#30 tag 24jam
Vietnam Bidik Pertumbuhan Ekonomi 11,9 Persen di Semester II 2026
Pemerintah Vietnam menaikkan ambisi pertumbuhan ekonominya dengan membidik ekspansi produk domestik bruto (PDB) sebesar 11,9 persen. [610] url asal
#vietnam #pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-vietnam #pertumbuhan-ekonomi-vietnam #ekspor-vietnam
(Kompas.com - Money) 29/06/26 18:43
v/262836/
HANOI, KOMPAS.com – Pemerintah Vietnam menaikkan ambisi pertumbuhan ekonominya dengan membidik ekspansi produk domestik bruto (PDB) sebesar 11,9 persen pada paruh kedua 2026.
Target tersebut disiapkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit sepanjang tahun ini.
Dikutip dari The Investor, Selasa (30/6/2026), target baru itu muncul setelah pemerintah Vietnam memperbarui skenario pertumbuhan ekonomi sekaligus menyusun berbagai langkah percepatan pada sisa tahun.
Pexels.com/??t Nguy?n Bendera Vietnam.Pemerintah menilai perekonomian masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi meski menghadapi ketidakpastian global.
Dalam skenario terbaru yang dipaparkan pemerintah, Vietnam menargetkan pertumbuhan PDB tahunan mencapai sekitar 10 persen pada 2026. Untuk mencapainya, pertumbuhan ekonomi Vietnam pada enam bulan kedua harus mencapai sekitar 11,9 persen.
Pemerintah Vietnam juga menyusun dua skenario pertumbuhan.
Skenario pertama menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 10 persen, sedangkan skenario kedua menempatkan target yang lebih tinggi apabila kondisi ekonomi domestik maupun global mendukung.
Kedua skenario tersebut akan menjadi dasar penyusunan kebijakan fiskal, moneter, investasi, dan perdagangan pada sisa tahun.
Data pemerintah menunjukkan ekonomi Vietnam tumbuh 7,83 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, melambat dibandingkan pertumbuhan 8,46 persen pada kuartal IV-2025.
Meski demikian, laju tersebut masih ditopang oleh sektor manufaktur, konstruksi, dan jasa.
Ekspor juga tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi. Nilai ekspor Vietnam pada kuartal I 2026 meningkat 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
PEXELS/HUGO HEIMENDINGER Ilustrasi bendera Vietnam.Sementara itu, realisasi investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) mencapai 5,41 miliar dollar AS atau meningkat 9,1 persen secara tahunan.
Arus investasi tersebut didorong oleh diversifikasi rantai pasok global di tengah perubahan aturan perdagangan internasional.
Fokus pada investasi dan konsumsi domestik
Untuk mengejar target pertumbuhan tersebut, pemerintah Vietnam menginstruksikan kementerian dan pemerintah daerah mempercepat pencairan investasi publik, mendorong konsumsi domestik, memperkuat ekspor, serta memperbaiki iklim investasi.
Selain itu, mengutip VnEconomy, pemerintah Vietnam meminta percepatan penyelesaian proyek infrastruktur strategis, termasuk jaringan transportasi, logistik, energi, dan transformasi digital yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas ekonomi.
Dalam pembaruan skenario ekonomi, pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi, mengendalikan inflasi, memastikan pasokan energi, serta menjaga kelancaran aktivitas produksi dan perdagangan.
Berbagai kementerian diminta mempercepat reformasi administrasi, memangkas prosedur perizinan, serta mengatasi hambatan investasi yang masih mengganggu dunia usaha.
Pemerintah siapkan sejumlah langkah
Dalam dokumen pembaruan skenario pertumbuhan ekonomi, pemerintah Vietnam merinci sejumlah langkah utama yang akan dijalankan pada sisa tahun.
Langkah tersebut meliputi percepatan penyaluran investasi publik, peningkatan efektivitas belanja pemerintah, penguatan sektor industri pengolahan dan manufaktur, pengembangan ekonomi digital, serta peningkatan daya saing ekspor.
KOMPAS.com/DIO DANANJAYA Kondisi lalu lintas di jalanan Kota Hanoi, Vietnam pada Mei 2024.Pemerintah juga akan memperkuat pengembangan pasar domestik untuk menopang konsumsi masyarakat sekaligus memperluas akses pasar ekspor melalui berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah dimiliki Vietnam.
Di sisi lain, otoritas tetap diminta menjaga stabilitas nilai tukar, sistem keuangan, serta menciptakan kondisi yang kondusif bagi dunia usaha agar target pertumbuhan tetap dapat dicapai.
Ketidakpastian global tetap menjadi tantangan
Meski memasang target yang lebih tinggi, pemerintah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan eksternal yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Risiko tersebut antara lain berasal dari perlambatan ekonomi global, ketegangan perdagangan internasional, dinamika geopolitik, serta perubahan rantai pasok dunia yang dapat memengaruhi permintaan ekspor Vietnam.
Karena itu, pemerintah meminta seluruh kementerian dan pemerintah daerah memperkuat koordinasi pelaksanaan kebijakan agar berbagai hambatan terhadap investasi, produksi, dan perdagangan dapat segera diselesaikan.
Pemerintah juga menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi dua digit pada 2026 sekaligus menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah kondisi global yang masih bergejolak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
HANOI, KOMPAS.com - Perekonomian Vietnam memasuki 2026 dengan fondasi yang relatif solid, namun dibayangi tekanan global yang kian meningkat.
Data terbaru menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) Vietnam pada kuartal I 2026 tumbuh 7,83 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan 8,46 persen pada kuartal IV 2025.
Perlambatan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan biaya, terutama dari sektor energi. Kenaikan harga input produksi dan energi disebut menjadi faktor utama yang menahan laju ekspansi ekonomi pada awal tahun.
PEXELS/HUGO HEIMENDINGER Ilustrasi bendera Vietnam.Meski demikian, capaian tersebut masih mencerminkan ketahanan aktivitas ekonomi domestik dan eksternal Vietnam di tengah gejolak global.
Sejumlah indikator pendukung turut menunjukkan kinerja yang tetap kuat. Ekspor Vietnam pada kuartal I 2026 tercatat meningkat 19,1 persen, sementara penjualan ritel tumbuh 10,9 persen secara tahunan.
Namun, tekanan inflasi mulai terlihat, dengan indeks harga konsumen (CPI) pada Maret 2026 naik 4,65 persen, didorong lonjakan biaya transportasi yang meningkat lebih dari 10 persen.
Dalam konteks ini, Chief Economist VinaCapital Michael Kokalari menilai, tanpa langkah kebijakan yang tegas, tekanan dari kenaikan harga energi berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Vietnam.
Laporan analisis yang ia sampaikan menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Vietnam berpotensi terpangkas sekitar 1,5 poin persentase apabila lonjakan harga energi tidak diimbangi dengan intervensi yang memadai.
Lonjakan harga minyak dan risiko inflasi
SHUTTERSTOCK/MASSIMO VERNICESOLE Ilustrasi harga minyakTekanan utama berasal dari kenaikan harga energi global. Harga minyak mentah Brent diperkirakan meningkat sekitar 25 persen, dari 70 dollar AS pada 2025 menjadi sekitar 87 dollar AS per barrel pada 2026, atau setara sekitar Rp 1,48 juta per barrel (asumsi kurs Rp 16.994 per dollar AS).
Kenaikan ini menjadi faktor kunci yang mendorong inflasi. Proyeksi menunjukkan, inflasi Vietnam dapat meningkat dari sekitar 3,5 persen pada 2025 menjadi 5 sampai 5,5 persen pada 2026.
Menurut Kokalari, dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi di Vietnam cukup signifikan. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat mendorong inflasi sekitar 0,5 poin persentase.
Namun, dampak tersebut tidak hanya bersifat langsung. Kenaikan biaya energi juga memicu efek berantai terhadap sektor lain, termasuk transportasi dan produksi, yang pada akhirnya memperbesar tekanan harga secara keseluruhan.
Selain energi, harga komoditas lain seperti pupuk juga mengalami kenaikan. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi di sektor pertanian dan berpotensi mendorong kenaikan harga pangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan inflasi pangan sempat tertahan oleh lemahnya ekonomi China, namun kini risiko meningkat seiring potensi penimbunan komoditas.
Akumulasi berbagai faktor tersebut diperkirakan dapat menambah sekitar 2 poin persentase terhadap inflasi headline, jika tidak ada intervensi signifikan dari pemerintah.
