#30 tag 24jam
Mengapa Ekonomi AS Lebih Kuat dari Eropa?
Ekonomi AS lebih tangguh dari Eropa karena investasi kuat, pasokan energi melimpah, dan pasar yang lebih fleksibel. [916] url asal
#amerika #eropa #energi #ekonomi-amerika-serikat #biaya-energi
(Kompas.com - Money) 15/06/26 09:00
v/250003/
JAKARTA, KOMPAS.com- Dua pabrik otomotif memberi gambaran kontras tentang kondisi ekonomi Amerika Serikat dan Eropa.
Di Dresden, Jerman timur, mobil terakhir keluar dari jalur perakitan Pabrik Transparan Volkswagen pada akhir tahun lalu.
Pabrik itu dulu dibangun untuk menunjukkan kekuatan industri Eropa.
Ribuan kilometer dari sana, BMW justru mengoperasikan pabrik terbesarnya di dunia di Spartanburg, Carolina Selatan, Amerika Serikat.
Perbedaan itu membantu menjelaskan pertanyaan besar yang lama dibahas ekonom.
Mengapa ekonomi AS terus berkinerja lebih baik dibandingkan banyak negara maju lain, meski sama-sama menghadapi guncangan global?
Dalam beberapa tahun terakhir, negara maju menghadapi tekanan besar. Tarif tinggi yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump mengganggu perdagangan global.
Deportasi massal mengubah pasar tenaga kerja. Konflik di Timur Tengah membuat harga minyak bergejolak.
Banyak ekonom sempat memperkirakan tekanan itu akan membebani ekonomi AS. Namun, ekonomi AS tetap tumbuh stabil.
Inflasi beberapa kali sulit dikendalikan. Meski begitu, kombinasi pertumbuhan lemah dan harga tinggi yang dikhawatirkan banyak orang tidak terjadi.
Investasi perusahaan tetap kuat
Kepala Ekonom RSM Joe Brusuelas menilai perang dagang menjadi salah satu bukti paling kuat soal ketahanan ekonomi AS.
"Kesalahan yang dilakukan pemerintahan Trump terhadap AS terkait perdagangan dan imigrasi mungkin merupakan contoh terbaik dari dinamika mendasar ekonomi Amerika," katanya.
Saat perusahaan AS menghadapi kenaikan biaya akibat tarif terhadap komponen impor, mereka tidak sekadar menerima penurunan margin.
Banyak perusahaan justru meningkatkan investasi.
"Pengeluaran modal (CapEx) saat ini adalah 13,9% dari PDB AS," kata Brusuelas.
"Seharusnya itu melambat, mengingat campuran guncangan penawaran dan permintaan yang diserap ekonomi, dan kenyataannya tidak," sambungnya.
Belanja modal atau capital expenditure, CapEx, merupakan pengeluaran perusahaan untuk aset produktif jangka panjang.
Aset itu meliputi pabrik, mesin, pusat data, dan teknologi.
Menurut Brusuelas, tekanan dari tarif, imigrasi, dan energi sebagian besar tertahan oleh peningkatan produktivitas.
Ekonomi AS secara keseluruhan masih tumbuh sekitar 2 persen secara tahunan.
Energi jadi pembeda
Pasar energi menjadi faktor pembeda lain. Perang di Timur Tengah mendorong harga minyak naik.
Pada masa lalu, kenaikan harga minyak biasanya menjadi ancaman besar bagi pertumbuhan ekonomi AS.
Kini, dampaknya tidak sebesar dulu. Revolusi shale mengubah posisi AS dalam peta energi global.
Dalam dua dekade terakhir, AS menjadi salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia.
Pada saat yang sama, dunia usaha di AS secara bertahap mengurangi ketergantungan pada minyak.
"Perkembangan fracking di Amerika Serikat sejak awal tahun 2000-an, bersamaan dengan evolusi bahan bakar alternatif, telah menciptakan kondisi di mana kontribusi minyak terhadap PDB per unit telah turun setengahnya selama 50 tahun terakhir," kata Brusuelas.
Fracking merupakan teknik pengeboran untuk mengekstraksi minyak dan gas dari batuan shale.
Teknologi ini membantu AS meningkatkan produksi energi domestik.
Kondisi AS berbeda dengan Eropa.
AS lebih mengandalkan fleksibilitas pasar, menerima fracking, dan membiarkan harga merespons perubahan permintaan serta pasokan.
Eropa lebih banyak bertumpu pada kontrak jangka panjang dan jaringan pasokan energi yang saling terhubung.
Pendekatan itu sempat dianggap memberi keamanan energi.
Namun, ketika pasokan gas Rusia terputus setelah invasi Ukraina, banyak negara Eropa menjadi rentan.
Risiko tersebut belum hilang di tengah ketegangan baru di Timur Tengah.
Budaya mengambil risiko
Peneliti senior lembaga kajian Bruegel di Brussels, Rebecca Christie, menilai perbedaan AS dan Eropa tidak hanya soal kebijakan.
Perbedaan itu juga menyangkut cara melihat risiko.
"Orang Amerika sangat berorientasi pada solusi dan jauh lebih nyaman mengambil risiko jangka pendek untuk keuntungan jangka panjang. Budaya Eropa cenderung menghindari risiko."
Christie mengatakan, ia pernah menghadiri acara ketika seorang komisioner Uni Eropa untuk layanan keuangan menyebut Eropa kurang membahas risiko dari sikap yang terlalu menghindari risiko.
Perbedaan ini juga terlihat dalam struktur bisnis dan sistem pensiun.
Di banyak negara Eropa, perusahaan bergantung pada pinjaman bank untuk pembiayaan.
Pensiun pekerja juga sering terhubung dengan kontrak asuransi bergaransi.
Skema itu membatasi kerugian, tetapi juga membatasi potensi keuntungan.
"Jika Anda membiayai bisnis Anda dengan pinjaman bank, Anda tidak memiliki fleksibilitas yang sama seperti jika Anda menjual saham atau menarik modal ventura," kata Christie.
Di AS, perusahaan memiliki lebih banyak pilihan pembiayaan melalui pasar saham dan investor modal ventura.
Fleksibilitas ini memberi perusahaan AS ruang lebih besar untuk berinvestasi, berekspansi, atau mengubah strategi saat kondisi berubah.
Risiko ketimpangan tetap besar
Meski ekonomi AS terlihat tangguh di tingkat makro, Christie mengingatkan kondisi tersebut dapat menutupi tekanan yang dialami banyak rumah tangga.
"AS adalah negara dengan ketidaksetaraan yang sangat tinggi," katanya.
"Jika Anda kesulitan, Anda akan benar-benar mengalami masa sulit karena pasar tenaga kerja tidak menambah banyak lapangan kerja baru, harga barang semakin mahal, banyak kota mengalami krisis perumahan."
Kekhawatiran terbesar Christie adalah ketimpangan mencapai titik kritis.
"Bahkan memiliki dolar yang kuat dan bank yang cukup stabil pun tidak akan membantu jika terjadi krisis lapangan kerja nyata di ekonomi riil."
Sejauh ini, sinyal krisis tenaga kerja belum terlihat kuat.
Perusahaan AS menambah 172.000 lapangan kerja pada Mei, lebih tinggi dari perkiraan.
Namun, data inflasi terbaru menunjukkan batas ketahanan ekonomi AS mulai diuji.
Harga konsumen pada Mei naik 4,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka itu lebih tinggi dari 3,8 persen pada April dan menjadi laju kenaikan tercepat dalam tiga tahun.
Artinya, ekonomi AS memang lebih kuat dibandingkan banyak pesaingnya, tetapi tidak kebal dari tekanan.
