#30 tag 24jam
Bank MAS (MASB) Putuskan Tak Bagi Dividen, Laba Ditahan untuk Penguatan Modal
Bank MAS (BMAS) tidak membagikan dividen 2025, memilih menahan laba Rp205,13 miliar untuk memperkuat modal dan mendukung pertumbuhan bisnis. [252] url asal
#bank-mas #bmas #laba-ditahan #penguatan-modal #tidak-bagi-dividen #rupst #dana-cadangan-wajib #pertumbuhan-aset #dana-pihak-ketiga #kredit-digital #ekspansi-jaringan-kantor #kantor-cabang-baru #strate
(Bisnis.Com - Finansial) 20/05/26 19:58
v/226875/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Multiarta Sentosa Tbk. (MASB) atau Bank MAS memutuskan tidak membagikan dividen dari laba tahun buku 2025 dan memilih menahan laba untuk memperkuat modal perseroan di tengah tantangan industri perbankan dan kebutuhan menjaga ketahanan bisnis.
Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (20/5/2026).
Dalam rapat itu, pemegang saham menyepakati laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp205,13 miliar tidak dibagikan sebagai dividen.
Sebanyak Rp2 miliar disisihkan sebagai dana cadangan wajib, sementara sisanya sebesar Rp203,13 miliar dibukukan sebagai laba ditahan untuk penguatan modal perseroan.
“Tidak adanya pembagian dividen untuk Tahun Buku 2025,” tulis manajemen dalam hasil keputusan RUPST, Rabu (20/5/2026).
Langkah penahanan laba ini dilakukan seiring strategi Bank MAS memperkuat fondasi bisnis dan mendukung pertumbuhan ke depan. Perseroan juga telah memperoleh persetujuan pemegang saham atas perubahan opsi pemulihan untuk indikator permodalan dalam laporan rencana aksi pemulihan (recovery plan) sesuai ketentuan POJK 5/2024.
Di sisi kinerja, Bank MAS mencatat pertumbuhan aset sebesar 14,59% menjadi Rp33,10 triliun pada 2025 dari sebelumnya Rp28,89 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) naik 16,40% menjadi Rp28,58 triliun, sementara kredit tumbuh 15,34% menjadi Rp13,82 triliun. Penyaluran kredit digital juga melonjak 116,86% menjadi Rp1,13 triliun.
Selain memperkuat bisnis digital, Bank MAS juga melanjutkan ekspansi jaringan kantor dengan membuka tiga kantor cabang baru di Cirebon, Gading Serpong, dan Tulungagung sepanjang 2025.
Hingga akhir tahun lalu, perseroan telah memiliki 46 kantor cabang operasional di berbagai kota besar di Indonesia.
Easycash Salurkan Pinjaman Rp92,3 Triliun dan Layani 9,8 Juta Orang Peminjam
Easycash telah menyalurkan pinjaman Rp92,3 triliun kepada 9,8 juta peminjam sejak 2017, dengan fokus pada literasi keuangan Gen Z untuk mengurangi risiko gagal bayar. [414] url asal
#easycash #pinjaman-online #p2p-lending #literasi-keuangan #gen-z #fintech-indonesia #kredit-digital #unbanked-indonesia #risk-assessment #teknologi-ai #inklusi-keuangan #reputasi-kredit #lifestyle-inf
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/04/26 19:18
v/202127/
Bisnis.com, SURABAYA — PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) platform p2p lendingmencatatkan akumulasi penyaluran pendanaan sebesar Rp92,3 triliun dengan total peminjam sebanyak 9,8 juta sejak 2017 hingga Maret 2026.
"Seiring dengan pertumbuhan tersebut, kami memperkuat penetrasi literasi keuangan bagi generasi muda guna memitigasi risiko gagal bayar," kata Head of Corporate Affairs Easycash, Wildan Kesuma, di Surabaya, Kamis (23/4/2026).
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 80,51%, namun indeks literasi masih tertinggal di angka 66,46%. Khusus pada kelompok Gen Z, kesenjangan pemahaman risiko produk keuangan digital menjadi perhatian serius bagi pelaku industri.
Menurut Wildan, Surabaya sebagai pusat ekonomi dinamis memiliki populasi Gen Z dan milenial yang besar sebagai basis pengguna utama. Hingga saat ini, Easycash telah melayani sekitar 9,8 juta total akumulasi penerima dana secara nasional, dengan mayoritas pasar terkonsentrasi di Pulau Jawa.
"Kami melihat kecepatan adopsi layanan fintech belum sepenuhnya dibarengi pemahaman mendalam. Lewat inisiatif Modul Bijak Keuangan (MOJANG) dan ChatPindar berbasis AI, kami ingin membekali mahasiswa di UNESA agar lebih bijak mengatur arus kas dan menjaga reputasi kredit," ujarnya.
Meskipun penyaluran pendanaan tumbuh agresif, dia meyakinkan, kualitas aset tetap berada dalam level sehat. Hingga periode Maret 2026, tingkat keberhasilan bayar dalam waktu 90 hari (TKB90) Easycash tercatat di atas 99%, mencerminkan efektivitas sistem manajemen risiko perusahaan.
Wildan menyebutkan, dari total pasar yang dilayani, lebih dari 50% pengguna merupakan kelompok Gen Z dan milenial. Segmentasi pengguna didominasi oleh masyarakat unbanked atau yang belum maksimal mendapatkan akses ke layanan keuangan formal, termasuk pekerja sektor informal (gig workers), karyawan, hingga petani.
"Sistem kami menggunakan teknologi AI untuk melakukan risk assessment secara presisi dalam hitungan menit. Namun, literasi tetap menjadi fondasi agar pengguna bisa menyesuaikan pinjaman dengan kemampuan bayar mereka," tambahnya.
Hingga saat ini, dia mengungkapkan, Easycash memproses pinjaman dengan tenor hingga 12 bulan dan plafon mencapai Rp100 juta. Besaran bunga yang diterapkan disesuaikan dengan aturan OJK, yakni maksimal 0,3% per hari untuk pinjaman jangka pendek di bawah 6 bulan dan 0,2% per hari untuk di atas 6 bulan.
Sementara itu, Director of General Financial Planning Program IARFC Indonesia, Mirzan Hasan, menyoroti fenomena lifestyle inflation yang sering menjebak generasi muda dalam perilaku konsumtif impulsif.
Menurutnya, reputasi kredit atau credit scoring merupakan aset masa depan yang harus dijaga sejak masa kuliah.
“Banyak Gen Z terjebak dalam ilusi kemakmuran media sosial. Modul MOJANG mengajarkan mereka untuk memilah kebutuhan dan keinginan, serta menggunakan pinjaman secara produktif untuk masa depan finansial yang sehat,” ucapnya. (K24)
Bisnis Digital Solid, Bank Raya Bukukan Kinerja Positif di Kuartal I/2026
Bank Raya Indonesia mencatat kinerja positif di Q1 2026 dengan laba bersih Rp6,79 miliar, didukung pertumbuhan kredit digital 33,1% dan inovasi layanan digital. [726] url asal
#bank-raya #bisnis-digital #kredit-digital #pinang-dana-talangan #pertumbuhan-laba #pendapatan-bunga #dana-pihak-ketiga #digital-saving #inklusi-keuangan #aplikasi-raya #inovasi-digital #qris-tampil
(Bisnis.Com - Finansial) 23/04/26 18:42
v/200924/
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) membuktikan komitmen mencapai pertumbuhan bisnis berkelanjutan melalui capaian kinerja di kuartal I/2026 yang semakin solid. Pertumbuhan ini ditopang dari sisi penyaluran kredit digital, penghimpunan simpanan digital, maupun penguatan fundamental keuangan. Pada Kuartal I/2026, Bank Raya membukukan laba bersih sebesar Rp6,79 miliar, yang diperkuat oleh pertumbuhan pendapatan bunga yang mencapai Rp308,35 miliar atau meningkat 7,5% (yoy), dengan pendapatan bunga kredit yang meningkat menjadi sebesar Rp226,29 miliar atau tumbuh 11,0% (yoy).
Di sisi bisnis digital, penyaluran kredit digital tercatat sebesar Rp8,14 triliun atau tumbuh 29,0% (yoy). Sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit digital, outstanding kredit digital Bank Raya juga mengalami kenaikan yaitu sebesar Rp3,14 triliun atau tumbuh 33,1% (yoy). Hal ini mencerminkan konsistensi pertumbuhan bisnis digital Bank Raya yang sejalan dengan transformasi yang telah dilakukan, khususnya dalam pengembangan ekosistem digital dan peningkatan kualitas layanan kepada nasabah.
Ida Bagus Ketut Subagia, Direktur Utama Bank Raya mengatakan, “Pertumbuhan kinerja pada awal tahun 2026 ini mencerminkan konsistensi kami dalam menjalankan strategi transformasi digital secara terukur dan memperkuat bisnis digital secara berkelanjutan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit digital yang mencapai Rp3,14 triliun atau meningkat sebesar 33,1% (yoy) pada Kuartal I/2026.”
