#30 tag 24jam
Illustrasi Waralaba Pizza Hut. Pizza Hut di Indonesia memastikan kondisi perusahaan tidak bangkrut atau mengajukan pailit. Jakarta. Kamis (2/7/2020). CNN Indonesia/Andry Novelino
Pizza Hut resmi dijual senilai total US$2,7 miliar atau sekitar Rp48,19 triliun ke perusahaan investasi LongRange Capital dan Yum China. [535] url asal
#pizza-hut #yum-brands #longrange-capital #domino-039-s-pizza #pizza #makanan-cepat-saji #wichita #yum-brands #frank-carney #taco-bell #kansas #longrange-capital #doordash #dolar-as #pepsico #ame
(CNN Indonesia - Ekonomi) 18/06/26 10:16
v/252991/
Pizza Hut resmi dijual senilai total US$2,7 miliar atau sekitar Rp48,19 triliun (asumsi kurs Rp17.857 per dolar AS).
Pemilik Pizza Hut, Yum Brands, menjual bisnis global restoran tersebut kepada perusahaan investasi LongRange Capital senilai US$1,5 miliar atau sekitar Rp26,77 triliun.
Sementara bisnis Pizza Hut di China dijual secara terpisah kepada Yum China dengan nilai US$1,2 miliar atau sekitar Rp21,42 triliun.
Penjualan itu dilakukan setelah jaringan restoran pizza tersebut menghadapi tekanan bisnis selama bertahun-tahun di tengah ketatnya persaingan dan perubahan perilaku konsumen.
Kesepakatan tersebut sekaligus mengakhiri hubungan panjang Pizza Hut dengan Yum Brands yang telah berlangsung selama beberapa dekade bersama merek saudara mereka, KFC dan Taco Bell.
Dalam pengumumannya, Yum menyebut keputusan menjual Pizza Hut diambil setelah manajemen dan dewan direksi melakukan kajian strategis terhadap masa depan bisnis tersebut. Perusahaan menilai struktur kepemilikan baru akan memberikan ruang yang lebih sesuai bagi Pizza Hut untuk berkembang di pasar yang semakin kompetitif.
Penjualan ini juga menjadi penutup dari berbagai tantangan yang membayangi Pizza Hut dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja jaringan restoran pizza tersebut dinilai terus tertinggal dibanding para pesaingnya, terutama di pasar Amerika Serikat (AS) yang merupakan pasar terbesar perusahaan.
Di negara asalnya itu, Pizza Hut sempat kesulitan beradaptasi dengan perubahan tren konsumen dari konsep restoran makan di tempat menuju layanan pesan antar dan bawa pulang.
Di saat yang sama, Domino's Pizza terus memperluas pangsa pasar, sementara platform pengantaran makanan seperti DoorDash turut menggerus penjualan.
Pada November tahun lalu, Yum mengungkapkan tengah mengeksplorasi berbagai opsi strategis untuk Pizza Hut. Hasilnya, perusahaan memutuskan penjualan menjadi langkah yang dianggap paling tepat untuk memaksimalkan nilai bagi pemegang saham sekaligus memberikan fokus bisnis yang lebih spesifik bagi Pizza Hut.
Dari dua transaksi tersebut, Yum memperkirakan akan memperoleh dana bersih sekitar US$2,3 miliar atau setara Rp41,02 triliun setelah dikurangi pajak, biaya transaksi, dan sejumlah penyesuaian lainnya.
Selain itu, Yum masih berpotensi menerima tambahan pembayaran hingga US$75 juta dari LongRange Capital sebelum 2030 apabila sejumlah target kinerja tertentu berhasil tercapai.
Meski demikian, perusahaan memperkirakan akan menanggung biaya satu kali sekitar US$85 juta selama sisa 2026 yang berkaitan dengan proses penjualan tersebut. Transaksi itu masih menunggu persetujuan regulator dan ditargetkan rampung pada kuartal ketiga tahun ini.
Pizza Hut didirikan oleh dua bersaudara, Dan dan Frank Carney, di Wichita, Kansas, AS, pada 1958. Setahun kemudian, konsep waralaba mulai dikembangkan dan mendorong ekspansi perusahaan secara cepat.
Pada 1969, Pizza Hut melantai di bursa saham dan hanya dalam waktu dua tahun berhasil menjadi jaringan pizza terbesar di dunia. Status tersebut bertahan selama puluhan tahun sebelum akhirnya direbut Domino's Pizza pada 2017.
Pizza Hut kemudian menjadi bagian dari PepsiCo pada 1977 saat perusahaan minuman ringan itu mulai berekspansi ke bisnis restoran. Ketika PepsiCo memisahkan unit restoran pada 1997, Pizza Hut bergabung dalam perusahaan yang kemudian berkembang menjadi Yum Brands.
Berdasarkan dokumen perusahaan, hingga akhir 2025 Pizza Hut mengoperasikan hampir 20 ribu gerai di 108 negara dan wilayah. Jaringan tersebut membukukan penjualan sistem tahunan sebesar US$12,8 miliar.
AS menjadi pasar terbesar Pizza Hut dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap total penjualan global. Sementara China menjadi pasar terbesar kedua dengan porsi sekitar 20 persen dari total penjualan sistem perusahaan.
[Gambas:Youtube]
Tujuan PepsiCo Sangat Jelas: Tidak Ada Deforestasi, Tidak Ada Konversi Lahan
Pabrik PepsiCo di Cikarang telah 100% menggunakan energi terbarukan, itu kombinasi dari sertifikat energi terbarukan (REC) dan biomassa. [3,266] url asal
#pepsico #ekonomi-sirkular #industri-hijau #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 28/04/26 13:19
v/205139/
Produk makanan ringan Cheetos, Lays, dan Doritos kembali ke pasar Indonesia di bawah naungan PT PepsiCo Indonesia setelah sempat perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu sempat hengkang pada 2021. Perusahaan kembali dengan mendirikan pabrik di Cikarang, Jawa Barat, yang telah beroperasi sejak 2025.
Ketika PepsiCo meninggalkan Indonesia, produksi camilan berbahan dasar kentang dan jagung tetap memanfaatkan sumber bahan baku dari nusantara. Saat ini, dengan didirikannya pabrik di dalam negeri, sumber bahan baku, produksi, dan pemasarannya berputar di Indonesia.
