studi kelayakan pembangunan terminal LNG di Banten dan menyiapkan pembangunan fasilitas LNG plant di Kalimantan.
Tak hanya di energi fosil, RAJA juga menjajaki akuisisi pembangkit energi baru terbarukan seperti tenaga air dan biomassa, serta sistem penyediaan air minum di Jabodetabek.
Presiden Direktur RAJA Djauhar Maulidi menyebut langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis 2025. “Langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis kami tahun 2025, sekaligus memperluas portofolio di segmen midstream dan offshore untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya (15/8/2025).
RAJA sebelumnya juga menjalin kemitraan strategis dengan PT Petrosea Tbk. (PTRO), afiliasi Grup Barito, dalam mengakuisisi Grup Hafar — penyedia jasa EPCI dan pelayaran migas lepas pantai yang telah beroperasi lebih dari 18 tahun.
Akuisisi 53,57% saham dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat). INET akan jadi pengendali baru.
Lippo Karawaci (LPKR)
Imperial Aryaduta Hotel & Country Club (IAHCC) via PT Karya Sentra Sejahtera
Rp332,2 miliar
Oktober 2025
Selesai (transaksi resmi)
Akuisisi dilakukan melalui PT Abadi Jaya Sakti & PT Tigamitra Ekamulia dari First REIT (Singapura).
Morris Capital Indonesia (MCI)
PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA)
Rp15,9 miliar
10 Oktober 2025
Selesai
Akuisisi 43,78% saham. Akan menginjeksi aset Rp3 triliun untuk ekspansi ke sektor utilitas & infrastruktur.
Astra International (ASII)
PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP)
Rp3,34 triliun
30 September 2025
Selesai
Akuisisi 83,67% saham melalui PT Saka Industrial Arjaya. Astra menjadi pengendali baru.
Rukun Raharja (RAJA)
Grup Hafar & perusahaan perdagangan gas di Banten; dua perusahaan pelayaran LNGC & VLGC
-
Agustus–Oktober 2025
Berjalan (due diligence & studi kelayakan)
Fokus ekspansi ke segmen midstream, offshore, dan energi baru terbarukan (air, biomassa, LNG).
Prospek Kinerja
Serangkaian aksi korporasi tersebut diperkirakan bakal menjadi katalis bagi pertumbuhan laba RAJA tahun ini. Analis memperkirakan laba bersih perseroan dapat tumbuh dua digit, ditopang oleh akuisisi strategis dan kemitraan jangka panjang.
Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Irsyady Hanief, menilai pendapatan RAJA yang tumbuh 3,3% year on year (YoY) dan pertumbuhan laba kotor 4,8% YoY sepanjang semester I/2025 menunjukkan margin yang tetap solid di tengah tekanan pasar.
Menurutnya, ekspansi strategis RAJA lewat akuisisi 49% saham PT Hafar Daya Konstruksi (HDK) dan PT Hafar Daya Samudera (HDS) akan memperkuat posisi perseroan di infrastruktur energi midstream, khususnya di sektor EPCI lepas pantai.
“RAJA memperdalam kolaborasi dengan PTRO melalui akuisisi bersama Hafar Group, memperluas jangkauan ke sektor logistik lepas pantai dan layanan EPCI. Kemitraan ini memberi RAJA akses ke keahlian teknis, modal, serta peluang proyek baru sekaligus memperkuat kredibilitas di pasar energi dan logistik kelautan,” ujar Irsyady dalam risetnya, dikutip Selasa (7/10/2025).
Selain akuisisi, pendorong lain pertumbuhan RAJA berasal dari portofolio bisnis berbasis kontrak jangka panjang berdurasi 10–30 tahun, yang menjadi sumber pendapatan stabil.
Beberapa di antaranya meliputi kerja sama dengan PetroChina di Blok Jabung (kontrak 20 tahun, sisa 19 tahun), Pertagas untuk pipa minyak (20 tahun, sisa 17 tahun), ExxonMobil di Blok Cepu (30 tahun, sisa 11 tahun), serta Sinarmas Group untuk pasokan gas (10 tahun).
“Kontrak-kontrak ini memastikan arus kas yang stabil dan mengurangi eksposur RAJA terhadap volatilitas harga energi,” lanjutnya.
