#30 tag 24jam
KTT AI Bergengsi Silicon Valley, Industri Kecerdasan Buatan Memasuki Tahap Baru
Science x AI Summit 2026 digelar di Silicon Valley, Amerika Serikat pada 12 Mei lalu. Summit ini lebih membahas arah pengembangan AI generasi berikutnya. Science... | Halaman Lengkap [507] url asal
#kecerdasan-buatan #artificial-intelligence-ai #kecerdasan-digital #silicon-valley #serbaserbi-teknologi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/06/26 07:50
v/238251/
JAKARTA - Science x AI Summit 2026 digelar di Silicon Valley , Amerika Serikat pada 12 Mei lalu. Bagi pengguna umum, nama acara ini mungkin belum terlalu familiar, tetapi di industri kecerdasan buatan global, summit ini sudah termasuk salah satu forum sains dan industri dengan standar tertinggi.Berbeda dari konferensi AI yang berfokus pada peluncuran produk, summit ini lebih membahas arah pengembangan AI generasi berikutnya. Kehadiran tim Gunawan Aryaputra, Ph.D. yang diundang dalam acara itu, menunjukkan bahwa mereka mulai masuk ke lingkaran inti diskusi industri AI global.
Tahap Baru Industri AI
Dalam dua tahun terakhir, pemahaman banyak orang tentang AI masih sebatas aplikasi seperti chatbot, gambar, dan video generatif. Namun, dalam summit ini, fokus diskusi industri sudah bergeser. Perhatian tidak lagi hanya pada “model siapa yang lebih besar”, tetapi pada AI Agent, sistem penalaran otonom, AI untuk riset ilmiah, serta penerapan AI di sektor nyata seperti keuangan, kesehatan, penelitian, dan robotika.
Sederhananya, AI sebelumnya lebih seperti “bisa mengobrol”. Sedangkan kini industri mulai berfokus pada cara membuat AI benar-benar “bisa bekerja”.
Alasannya jelas. Ukuran model makin besar, biaya pelatihan makin tinggi, sementara peningkatan kemampuan mulai melambat. Karena itu, persaingan AI global bergeser dari skala model menuju efisiensi algoritma, kualitas data, dan penerapan di industri nyata.
Selama konferensi, tim Gunawan Aryaputra memperluas kerja sama strategis dengan NVIDIA. Banyak orang saat mendengar kerja sama dengan NVIDIA mungkin langsung berpikir soal pembelian GPU. Namun di industri AI saat ini, GPU lebih berperan sebagai “energi dasar” bagi sistem AI.
Karena AI yang benar-benar kuat di masa depan tidak hanya sekadar menyelesaikan pelatihan model, tetapi juga mampu berjalan secara stabil dalam jangka panjang. Terutama dengan berkembangnya AI Agent dan sistem penalaran otonom, kebutuhan AI akan daya komputasi diperkirakan akan terus meningkat.
Kerja sama akan mencakup pengadaan chip AI dan sumber daya komputasi tahap berikutnya, optimisasi algoritma, sistem data, serta arsitektur pelatihan AI. tim Gunawan Aryaputra tidak lagi hanya membangun satu produk AI, tetapi mulai menyiapkan kemampuan dasar AI yang lebih fundamental.
"Melalui kolaborasi yang lebih erat dengan NVIDIA, kami berharap dapat memperkuat fondasi komputasi AI sekaligus mempercepat penerapan teknologi AI di berbagai sektor industri," kata Gunawan Aryaputra dalam siaran pers, Rabu (5/6/2026).
Persaingan Besar AI Sebenarnya Baru Dimulai
Dalam beberapa tahun terakhir, inti persaingan industri AI global berfokus pada model, jumlah parameter, dan skala komputasi. Namun kini, semakin banyak pihak menyadari bahwa daya saing AI di masa depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh model itu sendiri. Yang lebih menentukan adalah: siapa yang memiliki sumber daya komputasi yang lebih stabil, sistem pelatihan yang lebih efisien, kemampuan data yang lebih lengkap, serta siapa yang mampu benar-benar membawa AI masuk ke industri nyata. AI Ciptakan Perusahaan-perusahaan Baru dengan Omset Besar
Science x AI Summit menunjukkan bahwa industri AI global mulai bergerak dari eksplorasi teknologi menuju rekonstruksi industri. Ke depan, dampak AI tidak hanya menyentuh internet, tetapi juga sektor utama seperti keuangan, kesehatan, manufaktur, riset, robotika, dan kendaraan otonom. Saat ini tim Gunawan Aryaputra saat ini tengah membangun kemampuan inti yang menjadi fokus dalam gelombang peningkatan industri AI global saat ini.
PHK Massal di Silicon Valley karena AI?
Oracle, Amazon, Microsoft melakukan PHK massal. Meta juga bersiap langkah yang sama. Apakah ini resesi? Atau karena AI telah mulai menggeser manusia? [2,230] url asal
(Kompas.com - Money) 18/04/26 06:45
v/195186/
SELASA, 31 Maret 2026. Ribuan karyawan Oracle di seluruh dunia menerima email — dikirim pukul enam pagi.
Isinya singkat: kontrak mereka berakhir. Tidak ada peringatan. Tidak ada rapat. Saham perusahaan, ironisnya, naik 4-6 persen di hari yang sama.
Itulah wajah transformasi digital di era AI. Bukan wajah yang ramah. Angka-angkanya menggiurkan sekaligus mengkhawatirkan.
Oracle memangkas antara 20.000 hingga 30.000 karyawan — sekitar 18 persen dari 162.000 tenaga kerjanya.
Unit yang paling terdampak adalah Revenue and Health Sciences, SaaS and Virtual Operations Services, serta NetSuite India Development Centre.
Posisi yang hilang mencakup software engineer, account executive, program manager, cloud engineer, solution consultant, dan masih banyak lagi. Bukan hanya karyawan level bawah, tetapi juga termasuk tulang punggung operasional perusahaan.
Tiga Dalil yang Bersilang
Mengapa PHK ini terjadi? Sedikitnya ada tiga narasi yang beredar, dan ketiganya mengandung kebenaran dengan kadar berbeda.
Narasi pertama: AI menggantikan pekerja secara langsung. Bloomberg mengkonfirmasi bahwa sebagian posisi yang dihapus memang termasuk kategori pekerjaan yang diperkirakan tidak lagi dibutuhkan akibat AI.
Oracle telah mengintegrasikan AI ke dalam produk-produk enterprise-nya. Layanan cloud, database management, dan SaaS kini semakin ditenagai oleh otomasi.
Narasi kedua: PHK adalah cara mendanai infrastruktur AI. Oracle sedang membangun data center raksasa. Ia menandatangani kontrak 300 miliar dollar AS dengan OpenAI dan menjadi mitra utama proyek Stargate senilai 500 miliar dollar AS bersama SoftBank dan beberapa partner teknologi seperti Microsoft, dan NVIDIA.
Memangkas gaji operasional bisa menghasilkan penghematan arus kas 8–10 miliar dollar AS per tahun, demikian estimasi analis TD Cowen.
Narasi ketiga: Sebagian analis melihat Oracle sedang membuang beban warisan pandemi Covid-19. Seperti banyak perusahaan teknologi lain, Oracle sempat menggembungkan jumlah karyawan selama 2020–2022. Sebagian PHK kini mungkin merupakan koreksi atas over recruitment tersebut.
Ketiga narasi ini tidak saling eksklusif. Mereka bekerja bersama, saling memperkuat.
Oracle bukanlah anomali. Ia adalah bagian dari gelombang besar yang sudah berlangsung sejak 2025 dan kini mencapai puncaknya.
Microsoft memangkas sekitar 15.000 karyawan sepanjang 2025. Amazon melakukan PHK terhadap 16.000 karyawan korporat pada Januari 2026, sambil terus mengalirkan lebih dari 80 miliar dollar AS untuk investasi AI.
