#30 tag 24jam
Indika Energy (INDY) Realisasikan Capex Rp445 Miliar, 100% untuk Bisnis Nonbatu Bara
Indika Energy alokasikan capex Rp445 miliar untuk bisnis nonbatu bara, fokus pada proyek tambang emas Awak Mas dan inisiatif bisnis hijau. [264] url asal
#indika-energy #indy-capex #bisnis-nonbatu-bara #belanja-modal-indy #proyek-tambang-emas #awak-mas #inisiatif-bisnis-hijau #transisi-energi-global #net-zero #kinerja-indika-energy #laba-bersih-indy #tr
(Bisnis.Com - Market) 25/05/26 21:08
v/231860/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Indika Energy Tbk. (INDY) menyampaikan telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$26,2 juta atau setara Rp445,37 miliar (kurs Jisdor BI Rp16.999 per dolar AS 31 Maret 2026). Capex ini seluruhnya digunakan untuk pengembangan bisnis nonbatu bara perseroan.
Manajemen INDY dalam keterangan resminya mengatakan komitmen INDY untuk mengembangkan bisnis nonbatu bara tercermin dari realisasi belanja modal (capex) sepanjang tiga bulan 2026 yang mencapai US$26,2 juta.
“Sebesar 100% dialokasikan seluruhnya untuk sektor nonbatu bara,” kata manajemen INDY.
Sektor mineral, yaitu proyek tambang emas Awak Mas, menyerap US$20,4 juta, dan sisanya sebesar US$5,8 juta didistribusikan untuk inisiatif bisnis hijau.
Manajemen INDY juga menyebut hingga 31 Maret 2026, konstruksi Proyek Awak Mas telah mencapai 56,8% penyelesaian, dengan total biaya yang telah direalisasikan sebesar US$ 288,1 juta.
Direktur Utama dan CEO Indika Energy Azis Armand menuturkan Indika Energy tetap menunjukkan ketahanan kinerja yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar US$7,0 juta pada kuartal I/2026 di tengah dinamika industri energi global.
“Kami terus memperkuat transformasi bisnis dengan seluruh belanja modal pada periode ini dialokasikan untuk proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau,” ujar Azis dalam keterangan resminya.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang INDY yang relevan dengan arah transisi energi global menuju net-zero.
Ledakan AI dan Ancaman Krisis Energi: Pentingnya Regulasi Komputasi Hijau
Kemajuan pesat AI ternyata menyimpan dampak lingkungan serius, dari konsumsi listrik raksasa hingga jejak karbon yang mengancam target keberlanjutan perusahaan teknologi global. [1,123] url asal
#krisis-energi #bisnis-hijau #konsumsi-listrik-ai #jejak-karbon-teknologi #dampak-lingkungan-ai #emisi-pusat-data #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 21/05/26 08:05
v/227192/
Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/ AI) begitu masif merajai narasi kemajuan teknologi global. Namun di balik kemampuannya menulis naskah, menganalisis data, hingga mendiagnosis penyakit, tersembunyi biaya lingkungan yang monumental: konsumsi listrik dan jejak karbon yang dapat dikatakan melampaui batas kewajaran.
Sebagai gambaran, sebuah riset terkini mengungkap bahwa proses pelatihan model skala besar semacam ChatGPT dapat melepaskan 552-ton karbon dioksida. Jumlah ini sebanding dengan emisi tahunan 121 rumah di Amerika Serikat.
Raksasa teknologi pun tak luput dari masalah ini. Lonjakan kebutuhan listrik untuk pusat data AI telah menyebabkan emisi gas rumah kaca Google meningkat sebesar 51% sejak 2019. Lonjakan ini berpotensi menggagalkan target keberlanjutan mereka. Menjadi sebuah ironi ketika teknologi yang diciptakan untuk menghemat sumber daya malah menjelma menjadi beban baru bagi bumi.
Beban Ekologis di Balik Akselerasi Teknologi
International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global mencapai 415 terawatt-jam (TWh) pada 2024, atau sekitar 1,5% dari total permintaan listrik dunia. Angka ini diproyeksikan naik lebih dari dua kali lipat menjadi 945 TWh pada 2030, mendekati total konsumsi listrik tahunan Jepang saat ini (IEA, 2025).