Dampak ke konsumsi dan sistem keuangan
Kenaikan inflasi berpotensi langsung menekan daya beli masyarakat.
Respons konsumsi di Vietnam dinilai cukup sensitif terhadap kenaikan harga, sehingga lonjakan biaya energi dan pangan dapat mengurangi belanja rumah tangga.
Di sisi lain, tekanan juga muncul pada sektor keuangan. Likuiditas perbankan yang sudah relatif ketat, yang ditandai dengan pertumbuhan kredit yang melampaui pertumbuhan simpanan sekitar 5 poin persentase, menjadi semakin tertekan akibat kenaikan harga energi.
Akibatnya, suku bunga simpanan untuk tenor 12 bulan telah melampaui 8 persen di banyak bank.
Pexels.com/??t Nguy?n Bendera Vietnam."Kondisi ini mendorong pergeseran dana dari pasar saham ke deposito, yang berpotensi mempengaruhi dinamika pasar keuangan domestik," ujar Kokalari, dikutip dari laman Vietnam Investment Review, Minggu (5/4/2026).
Sektor riil mulai tertekan
Dampak kenaikan biaya energi juga mulai terlihat pada sektor riil.
Maskapai penerbangan di Vietnam dilaporkan telah mengurangi frekuensi penerbangan sekitar 20 persen sebagai respons terhadap kenaikan biaya bahan bakar.
Di sisi lain, pemerintah telah mengambil langkah untuk meredam dampak langsung terhadap masyarakat, termasuk dengan memangkas harga bahan bakar ritel hampir 20 persen melalui pengurangan pajak dan penggunaan dana stabilisasi harga.
Langkah ini menunjukkan peran penting kebijakan fiskal dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek, terutama dalam menahan laju inflasi dan menjaga daya beli.
Ketahanan energi dan risiko pasokan
Dalam jangka pendek, Vietnam masih memiliki ruang untuk mengelola dampak krisis energi. Persediaan minyak dan produk olahan diperkirakan cukup untuk menjaga aktivitas ekonomi hingga pertengahan Mei 2026.
Namun setelah periode tersebut, risiko gangguan pasokan menjadi lebih besar, terutama jika kondisi global belum membaik.
Proses pemulihan pasokan energi diperkirakan membutuhkan waktu 4 sampai 5 bulan, seiring keterbatasan teknis dalam mengaktifkan kembali produksi minyak dan memperbaiki infrastruktur yang terdampak konflik.
Dalam skenario tersebut, harga minyak berpotensi tetap berada di atas 100 dollar AS per barrel selama beberapa bulan sebelum turun ke kisaran 80 dollar AS. Hal ini menghasilkan rata-rata harga sekitar 87 dollar AS per barrel pada 2026.
PIXABAY/THOMAS G Pemandangan di salah satu sudut ibukota Hanoi, Vietnam.Peran kebijakan di tengah ketidakpastian
Dalam menghadapi tekanan ini, kebijakan pemerintah menjadi faktor kunci.
Stimulus fiskal, termasuk subsidi energi dan pengendalian harga, diperkirakan akan digunakan untuk menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menahan inflasi.
Langkah-langkah tersebut juga bertujuan menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, terutama dalam konteks tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Namun demikian, jelas Kokalari, efektivitas kebijakan sangat bergantung pada skala dan kecepatan implementasinya.
Tantangan struktural
Di luar tekanan jangka pendek, Vietnam juga menghadapi tantangan struktural, terutama ketergantungan pada energi fosil yang membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga global.
Selain itu, struktur ekonomi berbasis manufaktur ekspor menjadikan Vietnam sensitif terhadap perubahan permintaan global.
Meski demikian, kinerja ekonomi pada awal 2026 menunjukkan bahwa Vietnam masih memiliki fondasi yang cukup kuat.
Pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi pada kuartal I 2026 menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi belum mengalami perlambatan tajam.
Namun, dengan meningkatnya tekanan eksternal, arah perekonomian ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan harga energi global serta respons kebijakan domestik yang diambil pemerintah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Pertumbuhan Ekonomi Vietnam 7,83 Persen, Tertinggi dalam 16 Tahun
Kinerja ekonomi Vietnam pada awal 2026 menunjukkan akselerasi signifikan. [1,008] url asal
#vietnam #pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-vietnam #pertumbuhan-ekonomi-vietnam
(Kompas.com - Money) 05/04/26 09:19
v/181818/
HANOI, KOMPAS.com - Kinerja ekonomi Vietnam pada awal 2026 menunjukkan akselerasi signifikan.
Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 7,83 persen pada kuartal I 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi laju pertumbuhan tertinggi dalam 16 tahun terakhir.
Data ini menandai peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal I 2025, pertumbuhan ekonomiVietnam tercatat sebesar 7,05 persen (yoy), mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi yang lebih luas pada awal tahun ini.
Pexels.com/??t Nguy?n Bendera Vietnam.Laporan otoritas statistik Vietnam menyebutkan, capaian tersebut mencerminkan momentum pemulihan dan ekspansi ekonomi yang masih terjaga, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan global.
Salah satu indikator utama adalah peningkatan aktivitas perdagangan dan investasi yang tetap kuat pada awal tahun.
Namun, mengutip warta Reuters, Minggu (5/4/2026), jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal I 2026 sedikit melambat dari 8,46 persen (yoy) pada kuartal IV 2025.
Perdagangan dan investasi jadi penopang
Kinerja sektor eksternal menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal I 2026.
Nilai ekspor tercatat mencapai 122,93 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 2.088 triliun (asumsi kurs Rp 16.994 per dollar AS), tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, impor tercatat sebesar 126,57 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.151 triliun, meningkat lebih cepat yakni 27 persen secara tahunan.
Kondisi ini menyebabkan defisit perdagangan sekitar 3,64 miliar dollar AS atau setara Rp 61,9 triliun pada kuartal I 2026.
Selain perdagangan, investasi asing langsung (FDI) juga menunjukkan tren positif. Realisasi FDI pada kuartal I 2026 mencapai 5,41 miliar dollar AS atau sekitar Rp 91,9 triliun, meningkat 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
PEXELS/HUGO HEIMENDINGER Ilustrasi bendera Vietnam.Sementara itu, komitmen investasi atau pledges bahkan melonjak 42,9 persen menjadi 15,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 258,3 triliun, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi Vietnam ke depan.
Perdagangan yang kuat dan arus investasi yang meningkat ini menunjukkan Vietnam masih menjadi salah satu tujuan utama dalam rantai pasok global, terutama untuk sektor manufaktur dan ekspor.
Konsumsi domestik tetap tumbuh
Di dalam negeri, konsumsi masyarakat juga mencatatkan pertumbuhan yang solid. Penjualan ritel pada kuartal I 2026 tumbuh 10,9 persen secara tahunan, menunjukkan daya beli yang tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.
Aktivitas industri di Vietnam juga mengalami ekspansi, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi industri pada Maret 2026 tumbuh 6,9 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan 8,6 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Hal ini menunjukkan sektor produksi masih berkembang, tetapi mulai menghadapi tekanan dari faktor biaya dan permintaan global.
Tekanan inflasi dari energi
Di balik pertumbuhan yang tinggi, ekonomi Vietnam juga menghadapi tekanan dari sisi inflasi, terutama yang dipicu oleh kenaikan harga energi global.
Indeks harga konsumen (IHK) pada Maret 2026 meningkat 4,65 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 3,35 persen pada Februari 2026. Kenaikan ini didorong terutama oleh lonjakan biaya transportasi yang mencapai 10,81 persen.
Otoritas statistik Vietnam menyebutkan bahwa tekanan dari kenaikan biaya input dan harga energi masih menjadi tantangan bagi pengelolaan ekonomi.
“Tekanan dari kenaikan biaya input dan harga energi terhadap inflasi tetap ada,” demikian pernyataan otoritas tersebut dalam laporan resmi.
FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.Ketergantungan Vietnam terhadap impor energi menjadi faktor penting. Lebih dari 80 persen kebutuhan minyak mentah negara tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga gejolak geopolitik berdampak langsung terhadap biaya energi domestik.
Kenaikan harga bahan bakar tercatat signifikan, dengan harga bensin naik 21 persen dan diesel melonjak hingga 84 persen.
Tantangan dari gejolak global
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi ekonomi Vietnam pada awal tahun ini.
Gangguan pasokan energi menyebabkan peningkatan biaya produksi dan distribusi di berbagai sektor.