Meta memangkas ribuan karyawan bertahap sejak 2025, dan kini bersiap melakukan pengurangan yang bisa menyentuh 20 persen dari 78.000 karyawannya, demi mendanai capex AI sebesar 135 miliar dollar AS di 2026.
Block, perusahaan di balik Square dan Cash App, memangkas 4.000 karyawan, hampir 40 persen dari seluruh tenaga kerjanya.
CEO Jack Dorsey berterus terang: bukan karena kesulitan finansial, melainkan karena kemampuan AI yang terus berkembang untuk melakukan lebih banyak tugas.
Secara global, hampir 60.000 pekerja teknologi kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan pertama 2026 atau setara dengan sekitar 700 orang per hari, di industri yang di saat bersamaan sedang membukukan rekor pendapatan.
Jika tren ini bertahan, total PHK bisa mencapai 265.000 orang sepanjang tahun ini, melampaui angka 245.953 orang dari seluruh tahun 2025.
Paradoks Kinerja Vs PHK
Yang membuat fenomena ini berbeda dari PHK era sebelumnya adalah paradoks yang mencolok: perusahaan-perusahaan ini tidak sedang sekarat.
Oracle mencatat laba bersih 6,13 miliar dollar AS pada kuartal terakhir, naik 95 dollar AS. Amazon mencatat pendapatan 716,9 miliar dollar AS di 2025, merupakan rekor sepanjang masa.
Meta membukukan sekitar 200 miliar dollar AS pendapatan di 2025. Sementara itu, seperti telah disebutkan di atas, Block melakukan PHK bukan karena rugi, melainkan karena yakin tim yang lebih kecil dengan bantuan AI akan lebih produktif.
Inilah yang membedakan gelombang PHK ini dari resesi biasa. Ini bukan krisis. Ini redistribusi: modal dialihkan dari gaji manusia ke chip, data center, dan infrastruktur AI.
Fenomena ini telah memantik kekhawatiran dari para pemikir paling berpengaruh di dunia.
Daron Acemoglu, ekonom MIT penerima Nobel Ekonomi 2024, telah memperingatkan: “Saat ini kita memiliki arah pengembangan AI yang salah. Kita terlalu banyak menggunakan AI untuk otomasi, alih-alih untuk memberikan keahlian dan informasi yang memberdayakan pekerja. Melihat paradigma yang berlaku di industri teknologi saat ini, Kita tidak bisa mengesampingkan skenario terburuk dari semua kemungkinan: tidak ada satupun potensi transformatif AI yang benar-benar terwujud, sementara seluruh dampak buruknya, seperti perpindahan tenaga kerja, disinformasi, dan manipulasi, justru terjadi sepenuhnya.” (MIT Economics, 2024; Project Syndicate, 2024).
Ia juga menyebut konsep so-so automation, yaitu otomasi yang memotong biaya tenaga kerja tanpa meningkatkan produktivitas secara nyata.
Sementara itu, studi terkait MIT menemukan 95 persen proyek pilot AI korporasi tidak menghasilkan peningkatan produktivitas terukur.
Sementara itu, sejak 2019 dan kembali ditegaskan pada 2025 yang lalu, Shoshana Zuboff, profesor emerita Harvard Business School dan penulis The Age of Surveillance Capitalism, menilai bahwa perkembangan AI kontemporer/saat ini merepresentasikan fase paling ambisius dari kapitalisme pengawasan: sistem yang mengakumulasi nilai melalui ekstraksi dan monetisasi data perilaku dalam skala global.
Meredith Whittaker, Presiden Signal Foundation dan mantan peneliti Google AI, membuat pernyataan lebih lugas di Web Summit Lisbon, November 2025:
“Kita tidak perlu menunggu AI yang akan membunuh kita semua dalam sepuluh tahun ke depan untuk menyadari bahwa AI sudah membunuh kita hari ini, melalui pengangguran, pengawasan, disinformasi, dan konsentrasi kekuasaan. Bahaya sesungguhnya tidak terletak di masa depan; bahaya itu ada di masa kini, dan sudah berada di tangan segelintir perusahaan.”
Larry Fink, CEO BlackRock — manajer aset terbesar dunia dengan 10 triliun dollar AS dana kelolaan — membuka forum Davos 2026 dengan peringatan yang jarang datang dari pusat kapital global: “Keuntungan awal mengalir ke tangan pemilik model, pemilik data, dan pemilik infrastruktur. Pertanyaan yang masih menggantung: bagaimana nasib yang lainnya? Jika AI memberikan dampak pada pekerja kantoran seperti halnya globalisasi memberikan dampak pada pekerja buruh, kita harus menghadapi hal itu sekarang juga, secara langsung.”
Apakah AI Benar-benar ‘Biang Keladinya’?
Perlu kehati-hatian dalam membaca narasi ini. Dalam laporannya tahun 2026 ini, Forrester mencatat bahwa banyak PHK berlabel “didorong AI” sebenarnya lebih dipengaruhi oleh faktor finansial, dengan perusahaan cenderung melebihkan peran AI dalam keputusan pengurangan tenaga kerja.
Dalam wawancara di gelaran AI Summit di India (Februari 2026), Sam Altman menyatakan bahwa terdapat praktik ‘AI washing’ di mana orang menyalahkan AI atas PHK yang sebenarnya akan mereka lakukan, dan ada juga penggantian nyata oleh AI terhadap berbagai jenis pekerjaan.
Sementara itu, semakin banyak CEO yang terang-terangan. Jack Dorsey (dari Block) menyebut AI sebagai faktor utama di balik pemutusan hubungan kerja terhadap 40 persen karyawan perusahaannya.
Namun, faktor-faktor lain seperti melemahnya pasar kripto, kelebihan tenaga kerja, dan penurunan harga saham mungkin juga menjadi alasan di balik langkah tersebut.
Selain itu, Atlassian Corp. berencana memangkas 1.600 karyawan atau sepersepuluh dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia.
Cannon-Brookes (CEO Atlassian) juga menyatakan bahwa “Akan tidak jujur jika berpura-pura bahwa AI tidak mengubah komposisi keterampilan yang kita butuhkan atau jumlah peran yang diperlukan di bidang-bidang tertentu.”
Perusahaan-perusahaan seperti Atlassian menghadapi skeptisisme bahwa mereka memanfaatkan ketakutan terhadap AI untuk menyamarkan pemotongan biaya konvensional sebagai futurisme teknologi.
Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang fundamental sedang berubah. Laporan dari Challenger, Gray & Christmas (lembaga riset ketenagakerjaan terkemuka di AS) menyatakan bahwa pada tahun 2025, perusahaan-perusahaan mengutip AI sebagai alasan dalam 54.836 rencana PHK yang diumumkan, atau 5 persen dari total pemutusan hubungan kerja sepanjang tahun tersebut.
Proporsi itu kemudian meningkat signifikan pada tahun 2026, dimana AI menjadi faktor dalam 25 persen dari seluruh PHK pada periode Maret, menjadikannya alasan nomor satu untuk pertama kalinya.
Regulasi Dunia: Menahan Laju AI Pemangkas Kerja
Apakah dunia diam saja? Tidak sepenuhnya. Sejumlah negara mulai mengambil langkah, meski dengan kecepatan dan kedalaman berbeda-beda.
Uni Eropa adalah yang paling ambisius. EU AI Act mulai berlaku 1 Agustus 2024, dan akan diberlakukan sepenuhnya pada Agustus 2026.