Harga energi yang lebih tinggi, inflasi yang bertahan, dan kesenjangan ekonomi yang makin lebar tetap menjadi risiko besar.
Meski begitu, dibandingkan banyak negara maju lain, AS masih tampak lebih tangguh.
Pasar yang fleksibel, investasi yang cepat, pasokan energi yang melimpah, dan toleransi lebih besar terhadap risiko membantu negara itu bertahan dari guncangan yang lebih berat bagi negara lain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangTertekan Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat pada Kuartal I/2026
Pertumbuhan ekonomi AS melambat ke 1,6% pada kuartal I/2026, memperkuat sinyal perlambatan di tengah inflasi yang masih tinggi. [259] url asal
#ekonomi-amerika-serikat #pertumbuhan-ekonomi-as #amerika-serikat
(Bisnis.Com - Ekonomi) 30/05/26 14:16
v/235687/
Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal I/2026 direvisi turun menjadi 1,6%, memperkuat sinyal perlambatan di tengah inflasi yang masih tinggi.
Berdasarkan data revisi kedua yang dirilis Departemen Perdagangan AS yang dikutip dari Kantor Berita Anadolu pada Sabtu (30/5/2026), laju pertumbuhan ekonomi pada periode Januari—Maret 2026 tercatat sebesar 1,6%, lebih rendah dibandingkan estimasi awal sebesar 2% yang dipublikasikan bulan lalu.
Sebagai perbandingan, ekonomi AS tumbuh 0,5% pada kuartal IV/2025 dan mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 2,1% sepanjang 2025.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini ditopang oleh peningkatan ekspor, investasi, konsumsi rumah tangga, dan belanja pemerintah. Namun, kenaikan impor menjadi faktor yang menekan perhitungan produk domestik bruto (PDB).
Di sisi lain, tekanan inflasi masih bertahan pada level tinggi. Indeks harga personal consumption expenditures (PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed), tercatat meningkat 4,5% pada kuartal I/2026, tidak berubah dibandingkan estimasi awal.
Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal III/2022, setelah pada kuartal sebelumnya indeks PCE naik 2,9%.
Sementara itu, inflasi inti atau core PCE—yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi—direvisi naik menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3% pada kuartal pertama.
Angka tersebut merupakan kenaikan tertinggi sejak kuartal I/2023, setelah pada kuartal sebelumnya inflasi inti tercatat sebesar 2,7%.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun ekonomi AS masih tumbuh pada awal tahun, laju ekspansi mulai melambat di tengah tekanan inflasi yang kembali menguat dan tetap menjadi perhatian utama bagi bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pengadilan AS Batalkan Tarif Global Trump, Agenda Ekonomi Gedung Putih Terpukul
Hakim federal menilai tarif global 10 persen Trump tidak memiliki dasar hukum kuat. [243] url asal
#donald-trump #tarif-impor-as #perang-dagang-as #ekonomi-amerika-serikat #pengadilan-perdagangan-as #tarif-global-trump #kebijakan-perdagangan-as #china #mahkamah-agung-as #ekonomi-global
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pengadilan perdagangan Amerika Serikat pada Kamis (7/5) memutuskan menolak tarif global 10 persen yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump awal tahun ini. Putusan tersebut menjadi pukulan baru terhadap salah satu agenda ekonomi utama Trump.
Tarif itu mulai berlaku pada Februari 2026 untuk menggantikan kebijakan bea masuk timbal balik Trump yang menyasar hampir seluruh mitra dagang AS, termasuk tarif terkait fentanyl terhadap produk asal China, Kanada, dan Meksiko.
Trump sebelumnya mengumumkan kebijakan tarif menyeluruh tersebut berdasarkan kewenangan hukum berbeda, setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif spesifik negara yang diberlakukannya pada 20 Februari 2026.
Namun, dalam putusan 2-1, panel hakim federal di Pengadilan Perdagangan Internasional AS di New York menyatakan penggunaan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan Tahun 1974 oleh pemerintah untuk memberlakukan tarif 10 persen tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
Pasal tersebut memang memberi kewenangan kepada presiden untuk mengenakan bea masuk hingga 15 persen selama maksimal 150 hari guna mengatasi defisit neraca pembayaran yang dianggap besar dan serius. Namun, belum pernah ada presiden AS sebelumnya yang menggunakan Pasal 122 untuk menerapkan tarif perdagangan.
Tahun lalu, Trump juga menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional Tahun 1977 untuk menerapkan tarif dua digit tanpa persetujuan Kongres.
Mahkamah Agung kemudian menyatakan Trump telah melampaui kewenangan presiden ketika menggunakan undang-undang darurat tersebut, karena kebijakan perpajakan merupakan kewenangan legislatif sesuai konstitusi AS.
Putusan terbaru pengadilan perdagangan ini dinilai dapat memperumit strategi perdagangan pemerintahan Trump di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tensi dagang internasional.
Dolar Perkasa, Rupiah Cuma Menguat Tipis
Data terbaru menunjukkan ketahanan ekonomi Amerika Serikat masih cukup kuat. [270] url asal
#rupiah #kurs-rupiah #risk-off #dolar-as #konflik-as-iran #sentimen-global #ekonomi-amerika-serikat #pmi-as #nilai-tukar #pasar-keuangan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah masih dibayangi sentimen global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, kondisi ini memicu sentimen risk-off di pasar keuangan. Investor menilai proses perdamaian masih belum jelas dan berisiko berlarut.
“Sentimen ini dipicu oleh laporan bahwa Gedung Putih masih menunggu respons Iran sebelum memulai negosiasi perdamaian. Investor menafsirkan pernyataan tersebut sebagai sinyal masih tingginya ketidakpastian terkait proses perdamaian,” kata Josua, Jumat (24/4/2026).
Meski tertekan sentimen global, rupiah pada Jumat pagi tercatat menguat tipis. Mata uang Garuda naik 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.280 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.286 per dolar AS.
Perkembangan geopolitik menunjukkan negosiasi belum menemukan titik terang. Gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan.
Amerika Serikat bahkan menyatakan akan memblokade kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran menyatakan siap berunding, namun meragukan komitmen AS dalam proses negosiasi.
Dari sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan ketahanan ekonomi Amerika Serikat masih cukup kuat. Indeks PMI manufaktur dan jasa April tercatat di atas ekspektasi pasar.
S&P Global US Manufacturing PMI naik ke 54,0 dari 52,3, sementara Services PMI meningkat ke 51,3 dari 49,8. Data ini memberi sentimen positif terhadap dolar AS.
Namun, data tenaga kerja menunjukkan tekanan mulai muncul. Initial Jobless Claims meningkat menjadi 214 ribu dari sebelumnya 208 ribu.
Josua memperkirakan rupiah masih akan bergerak terbatas dengan volatilitas tinggi. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.225 hingga Rp17.350 per dolar AS.
Dunia di Ambang Kebangkrutan? Utang AS Tembus Rp666.215 Triliun
IMF mengungkap fakta jauh lebih mengerikan terkait utang nasional Amerika Serikat (AS) yang telah menyentuh angka fantastis USD39 triliun sekitar Rp666.215 triliun.... | Halaman Lengkap [450] url asal
#ekonomi-as #ekonomi-amerika-serikat #peringkat-utang-as #imf #konflik-timur-tengah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/04/26 17:38
v/196011/
JAKARTA - International Monetary Fund atau IMF mengungkap fakta jauh lebih mengerikan terkait utang nasional Amerika Serikat (AS) yang telah menyentuh angka fantastis USD39 triliun (sekitar Rp666.215 triliun dengan kurs Rp17.082 per USD). Angka itu menjadi kenyataan pahit bahwa utang AS bukan hanya masalah Amerika , melainkan penyakit global yang sedang menjangkit seluruh dunia.Direktur Urusan Fiskal IMF, Rodrigo Valdes memperingatkan bahwa ekonomi dunia sedang diuji habis-habisan oleh dampak perang di Timur Tengah dan ruang fiskal yang semakin sempit. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan utang publik global akan menyentuh 99% dari PDB dunia pada 2028.