Champion product Bank Raya yaitu Pinang Dana Talangan terus menunjukkan kinerja cemerlangnya. Selama 3 bulan di awal tahun 2026, Bank Raya telah menyalurkan Pinang Dana Talangan sebesar Rp7,25 triliun, tumbuh sebesar 33,4% (yoy) atau mencatatkan outstanding sebesar Rp1,15 triliun, tumbuh 63,0% (yoy), yang telah disalurkan kepada sekitar 52 ribu Agen BRILink dan Agen Gadai.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Raya terus tumbuh mencapai sebesar Rp8,44 triliun yang didorong oleh pertumbuhan dana murah yaitu produk Giro dan Tabungan yang mencapai Rp3 triliun atau tumbuh 30,2% yoy. Pertumbuhan dana murah telah berhasil didorong oleh Digital Saving yang tumbuh signifikan sebesar 63,9% (yoy) atau mencapai Rp2,30 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya adopsi layanan digital Bank Raya oleh masyarakat, seiring dengan upaya perseroan dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan digital.
Bagus menambahkan “Bank Raya terus menjaga momentum pertumbuhan di awal tahun 2026 melalui penguatan inovasi digital dan pengembangan produk yang berorientasi pada kebutuhan market dan nasabah. Kami berkomitmen untuk menghadirkan layanan perbankan digital yang semakin inklusif, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi ekosistem guna membuka peluang pertumbuhan baru di berbagai segmen. Sejalan dengan visi kami sebagai bank digital utama yang memberikan solusi keuangan digital dengan akses terluas bagi masyarakat Indonesia, Bank Raya akan terus memperluas jangkauan layanan, meningkatkan kualitas pengalaman nasabah, serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan finansial secara cepat, aman, dan berkelanjutan di seluruh lapisan masyarakat.”
Pencapaian kinerja Bank Raya yang terus sejalan dengan perbaikan yang terus terjadi pada rasio profitabilitas. Rasio NIM tercatat meningkat sebesar 91bps menjadi 5,78% seiring dengan optimalisasi aset produktif dan pengelolaan biaya dana yang lebih efisien. Pada Kuartal 1/2026, kondisi likuiditas Bank Raya juga masih terjaga baik, terlihat dari rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) yang tercatat sebesar 81,64% dan rasio LCR (Liquidity Coverage Ratio) tercatat 442,55%, serta Rasio Net Stable Funding Ratio (NSFR) tercatat sebesar 164,71% diatas ketentuan minimum sebesar 100%. Dengan rasio permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang masih terjaga kuat di 41,8% pada Maret 2026 Bank Raya tetap optimis akan dapat menjaga momentum pertumbuhan bisnis digital secara jangka panjang.

Inovasi Digital untuk Percepatan Inklusi Keuangan dan Mendorong Pertumbuhan Bisnis
Untuk mendorong percepatan inklusi keuangan digital dan mendorong aktivitas bertransaksi di Aplikasi Raya, Bank Raya menghadirkan inovasi pada layanan digital saving melalui program apresiasi “Raya Poin”. Program ini memberikan reward kepada nasabah yang meningkatkan saldo serta aktif bertransaksi melalui Aplikasi Raya selama periode program yang berlangsung hingga 31 Januari 2027. Poin yang dikumpulkan dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik, seperti kupon undian, voucher, dan berbagai bentuk reward lainnya.
Selain itu, Bank Raya juga memperkuat ekosistem transaksi digital melalui optimalisasi fitur QRIS Tampil Bank Raya yang memudahkan nasabah, khususnya pelaku usaha, dalam menerima pembayaran secara cepat, praktis, dan terintegrasi. Melalui berbagai inovasi tersebut, Bank Raya terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan digital di masyarakat dengan menghadirkan pengalaman bertransaksi yang lebih mudah, menarik, dan bernilai tambah.
“Kami terus memperkuat kapabilitas digital melalui pengembangan produk yang relevan, peningkatan kualitas layanan, serta optimalisasi ekosistem digital untuk menghadirkan solusi keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.” tutup Bagus.
Kinerja Bank Raya 2025, Transformasi Bisnis Digital Tumbuh Berkelanjutan
Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) sukses transformasi digital 2025, dengan pertumbuhan kredit digital 39,8% dan simpanan digital 66,7%, fokus inovasi produk [700] url asal
#bank-digital #transformasi-digital #aplikasi-raya #penyaluran-kredit #penghimpunan-dana #pertumbuhan-bisnis #digital-attacker #ekonomi-digital #kredit-digital #pendapatan-bunga #digital-saving #tabung
(Bisnis.Com - Finansial) 17/03/26 16:13
v/167306/
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) sebagai bank digital telah berhasil menjalankan langkah transformasi digital melalui inovasi di Aplikasi Raya yang tercermin pada aspek penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Bank Raya masih memiliki ruang pertumbuhan yang baik di tengah meningkatnya kebutuhan nasabah untuk bertransaksi digital.
Pencapaian tersebut ditopang oleh pertumbuhan di segmen bisnis digital sejalan dengan upaya Bank Raya sebagai digital attackerBRI Group dalam percepatan ekonomi digital di Indonesia. Terbukti dari laporan keuangan konsolidasian audited per 31 Desember 2025 yang mencatatkan penyaluran kredit digital sebesar Rp28,75 triliun atau tumbuh 39,8% (yoy), outstanding kredit digital Bank Raya mencapai Rp3,07 triliun atau tumbuh sebesar 33,9% (yoy), sehingga menopang secara keseluruhan total kredit sebesar Rp7,72 triliun atau tumbuh 8,3% (yoy). Meningkatnya penyaluran kredit ini juga berdampak pada pertumbuhan pendapatan bunga pada tahun 2025 sebesar 14,0% (yoy) menjadi sebesar Rp1,19 triliun dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar Rp1,05 triliun. Saat ini, porsi kredit digital telah mencapai 39,8% dari total kredit, meningkat dari 32,1% pada akhir tahun 2024.
Di sisi simpanan, Bank Raya mencatatkan pertumbuhan digital saving sebesar Rp2,20 triliun atau tumbuh 66,7% (yoy), yang diimbangi dengan peningkatan transaksi Aplikasi Raya 16,3% (yoy) dan mencapai 4,7 juta transaksi. Bank Raya juga terus berfokus untuk mengembangkan basis dana CASA melalui ekspansi tabungan digital, sehingga di tahun 2025 rasio CASA tercatat 33,62%, tumbuh dibandingkan dengan tahun 2024, yaitu 27,50%.
Ida Bagus Ketut Subagia Direktur Utama Bank Raya mengatakan, “Pertumbuhan ini mencerminkan fokus kami pada strategi pertumbuhan bisnis digital berkualitas, kami optimis bisnis digital terus memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan. Kami selalu berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan penguatan fundamental sebagai bukti keberhasilan kami bertransformasi menjadi bank digital.”
Inovasi Produk Digital di Lini Bisnis Utama menjadi Fokus Pertumbuhan Jangka Panjang
Sebagai bagian dari proses transformasi menjadi bank digital, Bank Raya aktif mengembangkan produk dan layanan perbankan di mana Bank Raya telah menghadirkan lebih dari 111 fitur pada Aplikasi Raya.
Bagus menambahkan “Kami terus mendorong upaya perluasan adopsi Aplikasi Raya di masyarakat melalui serangkaian langkah literasi keuangan melalui berbagai channel, maupun promo-promo menarik yang mendorong minat masyarakat dalam menggunakan produk dan layanan Bank Raya. Sehingga brand awareness Bank Raya terus meningkat.”
Bank Raya terus meningkatkan inovasi teknologi yang dikembangkan di Aplikasi Raya. Sebagai driver pertumbuhan digital saving, Bank Raya mengembangkan Fitur Uang Saku untuk membantu pengelolaan dan pemantauan keuangan anak sejak dini.
Akhir tahun 2025, Bank Raya telah meluncurkan fitur Kartu Digital Debit Visa yang bertujuan agar nasabah dapat bertransaksi di platform online di dalam maupun di luar negeri.
Pengembangan inovasi lainnya pada 2025 yang bertujuan untuk meningkatkan transaksi adalah fitur Tagih Uang sebagai pengembangan Saku Bareng, yang memudahkan komunitas dalam mengelola uang bersama dengan jumlah anggota hingga 300 orang.
Bank Raya terus mendorong pelaku usaha untuk membangun ekosistem usahanya melalui integrasi Saku Bisnis. Melalui penyediaan QRIS Bisnis dan fitur Kasir, diharapkan dapat memudahkan pelaku usaha untuk memantau pembayaran melalui QRIS secara real time dari Aplikasi Raya.
Sementara dari sisi digital lending, pertumbuhan didorong melalui inovasi. Raya Paylater juga hadir sebagai opsi pembiayaan tambahan bagi nasabah dengan ketentuan pembayaran yang transparan dan fleksibel.
Bank Raya juga terus memperkenalkan produk digital lending, yaitu Pinang Dana Talangan, pinjaman untuk mendukung produktivitas Agen BRILink, Pinang Flexi, pinjaman multiguna untuk karyawan tetap, serta Pinang Maksima untuk invoice-based financing dalam mendukung produktivitas bisnis pelaku usaha. Pada akhir tahun 2025, tercatat pertumbuhan pesat dari Top 3 produk digital loan Bank Raya, yaitu outstanding Pinang Flexi meningkat 20,5% (yoy) atau menjadi sebesar Rp1,03 triliun, Pinang Dana Talangan bertumbuh 52,9% (yoy) menjadi sebesar Rp1,08 triliun dan Pinang Maxima bertumbuh 71,53% (yoy) atau menjadi Rp880 miliar.