Regulasi ini mengklasifikasikan penggunaan AI dalam rekrutmen, seleksi, evaluasi kinerja, dan keputusan pemutusan hubungan kerja sebagai “sistem AI berisiko tinggi” (high-risk AI systems), yang wajib menjalani asesmen risiko, dokumentasi teknis, uji bias, pengawasan manusia, dan notifikasi kepada pekerja. Denda bagi pelanggar bisa mencapai 15 juta euro atau 3 persen dari omset global tahunan.
Sejak Februari 2025, EU AI Act melarang penggunaan AI untuk mengenali emosi karyawan melalui webcam atau pengenalan suara di tempat kerja.
Pelanggaran terhadap ketentuan ini, sebagai bagian dari praktik AI yang dilarang, dapat dikenai sanksi berat, dengan denda hingga 7 persen dari pendapatan global perusahaan.
Lebih jauh, GDPR Pasal 22 yang berlaku sejak 2018, memberikan hak kepada individu untuk tidak dikenai keputusan yang sepenuhnya didasarkan pada pemrosesan otomatis, termasuk keputusan seperti PHK, yang memiliki dampak hukum atau dampak signifikan lainnya, kecuali dalam kondisi tertentu dan dengan jaminan perlindungan yang memadai.
Di Amerika Serikat, meski pemerintah federal di bawah Trump mendorong "minimal regulation" framework, negara-negara bagian justru bergerak lebih cepat.
New York City memberlakukan Local Law 144 yang mewajibkan audit bias tahunan untuk semua alat pengambilan keputusan berbasis AI dalam rekrutmen dan promosi, dengan hasil audit yang harus dipublikasikan secara terbuka.
Illinois memberlakukan H.B. 3773 yang mewajibkan perusahaan memberitahu pekerja setiap kali AI diintegrasikan ke dalam keputusan rekrutmen, pemecatan, atau disiplin.
Colorado memberlakukan S.B. 24-205 yang mewajibkan impact assessment, hak banding pekerja atas keputusan AI, dan pernyataan publik tentang sistem AI yang digunakan. Peraturan ini akan efektif Juni 2026.
Di Kongres AS, No Robot Bosses Act of 2025 yang diajukan Desember 2025, akan mewajibkan audit AI, pengawasan manusia independen, dan transparansi penuh kepada karyawan terkait penggunaan AI dalam keputusan kerja.
Di tingkat global, Korea Selatan telah memberlakukan Basic AI Act, sementara Vietnam mengesahkan undang-undang AI pertamanya. Keduanya mulai berlaku pada 2026 dan memuat aturan untuk melindungi pekerja dari keputusan yang sepenuhnya diambil oleh sistem otomatis.
Sementara itu, European Trade Union Confederation (ETUC) mengingatkan bahwa tanpa aturan jelas, mereka yang terdampak keputusan berbasis AI, baik melalui pemecatan tidak adil maupun algoritma perekrutan yang bias, akan menghadapi kesulitan besar dalam mencari perlindungan hukum.
Pelajaran untuk Indonesia
Indonesia turut berada dalam arus perubahan ini. Data resmi menunjukkan bahwa dampaknya mulai terlihat di dalam negeri.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 26.455 kasus PHK hingga Mei 2025, dengan Jawa Tengah sebagai provinsi tertinggi (10.695 kasus), diikuti Jakarta (6.279 kasus), dan Riau (3.570 kasus).
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Kemnaker, Indah Anggoro Putri, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan kasus PHK yang telah inkrah, yakni telah disepakati oleh pekerja dan pemberi kerja.
Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melaporkan angka yang lebih tinggi, yaitu 73.992 kasus PHK sepanjang Januari hingga Maret 2025, berdasarkan data peserta yang tidak lagi terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan selama periode tersebut.
Selain itu, dalam laporannya, McKinsey Global Institute (2019) memperkirakan sekitar 23 juta pekerja di Indonesia berpotensi terdampak otomatisasi pada tahun 2030, proyeksi yang mencerminkan skala perubahan besar dalam lanskap ketenagakerjaan nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti mengingatkan dimensi yang sering luput dari perdebatan: “Teknologi bisa membuat orang cerdas, tapi juga bisa membuat orang culas. Teknologi bisa mempercepat pekerjaan, tapi juga bisa mengurangi kemanusiaan. AI bisa sangat cerdas, tetapi ia tidak memiliki hati dan kesadaran moral.” (Seminar Nasional FITK UIN Syarif Hidayatullah, 2025).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembahasan tentang AI tidak hanya soal teknologi. Di level kebijakan tertinggi, terlihat adanya kesadaran bahwa adopsi AI tanpa tata kelola yang kuat akan menggerus dimensi kemanusiaan dari dunia kerja.
Posisi-posisi yang paling rentan bukan hanya pekerjaan kasar atau entry-level. Oracle memangkas sejumlah pekerjaan kantoran berpendidikan tinggi, seperti software developer, program manager, dan system analyst.
Dalam wawancara dengan Axios pada 2025, CEO Anthropic Dario Amodei memperingatkan bahwa AI dapat menghapus 50 persen dari seluruh pekerjaan kantoran tingkat pemula dalam lima tahun ke depan.
Ada sejumlah pelajaran yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Indonesia. Salah satunya adalah pentingnya mendorong kerangka regulasi AI yang lebih komprehensif. Bukan untuk menghambat inovasi, tetapi untuk memastikan transisi yang lebih adil bagi tenaga kerja.
Model EU AI Act, dengan pendekatannya yang berbasis risiko dan mewajibkan adanya pengawasan manusia untuk keputusan ketenagakerjaan, layak dijadikan referensi.
Di sisi lain, perlindungan bagi pekerja juga perlu diperkuat. PP No. 6/2025 tentang Jaminan Kehilangan Pekerjaan yang memberikan 60 persen upah selama enam bulan adalah langkah awal yang baik, tetapi belum cukup untuk menghadapi potensi hilangnya pekerjaan akibat AI yang bisa terjadi dalam skala besar.
Selain itu, kurikulum pendidikan tinggi juga menghadapi kebutuhan untuk beradaptasi. Bukan hanya dengan menambahkan mata kuliah AI, tetapi juga meninjau kembali bagaimana peran manusia diposisikan dalam ekosistem AI.
Bukan Kiamat, tetapi Transformasi yang Menyakitkan
Oracle meraup untung besar. Sahamnya naik 4 persen di hari ia memecat 30.000 orang. Ini bukan keanehan. Inilah cara kerja dunia bisnis modern, dengan logika kapital yang dingin dan konsisten.
AI adalah teknologi yang luar biasa. Namun, ketika digunakan tanpa aturan yang melindungi masyarakat, dapat mempercepat ketimpangan dan menghasilkan kerusakan struktural di pasar tenaga kerja.
Yang sedang kita saksikan bukan kehancuran ekonomi. Yang sedang terjadi adalah redistribusi besar-besaran: dari manusia ke mesin, dari gaji ke modal, dari pekerjaan rutin ke infrastruktur.
Seperti kata Meredith Whittaker yang menyatakan bahwa bahaya tidak datang dari masa depan. Ia sudah ada di sini, hari ini, dan sudah berada di tangan segelintir orang.
Pertanyaannya bukan apakah ini terjadi. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan menentukan aturan mainnya?
Dan apakah Indonesia siap untuk mengambil posisi ikut serta dalam menentukan aturan main itu — sebelum email pukul enam pagi itu mendarat di kotak masuk kita.
Saya yakin, pemerintah dan masyarakat negeri yang berdasarkan Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab ini tentu akan mengedepankan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Regulasi dan pengaturan untuk membatasi AI dalam menggeser manusia dalam pekerjaan sudah merupakan hal yang urgen.
Mari kita bangun AI yang membangun dengan menghindari penggunaan AI yang merusak!
