#30 tag 24jam
Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman
Ubah resolusi keuangan jadi aksi nyata dengan 5 kebiasaan sederhana untuk menjaga stabilitas finansial di tengah ketidakpastian ekonomi. [513] url asal
#resolusi-keuangan #kebiasaan-finansial-sehat #tips-keuangan-2026 #perencanaan-keuangan #stabilitas-finansial #literasi-keuangan #manajemen-keuangan-pribadi #tips-keuangan
Jakarta: Memasuki tahun baru, resolusi keuangan kerap menjadi harapan untuk hidup yang lebih tertata. Namun di tengah ketidakpastian ekonomi global, resolusi tanpa aksi nyata berisiko hanya menjadi daftar keinginan.Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan kondisi ekonomi global masih rentan akibat perlambatan pertumbuhan, termasuk di Indonesia. Dalam situasi ini, kebiasaan finansial yang disiplin menjadi kunci menjaga stabilitas keuangan.
Menjawab tantangan tersebut, PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life), anggota IFG BUMN holding asuransi, penjaminan, dan investasi menekankan pentingnya kesiapan finansial sejak dini melalui perencanaan yang terukur.
“Ketika kondisi ekonomi semakin menantang, literasi keuangan menjadi semakin penting. Sebagai salah satu pelaku utama di industri asuransi jiwa & kesehatan, IFG Life berkomitmen memberikan layanan terbaik serta perlindungan yang komprehensif dan berkelanjutan kepada konsumen. Komitmen tersebut diwujudkan tidak hanya melalui produk dan proses klaim, tetapi juga dengan mendampingi masyarakat membangun stabilitas finansial melalui edukasi dan perencanaan yang terukur,” ujar Corporate Secretary IFG Life, Gatot Haryadi dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Januari 2026.
Jika kamu ingin menyambut 2026 dengan kondisi finansial yang lebih siap, berikut lima kebiasaan kunci yang bisa mulai diterapkan.
1. Menabung sejak awal bulan
Menabung tetap menjadi fondasi utama dalam perencanaan keuangan. Bukan soal besar kecil nominalnya, tetapi konsistensinya. Agar lebih efektif, biasakan menabung di awal bulan.Begitu gaji diterima, sebagian dana bisa langsung dialokasikan ke tabungan atau rekening dana nasabah (RDN) sebagai langkah awal berinvestasi. Dengan cara ini, menabung menjadi bagian dari sistem keuangan, bukan sekadar sisa di akhir bulan.
2. Biasakan evaluasi sebelum membeli
Di era belanja digital, keputusan impulsif sering kali sulit dihindari. Karena itu, resolusi finansial juga bisa dimulai dari kebiasaan belanja yang lebih mindful. Beri jeda satu hingga dua hari sebelum checkout, terutama untuk barang yang tidak mendesak.3. Waspadai biaya layanan langganan
Layanan berbasis langganan kini semakin umum, mulai dari aplikasi hingga hiburan digital. Tanpa disadari, biaya kecil yang dibayarkan rutin dapat menggerus pendapatan bulanan, termasuk untuk layanan yang sudah jarang digunakan.Untuk mencegah kebocoran anggaran, biasakan mengecek secara berkala layanan berbayar yang masih aktif di e-wallet atau kartu kredit.
4. Pahami perlindungan finansial yang dimiliki
Risiko dan situasi tak terduga dapat terjadi kapan saja. Karena itu, penting memahami perlindungan yang kamu miliki, termasuk asuransi dan BPJS. Luangkan waktu untuk mempelajari kembali manfaat, ketentuan klaim, serta batas perlindungan agar bisa dimanfaatkan secara optimal.5. Tetapkan “Limit Hidup” sejak awal
Niat hidup hemat sering kali tidak cukup tanpa batasan yang jelas. Karena itu, kamu bisa mulai menetapkan “limit hidup”, yaitu batas maksimal pengeluaran bulanan untuk kebutuhan gaya hidup seperti makan di luar, hiburan, atau aktivitas sosial.Limit ini sebaiknya ditentukan sejak awal bulan dan dibuat lebih rendah dari batas kartu yang tersedia. Dengan begitu, pengeluaran tetap terkendali tanpa harus mengorbankan ruang untuk menikmati hidup.
Pada akhirnya, membangun kebiasaan finansial bukan tentang perubahan besar yang instan, melainkan konsistensi dalam langkah-langkah kecil sehari-hari.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, resolusi keuangan yang realistis dan terukur dapat menjadi pegangan untuk menjaga stabilitas.
Dengan perencanaan yang lebih sadar dan disiplin, kamu bisa menghadapi 2026 dengan lebih siap, tidak sekadar bertahan, tetapi juga menjaga finansial tetap stabil di setiap fase kehidupan.
(ANN)
Lima Kebiasaan Keuangan yang Menghambat Resolusi Finansial 2026
Lima kebiasaan keuangan seperti meminjam uang, pengeluaran berlebih, membayar minimum kartu kredit, FOMO, dan spekulasi instan dapat menghambat resolusi finansial 2026. [436] url asal
#keuangan-2026 #resolusi-keuangan #kebiasaan-finansial #pengelolaan-arus-kas #kartu-kredit-minimum #fomo-keuangan #spekulasi-finansial #pengeluaran-tidak-seimbang #gaya-hidup-finansial #alat-bantu-keua
(Bisnis.Com - Finansial) 12/01/26 13:45
v/100695/
Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki tahun baru, banyak orang kembali menyusun resolusi, termasuk target keuangan yang sempat tertunda di tahun sebelumnya. Mulai dari keinginan sederhana seperti rutin menikmati makan di restoran hingga rencana besar seperti liburan keluarga ke luar negeri.
Namun, jika menengok kembali catatan tahun lalu, tidak sedikit resolusi yang gagal terwujud.
Refleksi menjadi penting untuk memahami penyebab gagalnya niat baik tersebut. Salah satu faktor yang kerap luput disadari adalah kebiasaan keuangan sehari-hari. Dikutip dari keterangan OCBC, berikut lima pola perilaku finansial yang masih banyak dilakukan masyarakat dan berpotensi menghambat pencapaian tujuan keuangan di 2026.
Pertama, kebiasaan terlalu sering menutup kekurangan keuangan dengan meminjam uang kepada orang terdekat. Data OCBC Financial Fitness Index 2025 menunjukkan sebanyak 39% responden masih kerap meminjam uang kepada teman atau keluarga, terutama untuk memenuhi gaya hidup. Kondisi ini mencerminkan masih kuatnya pola pengeluaran yang tidak seimbang dengan pendapatan atau dikenal dengan istilah “lebih besar pasak daripada tiang”.
Kedua, pengelolaan arus kas yang kurang disiplin. Sebanyak 14% masyarakat tercatat memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan. Situasi ini umumnya tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya pendapatan, melainkan gaya hidup yang tidak selaras dengan kemampuan finansial. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, menabung maupun berinvestasi akan menjadi semakin sulit dilakukan.
Ketiga, rasa aman semu dari kebiasaan membayar minimum kartu kredit. Data OCBC Financial Fitness Index 2025 mencatat 56% responden hanya membayar tagihan minimum kartu kredit. Meskipun terlihat meringankan beban dalam jangka pendek, praktik ini berisiko menumpuk bunga dan menjadikan kartu kredit sebagai beban finansial jangka panjang.
Keempat, pengaruh fear of missing out (FOMO) yang berlebihan. Tekanan sosial terbukti berdampak signifikan terhadap keputusan keuangan. Sebanyak 76% responden mengaku menghabiskan uang untuk mengikuti gaya hidup lingkungan sekitarnya, mulai dari nongkrong, liburan, hingga mengikuti tren belanja. Tanpa kontrol yang jelas, kebiasaan ini dapat menggerus kemampuan mencapai tujuan finansial jangka panjang.
Kelima, kecenderungan mencari jalan pintas demi keuntungan instan. Maraknya narasi sukses cepat di media sosial mendorong sebagian masyarakat mengambil risiko tanpa pemahaman memadai. Sekitar 10% responden tercatat melakukan spekulasi berlebihan demi cuan cepat, yang kerap berujung pada kerugian finansial.
Meski demikian, awal tahun kerap menjadi momentum yang tepat untuk melakukan reset kebiasaan keuangan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai pola belanja, pengelolaan utang, serta tujuan jangka panjang, masyarakat dapat mulai membangun fondasi finansial yang lebih sehat.
Dalam konteks ini, keberadaan alat bantu pengelolaan keuangan dinilai semakin relevan. Sejumlah perbankan menghadirkan layanan digital yang tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga membantu nasabah memantau dan mengelola kondisi keuangan secara lebih terstruktur.
Pendekatan yang lebih terfokus dan disiplin diharapkan dapat membantu masyarakat menjaga konsistensi resolusi keuangan, sekaligus meningkatkan ketahanan finansial di tengah tantangan ekonomi yang masih berlanjut.
Strategi Menabung Realistis di Tengah Tekanan Biaya Hidup
Banyak perencana keuangan menekankan target kecil tapi konsisten, karena target yang terlalu besar justru membuat rumah tangga kalah sebelum mulai. [1,425] url asal
#tabungan #menabung #resolusi-keuangan #dana-darurat #indepth #target-menabung
(Kompas.com - Money) 10/01/26 07:00
v/98954/
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebiasaan menabung sering dimulai dari niat yang sederhana, misalnya "tahun ini harus lebih hemat”.