Yang lebih mengkhawatirkan, konsumsi tersebut didorong oleh lonjakan permintaan server khusus AI. Di Amerika Serikat, server AI sudah menyumbang 22% dari total konsumsi energi pusat data pada 2023 dan diproyeksikan akan naik menjadi 50%-55% pada 2028.
Sementara itu, fase inference, yaitu pengoperasian model AI setelah pelatihan, diduga menyumbang hingga 90% dari total konsumsi energi siklus hidup sebuah model (NTT Data, 2025). Artinya, semakin populer sebuah aplikasi AI, semakin besar pula tagihan lingkungannya.
Geopolitik Pusat Data dan Krisis Infrastruktur Kelistrikan
Persoalan ini bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan krisis kebijakan. Berbagai negara kini berlomba menata ulang ketahanan energinya untuk menampung ledakan permintaan pusat data.
Di Amerika Serikat, pusat data di negara bagian Virginia Utara saja mengonsumsi sekitar 25–30 TWh per tahun, angka ini lebih besar dari konsumsi listrik beberapa negara.
Irlandia menghadapi situasi lebih ekstrem di mana pusat data kini memakan 22% dari total listrik nasional (theirishtime.com, 2025). Sementara Singapura sempat memberlakukan moratorium pembangunan pusat data akibat keterbatasan kapasitas jaringan listrik.
Pada Juni 2025, Ember Energy Research CIC memperingatkan bahwa kemacetan jaringan (grid congestion) dan infrastruktur listrik yang terjadi di Eropa yang sudah tertekan oleh elektrifikasi industri mengancam keandalan pasokan bagi pusat data.
Sebaliknya, negara-negara Skandinavia seperti Islandia dan Norwegia justru menjadikan energi bersih sebagai daya tarik investasi pusat data. Islandia memiliki jejak karbon listrik hampir nol berkat geotermal dan hidro. Sedangkan Norwegia menawarkan pasokan listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang stabil.
Jepang dan Cina tak kalah agresif; Jepang diproyeksikan akan melihat konsumsi listrik pusat datanya naik tiga kali lipat pada 2034, sementara Cina diperkirakan akan mengonsumsi 180–340 TWh pada 2027. Fakta ini menunjukkan satu titik temu: kesiapan infrastruktur kelistrikan menjadi penentu utama dalam persaingan ekonomi digital global, dan negara yang lambat beradaptasi akan tertinggal.
Kekosongan Hukum dan Celah Regulatif
Di tengah lanskap global tersebut, regulasi AI di tingkat internasional masih terlalu lunak untuk mengimbangi laju konsumsi energi. European Union Artificial Intelligence Act (EU AI Act) yang mulai berlaku efektif secara bertahap sejak 1 Agustus 2024 memang mencantumkan aspek lingkungan dalam pengaturannya. Namun, para ahli hukum mengkritiknya sebagai missed opportunity.
Revisi Parlemen Eropa yang mensyaratkan pencatatan konsumsi energi dan penilaian dampak lingkungan bagi sistem AI berisiko tinggi akhirnya melemah dalam versi trilog, menjadi sekadar kode etik sukarela dan standar teknis tanpa mekanisme penegakan yang jelas.
Pasal 40 EU AI Act memang meminta badan standardisasi menyusun pedoman efisiensi sumber daya. Namun, kepatuhan bersifat sukarela dan tidak mensyaratkan pengungkapan publik. Celah regulatif ini memperkuat argumen bahwa transparansi dan akuntabilitas harus menjadi pilar utama dalam setiap kerangka komputasi hijau.
Dilema Ketahanan Energi Nasional dan Ambisi Kedaulatan Digital
Bagi Indonesia, ketahanan energi masih menjadi pekerjaan rumah. Ironisnya, fakta ini disusul ancaman krisis energi akibat ledakan AI sudah di depan mata. Memegang predikat sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia kini tengah berpacu membangun pusat-pusat data berskala masif guna menopang ambisi teknologi yang tengah digenjot pemerintah dan korporasi.