Tak hanya fokus pada energi konvensional, RAJA juga mulai berinvestasi di sektor energi bersih seperti pabrik blue ammonia, fasilitas regasifikasi LNG, serta pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 70 gigawatt (GW), dengan 72% berasal dari EBT. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan investasi sekitar Rp2.800 triliun—di mana sektor swasta diharapkan berperan besar dalam pembangkitan listrik, sementara PLN fokus di transmisi dan distribusi.
“Langkah ini bukan hanya membuka peluang pertumbuhan baru, tetapi juga menjadi lindung nilai terhadap penurunan ketergantungan pada bahan bakar fosil,” tulis riset tersebut.
Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan laba bersih RAJA tahun ini dapat menembus US$35 juta, naik 20,27% YoY dari US$29,1 juta pada 2024. Tahun depan, laba bersih diperkirakan meningkat 13,42% menjadi US$39,7 juta.
Pertumbuhan itu sejalan dengan proyeksi kenaikan pendapatan, dari US$254,5 juta pada 2024 menjadi US$265,5 juta pada 2025, dan naik tipis ke US$267,4 juta pada 2026.
Sepanjang semester I/2025, RAJA mencatat pendapatan US$127,63 juta, naik 3,33% YoY dari US$123,51 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kontributor utama berasal dari penjualan gas sebesar US$70,2 juta, lifting migas US$25,15 juta, dan jasa penyaluran minyak US$16,98 juta.
Pada saat yang sama, RAJA mencatat beban pokok pendapatan sebesar US$89,97 juta, beban umum dan administrasi US$11,18 juta, beban keuangan US$4,73 juta, serta beban pajak penghasilan bersih US$8,69 juta.
Laba bersih RAJA pada semester I/2025 tercatat US$11,35 juta, turun 20,57% YoY dibandingkan US$14,29 juta pada periode yang sama tahun lalu.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA—PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) akan melakukan ekspansi di sektor energi setelah suntikan aset Rp3 triliun dari pemegang saham pengendali (PSP) baru, yakni PT Morris Capital Indonesia (MCI).
Dalam keterangannya, PIPA yang sebelumnya menjadi produsen pipa plastik, akan mendapat suntikan aset Rp3 triliun dari MCI, yang memegang 48,88% saham perseroan. PIPA akan bertransformasi di industri hulu—hilir migas, yang mencakup pipa gas, distribusi BBM, logistik energi, hingga infrastruktur BBM.
“Kami akan menjadi salah satu pemain utama dalam ekosistem energi nasional,” papar manajemen PIPA dalam keterangannya, Senin (27/10/2025).
Pengamat Pasar Modal Indrawijaya Rangkuti menyampaikan skema injeksi Rp3 triliun menunjukkan komitmen pemegang saham terhadap transformasi PIPA dari bisnisnya terdahulu. PIPA ke depan pun bersiap masuk ekosistem migas nasional.
“Model bisnis baru yang mencakup perdagangan energi, logistik, hingga infrastruktur penyimpanan sangat inline dengan kebutuhan jangka panjang sektor energi nasional. Jika dijalankan dengan eksekusi yang presisi, valuasi PIPA bisa naik melebihi harga pasar saat ini,” tuturnya.
Saat ini, saham PIPA berada di level Rp338—turun tajam dari puncaknya di Rp625, setelah sempat mencetak kenaikan lebih dari 6.000% sepanjang tahun. Koreksi ini dinilai wajar, mengingat adanya euforia pasar pasca akuisisi yang kemudian diikuti oleh aksi ambil untung dan panic selling.
“Pergerakan liar saham PIPA adalah cermin ekspektasi pasar terhadap transformasi ini. Harga Rp338 saat ini bisa dibilang sebagai hasil tarik-menarik antara sentimen jangka pendek dan potensi fundamental jangka panjang,” imbuh Rangkuti.
Dia menegaskan, harga Penawaran Tender Wajib (PTW) sebesar Rp21 per saham bukan cerminan nilai wajar sebenarnya. Harga Rp21 hanyalah harga formal berdasarkan regulasi, bukan valuasi bisnis yang telah bertransformasi ke sektor energi. Dengan modal dan arah baru, valuasi sebenarnya bisa jauh di atas itu—tapi semuanya tergantung realisasi.
Meskipun ada optimisme jangka panjang, Rangkuti mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati. PIPA saat ini adalah saham yang berada dalam zona yang fluktuatif. Koreksi yang dalam memberi peluang, tapi kepastian realisasi proyek dan pengelolaan yang solid tetap menjadi kunci kemana arah saham PIPA.”
