#30 tag 24jam
Nasabah Gen X pada Tring! by Pegadaian Tertinggal dari Gen Z-Milenial, Kok Bisa?
Pertumbuhan nasabah Gen X di Tring! by Pegadaian tertinggal dari Gen Z dan Milenial karena rendahnya penguasaan teknologi. [583] url asal
#pegadaian #tring-by-pegadaian #nasabah-gen-x #pertumbuhan-nasabah-pegadaian #gen-z-milenial #penetrasi-internet-gen-x #emas-digital-pegadaian #literasi-emas-digital #investor-emas-digital #edukasi-nas
(Bisnis.Com - Finansial) 29/06/26 11:29
v/262467/
Bisnis.com, SURABAYA – PT Pegadaian (Persero) mengungkap laju pertumbuhan nasabah Generasi X (Gen X) Tring! by Pegadaian masih terlampau rendah bila dibandingkan dengan nasabah dengan latar belakang demografi Generasi Milenial maupun Generasi Z (Gen-Z).
Kepala Departemen Komunikasi PT Pegadaian (Persero) Riana Rifani memaparkan total keseluruhan jumlah nasabah Tring! by Pegadaian kelahiran 1965-1980 per 31 Mei 2026 tercatat sebesar 1.465.518 orang, Catatan itu melonjak 48,54% bila dibanding periode sama tahun sebelumnya yang terhitung sebanyak 986.607 orang.
Namun, kuantitas tersebut tercatat masih lebih rendah bila dibandingkan dengan persentase pertumbuhan jumlah nasabah Tring! by Pegadaian pada Generasi Milenial. Jumlah konsumen berusia 30-45 tahun terhitung tumbuh sebesar 71,14%, yakni 1.631.341 orang pada Mei 2025 menjadi 2.791.933 orang hingga 31 Mei 2026.
Sementara itu, pertumbuhan jumlah nasabah Gen Z tercatat membumbung tinggi hingga mencapai 200,02%. Pelanggan Tring! by Pegadaian yang berusia 14-29 tahun tersebut melonjak dari 478.550 orang menjadi 1.435.757 orang hingga akhir Mei 2026 bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Riana mengungkapkan Tring! by Pegadaian belum sepenuhnya memikat calon nasabah berlatar belakang Gen X. Menurut dia, tertinggalnya pertumbuhan nasabah Tring! by Pegadaian dari Gen Milenial maupun Gen Z pada kelompok demografi tersebut dapat terjadi karena masih rendahnya penguasaan mereka terhadap ponsel pintar atau gawai.
Mengacu pada hasil “Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026” oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet pada kelompok usia 45-60 tahun tersebut masih terekam sebesar 80,70% dari total jumlah responden yang diwawancarai secara tatap muka.
APJII juga mencatat sebanyak 32,9% dari koresponden berlatar belakang Gen Z tidak memiliki komputer atau gawai yang dapat terhubung ke internet. Lebih lanjut, sebesar 34,4% dari kelompok demografi tersebut tidak mengetahui bagaimana menggunakan perangkat yang dapat terkoneksi dengan internet.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti) Kementerian Perdagangan, total investor emas digital di Tanah Air mencapai 18,7 juta nasabah pada 2025. Investor kalangan muda menguasai transaksi dengan 32,6% untuk rentang usia 18-24 tahun dan sebanyak 36,3% pada rentang usia 25-34 tahun.
“Tingkat kepercayaan Generasi X untuk menabung emas secara digital memang masih kurang bila dibandingkan dengan Generasi Milenial karena mereka belum dapat menguasai gawai secara baik,” ucap Riana, dikutip Senin (29/6/2026).
Bahkan, ia menyatakan masih banyak warga Gen X yang menyimpan logam mulia milik mereka di berbagai tempat atau wadah yang tidak sesuai dengan kegunaannya.
“Kenyataannya masih banyak masyarakat yang menyimpan aset emas miliknya di bawah bantal, di tempat garam, dapur, kamar mandi, tempat sabun, dan lain sebagainya,” ucapnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, PT Pegadaian (Persero) berkomitmen untuk mengedukasi produk emas digital lewat Tring! by Pegadaian dengan menyasar calon nasabah Generasi X.
Riana menjelaskan langkah-langkah memperkenalkan produk emas digital di PT Pegadaian (Persero) adalah dengan melakukan literasi kepada pada nasabah Gen X ketika mereka datang ke berbagai gerai milik perusahaan pelat merah itu pada saat bertransaksi.
Tidak hanya berfungsi sebagai edukasi, ia berharap langkah tersebut juga menjadi bagian dari strategi pemasaran, di mana nasabah setia PT Pegadaian (Persero) selama ini tidak hanya mengetahui lini layanan gadai semata.
“Itulah tugas kami untuk meliterasi masyarakat Generasi X di luar sana yang masih menyimpan asetnya agar berkenan untuk dipindahkan ke PT Pegadaian (Persero). Kita tidak melupakan Generasi X karena mereka yang membuat kami bisa sebesar ini,” ujarnya.
FOMO Jadi Alarm bagi Investor Gen Z di Tengah Ledakan Inklusi Keuangan
Literasi keuangan Gen Z masih tertinggal dari tingkat inklusi. Kesenjangan ini memicu FOMO investasi, sementara AI dinilai dapat memberi bantuan. [661] url asal
#gen-z #milenial #literasi-keuangan #inklusi-keuangan #fomo-investasi #investor-muda #investasi-saham #pasar-modal-indonesia #ai-investasi #kecerdasan-buatan #ipot #indo-premier-sekuritas #ojk #snlik-2
(Bisnis.Com - Finansial) 23/06/26 03:00
v/256813/
Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan pesat jumlah investor muda di Indonesia ternyata menyimpan tantangan serius. Di balik tingginya inklusi keuangan kalangan Gen Z dan milenial, masih terdapat kesenjangan literasi yang memicu fenomena fear of missing out (FOMO) dalam berinvestasi.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto, menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius mengingat generasi muda kini mendominasi basis investor di Indonesia.
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025, tingkat inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 89,96%. Namun, tingkat literasi keuangannya baru berada di level 73,22%. Artinya, terdapat kesenjangan sebesar 16,74% yang menunjukkan masih banyak anak muda yang berinvestasi tanpa memahami risiko secara memadai.
"Kesenjangan ini menjadi alarm keras. Satu dari lima anak muda berinvestasi tanpa memahami risiko yang ada, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap rendahnya tingkat keaktifan pasar," ujarnya dalam pernyataan tertulisnya, Senin (22/6/2026).
Saat ini, lanjutnya, hanya satu dari 14 investor terdaftar yang aktif bertransaksi setiap bulan.
Melihat fenomena tersebut, dia menilai perusahaan sekuritas harus bertransformasi dan menggabungkan literasi keuangan, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan edukasi investasi bagi generasi muda.
Moleonoto menegaskan bahwa teknologi AI kini tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu analisis, tetapi juga menjadi sarana untuk membentuk perilaku investasi yang lebih disiplin.
"Melalui edukasi dan teknologi AI, kami ingin membantu generasi muda mengubah kemampuan membaca data, disiplin, dan pengambilan keputusan cepat yang mereka miliki di dunia eSports menjadi fondasi untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik," katanya.
Selain itu menurutnya terdapat irisan yang sangat besar antara komunitas eSports, khususnya Mobile Legends, dengan investor muda dari kalangan Gen Z dan milenial.
Strategi Investasi Ala Mobile Legends
Equity Analyst IPOT Brigita Kinari menjelaskan bahwa kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi pemain Mobile Legends yang andal ternyata memiliki banyak kesamaan dengan keterampilan yang diperlukan dalam berinvestasi.
"Di era AI, yang tertinggal bukan orang yang tidak punya uang, tetapi orang yang tidak tahu cara mengelola uangnya," terangnya.
Menurutnya, jika teknologi AI mampu membuat seseorang menjadi lebih hebat dalam ketangkasan digital seperti bermain game, maka teknologi yang sama seharusnya dapat membantu mereka menjadi lebih cerdas dalam membangun masa depan finansial.