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarangProfil Luyu Zhang, Pengusaha Lulusan SMP yang Berhasil Bangun Start Up AI Dify
Luyu Zhang, pendiri Dify, startup AI asal China, ekspansi ke AS meski tantangan ketat. Dengan pendanaan US$30 juta, Dify kini bersaing di Silicon Valley. [352] url asal
#luyu-zhang #pengusaha-china #startup-ai #dify #silicon-valley #kecerdasan-buatan #ekspansi-amerika-serikat #pendanaan-startup #open-source-ai #low-code-aplikasi #tencent #akuisisi-manus #pasar-silicon
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 02/03/26 08:45
v/151456/
Bisnis.com, JAKARTA – Nama Luyu Zhang saat ini tengah menjadi topik pembicaraan di China, khususnya di sektor industri kecerdasan buatan.
Luyu Zhang merupakan pendiri startup AI asal China bernama Dify yang kini berupaya mengembangkan bisnisnya di Silicon Valley, Amerika Serikat.
Langkah Zhang bisa dibilang cukup berani untuk ukuran pengusaha teknologi, mengingat Amerika Serikat semakin memperketat kontrol terhadap ekspor teknologi AI canggih. Pemerintah setempat telah bertahun-tahun mewaspadai potensi pencurian kekayaan intelektual serta ambisi militer dan ekonomi pemerintah Tiongkok.
Zhang memiliki alasan sederhana di balik ekspansi ke Amerika Serikat. Dia menilai bahwa untuk membangun infrastruktur AI global, perusahaan harus hadir di tempat dunia bersaing, yakni Amerika Serikat.
Perjalanan Luyu Zhang Membangun Dify
Zhang adalah CEO startup kecerdasan buatan Dify. Melansir Forbes, dia pindah dari Tiongkok ke Amerika Serikat pada tahun lalu dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas dan hingga kini belum sempat meningkatkannya.
“Saat ini saya terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak punya waktu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya,” ujarnya seperti dikutip dari Forbes, Kamis (26/2/2026).
Zhang merupakan sosok jenius di bidang pemrograman meski tidak menamatkan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Baru-baru ini, dia berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$30 juta dengan valuasi mencapai US$180 juta dari HSG (sebelumnya Sequoia Capital China).
Sebelum mendirikan Dify, Zhang sempat bekerja di sejumlah startup dan memimpin tim teknik berskala besar di Tencent.
Dify awalnya dikembangkan sebagai proyek open source yang membantu para developer membangun aplikasi AI dengan pendekatan low-code.
Saat ini, Dify menempati peringkat ke-52 di GitHub. Perusahaan tersebut telah mempekerjakan sekitar 100 karyawan dan melayani lebih dari 280 klien korporasi, termasuk Volvo, Thermo Fisher Scientific, dan Novartis.
Zhang juga telah mengakuisisi Manus, startup AI asal China senilai US$2 miliar atau sekitar Rp48,1 triliun sebelum kemudian memindahkan domisilinya ke Singapura.
Zhang memiliki ambisi menembus pasar Silicon Valley agar dapat bersaing di level tertinggi.
“Jika Anda seorang atlet elit, Anda tidak hanya bermain untuk memenangkan pertandingan lokal. Anda berlatih untuk berkompetisi di Olimpiade. Bagi perusahaan teknologi yang membangun infrastruktur untuk era AI, Silicon Valley adalah arena Olimpiade kami. Kami ingin berkompetisi di level tertinggi,” tutur Zhang.
Robert Pera, Cabut dari Apple Kini Jadi Konglomerat Berharta Rp613 T
Robert Pera merupakan salah satu orang terkaya di AS. Total harta pendiri perusahaan teknologi Ubiquiti Networks ini mencapai Rp613,29 triliun. [556] url asal
#robert-pera #taipan-cnn-indonesia #taipan #konglomerat #orang-terkaya #amerika-serikat #jepang #silicon-valley #ubiquiti-networks #bloomberg #komisi-komunikasi-federal-as #forbes #apple #nintendo
(CNN Indonesia - Ekonomi) 01/03/26 12:30
v/150892/
Robert Pera merupakan salah satu orang terkaya di Amerika Serikat (AS). Pundi-pundi hartanya menumpuk setelah ia mendirikan pabrikan produk nirkabel (wireless), Ubiquiti Networks.
Berdasarkan data Forbes, Minggu (1/3), kekayaan Pera mencapai US$36,5 miliar atau sekitar Rp613,29 triliun (asumsi kurs Rp16.802,45 per dolar AS). Majalah bisnis internasional itu pun menempatkan Pera pada peringkat ke-57 orang terkaya di dunia.
Lantas bagaimana cara Pera meraih kesuksesannya? Berikut kisahnya.
Robert J Pera lahir di San Carlos, California, AS pada 10 Maret 1978. Ia dibesarkan oleh orang tua yang sukses di bidangnya masing-masing. Ayahnya adalah mantan CEO perusahaan makanan beku Italia, Armanino Foods, sebelum fokus menjadi konsultan.
Sementara, ibunya berkarir di bidang humas dan belasan tahun menjabat sebagai CEO Association for Corporate Growth (ACG) Silicon Valley.
Mengutip Bloomberg, sejak kecil Pera menggemari video gim, termasuk Nintendo yang biasanya dirilis lebih awal di Jepang. Saat liburan ke Tokyo, Pera melihat teknologi telekomunikasi yang dipakai Negeri Sakura telah lebih maju dibandingkan AS.
Ketika SMA, Pera mendirikan bisnis pertamanya. Layaknya anak yang tinggal di dekat kawasan Silicon Valley, usaha pertamanya itu tak jauh-jauh dari komputer, yakni penyedia jaringan dan database untuk bisnis lokal.
Di waktu senggang, Pera menghabiskan waktunya dengan bermain basket. Namun, karena ia memiliki jantung yang bermasalah, ia harus mengurangi kegemarannya itu. Bahkan, ia sempat cuti sekolah selama setahun.
Setelah lulus SMA, Pera memutuskan untuk kuliah di University of California di San Diego dengan mengambil dua jurusan yakni teknik kelistrikan dan bahasa Jepang. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar masterdi bidang teknik.
Pada 2002, Pera bekerja di Apple, perusahaan yang didirikan oleh idolanya, Steve Jobs. Salah satu tugasnya kala itu adalah mengetes salah satu peralatan nirkabel perusahaan apakah memenuhi ketentuan Komisi Komunikasi Federal AS atau tidak.
Hasilnya, ia menemukan bahwa sinyal yang ditransmisikan oleh peralatan yang digunakan Apple jauh di bawah batas FCC. Padahal, jika kekuatan ditambah, jangkauan sinyal peralatan perusahaan itu bisa meluas hingga belasan kilometer. Dengan demikian, perusahaan juga bisa menyediakan internet ke wilayah yang belum terjangkau telepon maupun kabel jaringan.
Sayangnya, atasannya tak mendengarkan masukan Pera. Beruntung, Pera tak patah semangat. Ia terus mencoba untuk bisa menciptakan produk pemancar sinyal nirkabel yang biayanya murah tetapi bisa menjangkau lebih banyak perangkat.
"Apple merupakan perusahaan yang bagus, tapi saya sadar bahwa saya ingin lebih sukses lebih cepat," ujar Pera dalam salah satu wawancaranya dengan Forbes pada 2012 lalu.
Kegigihannya berbuah manis. Berbekal uang tabungannya senilai US$30 ribu kala itu, ia memutuskan untuk keluar dari Apple untuk membangun bisnisnya sendiri, Ubiquiti Networks.
Produk awal Ubiquiti adalah pemancar sinyal nirkabel yang bisa menjangkau pelanggan di tempat terpencil. Tak disangka, teknologinya sukses di pasar. Setelah itu perusahaan melebarkan sayap dengan memproduksi peralatan jaringan hingga kamera keamanan.
Pada 2011, Pera membawa Ubiquiti Network melantai di bursa saham. Langkah itu membuat Pera menjadi salah satu konglomerat termuda di dunia versi Forbes mengingat 93 persen saham perusahaan dimiliki olehnya.