Rangkuti menyarankan investor untuk tidak hanya melihat teknikal, tapi juga mencermati pengumuman-pengumuman berikutnya dari manajemen MCI. Kunci keberhasilan transformasi ini bukan hanya di suntikan modal, tapi juga pada eksekusi dan keberlanjutan proyek-proyek energi yang akan dijalankan PIPA ke depan.
Transformasi PIPA di bawah Morris Capital bisa jadi adalah titik awal kemunculan “raksasa baru” di sektor energi nasional. Dengan modal besar, visi integratif, dan momentum restrukturisasi, PIPA tidak lagi sekadar produsen pipa—tetapi sedang bersiap mengalirkan energi ke seluruh penjuru negeri.
“Jika rencana bisnis ini terealisasi secara penuh, bukan tidak mungkin PIPA akan menjadi salah satu pilar penting dalam infrastruktur energi nasional dalam beberapa tahun ke depan,” tutur Rangkuti.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi Pengendali Baru PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA). MCI juga telah menandatangani CSPA dengan Junaedi, Hendrik Saputra dan Nanang Saputra (Para Penjual) untuk melakukan pembelian sejumlah 1.500.000.000 lembar saham atau sekitar 43,78% dari total modal ditempatkan dan disetor PIPA.
Sesuai dengan POJK No.9/2018, Pengendali baru berencana untuk melakukan pembelian melalui Penawaran Tender Wajib atas seluruh Saham dengan jumlah sebanyak-banyaknya 1.626.422.190 lembar Saham atau sekitar 47,47% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan.
Setelah selesainya Penawaran Tender Wajib oleh Pengendali Baru, maka kepemilikan saham atas Perseroan sebanyak-banyaknya sejumlah 3.301.097.190 lembar saham atau 96,35% atas modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan.
Lebih lanjut, rata-rata harga tertinggi harian saham PIPA yang diperdagangkan di BEI selama 90 hari sebelum tanggal 28 April 2025 adalah Rp21 per lembar saham. Dalam transaksi Pengambilalihan yang dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2025 dan 10 Oktober 2025, harga pembelian rata-rata saham Perseroan oleh Pengendali Baru adalah sebesar Rp10,60 per saham.
Dengan demikian, sesuai ketentuan dalam POJK No.9/2018, harga Penawaran Tender Wajib ditetapkan sebesar Rp21 per saham. Nilai beli kembali tersebut masih berada di bawah harga pasar saham saat ini.
Pada perdagangan hari ini, saham PIPA tercatat berada di level Rp460 per saham. Dalam seminggu terakhir, saham perseroan telah mengalami pelemahan sebanyak 18,58%. Sementara jika ditarik dalam kurun waktu 3 bulan terakhir, sahamnya justru telah melesat sebesar 557,15%.
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pengendali baru PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA).
MCI telah menandatangani CSPA dengan Junaedi, Hendrik Saputra, dan Nanang Saputra sebagai para penjual untuk melakukan pembelian sejumlah 1.500.000.000 saham atau sekitar 43,78 persen dari total modal yang ditempatkan dan disetor PIPA.
Sesuai dengan POJK No. 9/2018, pengendali baru berencana untuk melakukan pembelian melalui penawaran tender wajib atas seluruh saham dengan jumlah sebanyak-banyaknya 1.626.422.190 saham atau sekitar 47,47 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan.
Setelah selesainya penawaran tender wajib oleh pengendali baru, maka kepemilikan saham atas perseroan sebanyak-banyaknya sejumlah 3.301.097.190 lembar saham atau 96,35 persen atas modal yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan.
Adapun, rata-rata harga tertinggi harian saham PIPA yang diperdagangkan di BEI selama 90 hari sebelum tanggal 28 April 2025 adalah Rp 21 per lembar saham.
Dalam transaksi pengambilalihan yang dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2025 dan 10 Oktober 2025, harga pembelian rata-rata saham perseroan oleh pengendali baru adalah sebesar Rp 10,60 per saham.
Dengan demikian, sesuai ketentuan dalam POJK No. 9/2018, harga penawaran tender wajib ditetapkan sebesar Rp 21 per saham.
Dalam pengumumannya, Rabu (15/10/2025), MCI menyebut periode penawaran tender wajib adalah 30 hari kalender yang dimulai satu hari kalender setelah pengumuman keterbukaan informasi ini.