Namun, kebiasaan menabung tak jarang berakhir di minggu ketiga karena biaya hidup datang bertubi-tubi, misalnya kebutuhan dapur, tagihan sekolah, cicilan, sampai pengeluaran tak terduga.
Perlu diingat, menabung bukan soal sempurna atau tidak sama sekali.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi menabung, menabung harian.Banyak perencana keuangan menekankan target yang kecil tapi konsisten, karena target yang terlalu besar justru membuat rumah tangga kalah sebelum mulai.
Reuters mewartakan, perencana keuangan Cynthia Luna mengingatkan pentingnya target menabung yang tidak mengundang rasa gagal sejak awal.
Cara yang tepat adalah dengan menggunakan langkah-langkah kecil dan membuatnya mudah dicapai serta memotivasi, karena Anda tidak ingin gagal dalam resolusi keuangan Anda," ujarnya.
Berangkat dari pendekatan langkah kecil itu, berikut kerangka praktis menetapkan target menabung yang realistis, yang bisa dicapai tanpa membuat arus kas rumah tangga megap-megap.
1. Mulai dari angka yang benar-benar ada di kas: audit arus kas 30 hari
Target menabung yang realistis selalu dimulai dari baseline, berapa uang yang benar-benar “tersisa” setelah kebutuhan pokok dan kewajiban dibayar.
Banyak rumah tangga merasa tak bisa menabung karena semua pengeluaran tampak sama pentingnya. Karena itu, tahap pertama bukan menentukan nominal tabungan, melainkan memetakan pola uang keluar.
UNSPLASH/TOWFIQU BARBHUIYA Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.Cara yang lazim direkomendasikan perencana keuangan adalah mencatat seluruh pengeluaran 30 hari, bukan untuk “menghakimi” belanja, melainkan untuk membedakan tiga kelompok, yakni sebagai berikut.
- Kebutuhan wajib: makan, transport kerja, listrik, air, komunikasi, sewa atau cicilan rumah, pendidikan dasar.
- Kewajiban finansial: cicilan, premi asuransi, iuran, pembayaran utang.
- Belanja fleksibel: hiburan, langganan, makan di luar, belanja impulsif, biaya kecil harian.
Setelah peta ini terbentuk, barulah rumah tangga bisa menilai ruang menabung yang realistis, sering kali bukan dari memotong kebutuhan wajib, tetapi dari “kebocoran kecil” yang tidak terasa.
2. Ubah target besar menjadi target bertahap: dari “3 sampai 6 bulan biaya hidup” ke “Rp 500.000 dulu”
Banyak perencana keuangan menyebut dana darurat ideal 3 sampai 6 bulan pengeluaran. Masalahnya, target itu terasa jauh bagi rumah tangga yang masih bertarung dengan biaya harian.
Karena itu, banyak praktisi menyarankan milestone kecil lebih dulu.
Associated Press (AP) menulis bahwa gagasan menabung setara 3 sampai 6 bulan pengeluaran bisa terasa menakutkan, sehingga lebih baik memulai dari tonggak yang lebih kecil.
Sebaiknya, tetapkan target awal yang terasa ringan tapi nyata, misalnya sebagai berikut.
- Target 1 (2 sampai 8 minggu): Rp 250.000 sampai Rp 1 juta pertama.
- Target 2 (3 sampai 6 bulan): 1 bulan biaya hidup.
- Target 3 (6 sampai 18 bulan): 3 bulan biaya hidup.
- Target 4 (lebih dari 18 bulan): 6 bulan biaya hidup, khususnya bila pendapatan tidak stabil.
Langkah kecil membantu dua hal. Pertama, memberi rasa progres, dan kedua, mengurangi risiko target menabung “mengganggu” kebutuhan pokok.
3. Pakai rumus aman agar tidak memberatkan: mulai dari persentase kecil, lalu naikkan otomatis
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.Menabung sering gagal bukan karena orang tidak tahu harus menabung, tetapi karena targetnya tidak selaras dengan kemampuan arus kas.
Salah satu pendekatan yang banyak dianjurkan adalah memulai dari persentase kecil pendapatan dan menaikkannya bertahap, bukan langsung melompat.
Di rumah tangga, konsepnya bisa diterapkan tanpa produk khusus, yakni mulai dari 2 sampai 5 persen pendapatan untuk tabungan, lalu naikkan 1 persen tiap 2 sampai 3 bulan, atau setiap kali ada kenaikan gaji atau bonus.
Kenaikan bertahap membuat adaptasi gaya hidup lebih halus.
4. Otomasi adalah kunci
Banyak pakar menekankan bahwa menabung tidak boleh bergantung pada niat setiap akhir bulan, karena yang terjadi biasanya justru menabung dari sisa, dan sisanya sering nol.
Otomasi bisa dibuat sederhana:
- Autodebet tabungan tepat setelah gajian (H+0 atau H+1).
- Pisahkan rekening: rekening transaksi harian dan rekening tabungan atau tujuan.
Jika pendapatan tidak tetap, otomatisasi bisa berbentuk aturan, misalnya 10 persen dari setiap pemasukan masuk ke rekening tabungan.
Perencana keuangan Doug Boneparth dalam warta Reuters juga menekankan karakter dana darurat harus aman dan mudah diakses.
"Harus aset rendah risiko, likuid, dan mudah diakses," sarannya.
Artinya, target menabung harus ditempatkan pada instrumen yang tidak mengundang risiko besar dan bisa dicairkan saat dibutuhkan.
SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah5. Susun target berdasarkan tujuan: dana darurat, tujuan pendek, dan tujuan panjang jangan dicampur
Salah satu alasan target menabung terasa berat adalah karena rumah tangga mencoba mengejar semuanya sekaligus, misalnya dana darurat, liburan, uang sekolah, renovasi rumah, dan pensiun semuanya dalam satu rekening.
Ketika ada kebutuhan mendadak, tabungan terpakai, lalu motivasi runtuh karena merasa balik ke nol.
Cara yang lebih realistis adalah membagi tujuan:
- Dana darurat (prioritas awal): fokus likuiditas.
- Tujuan jangka pendek (3 sampai 18 bulan): misalnya biaya sekolah anak semester depan, servis kendaraan, mudik, DP barang penting.
- Tujuan jangka panjang (di atas 3 tahun): misalnya pendidikan anak jangka panjang, pensiun, pembelian rumah.
Dengan pemisahan ini, rumah tangga bisa menilai kontribusi yang masuk akal untuk masing-masing pos, tanpa mengorbankan kebutuhan harian.
6. Sisakan ruang untuk hidup agar target tabungan tidak memicu balas dendam belanja
Target menabung yang terlalu ketat sering memicu rebound: beberapa minggu disiplin, lalu “balas dendam” belanja karena lelah menahan diri.
Karena itu, target yang realistis biasanya menyisakan ruang kecil untuk hiburan atau kebutuhan psikologis.
Ingat, tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua orang.
"Tidak ada solusi yang sama untuk semua. Tiap orang berbeda, khususnya jika Anda memiliki variabel pengeluaran dalam basis bulanan," tutur akuntan public bersertifikat Miklos Ringbauer dalam warta AP.
Prinsip “anggaran bernapas” bisa diterapkan dengan cara, ketika menetapkan target menabung, pastikan masih ada pos fleksibel meski kecil. Tujuannya bukan memanjakan belanja, melainkan menjaga konsistensi.
Dok. Shutterstock/iHumnoi Ilustrasi menabung. Tips menabung yang efektif untuk Gen Z agar keuangan tetap aman.7. Andalkan “windfall”
Bagi rumah tangga yang arus kasnya mepet, menabung dari pendapatan rutin kadang terasa mustahil.
Dalam kondisi ini, banyak pakar menyarankan memanfaatkan pemasukan tak terduga (windfall) untuk mempercepat capaian, tanpa mengganggu belanja kebutuhan.
"Uang tambahan yang tak terduga, seperti pengembalian pajak atau gaji ketiga padahal biasanya hanya dua kali sebulan, atau bonus, adalah cara terbaik untuk mengatasi kesulitan keuangan Anda," ucap Rachel Lawrence, head of advice andplanning di Monarch Money.
Prinsip yang bisa diadopsi adalah, ketika ada bonus atau pendapatan tak rutin, tentukan porsi tetap untuk tabungan, misalnya 50 sampai 80 persen.
Kemudian, sisakan sebagian kecil untuk “hadiah” agar tetap terasa manusiawi, tanpa membuat target tabungan bergantung pada windfall semata.
8. Ukur progres dengan cara yang terlihat agar motivasi tidak hanya “perasaan”
Menabung sering terasa lambat karena hasilnya tidak kasatmata.
"Anda ingin otak Anda mendapatkan penghargaan sesering mungkin ketika Anda melihat banyak kemajuan," kata Lawrence.
Bentuk visualnya bisa sederhana, misalnya tracker target di catatan ponsel, grafik manual, atau fitur goal di aplikasi bank. Yang penting, target dipecah menjadi milestone kecil sehingga progres lebih sering terlihat.
9. Jadwalkan evaluasi rutin
FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan.Target menabung yang realistis bukan angka yang dipahat permanen. Target menabung mengikuti perubahan pendapatan, biaya sekolah, kondisi kesehatan, hingga kenaikan harga.
Jika satu bulan gagal menyetor tabungan sesuai target, itu tidak otomatis berarti kebiasaan menabung gagal total.