Tahun lalu, Ubiquiti meraup total pendapatan US$2,97 miliar (sekitar Rp49,9 triliun) meningkat 38,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sosok Pera juga dikenal di kalangan pecinta basket. Ia diketahui membeli klub basket NBA Memphis Grizzlies senilai US$360 juta pada Oktober 2012 lalu.
Pera berkomitmen untuk menjadikan Memphis Grizzlies menjadi salah satu klub basket terbaik di dunia.
Terbukti, setelah dimiliki Pera, klub basket berhasil menjadi tim yang langganan masuk babak playoff.
Respons Miliarder Kena Pajak Kekayaan California, Pendiri Google Pilih "Kabur"
Usulan pajak kekayaan di California memicu miliarder seperti pendiri Google untuk memindahkan aset, sementara lainnya memilih tetap tinggal. Pajak ini bertujuan mengatasi ketidaksetaraan dan krisis an [389] url asal
#miliarder-california #pajak-kekayaan #pendiri-google #larry-page #sergey-brin #aset-california #pajak-2026 #jensen-huang #silicon-valley #seiu-healthcare #ketidakpastian-pajak #reid-hoffman #penghinda
(Bisnis.Com - Terbaru) 10/01/26 12:02
v/99125/
Bisnis.com, JAKARTA – Usulan pajak kekayaan di California mendorong para miliarder yang berdomisili di negara bagian tersebut untuk mempertimbangkan soal tetap menjadi penduduk negara bagian itu jika pajak satu kali sebesar 5% disetujui.
Menurut profesional CFP Don Hilario, yang bekerja dengan klien perencanaan keuangan di California, reaksi para miliarder bermuara pada toleransi risiko.
Dilansir Business Insider, pajak tersebut sebagaimana diusulkan hanya akan berlaku untuk aset di negara bagian tersebut selama tahun pajak 2026.
Pendiri Google, Larry Page, dan Sergey Brin merespons usulan tersebut dengan memindahkan aset mereka keluar dari California sebelum batas waktu 1 Januari 2026 untuk menghindari pajak tersebut.
Sementara itu, CEO miliarder Nvidia, Jensen Huang, mengatakan bahwa ia tak masalah dan "bahkan belum memikirkannya sekali pun."
"Kami memilih untuk tinggal di Silicon Valley, dan pajak apa pun yang ingin mereka terapkan, biarlah. Saya sama sekali tidak keberatan," kata Huang saat diwawancarai Bloomberg.
Hilario mengatakan bahwa ketidakpastian pajak yang berkepanjangan dapat memicu kebutuhan akan kepastian dan otonomi.
"Orang-orang yang ingin memiliki kendali yang lebih besar akan mengikuti jalur Larry Page. Sementara orang-orang yang memiliki temperamen untuk bertahan akan mengambil jalur Jensen," ungkapnya, dikutip Sabtu (10/1/2026).
Usulan pajak yang diajukan oleh serikat pekerja SEIU-United Healthcare Workers West ditujukan untuk mengimbangi potensi pemotongan anggaran di bidang kesehatan dan pendidikan.
Usulan ini masih jauh dari implementasi karena dibutuhkan 870.000 tanda tangan agar dapat masuk dalam surat suara pemilu November 2026.
SEIU menyatakan dalam usulannya bahwa konsentrasi kekayaan miliarder di California menjadikan negara bagian tersebut berada pada posisi yang unik untuk mengatasi krisis ketidaksetaraan kekayaan dan krisis-krisis yang dihadapi negara bagian tersebut dengan pemotongan anggaran.
Selain Huang, Brin, dan Page, miliarder lain juga menyuarakan pendapat mereka tentang usulan pajak kekayaan tersebut.
Salah satu pendiri LinkedIn, Reid Hoffman, menulis dalam sebuah unggahan di X bahwa usulan tersebut memiliki "kekurangan besar."
"Pajak yang dirancang buruk akan mendorong penghindaran pajak, pelarian modal, dan distorsi yang pada akhirnya menghasilkan pendapatan yang lebih sedikit," katanya.
Alex Spiro, seorang pengacara yang sebelumnya mewakili miliarder, menulis dalam surat kepada Gubernur California Gavin Newsom bahwa kliennya akan "pindah secara permanen" jika pajak tersebut disahkan menjadi undang-undang.
Hilario mengatakan bahwa ketidakpastian yang signifikan seputar usulan tersebut, termasuk bagaimana aset akan dinilai dan apakah pajak akan berubah dari waktu ke waktu, kemungkinan memaksa para miliarder untuk memutuskan seberapa besar mereka benar-benar menghindari risiko.
Imbas Ledakan AI, Tak Perlu Bertahun-tahun untuk Jadi Miliarder
Ledakan AI mempercepat penciptaan miliarder baru, termasuk CEO Nvidia dan OpenAI. Startup AI seperti Scale AI dan Perplexity mencapai valuasi miliaran dolar dalam waktu singkat, meski sebagian besar p [895] url asal
#miliarder-ai #startup-ai #ledakan-ai #kekayaan-ai #perusahaan-rintisan-ai #valuasi-perusahaan #investasi-ai #teknologi-ai #pendiri-ai #silicon-valley #chatgpt #openai #miliarder-muda #perusahaan-t
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 09/01/26 14:41
v/98290/
Bisnis.com, JAKARTA - Ketika para taipan properti, tambang dan industri lainnya perlu waktu puluhan tahun untuk bisa jdi miliarder, kecerdasan buatan (AI) kini membuat banyak orang lebih cepat meraih capaian kekayaan tersebut.
Ledakan kecerdasan buatan telah mengubah miliarder terkenal seperti Jensen Huang, CEO pembuat chip Nvidia, dan Sam Altman, CEO pembuat ChatGPT OpenAI, menjadi miliarder yang lebih kaya lagi.
Ledakan ini juga menghasilkan sejumlah miliarder baru, dari perusahaan rintisan yang lebih kecil. Individu-individu ini mungkin juga akan menjadi tokoh berpengaruh di Silicon Valley di masa depan.
Fenomena ini berulang, seperti para eksekutif kaya yang tercipta dari ledakan teknologi di masa lalu, termasuk kegilaan dot-com akhir tahun 1990-an, yang kemudian berinvestasi atau membantu mengarahkan gelombang teknologi selanjutnya.
Miliarder AI baru tersebut termasuk Alexandr Wang dan Lucy Guo, yang mendirikan Scale AI, sebuah perusahaan rintisan pelabelan data yang menerima investasi sebesar US$14,3 miliar dari Meta pada Juni tahun lalu.
Para pendiri perusahaan rintisan pengkodean AI Cursor, Michael Truell, Sualeh Asif, Aman Sanger, dan Arvid Lunnemark, juga memasuki jajaran miliarder ketika perusahaan mereka dinilai sebesar US$27 miliar dalam putaran pendanaan pada November lalu.
Kemudian, para pengusaha di balik Perplexity (mesin pencari AI), Mercor (startup data AI), Figure AI (pembuat robot humanoid), Safe Superintelligence (laboratorium AI), Harvey (startup perangkat lunak hukum AI), dan Thinking Machines Lab (laboratorium AI) juga masuk dalam klub perusahaan dengan pendapatan sembilan digit (dalam dolar AS), menurut perusahaan atau orang-orang yang dekat dengan startup tersebut, serta data dari pelacak startup PitchBook dan laporan berita.
Sebagian besar mencapai titik itu setelah valuasi perusahaan swasta mereka melonjak tahun lalu, mengubah saham perusahaan mereka menjadi tambang emas.