Dampak ini mulai terasa di sektor transportasi dan penerbangan, yang mengalami tekanan akibat lonjakan harga bahan bakar. Beberapa maskapai bahkan melakukan penyesuaian operasi untuk menekan biaya.
Selain itu, tekanan inflasi juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas makroekonomi jika tidak dikelola dengan baik.
Direktur otoritas statistik Vietnam, Nguyen Thi Huong, menyatakan bahwa tantangan ke depan masih cukup besar.
“Memasuki kuartal kedua, situasi sosial-ekonomi Vietnam masih menghadapi hambatan, dan pencapaian target pertumbuhan 2026 tetap menjadi tantangan besar,” ujarnya.
Upaya pemerintah Vietnam menjaga pertumbuhan ekonomi
Pemerintah Vietnam menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global.
Kebijakan tersebut antara lain mencakup pengurangan pajak bahan bakar, subsidi energi, serta efisiensi biaya di berbagai sektor.
Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan kerja jarak jauh (remote working) untuk mengurangi konsumsi energi, terutama di sektor transportasi.
Di sisi lain, strategi jangka menengah juga difokuskan pada diversifikasi sumber energi dan pasar ekspor.
Vietnam mulai mencari alternatif pasokan minyak dari negara lain seperti kawasan Teluk, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah.
Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh menegaskan bahwa pemerintah tetap mempertahankan target pertumbuhan ekonomi sebesar minimal 10 persen pada 2026.
Ia menyatakan, langkah-langkah seperti peningkatan investasi publik dan diversifikasi rantai pasok akan menjadi fokus utama untuk menjaga pertumbuhan.
“Negara kita masih menghadapi keterbatasan, kesulitan, dan risiko terkait tekanan pengelolaan makroekonomi dan keamanan energi,” ujar Chinh.
Fondasi pertumbuhan masih kuat
Meski menghadapi tekanan eksternal, sejumlah indikator menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Vietnam masih cukup kuat.
Dikutip dari Vietnam Plus, pertumbuhan ekonomi Vietnam kuartal I 2026 yang mencapai 7,83 persen merupakan peningkatan signifikan dibandingkan 6,93 persen pada kuartal I 2025, yang saat itu sudah menjadi capaian tertinggi sejak 2020.
Selain itu, kinerja perdagangan yang tetap tinggi, peningkatan investasi asing, serta konsumsi domestik yang solid menunjukkan bahwa ekonomi Vietnam masih memiliki daya tahan terhadap guncangan global.
Kombinasi antara ekspor yang kuat, arus investasi yang meningkat, dan kebijakan pemerintah yang adaptif menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan pada awal tahun ini.
Namun demikian, tekanan dari sisi energi dan inflasi tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
PDB Vietnam Tumbuh 7,83 Persen pada Kuartal I-2026, Tertinggi dalam 16 Tahun
Produk domestik bruto (PDB) Vietnam tumbuh 7,83 persen year-on-year pada kuartal I- 2026. [121] url asal
#pdb #vietnam #ekonomi-vietnam #pertumbuhan
(IDX-Channel - Economics) 05/04/26 06:38
v/181785/
IDXChannel - Produk domestik bruto (PDB) Vietnam tumbuh 7,83 persen year-on-year pada kuartal I-
2026.
Dilansir dari Xinhua pada Minggu (5/4/2026), ini merupakan pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 16 tahun terakhir.
Menurut data dari kantor statistik nasional, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 3,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, sektor industri dan konstruksi tumbuh 8,92 persen dan sektor jasa meningkat 8,18 persen.
Pertumbuhan perdagangan dan jasa didorong oleh permintaan konsumen yang kuat selama liburan Tahun Baru Imlek dan lonjakan kedatangan wisatawan internasional.
Vietnam telah menetapkan target untuk mencapai pertumbuhan PDB dua digit pada 2026.
Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam beberapa dekade terakhir, didorong perkembangan sektor manufaktur yang pesat. (Wahyu Dwi Anggoro)
Perizinan Berbelit, Wamen Investasi Akui Iklim Usaha RI Kalah dari Vietnam
Rumitnya birokrasi perizinan menghambat investasi di Indonesia, membuatnya tertinggal dari Vietnam. Pemerintah menerbitkan PP 28/2025 untuk reformasi perizinan. [479] url asal
#perizinan-berbelit #iklim-usaha-indonesia #investasi-indonesia #investasi-vietnam #birokrasi-perizinan #pertumbuhan-ekonomi-vietnam #pertumbuhan-ekonomi-indonesia #siklus-investasi #pelayanan-perizina
(Bisnis.Com - Ekonomi) 26/02/26 12:07
v/148017/
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mengakui bahwa rumitnya birokrasi pelayanan perizinan menjadi hambatan struktural yang membuat iklim investasi di Indonesia tertinggal dibandingkan Vietnam.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengungkapkan bahwa Vietnam saat ini menjadi parameter sekaligus pesaing utama Indonesia dalam memperebutkan aliran modal asing di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Vietnam yang bisa menembus 8% pada 2025 tak lepas dari kontribusi investasi yang signifikan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertahan di kisaran 5%.
Todotua menyoroti bahwa salah satu pembeda utama antara Indonesia dan Vietnam terletak pada siklus investasi.
Di Vietnam, sambungnya, siklus investasi praktis hanya sebatas pada masa konstruksi fisik; sementara di Indonesia, rentang waktu dari komitmen hingga eksekusi bisa sangat memakan waktu.
"Di negara kita, memang to be honest, siklus investasi ini masih relatif mungkin 4 tahunan 5 tahunan. Di situ salah satunya ada kontribusi dari pelayanan perizinan yang membuat realisasi investasi tidak bisa tereksekusi secara cepat," ujarnya dalam Sosialisasi Penyesuaian PP 28/2025 di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Lambatnya pelayanan perizinan ini terlihat jelas dalam data sistem Online Single Submission (OSS). Todotua mencatat bahwa pada awal dirinya bertugas di Kementerian, terdapat tumpukan investasi yang belum terealisasi (unrealized investment) dengan nilai fantastis, yaitu mencapai hampir Rp1.500 triliun.
Perusahaan-perusahaan tersebut sejatinya telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB), terdaftar dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dan memiliki komitmen investasi yang jelas. Kendati demikian, laporan realisasinya nihil lantaran tidak dapat dieksekusi di lapangan akibat terhalang masalah izin.
"Kementerian Investasi dan Hilirisasi sangat benar-benar memahami betul bahwa ini adalah konteks yang sangat penting untuk kita benahi. Ini bukan hal yang tabu untuk kita bicarakan, tetapi kita berpikiran bagaimana kita bisa memberikan jalan keluar terhadap persoalan-persoalan ini," tegas Todotua.
Reformasi via PP 28/2025
Sebagai solusi, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 28/2025. Beleid ini diklaim sebagai bentuk reformasi perizinan menyeluruh yang akan memberikan kepastian berusaha bagi para investor.
Todotua menjelaskan bahwa terobosan utama dalam PP 28/2025 adalah penerapan Service Level Agreement (SLA) yang diikat dengan mekanisme 'fiktif positif'. Melalui skema ini, jika instansi terkait tidak menerbitkan izin sesuai batas waktu SLA yang ditentukan maka izin tersebut secara hukum dianggap telah terbit dan disetujui.
Dari total 372 perizinan yang mencakup sekitar 1.700 KBLI, pemerintah telah memetakan lebih dari 180 perizinan yang kini masuk ke dalam ekosistem fiktif positif dengan SLA yang ketat.
"Salah satu contoh yang paling mudah adalah pelayanan perizinan perhotelan. Dalam 28 hari, kita sudah bisa memberikan kepastian, izinnya pasti keluar dan pelaku usaha sudah bisa merealisasikan investasinya," jelas Todotua
Dia menekankan bahwa kepastian waktu ini sangat krusial. Bagaimanapun, sambungnya, dunia usaha menuntut kecepatan agar momentum bisnis tidak hilang seiring berjalannya waktu.
"Orang berusaha itu ada jenis-jenis usaha yang siklusnya pendek. Jangan-jangan tren bisnisnya sudah berubah, tetapi izinnya juga belum keluar-keluar. Banyak terjadi hal seperti itu," tutup Todotua.