Dalam skenario terburuk, angka ini bisa melonjak hingga 121% hanya dalam tiga tahun. Di sini Amerika Serikat menjadi pasien paling kritis. Defisit anggaran Washington diperkirakan akan bertahan di level 7,5%, dengan rasio utang diprediksi menembus 125% dari PDB tahun ini dan mencapai 142% pada 2031.
Utang Amerika Bengkak jadi Rp635.572 Triliun, IMF: Ekonomi Global dalam Bahaya
"Ini tidak bisa menunggu selamanya," tegas Valdés memberikan sinyal darurat kepada Kongres AS.
AS akan membutuhkan pengetatan fiskal sekitar 4 poin secara persentase dari PDB. “Tentu saja itu bukan hal yang kecil,” kata Valdés.
Ini akan menjadi salah satu penyesuaian fiskal terbesar pada masa damai dalam sejarah modern Amerika. Sinyal peringatan mulai muncul di pasar obligasi. Premi yang dulu dimiliki Treasury AS dibanding utang negara maju lainnya semakin menyempit.
“Ini adalah tanda bahwa pasar tidak seoptimis seperti sebelumnya. Semakin lama waktu berlalu, semakin besar tekanan yang bisa Anda hadapi di masa depan,” kata Valdés.
Pasar obligasi menunjukkan kegelisahan, para investor tidak lagi pemaaf seperti dulu terhadap surat utang AS.
Jebakan Subsidi Energi
Krisis di Timur Tengah (Selat Hormuz) memancing pemerintah di berbagai negara untuk memberikan subsidi energi besar-besaran dan pemotongan pajak demi meredam amarah rakyat akibat kenaikan harga BBM. Namun, IMF menyebut langkah ini sebagai alat ekonomi yang beracun."Subsidi energi berbasis luas adalah alat yang buruk. Mereka mendistorsi sinyal harga, mahal secara fiskal, dan sulit untuk dihentikan," ujar Valdés.
IMF menyarankan pemerintah untuk melindungi rakyat, bukan harga-melalui bantuan langsung tunai yang tepat sasaran bagi kelompok rentan, alih-alih memberikan subsidi BBM untuk semua orang.
AI: Cahaya di Ujung Terowongan atau Ancaman Baru?
Di tengah hitung-hitungan angka yang suram, Artificial Intelligence (AI) muncul sebagai kartu liar yang bisa menjadi penyelamat. IMF menyatakan bahwa AI dapat merombak cara pemerintah bekerja dengan meningkatkan produktivitas secara drastis.Memperketat administrasi pajak sehingga kebocoran uang negara berkurang. Hingga memperbaiki layanan kesehatan dan pendidikan secara lebih efisien.
Namun, AI adalah pedang bermata dua. Teknologi ini berisiko memperlebar jurang ketimpangan, mengganggu pasar tenaga kerja, dan menghancurkan basis pajak penghasilan tradisional. "Pertanyaannya, apakah sistem pajak dan perlindungan sosial kita saat ini masih layak untuk masa depan?".
OECD Ramal Ekonomi Global Tumbuh 2,9% pada 2026
OECD memprediksi ekonomi global tumbuh 2,9% pada 2026, dipengaruhi konflik Timur Tengah dan lonjakan harga energi. Pertumbuhan diproyeksi naik ke 3,0% pada 2027. [523] url asal
#ekonomi-global #pertumbuhan-ekonomi #oecd-proyeksi #konflik-timur-tengah #harga-energi #inflasi-global #pertumbuhan-g20 #ekonomi-amerika-serikat #ekonomi-eropa #ekonomi-china #ekonomi-india #ekonomi-i
(Bisnis.Com - Ekonomi) 29/03/26 14:18
v/175672/
Bisnis.com, JAKARTA — Organization for Economic Co-operation and Development alias OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global berada di level 2,9% pada 2026, sebelum merangkak naik sedikit ke 3,0% pada 2027.
Dalam publikasi terbarunya yang bertajuk OECD Economic Outlook, Interim Report: Testing Resilience edisi Maret 2026, lembaga tersebut menyoroti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan Israel-AS ke Iran pada akhir Februari lalu akan menjadi ujian ketahanan ekonomi global.
Lonjakan harga energi dan sifat konflik Timur Tengah yang sulit diprediksi arahnya dinilai akan mengerek biaya dan menekan tingkat permintaan.
Tekanan harga energi dan disrupsi ini pada akhirnya akan menahan atau mengimbangi sejumlah sentimen positif yang sebenarnya tengah menopang perekonomian dunia. Sentimen positif tersebut mencakup kuatnya momentum produksi dan investasi yang berkaitan dengan teknologi, tingkat tarif efektif yang lebih rendah, serta momentum pertumbuhan yang terbawa dari 2025.
Adapun, proyeksi pertumbuhan ekonomi global di level 2,9% pada 2026 itu tidak berbeda dengan perhitungan OECD dalam publikasi periode Desember 2025. Hanya saja, jika dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3% pada 2025 maka proyeksi pada tahun ini turun sebesar 0,4 poin persentase.
Adapun, angka tersebut sudah termasuk proyeksi optimis. Lembaga yang bermarkas di Paris, Prancis itu menjelaskan bahwa proyeksi tersebut didasarkan asumsi bahwa konflik di Timur Tengah tidak berlarut-larut.
"Proyeksi ini bergantung pada asumsi teknis bahwa tingkat gangguan pasar energi saat ini akan mereda seiring waktu, dengan harga minyak, gas, dan pupuk menurun secara bertahap mulai pertengahan tahun 2026 dan seterusnya," tulis OECD dalam laporan, dikutip Minggu (26/3/2026).
Dari sisi pergerakan harga, OECD memproyeksikan inflasi umum (headline inflation) di negara-negara G20 akan menyentuh level 4,0% pada 2026. Angka proyeksi ini lebih tinggi 1,2 poin persentase dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya, yang sebagian besar didorong oleh kenaikan harga energi global.
Lebih lanjut, laju pertumbuhan di negara-negara maju G20 diproyeksikan akan melemah dalam waktu dekat. Pertumbuhan PDB tahunan Amerika Serikat diramal melambat dari 2,1% pada 2025 menjadi 2,0% pada 2026 dan 1,7% pada 2027.
Sementara itu, pertumbuhan kawasan Eropa (Jerman, Prancis, Italia, Spanyol) diyakini melambat dari 1,4% pada 2025 menjadi 0,8% pada 2026 akibat tekanan harga energi yang lebih tinggi.
Di sisi lain, laju ekonomi di negara-negara berkembang G20 juga diproyeksikan sedikit mereda, yang sebagian besar disebabkan oleh laju pertumbuhan di China dan India. Pertumbuhan ekonomi China diestimasikan melambat dari 5,0% pada 2025 menjadi 4,4% pada 2026 dan 4,3% pada 2027; sementara India melambat dari 7,6% pada 2025 menjadi 6,1% pada 2026 dan 6,4% pada 2027.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diramalkan melambat, yaitu berada di level 4,8% pada 2026. Proyeksi PDB Indonesia untuk 2026 tersebut dipangkas sebesar 0,2 poin persentase apabila dibandingkan dengan perkiraan lembaga tersebut pada edisi Desember 2025 (5,0%).
Sementara itu laju perekonomian nasional diestimasikan kembali menguat ke level 5,0% pada 2027.