Brigita mengajak para gamer untuk menerjemahkan kemampuan yang mereka gunakan dalam permainan menjadi empat keterampilan utama atau smart money skills.
Pertama, Map Awareness atau kemampuan membaca kondisi. Dalam permainan, pemain harus memahami posisi musuh, sumber daya, dan objektif permainan. Di dunia investasi, kemampuan ini diterjemahkan menjadi keterampilan membaca tren ekonomi, laporan keuangan, hingga risiko pasar.
Kedua, Timing, yaitu menentukan waktu yang tepat untuk menyerang, bertahan, atau mundur. Dalam investasi, hal ini setara dengan menentukan momentum membeli, menahan, atau menjual aset.
Ketiga, Item Build, yakni kemampuan memilih kombinasi perlengkapan terbaik sesuai peran karakter. Dalam investasi, konsep ini diwujudkan melalui diversifikasi dan alokasi aset sesuai profil risiko.
Keempat, Disiplin atau No All In, yaitu tidak mengambil keputusan emosional dan menghindari menempatkan seluruh modal pada satu instrumen tanpa perhitungan matang.
Untuk memudahkan pemahaman investor pemula, IPOT juga menggunakan analogi populer dari Mobile Legends dalam menjelaskan fungsi berbagai instrumen investasi.
Saham diibaratkan sebagai Blade of Despair, item dengan daya serang tinggi yang menawarkan potensi keuntungan besar melalui capital gain dan dividen, namun memiliki risiko fluktuasi yang tinggi.
Sementara itu, Exchange Traded Fund (ETF) dianalogikan sebagai Top Country Pro Build, yakni racikan portofolio yang memberikan diversifikasi instan layaknya strategi yang digunakan pemain profesional.
Adapun reksa dana berfungsi seperti karakter Tank atau Support yang memberikan keseimbangan dan perlindungan bagi portofolio, sedangkan obligasi disamakan dengan Defense Build yang menjaga stabilitas investasi melalui pendapatan tetap yang relatif lebih aman.
Menurut Brigita, membangun kekayaan juga membutuhkan proses bertahap layaknya perkembangan karakter dari early game menuju late game dalam permainan.
Investor pemula dianjurkan memulai dengan menyiapkan dana likuid, kemudian secara konsisten mengumpulkan aset dari instrumen yang dipahami sebelum memanfaatkan efek bunga berbunga (compounding) untuk mempercepat pertumbuhan kekayaan.
Melalui pendekatan yang dekat dengan dunia anak muda dan dukungan teknologi AI, IPOT berharap dapat mengubah generasi digital dari sekadar pengguna teknologi menjadi investor yang lebih cerdas, disiplin, dan mandiri secara finansial.
Pengguna AI di RI Masih 18,2%, Gen Z Jadi Generasi Paling Aktif
Penggunaan AI di Indonesia masih rendah, hanya 18,2% pengguna internet yang memanfaatkannya, dengan Gen Z sebagai pengguna terbesar. AI paling banyak digunakan untuk hiburan. [555] url asal
#pengguna-ai-indonesia #gen-z-ai #ai-hiburan #ai-edukasi-riset #ai-pekerjaan-produktivitas #ai-asisten-digital #ai-gender #ai-laki-laki-perempuan #ai-generasi-z #ai-milenial #ai-gen-x #ai-baby-boomers
(Bisnis.Com - Teknologi) 22/06/26 16:00
v/256351/
Bisnis.com, JAKARTA— Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok pengguna artificial intelligence (AI) terbesar di Indonesia berdasarkan Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).
Meski demikian, pemanfaatan AI di kalangan pengguna internet nasional masih tergolong rendah, dengan hanya 18,2% responden yang mengaku telah menggunakan teknologi tersebut.
Survei APJII mencatat jumlah pengguna internet Indonesia pada 2026 mencapai 235,26 juta jiwa, atau setara dengan 81,72% dari total populasi 287,89 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 81,8% responden mengaku belum menggunakan AI.
Berdasarkan kelompok generasi, Gen Z berusia 13–28 tahun menjadi pengguna AI terbesar dengan persentase 29,4%. Selanjutnya disusul Milenial (29–44 tahun) sebesar 16,7%, Gen X (45–60 tahun) sebesar 7,5%, sedangkan Baby Boomers (61–79 tahun) dan Pre Boomers (80 tahun ke atas) masing-masing hanya 0,8%.
Berdasarkan gender, penggunaan AI juga lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Sebanyak 19,7% responden laki-laki mengaku menggunakan AI, sedangkan perempuan sebesar 16,7%. Adapun responden yang belum memanfaatkan AI mencapai 80,3% pada laki-laki dan 83,3% pada perempuan.
Dari sisi pemanfaatannya, AI paling banyak digunakan untuk hiburan, seperti membuat video atau gambar generatif. Sebanyak 36,5% pengguna AI memanfaatkan teknologi tersebut untuk kebutuhan hiburan.
Penggunaan AI untuk edukasi dan riset, seperti chatbot dan ringkasan akademik, menempati urutan kedua dengan persentase 30,2%. Selanjutnya, 26,9% responden menggunakan AI untuk pekerjaan dan produktivitas, seperti penulisan otomatis, copywriting, dan analisis data. Sementara itu, penggunaan AI sebagai asisten digital suara atau perintah, seperti Siri, Google Assistant, dan Bixby, tercatat sebesar 6,4%.
Apabila dirinci berdasarkan generasi, Gen Z menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan AI untuk hiburan dengan persentase 44,4%. Sebanyak 34,9% menggunakan AI untuk edukasi dan riset, 19,0% untuk pekerjaan dan produktivitas, serta 1,6% sebagai asisten digital.
Pada kelompok Milenial, AI untuk hiburan juga menjadi penggunaan terbesar dengan persentase 34,2%, diikuti edukasi dan riset 28,9%, pekerjaan dan produktivitas 26,3%, serta asisten digital 10,5%.
Sementara itu, pada Gen X, penggunaan AI relatif merata. Masing-masing 33,3% responden menggunakan AI untuk hiburan, edukasi dan riset, serta pekerjaan dan produktivitas. Tidak ada responden Gen X yang menggunakan AI sebagai asisten digital.
Adapun pada kelompok Baby Boomers, seluruh penggunaan AI yang tercatat dalam survei dimanfaatkan untuk hiburan dengan persentase 100%, sedangkan penggunaan untuk edukasi dan riset, pekerjaan dan produktivitas, maupun asisten digital masing-masing tercatat 0%.
Jika dilihat berdasarkan gender, laki-laki lebih banyak memanfaatkan AI untuk hiburan, yakni 45,8%, dibandingkan perempuan sebesar 36,5%. Untuk edukasi dan riset, penggunaan AI pada laki-laki mencapai 35,4%, sedangkan perempuan 30,2%.
Sementara itu, penggunaan AI untuk pekerjaan dan produktivitas tercatat sebesar 27,0% pada perempuan dan 16,7% pada laki-laki. Adapun penggunaan AI sebagai asisten digital mencapai 6,4% pada perempuan dan 2,1% pada laki-laki.
Di sisi lain, responden yang belum menggunakan AI paling banyak mengaku tidak mengetahui teknologi AI, dengan persentase mencapai 46,6%. Alasan lain yang disampaikan adalah merasa tidak membutuhkan konten AI (22,7%), tidak mengetahui cara menggunakan AI (15,5%), belum menemukan layanan AI yang menarik (5,9%), merasa layanan AI sulit digunakan (3,5%), khawatir terhadap masalah privasi dan keamanan (3,6%), serta tidak memiliki akses atau teknologi yang memadai (2,1%).
Kebut regenerasi petani, Banten galakkan pertanian modern
Guna mengebut regenerasi petani, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten kini semakin menggalakkan penerapan sistem pertanian modern berbasis teknologi untuk ... [411] url asal
#dinas-pertanian #banten #pertanian-modern #regenerasi-petani #petani-milenial #brigade-pangan
Serang (ANTARA) - Guna mengebut regenerasi petani, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten kini semakin menggalakkan penerapan sistem pertanian modern berbasis teknologi untuk menarik minat generasi muda di tengah tingginya dominasi pekerja tanam berusia lanjut.
Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir, di Serang, Sabtu, mengungkapkan kekhawatiran nya karena mayoritas petani di daerah tersebut kini berada pada kelompok usia tua. Kondisi ini dinilai dapat mengancam keberlanjutan produksi pangan daerah apabila tidak segera diantisipasi.
"Usia rata-rata petani di Banten sekarang mungkin 90 persen itu di atas lima puluh tahun. Kami khawatir siapa yang akan melanjutkan lahan produksi untuk menghasilkan pangan kita ke depan," kata Nasir.
Nasir menjelaskan, rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian kerap dipicu oleh stigma bahwa profesi petani identik dengan pekerjaan kumuh, kotor, berat, dan seolah tidak menjanjikan masa depan.
Padahal, menurutnya, sektor pertanian memiliki potensi ekonomi yang sangat besar jika dikelola secara profesional dan berbasis teknologi. Lahan yang relatif sempit sekalipun dapat menghasilkan pendapatan di atas upah minimum jika ditanami komoditas bernilai tinggi dengan manajemen yang tepat.
Untuk mengubah persepsi tersebut dan mempercepat regenerasi, Dinas Pertanian Banten meluncurkan sejumlah inisiatif. Langkah tersebut meliputi pembentukan Petani Muda Milenial, penunjukan duta pertanian (agriculture ambassador), hingga pembentukan kelembagaan baru bernama Brigade Pangan.
Melalui program Brigade Pangan, pengelolaan kawasan pertanian diserahkan sepenuhnya kepada kalangan muda, termasuk para sarjana pertanian.
"Kita buat kelembagaan baru berupa Brigade Pangan dengan manajemen pengelolaannya oleh sarjana anak muda. Mereka mengelola hamparan lahan 150 hektare dan disokong penuh dari hulu ke hilir, termasuk sarana dan alat mesin pertanian nya," ujarnya.
Pemerintah juga mulai menggalakkan smart farming atau pertanian modern terintegrasi. Nasir mencontohkan fasilitas smart screenhouse yang memungkinkan pembudidayaan tanaman bernilai ekonomi tinggi di lahan terbatas secara presisi.
Sistem ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengendalikan kebutuhan tanaman, mulai dari pemupukan digital hingga pengaturan suhu lingkungan.
Selain infrastruktur di dalam negeri, Pemprov Banten juga telah memberangkatkan 21 pemuda untuk mengikuti program magang pertanian di Jepang pada April lalu. Program ini bertujuan memperkenalkan sistem pertanian modern bertaraf internasional.
Nasir berharap, para peserta magang dapat mereplikasi dan mengaplikasikan ilmu yang dipelajari setibanya di Tanah Air, sehingga proses regenerasi petani Banten berjalan optimal. Keberhasilan regenerasi ini ditegaskan nya harus diikuti dengan penyediaan fasilitas yang memadai dari pemerintah.
"Begitu pulang ke sini, tentu tidak sekadar mencangkul lagi. Makanya harus difasilitasi dengan alat-alat berbasis modern agar anak-anak muda tidak kembali ke pola pertanian tradisional yang dianggap kurang menarik," kata Nasir.
Pewarta: Desi Purnama Sari
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Gen Z dan Milenial Dominasi 95 Persen Debitur KPR BTN
Generasi muda kini menjadi penggerak utama pasar properti dan pembiayaan perumahan. [292] url asal
#btn #kpr-btn #rumah123 #properti-digital #smartphone #pencarian-rumah #gen-z #milenial #nixon-napitupulu #bale-by-btn #pembiayaan-perumahan #pasar-properti-indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Generasi Z dan milenial semakin mendominasi pasar pembiayaan perumahan nasional. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatat 95,3 persen debitur kredit pemilikan rumah (KPR) perseroan berasal dari kelompok usia muda tersebut.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan perubahan perilaku masyarakat turut mengubah cara industri properti menjangkau calon pembeli rumah. Menurut dia, proses pencarian hunian kini lebih banyak dilakukan melalui platform digital dibandingkan dengan mendatangi lokasi proyek secara langsung.
“Data menunjukkan 63,5 persen pencarian hunian berasal dari kelompok Gen Z dan milenial usia 18 hingga 44 tahun. Mereka kini menjadi motor utama permintaan properti di Indonesia,” ujar Nixon dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Menurut Nixon, jumlah penduduk dari kelompok usia tersebut mencapai sekitar 140,3 juta jiwa atau hampir 49,3 persen dari total populasi Indonesia. Kondisi itu menjadikan generasi muda sebagai pasar utama industri perumahan nasional.
BTN menilai tren tersebut mendorong transformasi layanan perumahan ke arah yang lebih digital. Proses pembelian rumah kini tidak lagi dimulai dari kunjungan ke marketing gallery, melainkan dari pencarian informasi melalui telepon pintar.
Untuk menangkap potensi tersebut, BTN menjalin kerja sama dengan platform properti Rumah123. Melalui kolaborasi itu, layanan pencarian hunian dan akses pembiayaan KPR akan diintegrasikan dalam satu ekosistem digital.
Pengguna Rumah123 nantinya dapat mengakses fitur pengecekan kesiapan KPR BTN dan memperoleh pendampingan dalam proses pengajuan pembiayaan. Sebaliknya, pengguna Bale by BTN dapat mengakses lebih dari 4,8 juta listing properti yang tersedia di Rumah123.
CEO 99 Group Indonesia Darius Cheung mengatakan kemudahan akses menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat memiliki rumah. Menurut dia, pencarian properti dan proses pembiayaan perlu terhubung dalam satu ekosistem yang mudah diakses masyarakat.
BTN berharap integrasi layanan tersebut dapat memperluas akses pembiayaan perumahan sekaligus mempermudah masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mewujudkan kepemilikan rumah.
BTN Ungkap 95,3% Debitur KPR Didominasi Gen Z dan Milenial
BTN mengungkapkan generasi muda semakin agresif mencari rumah dengan fasilitas KPR. Bahkan, BTN mencatat 95,3 persen debiturnya adalah gen Z dan milenial. - Bagian all [323] url asal
JAKARTA, iNews.id - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Nixon LP Napitupulu mengungkapkan generasi Z dan milenial semakin agresif mencari rumah dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Bahkan, BTN mencatat 95,3 persen debiturnya adalah gen Z dan milenial.
Nixon menjelaskan saat ini pihaknya berkolaborasi dengan PT Web Marketing Indonesia (Rumah123). Dengan kerja sama ini, para pengguna platform Rumah123 kini dapat langsung memanfaatkan fitur pengecekan kesiapan KPR BTN sekaligus memperoleh pendampingan intensif selama proses pengajuan pembiayaan.
"Kami ingin memastikan bahwa proses memiliki rumah menjadi semakin mudah, cepat, dan nyaman. Faktanya, saat ini debitur KPR BTN telah didominasi oleh Gen Z dan Milenial dengan porsi mencapai 95,3%. Ini menjadi bukti kuat bahwa masa depan industri pembiayaan perumahan adalah masa depan yang digital," kata Nixon dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
"Data menunjukkan bahwa 63,5% pencarian hunian berasal dari kelompok Gen Z dan Milenial usia 18–44 tahun. Mereka kini menjadi motor utama permintaan properti di Indonesia, dengan total populasi mencapai 140,3 juta jiwa atau hampir 49,3% dari total penduduk Indonesia," sambungnya.
Penyatuan dua raksasa ekosistem properti ini menghubungkan jutaan basis data pasar milik Rumah123 yang didukung oleh 100 pengembang papan atas, termasuk mitra jangkar BTN seperti Agung Podomoro Land, BSD City, Ciputra, Summarecon, Agung Sedayu Group, dan Sinarmas Land, serta jaringan 21 ribu agen properti di seluruh penjuru Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, CEO of 99 Group Indonesia selaku perusahaan induk Rumah123, Darius Cheung mengatakan, langkah integrasi ini merefleksikan visi jangka panjang perusahaan dalam mengawal konsumen di setiap fase pencarian aset properti hingga proses transaksinya selesai.