Sepanjang tahun 2025, Bank Raya juga terus mengoptimalkan potensi sinergi dengan ekosistem BRI, dimulai dari pemanfaatan channel BRI seperti Agen BRILink dan Agen Gadai. Bank Raya juga semakin memperluas cakupan layanan melalui kerjasama pinjaman produktif serta DPLK BRI kerjasama fitur BRIFine pada Aplikasi Raya dan YBM BRiLiaN untuk fitur pembayaran zakat & donasi dan juga ekosistem fintech dan digital lainnya untuk melayani UMKM.
Untuk mengetahui bagaimana strategi Bank Raya dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan, simak ulasan lengkapnya dalam artikel selanjutnya.
Fenomena "Loveflation", Anak Muda Tak Ragu Berutang untuk Kencan
Tren ini mencerminkan perubahan dalam perilaku finansial, di mana keputusan keuangan semakin dipengaruhi oleh faktor sosial dan emosional. [1,352] url asal
#kencan #indepth #daya-beli-masyarakat #kredit-digital #paylater #hubungan-romantis
(Kompas.com - Money) 17/02/26 10:10
v/138525/
JAKARTA, KOMPAS.com - Tekanan ekonomi global yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya memengaruhi daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok, tetapi juga mengubah dinamika kehidupan sosial, termasuk hubungan romantis.
Fenomena yang dikenal sebagai loveflation, yakni kenaikan biaya kencan akibat inflasi, telah mendorong sebagian individu lajang menggunakan kartu kredit dan layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater untuk membiayai aktivitas kencan.
Tren ini mencerminkan perubahan dalam perilaku finansial, di mana keputusan keuangan semakin dipengaruhi oleh faktor sosial dan emosional.
SHUTTERSTOCK/PRZEMEK KLOS Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).Dalam beberapa kasus, penggunaan kredit untuk mendukung kehidupan sosial bahkan telah menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan citra dan meningkatkan peluang dalam hubungan romantis.
Satu dari empat orang rela berutang demi kencan
Dikutip dari Huffington Post, Selasa (17/2/2026), survei loveflation yang dilakukan oleh platform penagihan Invoice Home menemukan, satu dari empat orang di Amerika Serikat (AS) bersedia berutang kartu kredit untuk mendukung aktivitas kencan dengan seseorang yang mereka sukai.
Temuan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian individu, pengeluaran untuk hubungan romantis dianggap sebagai investasi sosial yang layak, meskipun harus menggunakan utang.
Caleb Silver, editor-in-chief Investopedia mengatakan, keinginan untuk memberikan kesan positif sering kali memengaruhi keputusan finansial seseorang dalam konteks hubungan romantis.
“Orang ingin menampilkan versi terbaik dari diri mereka saat berkencan, dan terkadang hal itu membutuhkan biaya finansial,” tuturnya.
FREEPIK Ilustrasi kencan pertama.Menurut dia, individu cenderung ingin menampilkan stabilitas finansial dan kesuksesan, bahkan ketika kondisi keuangan mereka sebenarnya tidak sepenuhnya mendukung gaya hidup tersebut.
Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya biaya hidup dan tekanan sosial, yang membuat individu merasa perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk aktivitas sosial, termasuk kencan.
Sementara itu, Shannah Game, perencana keuangan bersertifikat dan penulis buku Unraveling Your Relationship with Money menyebut, kesediaan orang Amerika untuk berutang demi kencan menunjukkan betapa dalamnya kebutuhan akan rasa memiliki membentuk keputusan keuangan.
Berkencan saat ini bisa terasa seperti pertunjukan, dan kartu kredit memudahkan untuk mendukung citra kemudahan finansial bahkan ketika itu tidak nyata, kata Game.
“Meminjam untuk mengesankan seseorang biasanya berasal dari tempat yang sangat manusiawi, tidak ada yang ingin uang menjadi alasan mereka tidak mendapatkan kencan kedua,” katanya.
“Tetapi pengeluaran dapat menciptakan rasa percaya diri dan koneksi sementara. Tantangannya adalah stres finansial cenderung berlangsung jauh lebih lama daripada kegembiraan hubungan baru," imbuh dia.
Ketergantungan generasi muda terhadap kredit
Penggunaan kartu kredit di kalangan generasi muda terus meningkat. Survei yang dilakukan Lending Tree menunjukkan, sekitar 53 persen milenial dan 41 persen Gen Z mengaku semakin bergantung pada kartu kredit dibandingkan sebelumnya.
Ketergantungan ini mencerminkan perubahan dalam peran kartu kredit, dari alat pembayaran darurat menjadi instrumen pembiayaan konsumsi sehari-hari, termasuk aktivitas sosial dan gaya hidup.
Selain itu, tekanan ekonomi juga membuat sebagian individu menggunakan kartu kredit untuk mempertahankan gaya hidup tertentu, bahkan ketika kondisi finansial mereka terbatas.
Matt Schulz, kepala analis kredit di LendingTree, mengatakan kondisi keuangan memainkan peran penting dalam hubungan romantis.
Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi pasangan."Uang adalah salah satu sumber stres terbesar dalam hubungan," ungkap dia.
Menurut Schulz, utang dapat menjadi sumber konflik dalam hubungan, terutama jika tidak dikelola dengan baik atau tidak dikomunikasikan secara terbuka.
Paylater jadi alternatif pembiayaan
Selain kartu kredit, layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater semakin populer sebagai alternatif pembiayaan konsumsi. Layanan ini memungkinkan pengguna membeli barang atau jasa terlebih dahulu dan membayarnya secara cicilan.
Kemudahan akses dan proses persetujuan yang cepat membuat layanan ini semakin diminati, terutama oleh generasi muda yang memiliki akses terbatas terhadap kredit tradisional.
Namun, kemudahan ini juga membawa risiko finansial, terutama jika pengguna tidak memahami kemampuan finansial mereka.
Schulz memperingatkan, penggunaan paylater yang tidak terkendali dapat menyebabkan masalah finansial yang serius.
"Utang bisa menjadi di luar kendali jika Anda tidak berhati-hati," ucapnya.
Menurut dia, akumulasi utang dapat terjadi secara cepat, terutama jika individu menggunakan berbagai sumber kredit secara bersamaan.
Kredit dan persepsi dalam hubungan romantis
Kondisi keuangan seseorang juga memengaruhi cara individu menilai calon pasangan.
Survei yang dilakukan Quicken menunjukkan, sekitar 78 persen orang Amerika tidak bersedia menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki utang kartu kredit jangka pendek.
Data ini menunjukkan, stabilitas keuanhan telah menjadi faktor penting dalam hubungan romantis modern.
Freepik/Freepik Ilustrasi pasangan. Konsep love language memang membantu pasangan saling memahami, tetapi jika disalahartikan justru bisa memicu kesalahpahaman dalam hubungan.Selain itu, utang tidak hanya memengaruhi kondisi finansial individu, tetapi juga persepsi sosial dan peluang dalam hubungan romantis.
Dalam beberapa kasus, individu dengan utang yang signifikan menghadapi stigma atau penilaian negatif dari calon pasangan.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana faktor ekonomi semakin memengaruhi dinamika sosial dan hubungan interpersonal.
Tekanan sosial dan ekspektasi gaya hidup
Media sosial dan budaya populer turut memperkuat ekspektasi gaya hidup tertentu, termasuk dalam dunia kencan.
Banyak individu merasa perlu mempertahankan citra tertentu agar dianggap menarik atau sukses.
Silver mengatakan, persepsi memainkan peran penting dalam keputusan finansial individu.
"Ini tentang persepsi. Orang ingin tampak stabil secara finansial, bahkan jika sebetulnya tidak," terang dia.
Menurutnya, keinginan untuk mempertahankan citra tertentu dapat mendorong individu menggunakan kredit untuk mendukung gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansial mereka.
Fenomena ini mencerminkan perubahan dalam cara individu mengelola keuangan dan hubungan sosial.
Tren payLater di Indonesia meningkat pesat
Fenomena penggunaan kredit digital juga terjadi di Indonesia, di mana layanan paylater mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penggunaan layanan Buy Now Pay Later terus meningkat, mencerminkan meningkatnya kebutuhan pembiayaan konsumsi masyarakat. Namun, OJK juga memperkuat regulasi untuk mengurangi risiko utang berlebihan.
SHUTTERSTOCK/WITSARUT SAKORN Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).OJK mencatat, pembiayaan layanan paylater tumbuh mencapai 69,71 persen secara tahunan per Oktober 2025 menjadi Rp 10,85 triliun.
Namun angka pertumbuhan BNPL pada periode ini melambat dari bulan sebelumnya yang sebesar 88,65 persen.
Dalam siaran persnya, OJK menyatakan pengaturan BNPL diperkuat untuk meningkatkan perlindungan konsumen dan mengantisipasi potensi risiko utang.
OJK menyebut, penguatan regulasi dilakukan untuk mengantisipasi potensi terjadinya jebakan hutang (debt trap) bagi pengguna layanan BNPL.
