Bisnis.com, JAKARTA — Pertemuan hampir 2,5 jam antara Presiden Prabowo Subianto, pimpinan DPR, dan jajaran Kementerian Haji pekan ini tidak hanya membahas evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026. Di balik laporan mengenai penurunan biaya, perbaikan layanan, dan pemangkasan antrean, tersimpan agenda yang lebih besar untuk membangun sistem haji yang lebih efisien dan mudah diakses masyarakat.
Pertemuan evaluasi di Istana Negara juga menunjukkan perhatian khusus Presiden terhadap penyelenggaraan haji. Sebagai negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia dengan kuota lebih dari 220.000 orang per tahun, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga kualitas pelayanan sekaligus mengendalikan biaya dan masa tunggu keberangkatan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa rapat yang semula dijadwalkan berlangsung sekitar satu jam akhirnya berjalan hampir dua setengah jam karena Presiden ingin mendengar langsung berbagai capaian dan catatan perbaikan pelaksanaan haji tahun ini.
Menurut Prasetyo, Presiden menerima pimpinan DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Tim Pengawas Haji DPR Cucun Ahmad Syamsurijal, pimpinan Komisi VIII, Menteri Haji Irfan Yusuf, serta Wakil Menteri Haji.
"Yang tadinya direncanakan hanya satu jam, tetapi pertemuan berlangsung penuh dengan keakraban, penuh dengan diskusi-diskusi untuk perbaikan-perbaikan pelaksanaan haji ke depan," kata Prasetyo.
Salah satu capaian yang mendapat perhatian dalam pertemuan tersebut adalah keberhasilan pemerintah menekan biaya perjalanan ibadah haji. Di tengah kenaikan biaya layanan global, pemerintah berhasil menjaga biaya yang dibebankan kepada jemaah tetap lebih rendah dibanding sejumlah proyeksi sebelumnya.
Ketua Timwas Haji DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut ongkos naik haji berhasil turun sekitar Rp6 juta dalam dua tahun terakhir.
"Alhamdulillah, kami menyampaikan pengawasan dari mulai keberangkatan, bahkan dari mulai menetapkan di Panja. Ongkos naik haji bisa berkurang dalam waktu 2 tahun 6 juta untuk 200 sekian ribu orang yang mereka betul-betul sudah bertahun-tahun ingin melaksanakan ibadah haji," ujar Cucun.
Penurunan biaya ini menjadi capaian penting mengingat beberapa tahun terakhir penyelenggaraan haji menghadapi tekanan dari inflasi global, kenaikan tarif layanan Arab Saudi, serta fluktuasi nilai tukar.
Data Kementerian Agama menunjukkan rata-rata Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayar jemaah pada 2026 berada di kisaran Rp55 jutaan. Namun pemerintah menyadari tantangan efisiensi belum selesai karena faktor eksternal masih berpotensi mendorong kenaikan biaya pada tahun-tahun mendatang.
Antrean Haji Jadi Sorotan Presiden
Selain biaya, panjangnya antrean haji menjadi isu yang paling menyita perhatian Presiden. Selama bertahun-tahun Indonesia menghadapi persoalan masa tunggu yang panjang akibat tingginya jumlah pendaftar dibanding kuota keberangkatan yang tersedia.
Di sejumlah daerah, masa tunggu bahkan sempat mendekati 40 tahun. Di Sulawesi Selatan, antrean pernah mencapai hampir 50 tahun. Pemerintah kini mencatat rata-rata masa tunggu berhasil ditekan menjadi sekitar 26 tahun.
"Yang kedua, concern beliau yang kami sangat tadi apresiasi itu, ingin bagaimana antrean ini yang kemarin sudah hampir 35 tahun, 40 tahun, melalui para pembantunya Bapak Presiden, Pak Menteri Haji nanti dan Wamen semua bekerja, sudah bisa ditekan sampai 26 tahun," imbuhnya.
Meski demikian, capaian tersebut belum dianggap cukup oleh Presiden.
"Beliau menyampaikan tadi kalau bisa tolong lebih cepat lagi seperti apa skemanya kalau misalkan antrean ini tidak panjang," ucapnya.
Menteri Haji Irfan Yusuf mengatakan pemerintah bersama DPR tengah mencari berbagai skema untuk memangkas masa tunggu lebih jauh lagi. Menurut dia, terdapat perbedaan antara masa tunggu maksimal di sejumlah daerah dengan rata-rata keberangkatan aktual jemaah.
"Tapi walaupun kita tentukan 26, tapi kalau kita lihat sekarang ini rata-rata yang berangkat sekarang ini 13-14 tahun," katanya.
Bagi pemerintah, persoalan antrean tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga menyangkut akses masyarakat terhadap ibadah haji yang selama ini harus menunggu dalam waktu sangat panjang.
