BEI dan OJK berupaya memulihkan kepercayaan investor di pasar modal RI setelah IHSG turun 30% akibat krisis kepercayaan. Reformasi dan transparansi ditingkatkan. [715] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan regulator pasar modal mengerahkan upaya maksimal untuk menjaga kepercayaan investor. Adapun, isu kepercayaan ini mencuat setelah MSCI memberikan peringatan pada awal tahun ini.
Berdasarkan data BEI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terpangkas lebih dari 30% sejak awal tahun dengan torehan net sell asing Rp57,63 triliun per penutupan pasar Kamis 4 Juni 2026.
Menjawab hal tersebut, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa reformasi pasar modal yang dilakukan BEI bersama OJK ditujukan untuk memulihkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.
"Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularisasi dari data, kita memberikan informasi terkait dengan high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor kepada pasar kita," kata Jeffrey merespons pertanyaan Bisnis di Kantor BEI, Jakarta, Kamis (5/6/2026).
Adapun secara fundamental, PDB nasional kuartal I/2026 masih tumbuh 5,61% year on year (YoY), sedangkan persentase jumlah perusahaan tercatat yang sukses mencatat laba bersih per kuartal I/2026 mencapai 80%, menjadi capaian tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Ini artinya, penyebab koreksi pasar saham dominan ditekan oleh kepercayaan investor.
Bulan Juni sendiri menjadi waktu yang krusial. Apabila IHSG secara bulanan ditutup koreksi, ini akan menyamai rekor krisis finansial global 2008 silam saat indeks komposit melemah dalam 6 bulan beruntun.
Di sisi lain, otoritas bursa bakal menetapkan jajaran direksi baru periode 2026-2030. Pengumuman Direksi BEI baru dilakukan paling lambat 7 hari sebelum pelaksanaan RUPST BEI pada 29 Juni 2026, berarti maksimal 22 Juni 2026. Wajah baru pimpinan bursa efek nanti setidaknya bisa memberi sedikit harapan untuk pemulihan kepercayaan pasar.
Sebagai salah satu kandidat yang mencalonkan diri, Jeffrey mengatakan pihaknya akan mengikuti ketentuan OJK. Ihwal kepercayaan pasar, dia menegaskan bahwa hal ini perlu kolaborasi lintas sektoral.
"Tentu kita bersama-sama melakukan segala upaya yang bisa kita lakukan, tadi saya sampaikan, untuk bisa memulihkan kepercayaan tersebut," tandasnya.
Sebelumnya, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan koreksi tajam IHSG sepanjang tahun ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius.
Menilik data, menurutnya penurunan ini bukan semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati US$100 per barel, tetapi juga diperberat oleh berbagai sentimen domestik yang belum menemukan titik terang.
Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta terus berlanjutnya arus keluar dana asing membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
"Di tengah bursa Asia yang mayoritas justru menguat, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal," tegas Hendra.
Pernyataan optimisme pejabat negara rupanya juga tak bisa membendung jatuhnya IHSG lebih dalam. Hendra bilang, pasar pada dasarnya tidak bergerak berdasarkan pidato atau pernyataan optimistis semata, melainkan berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan.
Menurutnya, ketika pemerintah menyampaikan bahwa fundamental ekonomi masih kuat, namun pada saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar.
"Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung memilih menunggu atau bahkan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil," jelasnya.
Hendra mengatakan volatilitas pasar akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan selama arus keluar asing masih berlangsung dan belum ada katalis positif yang mampu mengembalikan kepercayaan investor global. Meski demikian, kondisi saat ini menurutnya tidak serta-merta harus disikapi dengan kepanikan.
Dari sisi valuasi, banyak saham unggulan yang dia lihat sebenarnya sudah mengalami koreksi yang sangat dalam sehingga mulai memasuki area yang menarik untuk investasi jangka panjang. Namun, investor juga perlu menyadari bahwa pasar yang sedang mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak rasional dalam jangka pendek.