Sayangnya, fondasi energi kita masih belum sepenuhnya ideal untuk menanggung beban tersebut. Mengacu pada data tahun 2023, Indeks Ketahanan Energi nasional hanya bertengger di level 6,64 dari 10, sebuah pengingat bahwa ketergantungan pada batu bara masih sangat mendominasi struktur kelistrikan kita (Dewan Energi Nasional, 2024).
Di atas kertas, Indonesia memang memiliki komitmen hijau yang progresif; Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru untuk periode 2025–2034 bahkan menjanjikan suntikan 42,6 GW kapasitas pembangkit dari Energi Baru Terbarukan. Namun, realitas di lapangan berbicara lain.
Akses terhadap aliran listrik yang ramah lingkungan, menyala 24 jam nonstop, serta ramah di kantong belum terwujud secara merata. Hal ini memicu dilema besar karena operasional pusat data memiliki spesifikasi teknis yang sangat kaku: mereka tidak dapat menoleransi pemadaman daya sekecil apa pun, di mana hilangnya aliran listrik dalam sepersekian detik saja dapat berakibat fatal bagi sistem komputerisasi di dalamnya.
Evolusi Kepatuhan ESG sebagai Instrumen Pencegah Greenwashing
Dalam kondisi seperti ini, prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dapat berperan sebagai korektor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Peraturan OJK Nomor 51/POJK.03/2017, telah mewajibkan perusahaan publik dan lembaga jasa keuangan untuk menyusun laporan keberlanjutan.
Lebih jauh, Dewan Standar Ikatan Akuntan Indonesia pada pertengahan 2025 telah menerbitkan Exposure Draft Standar Pengungkapan Keberlanjutan yaitu PSPK 1 (Persyaratan Umum) dan PSPK 2 (Terkait Iklim) yang mengadopsi standar Internasional IFRS S1 dan S2, dengan fokus climate-first dengan target efektif 1 Januari 2027.
Namun yang terpenting, pengungkapan ESG saat ini masih bersifat umum dan belum secara spesifik mengadopsi metrik konsumsi energi AI, seperti Power Usage Effectiveness atau jejak karbon per inferensi model. Jika Indonesia ingin menghindari jebakan greenwashing, maka kebijakan ESG harus berevolusi memasukkan metrik lingkungan khusus AI dan pusat data.
Arah Kebijakan Strategis: Menuju Ekosistem Komputasi Hijau
Lantas, langkah strategis apa yang harus segera ditempuh untuk memitigasi krisis ini? Pertama, pemerintah perlu segera menerbitkan regulasi khusus green computing yang mensyaratkan mandatory disclosure konsumsi energi, air, dan karbon bagi penyedia layanan AI dan operator pusat data, yang mengadopsi spirit transparansi EU AI Act.
Kedua, pemerintah perlu mengembangkan skema insentif fiskal bagi pusat data yang menggunakan listrik dari sumber EBT. Termasuk tax holiday untuk investasi EBT captive, pembebasan bea masuk untuk peralatan liquid cooling berefisiensi tinggi, serta kemudahan perizinan bagi proyek yang berlokasi dekat sumber EBT.
Ketiga, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perguruan tinggi ternama perlu didorong untuk mengembangkan algoritma efisien secara energi, mengikuti jejak Google yang berhasil meningkatkan efisiensi komputasi 33 kali lipat dalam setahun.
AI adalah teknologi ganda: ia bisa mempercepat transisi energi bersih, namun juga bisa menjadi beban iklim yang signifikan. Pilihan ada di tangan pembuat kebijakan. Tanpa regulasi komputasi hijau yang tegas, Indonesia bukan hanya berisiko gagal mencapai target Net Zero Emission 2060, tetapi juga bisa kehilangan daya saing dalam merebut investasi pusat data global. Masa depan AI harus cerdas, hijau dan berkelanjutan.