Purbaya Akui Pertumbuhan Ekonomi RI Kalah dari Vietnam & Malaysia, Ini Alasannya
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 lebih rendah dari Vietnam dan Malaysia, namun Indonesia lebih disiplin fiskal dengan defisit 2,92% PDB, lebih rendah dari kedua negara tersebut. [330] url asal
#pertumbuhan-ekonomi-indonesia #ekonomi-vietnam #ekonomi-malaysia #disiplin-fiskal-indonesia #defisit-anggaran #pertumbuhan-ekonomi-2025 #defisit-fiskal-indonesia #defisit-vietnam #defisit-malaysia #ke
(Bisnis.Com - Ekonomi) 23/02/26 12:00
v/144131/
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 masih berada di bawah capaian negara tetangga, yaitu Vietnam dan Malaysia.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa kedua negara tersebut harus menanggung ongkos fiskal yang jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.
Purbaya memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 tercatat mencapai 5,11%. Realisasi tersebut lebih rendah apabila dibandingkan dengan lompatan ekonomi Vietnam yang mencapai 8,02%, maupun Malaysia yang tumbuh sebesar 5,17%.
Kendati demikian, bendahara negara menyoroti bahwa capaian impresif dari kedua negara jiran tersebut harus dibayar mahal dengan pelebaran defisit anggaran yang signifikan.
Tercatat, defisit fiskal Indonesia mampu dijaga pada level 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di sisi lain, defisit Vietnam menyentuh angka 3,6% dari PDB, sedangkan Malaysia membengkak hingga 6,41% dari PDB.
"Jadi, dia [Vietnam dan Malaysia] bayar pertumbuhan itu dengan ongkos yang besar sekali dibanding kita," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa jika kinerja fiskal tersebut disandingkan dengan standar internasional terkait kehati-hatian fiskal yang mematok batas aman defisit maksimal 3% dari PDB maka Vietnam dan Malaysia telah melampaui batas tersebut.
Sebaliknya, dia menilai Indonesia terbukti mampu memacu pertumbuhan dengan tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian, sebuah manuver yang membuktikan kualitas pengelolaan fiskal domestik.
"Jadi, kita bisa menciptakan pertumbuhan dengan memastikan prinsip kehati-hatian tetap terjaga. Jadi, kita lebih jago dari negara-negara itulah," ungkap Purbaya.
Terkait dengan lanskap makroekonomi, Purbaya mencatat bahwa ekonomi dunia pada 2025 telah menunjukkan resiliensi yang banyak dimotori oleh kinerja negara-negara berkembang. Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus memitigasi dinamika dan risiko global demi memastikan pertumbuhan domestik tetap solid pada tahun ini.
Mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu juga menekankan bahwa instrumen APBN akan tetap bertindak sebagai shock absorber alias peredam gejolak yang responsif namun tetap terukur dalam menghadapi fluktuasi ekonomi.
"Kalau kita down, ekonominya turun, kita kasih stimulus, tapi kehati-hatian fiskal tidak kita tinggalkan," katanya.
Kebal Tarif Trump, Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Tembus 8% pada 2025
Ekonomi Vietnam tumbuh 8% pada 2025, didorong ekspor kuat ke AS meski ada tarif impor. [589] url asal
#vietnam #vietnam-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi-vietnam #tarif-impor-as #surplus-dagang-vietnam #ekspor-vietnam #perdagangan-vietnam-as #rantai-pasokan-vietnam #investasi-asing-vietnam #konsumsi-domesti
(Bisnis.Com - Ekonomi) 06/01/26 20:45
v/95534/
Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomiVietnam tumbuh sebesar 8% sepanjang 2025, melampaui realisasi tahun sebelumnya.
Dilansir Reuters, Senin (5/1/2026) berdasarkan data awal dari Pemerintah Vietnam, kinerja ekonomi tersebut didorong oleh kinerja ekspor yang solid terlepas dari penerapan tarif impor AS. Vietnam dilaporkan membukukan surplus dagang tahunan dengan Negara Paman Sam.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam sebesar 8,02% sepanjang tahun lalu, lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya sebesar 7,09%. Realisasi ini menunjukkan tidak ada gangguan langsung dari penerapan tarif impor oleh AS yang diberlakukan sejak Agustus 2025 ataupun dari bencana banjir yang terjadi berulang sepanjang tahun lalu.
Pada 2025, Pemerintah Vietnam telah menetapkan target pertumbuhan tahunan lebih dari 8%. Sementara pada kuartal keempat 2025, ekonomi Vietnam tumbuh 8,46% YoY atau menjadi angka terbesar secara kuartalan sepanjang tahun lalu, naik dari 8,25% pada kuartal ketiga.
Sebagai informasi, Vietnam merupakan salah satu eksportir terbesar ke AS dan saat ini masih dalam proses negosiasi terkait dengan perjanjian dagang.
Total ekspor Vietnam meningkat sebesar 17% menjadi sekitar US$475 miliar pada tahun lalu, menurut data tersebut, dengan pengiriman ke Amerika Serikat senilai US$153 miliar, jauh melampaui angka rekor 2024 sebesar US$119,5 miliar.
Hal itu telah menyebabkan surplus perdagangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Washington, hampir US$134 miliar pada 2025, jauh lebih tinggi daripada puncak sebelumnya yang dicapai pada 2024, menurut angka Vietnam, yang biasanya lebih konservatif daripada data AS.
Angka perdagangan terbaru yang tersedia dari badan statistik AS menunjukkan bahwa surplus Vietnam dengan AS telah mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu US$129,5 miliar pada September 2025.
Angka ini lebih tinggi dari surplus US$123,5 miliar yang tercatat sebagai rekor sebelumnya untuk keseluruhan tahun 2024.
Vietnam adalah mata rantai utama dalam rantai pasokan global untuk elektronik, tekstil, sepatu, dan barang-barang lainnya. Perusahaan multinasional asing, seperti Samsung, Apple, dan Nike, merakit produk mereka di Vietnam, yang seringkali terbuat dari komponen dan bahan baku dari China, sebelum mengekspornya, sebagian besar ke Amerika Serikat, yang merupakan pasar utama Vietnam.
Impor barang-barang China oleh Vietnam mencapai rekor tertinggi tahun lalu sebesar US$186 miliar, turun dari US$144,2 miliar pada tahun 2024.
Pemerintahan Trump sebelumnya menuduh Vietnam sebagai pusat transit untuk barang-barang China yang diekspor ke Amerika Serikat. Barang-barang yang ditransit secara ilegal menghadapi tarif AS sebesar 40%, tetapi Gedung Putih belum mengindikasikan kriterianya untuk menentukan apa yang dapat dianggap sebagai transshipment ilegal.
Pertumbuhan 5 Tahun
Terlepas dari kuatnya pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi tersebut tidak mencapai target rata-rata tahunan yang ambisius sebesar 6,5%-7% yang ditetapkan oleh Partai Komunis yang berkuasa untuk periode 2021-2025. Hal ini sebagian besar karena pertumbuhan yang rendah pada 2021 yang terdampak Covid-19.
Untuk periode lima tahun, pertumbuhan tahunan rata-rata ekonomi Vietnam berada di angka 6,25%. Untuk periode 2026-2030, pemerintah menargetkan pertumbuhan tahunan setidaknya 10%, menurut dokumen pendahuluan yang diharapkan akan disahkan pada kongres partai lima tahunan akhir bulan ini.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada tahun lalu juga didukung oleh konsumsi domestik dan pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi untuk infrastruktur karena negara tersebut mencoba menyeimbangkan kembali model pertumbuhannya agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ekspor.
Produksi industri dan penjualan ritel keduanya naik sebesar 9,2% pada 2025. Harga konsumen pada bulan Desember naik 3,48% dari tahun sebelumnya, dan tingkat inflasi untuk tahun 2025 adalah 3,31%.
Arus masuk investasi asing pada 2025 naik 9% menjadi US$27,6 miliar. Komitmen investasi asing, yang menunjukkan besarnya arus masuk di masa depan, sebagian besar tetap stabil senilai US$38,4 miliar.
Vietnam Diprediksi Salip Thailand Jadi Ekonomi Terbesar Kedua ASEAN
Vietnam berada di jalur untuk menyalip Thailand sebagai ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia. [713] url asal
#vietnam #asia-tenggara #ekonomi-vietnam #ekonomi-thailand #pertumbuhan-ekonomi-vietnam
(Kompas.com - Money) 06/01/26 19:09
v/95413/
BANGKOK, KOMPAS.com - Vietnam berada di jalur untuk menyalip Thailand sebagai ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia jika diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) nominal.
Dikutip dari The Nation Thailand, Selasa (6/1/2026), Nikkei Asia melaporkan, perubahan peta ekonomi kawasan Asia Tenggara ini diperkirakan terjadi paling cepat pada tahun ini.
