Bisnis.com, SERANG – Emiten keramik, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) berhasil mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025 dengan pertumbuhan penjualan dua digit, di tengah tekanan biaya energi terutama kenaikan harga gas.
Sepanjang tahun buku 2025, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp2,91 triliun, tumbuh 10,71% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat di angka Rp2,63 triliun.
Kinerja ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan serta strategi pemasaran dan penguatan portofolio produk, mulai dari Arwana, UNO, ARNA, hingga lini baru GLORIA.
Chief Financial Officer Rudy Sujanto mengatakan, pertumbuhan tersebut mencerminkan kepercayaan pasar domestik yang tetap terjaga, meski daya beli belum sepenuhnya pulih.
Menurutnya, salah satu kunci ketahanan kinerja perseroan di tengah tekanan industri terletak pada fokus pasar yang konsisten dengan tetap berfokus pada segmen keramik “bodi merah”, yakni pasar menengah ke bawah yang hingga saat ini masih menjadi tulang punggung permintaan domestik.
“Pasar menengah ke bawah masih yang paling kuat di Indonesia. Kami tidak bergeser dari pasar itu, hanya melakukan upgrading produk di dalam segmen yang sama,” ujar Edy pada paparan publik PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) di Serang, Banten, Selasa (8/4/2026).
Produk dengan harga paling rendah (best buy) secara bertahap dikurangi dan digantikan dengan varian yang sedikit lebih tinggi, tetapi tetap menyasar konsumen yang sama. Selain itu, perseroan juga mulai bermain pada produk premium seperti keramik rectified dan glazed polished porcelain tiles.
Sepanjang tahun, Arwana meluncurkan sekitar 410 desain baru, sehingga total SKU yang dimiliki mencapai lebih dari 3.000 varian. Langkah ini turut mendorong kenaikan average selling price (ASP) hingga hampir 8%.
Peluncuran ratusan desain baru dan penguatan portofolio hingga lebih dari 3.000 SKU menjadi bagian dari upaya menjawab perubahan preferensi pasar yang semakin mengarah pada kualitas dan estetika.
Di sisi profitabilitas, Arwana membukukan laba bersih sebesar Rp400,48 miliar dengan margin laba bersih 13,74%. Meski masih tergolong sehat, capaian ini sedikit tertekan dibanding tahun sebelumnya, seiring kenaikan signifikan pada biaya energi, khususnya gas, yang merupakan komponen utama dalam industri keramik.
Chief Operating Officer Edy Suyanto mengatakan, harga gas sepanjang 2025 mengalami kenaikan dari US$6,68 per MMBtu pada 2024 menjadi US$8,03 per MMBtu pada 2025, atau meningkat sekitar 20%. Kenaikan ini, ditambah dengan penurunan alokasi gas industri dan biaya regasifikasi, sehingga memberikan tekanan langsung terhadap biaya produksi. Dampaknya, margin laba yang sebelumnya berada di kisaran 16% turun menjadi sekitar 13,74% karena struktur porsi energi yang naik dari 27%-30% melonjak menjadi 36%-38%.
“Gangguan gas bukan hanya soal biaya tetapi juga dapat mengganggu utilitisasi dan perencanaan produksi industri secara keseluruhan,” ujar Edy yang juga Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI).
Meski demikian, Arwana tetap menunjukkan fondasi keuangan yang kuat. Hingga akhir 2025, total aset perseroan mencapai Rp2,88 triliun, meningkat 8,36% secara tahunan, didorong oleh kenaikan signifikan aset tetap sebesar 25,93% seiring realisasi belanja modal.
Sementara ekuitas tercatat Rp1,93 triliun naik 3,04% secara year on year yang ditopang oleh pertumbuhan saldo laba ditahan. Posisi kas yang solid di level Rp377,94 miliar, serta rasio lancar sebesar 193% dan debt-to-equity ratio 49%, mencerminkan struktur keuangan yang konservatif dan likuiditas yang terjaga.
“Dengan berbagai tantangan baik dari sisi industri maupun daya beli tetapi kami bersyukur karena mampu menjaga pertumbuhan usaha yang sehat, dengan profitabilitas yang terjaga serta arus kas yang kuat,” ujar Edy.
Untuk mendorong pertumbuhan yang lebih efisien dan kompetitif di tahun-tahun mendatang, Perseroan akan terus memperkuat fondasi operasional melalui investasi dan pengembangan infrastruktur produksi.
Ekspansi kapasitas juga terus berjalan termasuk penyelesaian pembangunan Plant 4D untuk produksi keramik porselen ukuran besar, memperluas portofolio produk premium.
Rudy mengatakan bahwa strategi utama perseroan tetap bertumpu pada kekuatan pasar domestik, khususnya segmen menengah ke bawah yang dinilai lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi.
Pada 2026, pihaknya menargetkan pertumbuhan produksi sekitar 10% dan volume penjualan naik 7%, dengan potensi kenaikan ASP hingga 9% didorong kontribusi produk premium dan ukuran besar. Dengan kombinasi tersebut, pendapatan diproyeksikan tumbuh hingga sekitar 17%.
Meski demikian, manajemen tetap berhati-hati terhadap margin. Dengan asumsi harga gas tetap tinggi dan pasokan belum stabil, margin laba bersih diperkirakan hanya akan sedikit membaik ke kisaran 14%.
DIVIDEN
Dalam RUPST yang juga digelar pada Selasa (8/4/2026), perseroan berencana mendistribusikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp45 per lembar saham atau senilai total Rp330,36 miliar. Angka itu melonjak dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp315,7 miliar atau Rp43 per lembar saham.
Artinya, dividend payout ratio ARNA melonjak. Perseroan akan mendistribusikan 82,4% laba bersih pada 2025 sebagai dividen ke pemegang saham, naik dari 74,1% pada periode sebelumnya.