Petunjuk Bagi Mereka yang Bingung soal Pemeringkatan ESG
Buku terbaru Patrycja Chodnicka-Jaworska mengkritik kualitas data ESG, yang menjadi dasar triliunan dolar investasi meski banyak investor meragukannya. [1,108] url asal
#esg #kesgi #bisnis-hijau #greenwashing #investasi-berkelanjutan #pemeringkatan-esg #risiko-investasi #patrycja-chodnicka-jaworska #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 08/05/26 06:05
v/215004/
Investasi berlabel ESG kini telah melampaui US$40 triliun secara global. Anehnya, hanya sekitar 37% investor yang benar-benar percaya pada kualitas pemeringkatan ESG yang mereka gunakan sebagai kompas. Bayangkan, mereka yang secara kolektif menginvestasikan triliunan dolar itu mendasarkan keputusan pada angka dan huruf yang mereka sendiri ragukan kebenarannya.
Inilah lanskap mutakhir yang membuat Patrycja Chodnicka-Jaworska, Direktur Pusat Manajemen Risiko dan Keuangan di Universitas Warsaw, meneliti dan memublikasikan buku terbarunya menjelang penghujung 2025 lalu. Environmental, Social, and Governance Ratings: Risks, Regulations, and Market Dynamics bukan jenis buku yang mengagung-agungkan investasi berkelanjutan.
Ini adalah buku yang kritis, dan ditulis untuk siapa pun yang berani bertanya: apakah pemeringkatan ESG sungguh-sungguh mengukur apa yang diklaim diukurnya? Jawaban akhirnya, bagi saya, tidaklah menyenangkan, tetapi sangat penting untuk kita simak dengan sungguh-sungguh.
Membongkar Kotak Hitam ESG
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian dengan enam bab. Seluruh teks tersedia bebas-akses di taylorfrancis.com, sebuah keputusan yang mencerminkan semangat keterbukaan yang selaras dengan misi buku itu sendiri. Walaupun, bagi mereka yang memilih untuk membeli edisi cetaknya, bisa juga memerolehnya dengan membayar 155 poundsterling lewat website penerbit Routledge.
Dua bab pertama membangun fondasi konseptual. Chodnicka-Jaworska membedah perbedaan mendasar yang kerap diabaikan, yaitu bahwa ESG rating berbeda dari ESG scoring. Pemeringkatan atau rating melibatkan analis manusia, bersifat prospektif, dan mengukur paparan risiko masa depan; sementara penilaian atau scoring cenderung berbasis algoritma, bersifat retrospektif, dan menilai kinerja masa lalu.
Keduanya sering disamakan, dan ini adalah sebuah kekeliruan yang sejak awal merusak pemahaman kita. Ia kemudian membandingkan ekosistem ESG dengan dunia credit rating yang lebih mapan: setelah krisis 2008, lembaga pemeringkat kredit dikecam karena menggelembungkan hasilnya.
Kini kritik serupa menghantam ESG. Metodologinya tidak transparan, konflik kepentingan merajalela, dan angka yang tak dapat dibandingkan antar-penyedia. MSCI, Sustainalytics, Refinitiv, dan S&P TruCost menggunakan definisi, cakupan, metode pencarian data, dan bobot yang berbeda.
Alhasil, peringkat perusahaan yang sama bisa sangat berbeda tergantung siapa yang menilainya. Ini adalah fenomena yang disebut aggregate confusion dalam ESG (Berg, Kölbel, dan Rigobon, 2022).
Jantung analitis buku ini ada di tiga bab berikutnya. Bab ketiga mengulas inflasi pemeringkatan: peringkat yang diminta langsung (solicited) cenderung lebih tinggi dari yang tidak diminta (unsolicited), dan penyedia yang juga menjual konsultasi kepada perusahaan yang sama memiliki insentif untuk memberi angka lebih tinggi.
Fenomena “rating shopping” pun kemudian muncul. Perusahaan cenderung mencari pemberi peringkat yang paling royal dalam memberi nilai.
Bab keempat mengungkap tiga bias sistematis: bias ukuran. Perusahaan besar mendapat rating lebih tinggi bukan karena kinerja ESG lebih baik, melainkan karena lebih mampu menyusun laporan yang tebal).
Kemudian, bias geografis. Hampir 30% peringkat di negara berpendapatan tinggi adalah greenwashed, diberikan tanpa dasar laporan non-keuangan yang memadai.