Bisnis ini sangat bergantung pada aktivitas agrikultur, yang sangat berdampak terhadap lingkungan. Belum lagi kebutuhan air dalam jumlah besar dalam produksi camilan, hingga sisa bahan baku dan sampah kemasan yang terbuang ke lingkungan.
Kepentingan bisnis dan kelestarian sumber daya alam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik bisnis yang berkelanjutan di Indonesia.
Dalam sebuah wawancara terbatas dengan sejumlah media,Chief Sustainability Officer PepsiCo Global, Jim Andrew, membeberkan upaya-upaya berkelanjutan dalam operasional bisnisnya. Mulai dari pertanian regeneratif, energi bersih untuk operasional pabrik, hingga pemanfaatan limbah untuk ekonomi sirkular.
Ia juga menegaskan upaya perusahaan untuk mendapatkan pasokan bahan baku yang berkelanjutan memastikan tidak terjadi deforestasi dan konversi lahan. Berikut kutipan wawancaranya.
Anda memanfaatkan banyak minyak kelapa sawit dari Indonesia dan PepsiCo sebenarnya tengah fokus dalam kepatuhan rantai pasoknya. Bagaimana strategi global perusahaan Anda?
Ketika kami memikirkan tentang berbagai pasokan agrikultur, pedoman kami adalah strategi keberlanjutan ‘PepsiCo Positive’. Itu benar-benar menempatkan keberlanjutan di dalam inti strategi bisnis kami. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai sesuatu yang ada di luar sana dan menjalankan bisnis secara terpisah, ini satu kesatuan yang menjadi komponen inti.
PepsiCo Positive adalah citra perusahaan. Kami menerapkan citra pada segalanya, kami pun berpikir, ‘Bagaimana kami benar-benar mengaitkannya?’ Kami menyadari ada tiga bidang, salah satunya kami sebut ‘Positive Agriculture’, karena kami perusahaan makanan, sekitar 60% (produksi perusahaan) adalah makanan. Yang ada di negara ini adalah Lays, Cheetos, dan Doritos.
Kami memiliki pabrik baru yang sangat besar yang telah kami bangun. Investasinya sekitar US$ 200 juta (Rp 3,48 triliun, kurs Rp 17.240 per US$) dan kami memulai operasionalnya tahun lalu. Namun, kami sudah lama membeli bahan baku dari Indonesia.
Yang selalu kami perhatikan untuk memperoleh bahan baku dari seluruh dunia, adalah ‘Bagaimana kami melakukannya dengan baik?’ dan ‘Bagaimana kami melakukannya secara berkelanjutan?’
Jadi, kami memiliki tiga tujuan utama atau kami sebut pilar, yaitu Positive Agriculture, Positive Value Chain, dan Positive Choices.
Positive Choices adalah portofolio (produk) kami. Positive Value Chain adalah tujuan kami terkait emisi, penggunaan air, dan kemasan. Lalu Positive Agriculture, karena jika kami tidak memiliki komoditas tanaman pangan, kami tidak bisa berbisnis. Jadi kami bekerja sangat erat dengan petani dan komunitas lokal, bagaimana kami membantu mereka menjalankan pertanian yang lebih baik, lebih berkelanjutan.
Ini adalah pertanian regeneratif. Bagaimana kami mendapatkan bahan baku kami secara berkelanjutan dan kami dapat meningkatkan mata pencaharian para petani dan komunitas yang terlibat. Jadi kami berbincang banyak petani di Kalimantan Timur dan meninjau praktik baik perkebunan besar maupun pertanian lahan kecil dengan luas 2.000 hektare.
Kami meninjau keduanya. Bagaimana mereka merawatnya? Juga bagaimana mereka merawatnya dengan cara yang berkelanjutan dan mendukung mata pencaharian mereka dalam jangka panjang?
Termasuk hutan dan kemampuannya untuk tumbuh, selama tahun-tahun berikutnya. Saat ini kondisi lingkungan banyak berubah, dan kami sebagai perusahaan membutuhkan rantai pasok yang tangguh. Artinya, kami membutuhkan para petani untuk tetap bertani. Kami ingin mereka berhasil, kami ingin mereka produktif.
Jadi apa yang kami telah lakukan dan sering saya lakukan di berbagai belahan dunia adalah bekerja sama dengan tim kami di tingkat tapak sehingga mereka dapat bekerja dengan berbagai mitra, termasuk dengan petani. Ini bisnis dengan skala sangat lokal.
Saya banyak berbincang dengan para petani setiap tahun dan mereka dapat menceritakan pada Anda, "Perkebunan saya ini berbeda." Kami baru saja berbincang pekan ini dengan para petani, dan mereka mengatakan, "Bagian di sana dulu, tanahnya berbeda, ada yang tanahnya satu jenis, ada yang kondisinya sudah rusak, dan saya sudah memulihkannya." Itu adalah hal yang sangat penting dalam bekerja sama dengan petani.
Dalam rantai pasok global kami, kami memiliki sekitar 300 ribu petani yang bekerja sama secara langsung maupun tidak langsung. Jadi kami tidak bisa menyentuh setiap petani, tapi kita bekerja sama dengan mitra yang dapat mendukung para petani untuk melakukan apa yang banyak kami lihat pekan ini di tingkat tapak.
Ketika kamu hanya membantu satu petani, satu perkebunan, tapi tanah di sekitarnya tidak efektif, maka itu tidak akan berhasil seperti kamu bekerja pada keseluruhan lanskap dan komunitas yang ada. Baik itu memastikan tanahnya tetap sehat atau pemulihan airnya berhasil.
Jadi, kami mencari aksi kolektif dengan mitra yang benar-benar memahami kondisi lingkungan lokal dan dipercaya para petani. Kami berusaha bekerja sama dengan para petani dan membantu mereka berubah. Untuk melakukannya, petani harus percaya itu adalah bisnis mereka. Itulah bagaimana mereka menyajikan makanan di meja untuk keluarga mereka.
Perusahaan memiliki tujuan utama Positive Agriculture, untuk mendukung pertanian regeneratif. Bagaimana konsep pertanian regeneratif ini dilakukan di lapangan?