Prediksi tersebut seiring dengan dorongan investasi infrastruktur berskala besar yang dipimpin negara dan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Vietnam.
PEXELS/HUGO HEIMENDINGER Ilustrasi bendera Vietnam.Pergeseran tersebut mencerminkan dinamika baru di Asia Tenggara. Di satu sisi, Vietnam menikmati pertumbuhan yang kuat dan agenda pembangunan agresif.
Di sisi lain, Thailand menghadapi tekanan dari ketidakpastian politik domestik serta ketegangan perbatasan dengan Kamboja yang membebani aktivitas ekonomi dan memperlambat pemulihan.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam dan target ambisius pemerintah
PDB riil Vietnam pada 2025 diperkirakan tumbuh sekitar 8 persen. Pemerintah Vietnam bahkan telah menetapkan target pertumbuhan lebih dari 10 persen mulai 2026 dan seterusnya.
Meski sejumlah pengamat menilai target tersebut terlalu ambisius, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh menegaskan keyakinannya bahwa pertumbuhan dua digit dapat dicapai.
Ia kembali menyampaikan optimisme tersebut dalam sebuah acara ekonomi pada Desember 2025 lalu.
Jika skenario pertumbuhan itu terealisasi, PDB nominal Vietnam diperkirakan dapat mencapai kisaran pertengahan 500 miliar dollar AS pada 2026 atau 2027.
Dengan capaian tersebut, Vietnam berpotensi menyalip Thailand dan menjadi ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara, setelah Indonesia.
PDB per kapita Vietnam juga diproyeksikan menembus 5.000 dollar AS, mendekati level Indonesia.
Infrastruktur jadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Vietnam
Pendorong utama akselerasi ekonomi Vietnam adalah pembangunan infrastruktur nasional. Pemerintah merencanakan lonjakan investasi publik yang signifikan.
SHUTTERSTOCK/YUTTANA CONTRIBUTOR STUDIO Ilustrasi konstruksi, proyek infrastruktur.Untuk 2026, nilai investasi publik diperkirakan meningkat sekitar 26 persen.
Kepala ekonom Bank for Investment and Development of Vietnam, Bank for Investment and Development of Vietnam, Can Van Luc, menyatakan kenaikan belanja infrastruktur tersebut dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Vietnam hingga 1,6 poin persentase.
“Rencana investasi publik untuk tahun 2026 diperkirakan akan meningkat sekitar 26 persen, yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,6 poin persentase,” kata Can Van Luc.
Dampak kebijakan ini tercermin dalam berbagai proyek strategis.
Salah satunya adalah bandara internasional baru di dekat Ho Chi Minh City yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026.
Selain itu, proyek kereta api di wilayah utara Vietnam yang didukung oleh China juga telah memasuki tahap konstruksi.
Tantangan reformasi dan hambatan investasi
Meski pembangunan fisik melaju cepat, sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Reformasi hukum dan pengurangan birokrasi dinilai krusial untuk menjaga arus investasi pada fase berikutnya.
Can Van Luc mencatat masih ada lebih dari 2.000 proyek investasi yang terhambat oleh berbagai persoalan yang belum terselesaikan, mulai dari perizinan hingga tumpang tindih regulasi.
Kondisi tersebut berpotensi menahan manfaat penuh dari ekspansi infrastruktur jika tidak segera ditangani.
Ekonomi Thailand melambat di tengah tekanan domestik
Sementara Vietnam melaju, prospek ekonomi Thailand menunjukkan arah yang berbeda.
freepik Ilustrasi Thailand.Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya akan mencapai 1,5 persen pada 2026, atau turun 0,5 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejumlah faktor membebani ekonomi Thailand. Tingginya utang rumah tangga menekan konsumsi domestik, sementara sektor pariwisata masih pulih secara lambat.
Di saat yang sama, tarif impor Amerika Serikat (AS) menambah tekanan pada sektor manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah produsen otomotif global mulai mengurangi eksposurnya di Thailand.
Suzuki Motor, misalnya, telah menghentikan produksi kendaraan roda empat di negara itu, sementara Honda Motor juga memangkas kapasitas produksinya.
Ketegangan kawasan dan dampak ke Asia Tenggara
Asia Tenggara, yang dihuni sekitar 700 juta penduduk, selama ini dipandang sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan global.
Namun, dinamika geopolitik kawasan turut memengaruhi prospek tersebut.
Sejak Mei 2025, ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja meningkat dan bahkan meletus menjadi pertempuran sengit pada Desember 2025 lalu.
Eskalasi ini memperlambat perdagangan bilateral dan memukul sektor pariwisata, terutama di wilayah perbatasan.
Visiting scholar di Boston College, Kang Wu, menekankan pentingnya stabilitas geopolitik bagi pertumbuhan Asia Tenggara.
Menurut dia, konflik perbatasan Thailand–Kamboja berpotensi membuat investor asing lebih berhati-hati.
Ia juga memperingatkan, ketegangan tersebut dapat menarik kawasan Asia Tenggara lebih dalam ke pusaran rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China.
Ini pada akhirnya dapat memengaruhi arus investasi dan perdagangan regional.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Kenapa Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Bisa Tembus 8 Persen pada 2025?
Vietnam menutup 2025 dengan angka pertumbuhan ekonomi yang mencolok di tengah tahun yang penuh guncangan. [1,429] url asal
#vietnam #pertumbuhan-ekonomi-8-persen #indepth #ekonomi-vietnam #pertumbuhan-ekonomi-vietnam
(Kompas.com - Money) 06/01/26 09:45
v/94593/
JAKARTA, KOMPAS.com - Vietnam menutup 2025 dengan angka pertumbuhan ekonomi yang mencolok di tengah tahun yang penuh guncangan.
Produk domestik bruto (PDB) Vietnam diperkirakan tumbuh 8,02 persen secara tahunan (year on year/yoy), sesuai target yang dipasang pemerintah.
Angka itu disampaikan Nguyen Thi Huong, Direktur Jenderal Kantor Statistik Nasional Vietnam (NSO) dalam konferensi pers di Hanoi, Senin (5/1/2026).
PEXELS/HUGO HEIMENDINGER Ilustrasi bendera Vietnam.Dikutip dari Vietnam Plus, dalam paparan itu, Huong menekankan, hasil 2025 menunjukkan “tekad yang tinggi” dari sistem politik dan “arah kebijakan yang tepat waktu dan tegas” dari pemerintah, sembari menyinggung ketahanan komunitas bisnis dan masyarakat.
Lalu, apa yang membuat pertumbuhan Vietnam bisa menembus 8 persen pada 2025?
Data resmi memperlihatkan beberapa mesin utama yang bergerak bersamaan, yaitu industri dan konstruksi yang menguat, sektor jasa yang ikut melaju, serta ekspor yang kembali menonjol, di saat inflasi tetap terkendali dan investasi asing masih masuk, meski risiko dari tarif AS dan bencana alam tidak hilang.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam 8,02 persen pada 2025: akselerasi per kuartal dan kontribusi sektor
NSO mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Vietnam menanjak dari kuartal ke kuartal sepanjang 2025.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal IV 2025 diperkirakan mencapai 8,46 persen (yoy), disebut sebagai laju kuartal IV tertinggi dalam rentang 2011–2025.
Sementara per kuartal, pertumbuhan bergerak dari 7,05 persen pada kuartal I 2025, kemudian 8,16 persen pada kuartal II 2025, 8,25 persen pada kuartal III 2025, hingga 8,46 persen pada kuartal IV 2025.
Dari sisi lapangan usaha, sektor jasa menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan, disusul industri dan konstruksi. Rinciannya adalah sebagai berikut.
THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.- Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 3,78 persen, berkontribusi 5,3 persen terhadap pertumbuhan
- Industri dan konstruksi tumbuh 8,95 persen, kontribusinya 43,62 persen
- Jasa tumbuh 8,62 persen, kontribusinya 51,08 persen (yang terbesar)
Struktur ekonomi juga memperlihatkan dominasi jasa dan manufaktur. Pada 2025, jasa menyumbang 42,75 persen terhadap PDB, industri-konstruksi 37,65 persen, pertanian 11,64 persen, dan pajak neto subsidi produk 7,96 persen.
Pada harga berlaku, PDB Vietnam 2025 diperkirakan 12,85 kuadriliun dong atau sekitar 489,07 miliar dollar AS, naik sekitar 38 miliar dollar AS dibanding 2024.