Dalam laporan Reuters tentang resolusi finansial, Rita Assaf, vice president di Fidelity menjelaskan pergeseran fokus banyak orang ke tujuan jangka pendek, seiring kekhawatiran biaya hidup harian.
“Tujuan menabung jangka pendek lebih diprioritaskan saat ini. Orang-orang sangat khawatir tentang kebutuhan sehari-hari,” ujar dia.
Evaluasi berkala, misalnya setiap akhir bulan atau tiap 90 hari, membantu rumah tangga menyesuaikan target tanpa rasa bersalah berlebihan.
Prinsipnya, target diubah agar tetap bisa dijalankan, bukan dipaksakan hingga memicu stres finansial.
10. Patokan eksternal sebagai konteks, bukan standar wajib
Ada banyak patokan populer, misalnya anjuran menabung 15 persen pendapatan. Patokan semacam ini berguna sebagai kompas, tetapi berisiko menjadi beban jika dipakai sebagai syarat lulus.
Target menabung yang realistis selalu kembali ke konteks rumah tangga, struktur biaya hidup, stabilitas pendapatan, dan kewajiban yang sedang berjalan.
Merangkai target menabung yang realistis: contoh kerangka 4 langkah
Berbagai saran pakar di atas dapat diringkas menjadi kerangka kerja yang mudah dipakai, yakni sebagai berikut.
- Hitung baseline: pengeluaran wajib + kewajiban finansial, lalu lihat ruang sisa.
- Pilih target kecil dulu: “Rp X pertama” atau persentase kecil (2 sampai 5 persen).
- Otomasi dan pisahkan rekening: agar menabung tidak bergantung pada niat.
- Naikkan bertahap + evaluasi berkala: tambah 1 persen secara periodik atau setiap ada pendapatan tak terduga.
Kerangka ini sejalan dengan penekanan banyak pakar, yaitu kecil, otomatis, dan bertahap, agar target menabung tetap bisa dicapai tanpa memberatkan keuangan rumah tangga.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Tips MotionTrade: 4 Cara Menyusun Resolusi Keuangan di Awal Tahun
MNC Sekuritas menyediakan layanan dan jasa perdagangan efek yang lengkap serta didukung dengan aplikasi online trading MotionTrade. MNC Sekuritas merupakan perusahaan... | Halaman Lengkap [477] url asal
#tips #resolusi-keuangan #motiontrade #tahun-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 06/01/26 18:59
v/95433/
JAKARTA - MNC Sekuritas merupakan perusahaan efek di bawah naungan MNC Group, yang saat ini mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT MNC Kapital Indonesia Tbk. MNC Sekuritas menyediakan layanan dan jasa perdagangan efek yang lengkap serta didukung dengan aplikasi online trading MotionTrade.Tahun baru menjadi momen yang tepat untuk membuat berbagai rencana dan resolusi. Resolusi mencakup banyak aspek kehidupan, salah satunya adalah resolusi keuangan. Resolusi keuangan memiliki peran penting dalam membantu Anda mencapai kestabilan dan tujuan finansial berdasarkan jangka waktu yang ditentukan. Anda dapat menentukan prioritas, mengelola pengeluaran, serta merencanakan masa depan secara lebih terstruktur.
Resolusi keuangan juga membantu Anda mengantisipasi risiko seperti inflasi, kondisi darurat, atau ketidakstabilan ekonomi yang dapat memengaruhi keamanan finansial. MotionTrade telah merangkum 4 (empat) cara menyusun resolusi keuangan, yaitu:
1. Mengevaluasi Resolusi Keuangan Tahun Sebelumnya
Langkah awal yang bisa Anda lakukan sebelum menyusun resolusi keuangan tahun baru adalah mengevaluasi resolusi keuangan tahun lalu. Dengan mempelajari pengalaman tahun lalu, Anda dapat menyesuaikan resolusi keuangan tahun ini agar lebih relevan. Hal ini membuat resolusi tahun baru Anda menjadi lebih terarah.
2. Pahami Kondisi Keuangan Saat Ini
Sebelum menyusun resolusi keuangan, penting untuk memahami kondisi finansial saat ini. Lakukan pencatatan menyeluruh terhadap pendapatan, pengeluaran, aset, dan kewajiban yang Anda tanggung setiap bulannya (financial check up). Dengan evaluasi kondisi keuangan, Anda juga dapat mengidentifikasi kebiasaan finansial yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan. Selanjutnya, susun anggaran bulanan. Anggaran merupakan fondasi utama dalam mencapai resolusi keuangan. Dalam menyusun anggaran bulanan, Anda dapat memulai dengan membuat daftar kebutuhan yang bersifat pokok atau primer.
3. Menentukan Tujuan Keuangan yang Spesifik dan Realistis
Langkah berikutnya adalah menetapkan tujuan keuangan yang spesifik, terukur, dan realistis. Hal ini juga berlaku dalam berinvestasi, karena investasi tanpa tujuan yang jelas dapat membuat rencana investasi Anda berjalan kurang optimal. Hindari membuat tujuan yang terlalu umum dan mulailah menetapkan target yang spesifik. Terdapat tiga target yang perlu ditentukan sebelum memulai investasi, yaitu target jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
4. Raih Resolusi Keuangan dengan Berinvestasi
Untuk mencapai target keuangan, diperlukan strategi yang tepat. Menabung memang aman untuk menyimpan dana, namun imbal hasilnya relatif rendah dan dikenakan biaya administrasi. Sebaliknya, berinvestasi menawarkan potensi pertumbuhan aset yang lebih optimal, sehingga menjadi pilihan yang lebih efektif untuk mewujudkan resolusi keuangan. Salah satu investasi yang bisa dicoba untuk investor pemula adalah reksa dana.
Pada aplikasi MotionTrade, Anda dapat memanfaatkan fitur Auto Invest untuk pembelian Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Fitur ini memudahkan pengguna MotionTrade untuk tetap berinvestasi tanpa hambatan. Jika investor mengaktifkan fitur Auto Invest, dana yang mengendap di Rekening Dana Nasabah (RDN) akan secara otomatis diinvestasikan dengan persetujuan nasabah ke produk RDPU pilihan nasabah, sehingga berpotensi memperoleh imbal hasil yang lebih optimal.
Nikmati layanan investasi pasar modal dari #MNCSekuritas dengan segera unduh aplikasi MotionTrade dan jelajahi seamless experience. Aplikasi MotionTrade dapat diunduh di Google PlayStore dan Apple App Store dengan link unduh onelink.to/motiontrade . MNC Sekuritas, Invest with The Best!
Kiat Menetapkan Resolusi Keuangan pada Tahun Baru 2026
Susun resolusi keuangan 2026 dengan evaluasi kondisi 2025, tetapkan tujuan spesifik, dan bangun sistem otomatis untuk menabung dan investasi konsisten. [548] url asal
#resolusi-keuangan #tujuan-finansial #evaluasi-keuangan #kebiasaan-belanja #penghasilan-tambahan #prioritas-keuangan #dana-darurat #investasi-emas #kesehatan-finansial #pola-pikir-keuangan #sistem-otom
(Bisnis.Com - Finansial) 05/01/26 20:24
v/94298/
Bisnis.com, JAKARTA - Setelah pengeluaran membengkak untuk berbagai aktivitas liburan Tahun Baru, kini saatnya menyusun resolusi keuangan agar tujuan finansial tetap tercapai tanpa mengorbankan kebutuhan jangka panjang.
Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, menekankan bahwa resolusi keuangan bukan sekadar daftar keinginan, melainkan pernyataan tujuan finansial yang lahir dari proses evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan tahun sebelumnya.
Menurut Mike, resolusi keuangan idealnya dimulai dengan meninjau ulang kondisi keuangan sepanjang 2025, mulai dari pola pengeluaran, kebiasaan belanja, hingga kebocoran di pos-pos tertentu. Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan pada 2026.
“Resolusi keuangan bisa berupa tujuan baru, atau tujuan lama yang diperbaiki setelah kita tahu letak kekurangannya,” ujarnya kepada Bisnis.
Lebih lanjut, dia mencontohkan kebocoran keuangan yang kerap terjadi di pos hiburan dan liburan. Kebiasaan sering keluar rumah saat akhir pekan, misalnya, tanpa disadari mendorong perilaku konsumtif.
Dari evaluasi itu, solusi yang dirumuskan bisa berupa pengurangan aktivitas belanja dan menggantinya dengan kegiatan lain yang tetap produktif namun lebih hemat. Dengan demikian, resolusi keuangan tidak hanya memuat tujuan, tetapi juga langkah konkret untuk mencapainya.
Mike juga menekankan pentingnya mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki saat menyusun resolusi. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendapatan sudah tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup, maka resolusi keuangan dapat diarahkan pada pencarian penghasilan tambahan.
Bentuknya bisa beragam, mulai dari membuka usaha kecil dari rumah hingga menawarkan jasa berdasarkan keterampilan profesional. Pada tahap ini, seseorang perlu menilai kesiapan sarana, seperti gadget, jaringan relasi, hingga modal awal yang dimiliki.
Terkait menyusun prioritas keuangan, Mike mengingatkan agar orang-orang tidak keliru membedakan antara hal yang “genting” dan “prioritas”. Tagihan bulanan seperti listrik dan biaya hidup memang penting, namun prioritas sejati adalah tujuan yang berdampak pada masa depan, seperti dana darurat, pendidikan anak, dana pernikahan, atau modal usaha.