Sebagai pemimpin pasar portal properti domestik, ia percaya bahwa proses menemukan dan memiliki hunian ideal seharusnya bisa berjalan secara selaras dan mudah.
Saat ini, Rumah123 mencatatkan trafik layanan dengan lebih dari 10 juta pencari properti aktif yang berkunjung setiap bulan. Kehadiran integrasi nyata dengan KPR BTN diharapkan mampu memberikan pengalaman bertransaksi yang mulus (seamless) bagi jutaan masyarakat.
Editor: Puti Aini Yasmin
Founder & Chairman CT Corp, Chairul Tanjung saat menyampaikan pemaparan dalam sesi Educational Class di acara Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5
Founder & Chairman CT Corp Chairul Tanjung (CT) menegaskan pentingnya mengerti soal teknologi bagi para pengusaha maupun mereka yang mau memulai usaha. [118] url asal
#teknologi #chairul-tanjung #jogja-financial-festival #e-commerce #generasi-milenial #jogja-financial-festival #ct-corp #chairul-tanjung #instagram #alfa #generasi #tanjung #generasl #barang #fisik
(CNN Indonesia - Ekonomi) 23/05/26 18:13
v/230160/
Founder & Chairman CT Corp Chairul Tanjung (CT) menegaskan pentingnya mengerti soal teknologi bagi para pengusaha maupun mereka yang mau memulai usaha.
Menurutnya, entrepreneur atau pengusaha yang sukses lahir karena berhasil membuat produk yang unik dengan market yang besar. Aspek yang tidak kalah penting adalah produk itu cocok dengan generasinya.
"Nah itu akan hidup. Dan jangan lupa manfaatkan teknologi untuk adik-adik ini sekarang," ujar CT dalam Jogja Financial Festival, Sabtu (23/5).
CT bilang mayoritas konsumen dari generasi milenial, generasi Z hingga generasl alfa, sangat tergantung kepada e-commerce, bukan lagi toko fisik.
"Namanya TikTok itu berpengaruh sangat luar biasa dalam namanya promosi barang, namanya jualan, sudah mengalahkan jauh Instagram, apalagi Facebook. Jadi, harus paham teknologi," kata CT.
Survei Deloitte: Adposi AI Gen Z & Milenial Indonesia Lampaui Rata-rata Global
Survei Deloitte: Gen Z dan milenial Indonesia unggul dalam adopsi AI, melampaui rata-rata global. Namun, pelatihan AI terstruktur masih kurang optimal. [723] url asal
#ai-indonesia #gen-z-ai #milenial-ai #deloitte-survei #adopsi-ai #pelatihan-ai #teknologi-ai #karier-ai #kepemimpinan-gen-z #kepemimpinan-milenial #literasi-digital #otomatisasi-ai #kemandirian-finansi
(Bisnis.Com - Teknologi) 23/05/26 01:15
v/229624/
Bisnis.com, JAKARTA — Survei terbaru Deloitte menyebut Generasi Z dan milenial di Indonesia, paling siap menghadapi era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia. Tingkat adopsi AI di kelompok pekerja muda ini bahkan melampaui rata-rata global, meski perusahaan dinilai belum optimal menyediakan pelatihan yang terstruktur.
Dalam laporan Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey, sebanyak 87% Gen Z dan 88% milenial di Indonesia telah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari. Angka tersebut jauh di atas rata-rata global yang berada pada level 74% untuk kedua generasi tersebut.
Adapun survei ini melibatkan lebih dari 22.500 responden Gen Z dan milenial di 44 negara, serta dilengkapi dengan wawasan kualitatif dari para pemimpin bisnis. Jumlah tersebut mencakup pandangan dari lebih dari 500 responden Gen Z dan milenial di Indonesia.
Selain lebih aktif menggunakan AI, responden asal Indonesia juga dinilai lebih percaya diri terhadap kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi tersebut. AI katanya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan operasional kerja, tetapi juga dimanfaatkan untuk pengembangan karier, mencari peluang belajar, memperoleh saran profesional, hingga membantu mengelola stres pekerjaan.
“Tenaga kerja muda Indonesia terbukti selangkah lebih maju dibandingkan tren global dalam hal penguasaan AI,” ujar Organization & Transformation Director Deloitte Indonesia Andika Yalasena, dalam keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).
Kendati demikian, Andika menilai perusahaan perlu memperbesar investasi pada pelatihan AI yang terstruktur agar keunggulan tersebut tidak hilang. Perusahaan yang mau berinvestasi pada program pembelajaran yang terstruktur dan berkelanjutan, menurutnya akan mampu menarik serta mempertahankan talenta-talenta unggul, yang nantinya akan menjadi ujung tombak ekonomi digital Indonesia.
“Talenta kita berisiko tertinggal jika pihak perusahaan tidak turut berinvestasi untuk mempertahankan keunggulan tersebut,” tegas Andika.
Survei Deloitte juga menunjukkan masih adanya hambatan dalam pemanfaatan AI di lingkungan kerja. Kalangan Gen Z di Indonesia menyebut minimnya kesempatan pelatihan efektif sebagai tantangan utama. Sementara itu, kelompok milenial mengaku keterbatasan pengetahuan dan pengalaman menjadi kendala terbesar dalam penggunaan AI.
Selain faktor pelatihan, aturan kepatuhan atau compliance perusahaan juga disebut membatasi pemanfaatan AI di tempat kerja. Adapun keterampilan yang paling ingin dikembangkan responden adalah literasi digital dan kemampuan menggunakan perangkat otomatisasi berbasis AI.
Di luar isu teknologi, survei Deloitte juga menyoroti perubahan orientasi karier generasi muda Indonesia. Sebanyak 99% Gen Z dan 100% milenial menyatakan bahwa makna atau purpose dalam pekerjaan menjadi faktor penting bagi kepuasan kerja mereka.
Bahkan, sebanyak 44% Gen Z dan 38% milenial mengaku pernah menolak tugas atau tawaran pekerjaan karena tidak sesuai dengan nilai dan prinsip pribadi mereka. Pada saat yang sama, minat terhadap posisi kepemimpinan juga relatif tinggi.
Sebanyak 85% Gen Z dan 81% milenial di Indonesia menyatakan tertarik menduduki posisi pemimpin di masa depan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global masing-masing sebesar 76% dan 67%.
Indonesia juga menonjol dalam hal pengalaman kepemimpinan secara nyata. Saat ini, 59% Gen Z dan 79% milenial di Indonesia tercatat sudah mengelola atau mengawasi sebuah tim, jauh melampaui rata-rata global yang masing-masing sebesar 45% dan 61%.
Akan tetapi, hanya 3% Gen Z dan 2% milenial yang menjadikan kepemimpinan sebagai tujuan karir utama mereka. Kemandirian finansial justru menjadi target tertinggi bagi Gen Z di Indonesia (29%), disusul oleh keinginan untuk menjadi ahli di bidangnya (25%).
Sementara bagi kalangan milenial, target kemandirian finansial dan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) menempati posisi puncak secara berimbang di angka 26%. Keraguan untuk mengambil peran kepemimpinan ini dipicu oleh kekhawatiran yang cukup umum, seperti stres, kelelahan fisik dan mental (burnout), serta risiko terganggunya work-life balance.
Survei tersebut juga mencatat kekhawatiran generasi muda Indonesia berbeda dibandingkan tren global. Jika mayoritas negara menempatkan biaya hidup sebagai isu utama, responden Indonesia justru menyoroti korupsi dalam bisnis dan politik sebagai kekhawatiran terbesar.
Sebanyak 34% Gen Z dan 41% milenial menyebut korupsi sebagai isu sosial utama. Selain itu, isu perubahan iklim dan pelestarian lingkungan juga masuk daftar kekhawatiran tertinggi.