"Pada akhirnya, pemulihan pasar tidak hanya membutuhkan stabilisasi rupiah atau meredanya konflik global, tetapi juga membutuhkan kembalinya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik. Pasar membutuhkan kepastian, konsistensi, dan langkah konkret yang mampu meyakinkan pelaku pasar bahwa risiko dapat dikelola dengan baik," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melakukan monitoring aktivitas investor global di tengah derasnya arus net sell asing.
Net sell asing di pasar saham sampai dengan Rabu (13/5/2026) secara year to date (YtD) telah menyentuh level Rp40,82 triliun. Nilai jual bersih tersebut bahkan jauh melampaui net sell asing sepanjang tahun 2025 yang mencapai Rp17,34 triliun.
Tak cuma MSCI, pasar modal Indonesia saat ini digempur sentimen negatif lainnya seperti pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh Rp17.500 per dolar AS, serta harga minyak dunia yang telah menembus level US$100 per barel.
Sebagai negara net importir minyak, rupiah juga tertekan oleh beban impor yang membuat kondisi fiskal negara diuji. Kondisi makro ekonomi nasional juga turut menjadi sentimen kaburnya asing dari pasar modal Tanah Air.
Menanggapi hal itu, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan bahwa pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terus melakukan monitoring aktivitas investor global. Menurutnya, rebalancing portofolio investor asing adalah hal yang wajar dalam mekanisme pasar.
"Tetapi sekali lagi, apa yang sedang kita lakukan, upaya bersama yang kita lakukan, adalah untuk bagaimana pasar kita lebih baik, lebih dalam untuk jangka panjang, yang pada gilirannya tentu kita harapkan investor asing akan berpartisipasi kembali dan bahkan lebih dari kondisi sekarang," ujar Jeffrey saat ditemui di Kantor BEI Jakarta, Senin (18/5/2026).
Jeffrey memahami bahwa sentimen negatif yang membuat asing hengkang bisa berasal dari mana saja. Peran BEI sebagai Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal punya gerak terbatas untuk melakukan intervensi-intervensi, seperti kebijakan fiskal di Kementerian Keuangan atau pelemahan rupiah yang menjadi otoritas moneter dari Bank Indonesia.
"Sumber ketidakpastian itu kan banyak, ada fluktuasi komoditas, minyak, ada fluktuasi nilai tukar di berbagai negara, ketidakpastian penyelesaian geopolitik di Timur Tengah, Rusia. Jadi seluruh ketidakpastian itu tentu akan berdampak sedikit banyak kepada pergerakan di pasar kita," ujarnya.
Di sisi lain, yang dilakukan BEI adalah memastikan seluruh transaksi perdagangan berjalan teratur, wajar dan efisien. BEI juga memastikan keandalan dan transparansi infrastruktur perdagangan, serta pengaturan dan pengawasan.
Jeffrey berharap upaya reformasi pasar modal yang dilakukan BEI dan OJK akan menjadi fundamental pertumbuhan berkelanjutan, dan dapat meningkatkan kepercayaan investor global serta pada gilirannya akan menarik kembali asing ke dalam negeri.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelaku pasar belum terlalu menyadari bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Dia menyebut, Indonesia sedang berakselerasi dengan pertumbuhan ekonomi 5,61% pada kuartal I/2026.
"Jadi ekonomi kita sedang mengalami akselerasi. Itu yang tidak disadari banyak orang sehingga orang agak takur dan keluar dari pasar modal," ujar Purbaya.
Bendahara negara juga memastikan komitmen pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional hingga kuartal-kuartal selanjutnya. Purbaya menilai dalam kondisi ini, terbuka peluang untuk mendapatkan keuntungan saat pasar membaik.
BEI dan KSEI kini membuka data pemegang saham di atas 1%, meningkatkan transparansi pasar modal Indonesia. Kebijakan ini efektif mulai 3 Maret 2026. [372] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pasar modal Indonesia memasuki babak baru transparansi seiring publikasi daftar pemegang saham emiten dengan kepemilikan di atas 1%. Kebijakan ini mulai berlaku efektif Selasa (3/3/2026).
Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa perluasan data ini merupakan bagian dari empat proposal penguatan pasar modal yang diajukan kepada global index provider, yakni MSCI dan FTSE.
“Per sore ini, saat pasar sudah tutup, shareholders name di atas 1% sudah bisa diakses oleh publik di situs web IDX,” ujar Jeffrey di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Jeffrey menjelaskan bahwa data itu disediakan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Sebagaimana diketahui, sebelumnya publik hanya dapat mengakses informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5%.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menambahkan bahwa penyediaan data ini merujuk pada Keputusan Dewan Komisioner OJK No. 01/2021 yang menunjuk KSEI dan BEI sebagai penyedia data publik. Salah satu poin utamanya adalah penggabungan data kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat.
Untuk data kepemilikan script, Samsul juga menyampaikan bahwa KSEI mendapatkan suplai data dari Biro Administrasi Efek (BAE) untuk kemudian disatukan dengan data scriptless yang ada di sentral data KSEI.
“Kalau tadinya di bursa itu pengumuman di atas 5%, sekarang pengumumannya adalah pemegang saham di atas 1%. Kami sampaikan ke bursa serta Otoritas Jasa Keuangan [OJK] sore ini dan teman-teman semua bisa lihat,” kata Samsul.
Selain keterbukaan data pemegang saham, BEI juga memaparkan progres rencana peningkatan ambang batas saham publik (free float) dari 7,5% menjadi 15%. Menurutnya, rancangan peraturan tersebut telah selesai dibahas di internal bursa setelah melewati fase public hearing pada 19 Februari lalu.
“Draf peraturan sudah kami sampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan [OJK] kemarin setelah mendapatkan persetujuan dari Dewan Komisaris. Sampai saat ini, timeline masih sesuai dengan yang kita tetapkan sebelumnya,” ucap Jeffrey.
Terkait dengan shareholders concentration list, Jeffrey menuturkan BEI terus melakukan koordinasi intensif dengan OJK mengenai metodologi dan prosedur operasional standar (SOP). Otoritas menargetkan daftar tersebut dapat diumumkan kepada publik pada pekan pertama atau kedua Maret ini.
Adapun dua proposal lainnya yang terus dimatangkan bursa adalah penyediaan data tipe investor yang lebih detail atau granular. Jeffrey memastikan seluruh langkah ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan investor institusi internasional terkait aksesibilitas dan kredibilitas data pasar modal Indonesia.
OJK dan BEI tingkatkan transparansi kepemilikan saham untuk cegah praktik mafia saham dan tingkatkan daya tarik investasi di pasar modal Indonesia. [1,006] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- Ororitas Jasa Keuangan (OJK) telah mendorong transformasi pasar modal dengan memperkuat transparansi ultimate beneficial ownership (UBO). Di sisi lain, pemerintah telah mewajibkan perusahaan pelaporan keuangan terpusat mulai tahun 2026.
Ultimate beneficial ownership (UBO) adalah terminologi yang lazim dikenal dalam praktik tata kelola korporasi. UBO berbeda dengan legal ownership yang tercantum dalam dokumen-dokumen resmi milik korporasi, misalnya laporan keuangan.
UBO biasanya merupakan individu yang namanya tidak tercantum dalam dokumen resmi milik perseroan, namun ditengarai sebagai pengendali entitas dan penerima manfaat paling puncak dari suatu transaksi atau aktivitas bisnis suatu korporasi. Penyembunyian identitas UBO lazimnya bertujuan untuk praktik pencucian uang dan pengemplang pajak.
"Kami akan mendorong dan melakukan penguatan keterbukaan afiliasi pemegang saham. Dengan langkah itu, diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi," kata pejabat pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Minggu (2/2/2026).