Dia memberi contoh sederhana, seperti kebutuhan membeli ponsel untuk bekerja. Jika ponsel seharga Rp3,5 juta sudah memadai, maka memilih ponsel seharga Rp15 juta berarti selisih anggaran tersebut sebenarnya bukan kebutuhan prioritas.
“Di situlah pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan agar alokasi keuangan lebih tepat,” jelasnya.
Agar resolusi menabung dan berinvestasi dapat dijalankan secara konsisten sepanjang tahun, Mike menyarankan tiga strategi utama.
Pertama, memiliki tujuan keuangan yang spesifik agar pengeluaran tidak mudah teralihkan.
Kedua, membangun pola pikir yang benar, yakni membelanjakan uang berdasarkan kebutuhan dan anggaran, bukan karena tren, diskon, atau ikut-ikutan. Ketiga, membangun sistem yang mendukung kebiasaan baik secara otomatis, seperti pemotongan dana tabungan atau investasi langsung setelah gajian.
“Dengan sistem otomatis, menabung dan berinvestasi tidak lagi terasa sebagai beban, karena dilakukan tanpa harus menimbang-nimbang setiap bulan,” katanya.
Dia mencontohkan investasi emas rutin dengan nominal kecil yang dijalankan konsisten dalam jangka panjang dapat menghasilkan akumulasi aset yang signifikan.
Lebih jauh, Mike menegaskan bahwa resolusi keuangan harus berdampak pada kesehatan finansial jangka panjang. Kesehatan keuangan dapat diukur melalui berbagai indikator, seperti pertumbuhan saldo tabungan dan investasi, rasio menabung minimal 30 persen dari pendapatan, serta rasio cicilan utang yang tidak memberatkan.
Selain itu, perbandingan antara total aset dan total utang juga menjadi ukuran penting. Jika nilai aset lebih besar dari utang, kondisi keuangan dinilai lebih sehat.
Agar resolusi tidak berhenti sebagai rencana tahunan, Mike menyarankan evaluasi kesehatan keuangan dilakukan secara berkala, minimal setahun sekali. Dengan begitu, tujuan yang ditetapkan setiap awal tahun benar-benar menjaga dan meningkatkan kesehatan finansial dalam jangka panjang.
Kiat Menetapkan Resolusi Keuangan di Tahun Baru 2026
Susun resolusi keuangan 2026 dengan evaluasi kondisi 2025, tetapkan tujuan spesifik, dan bangun sistem otomatis untuk menabung dan investasi konsisten. [548] url asal
#resolusi-keuangan #tujuan-finansial #evaluasi-keuangan #kebiasaan-belanja #penghasilan-tambahan #prioritas-keuangan #dana-darurat #investasi-emas #kesehatan-finansial #pola-pikir-keuangan #sistem-otom
(Bisnis.Com - Terbaru) 05/01/26 20:24
v/94198/
Bisnis.com, JAKARTA - Setelah pengeluaran membengkak untuk berbagai aktivitas liburan Tahun Baru, kini saatnya menyusun resolusi keuangan agar tujuan finansial tetap tercapai tanpa mengorbankan kebutuhan jangka panjang.
Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, menekankan bahwa resolusi keuangan bukan sekadar daftar keinginan, melainkan pernyataan tujuan finansial yang lahir dari proses evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan tahun sebelumnya.
Menurut Mike, resolusi keuangan idealnya dimulai dengan meninjau ulang kondisi keuangan sepanjang 2025, mulai dari pola pengeluaran, kebiasaan belanja, hingga kebocoran di pos-pos tertentu. Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan pada 2026.
“Resolusi keuangan bisa berupa tujuan baru, atau tujuan lama yang diperbaiki setelah kita tahu letak kekurangannya,” ujarnya kepada Bisnis.
Lebih lanjut, dia mencontohkan kebocoran keuangan yang kerap terjadi di pos hiburan dan liburan. Kebiasaan sering keluar rumah saat akhir pekan, misalnya, tanpa disadari mendorong perilaku konsumtif.
Dari evaluasi itu, solusi yang dirumuskan bisa berupa pengurangan aktivitas belanja dan menggantinya dengan kegiatan lain yang tetap produktif namun lebih hemat. Dengan demikian, resolusi keuangan tidak hanya memuat tujuan, tetapi juga langkah konkret untuk mencapainya.
Mike juga menekankan pentingnya mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki saat menyusun resolusi. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendapatan sudah tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup, maka resolusi keuangan dapat diarahkan pada pencarian penghasilan tambahan.
Bentuknya bisa beragam, mulai dari membuka usaha kecil dari rumah hingga menawarkan jasa berdasarkan keterampilan profesional. Pada tahap ini, seseorang perlu menilai kesiapan sarana, seperti gadget, jaringan relasi, hingga modal awal yang dimiliki.
Terkait menyusun prioritas keuangan, Mike mengingatkan agar orang-orang tidak keliru membedakan antara hal yang “genting” dan “prioritas”. Tagihan bulanan seperti listrik dan biaya hidup memang penting, namun prioritas sejati adalah tujuan yang berdampak pada masa depan, seperti dana darurat, pendidikan anak, dana pernikahan, atau modal usaha.
Dia memberi contoh sederhana, seperti kebutuhan membeli ponsel untuk bekerja. Jika ponsel seharga Rp3,5 juta sudah memadai, maka memilih ponsel seharga Rp15 juta berarti selisih anggaran tersebut sebenarnya bukan kebutuhan prioritas.
“Di situlah pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan agar alokasi keuangan lebih tepat,” jelasnya.
Agar resolusi menabung dan berinvestasi dapat dijalankan secara konsisten sepanjang tahun, Mike menyarankan tiga strategi utama.
Pertama, memiliki tujuan keuangan yang spesifik agar pengeluaran tidak mudah teralihkan.
Kedua, membangun pola pikir yang benar, yakni membelanjakan uang berdasarkan kebutuhan dan anggaran, bukan karena tren, diskon, atau ikut-ikutan. Ketiga, membangun sistem yang mendukung kebiasaan baik secara otomatis, seperti pemotongan dana tabungan atau investasi langsung setelah gajian.
“Dengan sistem otomatis, menabung dan berinvestasi tidak lagi terasa sebagai beban, karena dilakukan tanpa harus menimbang-nimbang setiap bulan,” katanya.
Dia mencontohkan investasi emas rutin dengan nominal kecil yang dijalankan konsisten dalam jangka panjang dapat menghasilkan akumulasi aset yang signifikan.
Lebih jauh, Mike menegaskan bahwa resolusi keuangan harus berdampak pada kesehatan finansial jangka panjang. Kesehatan keuangan dapat diukur melalui berbagai indikator, seperti pertumbuhan saldo tabungan dan investasi, rasio menabung minimal 30 persen dari pendapatan, serta rasio cicilan utang yang tidak memberatkan.
Selain itu, perbandingan antara total aset dan total utang juga menjadi ukuran penting. Jika nilai aset lebih besar dari utang, kondisi keuangan dinilai lebih sehat.
Agar resolusi tidak berhenti sebagai rencana tahunan, Mike menyarankan evaluasi kesehatan keuangan dilakukan secara berkala, minimal setahun sekali. Dengan begitu, tujuan yang ditetapkan setiap awal tahun benar-benar menjaga dan meningkatkan kesehatan finansial dalam jangka panjang.
Momentum Atur Keuangan Awal Tahun
Awal tahun adalah waktu tepat untuk menata keuangan dan menyusun kembali rencana finansial ke depan. [424] url asal
#awal-tahun #atur-keuangan #resolusi-keuangan #manajemen-keuangan #financial-goals #dana-darurat #target-tabungan #budgeting-realistis #pencatatan-keuangan #aplikasi-keuangan #finku #ai-keuangan #cashf
(Bisnis.Com - Finansial) 04/01/26 15:07
v/92936/
Bisnis.com, JAKARTA—Awal tahun menjadi momentum resolusi. Salah satunya terkait merapikan dan menata kembali keuangan.
Meskipun data ekonomi makro tetap stabil di atas 5%, tetapi masih ada lapisan masyarakat yang merasakan tantangan besar. Laporan Kompas Research tahun lalu mencatat, hampir 70% responden mengaku kesulitan menabung secara konsisten.
Hal itu diperkuat oleh survei Populix yang menunjukkan bahwa meskipun Gen Z dan milenial sudah niat menabung (77%), jumlah yang disisihkan sering tidak stabil karena kebutuhan mendadak dan pengeluaran konsumtif. Karena itu, meskipun ekonomi nasional terlihat membaik, manajemen keuangan pribadi tetap menjadi hal penting.
Co Founder Finku Reinaldo Tendean menyampaikan awal tahun merupakan waktu yang pas untuk memulai semua dari awal, termasuk soal keuangan.
“Ini momen yang oke untuk introspeksi diri dan lihat lagi selama setahun ke belakang, sebenarnya uang kita lari ke mana, kategori apa yang paling bikin boros, dan kebiasaan apa yang perlu kita perbaiki di tahun ini,” jelasnya dalam keterangan resmi, Minggu (3/1/2026).
Melalui proses tersebut, individu dapat mulai menetapkan financial goals baru untuk tahun ini mulai dari dana darurat, target tabungan bulanan, hingga komitmen budgeting yang lebih realistis. Dengan inflasi yang masih relatif tinggi dalam beberapa sektor kebutuhan dasar, kebiasaan finansial yang baik berperan penting untuk menjaga kesehatan keuangan pribadi.