Terakhir, bias sektoral. Sektor jasa mendapat peringkat yang lebih tinggi secara sistematis dibanding sektor padat sumberdaya.
Bab kelima, mungkin yang paling ambisius, mengukur dampak nyata greenwashing terhadap pasar. Menggunakan data Refinitiv dari seluruh bursa dunia sepanjang 2010–2023, Chodnicka-Jaworska menemukan bahwa harga saham bereaksi signifikan terhadap perubahan peringkat ESG, bahkan peringkat yang greenwashed.
Di pasar obligasi, ditemukan bahwa peringkat yang greenwashed tetap mendapatkan greenium. Di pasar dana investasi, temuan paling mengkhawatirkan muncul: dana yang sekadar mencantumkan kata “hijau” atau “ESG” di dalam namanya memiliki nilai aset bersih yang lebih tinggi, meski portofolionya tidak benar-benar berkelanjutan.
Bab keenam mendokumentasikan respons regulasi—terutama ESG Rating Regulation Uni Eropa yang disahkan pada November 2024—beserta inisiatif di Inggris, Jepang, India, dan negara-negara Asia lainnya lantaran kondisi yang dideskripsikan oleh buku ini hingga 2023.
Yang Kuat dan yang Lemah
Kekuatan terbesar buku ini menurut saya adalah kejujuran metodologisnya. Chodnicka-Jaworska mengikuti data ke mana pun ia pergi, termasuk ke tempat-tempat yang tidak nyaman bagi para pendukung ESG.
Jangkauan empirisnya luar biasa: perusahaan dari seluruh bursa di dunia selama 13 tahun, dianalisis berlapis berdasarkan benua, level pembangunan, sektor, dan ukuran perusahaan. Ini jauh melampaui mayoritas literatur ESG yang bersandar pada sampel Eropa atau Amerika Utara semata.
Kekuatan lainnya adalah perbandingannya dengan credit rating, yang agaknya memberi peta jalan logis untuk membaca arah regulasi ESG ke depan.
Namun buku ini punya kelemahan yang tak bisa diabaikan. Yang paling mencolok adalah jurang antara kedalaman analisis dan aksesibilitas penyajian. Bab kelima dipenuhi deretan tabel regresi yang membentang puluhan halaman.
Mungkin bagian tersebut seperti surga bagi mereka yang menggilai ekonometrika. Namun, itu bagaikan tembok yang tinggi dan tebal bagi kebanyakan eksekutif, regulator, dan aktivis. Mereka justru paling membutuhkan temuan tersebut didiskusikan dalam bahasa yang lebih mudah dipahami.
Agak ironis lantaran kurangnya aksesibilitas adalah salah satu masalah utama yang dikritik buku ini pada industri pemeringkatan ESG itu sendiri.
Kelemahan kedua adalah minimnya perhatian terhadap Asia Tenggara. Indonesia hanya disebut sekilas. Padahal bias geografis yang diungkap penulis—bahwa perusahaan dari kawasan dengan regulasi lebih longgar cenderung mendapat peringkat yang kurang dapat diandalkan—memiliki implikasi langsung bagi ribuan perusahaan Indonesia yang kini memasuki arena pelaporan dan pemeringkatan ESG.
Ketiga, buku ini sangat kuat mendiagnosa masalah tetapi lemah dalam menawarkan solusi yang benar-benar baru. Pertanyaan tentang apakah model pemeringkatan yang ada bisa diperbaiki secara fundamental, atau apakah dunia membutuhkan pendekatan yang sama sekali berbeda, hampir tidak disentuh.
Ini adalah diagnosis yang sangat tepat dan komprehensif, tetapi para pembaca bakal segera sadar bahwa obatnya belum benar-benar ditawarkan di level yang sama dengan diagnosisnya.
Untuk Pembaca Indonesia
Bagi mereka yang kerap kebingungan menyikapi hiruk-pikuk pemeringkatan ESG, buku ini menawarkan sesuatu yang lebih berharga daripada jawaban instan, yaitu kerangka untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.