Pertanian regeneratif adalah serangkaian praktik pertanian di mana pertani akan membantu meningkatkan kualitas tanah. Untuk melakukannya, tergantung pada dimana mereka berada.
Upaya untuk meningkatkan kualitas tanah di Kalimantan Timur akan sangat jauh berbeda dengan di Amerika Serikat (AS). Di sana pun, sebagian memiliki masalah air, ada juga yang tidak. Ada yang mengalami degradasi tanah, ada yang memiliki tanah dengan kualitas sangat baik.
Jadi, ini alasan mengapa kami bekerja sama dengan mitra lokal yang dipercaya para petani dan memahami kondisi lokal, sehingga dapat menentukan apa yang tepat untuk dilakukan petani. Berapa banyak pupuk yang diperlukan? Bagaimana cara menyiapkan tanahnya? Semua hal yang berkaitan dengan itu.
Inilah upaya untuk membantu peningkatan kualitas tanah dan bukan hanya untuk satu tahun, tapi selama bertahun-tahun. Sekali lagi, kami bertemu dengan banyak petani pekan ini.
Kekhawatiran mereka, memang betul saya ingin menghasilkan uang dan memiliki perkebunan sekarang. Tapi, anak saya atau generasi selanjutnya, saya ingin mereka bisa mengikuti jejak saya. Untuk melakukannya, saya harus melindungi hutan, saya harus melindungi tanah.
Lalu, bagaimana Anda memandang isu deforestasi atau atau keterkaitan perkebunan besar dengan bencana? Ini mungkin berkaitan juga dengan bisnis PepsiCo, bagaimana menurut Anda?
PepsiCo sangat jelas mengenai pendekatan yang kami gunakan untuk mendapatkan bahan baku berkelanjutan. No Deforestation, No Conversion (tidak ada deforestasi, tidak ada konversi lahan). Tujuan kami sangat jelas untuk 2030 dan kami bekerja sama dengan lembaga-lembaga khususnya pemasok utama kami.
Jadi, mereka bekerja sama dengan orang yang memasok mereka dengan memastikan bahwa kami bekerja sangat keras agar tidak menyebabkan deforestasi di dalam rantai pasok. Ini sesuatu yang terus menerus kami lakukan secara serius, kami memiliki kebijakan untuk mendukungnya.
Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, apakah Anda menemukan sesuatu yang spesial atau menantang di sini? Bagaimana untuk menghadapinya?
Jika kita melihat gambaran besarnya, para petani di seluruh dunia, apapun yang mereka tanam, dan saya akan membahas Indonesia, sedang menghadapi tantangan yang semakin sulit. Perubahan iklim membuatnya lebih menantang. Tempat yang panas semakin panas, tempat yang basah semakin basah, yang kering semakin kering.
Badai semakin ekstrem, semakin besar. Jadi saya berpikir menjadi petani itu sangat menantang, di mana pun itu di dunia. Mereka harus tetap hidup.
Ketika membahas Indonesia, khususnya minyak kelapa sawit, saya rasa itu tidak berbeda karena mereka menghadapi tantangan yang sama. Jenis perkebunannya berbeda, mereka menanam kelapa sawit, jagung, tapi tidak dengan oats.
Namun mereka harus berhasil, mereka harus menghadapi tantangan cuaca yang sama. Kebijakan kami mengenai deforestasi serupa untuk di seluruh dunia.
Mata pencaharian petani, pasokan berkelanjutan, itu hal-hal yang sangat konsisten. Secara spesifik itulah mengapa kami bekerja sama sangat erat dengan mitra lokal dan bentuk kolaborasinya selalu berbeda, namun secara keseluruhan tantangannya sama di seluruh dunia.
Ketika berbicara mengenai tantangan iklim dan bencana alam, yang menjadi catatan adalah yang terjadi di Tenggulun, Aceh. Salah satu area restorasi di bawah program PepsiCo dilaporkan tidak terlalu terdampak banjir. Bagaimana Anda menjelaskan kondisi area ini?
Kami masih bekerja bersama mitra lokal kami, pelaksana kami, untuk mendapatkan informasi detail dan memahami apa yang menyebabkan apa. Namun sekali lagi, jika kita melihat gambaran besarnya, kita tahu area yang telah direforestasi lebih tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan itu, badai ekstrem atau kekeringan atau apapun itu.
Jadi apakah dalam kasus ini, apa yang kami lakukan secara langsung menjadi penyebabnya atau justru mendukungnya, kami masih berusaha mencari lebih lanjut. Namun umumnya, kita tahu ekosistem yang sehat lebih tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan dari alam.
Kami sangat bersyukur mengetahui area tersebut, apapun alasannya, lebih sedikit terdampak daripada area lainnya. Tampaknya itulah area reforestasi dan memiliki ekosistem alami dan daya dukung yang paling kuat.
Bagi PepsiCo, itu sesuatu yang sangat penting, ketahanan dari rantai pasok kami. Ya, kami membutuhkan petani yang dapat mengatasi kemungkinan perubahan cuaca dan terus bertani sebab kami membutuhkan tanaman pangan. Kita membutuhkan kentang, minyak kelapa sawit, jagung.kita membutuhkan ini semua agar dapat membuat produk yang kita jual kepada konsumen setiap hari.
Ada statistik yang sangat menggembirakan, di seluruh dunia, sekitar satu miliar produk kami dinikmati setiap harinya. Jadi, kami membutuhkan banyak tanaman pangan agar dapat mendukung besarnya bisnis ini dan memberi senyuman di wajah orang-orang. Ya, semua orang menikmati keripik, kan.
Ketika PepsiCo menghentikan produksi makanan ringan di Indonesia pada 2021, PepsiCo Global tetap melanjutkan untuk menghasilkan bahan baku dari Indonesia?
Kami terus memasok sejumlah tanaman dan komoditas pertanian dengan ‘Positive Agriculture’, secara berkelanjutan. Itu tidak berubah karena Indonesia adalah negara yang penting bagi PepsiCo, untuk keduanya.
Area di mana kami mendapatkan pasokan, negara asal pasokan kami, juga perusahaan, negara tempat kami beroperasi. Beberapa tahun kami tidak melakukan operasi di sini, tapi Indonesia tetap menjadi sumber pasokan penting. Kini kami memiliki keduanya, namun itu sudah menjadi hal yang sangat penting dalam jangka waktu panjang.