Di era digital, pencatatan keuangan tidak lagi harus dilakukan secara manual. Banyak platform hadir untuk menyediakan metode yang lebih praktis. Salah satu yang paling komprehensif bagi pengguna muda adalah Finku, aplikasi keuangan pribadi berbasis teknologi AI yang 100% gratis.
Menurut Reinaldo, Finku membantu pengguna mencatat keuangan harian, menyusun budget, memonitor realisasi pengeluaran, serta memberikan insight finansial yang mudah dipahami.
Finku menyediakan berbagai fitur, seperti pencatatan pengeluaran manual maupun instan hingga kemampuan memindai struk belanja atau mengunggah e-statement mutasi bank untuk pencatatan otomatis. Pengguna juga dapat memperoleh laporan keuangan visual berbentuk grafik dan kategori, membantu pengguna memahami cashflow secara lebih detail.
Selain itu, Finku juga memiliki fitur unggulan yaitu FinGPT, asisten finansial berbasis AI, yang dapat membantu mencatat keuangan lewat chat, memberikan rekomendasi personal yang menyesuaikan pola konsumsi pengguna, auto-budgeting berbasis AI, hingga jawaban atas pertanyaan finansial sehari-hari.
Bagi mereka yang membutuhkan pendampingan profesional, Finku dapat menghadirkan layanan FinExpert, yaitu konsultasi keuangan dengan perencana keuangan bersertifikat (CFP).
Serangkaian fitur tersebut menjadi jawaban atas berbagai tantangan yang dialami generasi muda, seperti sulit menabung, gaji cepat habis, tidak tahu kemana uang mengalir, hingga kesulitan konsisten mencatat pengeluaran.
“Dengan membantu menyelesaikan masalah keuangan generasi muda, Finku dapat menanamkan rasa percaya diri sehingga individu mampu mewujudkan tujuan keuangannya, misalnya dana darurat, tabungan menikah, KPR rumah, dana pensiun, dan lain sebagainya,” imbuh Reinaldo.
Tips Susun Resolusi Keuangan 2026 agar Tak Sekadar Wacana
Resolusi keuangan perlu disusun secara realistis dan terukur agar bisa dijalankan. Berikut tips menyusun resolusi keuangan 2026 dari sejumlah pakar keuangan. [535] url asal
#resolusi-keuangan #resolusi-keuangan-2026 #edukasi-keuangan #resolusi-2026 #mre #mitra-rencana-edukasi #cnnindonesia-com #andi-nugroho #oneshildt-budi-rahardjo #keluarga #pasangan #edukasi #kegaga
(CNN Indonesia - Ekonomi) 03/01/26 09:10
v/92026/
Menyusun resolusi keuangan sering kali terdengar mudah di awal tahun, tetapi sulit dijalankan di tengah jalan. Padahal resolusi penting untuk menjadi panduan untuk mencapai tujuan finansial ke depan.
Agar tak berhenti menjadi sekadar wacana, resolusi keuangan 2026 perlu disusun secara realistis, terukur, dan sesuai kondisi masing-masing individu.
Berikut tips menyusun resolusi keuangan 2026 dari sejumlah pakar keuangan:
Perencana keuangan OneShildt Budi Rahardjo menilai langkah awal paling penting adalah memastikan resolusi keuangan sesuai dengan kemampuan dan kondisi nyata.
"Resolusi keuangan agar dapat terwujud maka harus berbasis kepada kemampuan dan sesuai dengan kondisi. Terkadang kita terlalu memaksakan resolusi harus terwujud dalam waktu yang singkat dan terlalu banyak hal yang ingin dicapai, padahal kondisi tidak memungkinkan apabila resolusi dikerjakan sekaligus," ucap Budi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (2/1).
Menurut Budi, resolusi sebaiknya dikerjakan bertahap, dimulai dari target yang memberi dampak besar pada kondisi finansial. Salah satunya dengan membangun disiplin anggaran.
"Bisa dimulai dari suatu target yang paling banyak memberikan dampak pada finansial dan dapat menunjang tujuan lainnya. Misalnya, dimulai dari disiplin dalam mengatur pengeluaran melalui sistem anggaran yang efektif," tambahnya.
Pendekatan ini dinilai bisa membuka ruang untuk tujuan lain seperti dana darurat, investasi, hingga pelunasan utang, asalkan dijalani dengan sabar dan terarah.
Agar resolusi 2026 tidak sekadar keinginan, evaluasi kondisi keuangan tahun sebelumnya menjadi langkah krusial.
Budi melihat cek keuangan berkala sebagai langkah yang perlu dilakukan sebelum menyusun resolusi baru.
"Dimulai dari evaluasi arus kas tahun lalu, adakah bulan-bulan yang perlu mendapatkan perhatian karena pengeluaran mengalami lonjakan," tutur Budi.
Ia juga mengingatkan perlunya melihat sisi pendapatan, aset, utang, investasi, hingga manajemen risiko.
"Evaluasi pula kondisi aset secara keseluruhan dan utang-utang. Apakah mengalami perbaikan kualitas dan kondisi ataukah justru mengalami penurunan," jelasnya.
Sementara itu, perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyarankan evaluasi dilakukan secara berkala, tidak menunggu setahun penuh.
"Idealnya kita evaluasi tiap tiga bulan atau enam bulan sekali, apakah target tersebut paling tidak sudah mulai dijalankan," ujarnya.
Menurut Andi, disiplin evaluasi membantu memastikan resolusi tetap berada di jalur yang benar dan bisa segera diperbaiki jika melenceng.
Pada kelompok dengan penghasilan terbatas, penyusunan prioritas keuangan perlu dilakukan sejak awal. Budi menyebut ada tiga fokus utama sebelum tujuan keuangan lainnya.
"Bagaimana cara membuat prioritas pengeluaran sesuai kebutuhan, pengelolaan utang dan menambah penghasilan keluarga," ucap Budi.
Pandangan serupa disampaikan Andi. Ia menilai resolusi sebaiknya sederhana dan relevan dengan kondisi masing-masing orang.
"Pertama resolusinya yang simpel, tidak usah banyak-banyak, dan relate sama kondisi kita," kata Andi.
Andi menyarankan penggunaan prinsip Specific, Measureable, Achievable, Realistic, Timeline agar target lebih terukur.
Dengan prinsip tersebut, resolusi tidak hanya terdengar bagus, tetapi juga bisa dijalankan tanpa memberatkan kebutuhan sehari-hari.
Resolusi keuangan kerap gagal bukan karena targetnya salah, melainkan karena kehilangan motivasi. Budi menilai alasan yang kuat perlu ditulis dan diingat terus.
"Resolusi dapat berhenti di tengah jalan ketika motivasi untuk membuat keuangan lebih baik kurang kuat dan jelas," tuturnya.
Ia juga menyarankan resolusi dibicarakan dengan pasangan agar ada dukungan dan pengingat bersama.
Andi menambahkan kegagalan resolusi sering dipicu oleh target yang terlalu tinggi dan minim evaluasi.
"Tidak menggunakan prinsip SMART sehingga resolusinya terlalu tinggi bahkan jauh dari kemampuan dirinya," ucap dia lebih lanjut.
Menurutnya, konsistensi hanya bisa dijaga jika resolusi disertai disiplin menjalankan dan mengevaluasi progres secara rutin.
Ide Resolusi Keuangan 2026: Fokus pada Tabungan, Utang, dan Proteksi
Pergantian tahun kerap menjadi momen untuk menyusun target baru, termasuk urusan uang. [1,093] url asal
#resolusi-keuangan #dana-darurat #mengatur-keuangan #rencana-keuangan #indepth #resolusi-keuangan-2026
(Kompas.com - Money) 01/01/26 13:52
v/90572/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pergantian tahun kerap menjadi momen untuk menyusun target baru, termasuk urusan uang.
Namun, ide resolusi keuangan tidak selalu berarti rencana besar yang langsung mengubah kondisi finansial dalam semalam.
Di awal 2026, kondisi ekonomi yang masih dinamis membuat resolusi keuangan lebih relevan bila dimulai dari hal paling dasar, yaitu memahami posisi keuangan saat ini, menetapkan tujuan yang spesifik, lalu menjalankan kebiasaan kecil yang konsisten.
PIXABAY/KAROLINA GRABOWSKA Ilustrasi resolusi keuangan, menyusun resolusi keuangan 2026.Sejumlah indikator terbaru memberi gambaran latar yang perlu dipertimbangkan saat merancang resolusi. Inflasi tahunan Indonesia pada November 2025 tercatat 2,72 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu, keyakinan konsumen pada November 2025 meningkat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 124,0. Angka ini berada di level optimistis karena di atas 100.
Di sisi lain, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK dan BPS juga menunjukkan pekerjaan rumah di tingkat rumah tangga.
Metode “Keberlanjutan” dalam SNLIK 2025 mencatat indeks literasi keuangan 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen. Sementara itu, metode “Cakupan DNKI” mencatat literasi 66,64 persen dan inklusi 92,74 persen.
Angka-angka ini kerap dibaca sebagai sinyal akses layanan keuangan bisa meluas lebih cepat daripada pemahaman dan kemampuan mengelolanya.