Technology & Transformation Leader Iwan Atmawidjaja menyampaikan, generasi muda Indonesia kini menempatkan integritas perusahaan sebagai faktor penting dalam memilih tempat bekerja. “Gen Z dan milenial di Indonesia telah membuktikan bahwa makna bekerja bukan sekadar nilai tambah, melainkan tolok ukur utama dalam proses rekrutmen dan retensi di sebuah perusahaan,” sebutnya.
Kendati begitu, tekanan ekonomi tetap membayangi kelompok usia produktif tersebut. Sebanyak 54% Gen Z dan 43% milenial di Indonesia mengaku menunda keputusan besar dalam hidup, seperti menikah, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis karena kondisi finansial.
Kemudian, keterjangkauan harga rumah juga memengaruhi keputusan karier bagi 74% Gen Z dan 64% milenial di Indonesia.
Survei: Gen Z dan Milenial Ingin Tempat Kerja Fleksibel dan Bermakna
Bagi dua generasi ini, lingkungan kerja ideal bukan lagi sekadar soal gaji tinggi atau jabatan prestisius, melainkan tempat kerja yang fleksibel. [1,377] url asal
#dunia-kerja #lingkungan-kerja #milenial #kesehatan-mental #gen-z #indepth
(Kompas.com - Money) 19/05/26 08:18
v/224475/
JAKARTA, KOMPAS.com - Gen Z dan milenial semakin mengubah cara pandang dunia kerja.
Bagi dua generasi ini, lingkungan kerja ideal bukan lagi sekadar soal gaji tinggi atau jabatan prestisius, melainkan tempat kerja yang memberi fleksibilitas, mendukung kesehatan mental, memiliki tujuan yang jelas, dan memungkinkan keseimbangan hidup.
Temuan itu tergambar dalam Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.
MAGNIFIC/TEKSOMOLIKA Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Survei tersebut menunjukkan generasi muda kini memandang karier dengan pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan.
Deloitte mencatat, Gen Z dan milenial tumbuh di tengah berbagai ketidakpastian, mulai dari tekanan ekonomi, mahalnya biaya hidup, perubahan teknologi yang cepat, hingga meningkatnya risiko burnout di dunia kerja. Situasi itu membentuk ekspektasi baru terhadap tempat kerja ideal.
Chief People & Purpose Officer Deloitte Global Elizabeth Faber mengatakan, Gen Z dan milenial kini memilih jalur karier yang dianggap lebih berkelanjutan dibanding sekadar mengejar ambisi tanpa batas.
“Mereka memilih apa yang berkelanjutan, bukan sekadar performatif, dan menyelaraskan pilihan hidup dengan kondisi realistis dibanding timeline tradisional,” ungkap Faber dalam laporan tersebut.
Work-life balance jadi prioritas
Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari cara Gen Z dan milenial memandang kesuksesan karier. Kenaikan jabatan cepat tidak lagi menjadi tujuan utama.
Dalam survei Deloitte, hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Sebaliknya, mayoritas lebih memilih perkembangan karier yang stabil dan seimbang.
PEXELS/FAUXELS Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengatakan mereka lebih menyukai kemajuan karier yang stabil.
Sementara itu, hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang memilih pertumbuhan cepat lewat promosi dan kenaikan jabatan.
Bahkan sekitar 20 persen responden mengaku bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi memperoleh pengalaman yang dianggap penting untuk kesuksesan jangka panjang.
Integrated Marketing and Communications Executive sekaligus Adjunct Professor untuk Texas Christian University dan University of Dallas Megan Korns Russell menilai generasi muda kini tidak ingin hidupnya hanya berpusat pada pekerjaan.
“Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” kata Russell.
Pandangan serupa juga muncul dari responden survei. Seorang responden Gen Z bernama Nita mengatakan dirinya ingin pekerjaan yang bermakna tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi.
“Saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik melalui pekerjaan, tetapi juga bisa pulang dan menjalani hidup saya, bersantai, dan memiliki pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” tutur dia.
Burnout bikin generasi muda enggan jadi pemimpin
Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa banyak Gen Z dan milenial memandang posisi kepemimpinan identik dengan tekanan kerja berlebihan.
Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaSebanyak 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial menyebut stres dan burnout sebagai alasan utama mereka tidak memprioritaskan posisi kepemimpinan.
Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai tanggung jawab yang terlalu besar menjadi hambatan untuk mengejar posisi tersebut.
Kekhawatiran soal keseimbangan hidup dan pekerjaan juga menjadi faktor penting. Sebanyak 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial mengaku enggan mengejar jabatan tinggi karena takut kehilangan work-life balance.
Global Chief Strategy Officer Deloitte Global Mike Canning mengatakan generasi muda sebenarnya tetap tertarik menjadi pemimpin, tetapi dengan syarat lingkungan kerja mendukung kualitas hidup mereka.
“Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas,” papar Canning.
Meski demikian, minat menjadi pemimpin dalam jangka panjang masih tinggi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tertarik mengejar posisi kepemimpinan senior di masa depan.
Namun, mereka ingin jalur menuju posisi tersebut lebih jelas dan fleksibel. Faktor yang dianggap dapat meningkatkan minat terhadap posisi kepemimpinan antara lain kompensasi lebih tinggi, fleksibilitas kerja, dan kejelasan jalur karier.
Senior Vice President sekaligus Global Head of SAP Next Gen SAP Soledad Alvarado Ganzhorn mengatakan Gen Z dan milenial ingin menjadi pemimpin dengan cara mereka sendiri.
“Mereka ingin menjadi pemimpin dengan cara mereka sendiri,” terang Ganzhorn.
Lingkungan kerja harus punya makna
Selain fleksibilitas, rasa memiliki tujuan atau purpose menjadi elemen penting dalam lingkungan kerja ideal bagi generasi muda.
Sebanyak 96 persen Gen Z dan 97 persen milenial mengatakan memiliki tujuan dalam pekerjaan penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
PEXELS/IVAN S Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Bahkan sekitar 40 persen responden mengaku pernah menolak calon pemberi kerja karena tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan pribadi mereka.
Selain itu, 68 persen Gen Z dan 72 persen milenial merasa pekerjaan mereka saat ini memungkinkan mereka memberi kontribusi bermakna bagi masyarakat.
Deloitte menilai generasi muda kini semakin mempertimbangkan nilai dan tujuan perusahaan dalam mengambil keputusan karier.
“Tujuan tetap menjadi inti,” tulis Deloitte dalam laporan tersebut.
Relasi sosial di kantor juga penting
Lingkungan kerja ideal bagi Gen Z dan milenial juga mencakup hubungan sosial yang sehat di tempat kerja.
Sekitar dua pertiga responden dari kedua generasi mengatakan mereka memiliki setidaknya satu teman dekat di tempat kerja. Temuan Deloitte menunjukkan hubungan sosial di kantor berpengaruh terhadap loyalitas karyawan.
Di kalangan Gen Z, mereka yang memiliki pertemanan dekat di kantor 15 poin lebih mungkin bertahan di perusahaan lebih dari lima tahun dibanding yang tidak memiliki teman dekat di tempat kerja. Pada kelompok milenial, selisihnya mencapai 18 poin.
Menurut Deloitte, koneksi sosial kini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan pekerja muda.
Kesehatan mental jadi perhatian utama
Meski kondisi kesehatan mental generasi muda menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya, stres masih menjadi pengalaman sehari-hari bagi banyak pekerja muda.
freepik Ilustrasi kesehatan mental di tempat kerjaSebanyak 63 persen Gen Z dan 66 persen milenial menilai kesehatan mental mereka dalam kondisi baik atau sangat baik, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Namun, sekitar sepertiga responden masih mengaku merasa cemas atau stres hampir sepanjang waktu.
Tekanan finansial dan jam kerja panjang menjadi pemicu utama stres tersebut. Selain itu, kelelahan digital juga makin umum terjadi.
Lebih dari separuh Gen Z, yakni 58 persen, serta 54 persen milenial mengaku mengalami digital fatigue akibat terlalu banyak notifikasi dan penggunaan berbagai platform digital secara bersamaan.
Deloitte mencatat bahwa kompleksitas digital justru sering memperbesar tekanan kerja dibanding mengurangi beban pekerjaan.