Dari 300 ribu petani global yang menjadi mitra, berapa banyak dari Indonesia?
Kami tidak memiliki laporan mengenai angka yang pasti, tapi secara langsung maupun tidak langsung ketika menghitung petani kecil, ada sangat banyak di Indonesia, termasuk yang perkebunannya sangat luas.
Salah satu pria yang kami temui pekan ini memiliki 2.000 hektare lahan. Di tempat lain, bertemu dengan sekitar 10-15 petani. Kami makan siang bersama dan mereka menunjukkan kepada kami bagaimana lembaga yang bekerja sama dengan mereka membantu para petani menanam kakao secara tumpang tindih dengan kelapa sawit. Sehingga, mereka memiliki penghasilan tambahan dari kakao.
Selain itu, hal ini juga bermanfaat bagi kesuburan tanah dan membantu mendiversifikasikan kegiatan pertanian mereka. Di sana kami bertemu dengan sekitar 10-15 petani, tetapi skala usaha mereka semua cukup kecil. Itu di Kutai, Kalimantan Timur.
PepsiCo mengirim sejumlah petani Indonesia untuk belajar dari Thailand, apa tujuannya?
Keripik Lays mungkin menjadi merek makanan terbesar di dunia dan sangat disukai konsumen. Rasanya, teksturnya, penampilannya. Budaya menggoreng kentang di rumah sudah ada sejak lama, kami hanya punya dapur lebih besar untuk membuatnya.
Tapi semuanya dimulai dari kentang. PepsiCo memiliki varietas genetiknya sendiri di banyak negara untuk memastikan kentang tersebut sempurna dari segi DNA, tetapi kita membutuhkan petani untuk menanamnya dengan cinta dan perhatian agar berkualitas. Ketika kami masuk ke negara baru, ada proses edukasi yang kami lakukan bersama petani negara tersebut untuk membantu mereka belajar cara menanam kentang Lays sebaik mungkin.
Tanah, air, dan jika memungkinkan genetika yang tepat untuk memaksimalkan hasilnya. Para petani belajar paling baik dari sesama petani. Saat mereka pergi melihatnya, mereka mencelupkan jari mereka ke ladang lain dan petani itu memberitahu mereka ‘inilah yang berhasil’, maka itu seperti sihir.
Itulah mengapa kami berusaha melakukan hal-hal seperti membawa petani ke Thailand untuk berbincang dengan petani lain yang telah berhasil menanam kentang selama bertahun-tahun.
Pelatihan ini membantu seluruh ekosistem pertanian di Indonesia dan meningkatkan mata pencaharian mereka. Petani mendapatkan hasil panen yang lebih tinggi, mereka menghasilkan lebih banyak uang, dan mereka mampu menekan biaya dengan menggunakan input dalam jumlah tepat. Bukan hanya untuk satu tahun, tetapi untuk jangka panjang.
Kami mengajak mereka untuk melihat langsung dan seiring waktu mereka menjadi petani yang lebih baik. Di banyak negara, kami memiliki apa yang kami sebut sebagai demo farms atau lahan percontohan. Pada suatu saat, saya yakin kami tidak akan membawa mereka ke Thailand, kami akan membawa mereka ke seorang petani Indonesia yang sukses menanam kentang beberapa tahun.
Pabrik PepsiCo di Indonesia, di Cikarang menggunakan energi bersih dalam operasinya. Saya ingin tahu energi bersih apa yang dimanfaatkan dan berapa besar implementasinya? Mungkin berapa persen dari total energi yang digunakan?
Ya, sekali lagi, pabrik kami dibangun saat kembalinya kami ke negara ini dengan nilai sekitar US$ 200 juta. Kami merancangnya sangat ramah lingkungan sejak dari awal. Sebab, ketika kami membangun pabrik baru, kami menyebutnya sangat ‘Sustainable from the Start’ (berkelanjutan sejak awal). Kami ingin membangunnya dengan cara yang dapat membantu tujuan kami pada 2030.
Jadi, itu telah 100% menggunakan listrik terbarukan. Itu dicapai melalui berbagai kombinasi dari sertifikat terbarukan, RECs (renewable energy certificate), dengan biomassa. Ada sebuah ketel uap (boiler) bertenaga biomassa, khususnya yang kami gunakan untuk membuat keripik Lays. Kami memiliki sejumlah perjanjian jual-beli listrik. Jadi kami memiliki portofolio penggunaan listrik terbarukan. Tapi sudah 100% hari ini.
Air juga menjadi topik yang penting, jadi kami memiliki manajemen air yang sangat kuat. Bagi kami, kami memiliki visi bahwa pada 2030 kami akan mencapai Net Water Positive. Artinya, jumlah air yang kami gunakan untuk membuat produk akan lebih rendah dari yang kami pulihkan ke daerah aliran sungai, ke area di mana air diperoleh.
Kami melakukannya dengan cara memastikan bahwa pabrik beroperasi sangat efisien. Jadi kami menerapkan praktik terbaik di pabrik sejak awal. Selain itu, kami juga memiliki proyek pemulihan cadangan air. Saya harus mengeceknya agar tidak salah menyebutkan, jadi kami proyek restorasi, pemulihan cadangan air di Sukabumi. Kami merestorasi 7.000 benih di area seluas 30 hektare. Ini adalah contoh proyek pemulihan cadangan air yang sudah dijalankan.
Itu telah memulihkan kembali cadangan air dalam jumlah sangat besar. Ke depan, kami ingin melihat bagaimana cara mengurangi penggunaan air sekaligus memulihkan cadangan air tersebut untuk mencapai Net Water Positive.
Kami juga bekerja sama dengan perusahaan air minum dan ini sangat inovatif. Kami bekerja sama dengan mereka untuk menggunakan air daur ulang dari sistem mereka untuk hal-hal seperti mencuci kentang. Jadi, penggunaan air bersih benar-benar rendah dan sangat efisien.
Begitu juga soal limbah. Kami selalu mencari cara untuk menggunakan ulang limbah sebanyak mungkin, mengurangi limbah dan menggunakannya kembali sebanyak yang kami mampu. Anda benar, pabrik ini adalah salah satu contoh nyata di seluruh sistem kami di seluruh dunia perihal efisiensi, keberlanjutan, dan menjadi pengelola sumber daya yang baik.