Sementara itu, PDB per kapita diperkirakan 5.026 dollar AS, naik 326 dollar AS.
Ekspor Vietnam menopang ekonomi: rekor nilai dagang dan surplus besar ke AS
Salah satu cerita terbesar Vietnam pada 2025 datang dari perdagangan luar negeri. Reuters melaporkan, data awal pemerintah menunjukkan ekonomi Vietnam didorong ekspor yang kuat meski ada tarif AS.
Nilai ekspor total Vietnam disebut naik 17 persen menjadi sekitar 475 miliar dollar AS.
Ekspor Vietnam ke AS disebut mencapai sekitar 153 miliar dollar AS pada 2025, melampaui rekor 2024. Itu mendorong surplus neraca perdagangan Vietnam dengan AS menjadi hampir 134 miliar dollar AS.
Reuters juga menekankan posisi Vietnam sebagai bagian penting rantai pasok global untuk elektronik, tekstil, alas kaki, dan barang konsumsi lain, dengan perusahaan multinasional seperti Samsung, Apple, dan Nike membuat produk di Vietnam untuk diekspor, terutama ke pasar AS.
Pada saat bersamaan, impor Vietnam dari China ikut membesar. Reuters menyebut impor barang China naik ke rekor sekitar 186 miliar dollar AS pada 2025.
SHUTTERSTOCK/AVIGATOR FORTUNER Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.Kenaikan impor ini ikut memunculkan sorotan Washington. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menuduh Vietnam menjadi “hub transshipment” untuk barang China menuju AS.
Dengan kata lain, pada 2025 mesin ekspor Vietnam bukan sekadar pulih, tetapi “menyala” lagi, meski berjalan berdampingan dengan risiko dagang yang makin politis.
Manufaktur tetap ekspansif: PMI di zona ekspansi dan optimisme bisnis
Kinerja manufaktur juga ditopang indikator aktivitas pabrik.
Dikutip dari data S&P Global, indeks PMI manufaktur Vietnam berada di 53,0 pada Desember 2025, sedikit turun dari 53,8 pada November 2025, namun tetap jauh di atas ambang 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.
"Sektor manufaktur Vietnam mengakhiri tahun yang penuh gejolak dengan catatan positif, dengan produksi dan pesanan baru kembali meningkat secara signifikan dan kepercayaan bisnis mencapai level tertinggi dalam 21 bulan terakhir," ujar Andrew Harker, direktur ekonomi di S&P Global Market Intelligence.
S&P Global juga menyinggung bahwa cuaca yang lebih stabil pada Desember 2025 membantu produksi, meski “efek sisa” badai dan banjir masih terasa pada pasokan bahan baku dan keterlambatan pengiriman.
Di sisi lain, perusahaan meningkatkan pembelian input, stok input naik, dan kepercayaan untuk 2026 menguat.
Bagi ekonomi yang sangat terkait perdagangan, kondisi manufaktur yang tetap ekspansif memberi bantalan tambahan ketika ketidakpastian tarif dan rantai pasok meningkat.
Industri-konstruksi menguat, konstruksi ikut pulih seiring investasi dan infrastruktur
NSO mencatat nilai tambah sektor industri pada 2025 diperkirakan naik sekitar 8,8 persen (yoy), disebut sebagai pertumbuhan terkuat sejak 2019, menyumbang lebih dari sepertiga kenaikan total nilai tambah bruto.
Pada saat yang sama, aktivitas konstruksi disebut terus pulih, elaras dengan membaiknya investasi dan pembangunan infrastruktur.
Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada 2025 juga didukung konsumsi domestik dan belanja pemerintah untuk infrastruktur, saat Vietnam berupaya menyeimbangkan model pertumbuhan yang selama ini sangat bertumpu pada ekspor.
Konsumsi domestik ikut bergerak: ritel dan produksi industri sama-sama naik
Di luar ekspor, indikator domestik memperlihatkan dorongan permintaan yang ikut membantu. Reuters melaporkan produksi industri dan penjualan ritel sama-sama naik 9,2 persen pada 2025.
Inflasi tahunan 2025 berada di level 3,31 persen, sementara inflasi Desember 2025 tercatat 3,48 persen (yoy).
Kombinasi riil seperti produksi industri dan ritel yang tumbuh, bersamaan inflasi yang masih relatif terkendali, memperkuat gambaran bahwa pendorong ekonomi Vietnam pada 2025 tidak hanya datang dari luar negeri.
Sektor jasa menguat: perdagangan, transportasi, dan pariwisata mengangkat kontribusi
Di sisi jasa, NSO menyatakan sektor ini mendapat manfaat dari ekspansi di perdagangan, transportasi, dan pariwisata.
Kunjungan wisatawan internasional pada 2025 mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, memberi dorongan pada industri terkait jasa.
Beberapa subsektor jasa yang disebut mencatat pertumbuhan kuat antara lain perdagangan grosir-ritel, transportasi-pergudangan, jasa keuangan-perbankan, serta akomodasi dan katering.
Dengan kontribusi jasa terhadap pertumbuhan yang terbesar, penguatan konsumsi dan mobilitas (termasuk wisata) menjadi komponen penting yang menjelaskan mengapa pertumbuhan bisa bertahan tinggi di tengah gangguan eksternal.
Arus modal asing tetap masuk: realisasi naik dan jadi salah satu jangkar ekonomi Vietnam
Dok. Shutterstock.com Ilustrasi investasi.Arus modal asing juga masih menopang. Reuters menyebut realisasi investasi asing (inflows) pada 2025 naik 9 persen menjadi 27,6 miliar dollar AS, sementara komitmen (pledges) relatif datar sekitar 38,4 miliar dollar AS.
Vietnam tetap menjadi magnet investasi, dengan pabrik-pabrik yang berpindah atau mendiversifikasi dari China, termasuk arus investor Korea Selatan dan China, meski tantangan seperti kenaikan biaya tenaga kerja dan keterbatasan infrastruktur mulai terasa.
Dalam konteks rantai pasok, aliran FDI dan kehadiran perusahaan global membantu menjaga mesin produksi dan ekspor tetap berputar, termasuk pada sektor elektronik, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Vietnam.
Tiga pilar pertumbuhan ekonomi Vietnam: investasi, ekspor, dan konsumsi
Huong menyatakan, tiga pilar pertumbuhan ekonomi Vietnam, yakni investasi publik, ekspor, dan konsumsi, perlu dukungan tepat waktu dengan fokus pada kualitas dan efisiensi.
Dikutip dari laman resmi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Can Van Luc, ekonom dan anggota Dewan Penasihat Ekonomi Perdana Menteri Vietnam menilai ekonomi Vietnam berada pada jalur pemulihan yang cukup solid.
Permintaan konsumsi domestik pulih, ekspor, meski melambat, tetap membaik, dan jasa seperti pariwisata, akomodasi, makanan-minuman, logistik, serta pendidikan menunjukkan pertumbuhan positif.
Pertbuhan ekonomi Vietnam tembus 8 persen di tengah tarif dan banjir: risiko tetap ada, tetapi tidak mematahkan tren
Satu hal yang berulang dalam laporan 2025 adalah pertumbuhan tinggi terjadi ketika risiko juga tinggi.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam sebesar 8,02 persen pada 2025 tidak menunjukkan gangguan langsung dari tarif AS yang diberlakukan sejak Agustus 2025 serta kerusakan luas akibat banjir berulang.
FREEPIK/PIKISUPERSTAR Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Namun, 2025 juga diwarnai bencana alam parah dan lingkungan global yang volatil, yang menjadi latar saat Huong mengumumkan capaian PDB tersebut.
Di level operasional perusahaan, S&P Global mencatat dampak badai dan banjir masih mengganggu pasokan bahan baku, memperpanjang waktu pengiriman pemasok, dan memicu tekanan biaya input.
Artinya, angka pertumbuhan ekonomi 8 persen yang diraih Vietnam pada 2025 bukan datang dari kondisi tanpa gangguan, melainkan dari situasi ketika ekspor, manufaktur, jasa, dan arus investasi masih cukup kuat untuk menjaga laju ekonomi.
Target lebih tinggi ke depan dan tantangan menjaga stabilitas
Huong menyebut Vietnam mengejar pertumbuhan ekonomi dua digit sembari menjaga stabilitas makro, mengendalikan inflasi, dan memastikan keseimbangan ekonomi utama akan menjadi tantangan besar pada 2026.
Ia menyerukan persatuan dan upaya terkoordinasi lintas sistem politik dan pemerintah daerah untuk mengatasi kesulitan serta menangkap peluang.