Fleksibilitas dan pembelajaran jadi daya tarik
Gen Z dan milenial juga menginginkan lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran berkelanjutan.
Dalam survei tersebut, kemampuan yang paling ingin mereka kembangkan meliputi public speaking, kepemimpinan, kemahiran AI, komunikasi, dan kreativitas.
Deloitte menilai generasi muda kini memandang kemampuan beradaptasi sebagai strategi penting untuk bertahan di dunia kerja yang terus berubah.
“Kemampuan beradaptasi telah menjadi kemampuan inti,” tulis Deloitte.
Perusahaan pun dinilai perlu menciptakan budaya belajar yang terus berjalan dalam aktivitas kerja sehari-hari, bukan sekadar pelatihan sesekali.
Selain itu, fleksibilitas kerja tetap menjadi salah satu faktor utama yang dicari generasi muda. Deloitte menyebut biaya tempat tinggal, ongkos transportasi, dan tanggung jawab pengasuhan membuat fleksibilitas kerja semakin penting dalam menentukan pilihan karier.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.Survei ini menunjukkan, bagi Gen Z dan milenial, lingkungan kerja ideal adalah tempat yang memungkinkan mereka berkembang tanpa kehilangan keseimbangan hidup, memiliki tujuan yang jelas, memperoleh dukungan kesehatan mental, serta memberi ruang untuk terus belajar dan beradaptasi.
Survei Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey dilakukan terhadap lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.
Responden terdiri dari generasi Z yang lahir pada 1995-2007 dan milenial yang lahir pada 1983-1994.
Selain survei kuantitatif, laporan ini juga dilengkapi wawancara kualitatif dengan para pemimpin bisnis di berbagai negara untuk menangkap pandangan mengenai dunia kerja, kepemimpinan, dan perubahan ekspektasi tenaga kerja muda.
Deloitte menyebut survei ini merupakan edisi ke-15 sejak pertama kali diluncurkan dengan nama “The Voice of Millennials”.
Awalnya, riset tersebut berfokus pada masuknya generasi milenial ke dunia kerja dan bagaimana mereka mulai mengubah hubungan antara pekerja dan perusahaan. Ketika Gen Z mulai memasuki pasar kerja beberapa tahun kemudian, Deloitte memperluas cakupan survei untuk memasukkan perspektif generasi tersebut.
Dalam laporan tahun 2026 ini, Deloitte menyoroti bagaimana Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, kehidupan pribadi, kepemimpinan, kesehatan mental, penggunaan AI, hingga tujuan hidup di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan teknologi yang cepat.
Survei juga memetakan perubahan ekspektasi generasi muda terhadap lingkungan kerja, termasuk kebutuhan akan fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan makna dalam pekerjaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Deloitte: Gen Z dan Milenial Menunda Masa Depan karena Tekanan Keuangan
Di tengah biaya hidup yang terus naik, harga rumah yang melambung, dan tekanan ekonomi, banyak anak muda memilih nanti dulu. [1,272] url asal
#generasi-muda #indepth #biaya-hidup #milenial #membeli-rumah #gen-z
(Kompas.com - Money) 17/05/26 16:35
v/222969/
JAKARTA, KOMPAS.com - Punya rumah, menikah, membangun keluarga, hingga melanjutkan pendidikan dulu kerap dianggap sebagai pencapaian yang “wajib” diraih saat memasuki usia produktif.
Namun bagi banyak generasi muda saat ini, target-target tersebut mulai terasa semakin jauh.
Di tengah biaya hidup yang terus naik, harga rumah yang melambung, dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan, banyak anak muda memilih berkata: nanti dulu.
FREEPIK Ilustrasi gen Z dan milenialLaporan 2026 Gen Z and Millennial Survey dari Deloitte menunjukkan, tekanan finansial kini menjadi faktor utama yang membentuk cara generasi muda memandang pekerjaan, stabilitas, dan masa depan mereka.
Survei yang melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara itu menemukan, biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar selama lima tahun berturut-turut bagi kedua generasi tersebut.
Kekhawatiran soal biaya hidup bahkan melampaui isu pengangguran, keamanan, politik, hingga lingkungan.
Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai perhatian utama mereka saat ini.
Deloitte menyebut kondisi ini melahirkan fenomena “maybe later generation” atau generasi “nanti dulu”, yakni kelompok yang tetap ambisius dan aktif bekerja, tetapi harus menunda banyak keputusan besar dalam hidup karena kondisi finansial yang belum memungkinkan.
Lebih dari separuh responden mengaku menunda keputusan penting seperti menikah, memiliki anak, membangun bisnis, hingga melanjutkan pendidikan.
Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengatakan mereka menunda keputusan besar dalam hidup akibat kondisi keuangan mereka.
SHUTTERSTOCK/DENYS KURBATOV Ilustrasi biaya hidup, menghitung biaya hidup.“Biaya hidup adalah kekhawatiran terbesar saya karena harga-harga terus naik sementara gaji tidak, menyebabkan kerusakan ekonomi, dan hilangnya kemampuan untuk membeli apa yang kita inginkan,” kata Khalil, responden milenial dalam survei tersebut, dikutip dari laporan Deloitte, Minggu (17/5/2026).
Ketika rumah jadi semakin sulit digapai
Kekhawatiran itu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membeli barang konsumsi, tetapi juga kebutuhan dasar seperti tempat tinggal.
Mayoritas responden mengaku harga dan keterjangkauan rumah memengaruhi keputusan karier mereka, termasuk soal lokasi bekerja.
Sebanyak 69 persen Gen Z dan 64 persen milenial mengatakan ketersediaan dan harga hunian berdampak langsung pada pilihan kerja mereka.
Sementara itu, 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial mengaku merasa tidak mampu membeli rumah.
“Suami saya dan saya sama-sama berpenghasilan lebih dari enam digit, tetapi daya beli kami sekarang dibandingkan beberapa tahun yang lalu sama sekali tidak sama,” ujar Rukaya, responden Gen Z.
“Pendapatan kami memang meningkat, tetapi gagasan untuk bisa membeli rumah rasanya tidak mungkin dengan suku bunga dan hal-hal semacam itu. Saat ini kami akan menghabiskan jauh lebih banyak uang untuk rumah yang lebih kecil,” lanjut dia.
Hal serupa disampaikan Mel, responden milenial yang menilai harga rumah kini terasa semakin tidak terjangkau, bahkan untuk kebutuhan dasar.
“Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat, terutama untuk mendapatkan rumah di lingkungan yang bagus dan aman hampir tidak terjangkau,” ungkap dia.
Mel juga menyoroti ketimpangan antara kenaikan biaya hidup dan pendapatan pekerja.
Dok. Shutterstock Ilustrasi membeli rumah.“Para pemberi kerja tidak membayar gaji yang mendekati biaya hidup. Ketika saya melihat lowongan pekerjaan yang diiklankan secara online di kota saya, gaji yang ditawarkan tidak sesuai dengan biaya hidup di sini,” katanya.
Menurut dia, banyak orang kini kesulitan menyisihkan uang untuk menabung karena sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan bahan makanan.
“Sangat sulit bagi orang-orang untuk menabung karena mereka menghabiskan semua uang mereka untuk perumahan,” ucap Mel.
Gaji habis untuk bertahan hidup
Tekanan finansial itu juga tercermin dari kondisi keseharian responden. Survei Deloitte menemukan, 47 persen Gen Z dan milenial hidup dari gaji ke gaji atau paycheck to paycheck.
Sebanyak 34 persen responden dari kedua generasi juga mengaku masih kesulitan memenuhi seluruh kebutuhan hidup bulanan mereka.
Meski demikian, ada sedikit tanda perbaikan dibanding tahun sebelumnya.
Deloitte mencatat jumlah responden yang hidup dari gaji ke gaji turun dibanding tahun lalu yang mencapai 52 persen.
Optimisme terhadap kondisi keuangan pribadi juga masih terlihat, terutama di kalangan Gen Z. Sebanyak 53 persen Gen Z dan 45 persen milenial memperkirakan kondisi finansial mereka akan membaik dalam 12 bulan ke depan.