Jai Das, seorang mitra di Sapphire Ventures, sebuah perusahaan modal ventura di Silicon Valley, menyamakan para miliarder baru ini dengan para baron kereta api di era Gilded Age tahun 1890-an yang memanfaatkan ledakan teknologi pada era tersebut.
Namun, dia memperingatkan bahwa kekayaan mereka bisa jadi hanya bersifat sementara, jika perusahaan rintisan tersebut tidak memenuhi janjinya.
“Pertanyaannya adalah perusahaan mana yang akan bertahan, dan pendiri mana yang benar-benar bisa menjadi miliarder sejati dan bukan hanya miliarder di atas kertas," kata Das.
Jadi Miliarder dengan Cepat
Perjalanan orang terkaya di bumi, Elon Musk menjadi miliarder membutuhkan waktu bertahun-tahun. Setelah menjadi jutawan ketika salah satu usaha awalnya dijual ke eBay pada tahun 2002, pengusaha teknologi ini baru menjadi miliarder setelah memimpin perusahaan mobil listrik Tesla dan memulai perusahaan roket SpaceX.
Sebaliknya, sebagian besar miliarder AI baru mendirikan perusahaan mereka kurang dari tiga tahun yang lalu setelah OpenAI merilis ChatGPT, dan kemudian melihat investor dengan cepat menaikkan nilai perusahaan mereka.
Dilansir The New York Times, Mira Murati, 37 tahun, mantan eksekutif puncak di OpenAI, mengumumkan startup AI-nya, Thinking Machines Lab, baru pada Februari 2025. Kemudian, pada Juni, startup tersebut telah mencapai valuasi US$10 miliar tanpa merilis satu pun produk.
Ilya Sutskever, 39 tahun, mantan eksekutif puncak OpenAI lainnya, meluncurkan Safe Superintelligence pada Juni 2024. Perusahaan tersebut belum meluncurkan produk apa pun, tetapi sudah bernilai YS$32 miliar setelah mengumpulkan US$2 miliar pada tahun 2025, menurut PitchBook.
Brett Adcock, 39 tahun, CEO Figure AI, mendirikan perusahaan tersebut pada tahun 2022. Kekayaan bersihnya kini mencapai US$19,5 miliar menurut Figure AI. Aravind Srinivas, 31 tahun, CEO Perplexity, juga mendirikan perusahaannya pada tahun 2022; perusahaan tersebut kini sudah bernilai sekitar US$20 miliar.
Perplexity mengatakan Srinivas tidak fokus pada kekayaannya dan "lebih suka hidup sederhana," menambahkan bahwa perusahaan tersebut sedang mencari kebijaksanaan, yang "jauh lebih penting daripada pencarian kekayaan."
Akumulasi kekayaan ini terjadi sangat pesat tahun lalu. Harvey, yang berbasis di San Francisco, mengumpulkan dana pada Februari, Juni, dan Desember.
Setiap kali pendanaan, valuasi perusahaan melonjak, mencapai US$8 miliar dari US$3 miliar pada Februari. Hal itu melambungkan kekayaan para pendiri Harvey, Winston Weinberg dan Gabe Pereyra.
Weinberg, 30 tahun, yang tinggal bersama Pereyra, 34 tahun, dan seorang teman sekamar ketiga, mengatakan bahwa dia tidak terlalu memikirkan kekayaan.
“Ya, tentu saja nilainya miliaran, tetapi itu hanya di atas kertas,” katanya.
Berusia di Bawah 40 Tahun
Usia muda adalah ciri khas dari booming teknologi. Larry Page dan Sergey Brin berusia 20-an ketika mereka mendirikan Google pada tahun 1998. Zuckerberg berusia 19 tahun ketika dia mendirikan Facebook pada tahun 2004. Miliarder AI terbaru juga masih muda.
“Seperti era Gilded Age asli dan seperti booming dot-com, momen AI ini membuat beberapa orang yang sangat muda menjadi sangat, sangat, sangat kaya, dengan sangat cepat,” kata Margaret O’Mara, seorang profesor sejarah di University of Washington yang fokus pada ekonomi teknologi.
Di antara mereka adalah para pendiri Mercor yang berusia 22 tahun. Brendan Foody, sang CEO, keluar dari Georgetown University pada tahun 2023 setelah mendirikan perusahaan tersebut bersama dua teman SMA-nya, Adarsh Hiremath, kepala teknologi, dan Surya Midha, pada Chief Technology Officer.
Mercor dinilai sebesar US$10 miliar dalam putaran pendanaan pada Oktober.
Miliarder muda lainnya termasuk Truell, CEO Cursor yang berusia 25 tahun, dan para pendiri lainnya, Asif, Sanger, dan Lunnemark, yang juga berusia 20-an. Mereka bertemu di Massachusetts Institute of Technology dan lulus pada tahun 2022.
Putaran pendanaan sebesar US$2,3 miliar pada November lalu membawa valuasi startup mereka, yang juga dikenal dengan nama perusahaan induknya, Anysphere, menjadi US$27 miliar,
Didominasi Laki-laki
Ledakan AI telah mengangkat sebagian besar pendiri laki-laki ke status miliarder, sebuah pola dalam siklus teknologi.
Hanya beberapa wanita, seperti Guo dan Murati, yang telah mencapai tingkat kekayaan tersebut.
Kunjungi BRIN, Verrell Bramasta: Komisi X Komitmen Kawal Kebijakan Riset dan Inovasi
Anggota Komisi X DPR Verrell Bramasta melakukan Kunjungan Kerja ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Anggota... | Halaman Lengkap [491] url asal
#komisi-x-dpr #penelitian-riset #verrell-bramasta #silicon-valley-bank #badan-riset-dan-inovasi-nasional-brin
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 26/12/25 21:32
v/85747/
JAKARTA - Anggota Komisi X DPR Verrell Bramasta melakukan Kunjungan Kerja ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kunjungan ini bertujuan mendalami ekosistem riset nasional, mengidentifikasi tantangan hilirisasi inovasi, dan merumuskan langkah konkret pelestarian kekayaan ilmiah Indonesia di era digital.Verrell meninjau berbagai fasilitas riset yang menjadikan KST Soekarno kerap disebut sebagai "Silicon Valley-nya riset hayati Indonesia" mulai dari laboratorium genomik, fasilitas kultur jaringan, biobank, greenhouse biodiversitas, hingga ruang uji prototype teknologi.
“Dari luar mungkin terlihat seperti kawasan riset pada umumnya, tetapi ketika masuk ke dalam, suasana kerja dan semangat keilmuannya langsung terasa. Tempat ini bukan sekadar laboratorium, melainkan ruang di mana gagasan dan riset untuk masa depan Indonesia dikembangkan,” ujarnya, Jumat (26/12/2025).
Dari sisi infrastruktur, kata Verrell, Indonesia pada dasarnya telah memiliki modal yang memadai untuk berkembang sebagai kekuatan riset bioteknologi dan biodiversitas di kawasan Asia.
"Kita punya biodiversitas yang kaya. Kita punya peneliti brilian. Kita punya fasilitasnya. Tapi pertanyaannya: kenapa inovasi kita belum terasa dampaknya di kehidupan masyarakat? Kenapa produk inovatif BRIN belum mengisi pasar kita? Di sinilah letak pekerjaan rumah kita," tegasnya.
Verrell menyebut hilirisasi riset nasional masih jauh dari optimal. Berdasarkan data yang dipaparkan, BRIN menghasilkan 539 kekayaan intelektual pada 2024, namun sebagian besar belum dilisensikan atau dimanfaatkan industri.
"Menurut saya masih ada hal mendasar yang perlu kita dorong dan perkuat dalam ekosistem inovasi kita. Riset yang kuat akan kehilangan seluruh maknanya apabila tidak mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata industri. Ini seperti memiliki peta harta karun lengkap tapi tidak pernah menggali hartanya," ungkapnya.