Dalam catatan Bisnis, istilah UBO termasuk beneficial owner sempat ramai menjadi perbincangan ketika laporan bertajuk Panama Papers hingga Pandora Papers muncul ke publik. Laporan itu, memuat nama individu baik pengusaha maupun politisi asal Indonesia, yang diduga mengemplang pajak dengan membentuk perusahaan cangkang atau shell company di negeri suaka pajak (tax haven).
Menariknya, setelah lama hilang dari diskursus publik, istilah ini kembali muncul, mokennya bertepatan dengan badai di pasar modal. Kinerja indeks saham gabungan atau IHSG anjlok 2 hari berturut-turut imbas pengumuman dari Morgan Stanley Capital International alias MSCI. Isu transparansi menjadi salah satu yang disorot oleh lembaga indeks global tersebut.
Pejabat Pengganti Ketua dan Wakil Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi./Ist
Masalah transparansi itu juga sejalan dengan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat bahwa pasar modal menjadi salah satu sektor yang rawan terjadinya praktik tindak pidana pencucian uang. Kerawanan itu tampak dari laporan jumlah transaksi mencurigakan di sektor pasar modal yang setiap tahun mengalami kenaikan.
Data PPATK menunjukkan bahwa selama tahun 2025 lalu, sebanyak 4.593 transaksi mencurigakan terindikasi terkait tindak pidana di pasar modal. Jumlah ini naik 62,9% dari posisi tahun 2024. Sementara jika dibandingkan dengan tahun 2023, jumlah indikasi tindak pidana pasar modal dalam transaksi keuangan yang dicatat PPATK tembus 268% atau dari 1.248 transaksi menjadi 4.593.
Lembaga intelijen keuangan itu juga mencatat sektor dan pelapor laporan transaksi keuangan mencurigakan itu berasal dari perusahaan efek dan manajer investasi. Pada tahun lalu, LTKM dari perusahaan efek mencapai 3.380. Sementara manajer investasi tercatat sebanyak 1.570 laporan.
Adapun OJK pun akan menjalankan langkah strategis lainnya yakni dengan penguatan data kepemilikan saham. OJK akan meminta KSEI memberikan data kepemilikan saham yang lebih granular dan reliable. "Detailkan klasifikasi sub tipe yang mengacu best practise global, sesuai ekspektasi MSCI," ujar Kiki.
Buka Data Kepemilikan 5%
Sementara itu, pelaksana tugas (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa otoritas bursa telah menampung berbagai masukan dari global index provider, termasuk MSCI. BEI dijadwalkan akan bertemu dengan MSCI pada pekan depan.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk mendorong peningkatan bobot Indonesia dalam konstituen indeks global agar dapat menarik lebih banyak aliran dana investor asing. Salah satu perhatian utama MSCI adalah transparansi data kepemilikan saham.
Menindaklanjuti perhatian tersebut, BEI akan meningkatkan keterbukaan informasi kepemilikan saham dengan melengkapi disclosure yang selama ini telah disampaikan kepada publik melalui laman resmi BEI.
“Kami akan meningkatkan disclosure data kepemilikan saham secara lebih granular, termasuk data kepemilikan di bawah 5%. Dengan demikian, keterbukaan data di BEI akan setara dengan bursa-bursa global lainnya. Kami akan melaksanakan ini pada awal Februari 2026,” ujar Jeffrey dalam acara Dialog Pelaku Pasar Modal di Main Hall BEI, Minggu (1/2/2026).
Ilustrasi
Selain itu, BEI bersama KSEI juga akan meningkatkan klasifikasi tipe investor agar profil investor yang bertransaksi di pasar modal Indonesia menjadi lebih jelas dan komprehensif. “Dari yang saat ini terdapat sembilan kategori SID, klasifikasi tersebut akan disesuaikan dengan global best practice. Kami akan menambahkan kategori investor sesuai dengan yang diharapkan oleh MSCI,” kata Jeffrey.