Vietnam menargetkan pertumbuhan yang lebih ambisius untuk periode berikutnya, sejalan dengan agenda rebalancing agar tidak hanya bergantung pada ekspor.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Pertumbuhan Ekonomi Vietnam 8,02 Persen Sepanjang 2025
Ekonomi Vietnam menunjukkan ketahanan yang kuat sepanjang 2025 meskipun dihadapkan pada bencana alam yang parah serta ketidakpastian ekonomi global. [1,082] url asal
#vietnam #pertumbuhan-ekonomi #indepth #ekonomi-vietnam #pertumbuhan-ekonomi-vietnam
(Kompas.com - Money) 05/01/26 20:23
v/94191/
HANOI, KOMPAS.com — Ekonomi Vietnam menunjukkan ketahanan yang kuat sepanjang 2025 meskipun dihadapkan pada bencana alam yang parah serta ketidakpastian ekonomi global.
Dikutip dari Vietnam Plus, Senin (5/1/2026), produk domestik bruto (PDB) Vietnam pada 2025 diperkirakan tumbuh 8,02 persen secara tahunan, sesuai dengan target yang ditetapkan Majelis Nasional dan Pemerintah Vietnam.
Capaian pertumbuhan ekonomi Vietnam tersebut disampaikan oleh Nguyen Thi Huong, Direktur Jenderal Kantor Statistik Nasional Vietnam (NSO), dalam konferensi pers pemaparan statistik sosial-ekonomi kuartal IV 2025 dan keseluruhan tahun 2025 di Hanoi, Senin.
Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.“Hasil ini menunjukkan tekad yang tinggi dari seluruh sistem politik, efektivitas arahan yang tepat waktu dan tegas dari Pemerintah, Perdana Menteri, kementerian, sektor dan daerah, bersama dengan ketahanan dan upaya komunitas bisnis dan masyarakat,” ujar Huong.
Menurut NSO, laju pertumbuhan ekonomi Vietnam sepanjang 2025 terjaga meski dunia menghadapi tekanan geopolitik, perlambatan perdagangan global, serta dampak lanjutan dari perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem di sejumlah kawasan Asia Tenggara.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam secara kuartalan sentuh angka tertinggi sejak 2011
Secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi Vietnam menunjukkan tren akseleratif.
Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan ekonomi Vietnam diperkirakan mencapai 8,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi pertumbuhan kuartal IV tertinggi selama periode 2011–2025.
Sepanjang tahun, pertumbuhan ekonomi meningkat secara bertahap, dari 7,05 persen pada kuartal I, naik menjadi 8,16 persen pada kuartal II, dan 8,25 persen pada kuartal III.
Vietnam dinilai sebagai salah satu ekonomi dengan performa paling solid di Asia pada 2025, ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, arus investasi asing langsung (FDI), serta pemulihan sektor pariwisata.
SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia 2025 akan tumbuh di bawah 5 persen. Sementara per kuartal II-2025, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI 5,12 persen.Sektor jasa jadi penopang utama ekonomi Vietnam
Dari sisi sektoral, NSO mencatat sektor jasa menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Vietnam pada 2025.
Sektor ini tumbuh 8,62 persen dan menyumbang kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Vietnam, yakni 51,08 persen.
Struktur ekonomi Vietnam pada 2025 menunjukkan sektor jasa menyumbang 42,75 persen terhadap PDB, diikuti sektor industri dan konstruksi sebesar 37,65 persen, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan 11,64 persen, serta pajak dikurangi subsidi atas produk sebesar 7,96 persen.
Kinerja sektor jasa ditopang oleh ekspansi kuat di bidang perdagangan, transportasi, logistik, serta pariwisata.
Kedatangan wisatawan internasional ke Vietnam pada 2025 tercatat mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, memberikan dorongan signifikan bagi subsektor akomodasi, katering, serta transportasi.
Vietnam semakin diuntungkan dari pergeseran rute pariwisata regional di Asia Tenggara, seiring peningkatan konektivitas penerbangan dan promosi pariwisata pascapandemi.
Sektor industri dan konstruksi tumbuh kuat sejak 2019
Sektor industri dan konstruksi tumbuh 8,95 persen pada 2025, menyumbang 43,62 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Nilai tambah sektor industri meningkat sekitar 8,8 persen secara tahunan, menjadi pertumbuhan terkuat sejak 2019.
NSO mencatat peningkatan ini mencerminkan pemulihan aktivitas manufaktur, ekspansi industri pengolahan, serta meningkatnya permintaan ekspor, terutama untuk produk elektronik, tekstil, dan barang konsumsi.
SHUTTERSTOCK/PEOPLEIMAGES.COM - YURI A Ilustrasi konstruksi, pekerja konstruksi.Aktivitas konstruksi juga terus pulih, sejalan dengan peningkatan investasi publik dan swasta, khususnya pada proyek infrastruktur strategis seperti jalan tol, pelabuhan, dan kawasan industri baru.
Menurut laporan Vietnam Plus, pemerintah Vietnam pada 2025 mempercepat realisasi belanja infrastruktur sebagai bagian dari strategi menjaga momentum pertumbuhan di tengah pelemahan ekonomi global.
Pertanian tetap stabil di tengah cuaca buruk
Di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, produksi secara umum tetap stabil meskipun Vietnam menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan bencana alam di sejumlah wilayah.
Nilai tambah sektor pertanian meningkat 3,48 persen, kehutanan 5,7 persen, dan perikanan 4,41 persen.
NSO menilai capaian tersebut didukung oleh langkah mitigasi dan pemulihan bencana yang dilakukan secara tepat waktu oleh pemerintah daerah dan pusat.
Kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,3 persen pada 2025.
PDB nominal dan pendapatan per kapita meningkat
Dengan harga berlaku, PDB Vietnam pada 2025 diperkirakan mencapai 12,85 kuadriliun dong Vietnam atau setara 489,07 miliar dollar AS, meningkat sekitar 38 miliar dollar AS dibandingkan tahun sebelumnya.
PDB per kapita Vietnam mencapai sekitar 5.026 dollar AS pada 2025, naik 326 dollar AS dibandingkan 2024. Peningkatan ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang relatif merata serta perbaikan pendapatan masyarakat.
Produktivitas tenaga kerja juga meningkat, dengan estimasi mencapai 9.809 dollar AS per pekerja.
PEXELS/HUGO HEIMENDINGER Ilustrasi bendera Vietnam.Sementara itu, proporsi tenaga kerja terlatih yang memiliki gelar atau sertifikat naik menjadi 29,2 persen, menunjukkan perbaikan bertahap dalam kualitas sumber daya manusia Vietnam.
Tantangan target pertumbuhan dobel digit pada 2026
Untuk tahun 2026, Nguyen Thi Huong menilai target pertumbuhan ekonomi akan semakin menantang.
Pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan PDB dua digit, sembari menjaga stabilitas ekonomi makro, mengendalikan inflasi, serta memastikan keseimbangan ekonomi utama tetap terjaga.
“Mengejar pertumbuhan PDB dua digit sambil mempertahankan stabilitas ekonomi makro, mengendalikan inflasi, dan memastikan keseimbangan ekonomi utama akan menimbulkan tantangan yang signifikan,” kata Huong.
Ia menyerukan persatuan dan upaya terkoordinasi yang berkelanjutan di seluruh sistem politik, sektor, dan daerah untuk mengatasi kesulitan, memanfaatkan peluang, dan menjaga momentum pertumbuhan dalam jangka menengah.
Perdagangan dan dinamika impor regional
Di tingkat regional Asia, dinamika perdagangan juga mencerminkan tekanan dan penyesuaian struktur ekonomi. Perlambatan permintaan global pada 2025 berdampak pada pola impor dan ekspor negara-negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara.
Dalam konteks kawasan, data perdagangan menunjukkan perubahan komposisi impor, terutama peningkatan barang modal yang mengindikasikan investasi jangka menengah hingga panjang.
Nilai impor Vietnam pada Januari sampai November 2025 tercatat mencapai 218,02 miliar dollar AS, naik 2,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya impor nonmigas sebesar 4,37 persen, sementara impor migas turun 10,81 persen.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi impor.Pada November 2025, nilai impor tercatat naik 0,46 persen secara tahunan menjadi 19,86 miliar dollar AS, dipicu oleh peningkatan impor migas sebesar 11,19 persen, meski impor nonmigas mengalami penurunan.