Dari sisi pergerakan harga, inflasi umum Indonesia diramal akan berada pada level 3,4% di 2026, naik 0,3 poin persentase dari proyeksi periode sebelumnya. Tekanan harga ini diperkirakan bersifat sementara, karena inflasi diproyeksikan akan kembali mereda dan turun menuju level 2,6% pada 2027.
Utang AS Tembus Rp650 Ribu T, IMF Ingatkan Risiko Stabilitas Global
IMF memperkirakan ekonomi AS bakal tumbuh lebih cepat 2026 di tengah risiko kenaikan utang publik semakin besar bagi AS dan ekonomi global. [593] url asal
#amerika-serikat #utang #utang-as #utang-nasional #ekonomi-amerika-serikat #imf #inflasi #imf #joint-economic-committee-united-states-congress #international-monetary-fund #article-iv #the-fed
(CNN Indonesia - Ekonomi) 03/03/26 17:45
v/153658/
Utang nasional Amerika Serikat (AS) terus menanjak dan kini mencapai US$38,56 triliun atau setara dengan Rp650,094 ribu triliun (asumsi kurs Rp16.860 per dolar AS).
Melansir laman resmi Joint Economic Committee United States Congress, total utang nasional bruto (total gross national debt) per 4 Februari tercatat sebesar US$ 83,56 triliun.
Dari jumlah tersebut, utang yang dipegang publik (debt held by the public) mencapai US$30,96 triliun atau senilai Rp521,9 ribu triliun, sedangkan utang intrapemerintah (intragovernmental debt) sebesar US$7,61 triliun, setara Rp128,2 ribu triliun.
Secara tahunan, total utang nasional bruto meningkat US$2,35 triliun atau senilai Rp39,62 ribu triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika dibandingkan lima tahun lalu, lonjakannya mencapai US$10,70 triliun atau setara Rp180,40 ribu triliun.
Dalam setahun terakhir, laju kenaikan utang rata-rata mencapai US$6,43 miliar per hari atau sekitar Rp108,41 triliun per hari.
Kenaikan utang dalam setahun terakhir juga setara dengan tambahan beban sebesar US$6.894,56 per orang atau sekitar Rp116,24 juta per orang serta US$17.401,98 per rumah tangga atau sekitar Rp293,40 juta per rumah tangga.
Secara total, utang nasional bruto kini setara dengan US$113.354 per orang atau sekitar Rp1,91 miliar per orang serta US$286.108 per rumah tangga atau sekitar Rp4,82 miliar per rumah tangga.
Dengan asumsi rata-rata pertumbuhan harian selama tiga tahun terakhir berlanjut, utang AS diperkirakan akan menembus US$39 triliun atau sekitar Rp657,54 ribu triliun sekitar 12 April 2026. Pada laju tersebut, tambahan US$1 triliun berikutnya atau sekitar Rp16,86 ribu triliun diperkirakan tercapai dalam waktu sekitar 154 hari.
Di tengah lonjakan utang tersebut, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi AS masih akan tumbuh lebih cepat tahun ini, namun memperingatkan bahwa kenaikan utang publik menimbulkan "risiko stabilitas yang semakin besar" bagi AS maupun perekonomian global.
Dalam temuan awal konsultasi Article IV, IMF mencatat ekonomi AS menunjukkan kinerja solid sepanjang 2025, ditopang pertumbuhan produktivitas yang kuat meski sempat terdampak penutupan pemerintahan (government shutdown) pada akhir tahun lalu.
IMF menyebut tarif impor mendorong kenaikan inflasi barang, namun inflasi jasa terus melandai. Pasar tenaga kerja juga dinilai tetap mendekati kondisi full employment meski pertumbuhan lapangan kerja melambat. Kondisi keuangan relatif longgar, pasar saham mencetak rekor tertinggi, dan defisit federal sedikit menyempit menjadi 5,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun fiskal 2025.
Pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan naik dari 2,2 persen tahun lalu menjadi 2,4 persen tahun ini. Tekanan inflasi akibat tarif diperkirakan mereda dalam beberapa bulan ke depan, sementara tingkat pengangguran diprediksi bertahan di kisaran 4 persen pada 2026-2027.
Namun demikian, IMF memperkirakan defisit anggaran akan kembali melebar hingga melampaui 6 persen terhadap PDB dalam beberapa tahun mendatang, dengan rasio utang federal terhadap PDB terus meningkat.
IMF memperingatkan jika defisit keseluruhan bertahan di kisaran 7-8 persen terhadap PDB, utang publik dapat melonjak hingga sekitar 140 persen terhadap PDB pada 2031.
Lembaga tersebut menekankan perlunya rencana konsolidasi fiskal yang jelas dan dilakukan lebih awal (front-loaded) untuk menempatkan utang pada jalur menurun.
Terkait kebijakan moneter, IMF menilai bank sentral AS (The Fed) berpotensi melonggarkan kebijakan pada 2025 seiring pelambatan pertumbuhan lapangan kerja dan terbatasnya efek lanjutan dari tarif. Suku bunga acuan federal funds rate (FFR) diperkirakan turun ke kisaran 3,25-3,5 persen pada akhir 2026.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menegaskan ekonomi AS diperkirakan tetap kuat tahun ini dan tahun depan. Namun, ia menekankan kenaikan utang publik yang berkelanjutan tetap menjadi sumber kekhawatiran dan memerlukan langkah kebijakan yang tegas.
Konsumen AS Lebih Optimistis pada Februari, Meski Tekanan Harga Bertahan
Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat yang dirilis The Conference Board naik pada Februari 2026. [697] url asal
#amerika-serikat #as #ekonomi-amerika-serikat #indeks-kepercayaan-konsumen
(Kompas.com - Money) 25/02/26 11:29
v/146720/
KOMPAS.com – Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat yang dirilis The Conference Board naik pada Februari 2026. Indeks bertambah 2,2 poin menjadi 91,2 dengan basis tahun 1985 sama dengan 100. Angka Januari direvisi naik menjadi 89,0.
Kenaikan ditopang perbaikan ekspektasi konsumen terhadap kondisi enam bulan ke depan. Indeks Ekspektasi naik 4,8 poin menjadi 72,0. Indeks Situasi Saat Ini turun 1,8 poin menjadi 120,0.
“Kepercayaan meningkat pada bulan Februari setelah menurun pada bulan Januari, karena ekspektasi pesimistis konsumen terhadap masa depan sedikit mereda,” kata Kepala Ekonom The Conference Board, Dana M Peterson, dilansir dari laman resminya, Rabu (25/2/2026).
“Empat dari lima komponen Indeks menguat. Meskipun demikian, ukuran tersebut tetap jauh di bawah puncak empat tahun yang dicapai pada November 2024 (112,8),” tambahnya.
Penilaian terhadap kondisi bisnis saat ini melemah. Selisih bersih pandangan tentang kondisi bisnis turun menjadi plus 0,7 persen. Persepsi pasar tenaga kerja membaik tipis. Selisih antara responden yang menilai pekerjaan berlimpah dan sulit didapatkan naik 0,6 poin persentase menjadi plus 7,4 persen.
Ekspektasi enam bulan ke depan menunjukkan perbaikan terbatas. Konsumen yang memperkirakan kondisi bisnis membaik naik menjadi 17,6 persen dari 16,5 persen. Responden yang memperkirakan kondisi memburuk turun menjadi 21,0 persen dari 23,7 persen.
Dari sisi lapangan kerja, 15,7 persen responden memperkirakan pekerjaan akan bertambah, naik dari 14,8 persen. Sebanyak 26,1 persen memperkirakan pekerjaan berkurang, turun dari 28,7 persen.