“Biaya hidup merupakan kekhawatiran yang signifikan karena secara langsung memengaruhi kemampuan saya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti perumahan, makanan, dan transportasi,” ujar Tymon, responden Gen Z.
“Ketika biaya meningkat lebih cepat daripada pendapatan, hal itu akan membebani anggaran kita, mengurangi kemampuan kita untuk menabung, dan membatasi pengeluaran diskresioner,” lanjut dia.
Ambisi karier yang mulai berubah
Di tengah tekanan ekonomi tersebut, generasi muda juga mulai mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan dan karier.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi karier, kesuksesan karier.Laporan Deloitte menunjukkan, banyak Gen Z dan milenial kini lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil dibanding promosi cepat atau jabatan tinggi.
Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengatakan mereka lebih memilih steady progress dalam karier.
Sementara itu, hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang mengejar pertumbuhan cepat berupa promosi, kenaikan jabatan, atau lonjakan gaji.
Deloitte menilai perubahan ini berkaitan erat dengan keinginan generasi muda untuk menjaga keseimbangan hidup dan menghindari burnout.
Ketika ditanya mengenai alasan enggan mengejar posisi kepemimpinan, alasan paling banyak muncul adalah stres dan burnout, tanggung jawab yang terlalu besar, serta kekhawatiran terhadap work-lifebalance.
Hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka saat ini.
“Saya ingin merasa puas dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak selalu membutuhkan semua promosi agar pekerjaan saya membuat saya merasa puas,” ujar Nita, responden Gen Z.
Ia mengatakan ingin pekerjaannya memberi dampak positif tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi.
“Saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik melalui pekerjaan, tetapi juga bisa pulang dan menjalani hidup saya, bersantai, dan memiliki pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” kata dia.
Pandangan serupa juga diungkapkan Zeina, responden Gen Z lainnya.
“Kesuksesan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya, ini semua tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.” ujar dia.
Bertahan dengan terus belajar
iStock Ilustrasi Gen ZDi tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja yang cepat, banyak generasi muda juga memilih memperkuat kemampuan diri sebagai strategi bertahan.
Deloitte menyebut kemampuan beradaptasi kini menjadi modal penting untuk tetap relevan dan bertahan di dunia kerja.
Baik Gen Z maupun milenial kini aktif mengembangkan keterampilan baru, termasuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, hingga literasi AI.
“Saya selalu berusaha untuk berkembang, mempelajari hal-hal baru, dan menjadi lebih baik dalam bidang pekerjaan saya,” terang Dmitriy, responden milenial.
Ella, responden milenial lainnya, mengatakan dirinya tidak harus terus mengejar posisi puncak perusahaan untuk merasa berkembang.
“Saya hanya ingin terus belajar dan berkembang, jadi saya tidak harus selalu meniti karier hingga menjadi CEO atau semacamnya, tetapi saya ingin mempelajari keterampilan baru dan menambah kemampuan saya,” kata dia.
Survei 2026 Gen Z and Millennial Survey dilakukan Deloitte terhadap lebih dari 22.500 responden dari kalangan Gen Z dan milenial di 44 negara.
Dalam survei ini, Gen Z didefinisikan sebagai mereka yang lahir pada 1995 hingga 2007, sedangkan milenial merupakan kelompok kelahiran 1983 hingga 1994.
Deloitte menyebut survei ini merupakan edisi ke-15 dari riset tahunan mereka yang menyoroti pandangan generasi muda terhadap dunia kerja, kondisi ekonomi, kesehatan mental, hingga perubahan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Selain menggunakan survei kuantitatif terhadap responden, laporan ini juga dilengkapi wawancara kualitatif dengan para pemimpin bisnis di berbagai negara untuk menangkap perspektif yang lebih luas mengenai perubahan dunia kerja.
Dalam laporan tersebut, Deloitte menyoroti bagaimana Gen Z dan milenial tumbuh di tengah berbagai disrupsi global, mulai dari tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, keterbatasan akses perumahan, ketidakstabilan geopolitik, hingga perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Kondisi itu dinilai memengaruhi cara kedua generasi tersebut memandang karier, stabilitas finansial, serta keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
Gen Z dan milenial justru lebih memilih jalur karier yang dianggap lebih realistis, sehat, dan berkelanjutan. [1,245] url asal
#karier #milenial #kesehatan-mental #indepth #gen-z #tujuan-karier #biaya-hidup
(Kompas.com - Money) 17/05/26 14:56
v/222918/
JAKARTA, KOMPAS.com - Cara generasi muda memandang karier mulai berubah.
Jika dulu kesuksesan identik dengan jabatan tinggi dan kenaikan posisi yang cepat, kini banyak pekerja Gen Z dan milenial justru lebih memilih jalur karier yang dianggap lebih realistis, sehat, dan berkelanjutan.
Laporan Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan, generasi muda kini lebih berhati-hati dalam menentukan arah karier di tengah tekanan biaya hidup, perubahan teknologi, hingga kekhawatiran soal kesehatan mental.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi karier, kesuksesan karier.Survei yang melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara itu menemukan bahwa banyak anak muda tidak lagi menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka.
Hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi leadership sebagai tujuan karier utama.
Sebaliknya, mayoritas kedua generasi tersebut lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil dibanding promosi cepat.
Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengaku lebih memilih “steady progress” alias progres stabil dalam karier.
Sementara yang menginginkan pertumbuhan cepat dengan promosi dan kenaikan jabatan hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial.
Selain itu, sekitar 20 persen responden bahkan bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi mendapatkan pengalaman yang dianggap lebih sesuai untuk jangka panjang.
Karier kini diukur dari work-life balance
Dalam laporan tersebut, Deloitte menyebut generasi muda mulai mendefinisikan ulang arti kemajuan karier.
hobo_018/ Getty Images/iStockphoto Ilustrasi karierKesuksesan tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa tinggi atau cepat seseorang naik jabatan, tetapi apakah perjalanan karier itu dapat dijalani secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.
Integrated marketing and communications executive sekaligus adjunct professor Texas Christian University (TCU) dan University of Dallas Megan Korns Russell mengatakan, Gen Z dan milenial kini melihat hidup lebih luas daripada sekadar mengejar posisi di kantor.
“Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” kata Russell dalam laporan tersebut.
Hal senada juga tercermin dari pengakuan para responden survei.
“Saya ingin pekerjaan yang membuat saya merasa terpenuhi. Saya tidak harus selalu mendapatkan promosi untuk merasa puas. Saya ingin bisa pulang, menjalani hidup, dan punya pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” ujar Nita, responden Gen Z.
Responden lain, Zeina, juga menyebut definisi sukses baginya kini lebih banyak terkait keseimbangan hidup.
“Kesuksesan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya, ini semua tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” terang dia.
Jabatan tinggi dianggap dekat dengan burnout
Meski tidak menolak kepemimpinan sepenuhnya, banyak Gen Z dan milenial menganggap posisi manajerial identik dengan tekanan besar dan kehidupan yang tidak seimbang.
Survei Deloitte menunjukkan, alasan utama generasi muda enggan mengejar posisi leadership adalah stres dan burnout. Faktor ini disebut oleh 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial.
Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai posisi pemimpin membawa terlalu banyak tanggung jawab.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi burnout. Psikolog mengungkap tiga kebiasaan sederhana yang bisa membantu mencegah burnout sejak dini, mulai dari memberi jeda hingga meluangkan waktu untuk pemulihan.Kekhawatiran soal work-life balance juga menjadi alasan bagi 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial.
Global Future of Work Leader Deloitte Nic Scoble-Williams mengatakan, rendahnya minat terhadap posisi leadership bukan berarti generasi muda tidak ingin memimpin.
“Menarik sekali bahwa hanya sedikit yang memprioritaskan kepemimpinan, tetapi saya tidak berpikir itu berarti ‘tidak ada yang ingin memimpin.’ Hanya saja, itu bukan satu-satunya hal yang penting bagi mereka,” ujar dia.
Menurut dia, banyak pekerja muda kini tidak lagi melihat posisi manajerial sebagai satu-satunya cara untuk memberikan dampak atau mendapatkan pengakuan.