Setiap pemegang saham yang berniat untuk menjual sahamnya dalam perseroan wajib melengkapi dan mengembalikan FPTW sesuai dengan tata cara sebagaimana diuraikan dalam Bab V (Prosedur dan Persyaratan Keikutsertaan dalam Penawaran Tender Wajib) kepada BAE paling lambat pada tanggal penutupan.
Industri pipa sebagai bisnis yang sudah ada dan main revenue stream perusahaan saat ini akan tetap dipertahankan dan dikembangkan.
Namun, MCI sebagai pengendali baru berencana untuk mengembangkan Multi Makmur Lemindo (PIPA) pada bisnis lain, baik melalui perusahaan atau anak usaha, untuk menjadi bagian dari ekosistem distribusi energi nasional yang terintegrasi.
Pengembangan bisnis tersebut mencakup kegiatan perdagangan dan logistik bahan bakar minyak (BBM), serta pengembangan infrastruktur pendukung seperti fasilitas penyimpanan, sistem distribusi darat dan laut, dan jaringan logistik yang efisien.
Melalui strategi integrasi vertikal dan akuisisi entitas berbasis kontrak jangka panjang, perseroan diharapkan memiliki posisi strategis sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok energi nasional.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
PT Morris Capital Indonesia mengakuisisi 43,78% saham PIPA, menjadi pengendali baru, dengan rencana ekspansi bisnis ke sektor utilitas dan infrastruktur. [410] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Morris Capital Indonesia resmi mengakuisisi 43,78% saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) dan menjadi pemegang saham pengendali (PSP) baru.
Direktur Utama PT Morris Capital Indonesia Noprian Fadli menyampaikan pihaknya membeli 1,5 miliar saham PIPA atau 43,78% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Transaksi tersebut dilaksanakan pada 10 Oktober 2025.
Merujuk data Bursa Efek Indonesia, terjadi transaksi saham PIPA di pasar non-reguler sebanyak 976.430.595 saham dengan total nilai Rp8,68 miliar pada Jumat (10/10/2025).
Noprian menjabarkan transaksi itu dilaksanakan pada dua harga yang jauh berbeda. Pertama, 1 miliar saham PIPA di harga Rp2,9 per saham atau senilai total Rp2,9 miliar. Kedua, 500 juta saham PIPA di harga Rp26 per saham atau senilai total Rp13 miliar.
Apabila diakumulasi, nilai transaksi akuisisi 1,5 miliar saham PIPA oleh PT Morris Capital Indonesia mencapai Rp15,9 miliar.
"Tujuan dari transaksi adalah rencana akuisisi. Status kepemilikan saham secara langsung," paparnya dalam keterbukaan informasi, Senin (13/10/2025).
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham PIPA oleh PT Morris Capital Indonesia meningkat tajam dari 174.675.000 saham atau 5,1% menjadi 1,67 miliar saham atau setara dengan 48,88%.
Sejalan dengan itu, MCI menyampaikan akan melaksanakan kewajiban melakukan penawaran tender wajib sesuai ketentuan POJK No. 9/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.
Perseroan juga menegaskan, seluruh proses pengambilalihan akan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, termasuk aturan di bidang pasar modal.
Langkah ini menandai babak baru kepemilikan PIPA di bawah kendali Morris Capital Indonesia. Dalam keterangan terpisah, Corporate Secretary PIPA Imanuel Kevin Mayola menyampaikan bahwa Morris Capital sebelumnya juga telah mengumumkan komitmen investasi besar dengan injeksi aset senilai Rp3 triliun ke dalam PIPA.
Aset tersebut akan digunakan untuk memperkuat ekspansi bisnis PIPA ke sektor utilitas dan infrastruktur, termasuk pengembangan pipa berteknologi tinggi seperti HDPE (High-Density Polyethylene). Dengan dukungan dana dan strategi pengendali baru, arah bisnis PIPA ke depan akan difokuskan pada diversifikasi produk dan ekspansi pasar, yang ditujukan untuk mendukung kebutuhan sektor energi, migas, serta infrastruktur nasional.
PIPA juga telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah mitra internasional guna memperluas kerja sama strategis di bidang inovasi dan pengembangan produk.
“Akuisisi ini menjadi babak baru bagi PIPA. Didukung oleh injeksi aset triliunan rupiah dan jalinan kerja sama internasional, PIPA di bawah kendali Morris Capital siap bertransformasi dan menancapkan kuku lebih dalam di sektor utilitas dan infrastruktur yang strategis,” ujar Imanuel Kevin Mayola beberapa waktu lalu.
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56