Harapan terhadap pendapatan membaik tipis. Sebanyak 17,3 persen memperkirakan pendapatan meningkat, dari 17,2 persen pada Januari. Responden yang memperkirakan pendapatan turun berkurang menjadi 12,3 persen dari 12,7 persen.
Berdasarkan demografi, konsumen berusia di bawah 35 tahun masih paling optimistis. Kepercayaan kelompok usia 35 tahun ke atas menurun. Berdasarkan generasi, optimisme meningkat pada Generasi Z, sementara generasi lain melemah.
Rata-rata kepercayaan enam bulan terus menurun pada sebagian besar kelompok pendapatan. Berdasarkan afiliasi politik, kepercayaan pemilih Partai Republik dan independen pulih setelah turun pada Januari. Pemilih Partai Demokrat tercatat kurang optimistis.
Peterson menyebut sentimen negatif masih mendominasi komentar responden.
“Komentar tentang harga, inflasi, dan biaya barang tetap menjadi perhatian utama konsumen. Penyebutan perdagangan dan politik juga meningkat pada bulan Februari. Penyebutan pasar tenaga kerja sedikit menurun pada bulan Februari, sementara pengamatan tentang imigrasi sedikit meningkat,” sebutnya.
Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan relatif tidak berubah dan tetap tinggi. Konsumen menilai suku bunga akan bertahan pada level tinggi dalam setahun mendatang. Mayoritas masih memperkirakan harga saham lebih tinggi dalam 12 bulan, meski persentasenya menurun tipis.
Penilaian terhadap kondisi keuangan keluarga saat ini melemah setelah melonjak pada Januari. Ekspektasi kondisi keuangan keluarga ke depan juga kurang optimistis. Responden yang menilai resesi sangat mungkin terjadi dalam 12 bulan turun. Responden yang menilai tidak mungkin meningkat. Penilaian ini tidak masuk dalam perhitungan indeks utama.
Rencana pembelian barang mahal dalam enam bulan ke depan meningkat. Responden yang menjawab ya dan mungkin bertambah. Jawaban tidak berkurang. Mobil bekas, furnitur, televisi, dan ponsel pintar menjadi barang paling diminati.
Rencana pembelian mobil naik dalam rata-rata enam bulan terakhir. Konsumen lebih memilih mobil bekas. Minat membeli mobil baru tidak berubah. Rencana pembelian rumah stagnan pada Februari, tetapi tren enam bulan masih menurun. Angka tersebut tetap lebih tinggi dibanding setahun lalu.
Minat membeli furnitur, televisi, mesin pencuci piring, dan kompor naik tipis. Minat membeli lemari es dan mesin cuci menurun. Tren pembelian ponsel pintar terus meningkat dalam rata-rata enam bulan.
Pengeluaran untuk jasa dalam enam bulan ke depan melemah tipis, tetapi masih kuat. Konsumen mengalokasikan dana untuk kebutuhan rutin dan hiburan berbiaya rendah. Aktivitas mahal dan bersifat opsional mulai dihindari.
Kategori restoran, bar, dan makanan siap saji tetap menjadi pengeluaran utama dan naik 0,1 persen pada Februari. Niat belanja untuk layanan streaming, internet dan seluler, kecantikan, serta hotel atau motel untuk perjalanan pribadi menurun. Rencana liburan enam bulan ke depan turun, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional.
Survei Kepercayaan Konsumen dilakukan setiap bulan oleh The Conference Board melalui perusahaan riset Toluna. Batas akhir pengumpulan data untuk edisi Februari jatuh pada 17 Februari 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangTrump Serukan Era Keemasan AS saat Bacakan Pidato Kenegaraan
Donald Trump klaim AS memasuki era keemasan dalam pidato kenegaraan, meski hadapi penurunan dukungan publik dan tantangan kebijakan menjelang pemilu paruh waktu. [559] url asal
#trump-era-keemasan #pidato-kenegaraan-trump #ekonomi-amerika-serikat #dukungan-publik-trump #pemilu-paruh-waktu #kebijakan-luar-negeri-trump #tarif-impor-amerika #partai-demokrat-oposisi #penciptaan-l
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/02/26 09:48
v/146574/
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Negeri Paman Sam memasuki era keemasan saat membela rekam jejak ekonominya dalam pidato kenegaraan (State of the Union) di tengah merosotnya dukungan publik jelang pemilu paruh waktu.
Dalam pidatonya pada Selasa (24/2/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat berada dalam kondisi terbaiknya.
“Negara kita kembali lebih besar, lebih baik, lebih kaya, dan lebih kuat dari sebelumnya. Anda belum melihat apa-apa. Kita akan semakin baik. Ini adalah Era Keemasan Amerika," kata Trump dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/2/2026).
Pidato tersebut disampaikan pada momen krusial bagi pemerintahan Trump. Dia menghadapi penurunan tingkat kepuasan publik, sejumlah ketegangan kebijakan luar negeri—termasuk ancaman aksi militer terhadap Iran—serta pukulan terhadap kebijakan tarif andalannya yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Pernyataan Trump, serta respons dari Partai Demokrat, dinilai akan menentukan arah kontestasi pemilu paruh waktu yang berpotensi mengakhiri dominasi Partai Republik di DPR dan Senat.
Oposisi Partai Demokrat mendapat momentum seiring menurunnya penilaian publik terhadap penanganan ekonomi Trump, dipicu kekhawatiran atas tingginya harga dan dampak tarif.
Untuk membalikkan sentimen tersebut, Gedung Putih menyatakan Trump akan menyoroti upaya penciptaan lapangan kerja, komitmen investasi asing dan swasta senilai triliunan dolar, serta langkah-langkah menekan harga, termasuk obat resep.
Trump juga mendorong pembatasan pembelian rumah tapak oleh investor institusi dan meminta Kongres meloloskan legislasi terkait, serta mengusulkan agar perusahaan teknologi menanggung porsi biaya energi yang lebih besar.
Presiden AS itu mendesak Demokrat memulihkan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan menyoroti intervensi AS di Belahan Barat, termasuk serangkaian serangan militer terhadap kapal yang diduga terlibat perdagangan narkotika serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Secara umum, Trump diperkirakan memanfaatkan panggung pidato untuk mengklaim keberhasilan ketimbang menawarkan koreksi arah kebijakan.
Dia juga mengangkat tema patriotisme menjelang peringatan 250 tahun kemerdekaan AS dan menghadirkan sejumlah peraih medali emas Olimpiade, termasuk anggota tim hoki es putra AS.
“Ini benar-benar titik balik bersejarah. Dan kita tidak akan pernah kembali ke kondisi beberapa waktu lalu. Kita tidak akan mundur,” tegasnya.
Di tengah sorotan isu keterjangkauan harga, Trump dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan frustrasi terhadap hasil jajak pendapat. Dia bahkan mengklaim telah menang dalam isu tersebut, pernyataan yang memicu kegelisahan di kalangan sekutunya.
Hubungan Trump dengan sejumlah pihak, termasuk Mahkamah Agung, juga memanas. Dia mengkritik hakim—termasuk dua yang ia nominasikan—yang ikut membatalkan kebijakan tarifnya. Sejak putusan itu, pemerintahannya berupaya merancang skema tarif pengganti, memicu ketidakpastian di kalangan mitra dagang utama AS.
Sejumlah inisiatif yang diumumkan Trump dinilai masih membutuhkan persetujuan Kongres atau memiliki cakupan lebih terbatas dibandingkan klaimnya. Upaya menekan biaya hidup, seperti usulan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10%, juga belum menunjukkan kemajuan signifikan di Capitol Hill.
Pidato kali ini mengingatkan pada situasi empat tahun lalu ketika Presiden saat itu, Joe Biden, menghadapi tekanan serupa akibat inflasi tinggi dan konflik global. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa menurunkan harga bukan perkara mudah.