Jelas buku ini mengingatkan kita semua untuk tidak memerlakukan peringkat ESG sebagai kebenaran tunggal. Tanyakan kepada penyedianya: metodologi apa yang digunakan, data apa yang menjadi dasarnya, dan apakah peringkat tersebut bersifat solicited atau unsolicited.
Kita juga perlu menyadari bahwa perusahaan Indonesia yang mendapat peringkat ESG yang lebih rendah sebetulnya belum tentu berkinerja lebih buruk. Bias dalam pengukuran yang diungkap buku ini sangat relevan di sini.
Untuk itu, saya mengundang para pemangku kepentingan untuk berdiskusi tentang Katadata ESG Insight (KESGI)—yang juga melakukan pengukuran dan pemeringkatan terkait implementasi ESG perusahaan—untuk memahami secara mendalam apa yang sesungguhnya kami ukur.
Bagi lembaga keuangan, pengembangan kapasitas membangun model penilaian ESG internal, lalu membandingkannya dengan rating eksternal semakin menjadi keharusan. Hal ini sebagaimana dituntut pendekatan Basel III+ yang kini memasukkan risiko ESG ke dalam perhitungan kecukupan modal perbankan.
Chodnicka-Jaworska tidak menutup bukunya dengan optimisme palsu. Regulasi ESG bergerak ke arah yang benar, kata dia, tetapi implementasinya jelas masih jauh dari selesai. Yang tersisa adalah tanggung jawab kita untuk tidak mengonsumsi peringkat ESG dalam huruf dan angka dengan mata tertutup.
Dalam dunia di mana “hijau” bisa berarti apa saja, memahami apa yang sebenarnya diukur oleh sebuah pemeringkatan adalah—izinkan saya meminjam frasa Latin dari bidang hukum—caveat emptor alias let the buyer beware untuk era keberlanjutan ini.
TBS Catat Pendapatan Tumbuh 20,5 Persen pada Kuartal I 2026
Bisnis pengelolaan limbah jadi penopang utama di tengah strategi transformasi. [402] url asal
#tbs-energi-utama #kinerja-kuartal-pertama #transformasi-bisnis-hijau #pengelolaan-limbah #energi-terbarukan #kendaraan-listrik #akuisisi-dan-divestasi #pertumbuhan-pendapatan #netralitas-karbon #efisi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT TBS Energi Utama menyampaikan laporan kinerja periode kuartal pertama (Q1) 2026 yang menunjukkan perkembangan positif setelah fase transformasi portofolio ke sektor bisnis hijau melalui akuisisi dan divestasi pada tahun 2025 tanpa mengorbankan performa finansial dan operasional. Fokus perseroan saat ini adalah memperkuat stabilitas operasional pada lini bisnis pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik.
Pada periode ini, perseroan berhasil mencatatkan akselerasi pertumbuhan pendapatan konsolidasi yang signifikan. Indikator keuangan utama menunjukkan performa yang solid dengan peningkatan pendapatan konsolidasi sebesar 20,5 persen dan laba kotor konsolidasi sebesar 46,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Efisiensi operasional yang semakin membaik terlihat dari posisi arus kas operasional yang sebelumnya negatif 2,9 juta dolar AS pada tahun 2025 menjadi positif 9,9 juta dolar AS pada tahun 2026. Secara keseluruhan, total kerugian periode berjalan berhasil berkurang lebih dari 83 persen secara tahunan dari 58,9 juta dolar AS menjadi 9,5 juta dolar AS karena tidak berulangnya kerugian dari divestasi entitas PLTU tahun lalu.
Menanggapi pencapaian ini, Direktur TBS Juli Oktarina menyatakan optimismenya.
"Hasil yang kami capai di kuartal pertama ini merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan. Langkah besar akuisisi dan divestasi di tahun 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan perseroan. Fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tetapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," ujarnya melalui leterangan, Kamis (30/4/2026).