Dari situ, ide resolusi keuangan 2026 bisa disusun dengan urutan yang lebih logis, yakni mulai dari audit, menetapkan target, menyiapkan bantalan risiko, lalu baru mengejar pertumbuhan aset.
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi mengatur keuangan, membuat resolusi keuangan. Freelancer kerap berhadapan dengan penghasilan naik-turun. Lalu, bagaimana cara agar keuangan tetap stabil tanpa gaji tetap? Berikut tips dan triknyaIde resolusi keuangan 2026 yang bisa jadi acuan Anda
1. Mulai dari audit 2025: uang masuk, uang keluar, dan kebiasaan yang berulang
Banyak rencana keuangan gagal bukan karena targetnya terlalu kecil, melainkan karena tidak berangkat dari peta yang jelas.
Oleh karena itu, langkah pertama yang kerap dianjurkan adalah mengevaluasi kondisi keuangan setahun terakhir, yaitu pengeluaran, pendapatan, utang, tabungan, dan pola konsumsi.
Audit sederhana biasanya mencakup:
- Daftar pemasukan rutin dan tidak rutin
- Pengeluaran wajib (cicilan, kontrakan/KPR, utilitas)
- Pengeluaran variabel (transport, makan, hiburan)
- Biaya tahunan (pajak, sekolah, servis)
- Utang (konsumtif vs produktif)
Tujuannya bukan untuk “menghakimi” pengeluaran, melainkan menemukan pola: pos mana yang membengkak, kapan sering belanja impulsif, dan apakah ada biaya yang bisa dirasionalisasi, misalnya langganan yang jarang dipakai.
2. Ubah resolusi jadi target yang bisa diukur: spesifik, punya tenggat, dan ada angkanya
Resolusi “ingin lebih hemat” biasanya kalah oleh kebutuhan harian karena tidak punya ukuran. Sebaliknya, target seperti “menambah tabungan Rp 500.000 per minggu” atau “melunasi kartu kredit Rp 1 juta per bulan sampai Juni” lebih mudah dipantau.
Dikutip dari Reuters, survei Fidelity menggambarkan pola resolusi yang cukup klasik, yakni "menabung lebih banyak" (43 persen), bayar utang (37 persen), dan "mengurangi pengeluaran" (31 persen).
Unsplash Ilustrasi mengatur keuangan.Angkanya bisa berbeda antarnegara, tetapi idenya sama, yaitu target keuangan populer cenderung berkisar pada menabung, menurunkan utang, dan mengendalikan belanja.
3. Jadikan dana darurat sebagai fondasi, besarannya menyesuaikan kondisi rumah tangga
Dana darurat sering diulang karena fungsinya jelas: menyerap guncangan tanpa memaksa rumah tangga berutang atau mengorbankan kebutuhan pokok.
Anjuran besaran dana darurat yang lazim adalah minimal tiga hingga enam bulan pengeluaran. Dalam konteks keluarga dengan tanggungan, sisihkan dana darurat setara 6 sampai 12 kali pengeluaran bulanan untuk mengantisipasi risiko seperti pemutusan hubungan kerja (PHK).
Prinsip yang sering dipakai dalam penyusunan resolusi:
- Jika pendapatan stabil dan tanggungan minim, target dana darurat setara 3 sampai 6 bulan pengeluaran
- Jika pendapatan fluktuatif atau pekerjaan berisiko atau ada tanggungan, target bisa lebih besar.
Bagian yang sering terlupa adalah dana darurat perlu mudah diakses, sehingga pemilihan tempat penyimpanan biasanya menimbang likuiditas terlebih dahulu, baru imbal hasil.
4. Buat resolusi pelunasan utang yang realistis, bukan “yang penting lunas”
Resolusi melunasi utang akan lebih efektif jika dipecah menjadi rencana bulanan dan dihubungkan dengan arus kas.
Karena itu, audit utang perlu memisahkan hal-hal sebagai berikut.
- Utang konsumtif berbiaya tinggi (misalnya bunga kartu kredit)
- Cicilan produktif (misalnya kredit usaha),
- Cicilan aset jangka panjang (misalnya KPR)
Agar tidak berhenti di niat, resolusi utang bisa dibuat seperti ini:
- Target nominal (misalnya Rp X per bulan)
- Prioritas berdasarkan bunga atau biaya
- Aturan tidak menambah utang konsumtif baru selama periode tertentu.
SHUTTERSTOCK/9DREAM STUDIO Ilustrasi asuransi jiwa.5. Sisipkan resolusi proteksi: asuransi sebagai “sabuk pengaman”
Dikutip dari Kontan, Direktur Bisnis Individu IFG Life Fabiola Noralita mengatakan, mengelola keuangan bukan hanya soal menabung atau menekan pengeluaran, tetapi membangun ketahanan yang utuh.
“Mulai dari proteksi, pengelolaan risiko, hingga kebiasaan finansial yang sehat dan berkelanjutan," ujarnya.
Logika resolusi proteksi biasanya berangkat dari pertanyaan sederhana, yakni sebagai berikut.
- Jika pencari nafkah utama sakit atau berhenti bekerja, pos apa yang paling rentan?
- Bagimana biaya kesehatan, cicilan, atau biaya sekolah?
Dari situ, kebutuhan proteksi dapat diprioritaskan, misalnya asuransi kesehatan dasar yang memadai, lalu proteksi asuransi jiwa untuk pencari nafkah (jika relevan).
6. Jadikan pencatatan pengeluaran sebagai resolusi paling praktis
Banyak orang punya target tabungan, tetapi tidak tahu kebocorannya ada di mana. Karena itu, resolusi yang terdengar sederhana, yakni mencatat pengeluaran, sering menjadi pengungkit bagi target lain, misalnya dana darurat, pelunasan utang, atau investasi.
Kebiasaan mencatat merupakan salah satu langkah membangun konsistensi. Anda perlu mencatat pengeluaran harian, membuat kalender keuangan untuk tanggal penting, dan merekap rutin.
Formatnya tidak harus rumit. Bahkan tabel sederhana yang memisahkan “wajib” vs “opsional” bisa menjadi awal.
7. Rancang resolusi investasi sebagai kelanjutan, bukan pengganti fondasi
Shutterstock/A9 STUDIO Tahun 2026 diprediksi menjadi momen penting bagi Aries. Peluang karier terbuka lebar, sementara kondisi keuangan dinilai stabil dengan tetap berusaha.Investasi sering menjadi resolusi yang populer, tetapi ia bekerja lebih baik ketika fondasi, yaitu arus kas, dana darurat, dan proteksi dasar, sudah ada.
Bagi yang sudah siap, resolusi investasi 2026 bisa dibuat lebih operasional:
- Menyetor rutin pada tanggal tertentu
- Menetapkan tujuan (jangka pendek atau menengah atau panjang)
- Meninjau portofolio berkala
Untuk generasi muda, kajian Santander yang diberitakan Investopedia menunjukkan Gen Z dan milenial relatif agresif meningkatkan tabungan pada paruh pertama 2025, sekaligus mulai melirik instrumen berbunga lebih tinggi.
Ini memperlihatkan arah kebiasaan, yaitu bukan sekadar “punya rekening”, tetapi memilih produk yang sesuai tujuan.
8. Kunci resolusi: kecil, bertahap, dan dievaluasi
Salah satu alasan resolusi keuangan cepat kandas adalah target terlalu besar dan tidak punya mekanisme evaluasi.
Kerangka yang sering dipakai adalah sebagai berikut.
- Evaluasi mingguan untuk pengeluaran
- Evaluasi bulanan untuk tabungan atau utang
- Evaluasi kuartalan untuk tujuan besar (dana darurat, investasi, proteksi)
Dengan pendekatan itu, resolusi keuangan 2026 tidak berhenti sebagai daftar harapan awal tahun, tetapi berubah menjadi rencana kerja yang bisa dipantau, yakni dengan angka, tenggat, dan kebiasaan yang dijalankan sedikit demi sedikit.
Selamat tahun baru!
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Tips Mengelola Keuangan Lebih Cerdas pada 2026
Memasuki 2026, resolusi keuangan tak lagi soal menambah penghasilan, melainkan mengelola uang dengan lebih cerdas. Disiplin finansial menjadi kunci [573] url asal
#tips-mengelola-keuangan #resolusi-keuangan #cara-mengatur-uang #mengelola-keuangan #resolusi-2026 #resolusi-keuangan-2026
(Kompas.com - Money) 31/12/25 23:46
v/90236/
KOMPAS.com - Memasuki pergantian tahun, refleksi atas kebiasaan finansial sepanjang 2025 menjadi momen penting untuk menyusun resolusi baru. Stabilitas keuangan kini bukan lagi tujuan jangka jauh, melainkan salah satu resolusi paling cerdas dan relevan untuk tahun 2026.
Di tengah tren nongkrong di kafe estetik, belanja impulsif, mencoba hobi baru, hingga kemudahan transaksi sekali sentuh, disiplin keuangan kian tergerus.
Karena itu, resolusi keuangan 2026 sebaiknya tidak lagi berfokus pada mencari penghasilan lebih besar, melainkan membelanjakan uang dengan lebih bijak dan terencana.
Mengelola keuangan secara sadar dan terinformasi menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari the daily star, Rabu (31/12/2025), berikut sejumlah langkah sederhana untuk menabung dan mengatur keuangan dengan lebih cerdas pada 2026.
