Bisnis.com, JAKARTA – Matahari siang menggantung tepat di atas Terminal Nonpetikemas Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (13/6/2026). Panas memantul dari hamparan aspal yang dipenuhi kendaraan berat. Pada akhir pekan ketika sebagian besar warga Jakarta menikmati waktu bersama keluarga jelang libur nasional itu, tiga truk tangki berkapasitas lebih dari 22.000 liter bergerak perlahan memasuki kawasan bongkar muat.
Kurang dari satu menit, antrean kendaraan di pintu masuk yang dilengkapi timbangan itu bergeser. Tidak ada kemacetan. Tidak ada teriakan pekerja atau hiruk-pikuk yang mencolok. Yang terdengar hanya raung mesin diesel dan hentakan logam pada sambungan kendaraan yang bersahutan.
Bagi orang yang melintas, pemandangan itu mungkin tampak biasa. Namun di balik pergerakan yang nyaris tanpa jeda tersebut, berlangsung sebuah proses yang menentukan ketersediaan barang kebutuhan bagi jutaan keluarga Indonesia.
Di dalam tangki dan palka kapal yang datang silih berganti, tersimpan bahan baku yang kelak berubah menjadi minyak goreng di dapur rumah tangga, tepung terigu di rak minimarket, pupuk untuk sawah petani, hingga semen yang menopang pembangunan kota-kota baru.
Perjalanan panjang itu dimulai dari pelabuhan. Setelah bongkar muat, komoditas berpindah ke fasilitas penyimpanan, lalu diteruskan menuju pelabuhan di berbagai belahan bumi dengan kapal nonpeti kemas seperti Pontianak hingga Darwin di Australia. Muatan yang kemudian diteruskan ke pabrik pengolahan, gudang distribusi, dan pusat-pusat ekonomi. Mata rantai tersebut bekerja tanpa banyak disadari masyarakat, tetapi dampaknya terasa setiap hari melalui harga barang, ketersediaan pasokan, hingga aktivitas industri nasional.
"Kerjanya sistem sif, jadi selalu ramai," kata Neneng (55), pengelola kantin yang telah bertahun-tahun melayani pekerja di kawasan Terminal Nonpetikemas Tanjung Priok.
Bagi Neneng, tidak ada perbedaan antara hari kerja dan akhir pekan. Aktivitas pelabuhan berlangsung sepanjang waktu. Saat satu kelompok pekerja menyelesaikan tugasnya, kelompok lain datang mengambil giliran. Kapal bersandar, membongkar muatan, mengisi kembali kargo, lalu berlayar menuju pelabuhan berikutnya.
Keberadaan pelabuhan telah menjadi ruang pertemuan yang unik. Di satu sisi, ia menjadi gerbang perdagangan internasional yang menghubungkan pusat-pusat produksi Indonesia dengan pasar global. Di sisi lain, ia merupakan titik awal bagi perputaran ekonomi domestik yang menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menyadari peran pelabuhan, Direktur Utama PTP Nonpetikemas Indra Hidayat Sani menjelaskan inti rantai pasok saat ini adalah memastikan barang tersedia tepat ketika dibutuhkan atau just in time (JIT). Dengan sistem tersebut, perusahaan tidak perlu menyimpan stok dalam jumlah besar sehingga biaya gudang, asuransi, dan penyimpanan dapat ditekan.
"Rantai utama logistik ada di pelabuhan. Kalau pelabuhan bermasalah, logistik bermasalah," ujarnya dalam siniar bersama Bisnis.
Pernyataan itu bukan sekadar teori. Ketika arus barang terganggu, dampaknya menjalar ke berbagai sektor. Sebaliknya, ketika pelabuhan bekerja lebih cepat dan efisien, biaya distribusi dapat ditekan. Industri menjadi lebih kompetitif, produksi meningkat, dan lapangan kerja ikut bertambah.
Karena itu, pelabuhan modern tidak hanya mengandalkan dermaga dan alat bongkar muat. Digitalisasi menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran arus logistik. PTP Nonpetikemas misalnya, kini perusahaan menerapkan sistem modern yang memungkinkan pelanggan memantau aktivitas bongkar muat secara real time. Melalui sistem Port Terminal Operating System Model (PTOSM), proses perencanaan sandar kapal, administrasi, hingga pemantauan operasional dilakukan dalam satu ekosistem digital.
"Misi kami adalah bagaimana port time semakin pendek," kata Indra.
Dalam dunia logistik, waktu memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Menariknya, transformasi tersebut terjadi di tengah bisnis pelabuhan curah yang tetap menunjukkan ketahanan dalam lima tahun terakhir.
SM Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas Fiona Sari Utami menilai pelabuhan curah memiliki peran strategis dalam menjaga konektivitas nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Segmen jasa pelabuhan ini berperan meningkatnya aktivitas industri serta program hilirisasi yang digesa pemerintah.
"Tanpa pelabuhan yang andal, biaya logistik akan meningkat dan berdampak langsung pada daya saing industri serta stabilitas harga domestik," katanya.