Lini bisnis pengelolaan limbah kini menjadi kontributor utama perusahaan dengan menyumbang 60 persen dari total pendapatan konsolidasi dan 93 persen dari total EBITDA disesuaikan, didorong oleh pertumbuhan pendapatan segmen yang melonjak signifikan sebesar 447,69 persen atau 5,5 kali lipat, dari 9,4 juta dolar AS menjadi 51,9 juta dolar AS. Bisnis pengelolaan limbah menunjukkan resiliensi di segala situasi ekonomi. Terlepas dari fluktuasi pasar maupun ketidakpastian global, segmen ini terbukti mampu memberikan arus pendapatan yang stabil dan berulang, dengan tingkat profitabilitas yang sangat tinggi.
Perkembangan operasional di segmen ini meliputi:
- Cora Environment (Singapura): Melayani lebih dari 470.000 pelanggan dengan tingkat ketersediaan fasilitas operasional mencapai 100 persen.
- Asia Medical Enviro Services (AMES): Mempertahankan posisi di pasar pengelolaan limbah medis Singapura dengan pangsa pasar sekitar 45 persen.
- ARAH Environmental (Indonesia): Melayani lebih dari 5.000 pelanggan di berbagai sektor yang tersebar di 15 provinsi.
TBS Energi (TOBA) Kantongi Rp1,43 Triliun di Triwulan I/2026
PT TBS Energi Utama (TOBA) mencatat pendapatan Rp1,43 triliun di Q1 2026, naik 20,6% YoY, didorong oleh bisnis pengelolaan limbah dan transisi bisnis hijau. [659] url asal
#tbs-energi #toba #pendapatan-triwulan #bisnis-hijau #pengelolaan-limbah #energi-terbarukan #kendaraan-listrik #batu-bara #transformasi-bisnis #pltm #plts-terapung #efisiensi-operasional #arus-kas-posi
(Bisnis.Com - Market) 30/04/26 13:10
v/207514/
Bisnis.com, JAKARTA – PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) sepanjang Januari-Maret 2026 membukukan total pendapatan sebesar US$82,29 juta atau sekitar Rp1,43 triliun (kurs JISDOR Rp17.324 per dolar AS). Angka ini meningkat 20,6% secara year on year (YoY) dibanding raihan US$71,52 juta pada periode yang sama 2025.
Direktur TBS Juli Oktariana menjabarkan bahwa lini bisnis pengelolaan limbah menjadi kontributor utama perusahaan dengan menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi, atau 93% dari total EBITDA disesuaikan.
Pendapatan dari segmen bisnis pengelolaan limbah juga melonjak 447,69% YoY atau 5,5 kali lipat dari US$9,4 juta dalam kuartal pertama 2025 menjadi US$51,9 juta selama triwulan pertama 2026.
Juli menegaskan bahwa kinerja kuartal I 2026 merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan yang kini bertransformasi dari bisnis batu bara ke bisnis hijau.
"Langkah besar akuisisi dan divestasi di tahun 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan TBS. Fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Sementara itu, pada segmen energi terbarukan, fasilitas pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) berkapasitas 6 megawatt (MW) yang dimiliki perseroan telah beroperasi secara penuh dan memberikan kontribusi pendapatan sebesar US$3,2 juta. Sedangkan, proyek PLTS Terapung berkapasitas 46 megawatt-peak (MWp) telah mencapai progres pembangunan dengan target penyelesaian operasional pada kuartal keempat 2026.
Selanjutnya dari segmen kendaraan listrik, pendapatan dari penjualan dan penyewaan sepanjang Januari-Maret 2026 tumbuh hampir 2,5 kali lipat sebesar 137,82% YoY dari US$1,3 juta menjadi US$3,2 juta.
Sementara di segmen batu bara yang kini perlahan mulai ditinggalkan, Juli menjelaskan bahwa perseroan memprioritaskan efisiensi dengan cara menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8% menjadi US$42,5 per ton. Langkah ini mampu menjaga resiliensi bisnis di tengah fluktuasi harga pasar, sehingga margin laba kotor pertambangan tetap terjaga secara stabil di angka 15,8% pada kuartal pertama 2026.
Sementara dari aspek neraca keuangan, Juli menjabarkan bahwa efisiensi yang dilakukan TOBA membuat posisi arus kas operasional yang sebelumnya negatif US$2,9 juta pada 2025 menjadi positif US$9,9 juta pada 2026. Dengan kas yang membaik ini perseroan optimis dapat leluasa membiayai pertumbuhan bisnis hijau yang kini menjadi core bisnis TOBA.