Trump sendiri menepis hasil survei opini publik dan menunjuk harga bensin serta telur sebagai indikator utama. Dia juga menyatakan akan mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya dengan harapan dapat memangkas suku bunga secara agresif untuk mendorong pertumbuhan—langkah yang berisiko kembali memicu inflasi.
Terlepas dari kemegahan seremoni State of the Union, pidato tersebut tetap menjadi panggung penting bagi Trump untuk berbicara langsung kepada pemilih, mengonsolidasikan basis pendukung, serta mengarahkan ulang pesan Partai Republik menjelang pemilu—jika ia tetap berpegang pada naskah yang disiapkan.
Bergaji Rp540 Juta per Tahun, Warga Kelas Pekerja AS Berbondong-bondong Gabung Militer
Pada tahun 2025, militer AS mempekerjakan sekitar 1,3 juta personel aktif dan sekitar 760.000 personel cadangan di seluruh cabangnya, menurut angka yang dirilis... | Halaman Lengkap [1,697] url asal
#amerika-serikat #perang #tank-amerika-serikat #tentara-amerika-serikat #ekonomi-amerika-serikat
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 23/02/26 21:21
v/144936/
WASHINGTON - Pada tahun 2025, militer AS mempekerjakan sekitar 1,3 juta personel aktif dan sekitar 760.000 personel cadangan di seluruh cabangnya, menurut angka yang dirilis oleh Departemen Pertahanan (DoD). Sejak itu, angka-angka tersebut terus meningkat lebih jauh.Setelah beberapa dekade mengalami penurunan setelah berakhirnya wajib militer, jumlah pendaftaran mulai meningkat kembali. Pentagon melaporkan 146.473 rekrutan baru pada tahun fiskal 2024 – menandai peningkatan sekitar 14 persen dibandingkan dengan tahun 2022 – dan para pejabat perekrutan mengatakan mereka berada di jalur yang tepat untuk memenuhi atau melampaui target mereka pada tahun 2025.
Menurut para pengamat, peningkatan ini tidak serta merta menandakan kepercayaan publik yang diperbarui atau lonjakan semangat patriotik. Sebaliknya, hal ini terjadi di tengah tekanan ekonomi yang berkepanjangan di berbagai sektor di negara tersebut.
Melansir Press TV, pendapatan rumah tangga rata-rata sebagian besar stagnan sepanjang tahun 2010-an dan awal 2020-an, sementara harga rumah dan biaya kuliah naik jauh lebih cepat daripada upah.
Tanda-tanda tradisional keamanan kelas menengah – rumah, gelar sarjana, pekerjaan yang stabil – semakin sulit dicapai oleh banyak keluarga.
Dalam iklim ini, angkatan bersenjata menonjol sebagai salah satu dari sedikit lembaga yang menawarkan pendapatan terjamin, perawatan kesehatan bersubsidi, dan manfaat pendidikan yang substansial.
Bagi kaum muda di komunitas yang mengalami tekanan ekonomi, pendaftaran seringkali tampak kurang sebagai panggilan daripada keputusan yang diperhitungkan. Secara resmi, dinas militer bersifat sukarela. Namun, dalam praktiknya, ketika jalur karier sipil menyempit dan mobilitas sosial ke atas menurun, garis antara kesempatan dan paksaan ekonomi dapat semakin kabur.
Dari mana asal rekrutan Amerika?
Pengamatan lebih dekat terhadap rekrutmen militer AS mengungkapkan pola yang konsisten. Para rekrutan baru sebagian besar berasal dari kota-kota kelas pekerja dan daerah pedesaan, bukan dari pinggiran kota yang makmur atau komunitas universitas elit.Pengisian personel angkatan bersenjata paling banyak terjadi di daerah-daerah di mana peluang ekonomi terbatas.
Pada tahun 2023, sekitar 63 persen rekrutan aktif baru berasal dari daerah non-perkotaan – persentase tertinggi sejak setidaknya tahun 2010.
Banyak daerah pedesaan, yang menghadapi upah stagnan, industri yang menyusut, dan akses terbatas ke pendidikan tinggi, kini memasok sebagian besar personel. Dinas militer di daerah-daerah ini seringkali merupakan salah satu dari sedikit lembaga yang menawarkan gaji, perawatan kesehatan, dan bantuan biaya kuliah yang dapat diprediksi.
Profil demografis menggarisbawahi kesenjangan ini. Sekitar 87 persen dari rekrutan baru pada tahun 2023 berusia 18 hingga 24 tahun, dengan usia median 21 tahun. Sebagian besar masuk hanya dengan ijazah sekolah menengah atas atau yang setara (82-85 persen), sementara hanya sebagian kecil yang memiliki pengalaman kuliah.
Mereka adalah kaum muda yang baru memulai kehidupan kerja mereka, seringkali dengan daya tawar yang terbatas di pasar tenaga kerja yang gagal menyediakan alternatif yang stabil.
Meskipun Pentagon tidak mempublikasikan data rinci tentang pendapatan keluarga rekrutan, data proksi pendapatan rumah tangga yang tersedia menunjukkan bahwa banyak yang berasal dari komunitas di mana pendapatan median berada di bawah rata-rata nasional.
Ketidakseimbangan regional ini sudah berlangsung lama. Negara-negara bagian Selatan menyumbang sekitar 40 persen dari personel militer AS, lebih banyak daripada wilayah lain dan jauh di atas bagian mereka dari populasi nasional.
Sebaliknya, sebagian besar wilayah Timur Laut dan Midwest Atas tetap kurang terwakili dalam angka perekrutan. Perbedaan ini mencerminkan kesenjangan ekonomi yang lebih luas.
Sebagian wilayah Selatan dan pedesaan Amerika terus tertinggal dalam penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan upah, dan kesempatan pendidikan. Bagi banyak orang, bergabung dengan militer bukanlah pilihan karier. Ini adalah salah satu dari sedikit pilihan stabil yang tersisa.
Mengapa ketidaksetaraan ekonomi membuat dinas militer menarik?
Bagi banyak anak muda Amerika tanpa kekayaan keluarga atau gelar sarjana, bergabung dengan militer bukanlah ekspresi patriotisme, melainkan perhitungan finansial. Pasar tenaga kerja sipil menarik garis tajam berdasarkan pendidikan, dan mereka yang berada di sisi yang salah dari perbedaan itu menghadapi peluang yang semakin menyempit.Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyoroti kesenjangan tersebut. Pada tahun 2024, orang dewasa berusia 25 tahun ke atas dengan hanya ijazah sekolah menengah atas memperoleh upah mingguan rata-rata $930. Mereka yang memiliki gelar sarjana memperoleh $1.543 per minggu – lebih dari 65 persen lebih tinggi.
Pekerja tanpa ijazah SMA hanya memperoleh $738 per minggu dan menghadapi tingkat pengangguran yang lebih tinggi. Angka-angka ini menunjukkan dengan jelas bahwa pendidikan tidak hanya menentukan pendapatan tetapi juga stabilitas ekonomi.
Namun, pendidikan tinggi semakin sulit diakses oleh keluarga yang paling membutuhkannya. Biaya kuliah telah meningkat untuk puluhan tahun berlalu dengan laju yang jauh melebihi pertumbuhan upah. Meskipun lulusan perguruan tinggi rata-rata mendapatkan penghasilan lebih tinggi, biaya awal – yang sering kali dibiayai melalui utang – menghalangi banyak mahasiswa dari kalangan pekerja. Janji mobilitas datang dengan risiko finansial yang tidak mampu ditanggung banyak orang.
Dengan latar belakang ini, militer menawarkan kepastian. Sejak hari pertama bertugas, rekrutan menerima gaji tetap, jaminan kesehatan, tunjangan perumahan, dan jenjang karier yang terstruktur. Manfaat pendidikan tetap menjadi daya tarik yang kuat.