Menurut dia, pelabuhan curah merupakan simpul utama rantai pasok nasional yang menghubungkan berbagai wilayah produksi dan konsumsi di Indonesia. Kelancaran distribusi komoditas strategis seperti batu bara, crude palm oil (CPO), pupuk, semen, bijih mineral, hingga bahan pangan sangat bergantung pada kinerja terminal curah.
Meski demikian, dia menekankan tantangan utama operator pelabuhan saat ini adalah menjaga operasional tetap efisien, aman, dan berkelanjutan di tengah tuntutan digitalisasi, perkembangan teknologi, serta meningkatnya perhatian terhadap aspek lingkungan dan keselamatan kerja.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pelabuhan-pelabuhan di Indonesia terus melakukan transformasi melalui modernisasi peralatan dan digitalisasi layanan. PTP Nonpetikemas, misalnya, mengembangkan sistem operasional berbasis Port Terminal Operating System Model (PTOSM) yang mengintegrasikan perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan layanan dalam satu ekosistem digital sehingga memberi kepastian bisnis saat mengadopsi JIT.
Selain mendukung konektivitas logistik nasional, pelabuhan curah juga dinilai memiliki peran penting dalam agenda hilirisasi dan industrialisasi. Menurut Fiona, pelabuhan kini tidak hanya berfungsi sebagai pintu ekspor, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi dengan kawasan smelter, energi, dan manufaktur.
"Kebijakan hilirisasi mendorong kebutuhan terminal curah yang lebih terintegrasi dengan pusat produksi. Ini membuka peluang pengembangan terminal baru yang lebih dekat dengan kawasan industri," ujarnya.
Rantai PasokNasional
Sebagai bagian dari Pelindo Group dalam Pelindo Multi Terminal, PTP Nonpetikemas terus memperkuat dukungan terhadap rantai pasok industri hilirisasi melalui pengembangan layanan kepelabuhanan di berbagai wilayah operasional. Perusahaan juga memperluas layanan ke sektor strategis melalui Shorebase Management untuk mendukung kegiatan hulu migas serta layanan logistik bagi sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN).
Di Terminal Kijing, Kalimantan Barat misalnya. perusahaan mendukung aktivitas bongkar muat bauksit dan alumina yang menjadi bagian dari rantai pasok industri pengolahan aluminium nasional. Aktivitas tersebut diproyeksikan meningkat seiring pengembangan proyek Smelter Grade. Sejak diresmikan pada 2022, pelabuhan ini berkembang menjadi pusat aktivitas logistik yang mendukung ekspor-impor sekaligus menopang proyek hilirisasi mineral nasional.
Di sana, aktivitas bongkar muat bauksit dan alumina menjadi bagian dari rantai pasok industri aluminium Indonesia. Ke depan, proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 1 dan fase 2 diperkirakan akan semakin meningkatkan kebutuhan layanan kepelabuhanan.
Capaian ini terlihat dalam pencapaian operasional perusahaan. Pada triwulan I 2026, throughput nonpetikemas mencapai 12,84 juta ton. Curah kering menjadi tulang punggung dengan kontribusi 46%, diikuti curah cair sebesar 25%, general cargo 24%, dan bag cargo 5%.
Pertumbuhan paling menonjol terjadi pada segmen curah cair yang mencapai 3,09 juta ton atau meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas ekspor CPO di Teluk Bayur, aktivitas bongkar muat di Pontianak, serta meningkatnya arus komoditas di Tanjung Priok.
Fiona menilai prospek bisnis pelabuhan curah masih sangat menjanjikan seiring pertumbuhan sektor industri, energi, dan aktivitas hilirisasi di berbagai daerah. Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai, seperti akses jalan, sistem conveyor, area stockpile, dan kedalaman kolam pelabuhan yang cukup.
"Kinerja pelabuhan curah akan semakin optimal apabila pengembangan infrastruktur dilakukan secara bersama-sama oleh operator pelabuhan, pemerintah, pelaku industri, dan pengguna jasa," katanya.ngkungan.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang mengakui kelancaran layanan pelabuhan menjadi faktor penting bagi industri nasional. Meski demikian, keluhan yang disampaikan pemerintah mengenai hambatan dan tumpukan dipelabuhan tidak dirasakan oleh anggotanya.
"Sampai saat ini tidak ada anggota yang mengalami masalah bongkar muat di pelabuhan [nonpetikemas]," katanya.
Apalagi bagi industri tepung terigu, kelancaran impor gandum merupakan faktor krusial. Gangguan kecil di pelabuhan dapat memengaruhi rantai produksi yang pada akhirnya berdampak pada pasokan pangan nasional. Dalam data yang dimiliki asosiasi, tantangan lebih disebabkan melonjaknya biaya bahan bakar hingga ketersediaan alat dukung logistik. Dan tentu, semua tantangan itu harus teratasi untuk kebaikan ekonomi negeri.