Penambahan kategori tersebut mencakup antara lain sovereign wealth fund (SWF), private equity (PE) investment advisor, discretionary fund, serta kategori lainnya. BEI akan memulai proses sosialisasi kepada pelaku pasar pada pekan ini dan meminta perusahaan efek, bank kustodian, serta pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan remapping kebutuhan klasifikasi investor.
“Kami berharap proses pembenahan transparansi data kepemilikan saham ini dapat diselesaikan paling lambat April 2026, sebelum tenggat waktu yang ditetapkan oleh MSCI,” ujarnya.
Perlu Bertahap
Di sisi lain, pasar meminta supaya keterbukaan data Ultimate Beneficial Ownership (UBO) perlu dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan gejolak yang justru merugikan pasar.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menuturkan pendekatan bertahap dinilai sebagai langkah paling tepat dalam memperluas cakupan disclosure UBO. "Terkait cakupan disclosure, pendekatan bertahap dinilai paling tepat," ujarnya, Jumat (31/1/2026).
Pada tahap awal, lanjutnya, penyampaian data UBO dilakukan secara terbatas kepada regulator serta penyedia indeks global seperti MSCI dianggap sudah cukup untuk menjawab persoalan kredibilitas dan tata kelola, tanpa mengorbankan stabilitas pasar.
Strategi ini menurutnya mampu memberikan keyakinan kepada investor institusional bahwa otoritas pasar modal memiliki pengawasan yang memadai terhadap struktur kepemilikan emiten, sekaligus memitigasi risiko kesalahpahaman informasi di kalangan pelaku pasar.
Ke depan, lanjutnya, keterbukaan data UBO kepada publik tetap terbuka untuk dipertimbangkan. Namun, proses tersebut disarankan dilakukan secara terstruktur dan terukur, seiring dengan kesiapan infrastruktur data serta literasi pasar. "Dengan demikian, manfaat transparansi dapat tetap optimal tanpa memicu interpretasi yang keliru maupun volatilitas berlebihan di pasar saham."
Secara umum, Andrey menjelaskan dengan fokus awal kebijakan pada sekitar 100 emiten berkapitalisasi besar dianggap sebagai pendekatan yang pragmatis. Emiten-emiten tersebut memiliki dampak sistemik paling signifikan terhadap pasar sekaligus menjadi perhatian utama indeks global, termasuk MSCI.
Dari sisi kesiapan, mayoritas emiten besar sebenarnya telah memiliki data UBO secara internal. Namun demikian, proses implementasi tetap membutuhkan waktu, khususnya untuk menyelaraskan perbedaan definisi, struktur kepemilikan lintas yurisdiksi, hingga standardisasi format pelaporan agar selaras dengan praktik global.
Dia melanjutkan keterbukaan UBO berpotensi menjadi sentimen positif dalam jangka menengah hingga panjang. Transparansi yang lebih baik diyakini dapat menurunkan persepsi risiko tata kelola, meningkatkan kepercayaan investor institusi global, serta membuka peluang re-rating valuasi saham Indonesia.
Meski begitu, dalam jangka pendek respons pasar diperkirakan akan bervariasi, terutama pada emiten dengan struktur kepemilikan yang kompleks.
IHSG dibuka naik 9,20 poin atau 0,11 persen menuju level 8.611,33. Sementara itu, indeks LQ45 juga bergerak tipis menguat 0,03 persen ke posisi 864,99.
Kenaikan ini memperpanjang tren positif IHSG yang sejak perdagangan sebelumnya terus menambah rekor baru.
Bursa global kompak menguat
Sentimen eksternal menjadi salah satu pendorong utama laju IHSG hari ini. Tiga indeks utama Wall Street kembali ditutup menghijau pada perdagangan sebelumnya.
Dow Jones naik 0,67 persen ke level 47.427,12. S&P 500 menguat 0,69 persen ke 6.812,61. Nasdaq melonjak 0,82 persen ke 23.214,69.
Penguatan bursa global ini menjadi sinyal risk-on investor, terutama setelah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve.