Melanjutkan perihal sampah dari pabrik, itu akan menjadi limbah organik yang mungkin dapat digunakan untuk kompos dan lain sebagainya, apakah PepsiCo memiliki program untuk menjalankannya?
Kami memulainya dengan meminimalisasi limbah, karena dengan mengurangi, mengurangi, mengurangi, ini adalah pendekatan terbaik. Benar bahwa limbah keluar dari pabrik kami, dari kemasan, limbah air, dan semuanya. Jadi kami selalu berupaya mengurangi lalu kami berupaya menggunakan kembali di manapun kami bisa.
Jadi hal-hal seperti boiler bertenaga biomassa menggunakan limbah yang biasanya berasal dari lingkungan setempat. seperti limbah pertanian atau semacamnya.
Di pabrik kami di Inggris misalnya, kami mengumpulkan kulit-kulit kentang dan memasukannya dalam anaerobic digester (pengurai limbah tanpa oksigen), lalu mengubahnya menjadi pupuk yang kemudian disalurkan kepada petani untuk digunakan di ladang mereka untuk menanam kentang. Jadi ini adalah sistem sirkular yang sangat baik. Sekali lagi, apa yang kami lakukan tergantung pada lokasi kami, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah.
Sekali lagi, kemampuan untuk memanfaatkan air daur ulang dalam kegiatan seperti mencuci merupakan pendekatan yang sangat inovatif, yang dapat terwujud berkat kerja sama baik dengan perusahaan air minum setempat.
Mengetahui kerja Anda dan Tim PepsiCo, saya membayangkan itu pasti membutuhkan biaya lebih banyak, untuk membuatnya berkelanjutan. Ini ada biaya tambahan. Bagaimana untuk berkompromi dengan itu? Satu sisi harus ramah lingkungan dan di sisi lain produk tersebut harus terjangkau harganya
Keterjangkauan bagi konsumen di seluruh dunia, keterjangkauan adalah isu besar dan kami sangat menyadari pentingnya keterjangkauan dan apa yang perlu kami lakukan agar bisnis kami bisa sukses. Kami juga menyadari, untuk mencapai kesuksesan, bisnis kami harus berkelanjutan.
Jika para petani tidak bisa menanam produk yang kita butuhkan di Indonesia, seperti jagung, kelapa sawit, atau kentang, bisnis kita tidak akan berjalan. Jadi kita harus melakukannya keduanya. Tentu saja, produk kita harus terjangkau dan kita harus memastikan bahwa pertumbuhan kita berkelanjutan.
Kami berada di Indonesia untuk jangka panjang. Jadi bukan hanya dari pasokan, tetapi juga dari sudut pandang bisnis dan operasional, kami harus memastikan produk kami terjangkau, inovatif, dan berkualitas tinggi sehingga semua orang di ruangan ini membeli lebih banyak dan menikmatinya.
Kami harus melakukannya dengan cara berkelanjutan hingga ke seluruh rantai pasok kita. Baik itu air atau pertanian, harus berkelanjutan. Ini berlaku di seluruh dunia, jadi kita harus melakukan keduanya dan tidak memisahkannya. Itulah yang membedakan PepsiCo.
Sekali lagi, PepsiCo Positive bukanlah CSR yang terpisah dari bisnis. Kami melihat dewan direksi kami, CEO kami, memahami pentingnya membangun bisnis berkelanjutan. Untuk melakukannya, Anda harus memastikan seluruh rantai pasok dan semua orang di dalamnya juga berkelanjutan.
PepsiCo banyak menggunakan plastik dan sebagainya, bagaimana PepsiCo mengelola produk pascapakai atau limbah plastiknya? Bagaimana upaya pengumpulannya berjalan?
Kami memiliki visi bahwa kemasan tidak akan pernah menjadi limbah. Setidaknya itu aspirasi kami di seluruh dunia. Namun tidak ada perusahaan yang bisa melakukannya sendirian, butuh kerja sama. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perusahaan, dan konsumen harus berperan membantu menciptakan ekonomi sirkular untuk kemasan. Oleh karena itu, kami bekerja sangat erat dengan organisasi di Indonesia di seluruh rantai nilai.
Kami bekerja sama erat dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) untuk program pengumpulan (kemasan pasca pakai) dalam rangka EPR (extended producers responsibility) dan Bali Waste Cycle, itu adalah organisasi yang bekerja sangat erat karena kami butuh mitra.
Semua langkah itu harus dijalankan untuk mewujudkan ekonomi sirkular. Jika salah satunya terlewatkan atau tidak terlaksana, maka sistemnya akan runtuh.
Tapi di level global, pada 2024 yang merupakan data terbaru, kami telah mengurangi penggunaan plastik baru dalam lingkup kami sebesar lima persen secara tahunan. Jadi kami memiliki sekitar 15% kandungan daur ulang dalam lingkup kami.
Kami sedang berupaya mengurangi, kami berupaya menggunakan lebih banyak kandungan bahan daur ulang, dan bekerja sama dengan lembaga seperti Ellen MacArthur Foundation secara global, serta Bali Waste Cycle dan IPRO secara lokal agar dapat bekerja sama untuk menciptakan ekonomi sirkular.
Dukungan pemerintah seperti apa yang menurut Anda diperlukan untuk mendukung penggunaan bahan daur ulang dalam kemasan?
Pemerintah memainkan peran sangat penting dalam menetapkan kerangka kebijakan untuk ekonomi sirkular terkait kemasan. Apakah Anda memiliki infrastruktur untuk mengumpulkan kemasan? Apakah Anda memiliki sistem EPR yang dirancang dengan baik dan berfungsi? Apakah anda memiliki persyaratan kandungan daur ulang? Apakah Anda berpikir secara luas atau hanya berpikir sempit perihal bahan?
Jadi, ada serangkaian hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk membantu menetapkan kerangka kebijakan yang kemudian membantu memobilisasi seluruh ekosistem. Sekali lagi, tidak ada perusahaan yang bisa melakukannya sendirian.