Selain itu, OJK menetapkan persyaratan bahwa layanan BNPL hanya dapat diberikan kepada nasabah dengan usia minimal 18 tahun atau telah menikah, serta memiliki penghasilan minimal Rp 3 juta per bulan.
Kebijakan ini bertujuan memastikan pengguna memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi kewajiban pembayaran.
Risiko kredit digital bagi generasi muda
Peningkatan penggunaan kredit digital, termasuk paylater, juga meningkatkan risiko kredit bermasalah, terutama di kalangan generasi muda.
Kemudahan akses dan proses persetujuan yang cepat membuat kredit digital semakin mudah digunakan, tetapi juga meningkatkan risiko penggunaan yang tidak terkendali.
Para ahli keuangan memperingatkan, penggunaan kredit untuk konsumsi non-esensial dapat meningkatkan risiko finansial, terutama jika tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang.
Utang kartu kredit dan paylater dapat berkembang dengan cepat karena bunga dan biaya tambahan. Selain itu, akumulasi berbagai cicilan dapat menjadi beban finansial yang signifikan.
Transparansi keuangan jadi faktor penting dalam hubungan
Dok. Unsplash/Tuyen Vo Ilustrasi pasangan.Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya stabilitas finansial, transparansi keuangan menjadi semakin penting dalam hubungan romantis.
Banyak individu kini mempertimbangkan kondisi keuangan calon pasangan sebagai faktor penting dalam hubungan jangka panjang.
Para ahli hubungan menyatakan bahwa komunikasi terbuka tentang keuangan dapat membantu membangun kepercayaan dan mengurangi konflik.
Namun, utang yang signifikan juga dapat menjadi sumber stres dan ketegangan dalam hubungan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana keputusan finansial individu dapat memengaruhi kehidupan sosial dan emosional mereka.
Kredit digital mengubah perilaku finansial dan sosial
Pertumbuhan layanan kredit digital, termasuk kartu kredit dan paylater, mencerminkan perubahan dalam cara masyarakat mengelola keuangan.
Kemudahan akses terhadap kredit telah mengubah perilaku konsumsi dan hubungan sosial.
Kredit tidak lagi hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak, tetapi juga untuk mendukung gaya hidup dan aktivitas sosial.
Fenomena loveflation menunjukkan bagaimana faktor ekonomi, sosial, dan teknologi saling berinteraksi dalam membentuk perilaku finansial masyarakat modern.
Penggunaan kartu kredit dan paylater untuk mendukung kehidupan sosial mencerminkan perubahan dalam prioritas dan nilai generasi muda.
Namun, penggunaan kredit juga meningkatkan pentingnya literasi keuangan dan pengelolaan utang.
Data dan survei menunjukkan, utang telah menjadi faktor penting dalam hubungan romantis modern, memengaruhi persepsi sosial, stabilitas hubungan, dan kondisi finansial individu.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana keputusan finansial individu semakin terkait dengan dinamika sosial dan hubungan interpersonal di era ekonomi digital.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangPeran Data Ciptakan Kepercayaan dalam Ekosistem Kredit Digital
PayLater menjadi pintu masuk utama bagi banyak orang untuk mendapatkan akses kredit pertama dan mulai membangun rekam jejak finansial di era digital. [899] url asal
#kredit #digital #ekosistem-digital #paylater #inklusi-keuangan #kredit-digital #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 11/02/26 07:05
v/132669/
Di era keuangan digital, data bukan lagi sekadar rangkaian angka, melainkan layaknya mata uang kepercayaan yang menentukan sejauh mana seseorang layak mendapatkan akses finansial. Interaksi yang dulu bergantung pada dokumen fisik dan penilaian manual kini tergantikan oleh pola transaksi digital yang terekam secara otomatis. Setiap keputusan pembayaran, ritme penggunaan kredit, hingga preferensi belanja membentuk profil perilaku finansial seseorang, yang menjadi dasar penilaian risiko di ekosistem keuangan modern.
Perubahan ini membawa kita pada pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya data bagi kredit digital. PayLater misalnya, ia bukan menjadi alat konsumsi semata, melainkan sebagai gerbang bagi pengguna untuk mulai membangun rekam jejak finansial mereka melalui transaksi kecil yang dilakukan secara rutin.
Sejak hadir hampir satu dekade lalu, PayLater telah menjadi titik awal bagi banyak orang untuk terlihat oleh sistem keuangan formal. Setidaknya, lebih dari 70% pengguna Kredivo mendapatkan akses kredit pertamanya dari PayLater. Dari sinilah perjalanan reputasi finansial banyak pengguna sebenarnya dimulai.
PayLater layaknya “laboratorium kepercayaan” telah mengisi kekosongan yang selama ini tidak terjangkau layanan perbankan konvensional. Dalam konteks underbanked, data perilaku sering kali lebih representatif daripada data dokumen, karena perilaku tidak bisa “dipoles”, tetapi terbentuk dari kebiasaan nyata.
Lantas, bagaimana data dapat membuat seseorang creditworthy? Di balik kesaktian PayLater sebagai gerbang akses kredit, bekerja sistem berbasis AI dan data intelligence yang menilai perilaku pengguna secara real-time, mulai dari konsistensi transaksi, ritme penggunaan, hingga pola pembayaran. Ribuan sinyal mikro ini memungkinkan model risiko memprediksi kemungkinan gagal bayar secara presisi, bahkan bagi mereka yang belum memiliki histori kredit.
Dengan pendekatan berbasis perilaku , setiap pengguna dinilai berdasarkan tindakan aktual, bukan hanya mengacu pada dokumen administratif. Inilah yang membuat proses penilaian menjadi lebih akurat, efektif, dan inklusif, sekaligus membuka akses bagi segmen yang selama ini terpinggirkan seperti pekerja informal, perempuan, maupun mereka yang tidak memiliki slip gaji.
Dalam ekosistem kredit digital, setiap transaksi kecil berfungsi sebagai penanda perilaku yang mencerminkan kedisiplinan. Ketika pengguna membayar tepat waktu selama beberapa siklus, sistem memetakan pola stabil yang kemudian meningkatkan tingkat kelayakan kreditnya.
Di sinilah kontribusi terbesar data, yang bukan hanya membuka akses kredit, tetapi juga menciptakan skor kredit yang lahir dari kebiasaan nyata, bukan hanya dari dokumen formal. Skor kredit inilah yang kemudian tercermin dalam SLIK OJK, catatan formal yang akan diakses bank atau lembaga keuangan lain ketika pengguna mengajukan kredit di masa depan.
Catatan perilaku baik pengguna di PayLater dapat menjadi pijakan menuju layanan finansial yang lebih besar di masa depan, mulai dari KTA hingga KPR. Dengan demikian, PayLater menempatkan masyarakat sebagai pihak yang aktif membangun reputasi finansialnya sendiri, bukan sekadar penerima layanan.
Di tengah inovasi berbasis data tersebut, industri keuangan digital tanah air masih dihadapkan pada tantangan literasi masyarakat. Data OJK menunjukkan sekitar 35% masyarakat masih belum memahami dasar pengelolaan keuangan pribadi. Padahal, konsep sederhana seperti bunga, jatuh tempo, dan konsekuensi keterlambatan PayLater sangat berpengaruh pada skor kredit. Banyak masyarakat yang belum memahami bahwa setiap transaksi PayLater tercatat dalam SLIK OJK.
Karena itu, literasi finansial dan kesadaran data harus berjalan beriringan. Pengguna perlu memahami bahwa setiap keputusan pembayaran adalah bagian dari reputasi finansial yang mereka bangun sendiri. Pengalaman pertama menggunakan PayLater dapat menjadi batu loncatan menuju kredit produktif, apabila dimulai dengan pemahaman yang benar dan disiplin bayar.
Sebaliknya, ketidakpahaman dapat menjebak pengguna dalam utang yang merugikan. Pada akhirnya, prinsip yang perlu dipegang sederhana: pinjam boleh, tetapi harus bertanggung jawab, karena setiap jejak data adalah investasi reputasi yang menentukan akses finansial mereka di masa depan.
Di titik inilah peran penyedia layanan menjadi krusial. Kredivo memandang edukasi bukan sebagai aktivitas tambahan, tetapi sebagai bagian dari manajemen risiko yang terintegrasi. Karena tanpa literasi, akses yang lebih luas justru berpotensi menciptakan kerentanan baru.
Oleh sebab itu, Kredivo membangun ekosistem edukasi yang menyasar dua sisi sekaligus: peningkatan pemahaman konsumen dan penguatan kualitas perilaku finansial yang terekam dalam data mereka. Di level industri, literasi bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi bagian dari governance yang berdampak langsung pada kualitas portofolio, tingkat gagal bayar, dan keberlanjutan model risiko.
Melalui program seperti KrediCast dan Generasi Djempolan, Kredivo telah menjangkau lebih dari 2.500 mahasiswa, pelaku UMKM, dan komunitas di 21 kota di seluruh Indonesia. Program ini tidak berhenti pada teori, tetapi membantu peserta memahami hubungan langsung antara perilaku harian, mengatur arus kas, membayar tepat waktu, mengelola pengeluaran, dengan peluang mereka mengakses kredit produktif di masa depan.