IHSG review
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG menanjak 0,94 persen dan mencetak rekor tertinggi baru di level 8.602.
Meski investor asing membukukan net sell Rp506 miliar, indeks tetap menguat stabil. Kenaikan ini ditopang oleh reli sejumlah emiten berkapitalisasi besar seperti BUMI, DSSA, TLKM, dan ASII.
Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan tren kenaikannya. Resistance terdekat berada di 8.623, yang jika ditembus berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan.
"Sentimen pasar didukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed serta pernyataan positif Kemenkeu mengenai prospek ekonomi domestik, yang bersama-sama memperkuat risk appetite investor," tulis riset harian BRI Danareksa Sekuritas.
Pilihan saham hari ini
Beberapa saham yang menjadi perhatian pasar antara lain:
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Astra International Tbk (ASII)
PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
IHSG dibuka naik 12,00 poin atau 0,14 persen ke level 8.533,89, menunjukkan adanya optimisme pelaku pasar meski rilis sentimen global masih beragam.
Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 justru melemah tipis 1,15 poin atau 0,13 persen ke posisi 856,01.
Wall Street kompak menguat
Dari sisi global, bursa Amerika Serikat (AS) memberikan angin segar. Ketiga indeks utama Wall Street kompak ditutup menguat. Dow Jones 1,43 persen di level 47.112,45. S&P 500 0,91 persen di level 6.765,88. Nasdaq 0,67 persen di level 23.025,59.
Penguatan ini memberikan katalis positif bagi pasar Asia, termasuk IHSG.
Review perdagangan sebelumnya
Pada penutupan perdagangan terakhir, IHSG melemah -0,56 persen ke level 8.521 dengan net foreign sell sebesar Rp1,5 triliun. Setelah mencetak rekor all time high, pasar terlihat melakukan aksi taking profit.
Secara teknikal, IHSG dinilai masih berpeluang menguat terbatas di atas level resistance become support 8.500.
"Pasar akan mencermati penguatan rupiah akibat pelemahan US yang dikarenakan oleh ekspetasi pemangkasan suku bunga The Fed di sisa tahun ini," tulis riset harian BRI Danareksa Sekuritas.
Rekomendasi saham hari ini
Beberapa saham menarik untuk dicermati pada perdagangan hari ini meliputi:
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
Kenaikan ini ikut didorong penguatan bursa Amerika Serikat semalam, yang memberi sentimen optimistis bagi pelaku pasar di Tanah Air.
Melansir Antara, Selasa, 11 November 2025 IHSG tercatat dibuka menguat 46,72 poin atau 0,56 persen menuju level 8.437,96.
Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga bergerak positif dengan kenaikan 5,19 poin atau 0,61 persen ke posisi 850,06.
Sentimen Wall Street jadi pendorong
Bursa AS ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 0,81 persen ke 47.368,63, S&P 500 menguat 1,54 persen ke 6.832,43, dan Nasdaq melonjak 2,27 persen ke 23.527,17
Kinerja tersebut memberikan tambahan dorongan bagi investor domestik untuk kembali masuk ke aset berisiko.
IHSG review
Meski pagi ini dibuka naik, IHSG sempat mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya.
IHSG sempat mencetak rekor tertinggi intraday, namun berbalik melemah akibat aksi ambil untung dan pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar. Indeks ditutup di level 8.391 dengan net foreign buy Rp102,3 miliar.
Dalam jangka pendek, potensi pullback masih terbuka dengan area support di 8.350 dan resistance di 8.478.
Pasar juga akan memantau rilis data penjualan ritel Indonesia untuk September 2025, yang diprediksi menjadi salah satu penentu arah pergerakan indeks.
"Pasar akan mencermati rilis data penjualan ritel Indonesia untuk September 2025," tulis riset harian BRI Danareksa Sekuritas.
Rekomendasi saham hari ini
Untuk perdagangan hari ini, beberapa saham yang direkomendasikan adalah:
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(ANN)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56