Tahun 2030 hanya empat tahun dari sekarang, Anda menyebutkan sejumlah target tapi apakah anda mengevaluasi visi tersebut dan apakah anda telah memiliki catatan, mungkin secara tidak resmi, melampaui 2030?
Kami melaporkan perkembangan setiap tahun dalam mencapai setiap tujuan yang telah ditetapkan. Anda dapat menemukan laporkan terakhir di situs kami, kami melaporkannya setiap tahun. Versi terbaru baru akan keluar beberapa bulan yang mana akan merangkum semua data dari 2025.
Sebagian telah dirilis, sebagian lagi masih dalam proses. Kami telah mencapai beberapa target air kami lebih awal. Meskipun demikian, kita akan menghadapi tantangan 2030 dan kita akan memantau kemajuan kita. Jadi kita sangat transparan. Orang-orang dapat melihat dimana kami, apa yang kami kerjakan, apa yang menjadi tantangan-tantangan.
Terkait rencana setelah 2030, kami masih fokus pada target 2030. Ketika sudah lebih dekat tentu kami akan mulai memikirkannya. Kami belum memulai untuk setelah 2030. Seperti yang Anda katakan, itu masih panjang, 4,5 tahun lagi.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas
Editor: Hari Widowati
Cek juga data ini
SOS Sampah Plastik, PepsiCo Global Janji Kurangi Plastik Virgin 2% per Tahun
Perusahaan menargetkan penurunan penggunaan plastik virgin sebanyak lima persen per tahun. [316] url asal
#pepsico #plastik #daur-ulang #update-me #industri-hijau #berkelanjutan #ekonomi-sirkular
(Katadata - Ekonomi Hijau) 24/04/26 21:37
v/207761/
Raksasa makanan dan minuman PepsiCo Global melaporkan penurunan penggunaan plastik virgin sebanyak lima persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan menyatakan tengah berupaya untuk beralih ke kemasan berkelanjutan atau daur ulang untuk menekan penambahan sampah plastik.
Penurunan tersebut lebih besar dari target. “Kami mengupayakan pengurangan plastik virgin dalam lingkup operasional kami rata-rata dua persen setiap tahun hingga 2030. Saat ini, kami memiliki sekitar 15 persen bahan daur ulang dalam lingkup operasional kami,” kata Chief Sustainability Officer PepsiCo Global Jim Andrew dalam wawancara di Jakarta, Jumat (24/4).
Plastik virgin adalah plastik yang dibuat dari bahan baku baru alias belum pernah digunakan atau didaur ulang sebelumnya. Plastik virgin atau plastik murni umumnya berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi atau gas alam. Penggunaan plastik virgin banyak dikritik aktivis lingkungan karena plastik sudah terlalu banyak mencemari lingkungan.
Meski begitu, kata Jim, perusahaan tetap memprioritaskan untuk mengurangi penggunaan plastik sebagai kemasan, baru kemudian menggunakan plastik daur ulang.
Perusahaan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program kemasan berkelanjutan. Di level global, PepsiCo menggaet antara lain Ellen MacArthur Foundation, badan amal yang berbasis di Inggris dengan agenda pengembangan ekonomi sirkular.
Di Indonesia, perusahaan menjalin kolaborasi dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan Bali Waste Cycle. Keduanya membantu industri penghasil makanan ringan dan minuman kemasan ini untuk mengumpulkan produk pascapakai dan mendaurulang-nya.
Produksi Plastik Global Tembus 400 Juta Ton per Tahun
Mengutip United Nations Environment Programme (UNEP), lebih dari 400 juta ton plastik diproduksi setiap tahun di seluruh dunia. Setengahnya didesain untuk sekali pakai, sedangkan yang didaur ulang tak lebih dari 10 persen.
Diestimasi, sekitar 11 juta ton sampah plastik mengendap di sungai dan danau, bermuara ke laut, atau masuk ke dalam rantai makanan manusia dalam bentuk mikroplastik. Benda kecil dari serpihan plastik ini dapat masuk ke tubuh manusia dan menjadi pemicu sejumlah masalah kesehatan.
Data UNEP juga mengungkap, industri kemasan adalah penghasil sampah plastik sekali pakai terbesar di dunia.
Bos PepsiCo Bicara Target Bebas Deforestasi hingga Tumpang Sari Sawit di Kutai
PepsiCo menyatakan tetap pada komitmennya agar rantai pasoknya -- khususnya untuk komoditas-komoditas berisiko tinggi -- bebas dari deforestasi dan konversi lahan natural. [303] url asal
#pepsico #deforestasi #pertanian #sawit #update-me #hutan-dan-lahan #industri-hijau
(Katadata - Ekonomi Hijau) 24/04/26 18:08
v/202055/
Perusahaan makanan dan minuman multinasional PepsiCo menyatakan tetap pada komitmennya agar rantai pasoknya -- khususnya untuk komoditas-komoditas berisiko tinggi -- bebas dari deforestasi dan konversi lahan natural pada 2030. Dikenal sebagai produsen minuman bersoda Pepsi, Pepsico juga adalah produsen beragam produk camilan populer seperti Lays, Doritos, atau Cheetos.
“Kami memiliki target yang jelas untuk 2030, dan kami bekerja sama dengan berbagai organisasi, khususnya pemasok tingkat pertama (tier one suppliers), agar mereka juga bekerja dengan para pemasok mereka untuk memastikan tidak terjadi deforestasi dalam rantai pasok kami," kata Chief Sustainability Officer PepsiCo Global Jim Andrew dalam wawancara di Jakarta, Jumat (24/4).
Menurut Jim, perusahaan juga terus berupaya untuk memastikan bahan bakunya bersumber dari lahan yang menerapkan pertanian regeneratif -- praktek pertanian yang mendukung pemulihan dan peningkatan kesehatan ekosistem.
Dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini, Jim bercerita bahwa dirinya sempat berkunjung ke perkebunan sawit dalam rantai pasok PepsiCo di Kutai, Kalimantan Timur. Perkebunan itu disebutnya sebagai contoh pertanian regeneratif yang berdampak positif pada ekonomi petani.
“(Perkebunan ini) menunjukkan bagaimana organisasi yang bekerja sama dengan kami membantu petani menerapkan tumpang sari kakao dengan kelapa sawit, sehingga mereka memiliki sumber pendapatan tambahan dari kakao,” ujarnya.