Upaya ini diperkuat oleh kampanye digital seperti #AutoMikir, AndaiAndaPandai, dan Kredinspirasi, yang kini telah menjangkau lebih dari 26 juta penonton di Youtube. Pesan utamanya yaitu bagaimana setiap keputusan kecil dalam penggunaan kredit merupakan bagian dari modal kepercayaan yang terus dibangun oleh pengguna, sebagai fondasi untuk memperoleh akses kredit yang lebih besar dan produktif di masa depan.
Pada akhirnya, ekosistem kredit digital yang sehat tidak hanya dibangun oleh satu pihak, tetapi oleh tiga pilar yang saling menguatkan. Penyedia layanan harus memastikan pertumbuhan yang bertanggung jawab melalui keamanan data, transparansi algoritma, dan edukasi berkelanjutan bagi pengguna.
Regulator berperan menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen agar stabilitas sistem tetap terjaga. Sementara itu, pengguna memegang peran penting sebagai pemilik data perilaku finansial mereka sendiri, setiap pembayaran tepat waktu adalah aset kepercayaan yang dapat membuka peluang finansial lebih besar di masa depan.
Dengan fondasi kolaboratif tersebut, PayLater bukan lagi sekadar fasilitas cicilan, melainkan catatan kepercayaan yang dapat menentukan masa depan finansial seseorang, bahkan sebelum ia memiliki akses perbankan yang lengkap. Jika digunakan dengan bijak dan disertai literasi finansial yang memadai, PayLater dapat menjadi batu loncatan yang memperkuat perjalanan masyarakat menuju kemandirian finansial serta mendorong terwujudnya ekonomi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
OJK Batasi Utang Pinjol Maksimal 30 Persen dari Gaji Mulai 2026
Mulai tahun 2026, total kewajiban utang yang dapat diambil seorang nasabah di pinjol maksimal 30 persen dari total penghasilannya. [1,111] url asal
#utang #pinjaman-online #indepth #utang-pinjol #kredit-digital #pinjol
(Kompas.com - Money) 12/01/26 14:11
v/100749/
JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat regulasi di sektor layanan pinjaman daring (pindar) alias pinjaman online (pinjol) atau fintech peer-to-peer lending (P2P lending) melalui Surat Edaran OJK (SEOJK) Nomor 19/SEOJK.06/2025 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI).
Kebijakan ini merupakan turunan langsung dari Peraturan OJK (POJK) Nomor 40 Tahun 2024 tentang LPBBTI yang disusun untuk merespons dinamika industri fintech dan risiko yang muncul dari perluasan akses kredit digital pada masyarakat.
Salah satu perubahan paling signifikan yang diperkenalkan dalam SEOJK 19/2025 adalah pembatasan rasio utang terhadap penghasilan debitur yang lebih ketat.
KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman ketika ditemui pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (11/2/2025).Mulai tahun 2026, total kewajiban utang yang dapat diambil seorang nasabah di platform P2P lending dibatasi maksimal 30 persen dari total penghasilannya.
Batasan ini merupakan bagian dari upaya OJK untuk mencegah terjadinya overindebtedness atau utang berlebih yang berpotensi memicu gagal bayar massal dan merusak stabilitas sistem keuangan digital.
“Ketentuan batas maksimum rasio utang terhadap penghasilan telah diatur dalam SEOJK 19/2025 tentang Penyelenggaraan LPBBTI sebagai turunan dari POJK 40/2024. OJK terus mengawal implementasinya secara bertahap, yang diperketat menjadi 30 persen pada tahun 2026,” ujar Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (12/1/2026).
Sejak beberapa tahun terakhir, pinjaman digital semakin mudah diakses masyarakat Indonesia. Pertumbuhan platform P2P lending yang bergerak di sektor LPBBTI memperluas akses kredit, terutama bagi debitur yang sebelumnya tidak terlayani bank konvensional.
SHUTTERSTOCK/KASPARS GRINVALDS Ilustrasi fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol). Pinjol berganti nama menjadi pindar. Pinjaman daring (pindar). Pinjaman daring resmi OJK September 2025.Namun di balik perluasan akses ini, muncul risiko kredit macet (non-performing loan atau NPL) yang lebih tinggi dibandingkan instrumen pembiayaan tradisional.
OJK mencatat per November 2025 bahwa 24 penyelenggara P2P lending memiliki tingkat wanprestasi (Tingkat Keterlambatan Pembayaran lebih dari 90 hari/TWP90) di atas 5 persen.
Angka ini menandakan bahwa sebagian debitur mengalami kesulitan membayar kewajibannya, khususnya di segmen pinjaman konsumtif.
Tingkat wanprestasi yang tinggi ini menjadi salah satu alasan fundamental di balik pengetatan rasio utang terhadap penghasilan.
Regulasi sebelumnya, terutama dalam SEOJK 19/SEOJK.06/2023, tidak menetapkan batasan rasio secara eksplisit.
Aturan lama lebih menekankan pada prinsip kehati-hatian dan kewajiban penyelenggara dalam menerapkan penilaian risiko (credit scoring).
Namun, kecenderungan debitur mengambil pinjaman tanpa memperhatikan kemampuan bayar menimbulkan kebutuhan untuk batasan kuantitatif yang lebih jelas.
Pembatasan rasio utang: apa yang diatur dan kenapa penting
Pembatasan rasio utang terhadap penghasilan yang kini menjadi 30 persen mulai 2026 memiliki beberapa tujuan strategis, yakni sebagai berikut.
1. Menjaga kesehatan pembiayaan individu
Pembatasan ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit. Dengan rasio utang maksimal 30 persen, maka risiko debitur mengalami stress finansial berkurang, karena porsi pembayaran cicilan utang tidak akan melebihi kemampuan ekonomi yang sehat.
Hal ini serupa dengan praktik manajemen risiko perbankan pada kredit konsumsi di lembaga formal, meskipun mekanismenya di fintech P2P lebih spesifik.
FREEPIK/VECTORJUICE Ilustrasi pinjaman online, pinjol, pinjaman daring.
2. Meningkatkan kualitas portofolio pinjaman di platform fintech
Dengan rasio ini, kualitas portofolio fintech lending diharapkan meningkat.
Penyelenggara P2P lending diharuskan memperkuat credit scoring dan sistem penilaian risiko sehingga persetujuan kredit mempertimbangkan seberapa besar kemampuan debitur membayar kewajiban tanpa membebani finansial mereka.
Agusman menekankan bahwa kesiapan sistem penilaian risiko menjadi fokus utama sebelum batas rasio ini berlaku penuh.
3. Melindungi industri dari risiko sistemik
Meski pasar fintech lending masih relatif kecil jika dibandingkan sektor perbankan, penumpukan risiko kredit di satu segmen bisa memicu dampak luas bagi industri digital lending.
Kegagalan bayar masif di satu atau beberapa platform dapat merusak kepercayaan investor dan menghambat pertumbuhan teknologi keuangan secara keseluruhan.
Strategi implementasi dan tantangan pengawasan
OJK tidak hanya menetapkan batas rasio, tetapi juga mengawasi implementasinya secara bertahap. Pengawasan dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni offsite dan onsite.
- Offsite supervision mencakup pemantauan data dan pelaporan penyelenggara secara berkala, termasuk kualitas aset, rasio non-performing loan, dan kepatuhan terhadap ketentuan rasio utang-penghasilan.
- Onsite supervision berarti OJK melakukan pemeriksaan langsung terhadap operasional platform untuk menilai kesesuaian praktik dengan aturan yang berlaku. ([detikfinance][3])
Dalam pengawasan tersebut, OJK menilai kesiapan sistem manajemen risiko yang dimiliki penyelenggara.
KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman.Sistem yang kuat mencakup pengembangan model credit scoring yang akurat, integrasi data keuangan debitur yang komprehensif, hingga kemampuan platform memastikan bahwa debitur tidak memiliki tunggakan di lembaga lain.
“Saat ini, fokus dilakukan pada penguatan pengawasan dan kesiapan industri, khususnya pematangan sistem penilaian risiko dan credit scoring, agar transisi menuju batas 30 persen dapat berjalan efektif tanpa mengganggu penyaluran pendanaan," tutur Agusman.
Utang pinjol warga RI nyaris tembus Rp 100 triliun
OJK melaporkan, outstanding pembiayaan industri pinjaman daring mencapai Rp 94,85 triliun pada November 2025. Angka tersebut naik 25,45 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat 23,86 persen, meski masih berada di bawah capaian November 2024 sebesar 27,32 persen.
“Pada industri pinjaman daring, outstanding pembiayaan pada November 2025 tumbuh 25,45 persen year on year,” ujar Agusman dalam konferensi pers RDKB OJK Desember 2025, Jumat (9/1/2026).
Seiring peningkatan pembiayaan, OJK mencermati kenaikan risiko kredit. Tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) secara agregat naik ke level 4,33 persen.
Angka ini meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 2,76 persen dan lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 2,52 persen.
Dalam upaya menjaga integritas industri, OJK menjatuhkan sanksi administratif kepada 23 perusahaan pinjaman daring sepanjang Desember 2025.
Sanksi diberikan atas pelanggaran terhadap ketentuan OJK maupun hasil pengawasan dan tindak lanjut pemeriksaan.