Berdasarkan Undang-Undang GI Pasca-9/11, anggota militer yang memenuhi syarat pada tahun 2023 dapat menerima hingga $26.094 per tahun dalam bentuk bantuan biaya kuliah. Survei Angkatan Darat dari tahun 2023 menunjukkan bahwa dukungan biaya kuliah dan bonus pendaftaran merupakan faktor utama dalam keputusan banyak rekrutan untuk bergabung.
Ketika jalur sipil menuju pekerjaan yang stabil tampak terblokir – terutama di wilayah yang mengalami kesulitan ekonomi – angkatan bersenjata menonjol sebagai salah satu dari sedikit lembaga yang menawarkan pendapatan langsung dan jalur pendidikan yang jelas.
Dalam sistem di mana kesempatan semakin dibatasi oleh kekayaan dan geografi, dinas militer berfungsi sebagai katup pengaman. Ketidaksetaraan ekonomi tidak hanya berdampingan dengan pola perekrutan; tetapi juga membantu mempertahankannya.
Bagaimana kebijakan pemerintah mempertahankan sistem ini?
Militer AS modern tidak bergantung pada sukarelawan yang datang dengan sendirinya. Militer bergantung pada kebijakan perekrutan yang berkelanjutan dan mahal yang dirancang untuk bersaing di pasar tenaga kerja di mana peluang sipil tidak merata dan seringkali tidak stabil.Antara tahun 2022 dan 2024, Departemen Pertahanan dan masing-masing cabang layanan menghabiskan lebih dari $6 miliar untuk perekrutan dan retensi. Peningkatan ini terjadi setelah kekurangan pendaftaran berulang dan mendanai bonus penandatanganan, pembayaran retensi, kampanye iklan, dan perluasan jangkauan perekrut, sebuah sinyal jelas bahwa mempertahankan tingkat kekuatan membutuhkan intervensi keuangan yang berkelanjutan.
Insentif tunai telah menjadi inti dari model ini. Pada tahun 2023, bonus pendaftaran rata-rata sekitar $12.000 di seluruh layanan, dengan beberapa mencapai $50.000 untuk bidang yang sangat dibutuhkan seperti operasi siber, teknik, dan spesialisasi medis.
Personel tingkat pemula juga berhak atas tunjangan perumahan rata-rata sekitar $1.400 per bulan, tambahan yang substansial di daerah-daerah di mana biaya sewa menghabiskan sebagian besar pendapatan.
Manfaat pendidikan tetap menjadi landasan kebijakan perekrutan. Undang-Undang GI Bill Pasca-9/11 terus memberikan dukungan biaya kuliah hingga $26.094 per tahun untuk anggota layanan yang memenuhi syarat pada tahun 2023.
Pada saat mahasiswa sipil sering lulus dengan beban hutang, manfaat ini dipromosikan sebagai jalur bebas hutang menuju pendidikan tinggi, sebuah kontras yang disengaja dan efektif.
Kongres telah memperkuat upaya ini melalui alokasi anggaran dan penyesuaian legislatif. Dalam pendanaan pertahanan tahun fiskal 2025, para pembuat undang-undang mengalokasikan puluhan juta dolar khusus untuk bonus pendaftaran dan retensi.
Kelayakan untuk tunjangan kebutuhan dasar diperluas, dan insentif tambahan ditargetkan untuk personel berpangkat rendah. Langkah-langkah ini mencerminkan pengakuan Washington bahwa kesenjangan perekrutan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pesan saja – hal itu membutuhkan insentif ekonomi langsung yang tertanam dalam struktur gaji dan pengeluaran federal.
Strategi perekrutan juga telah berevolusi melampaui imbalan finansial. Layanan tersebut memperluas jangkauan digital, mengintensifkan iklan yang ditargetkan, dan meningkatkan investasi dalam staf dan pelatihan perekrut.
Setelah pandemi COVID-19 mengganggu saluran perekrutan tradisional, termasuk kunjungan sekolah dan acara publik, militer beralih secara signifikan ke platform online dan pemasaran berbasis data untuk mempertahankan jalur perekrutannya.
Siapa yang menanggung biaya sosial jangka panjang?
Meskipun pendaftaran dapat memberikan stabilitas ekonomi jangka pendek, hasil sosial dan ekonomi jangka panjang bagi banyak veteran militer AS tidak merata dan seringkali penuh dengan tantangan yang berkelanjutan.Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, tingkat pengangguran keseluruhan untuk veteran pada tahun 2025 berkisar sekitar 3,8 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional.
Namun, angka agregat ini menyembunyikan perbedaan signifikan dalam subkelompok. Para veteran muda dan veteran pasca-9/11 mengalami tingkat pengangguran di atas 5 persen, dan veteran perempuan mengalami tingkat yang lebih tinggi daripada rekan-rekan sipil mereka.
Volatilitas tersebut mencerminkan kesulitan yang dihadapi beberapa mantan anggota militer dalam transisi ke pasar kerja sipil yang tidak selalu mengakui atau menghargai pengalaman militer.
Hasil pekerjaan juga sangat bervariasi berdasarkan pekerjaan dan pangkat. Data dari proyek Hasil Pekerjaan Veteran (VEO) Biro Sensus AS menunjukkan bahwa veteran dengan pelatihan khusus, seperti intelijen operasional atau operasi sistem tak berawak, seringkali memperoleh lebih dari $50.000 pada tahun pertama setelah masa dinas mereka.
Yang lain, khususnya veteran infanteri, melihat pendapatan rata-rata mendekati USD33.000. Menyoroti bagaimana prospek ekonomi sangat bergantung pada jenis peran militer yang dijalankan.
Di luar pekerjaan, para veteran menghadapi hasil kesehatan dan kesejahteraan yang tidak setara. Data survei menunjukkan bahwa sebagian besar melaporkan kesehatan fisik yang lebih buruk dan tantangan kesehatan mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum.
Perkiraan yang diterbitkan pada tahun 2026 menunjukkan sekitar 20 persen veteran dinyatakan positif mengalami kondisi kesehatan mental yang parah, termasuk gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan depresi berat. Veteran juga 1,2 kali lebih mungkin meninggal karena bunuh diri daripada non-veteran, dengan sekitar 6.500 kasus bunuh diri veteran dilaporkan pada tahun 2022.
Tekanan ekonomi meluas ke keluarga dan komunitas veteran. Penelitian dari akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar setengah dari sekitar 200.000 anggota layanan yang beralih ke kehidupan sipil setiap tahunnya memasuki pekerjaan yang berbeda dari peran militer mereka dalam tahun pertama, dengan banyak yang mengalami kurangnya lapangan kerja.
Ketidaksesuaian ini berkontribusi pada tekanan ekonomi pribadi dan biaya sosial yang lebih luas, termasuk penurunan produktivitas regional dan hilangnya kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan veteran di sektor sipil.
Biaya sosial jangka panjang dari sistem ini berlapis-lapis. Meskipun beberapa veteran mendapatkan pekerjaan yang stabil dan memanfaatkan pengalaman militer untuk kesuksesan di masa depan, banyak yang menghadapi transisi yang terhambat, beban kesehatan, dan kurangnya pengakuan ekonomi.
Hasil ini menyebar ke luar, memengaruhi keluarga, ekonomi lokal, dan komunitas, seringkali di wilayah dengan sedikit jalur alternatif untuk mobilitas ekonomi.
Apa yang dimulai sebagai solusi untuk keterbatasan kesempatan dapat, bagi banyak anggota militer dan komunitas mereka, menjadi perjuangan terus-menerus untuk stabilitas dan pengakuan jauh setelah seragam dilepas.