Selain efisiensi biaya dan pengelolaan kuota, evaluasi tahun ini juga menyoroti peningkatan kualitas pelayanan yang diterima jemaah selama berada di Tanah Suci.
Menurut Cucun, salah satu perubahan paling dirasakan jemaah adalah peningkatan kualitas akomodasi. Jika sebelumnya hotel bintang lima identik dengan jemaah haji khusus, kini sebagian jemaah reguler juga mulai menikmati fasilitas serupa.
"Jemaah reguler sekarang hampir 17.000 jemaah diinapkan di zona 1 di sekeliling Masjid Nabawi di Madinah, bisa diinapkan di hotel-hotel bintang lima," kata Cucun.
Pemerintah menilai kualitas akomodasi memiliki dampak langsung terhadap kenyamanan dan kondisi fisik jemaah, terutama kelompok lanjut usia yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
Perbaikan juga dilakukan pada layanan konsumsi. Variasi makanan yang disediakan dinilai lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, termasuk melalui penyesuaian menu dengan selera jemaah Indonesia.
"Kalau dulu makanannya ya paling ayam, kentang itu-itu juga. Sekarang sudah mulai variatif," katanya.
Menurut Cucun, peningkatan tersebut tidak terlepas dari negosiasi yang lebih baik dengan perusahaan penyedia layanan atau syarikah di Arab Saudi.
"Kalau kemarin sudah lebih adaptif lagi, ramah dengan orang Indonesia ya karena kita kirim dari Indonesia, berasnya," ujarnya.
Transformasi Digital dan Kementerian Baru
Perbaikan layanan tidak hanya dilakukan melalui aspek fisik, tetapi juga melalui pembenahan sistem administrasi dan teknologi.
Menteri Haji Irfan Yusuf mengungkapkan salah satu kemajuan penting tahun ini adalah percepatan penerbitan visa.
"Visa harus terbit sekitar pertengahan Ramadan. Ini hal yang sangat-sangat luar biasa," ujar Irfan.
Selain itu, kartu Nusuk yang menjadi identitas digital jemaah telah dibagikan sejak masih berada di Indonesia. Langkah tersebut membantu mengurangi berbagai persoalan yang selama ini kerap terjadi di Tanah Suci.
"Nusuk sudah mulai dibagikan di tanah air sehingga tidak ada lagi cerita jemaah yang terpisah dari keluarganya, jemaah yang tidak mendapatkan hotel padahal sudah sampai di sana, jemaah yang tercecer di mana-mana tidak ada lagi," katanya.
Penyelenggaraan haji 2026 juga menjadi ujian pertama bagi Kementerian Haji sebagai kementerian baru. Irfan mengakui kementeriannya memulai pekerjaan dalam kondisi yang tidak ideal karena sebagian tahapan persiapan sudah berjalan sebelum kementerian dibentuk.
"Teman-teman sekalian tahu kami ini dilantik menjadi Menteri Haji ini September 2025. Sementara timeline haji dari pemerintah Saudi sudah dimulai Juni 2025. Artinya kita ketinggalan sekitar 3-4 bulan," kata Irfan.
Meski demikian, ia menilai keberadaan kementerian khusus memberikan fokus yang lebih besar terhadap pengelolaan haji nasional.
"Kami ini khusus berbicara tentang haji, khusus berpikir tentang haji," ujarnya.
Kampung Haji dan Agenda Jangka Panjang
Di samping berbagai perbaikan jangka pendek, pemerintah juga mulai membicarakan agenda yang memiliki dampak lebih panjang terhadap tata kelola haji Indonesia.
Salah satu isu yang kembali muncul adalah pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi. Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyinggung proyek yang selama bertahun-tahun hanya menjadi wacana tersebut.
Menurut Irfan, Kampung Haji dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan pelayanan sekaligus menekan biaya penyelenggaraan haji.
"Beliau ingin Kampung Haji sebagai bagian upaya untuk peningkatan pelayanan bagi jemaah haji sekaligus untuk biaya, untuk menekan biaya haji," ucap Irfan.
Selain itu, pemerintah mencatat jumlah jemaah wafat pada musim haji tahun ini berada di bawah 300 orang. Penurunan tersebut dikaitkan dengan penguatan pemeriksaan kesehatan sejak sebelum pelunasan hingga menjelang keberangkatan.
"Kita awali dengan situasi kesehatan yang benar-benar serius di awal sebelum pelunasan dan kemudian sebelum pemberangkatan kita periksa lagi," tegas Irfan.
Bagi Presiden Prabowo, pekerjaan rumah penyelenggaraan haji tampaknya belum selesai. Setelah berhasil memperbaiki layanan dan memangkas antrean, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadikan ibadah haji semakin mudah diakses jutaan warga Indonesia yang masih menunggu giliran berangkat ke Tanah Suci.