Verrell mendorong BRIN menyusun skema pilot hilirisasi yang terukur, dengan target konkret, setiap fasilitas riset harus menghasilkan minimal satu output siap industri per tahun baik prototipe teknologi, benih unggul, biomaterial, hingga kandidat obat.
"Saya mengusulkan Innovation Scoreboard yang tidak hanya mengukur paper atau paten terdaftar, tapi berapa inovasi yang benar-benar digunakan industri, berapa lapangan kerja tercipta, berapa nilai ekonomi yang dihasilkan. Itu ukuran kesuksesan riset sesungguhnya," paparnya.
Perhatian khusus diberikan pada Herbarium Bogoriense, pusat penyimpanan specimen tumbuhan terbesar di Asia Tenggara dengan koleksi lebih dari 2 juta spesimen. Namun, baru 30% koleksi yang terdigitalisasi. Verrell menekankan urgensi digitalisasi menyeluruh dan sistem backup berlapis.
"Bayangkan jika terjadi bencana. Tanpa digitalisasi memadai, kerusakan spesimen fisik berarti hilangnya warisan ilmiah Indonesia selamanya. Teknologi harus menjadi benteng perlindungan pengetahuan kita," ujarnya.
Verrell mengusulkan alokasi anggaran khusus untuk digitalisasi masif dengan target 100% koleksi terdigitalisasi dalam tiga tahun. "Database digital yang terstruktur bisa menjadi asset ekonomi. Perusahaan farmasi, industri kosmetik, bahkan game developer membutuhkan data biodiversitas. Kenapa kita tidak memanfaatkan ini sebagai sumber pendapatan riset kita sendiri," katanya
Kunjungan ini menegaskan komitmen Komisi X DPR untuk mengawal kebijakan riset dan inovasi agar berdampak nyata bagi pembangunan nasional.
"Teknologi adalah jembatan antara apa yang kita miliki dan apa yang kita cita-citakan. Tugas kita memastikan jembatan itu kokoh dan benar-benar menghubungkan riset dengan masa depan Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan berdaulat secara ilmu pengetahuan," ucapnya.
Jokowi Pidato di Bloomberg Economy Forum Pakai Bahasa Inggris
Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) berpidato dalam Bloomberg Economy Forum di Singapura menggunakan bahasa inggris. [278] url asal
#jokowi #bloomberg #bloomberg-new-economy-forum #manila #hanoi #kuala-lumpur #inggris #bangkok #silicon-valley #indonesia #singapura #economy-forum #wto #international-monetary-fund #solo #jakarta
(CNN Indonesia - Ekonomi) 21/11/25 16:30
v/45885/
Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) berpidato dalam Bloomberg Economy Forum di Singapura menggunakan bahasa inggris.
"When I look back at Indonesia's journey over the past decade, I see one clear lesson. Change is never easy, but change is necessary," ucap Jokowi dalam Bloomberg Economy Forum di Singapura, Jumat (21/11).
Jokowi menyampaikan beberapa poin dalam pidatonya sebagai Dewan Penasihat. Ia menyoroti kondisi ekonomi Indonesia saat ini dan berharap negeri ini bisa menuju intelligence economy.
Pria asal Solo itu bahkan meminta sejumlah lembaga internasional, seperti International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, hingga World Trade Organization (WTO) untuk mendefinisikan ulang instrumen keuangan, sistem keuangan, dan infrastruktur digital.
Menurut Jokowi, itu penting agar lahir pertumbuhan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat global.
"Southeast Asia is no longer just a market. It is becoming a global force. The next unicorn may not come from Silicon Valley or Shenzhen. It may come from Jakarta, Singapore, Bangkok, Kuala Lumpur, Manila, or Hanoi," tuturnya soal mimpi intelligence economy.
Di lain sisi, Jokowi sempat memamerkan sejumlah warisan infrastruktur yang dibangun ketika dirinya masih memimpin Indonesia.
Ia menegaskan dirinya mencari cara bagaimana membangun ekonomi yang kuat untuk 280 juta penduduk Indonesia. Pada akhirnya, Jokowi sadar bahwa tidak ada jalan pintas.
"That is why we focused on the basics, building roads, seaport, airport, power plant, and digital networks, because without strong infrastructure, an economy cannot grow," tegas Joko Widodo.
Indonesia diklaim juga sudah memikirkan infrastruktur digital di era kepemimpinannya, mulai dari membangun pusat data, meluncurkan satelit baru, memperluas jaringan digital, hingga meningkatkan konektivitas di seluruh negeri.
Jokowi menekankan Indonesia memperkenalkan regulasi yang mendorong bisnis lokal dan startup untuk berkembang. Ini karena perekonomian Indonesia didukung infrastruktur digital.
Tak Mau Punya Anak Jelek, Miliarder Ambil Langkah Tak Diduga
Miliarder Barrie Dewitt-Barlow ingin anak rupawan, rela bayar model untuk donor sel telur. [340] url asal
#donor-sel-telur #miliarder #eugenika #anak-rupawan #kontroversi #pola-asuh #silicon-valley #model-profesional #pembiakan-selektif #kualitas-genetik
(CNBC Indonesia - Tech) 18/11/25 17:23
v/42506/
Jakarta, CNBC Indonesia - Miliarder Barrie Dewitt-Barlow punya keinginan untuk memiliki anak yang rupawan. Menghindari anak yang 'jelek', dia rela membayar seorang model profesional untuk melakukan donor sel telur.
"Tidak ada yang ingin anak yang jelek," kata pembisnis itu, dikutip dari New York Post, Rabu (10/9/2025).
Dia dan tunangannya, Scott Hutchison melihat sang pendonor di sebuah peragaan busana di Miami. Keduanya ingin dia menjadi pendonor agar anak-anaknya memiliki penampilan yang menarik nantinya.
Namun dia tak menyebut informasi soal model yang menjadi donor sel telur bagi anaknya. Dia hanya mengatakan tertarik karena penampilan model itu.
"Saat melihatnya di catwalk, saya melihat Scott dan mengatakan 'dia sangat memukau'. Saya mengatakan kakinya setinggi 1,8 meter," dia menambahkan.
Pengakuannya dalam serial Stacey Dooley Sleep Over viral. Di Tiktok, cuplikannya ditonton 521 ribu dan diserbu banyak komentar.
Bagi yang mendukung keputusan itu menyebutkan keinginan Drewitt-Barlow sederhana hanya ingin anak-anak yang tampan. Sebaliknya ada yang mengkritik ini pola asuh yang mengerikan dan aneh.
Bahkan ada yang menyamakannya dengan proses eugenika, yakni pembiakan selektif untuk meningkatkan karakteristik tertentu. Dengan begitu bisa meningkatkan kualitas pada ras manusia.
Sebenarnya praktik tersebut sangat populer di Sillicon Valley. Di sana banyak ibu dan ayah rela membayar hingga US$50 ribu (Rp 822,8 juta) untuk memeriksa embrio mana yang tumbuh jadi anak jenius.
Dewitt-Barlow tahu bahwa pilihannya kontroversial. Namun dia tak pernah menyesali keputusan tersebut.
"Saya hanya beli bayi, begitu kata orang. Namun kebanyakan orang melakukan hal jauh lebih buruk dari menghabiskan satu bulan hidup mereka dengan obat-obatan untuk embrio senilai US$50 ribu." jelasnya.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Trio Pendiri Mercor Jadi Miliarder Termuda di Dunia
Trio pendiri Mercor, startup AI dari San Francisco, jadi miliarder termuda di dunia setelah pendanaan US$350 juta, valuasi perusahaan mencapai US$10 miliar. [935] url asal
#mercor #miliarder-termuda #startup-perekrutan #silicon-valley #pendanaan-mercor #valuasi-mercor #thiel-fellows #wirausahawan-muda #teknologi-muda #mercor-san-francisco #mercor-ai #mercor-pendiri #merc
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 03/11/25 09:45
v/24979/
Bisnis.com, JAKARTA - Mercor, sebuah startup perekrutan yang membantu laboratorium AI terbesar di Silicon Valley melatih model mereka, baru saja mencetak miliarder termuda di dunia yang merintis usaha sendiri.