“Penegakan kepatuhan dan pengenaan sanksi tersebut dimaksudkan agar dapat mendorong pelaku industri sektor PVML meningkatkan aspek tata kelola yang baik, kehati-hatian, dan pemenuhan terhadap ketentuan yang berlaku sehingga pada akhirnya dapat berkinerja lebih baik dan berkontribusi secara optimal,” kata Agusman.
Terkait pemenuhan permodalan, OJK mencatat masih terdapat 9 dari 95 penyelenggara pinjaman daring yang belum memenuhi kewajiban ekuitas minimum Rp 12,5 miliar.
Seluruh penyelenggara tersebut telah menyampaikan rencana aksi kepada OJK, termasuk melalui penambahan modal, pencarian investor strategis, atau opsi merger.
Selain itu, sepanjang Desember 2025, OJK menjatuhkan 52 sanksi denda dan 146 sanksi peringatan tertulis kepada pelaku usaha di sektor PVML, termasuk perusahaan pembiayaan, perusahaan modal ventura, penyelenggara pinjaman daring, lembaga keuangan mikro, pergadaian swasta, dan lembaga keuangan khusus.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangPOJK 32/2025, Pengamat: Perjelas Batasan Pinjol dan Paylater
OJK terbitkan POJK 32/2025 untuk memperjelas perbedaan BNPL dan pinjol, memudahkan pengawasan, dan meningkatkan literasi keuangan di sektor tersebut. [428] url asal
#bnpl #pinjaman-online #pojk-32-2025 #ojk #paylater #ruang-pisah-bnpl #pinjaman-daring #peraturan-ojk #pembiayaan-bnpl #kartu-kredit #cash-loan #inklusi-keuangan #gestun #kredit-digital #industri-pembi
(Bisnis.Com - Finansial) 05/01/26 08:38
v/93208/
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan aturan baru terkait layanan atau produk buy now pay later (BNPL) atau paylater, yakni Peraturan OJK atau POJK Nomor 32 Tahun 2025.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai aturan ini memperjelas ruang pisah antara BNPL dengan pinjaman daring (pindar) alias pinjaman online (ponjol).
“Saya rasa ini memperjelas ruang pisah antara BNPL dengan pinjaman daring yang selama ini kadang masih samar karena ‘pinjaman berbasiskan teknologi’,” ucapnya kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (4/1/2026).
Nailul menjelaskan paylater adalah produk pinjaman guna pembelian barang dengan plafon dan tenor tertentu, jadi sifatnya bukan cash loan. Menurutnya, yang memiliki pembiayaan serupa adalah perbankan dan perusahaan pembiayaan.
Perbankan, katanya, memiliki produk kartu kredit yang sebenarnya mirip prosesnya dengan BNPL, tetapi BNPL prosesnya minim tatap muka dan cardless. Sementara itu, perusahaan pembiayaan juga mempunyai layanan terkait pembelian barang yang dibayar secara cicilan.
Adapun, cash loan digital menurutnya lebih kepada pindar yang mempertemukan lender dengan borrower. Berbeda dengan BNPL yang tidak ada pertemuan antara pemberi dan penerima pinjaman.
Sebab itu, Nailul menilai POJK 32/2025 dapat memberikan kemudahan regulator dalam melakukan pengawasan dan peningkatan literasi di industri pindar maupun BNPL.
“Selain itu, bagi industri pembiayaan dan perbankan, aturan ini memperjelas peraturan terkait dengan aturan main BNPL,” sebutnya.
Lebih jauh, Nailul menyoroti penggunaan data alternatif bisa menjadi solusi untuk memperkuat inklusi BNPL, tetapi harus diimbangi dengan penguatan model credit scoring.
“Untuk perbankan saya rasa penerapan aturan ini akan berjalan mulus. Namun, bagi sebagian BNPL dari perusahaan pembiayaan bisa jadi tidak mulus karena ketersediaan data penunjang yang kurang,” jelasnya.
Tidak sampai di situ, dia turut menyebut kekurangan dalam POJK 32/2025. Menurutnya, dia belum melihat bahwa POJK itu memuat pelarangan gesek tunai (gestun). Padahal, gestun kerap kali menjadi penyebab gagal bayar alias galbay yang tinggi.
“Meskipun memang ada pelarangan dari masing-masing platform, tetapi belum ada aturan larangan yang tegas soal gestun,” tegasnya.
Sebagai informasi, OJK mencatat berdasarkan SLIK, pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan pada Oktober 2025 meningkat sebesar 69,71% (year on year/YoY), menjadi Rp10,85 triliun. Adapun, NPF gross sebesar 2,79%.
Untuk diketahui, POJK 32/2025 ini bertujuan memberikan kepastian hukum, memperkuat tata kelola dan manajemen risiko, menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, serta mendorong pertumbuhan industri yang sehat dan berkelanjutan, sejalan dengan transformasi digital sektor jasa keuangan dan peningkatan inklusi keuangan nasional, dengan tetap menjaga kepercayaan masyarakat.
"Dalam POJK 32 Tahun 2025 diatur bahwa penyelenggaraan BNPL hanya dapat dilakukan oleh Bank Umum dan Perusahaan Pembiayaan," ujar Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK M. Ismail Riyadi.
Bank Raya (AGRO) Masih Menarik, PBV Jauh di Bawah Kompetitor
Bank Raya (AGRO) menarik dengan PBV 1,6 kali, di bawah rata-rata industri. Didukung strategi O2O dan ekosistem BRI, laba naik 23,9% YoY [481] url asal
#bank-raya #saham-agro #pbv-rendah #bank-digital #valuasi-menarik #ihsg-rekor #suku-bunga-the-fed #digitalisasi-umkm #strategi-o2o #bri-group #laba-bersih-agro #kredit-digital #pinang-dana-talangan #in
(Bisnis.Com - Market) 15/12/25 16:32
v/73325/
Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham Indonesia menunjukkan momentum positif menjelang akhir 2025, didorong oleh aksi window dressing dan pemangkasan suku bunga global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis dengan membentuk new high di 8.776 pada perdagangan Rabu (11/12/2025), mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan IHSG ini didukung peningkatan foreign inflow, seiring pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember 2025.
Di tengah penguatan saham-saham blue chip dan konglomerasi, saham bank digital mulai menjadi fokus investor dengan peningkatan kinerja terkini.
Saham bank digital semakin bervariasi seiring rencana IPO dari Superbank. Prospek bank digital secara keseluruhan tetap menjanjikan, didukung digitalisasi UMKM dan penurunan suku bunga, meski valuasi beberapa emiten sudah mendekati puncak.
Seiring dengan adanya momentum positif bank digital, PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) tercatat memiliki valuasi yang masih menarik. Berdasarkan data per 28 November 2025, saham AGRO diperdagangkan pada PBV 1,60 kali, atau masih di bawah rata-rata industri bank digital yang sebesar 3,2 kali.
Sebagai perbandingan, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) diperdagangkan pada PBV 4,30 kali dengan market cap Rp28,10 triliun, sementara PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK) berada di PBV 4,10 kali dengan kapitalisasi pasar Rp13,80 triliun. PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) diperdagangkan pada PBV 1,40 kali dengan market cap Rp5,80 triliun.
Bank Raya sebagai digital attacker dari BRI Group, memanfaatkan strategi online-to-offline (O2O) yang mengintegrasikan aplikasi digital dengan jaringan fisik BRI yang ekstensif. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada akuisisi nasabah berbiaya tinggi, sekaligus memanfaatkan infrastruktur induk untuk ekspansi secara efisien.
Strategi ekosistem ini bukan hanya sekedarsekadar konsep, melainkan tercermin dalam hasil laporan keuangan. Kinerja Kuartal III/2025 mengonfirmasi kemajuan bisnis AGRO yang stabil dengan laba bersih naik 23,9% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp41,97 miliar.
Penyaluran kredit digital tumbuh 50,1% yoy, didorong Pinang Dana Talangan, sebuah solusi pinjaman jangka pendek untuk Agen BRILink dan agen keuangan lainnya yang mencapai Rp17,56 triliun atau naik 47,9% yoy. Simpanan digital meningkat 61,4% yoy ke Rp1,75 triliun, menunjukkan kepercayaan nasabah yang solid.
Faktor pendukung AGRO juga datang dari sentimen makroekonomi yang kondusif. Penurunan suku bunga The Fed berpotensi menekan biaya dana perbankan dan mendukung minat investor pada saham sektor keuangan dan growth stock.
Kombinasi antara valuasi murah dengan PBV 1,6 kali, pertumbuhan laba yang konsisten, serta dukungan ekosistem BRI yang terintegrasi, menempatkan Bank Raya pada posisi yang relatif menguntungkan. Dengan inflow asing yang mulai mengarah ke emerging market, saham AGRO dapat menjadi sorotan investor menjelang akhir tahun.
Adapun, saham AGRO ditutup menguat 0,88% ke level Rp230 per saham pada perdagangan Jumat (12/12/2025) dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp5,69 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Makin Optimis!, Kinerja Bank Raya Terjaga Positif di Kuartal III-2025
Bank Raya Indonesia (AGRO) mencatat kinerja positif hingga kuartal III-2025, didorong oleh pertumbuhan kredit digital dan inovasi strategis. [33] url asal
#bank-raya #kredit-digital #bank-digital #agro
(CNBC Indonesia - Market) 06/11/25 16:04
v/29998/

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mampu menorehkan kinerja positif hingga kuartal III-2025, dengan didukung akselerasi pertumbuhan bisnis, baik dari sisi penyaluran kredit digital, transaksi maupun berbagai inovasi strategis.