Jim mengatakan ada sekitar 300 ribu petani yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam rantai pasok PepsiCo. Perusahaan memiliki keterbatasan untuk memantau seluruhnya. Karena itu, perusahaan bekerja sama dengan mitra-mitra lokal untuk pendampingan petani.
Selain soal pertanian regeneratif, Jim bercerita soal program restorasi lahan, salah satunya di Kecamatan Telunggun, Aceh. Meski berada di kawasan yang terdampak banjir dan longsor di Sumatra pada akhir tahun lalu, wilayah ini disebut tidak mengalami dampak signifikan.
Menurut Jim, kawasan yang telah direstorasi memiliki kondisi tanah yang lebih sehat dan pengelolaan air yang lebih baik, sehingga lebih tangguh menghadapi risiko bencana. “Kami bersyukur mengetahui area tersebut, apa pun alasannya, terdampak lebih sedikit dibanding area lainnya,” kata dia.
Pasar Tokenisasi Menguat, PINTU Listing 10 Tokenized Assets Global
PT Pintu Kemana Saja menambah 10 tokenisasi aset global, memperkaya pilihan investasi kripto, Kini, lebih dari 300 aset crypto tersedia di platform PINTU. [358] url asal
#tokenisasi-aset #investasi-kripto #pintu #aset-digital #blockchain #pasar-tokenisasi #mastercard #rwa-xyz #pepsico #ishares-20-year-treasury-bond-etf #eli #chevron #ishares-core #iskandar-moh
(CNN Indonesia - Ekonomi) 23/02/26 16:10
v/144518/
PT Pintu Kemana Saja (PINTU) terus memperluas pilihan investasi bagi penggunanya dengan menambah 10 tokenisasi aset global yang kini dapat diperdagangkan di platform tersebut.
Langkah ini memperkaya variasi instrumen investasi kripto yang tersedia di aplikasi PINTU, yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dilansir dari Pintu Academy, tokenisasi adalah sebuah proses yang membuat hak kepemilikan terhadap suatu aset dapat direpresentasikan sebagai token dan disimpan di jaringan blockchain.
Sementara itu contoh tokenisasi adalah aset-aset di dunia nyata seperti mata uang, saham, obligasi, komoditas, properti, dan lain-lain.
Head of Product Marketing PINTU, Iskandar Mohammad, mengatakan sepanjang Februari hingga Maret 2026, perusahaan telah melisting 10 aset crypto.
Token tersebut antara lain Mastercard (MAX), JPMorgan Chase (JPMX), Chevron (CVXX), Advanced Micro Devices (AMDX), iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLTX), Eli Lilly (LLYX).
Kemudian, iShares Core US Aggregate Bond ETF (AGGX), iShares Core MSCI EAFE ETF (IEFAX), UnitedHealth (UNHX), dan PepsiCo (PEPX).
"Pilihan tokenisasi aset ini memungkinkan investor crypto bisa melakukan diversifikasi aset tidak hanya ke proyek-proyek berbasis crypto, tapi tokenized asset pilihan seperti saham, Exchange Traded Fund (ETF), Silver, Emas, dalam bentuk tokenisasi yang seluruhnya dapat diakses dengan mudah di aplikasi PINTU," ujarnya dikutip Senin (23/2).
Berdasarkan data dari website rwa.xyz, diperlihatkan bahwa pasar tokenisasi Real World Asset (RWA) terus mengalami pertumbuhan positif dengan angka on-chain menunjukkan total nilai tokenisasi RWA mencapai US$25,03 miliar atau berkisar Rp423 triliun.
Dalam gelaran konferensi Consensus Hong Kong, tokenisasi RWA menjadi salah satu topik utama yang dibahas. Disebutkan bahwa gelombang pertumbuhan sektor ini semakin didorong oleh partisipasi institusi besar.
Selain itu, sejumlah ahli menilai bahwa pemanfaatan teknologi blockchain dalam tokenisasi aset memungkinkan proses yang lebih efisien, penyelesaian transaksi yang lebih cepat, serta transparansi yang lebih tinggi karena seluruh transaksi dapat tercatat dan diverifikasi secara terbuka.
Dengan penambahan puluhan tokenized asset di aplikasi PINTU, kini terdapat lebih dari 300 aset crypto yang dapat diinvestasikan dan diperdagangkan oleh pengguna.
"Melihat potensi besar dari perkembangan tokenisasi aset, kami akan terus menghadirkan beragam pilihan aset crypto yang relevan agar pengguna PINTU dapat melakukan diversifikasi portofolio lebih optimal serta mengakses kesempatan investasi aset global dengan lebih mudah," ujar Iskandar.
PepsiCo Indonesia Perkuat Rantai Pasok Kentang Industri Lokal
PepsiCo Indonesia bermitra dengan petani di Bandung Barat untuk memperkuat pasokan kentang industri lokal bagi produksi Lay's, mengurangi ketergantungan impor. [357] url asal
#pepsico #kentang #kentang-industri
(Bisnis.Com - Terbaru) 02/12/25 20:00
v/58508/
Bisnis.com, BANDUNG – PT PepsiCo Indonesia Foods and Beverages menggandeng petani di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat untuk memperkuat rantai pasok bahan baku lokal berupa kentang industri.
Director of Government Affairs and Corporate Communication PepsiCo Indonesia Gabrielle Angriani Johny mengatakan, kentang tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan baku untuk makanan ringan, Lay’s, yang diproduksi perusahaan.
“Kentang industri belum tersedia banyak di Indonesia sehingga kami berpikir bahwa kita harus memproduksi kentang ini secara lokal,” katanya usai penanaman kentang industri perdana PepsiCo Indonesia di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Selasa (2/12/2025).
Gabrielle melanjutkan pemilihan lokasi di Jawa Barat lantaran daerah ini memiliki karakteristik yang sesuai untuk penanaman kentang industri, terutama di daerah Lembang, Cisarua, dan Kabupaten Garut. Salah satunya berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Selain itu, kata dia, area pertanian tersebut dekat dengan lokasi pabrik PepsiCo di Cikarang, Jawa Barat sehingga memudahkan pengiriman.