1. Membuat anggaran bulanan secara konsisten
Disiplin finansial selalu berawal dari anggaran bulanan yang realistis. Pembagian penghasilan perlu dilakukan dengan perencanaan yang jelas, bukan sekadar janji untuk “menabung lebih banyak”.
Awali setiap bulan dengan rencana keuangan yang sesuai dengan gaya hidup dan tujuan pribadi. Alokasikan anggaran untuk kebutuhan utama seperti makanan, transportasi, utilitas, dan hobi.
Tentukan porsi pengeluaran untuk makanan rumahan, batasi biaya pesan antar, serta cermati pengeluaran saat makan di luar bersama keluarga atau teman, terutama di akhir pekan.
Pengendalian pengeluaran untuk hobi memang tidak mudah. Namun, anggaran tidak hanya mencakup kebutuhan pokok. Baik itu perlengkapan seni, buku, jurnal, maupun lokakarya, perencanaan membantu menghindari rasa bersalah akibat pengeluaran berlebihan.
Agar anggaran berjalan efektif, kesadaran finansial juga penting. Gunakan aplikasi pencatat keuangan seperti TakaTracker, Money Manager, atau Daily Expense Manager untuk memantau pengeluaran harian dan bulanan.
Tujuannya bukan untuk terobsesi, melainkan tetap sadar terhadap arus uang yang digunakan setiap hari.
2. Membuka rekening tabungan khusus
Rekening tabungan khusus sebaiknya tidak dijadikan pilihan terakhir. Membuka rekening yang dikhususkan untuk menabung perlu dilakukan secara konsisten setiap bulan dan diperlakukan sebagai komitmen utama.
Salah satu opsi yang dapat digunakan adalah DPS (Deposit Pension Scheme), yang dikenal sebagai alat pembentuk disiplin keuangan. Setelah dibuka, sejumlah dana akan otomatis disetorkan setiap bulan.
Skema ini membantu menghilangkan alasan seperti menunda menabung ke bulan berikutnya. DPS cocok bagi mereka yang kerap kesulitan menjaga konsistensi menabung.
Meski nominalnya kecil, kebiasaan ini membangun disiplin dan perlahan menumbuhkan kepercayaan diri finansial untuk tujuan masa depan, seperti pendidikan, memulai usaha, rencana perjalanan, atau kebutuhan darurat.
3. Investasi emas dan saham
Meski sistem keuangan modern terus berkembang, emas tetap menjadi aset lindung nilai yang memberikan perlindungan terhadap inflasi.
Investasi dapat dimulai dari skala kecil, misalnya membeli perhiasan emas dari penghasilan yang dimiliki. Emas tetap dianggap sebagai investasi yang andal karena harga emas menunjukkan pertumbuhan jangka panjang dan dapat disimpan sebagai aset.
Sementara itu, investasi saham sebaiknya diawali dengan riset menyeluruh terhadap tren pasar dan pemahaman yang jelas mengenai risikonya.
Bahkan, mengamati dan mempelajari pergerakan pasar terlebih dahulu dapat memberikan nilai yang sama pentingnya dengan berinvestasi secara langsung.
4. Menghidupkan kembali celengan
Di era dompet digital dan pembayaran nirsentuh, celengan mungkin terasa kuno. Namun, kebiasaan ini masih relevan. Gunakan celengan klasik, baik dari tanah liat, kayu, maupun logam dengan kunci kecil.
Biasakan memasukkan uang receh atau pecahan kecil setiap akhir hari. Cara sederhana ini menjadi pengingat bahwa setiap uang memiliki nilai. Celengan tersebut dapat dibuka di akhir tahun sebagai bentuk akumulasi kebiasaan menabung.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, memasuki 2026 menjadi momentum untuk hidup lebih bertanggung jawab secara finansial dan memaknai ketenangan, tidak hanya di masa lapang, tetapi juga saat menghadapi hari-hari sulit.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Cara Bikin Resolusi Keuangan Tahun Baru agar Realistis dan Terukur
Menjelang pergantian tahun, resolusi keuangan biasanya muncul bersamaan dengan satu kalimat yang terdengar sederhana: “Tahun depan harus lebih hemat.” [1,306] url asal
#investasi #resolusi-keuangan #dana-darurat #pengeluaran #indepth #cara-membuat-resolusi-keuangan
(Kompas.com - Money) 30/12/25 21:37
v/89082/
JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang pergantian tahun, resolusi keuangan biasanya muncul bersamaan dengan satu kalimat yang terdengar sederhana: “Tahun depan harus lebih hemat.”
Namun, data menunjukkan niat baik sering tidak otomatis berubah menjadi kebiasaan.
Dalam studi New Year’s Financial Resolutions untuk 2026 dari Fidelity Investments, 64 persen responden mempertimbangkan resolusi keuangan.
Shutterstock/Okrasiuk Ilustrasi resolusi 2025, resolusi tahun baru.Dorongan terbesarnya datang dari tekanan yang sangat sehari-hari, yakni mencari ruang untuk menabung setelah bayar tagihan bulanan (35 persen) dan kemampuan membayar tagihan bulanan (34 persen), disusul kecemasan soal tabungan pensiun dan biaya kesehatan saat pensiun.
Ada pula alasan lain mengapa resolusi keuangan mudah kandas, yakni banyak orang menyusun target tanpa menyesuaikan dengan gaya hidup nyata.
Dikutip dari CBS News, Selasa (30/12/2025), Alexa von Tobel, pendiri Inspired Capital, mengingatkan bahwa anggaran yang dibuat harus sesuai dengan cara Anda hidup.
Lalu, bagaimana cara membuat resolusi keuangan yang tidak berhenti di minggu kedua Januari?
Berikut kerangka yang bisa dipakai untuk menyusun resolusi keuangan tahun baru, yang lebih rapi, terukur, dan mudah dievaluasi, dengan pendekatan yang merujuk pada data dan saran praktisi yang dikutip media terverifikasi.
1. Mulai dari “peta posisi”: audit uang 60 menit
Resolusi yang baik hampir selalu berangkat dari angka, bukan perasaan. Banyak orang merasa boros, tetapi tidak bisa menunjuk pos mana yang membengkak.
Langkah audit paling ringkas:
freepik.com Ilustrasi resolusi tahun baru- Catat pemasukan bersih bulanan (setelah pajak/potongan rutin).
- Kelompokkan pengeluaran dua sampai tiga bulan terakhir, seperti: kebutuhan pokok, cicilan/utang, transport, makan di luar, langganan, hiburan, keluarga/sosial, kesehatan.
- Hitung net worth sederhana: aset likuid (tabungan, deposito) + aset investasi – total utang.
Dari audit ini, Anda biasanya akan menemukan satu sampai dua kebocoran yang paling mudah dipotong tanpa perlu mengubah hidup secara ekstrem, misalnya langganan dobel, biaya makanan di luar, atau cicilan yang terlalu besar.
Fidelity menyoroti, banyak resolusi tabungan kini cenderung fokus pada tujuan jangka pendek, misalnya dana darurat, utang kartu kredit, cicilan rumah, dan pembelian besar, karena itu yang paling terasa dampaknya.
2. Pilih 1 sampai 3 resolusi inti, bukan 10 target sekaligus
Semakin banyak target, semakin besar peluang Anda kehilangan fokus. Dalam studi Fidelity, tema resolusi keuangan berulang dari tahun ke tahun, yakni menabung lebih banyak, melunasi utang, dan menekan pengeluaran.
Agar tidak melebar, pilih 1 sampai 3 resolusi inti berdasarkan hasil audit, misalnya seperti ini.
- Dana darurat (jika belum ada atau masih tipis).
- Pelunasan utang berbunga tinggi (kartu kredit, paylater, pinjaman konsumtif).
- Kenaikan porsi tabungan atau investasi otomatis (untuk tujuan menengah–panjang: pendidikan, rumah, pensiun).
Jika Anda sudah punya dana darurat dan utang konsumtif terkendali, barulah resolusi bisa naik level: meningkatkan kontribusi pensiun/investasi, proteksi asuransi, atau rencana pendidikan anak.
3. Ubah resolusi jadi target SMART versi keuangan
Banyak resolusi gagal karena kabur: “lebih hemat” atau “lebih rajin nabung.” Investopedia mengingatkan praktik yang lazim dipakai perencana keuangan, yakni membuat target yang SMART (specific, measurable, achievable, relevant, time-bound).
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung. Tips investasi gasi pas-pasan. Tips investasi.Contoh perubahan kalimat:
- Dari: “Nabung lebih banyak.”
- Menjadi: “Menabung Rp 1 juta per bulan selama 12 bulan, lewat autodebet tanggal gajian, untuk dana darurat hingga mencapai 3 kali pengeluaran bulanan.”
Atau:
- Dari: “Kurangi utang.”
- Menjadi: “Melunasi kartu kredit A sebesar Rp X dalam 6 bulan dengan metode avalanche (bunga tertinggi dulu), tanpa menambah saldo baru.”
4. Buat anggaran yang sesuai cara hidup dan sisipkan pos “senang-senang”
Banyak orang menyusun anggaran yang terlalu ideal, lalu merasa gagal ketika realitas berjalan berbeda.
Von Tobel menekankan pentingnya anggaran yang realistis, sesuai dengan cara hidup Anda.
Cara praktis:
- Tentukan batas untuk pos fleksibel (makan di luar, hiburan, belanja impulsif).