Kinerja Tumbuh Positif, Bank Raya Berhasil Optimalkan Kredit Digital
Bank Raya Indonesia mencatat kinerja positif di Q3 2025 dengan laba bersih Rp41,97 miliar, didorong pertumbuhan kredit digital 50,1% YoY dan inovasi strategis [816] url asal
#bank-raya #kredit-digital #pertumbuhan-bisnis #laba-bersih #total-kredit #dana-pihak-ketiga #rasio-casa #inovasi-digital #aplikasi-raya #fitur-visa-virtual #uang-saku #pinang-dana-talangan #pinang-fle
(Bisnis.Com - Finansial) 03/11/25 18:41
v/25918/
Bisnis.com, JAKARTA—PT Bank Raya Indonesia Tbk berhasil mencatatkan kinerja positif di Kuartal III/2025, didukung akselerasi pertumbuhan bisnis dari sisi penyaluran kredit digital, transaksi, maupun berbagai inovasi strategis. Bank berkode emiten AGRO ini membukukan laba bersih sebesar Rp41,97 miliar dengan kenaikan 23,9% secara year-on-year (YoY).
Bank Raya membukukan total kredit pada Kuartal III/2025 mencapai Rp7,27 triliun atau tumbuh 7,1% YoY. Pertumbuhan tersebut turut menopang pertumbuhan positif total aset Bank Raya menjadi sebesar Rp13,59 triliun atau tumbuh 6% YoY.
Komitmen Bank Raya untuk terus memperkuat bisnis digital ditunjukkan dengan penyaluran kredit digital sampai Kuartal III/2025 yang mencapai Rp20,61 triliun atau tumbuh 50,1% persen YoY. Pencapaian ini mendorong pertumbuhan signifikan outstanding kredit digital Bank Raya mencapai Rp2,73 triliun, tumbuh 52,1% YoY.
Dari sisi simpanan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp9,15 triliun atau tumbuh 16,5% YoY. Pertumbuhan dana seiring dengan porsi CASA yang semakin membaik, terlihat dari peningkatan total CASA menjadi Rp2,72 triliun atau tumbuh 38,8% YoY dengan rasio CASA sebesar 29,78%.
Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan, pencapaian ini merupakan bukti Bank Raya tetap fokus untuk bertumbuh sebagai bank digital yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi serta fundamental dan manajemen risiko yang baik.

“Di Kuartal III ini kami meluncurkan ragam inovasi baru untuk mendukung komitmen kami menumbuhkan bisnis digital. Komitmen ini sejalan dengan langkah transformasi Bank Raya untuk mengakselerasi adopsi produk digital Bank Raya di masyarakat," ujarnya, Kamis (31/10/2025).
Pencapaian kinerja Bank Raya terus bertumbuh tecermin dari perbaikan rasio profitabilitas. Rasio NIM pada Kuartal III/2025 meningkat menjadi 5% dari sebelumnya 4,35%. Imbal hasil aset atau Return on Asset (ROA) meningkat 6 bps menjadi 0,42% dari 0,36% pada Kuartal III/2024. Sementara itu, imbal hasil ekuitas atau Return on Equity(ROE) meningkat 31 bps menjadi 1,72% dari 1,41% pada Kuartal III/2024.
Beberapa fitur penting baru diluncurkan di Kuartal III 2025 di antaranya, fitur Visa Virtual Card yang melengkapi fitur pembayaran Aplikasi Raya. Dengan menggunakan Kartu Digital Debit Visa, nasabah dapat bertransaksi di jaringan merchant online Visa domestik dan internasional.
Bank Raya juga telah meluncurkan Fitur Uang Saku dalam produk digital saving-nya. Melalui fitur ini, anak dapat belajar sedari dini untuk menabung dan mengelola keuangannya secara digital. Orang tua juga sangat dipermudah untuk mengontrol limit rupiah pengeluaran anak, mengawasi, dan mengevaluasi kebiasaan finansial anak melalui Aplikasi Raya.
Secara keseluruhan, hingga September 2025 pengguna Aplikasi Raya tercatat lebih dari 1,6 juta nasabah. Penggunaan transaksi Aplikasi Raya meningkat 45,4% YoY dan mencapai 3,8 juta transaksi, dengan digital savingtercatat sebesar Rp1,75 triliun atau tumbuh 61,4% YoY.
Sebagai digital attacker BRI Group, Bank Raya juga terus memperluas adopsi produk digital dengan merangkul berbagai komunitas di antaranya komunitas pelari dengan menyelenggarakan Raya Run di Surabaya yang dihadiri oleh lebih dari 2.000 pelari. Bank Raya juga mengoptimalkan adopsi Saku Bisnis di berbagai cluster komunitas pelaku usaha. Hingga September 2025, Saku Bisnis Bank Raya telah dimanfaatkan oleh lebih dari 10 ribu pelaku usaha di berbagai kota.
Sebagai wujud optimalisasi sinergi di ekosistem BRI Group, Bank Raya terus mendorong perluasan kredit digital sebagai penopang bisnis berkelanjutan. Pinang Dana Talangan, salah satu champion product Bank Raya yang ditujukan untuk mendukung produktivitas bisnis keagenan, sampai Kuartal III/2025 berhasil mencatatkan penyaluran sebanyak Rp17,56 triliun atau tumbuh 47,9% YoY kepada sekitar 46 ribu agen BRILink dan Agen Gadai.
Outstanding Pinang Dana Talangan mencapai Rp911,8 miliar atau tumbuh signifikan sebesar 57,1% YoY. Sementara itu, Pinang Flexi yang merupakan pinjaman multiguna untuk nasabah payroll BRI Group mencatatkan pertumbuhan outstanding sebesar Rp1,05 triliun atau tumbuh 79,9% YoY.
Pertumbuhan dari sisi kredit yang berhasil diimbangi dengan pertumbuhan dari sisi DPK terutama dana murah membuat kondisi likuiditas Bank Raya tetap terjaga. Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Raya pada Kuartal III/2025 sebesar 79,40%, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebesar 85,17%, serta rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 329,20%.
Dari sisi permodalan, perseroan masih memiliki modal yang kuat terlihat dari rasio Total CAR sebesar 42,35% dan rasio Tier 1 CAR sebesar 41,55% yang akan mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis perseroan ke depan.
Bank Raya terus memperkuat komitmen terhadap penerapan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance(ESG). Hal ini terbukti dari keberhasilan Bank Raya masuk dalam daftar perusahaan Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia untuk periode Juni 2025 - November 2025.
Langkah tersebut tercermin pada penyaluran pembiayaan kepada UMKM yang menyumbang penyaluran kredit kepada sektor Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KUB). Komposisi pembiayaan yang disalurkan untuk segmen UMKM pada September 2025 sebesar 31,2%, meningkat dibandingkan Desember 2024 sebesar 30,62%.
"Bank Raya berkomitmen untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi bisnis kami. Dengan demikian maka setiap inisiatif tidak hanya menciptakan nilai ekonomi tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan," tutup Bagus.
Kredit Digital Melonjak, Laba Bank Raya Naik 23,9% di Kuartal III-2025
PT Bank Raya Indonesia Tbk mencatat kinerja positif di kuartal III-2025 dengan pertumbuhan kredit digital dan inovasi baru, mendukung bisnis berkelanjutan. [1,442] url asal
#bank-raya #kredit-digital #bank-digital #agro
(CNBC Indonesia - Market) 31/10/25 15:51
v/22991/
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mampu menorehkan kinerja positif di kuartal III-2025, dengan didukung akselerasi pertumbuhan bisnis, baik dari sisi penyaluran kredit digital, transaksi maupun berbagai inovasi strategis.
Pada periode tersebut, Bank Raya berhasil membukukan pertumbuhan total kredit sebesar Rp7,27 triliun atau tumbuh 7,1% (yoy).Alhasil, pertumbuhan tersebut turut mendongkrak total aset Bank Raya di kuartal III-2025 menjadi sebesar Rp13,59 triliun atau tumbuh 6,0% (yoy).
Dari sisi penyaluran kredit digital, Bank Raya berhasil menyalurkan Rp20,61 triliun atau tumbuh 48,76% (yoy). Hasil ini juga mendorong pertumbuhan signifikan outstanding kredit digital Bank Raya mencapai Rp2,73 triliun tumbuh sebesar 52,1% (yoy).
Sedangkan dari sisi simpanan, total Dana Pihak Ketiga tercatat sebesar Rp9,15 triliun atau tumbuh 16,5% (yoy). Pertumbuhan dana seiring dengan porsi CASA yang semakin membaik, terlihat dari peningkatan total CASA menjadi sebesar Rp2,72 triliun atau tumbuh 38,8% (yoy) dengan rasio CASA sebesar 29,78%.
Pencapaian kinerja Bank Raya terus bertumbuh tercermin dari keberhasilan Bank Raya membukukan laba bersih di kuartal III-2025 sebesar Rp41,97 miliar dengan kenaikan 23,9% secara tahunan (yoy).