Meski demikian, minat jangka panjang terhadap posisi leadership sebenarnya masih cukup tinggi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tertarik mengejar posisi eksekutif atau senior leadership di masa depan.
Sementara 80 persen Gen Z dan 73 persen milenial tertarik mengambil peran supervisor atau manajerial dalam perjalanan karier mereka.
Namun, mereka ingin posisi tersebut hadir dengan kondisi kerja yang lebih fleksibel dan sehat.
Global Chief Strategy Officer Deloitte Global Mike Canning mengatakan, generasi muda kini mempertimbangkan rasa aman dan kualitas hidup sebelum memutuskan mengambil posisi leadership.
“Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas,” sebut Canning.
Tekanan biaya hidup pengaruhi pilihan karier
Laporan survei Deloitte tersebut juga menunjukkan, tekanan ekonomi menjadi faktor besar yang membentuk keputusan karier generasi muda.
Biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial selama lima tahun terakhir. Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menyebut biaya hidup sebagai isu yang paling mengkhawatirkan.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi biaya hidup.Tekanan finansial ini membuat banyak generasi muda menunda berbagai keputusan besar dalam hidup.
Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengaku menunda keputusan seperti menikah, punya anak, membuka bisnis, atau melanjutkan pendidikan karena kondisi finansial mereka.
Selain itu, 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial merasa tidak mampu membeli rumah.
Kondisi tersebut juga memengaruhi cara mereka memandang stabilitas karier dan pekerjaan.
“Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat,” ujar Mel, responden milenial dalam survei tersebut.
Menurut dia, banyak pekerjaan yang menawarkan gaji yang tidak lagi sebanding dengan biaya hidup di kota tempat tinggal mereka.
AI jadi hagian strategi bertahan di dunia kerja
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja, Gen Z dan milenial juga semakin aktif mengembangkan keterampilan baru.
Deloitte mencatat, kemampuan beradaptasi kini menjadi strategi utama generasi muda untuk menjaga relevansi karier mereka.
Keterampilan yang paling banyak ingin dikembangkan oleh Gen Z antara lain public speaking, kepemimpinan, AI, kemampuan komunikasi, dan kreativitas.
Sementara pada milenial, kemampuan AI menjadi keterampilan yang paling banyak ingin dipelajari.
Penggunaan AI juga meningkat tajam dalam dunia kerja. Sekitar 74 persen Gen Z dan milenial kini menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya.
AI tidak hanya dipakai untuk produktivitas kerja, tetapi juga untuk pengembangan karier dan pembelajaran.
F5 Ilustrasi AI.Sebanyak 79 persen responden menggunakan AI untuk mencari peluang belajar dan pengembangan diri, sementara sekitar 70 persen memanfaatkannya untuk mencari nasihat karier.
Chief People Officer Eightfold AI Meghna Punhani mengatakan, kemampuan paling penting di masa depan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga rasa ingin tahu dan kemauan terus belajar.
“Keterampilan yang paling penting untuk masa depan adalah rasa ingin tahu, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kelincahan untuk terus belajar,” ucap Punhani.
Bagi banyak Gen Z dan milenial, perubahan dunia kerja yang cepat membuat mereka tidak lagi mengandalkan stabilitas jangka panjang seperti generasi sebelumnya.
“Mengapa saya harus mengharapkan stabilitas? Saya hanya perlu menciptakan jalan saya sendiri,” ujar Russell menggambarkan cara pandang generasi muda saat ini.
Sebagai informasi, survei ini merupakan bagian dari Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang telah memasuki edisi ke-15.
Deloitte menghimpun pandangan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara, yang terdiri dari generasi Z dan milenial.
Dalam survei ini, Gen Z didefinisikan sebagai responden yang lahir pada 1995 hingga 2007, sementara milenial merupakan mereka yang lahir pada 1983 hingga 1994.
Selain survei kuantitatif terhadap responden lintas negara, Deloitte juga melengkapi laporan ini dengan wawancara kualitatif bersama para pemimpin bisnis di berbagai pasar.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk menangkap pandangan generasi muda mengenai dunia kerja, kehidupan pribadi, kepemimpinan, hingga perubahan akibat perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Deloitte menyebut survei ini bertujuan melihat bagaimana Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, stabilitas finansial, kesehatan mental, fleksibilitas kerja, serta arah karier mereka di tengah tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, dan perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangKlook Gandeng Garuda dan InJourney, Dorong Digitalisasi Pariwisata RI
Klook, Garuda, dan InJourney berkolaborasi untuk digitalisasi pariwisata Indonesia, menawarkan kemudahan perencanaan wisata dan promosi destinasi internasional. [368] url asal
#klook #garuda-indonesia #injourney #digitalisasi-pariwisata #ekosistem-pariwisata #wisatawan-modern #generasi-milenial #gen-z #pengalaman-wisata #garuda-indonesia-things-to-do #flygaruda #garudamiles
(Bisnis.Com - Ekonomi) 13/05/26 14:11
v/220187/
Bisnis.com, JAKARTA — Platform pengalaman perjalanan asal Asia-Pasifik, Klook resmi menggandeng Garuda Indonesia dan InJourney untuk memperkuat digitalisasi ekosistem pariwisata nasional sekaligus menangkap perubahan perilaku wisatawan modern.
General Manager Klook Southeast Asia, Sarah Wan, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah krusial dalam merespons perubahan perilaku wisatawan. Menurutnya, generasi milenial dan Gen Z kini tidak lagi hanya mencari tiket transportasi, melainkan kemudahan dalam merencanakan seluruh pengalaman wisata dalam satu platform.
“Seiring dengan perubahan perilaku traveler yang kini menginginkan kemudahan dalam merencanakan perjalanan secara end-to-end, Klook berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi guna menciptakan pengalaman wisata yang lebih praktis dan personal,” ujar Sarah dalam acara peluncuran di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Dalam kemitraan dengan Garuda Indonesia, Klook menghadirkan fitur terbaru bernama “Garuda Indonesia Things to Do” yang dapat diakses melalui aplikasi FlyGaruda dan situs resmi maskapai. Fitur ini memungkinkan penumpang memesan berbagai aktivitas wisata, mulai dari tiket atraksi, tur, hingga layanan pendukung seperti bantuan visa, segera setelah memesan tiket penerbangan.
Miles & Ancillary Group Head Garuda Indonesia, Purwa Adi Gurnita, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari transformasi FlyGaruda menjadi platform perjalanan terpadu atau one-stop travel platform. Selain kemudahan akses, kolaborasi ini juga memberikan nilai tambah bagi anggota GarudaMiles.
“Setiap transaksi melalui Garuda Things to Do akan memberikan keuntungan tambahan berupa perolehan GarudaMiles yang dapat dikumpulkan dan ditukarkan untuk berbagai benefit serta pengalaman perjalanan eksklusif,” kata Purwa.
Di sisi lain, kolaborasi dengan InJourney difokuskan pada penguatan promosi destinasi Indonesia ke kancah internasional. Sebagai holding aviasi dan pariwisata, InJourney memanfaatkan jaringan global Klook untuk memperluas eksposur destinasi domestik di luar titik populer seperti Bali.
VP Commercial Partnership & Ecosystem InJourney, Veronica Misako Abimanyu, menyatakan bahwa kerja sama ini selaras dengan strategi InJourney dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di pasar digital. Melalui enam klaster bisnisnya, mulai dari pengelolaan bandara hingga ritel, InJourney berupaya mengorkestrasi ekosistem yang terintegrasi bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.
“Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan visibilitas destinasi dan mendukung pertumbuhan ekosistem pariwisata di Indonesia, termasuk pelaku industri lokal di berbagai daerah,” tambah Veronica.
Data Klook menunjukkan optimisme besar terhadap pasar Indonesia dengan proyeksi pertumbuhan destinasi domestik sebesar 18% pada 2026. Melalui sinergi tiga pihak ini, Indonesia diharapkan mampu memimpin momentum kebangkitan pariwisata di kawasan Asia-Pasifik.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56