- Sisihkan “fun money” alias uang untuk senang-senang secara terkontrol agar Anda tidak merasa tersiksa lalu “balas dendam” belanja di akhir bulan.
Jika Anda butuh struktur sederhana, gunakan pendekatan proporsi, misal kebutuhan, kewajiban utang, tabungan atau investasi, dan fleksibel). Proporsinya tidak harus sama untuk semua orang, yang penting konsisten dan bisa dipertahankan.
5. Otomatiskan resolusi: menang sebelum sempat lupa
Salah satu cara paling efektif menjaga resolusi adalah membuatnya berjalan otomatis.
Analis bisnis di CBS News, Jill Schlesinger menyarankan otomatisasi tabungan. Anda perlu menetapkan nominal tetap lalu dipindahkan otomatis dari rekening transaksi ke tabungan.
Shutterstock/A9 STUDIO Tahun 2026 diprediksi menjadi momen penting bagi Aries. Peluang karier terbuka lebar, sementara kondisi keuangan dinilai stabil dengan tetap berusaha.Otomatisasi juga relevan untuk pensiun atau investasi. Ikuti prinsip menaikkan kontribusi secara bertahap.
"Peningkatan kecil dan konsisten menciptakan efek penggandaan jangka panjang yang sangat besar," tutur von Tobel.
Bentuk otomatisasi yang paling mudah adalah sebagai berikut.
- Autodebet tabungan saat hari gajian.
- Autodebet investasi rutin sesuI profil risiko.
- Autopay tagihan pokok untuk menghindari denda keterlambatan.
6. Urutan prioritas: dana darurat dulu, lalu utang berbunga tinggi
Banyak orang ingin menabung dan melunasi utang sekaligus, tetapi bingung mulai dari mana. Kerangka yang umum dipakai praktisi adalah sebagai berikut.
- Bangun dana darurat minimum (misal setara satu atau tiga bulan pengeluaran) agar tidak kembali berutang ketika ada kebutuhan mendadak.
- Fokus ke utang berbunga tinggi (terutama kartu kredit).
- Setelah aman, tingkatkan tabungan atau investasi jangka menengah–panjang.
Schlesinger juga menekankan logika prioritas proteksi diri.
"Jangan meminjam untuk pensiun, sehingga kebutuhan pensiun tidak bisa ditunda tanpa biaya," tuturnya.
7. “Kunci” peluang yang berbasis waktu
Resolusi keuangan tidak selalu tentang memotong pengeluaran. Ada juga langkah yang sifatnya memanfaatkan momentum.
Ketika suku bunga bergerak turun, sebagian orang mempertimbangkan mengunci imbal hasil instrumen tertentu lebih cepat.
8. Buat rencana pembayaran utang yang tak sekadar niat: metode avalanche atau snowball
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi utang.Jika resolusi Anda adalah melunasi utang, rencana perlu dibuat dalam angka, bukan sekadar target tahunan.
Dua metode populer adalah sebagai berikut.
- Avalanche: bayar utang berbunga tertinggi dulu (lebih hemat bunga).
- Snowball: bayar saldo terkecil dulu (lebih cepat memberi rasa “menang” dan memotivasi).
Pilih yang paling realistis untuk Anda. Yang krusial adalah hentikan kebiasaan menambah utang baru selama program pelunasan berjalan, atau setidaknya batasi ketat.
Reuters, mengutip studi resolusi Fidelity untuk 2025, menunjukkan pola yang konsisten, yakni target finansial teratas adalah menabung lebih banyak, membayar utang, dan mengurangi pengeluaran.
Polanya berulang karena memang tiga hal ini paling berdampak terhadap arus kas rumah tangga.
9. Sisipkan “hari evaluasi” bulanan: ukur, bukan mengira-ngira
Resolusi keuangan gagal bukan karena orang tidak mau, tetapi karena tidak punya sistem pantau.
Investopedia menekankan pentingnya pelacakan kemajuan agar orang tetap termotivasi dan bisa menyesuaikan strategi.
Praktiknya sederhana:
- Tetapkan 1 tanggal tiap bulan (misal tanggal gajian + 2 hari).
- Cek tiga indikator: saldo dana darurat, total utang, dan jumlah tabungan/investasi bulan berjalan.
- Jika meleset, cari sebabnya di pos pengeluaran, lalu koreksi kecil, bukan “menghukum diri” dengan target ekstrem.
10. Contoh paket resolusi keuangan yang bisa langsung dipakai
Paket A: Pemula (baru mulai rapikan keuangan)
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.- Dana darurat: Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000/bulan autodebet sampai terkumpul 1–3 kali pengeluaran.
- Anggaran: batasi pos fleksibel (makan di luar/langganan) dengan angka.
- Utang: berhenti menambah utang konsumtif baru.
Paket B: Menengah (sudah ada tabungan, ingin lebih stabil)
- Naikkan tabungan/investasi otomatis 1 sampai 2 persen dari penghasilan.
- Program pelunasan utang: avalanche untuk kartu kredit/paylater.
- Audit langganan dan pengeluaran impulsif tiap bulan.
Paket C: Lanjutan (fokus tujuan besar)
- Target DP rumah atau pendidikan atau pensiun dengan nominal dan tenggat.
- Optimalkan manfaat kantor (match pensiun, fasilitas kesehatan).
- Proteksi: evaluasi kebutuhan asuransi dan dana kesehatan.
Menutup tahun dengan rencana yang bisa dijalankan
Di akhir tahun, godaan terbesar adalah membuat resolusi yang terdengar ambisius. Padahal, data Fidelity menunjukkan stres finansial banyak berakar pada ruang tabungan setelah membayar tagihan.
Artinya, resolusi yang paling dibutuhkan sering kali justru yang paling “membumi.”
Karena itu, fokuskan resolusi pada hal yang bisa dikendalikan: audit angka, pilih 1 sampai 3 target inti, buat anggaran yang sesuai cara hidup, lalu otomatisasi.
Ingat, langkah kecil yang konsisten dapat membangun efek jangka panjang lewat disiplin dan compounding.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Ini Panduan Menyusun Rencana Keuangan 2026, dari Utang hingga Dana Darurat
Awal tahun baru menjadi momentum menyusun rencana keuangan yang realistis. [353] url asal
#resolusi-keuangan #rencana-anggaran #melunasi-utang #pengelolaan-uang #tujuan-keuangan #investasi #pola-hidup-sehat #menabung #perencanaan-keuangan #motivasi-tahun-baru
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Awal tahun baru kerap membawa motivasi baru untuk mencapai berbagai tujuan, mulai dari pola hidup lebih sehat hingga renovasi rumah. Banyak juga resolusi yang berfokus pada aspek keuangan, seperti melunasi utang kartu kredit, menabung untuk membeli rumah, atau sekadar lebih memahami pengelolaan uang.
“Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk meninjau dan menyelaraskan kembali tujuan keuangan secara keseluruhan,” kata Erica Grundza, perencana keuangan bersertifikat di Betterment, sebuah aplikasi investasi dan tabungan.
Saat membangun tujuan keuangan untuk 2026, Grundza menyarankan agar fokus tidak lagi tertuju pada kesalahan masa lalu, melainkan pada visi masa depan yang optimistis namun realistis. Ia menekankan pentingnya menetapkan kembali alasan di balik pendekatan seseorang terhadap uang serta bagaimana uang tersebut diharapkan dapat mendukung kehidupan.
Setiap orang memiliki perjalanan keuangan yang berbeda. Associated Press berbincang dengan sejumlah individu yang menetapkan resolusi keuangan untuk 2026. Berikut rangkuman rencana mereka yang dapat menjadi inspirasi.
Membuat Rencana yang Dapat Dicapai
Resolusi sering kali berubah menjadi tujuan yang sulit dicapai dan terasa seperti angan-angan, kata Marie-Yolaine Toms, pelatih keuangan sekaligus pendiri Focused Fire. Untuk menghindari ekspektasi yang tidak realistis, ia memilih pendekatan tanpa resolusi dan fokus pada rencana yang dapat ditindaklanjuti.
“Saya tidak membuat resolusi, tetapi membuat rencana yang bisa dilakukan, dievaluasi, dan disesuaikan hingga tercapai,” ujar Toms.
Ia mendorong kliennya untuk memeriksa laporan kredit dan menyusun rencana sederhana berdasarkan kondisi keuangan masing-masing, seperti menambahkan saldo ke rekening tabungan.
Langkah awal dalam menyusun rencana keuangan, baik untuk melunasi utang maupun menabung untuk liburan, adalah membuat anggaran. Teknik penganggaran dapat disesuaikan, bisa menggunakan metode 50/30/20 yakni 50 persen kebutuhan, 30 persen keinginan dan 20 persen tabungan atau investasi. Atau pendekatan lain yang dirasa paling cocok.
Melunasi Utang
Rachel Pelovitz (33 tahun) harus meninjau ulang kondisi keuangannya setelah kehilangan pekerjaan sebagai editor majalah pada September lalu. Setelah menumpuk utang cukup besar akibat suaminya menganggur selama satu setengah tahun, Pelovitz dan suaminya memutuskan menjual rumah.
“Daripada terus menambah utang, saat ini kami memilih menjual rumah,” kata Pelovitz.
Target Pelovitz pada 2026 adalah melunasi separuh utang kartu kreditnya. Ia juga berencana mulai berinvestasi secara moderat dengan sebagian dana hasil penjualan rumah.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56