Struktur impor nonmigas menunjukkan peningkatan signifikan pada mesin dan perlengkapan elektrik, mesin mekanis, produk kimia, kendaraan dan bagiannya, serta bahan bangunan. Sebaliknya, impor besi dan baja, bahan kimia organik, serta plastik mengalami penurunan.
Dari sisi negara asal, China tetap menjadi pemasok utama impor nonmigas dengan kontribusi 41,10 persen, diikuti Jepang dan Amerika Serikat. Sementara itu, kontribusi ASEAN mencapai 15,62 persen dan Uni Eropa 5,94 persen.
Peningkatan impor barang modal di Asia Tenggara mencerminkan upaya negara-negara di kawasan, termasuk Vietnam, untuk memperkuat basis industri dan rantai pasok regional di tengah fragmentasi ekonomi global.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangMitigasi Iklim Lemah, Kerugian Ekonomi Vietnam karena Bencana Alam Tembus Rp50,26 Triliun
Bencana alam yang melanda Vietnam sepanjang tahun ini menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp50,26 triliun [558] url asal
#bencana-alam-vietnam #kerugian-ekonomi-vietnam #perubahan-iklim-vietnam #banjir-besar-vietnam #dampak-badai-vietnam #mitigasi-iklim-vietnam #adaptasi-iklim-vietnam #risiko-bencana-alam #kerugian-ekono
(Bisnis.Com - Terbaru) 27/11/25 17:45
v/52756/
Bisnis.com, JAKARTA — Rentetan bencana alam hingga banjir bersejarah yang melanda Vietnam sepanjang tahun ini telah menimbulkan kerugian yang diperkirakan menembus US$3 miliar atau sekitar Rp50,26 triliun (asumsi kurs Rp16.756 per dolar AS).
Berdasarkan data pemerintah Vietnam, upaya pemulihan terus berlanjut di lima provinsi utama yang dilanda banjir besar dan longsor. Korban jiwa dari bencana di kawasan ini setidaknya mencapai 98 orang dalam sepekan terakhir, dengan kerugian ekonomi sebesar 14 triliun dong atau sekitar US$546 juta.
Banyak keluarga melaporkan kehilangan rumah dan mata pencaharian setelah banjir berkepanjangan merendam kawasan terdampak.
“Vietnam merupakan salah satu negara yang paling rentan terdampak risiko bencana alam. Banjir besar merupakan dampak dari perubahan iklim, kondisi alam dan kebijakan adaptasi yang lemah,” kata Nguyen Phuong Loan, akademisi iklim dari University of New South Wales, Australia, dikutip dari Bloomberg.
Vietnam tercatat telah menghadapi 14 badai besar sepanjang tahun ini. Tantangan iklim dan cuaca ekstrem diperkirakan akan makin besar bagi negara yang garis pantainya rentan diterjang badai dan banjir tersebut.
Dampak badai sendiri setidaknya telah memicu kerugian ekonomi senilai 85 triliun dong atau sekitar US$3,2 miliar sepanjang tahun ini. Pada 2024, total kerugian ekonomi karena bencana alam yang ditanggung Vietnam mencapai US$3,5 miliar dengan korban jiwa mendekati 500 orang. Kerugian ini terutama disebabkan oleh Topan Super Yagi yang memicu kerusakan parah di Vietnam utara.
Dalam beberapa pekan terakhir, pusat pariwisata Hoi An, Danang, dan Nha Trang semuanya terendam. Kota bersejarah Hue diguyur hujan dengan intensitas lebih dari 1.700 milimeter (5,6 kaki) dalam 24 jam pada Oktober, mendekati rekor global. Sementara itu, ibu kota Hanoi terendam air dua kali dalam dua minggu sehingga membuat pusat kota lumpuh total.
Hujan deras juga membuat panen di provinsi penghasil kopi terbesar di Vietnam, Dak Lak, tertunda. Para petani setempat masih menilai tingkat kerusakan tanaman.
Meskipun studi menunjukkan peran perubahan iklim dalam memperburuk keparahan bencana alam baru-baru ini, dampaknya juga diperburuk oleh kegagalan dalam strategi ketahanan iklim.
“Ini mencakup deforestasi, pembangunan perkotaan yang tidak terencana dengan baik, reklamasi lahan, dan terhambatnya sistem drainase alami," menurut Loan.
Rencana adaptasi iklim Vietnam yang diajukan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September menunjukkan banyaknya celah dalam strategi ketahanan negara tersebut. Beberapa sistem peringatan dini untuk insiden seperti banjir bandang atau tanah longsor belum memenuhi persyaratan, di mana 70% tanggul laut belum ditingkatkan, dan lebih dari 1.000 waduk terdegradasi atau rusak.
"Kebijakan saat ini lebih berfokus pada pemulihan bencana daripada pencegahan," kata Loan.
Sementara itu, estimasi Bank Dunia memperkirakan nilai kerugian ekonomi akibat perubahan iklim di Vietnam akan setara dengan 12% hingga 14,5% PDB-nya pada pertengahan abad ini, jika tidak diiringi dengan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi yang tepat.
Selain itu, investasi tambahan yang diperlukan Vietnam untuk adaptasi iklim pada 2040 diperkirakan mencapai US$254 miliar.
“Sulit bagi Vietnam untuk memenuhi permintaan tersebut tanpa kontribusi dari sumber eksternal," kata rencana adaptasi tersebut.
Pengalaman Vietnam dalam menghadapi bencana iklim turut tercermin di seluruh kawasan Asia Tenggara. Negara-negara seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia terguncang banjir dan longsor akibat hujan lebat dalam beberapa bulan terakhir. Negara-negara tetangga juga menghadapi tantangan serupa dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk menahan dampak perubahan iklim.
Asia Tenggara membutuhkan sekitar US$20 miliar pendanaan adaptasi iklim per tahun dan hanya menerima sekitar US$2,5 miliar, menurut Climate Policy Initiative dalam sebuah laporan yang dirilis pada September 2025.
Vietnam Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 10 Persen pada 2026
Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh menyatakan, pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi setidaknya 10 persen pada tahun 2026. [330] url asal
#vietnam #pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-vietnam #kereta-cepat #pertumbuhan-ekonomi-vietnam
(Kompas.com - Money) 21/10/25 18:18
v/11291/
HANOI, KOMPAS.com - Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh menyatakan, pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi setidaknya 10 persen pada tahun 2026.
Ini merupakan rekor tertinggi angka pertumbuhan ekonomi Vietnam.
Dikutip dari Reuters, Selasa (21/10/2025), Chinh menuturkan, ekonomi Vietnam terbukti tangguh meskipun menghadapi tekanan dari guncangan eksternal.
PIXABAY Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Media asing soroti pertumbuhan ekonomi Indonesia.Dalam pembukaan sidang parlemen, Chinh mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Vietnam diperkirakan mencapai 8 persen pada tahun 2025 ini. Namun, imbuh dia, pemerintah Vietnam tetap memegang target pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen.
Chinh mengatakan inflasi akan berada di bawah 4 persen tahun ini, lebih rendah dari target resmi sebesar 4,5 hingga 5,0 persen.
Sementara itu, selama periode Januari hingga September 2025, pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapai 7,85 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapai 6,6 persen tahun ini, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan 6,5 persen.
"Perekonomian Vietnam telah terbukti cukup kuat untuk menahan guncangan eksternal, dan tetap menjadi salah satu perekonomian dengan pertumbuhan tercepat di dunia," ujar Chinh kepada parlemen.
Chinh juga mengatakan nilai perdagangan Vietnam diperkirakan mencapai 900 miliar dollar AS pada tahun 2025, meskipun tarif 20 persen telah memperlambat ekspor ke Amerika Serikat, terutama alas kaki dan tekstil.
Namun, ekonomi Vietnam menghadapi tantangan lain. Ini meningkatnya tekanan pada stabilitas makroekonomi, volatilitas di pasar emas dan real estat, polusi udara, bencana alam, dan kejahatan siber, ujarnya.
"Pembangunan masih sangat bergantung pada tenaga kerja dan sumber daya murah, bukan pada sains, teknologi, inovasi, dan transformasi digital," papar Chinh.
Ia menegaskan kembali niat Vietnam untuk menandatangani perjanjian perdagangan bebas baru tahun depan dengan negara-negara di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika guna mendiversifikasi pasar ekspor.
Pun Vietnam berencana memulai pembangunan kereta cepat Utara-Selatan senilai miliaran dollar AS dan meluncurkan layanan internet satelit tahun depan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56