“Lebih dari itu, petani di sini sudah terbiasa untuk menanam produk hortikultura. Meskipun kami juga meningkatkan capacity building dengan mengajari mereka budidaya kentang industri yang bisa memiliki produktivitas tinggi,” katanya.
Sementara itu, perwakilan kelompok tani Plantation, Asep Suhendar, mengatakan bahwa pola kemitraan antara petani dan PepsiCo dapat memberikan kepastian harga dan pasar sehingga petani tidak akan risau terkait penyerapan hasil panen kentang industri.
“Biasanya kalau panen dan jual di pasar ada ketidakpastian harga,” ujarnya.
Asep mengemukakan penanaman kentang industri PepsiCo di area seluas 25 hektare dan melibatkan 45 petani di tiga kecamatan.
Bupati Kabupaten Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, pihaknya mendukung pengembangan kentang industri di KBB.
“Saya berharap petani bisa mengikuti standar industri, memperkuat kelembagaan dan meningkatkan profesionalisme,” katanya.
Di tempat yang sama, Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Perkebunan dan Hortikultura Kementerian Koordinator Bidang Pangan Gunawan mengatakan pasokan kentang industri saat ini mayoritas dipenuhi dari impor.
“Namun, bukan berarti kami tidak melakukan langkah-langkah penurunan [impor], salah satunya lewat penyediaan bibit unggul sehingga nantinya bisa swasembada kentang,” katanya.
Menurut Gunawan, kentang industri berbeda dengan kentang sayur lantaran memiliki spesifikasi khusus, baik dari ukuran maupun kandungan. Oleh karena itu, pihaknya secara bertahap akan lakukan pengembangan, baik dari sektor hulu maupun hilir, sehingga nanti bisa swasembada kentang.
Petani Jabar genjot produksi kentang industri adopsi metode Thailand
Petani Jawa Barat di tiga kabupaten yakni Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Garut, bersiap menggenjot produksi kentang industri dengan ... [520] url asal
#petani-jawa-barat #kentang-industri #pepsico #bandung-barat #produksi-kentang-industri
Bandung (ANTARA) - Petani Jawa Barat di tiga kabupaten yakni Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Garut, bersiap menggenjot produksi kentang industri dengan mengadopsi metode pertanian dari Thailand yang diklaim mampu meningkatkan produktivitas kentang industri hingga 50 persen.
Langkah tersebut diinisiasi perusahaan multinasional PT PepsiCo Indonesia Foods and Beverages, dan dimulai dengan penanaman perdana kentang industri di kompleks RSJ Cisarua, Bandung Barat, pada Selasa ini dengan dihadiri pejabat Pemkab Bandung Barat, perwakilan Pemprov Jabar, Kementerian Perindustrian, Kemenko Pangan dan Kemenko Perekonomian.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie di RSJ Cisarua, menegaskan kerja sama ini menjadi titik balik sektor agraris daerah yang mulai dilirik investor skala global, sekaligus mentransformasi pola pertanian konvensional menuju model industri yang terintegrasi.
"Pengembangan kentang industri ini kami tempatkan sebagai sektor strategis. Ini bukan sekadar tanam, tapi bukti wilayah Bandung Barat kini mulai dilirik dunia usaha skala besar untuk pasar global," ujar Jeje seusai penanaman perdana.
Dengan masuknya investasi dan teknologi yang diusung Pepsico yang sekaligus berperan sebagai offtaker kentang yang diproyeksi di Bandung Barat akan tertanam seluas 15 hektare pada tahap awal, Jeje mengatakan Pemkab Bandung Barat juga memberikan stimulus langsung berupa bantuan mesin panen dan benih berkualitas pada beberapa kelompok tani agar standar hasil panen petani lokal dapat memenuhi kualifikasi ketat industri makanan global.
"Pemerintah daerah memberikan pendampingan penuh menjaga kualitas. Petani harus dilibatkan secara aktif agar kemandirian ekonomi masyarakat terbentuk," kata Jeje.
Di lokasi yang sama, Director of Government Affairs and Communication PepsiCo Indonesia, Gabrielle Angriani menjelaskan proyek yang rencananya dilakukan di tiga kabupaten ini membawa misi khusus mereplikasi kesuksesan pertanian kentang di Chiang Mai, Thailand, untuk diterapkan di tanah Jawa Barat yang memiliki kemiripan iklim.
Fokus utama kemitraan ini adalah memangkas kesenjangan hasil panen (yield gap) yang cukup jauh antara petani Indonesia dan Thailand.
"Di Indonesia, rata-rata hasil kentang industri per hektare hanya mencapai belasan hingga 20-an ton. Sementara di Thailand, hasilnya bisa tembus 30 ton bahkan lebih. Angka inilah yang ingin kita kejar dan terapkan di sini," kata Gabrielle.
Untuk mencapai target tersebut, Gabrielle mengatakan pihaknya telah mengirimkan enam petani "agregator" dari Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Garut ke Chiang Mai pada Februari lalu.
Mereka mendapatkan pelatihan intensif mengenai teknik presisi, mulai dari manajemen pengairan hingga rahasia efisiensi penggunaan pupuk yang tidak berlebihan namun berdampak maksimal.
Gabrielle menyebutkan, tahap awal program ini akan menyasar ratusan hektare lahan dan melibatkan ratusan petani lokal dengan mengembangkan kentang varietas Bliss dan Atlantic.
Beberapa petani lokal di Jawa Barat dilaporkan telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PepsiCo. Bentuk kerja sama ini mencakup transfer pengetahuan, termasuk pelatihan intensif.
Salah satu petani yang ikut dalam proyek ini, Ulus Pirmawan, mengharapkan dengan adanya kerja sama ini bisa turut mensejahterakan petani di Jabar, khususnya di Kabupaten Bandung Barat.
Menurut Ulus yang mengelola lahan garapan seluas dua hektare itu, dengan kerja sama ini, para petani mendapatkan kepastian pasar.
"Alhamdulillah ya mudah-mudahan kedepannya petani-petani yang ada di KBB lebih sejahtera. Kenapa? Karena bisa mendapatkan pasar yang udah jelas. Karena kita dengan Pepsico itu di harga udah kontrak sekitar Rp10 ribu per kilogram dan tidak susah mencari pasar," ucap Ulus menambahkan.
Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