Tiga pendirinya baru berusia 22 tahun, dan mereka merupakan tiga sahabat dari SMA di Bay Area yang berkompetisi bersama dalam tim debat.
Dilansir Forbes, awal pekan ini, startup asal San Francisco itu mengumumkan putaran pendanaan sebesar US$350 juta yang dipimpin oleh Felicis Ventures, dengan partisipasi dari petinggi lainnya seperti Benchmark, General Catalyst, dan Robinhood, sehingga valuasi perusahaan mencapai US$10 miliar.
Suntikan dana baru ini menjadikan CEO Brendan Foody, CTO Adarsh Hiremath, dan Ketua Dewan Surya Midha sebagai miliarder terbaru dari ledakan AI, masing-masing dengan sekitar 22% saham di perusahaan tersebut, menurut perkiraan Forbes.
"Ini benar-benar gila. Rasanya sangat surealis. Jelas di luar imajinasi terliar kami, sejauh yang dapat kami antisipasi dua tahun lalu," ujar Foody, dikutip Jumat (31/10/2025).
Bahkan di Silicon Valley yang terobsesi dengan anak muda, tempat para pendiri pemula telah diagungkan selama beberapa dekade, Mercor sangat terkenal karena usia muda para pemimpinnya.
Ketiga pendirinya adalah Thiel Fellows, anggota program investor miliarder konservatif Peter Thiel yang memberikan hibah US$100.000 setiap tahun kepada kaum muda dengan imbalan tidak melanjutkan kuliah. Mereka juga telah menjadi contoh nyata para wirausahawan berusia dua puluhan tahun di era AI.
"Hal yang gila bagi saya adalah, jika saya tidak bekerja di Mercor, saya pasti baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Hidup saya berubah drastis dalam waktu yang begitu singkat," kata Hiremath, yang menghabiskan dua tahun di Harvard sebelum keluar setelah tahun kedua.
Status baru para pendiri Mercor juga menempatkan mereka di puncak daftar wirausahawan teknologi muda yang kekayaan pribadinya baru-baru ini mencapai angka miliaran dolar.
Mereka menggeser CEO Polymarket, Shayne Coplan, sebagai miliarder termuda di dunia yang meraih kekayaan mandiri; Coplan, 27 tahun, memegang gelar tersebut hanya selama 20 hari, setelah investasi sebesar US$2 miliar dari perusahaan induk NYSE, Intercontinental Exchange.
Sebelumnya, Alexandr Wang, 28 tahun, dari Scale AI, sempat menyombongkan diri sebagai miliarder termuda yang meraih kekayaan mandiri selama kurang lebih 18 bulan. Sementara itu, salah satu pendiri Scale AI, Lucy Guo, menjadi miliarder perempuan termuda di dunia yang meraih kekayaan mandiri pada usia 30 tahun dan menggeser posisi tersebut dari Taylor Swift.
Yang lebih menonjol dari trio ini adalah betapa mudanya mereka. Di usia 22 tahun, mereka semua lebih muda daripada Mark Zuckerberg ketika dia pertama kali menjadi miliarder di usia 23 tahun.
Midha, yang berulang tahun di bulan Juni, adalah yang termuda di antara para pendiri dengan selisih sekitar dua bulan. Satu-satunya wirausahawan mandiri yang memulai debut lebih awal adalah Kylie Jenner di usia 21 tahun, meskipun Forbes kemudian merobohkan kekayaannya dan melakukan investigasi yang menyatakan bahwa maestro tata rias tersebut telah menggelembungkan pendapatan Kylie Cosmetics miliknya.
Foody, Hiremath, dan Midha mendirikan Mercor pada tahun 2023, awalnya dengan misi untuk mencocokkan insinyur di India dengan perusahaan-perusahaan AS yang membutuhkan programmer lepas.
Mereka membangun platform rekrutmen yang memungkinkan pelamar untuk diwawancarai oleh avatar AI dan mencocokkan mereka dengan perusahaan yang membutuhkan bakat.
Dalam prosesnya, mereka terjun ke dunia pelabelan data yang banyak diminati, memasangkan kontraktor tingkat ahli, seperti Ph.D dan pengacara, dengan laboratorium perintis seperti OpenAI. Ketiganya kemudian berhasil muncul dalam daftar Forbes 2025 Under 30.
Pada September, tak lama setelah Mercor memulai debutnya dalam daftar Forbes Cloud 100 perusahaan komputasi awan swasta teratas, Foody mengumumkan perusahaan tersebut telah mencapai pendapatan tahunan sebesar US$500 juta, naik dari US$100 juta pada Maret.
Berita pendanaan ini muncul di tengah gejolak besar yang melanda industri pelabelan data selama beberapa bulan terakhir. Pada Juni, Meta mengumumkan pembelian 49% saham raksasa industri Scale AI senilai US$14 miliar, merekrut CEO bintangnya, Alexandr Wang.
Langkah mengejutkan ini mendorong pemain yang lebih kecil untuk menjadi lebih agresif, karena mereka berpendapat bahwa laboratorium perintis tidak akan mau lagi bekerja sama dengan vendor yang begitu terikat dengan Meta dan ambisi AI-nya sendiri.
Sementara itu, pesaing lain juga tetap bertumbuh kuat dengan Surge, perusahaan yang lebih tua yang didirikan pada tahun 2016, telah bernegosiasi untuk mengumpulkan dana sebesar US$30 miliar, menjadikan pendirinya, Edwin Chen, sebagai miliarder termuda dalam daftar Forbes 400.
Kemudian Turing AI, yang bernilai US$2,2 miliar, mengumpulkan US$110 juta pada Juli. Lalu, Invisible, perusahaan yang lebih kecil yang terakhir kali bernilai US$500 juta pada tahun 2023, telah menjadi mitra andalan bagi OpenAI dan Microsoft.
Namun, perjalanan trio miliarder termuda ini juga tidak melulu mulus. Pada September, Scale sempat menggugat Mercor, menuduh perusahaan rintisan tersebut mencuri rahasia dagang.
Gugatan tersebut juga menyebutkan nama mantan eksekutif Scale yang pindah kerja ke Mercor dan diduga membagikan lebih dari 100 dokumen rahasia kepada perusahaan barunya.
Sebagai penduduk asli Bay Area, Foody and rekan-rekannya tumbuh besar di dunia teknologi. Ketiganya adalah anak dari insinyur perangkat lunak. Ibu Foody bekerja untuk tim real estat Meta dan ayahnya mendirikan perusahaan antarmuka grafis pada tahun 90-an sebelum beralih ke konsultasi startup.
Sementara itu Hiremath dan Midha adalah teman masa kecil yang bertemu saat berusia 10 tahun, berkompetisi di turnamen debat sekolah dasar, dan mereka bertemu Foody saat debat SMA.
Hiremath mulai tertarik dengan pasar tenaga kerja ketika dia kuliah di Harvard dan melakukan riset untuk Larry Summers, mantan menteri keuangan dan anggota dewan OpenAI saat ini. Summers kemudian berinvestasi di Mercor.
Sebagai miliarder baru, trio pendiri itu mengatakan mereka belum keluar dan membeli sesuatu yang mencolok, karena mereka tidak punya waktu.
"Saya meninggalkan kantor sekitar pukul 22.30, setiap hari, enam hari seminggu. Jadi, tidak banyak waktu di luar jam tersebut untuk teralihkan oleh hal-hal di luar pekerjaan," kata Foody.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56