Hal ini kian mendorong perbaikan rasio profitabilitas Bank Raya tercermin dari peningkatan rasio NIM pada kuartal III-2025 menjadi 5,00% dari sebelumnya 4,35%, serta rasio imbal hasil aset serta ekuitas yang masing-masing meningkat dari tahun sebelumnya.
Imbal hasil aset atau Return on Asset (ROA) pada kuartal III-2025 juga meningkat 6 bps menjadi sebesar 0,42% dari 0,36% pada Kuartal III/2024. Termasuk, imbal hasil ekuitas atau Return on Equity (ROE) meningkat 31 bps menjadi sebesar 1,72% dari 1,41% pada Kuartal III/2024.
"Di Kuartal III ini kami meluncurkan ragam inovasi baru untuk mendukung komitmen kami menumbuhkan bisnis digital. Komitmen ini sejalan dengan langkah transformasi Bank Raya untuk mengakselerasi adopsi produk digital Bank Raya di masyarakat. Dengan demikian, kami tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai visi kami untuk menciptakan bisnis digital yang berkelanjutan," Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia dalam keterangan tertulis, Jumat (31/10/2025).
Dia melanjutkan, Bank Raya juga meluncurkan beberapa fitur penting baru diluncurkan di kuartal III-2025 berupa fitur Visa Virtual Card yang melengkapi fitur pembayaran Aplikasi Raya. Dengan menggunakan Kartu Digital Debit Visa nasabah dapat bertransaksi di jaringan merchant online Visa domestik dan internasional, baik transaksi pada e-commerce, platform transportasi online, dan berbagai platform online lainnya di dalam maupun di luar negeri.
Di samping itu, Bank Raya telah meluncurkan Fitur Uang Saku dalam produk digital savingnya. Melalui fitur Uang Saku, anak dapat belajar sedari dini untuk menabung dan mengelola keuangannya secara digital. Selain itu, orang tua juga sangat dipermudah untuk mengontrol limit rupiah pengeluaran anak, mengawasi, dan mengevaluasi kebiasaan finansial anak melalui Aplikasi Raya. Fitur Uang Saku dapat dibuat oleh orang tua untuk anak dengan rentang usia 10 sampai 16 tahun yang terdaftar pada Kartu Keluarga dan memiliki Kartu Identitas Anak.
Sebagai digital attacker BRI Group, Bank Raya juga terus memperluas adopsi produk digital dengan merangkul berbagai komunitas diantaranya Komunitas Pelari dengan menyelenggarakan Raya Run di Surabaya yang dihadiri oleh lebih dari 2.000 pelari. Bank Raya mendorong adopsi fitur Saku Bareng di dalam Aplikasi Raya sebagai fitur untuk menabung kolektif bagi komunitas secara transparan.
Tidak berhenti disitu, Bank Raya juga mengoptimalkan adopsi Saku Bisnis di berbagai cluster komunitas pelaku usaha. Hingga September 2025, Saku Bisnis Bank Raya telah dimanfaatkan oleh lebih dari 10 ribu pelaku usaha di berbagai kota termasuk di cluster-cluster Unggulan Bank Raya seluruh Indonesia.
Secara keseluruhan, hingga September 2025 pengguna Aplikasi Raya tercatat lebih dari 1,6 juta nasabah. Penggunaan transaksi Aplikasi Raya meningkat 45,4% (yoy) dan mencapai 3,8 juta transaksi, dengan digital saving tercatat sebesar Rp1,75 triliun atau tumbuh 61,4% (yoy). Pertumbuhan tersebut terus meningkat seiring dengan berkembangnya fitur dan inovasi yang dikembangkan oleh Bank Raya di Aplikasi Raya yang mampu memenuhi kebutuhan nasabah dalam bertransaksi perbankan digital serta mengelola keuangan sehari-hari.
Sebagai wujud optimalisasi sinergi di ekosistem BRI Group melalui strategi eksploitasi dan eksplorasi untuk perluasan bisnis pada pasar dan ekosistem baru, Bank Raya terus mendorong perluasan kredit digital sebagai penopang bisnis berkelanjutan.
Pinang Dana Talangan sebagai salah satu champion product Bank Raya yang ditujukan untuk mendukung produktivitas bisnis keagenan sampai dengan Kuartal III/2025 ini berhasil mencatatkan penyaluran sebanyak Rp17,56 triliun atau tumbuh 47,9% (yoy) kepada sekitar 46 ribu agen BRILink dan Agen Gadai. Di kuartal III/2025 tercatat outstanding Pinang Dana Talangan mencapai Rp911,8 miliar atau tumbuh signifikan sebesar 57,1% (yoy).
Pinang Flexi, yang merupakan pinjaman multiguna untuk nasabah payroll BRI Group mencatatkan pertumbuhan outstanding sebesar Rp1,05 triliun atau tumbuh 81,9% (yoy). Adapun outstanding produk kredit digital Bank Raya lainnya, seperti Pinang Maksima yang ditujukan untuk mendukung kegiatan usaha nasabah Bank Raya tercatat mencapai Rp691,29 miliar atau tumbuh 78,3% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa Bank Raya secara aktif menyalurkan kredit kepada masyarakat untuk mendukung kebutuhan finansial dan pertumbuhan usaha mereka.
Pertumbuhan dari sisi Kredit yang berhasil diimbangi dengan pertumbuhan dari sisi Dana Pihak Ketiga terutama Dana Murah membuat kondisi likuiditas Bank Raya tetap terjaga, tercatat Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Raya pada Kuartal III/2025 sebesar 79,40%, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebesar 85,17%, serta rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 329,20% dan rasio Net Stable Funding Ratio (NSFR) tercatat sebesar 164,49% di atas ketentuan minimum sebesar 100%.
Selain itu dari sisi permodalan, Perseroan masih memiliki modal yang kuat terlihat dari rasio Total CAR sebesar 42,35% dan rasio Tier 1 CAR sebesar 41,55% yang akan mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis Perseroan ke depan.
"Pencapaian ini merupakan bukti Bank Raya tetap fokus untuk bertumbuh sebagai bank digital yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi serta fundamental dan manajemen risiko yang baik. Dengan situasi yang menantang, kami selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian sambil melihat peluang untuk tumbuh secara berkelanjutan," terang dia.
Komitmen Tanggung Jawab Sosial Lingkungan sebagai Bagian Integral Strategi Bisnis
Bank Raya terus memperkuat komitmen terhadap penerapan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Hal ini terbukti dari keberhasilan Bank Raya masuk dalam daftar perusahaan Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia untuk periode Juni 2025 - November 2025. Bank Raya masuk menjadi salah satu emiten pilihan investor untuk berinvestasi karena telah menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam segala aktivitas bisnis dan operasional perusahaan.
Langkah tersebut tercermin pada penyaluran pembiayaan kepada UMKM yang menyumbang penyaluran kredit kepada sektor Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KUB) yang terus terjaga tiap tahunnya. Komposisi pembiayaan yang disalurkan untuk segmen UMKM pada September 2025 sebesar 31,2% terus meningkat apabila dibandingkan Desember tahun 2024 sebesar 30,62%.
Tidak hanya itu, implementasi ESG lainnya juga diwujudkan melalui inisiatif program CSR Cluster Unggulan. Melalui Cluster Unggulan, Bank Raya melakukan pendampingan usaha pada para pelaku usaha di dalam cluster tersebut, serta memperkenalkan kemudahan-kemudahan produk dan fitur Bank Raya yang relevan untuk membantu pertumbuhan usaha mereka.
Lebih jauh, Bank Raya juga memberikan bantuan prasarana untuk membantu peningkatan penjualan usaha para UMKM. Hingga saat ini Bank Raya telah memiliki 7 Cluster Unggulan yaitu, Cluster Pujasera Hayamwuruk di Semarang, Cluster Keprabon dan Gedang Ambon di Solo, Cluster Kuliner Alun-Alun Batu Malang, Cluster Kuliner Pasar Kranggan Yogyakarta, Cluster Sentra Kuliner Jatiraras Sawarga Depok, dan Cluster SWK Srikana Surabaya.
Komitmen lainnya diwujudkan Bank Raya melalui Aksi Tanam 1000 Kebaikan yang mengajak nasabah untuk berkontribusi dalam penanaman bakau dari setiap transaksi keuangan mereka di Raya App. Melalui program MVP Aksi Tanam 1000 Kebaikan ini, Bank Raya telah menanam sejumlah 3500 pohon bakau dan berpotensi menyerap karbon sebanyak 2.387 tCO2/tahun dan akan bertambah seiring bertambahnya usia tanaman.
Bank Raya juga aktif mendorong literasi keuangan di masyarakat melalui pendampingan kepada komunitas pelaku usaha maupun berbagai program di social media. Hingga September 2025, Bank Raya telah menghadirkan lebih dari 100 episode Inspiraya di Instagram Bank Raya maupun secara tatap muka di Gedung Menara BRILiaN, yang bekerja sama dengan pakar pengelolaan keuangan maupun komunitas pelaku usaha.
"Bank Raya berkomitmen untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi bisnis kami. Dengan demikian maka setiap inisiatif tidak hanya menciptakan nilai ekonomi tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, serta mendukung keberlanjutan perusahaan jangka panjang," tandas dia.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56