Aset Potensial untuk Hadapi Inflasi di 2026
Ekonomi Amerika Serikat (AS) sedang memasuki era baru di mana dominasi fiskal semakin menonjol. [641] url asal
Jakarta: Ekonomi Amerika Serikat (AS) sedang memasuki era baru di mana dominasi fiskal semakin menonjol. AS alami defisit yang persisten dan utang yang terus meningkat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pembiayaan pemerintah akan mengaburkan kebijakan moneter.Setiap pelemahan kemandirian Federal Reserve, baik yang nyata maupun yang dirasakan, dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi dan memaksa pasar untuk menuntut premi risiko yang lebih tinggi.
Chief Investment Officer Bank DBS Hou Wey Fook menjelaskan pelonggaran fiskal dan moneter yang terus berlanjut tanpa kendali akan membuat tekanan harga akan semakin meningkat. Hal ini karena ketidakhadiran kerangka fiskal yang komprehensif untuk mengendalikan utang publik, bukan tarif atau kendala pasokan, merupakan pendorong utama inflasi.
“Bagi investor, ini bukan sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan praktis. Melindungi nilai portofolio berarti berinvestasi pada aset riil. Infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia secara historis berkinerja lebih baik selama siklus inflasi, sehingga menjadi elemen yang tak tergantikan dalam strategi saat ini,” tegas dia.
Namun, inflasi bukanlah satu-satunya pergeseran struktural yang membentuk kembali pasar. Deglobalisasi yang dipercepat oleh kebijakan proteksionis seperti “America First” telah menimbulkan dua dampak negatif yaitu aliran perdagangan yang melemah dan biaya produksi yang lebih tinggi.
Valuasi ekuitas global telah meningkat secara signifikan sejak aksi jual “Liberation Day”, sehingga dibutuhkan pendekatan yang lebih terarah di 2026. Kami menyarankan untuk fokus pada pasar yang diperdagangkan dengan diskon valuasi yang tajam dan sektor-sektor yang didukung oleh penggerak pertumbuhan jangka panjang.
Pasar Asia di luar Jepang tetap menjadi pilihan utama di tengah pelemahan dolar dan valuasi yang menarik. Indeks DXY diperkirakan mencapai sekitar 94,8 pada kuartal keempat 2026, yang secara historis mendorong kinerja saham Asia melalui aliran modal masuk, biaya utang USD yang lebih rendah, dan harga komoditas yang lebih tinggi. Asia di luar Jepang diperdagangkan dengan diskon 32,4% dibandingkan pasar negara maju, dengan proyeksi pertumbuhan laba sebesar 18,9% di 2026.
“Kami juga menyukai saham pertahanan Eropa, seiring komitmen NATO untuk memodernisasi persenjataan dalam beberapa tahun ke depan (multi-year rearmament), yang mendorong pertumbuhan laba sebesar 24% dibandingkan 10% untuk pasar secara keseluruhan," tegas dia.
Terakhir, kami merekomendasikan paparan pada perusahaan adaptor AI yang memanfaatkan teknologi untuk efisiensi dan profitabilitas, dengan perusahaan berkapitalisasi besar lebih siap untuk skala dan menangkap keuntungan produktivitas.
Gencatan perdagangan dan penurunan suku bunga menjadi angin positif yang mendorong prospek makro komoditas lebih optimistis di 2026, meskipun tarif yang terus ada menuntut selektivitas. Logam industri, terutama tembaga dan unsur tanah jarang, tampak berada di posisi yang baik mengingat pentingnya secara strategis.
Permintaan kuat dari bank sentral dan arus masuk ETF diperkirakan akan menopang harga hingga 2026. Pada aset privat, kami menurunkan peringkat kredit privat menjadi netral karena spread yang terkompresi membuat timbal balik likuiditas (trade-off) kurang menarik. Sampai valuasi membaik, pertimbangkan strategi beta-neutral seperti hedge fund, yang menawarkan diversifikasi lebih baik dan potensi alpha di lingkungan saat ini.
Peluang Diversifikasi
Seperti yang telah disinggung di atas, dengan The Fed beralih ke pemotongan suku bunga dalam lingkungan non-resesi, tekanan harga kemungkinan akan terus meningkat. Aset riil tetap menjadi lindung nilai paling efektif terhadap inflasi yang persisten.“Dengan membandingkan kinerja relatif perak dan S&P 500 sebagai proxy untuk aset riil dan aset keuangan yang lebih luas masing-masing, kita melihat posisi investor telah mencapai tingkat ekstrem, menciptakan peluang untuk diversifikasi. Singkatnya, memasukkan aset riil yang tangible merupakan langkah strategis dibandingkan sekadar langkah defensif,” tegas dia.
Akhirnya, kualitas itu penting. Aliran modal spekulatif ke sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pasca Hari Kemerdekaan telah mendorong saham-saham berisiko tinggi (high beta) ke level yang sangat tinggi, didukung oleh aliran dana ke ETF yang menggunakan leverage.
Pasar kredit juga mencerminkan kisah serupa, dengan kinerja unggul obligasi berimbal hasil tinggi (high yield) yang telah mencapai batasnya. Untuk kuartal-kuartal mendatang, ketahanan akan berasal dari fokus pada kualitas, yang mengarah pada rekomendasi kami untuk memprioritaskan saham-saham berkualitas dan obligasi dengan peringkat investasi (investment grade).
(SAW)
Rupiah Berpotensi Menguat Seiring Trump Buka Penyelidikan atas Powell
Respons pasar terhadap isu independensi bank sentral AS mendorong fluktuasi rupiah. [305] url asal
#nilai-tukar-rupiah #dolar-as #federal-reserve #jerome-powell #penyelidikan-kriminal #ekonomi-amerika-serikat #intervensi-bank-sentral #volatilitas-rupiah #data-ekonomi #pasar-tenaga-kerja
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin (12/1/2026), bergerak melemah 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp 16.847 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.819 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan kurs rupiah berpotensi menguat seiring pemerintahan Amerika Serikat (AS) membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell.
“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam, sehingga rupiah berpotensi menguat,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Mengutip Xinhua, Federal Reserve mengonfirmasi pada Ahad (11/1/2026) malam bahwa jaksa federal AS sedang menyelidik Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral senilai miliaran dolar.
Dalam pernyataan publik yang diunggah di situs web Federal Reserve, Powell mengatakan Departemen Kehakiman pada Jumat (9/1) telah mengirimkan surat panggilan pengadilan kepada The Fed yang “mengancam dakwaan pidana terkait kesaksian saya di hadapan Komite Perbankan Senat Juni lalu. Kesaksian itu sebagian berkaitan dengan proyek multitahun untuk merenovasi gedung-gedung kantor Federal Reserve yang bersejarah.”
Menurut Ketua The Fed, tindakan tersebut yang belum pernah terjadi sebelumnya harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari tekanan berkelanjutan pemerintah.
“Tindakan ini dianggap sebagai intervensi atas independensi bank sentral The Fed. Saat ini, reaksi pasar cukup besar, namun bisa juga hanya sesaat. Rupiah bisa volatil ke dua arah,” kata Lukman.
Di sisi lain, data ekonomi AS secara umum masih lebih kuat dari perkiraan.
Tercatat, pasar tenaga kerja menambah 50 ribu lapangan kerja, di bawah ekspektasi 60 ribu. Namun, tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen pada Desember 2025, lebih rendah dari perkiraan 4,5 persen.
Data izin pembangunan perumahan AS juga naik menjadi 1,41 juta dari ekspektasi 1,35 juta. Begitu pula dengan tingkat kepercayaan konsumen yang mencapai 54, lebih kuat dari estimasi 53,5.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56