"Dengan posisi kas sebesar US$103,3 juta pada kuartal pertama 2026 dan manajemen modal kerja yang disiplin, TBS memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada tahun 2030,” jelasnya.
Adapun, laba kotor yang dibukukan perseroan sepanjang triwulan pertama 2026 tercatat tumbuh 46,8% YoY dari US$7,07 juta menjadi US$10,38 juta. Dari sisi bottom line, TOBA memang masih mengalami kerugian sebesar US$9,55 juta, namun kinerja di triwulan I/2026 tersebut jauh mengecil atau berkurang 83% YoY dibanding raihan triwulan pertama 2025 saat perseroan menanggung kerugian US$58,92 juta.
Juli menjelaskan bahwa kinerja bottom line yang masih negatif tersebut lebih disebabkan oleh item non-cash, di mana ada aspek amortisasi dan depresiasi yang terjadi akibat akuisisi TOBA atas perusahaan asal Singapura, CORA Environment, tahun lalu. Perseroan juga optimis seiring dengan kinerja bisnis hijau yang menunjukkan performa pertumbuhan signifikan, perseroan dapat membalik kerugian menjadi laba.
"Secara operasional, bisnis waste management ini masih making profit sebenarnya, cuma tadi ada biaya intangible asset itu kita harus depresiasi dan masukkan ke dalam buku," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
TBS Energi Umumkan 3 Aksi Korporasi, Jadi Katalis Harga Saham TOBA?
PT TBS Energi Utama Tbk. berencana melakukan pembagian dividen, buyback, dan rights issue, dinilai jadi katalis positif saham TOBA. [437] url asal
#toba #tbs-energi #aksi-korporasi #pembagian-dividen #buyback-saham #pmhmetd #rups-toba #harga-saham-toba #saham-toba #dividen-toba #fundamental-toba #ekspansi-toba #transisi-bisnis-hijau #ebitda-toba
(Bisnis.Com - Market) 27/03/26 04:48
v/173995/
Bisnis.com, JAKARTA — Tiga aksi korporasi yang direncanakan PT TBS Energi Utama Tbk., yakni pembagian dividen hingga buyback dinilai bisa menjadi katalis positif bagi saham TOBA.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Kamis (26/3/2026), tiga aksi korporasi strategis tersebut yaitu penggunaan sebagian saldo laba untuk pembagian dividen, pembelian kembali (buyback) saham dan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).
Adapun TOBA berencana melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang selanjutnya disebut RUPS untuk tahun buku 2025 pada 16 April 2026.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey menilai penggunaan sebagian saldo laba untuk pembagian dividen dan buyback saham akan meningkatkan nilai bagi pemegang saham sementara PMHMETD menjadi landasan fondasi penguatan modal untuk ekspansi jangka menengah panjang.
Soal bagi dividen, dia juga menjelaskan bahwa meski TOBA membukukan rugi bersih di tahun 2025 akibat rugi non-kas dan akuntansi dari divestasi PLTU, TOBA masih bisa membagikan dividen.
“Secara historis sebenarnya TOBA adalah emiten yang dividend paying, tahun 2025 memang ada kerugian non-kas karena transisi aset ke bisnis hijau, tetapi saldo laba masih positif dari keuntungan tahun-tahun sebelumnya jadi masih bisa bagi dividen. Hal ini juga menunjukkan fundamental bisnis TOBA tetap kuat di tengah periode transisi,” kata Andhika dalam keterangannya.
Meskipun mencatat rugi bersih non-kas pada 2025 akibat divestasi aset PLTU sebagai bagian dari transisi, Perseroan tetap mencapai EBITDA Disesuaikan positif dan saldo kas sebesar US$102,3 juta, naik 15% dari tahun sebelumnya.
Transformasi ini memengaruhi pendapatan dari bisnis berkelanjutan mencapai US$164,1 juta pada 2025, naik 738% (yoy), dengan kontribusi pengelolaan limbah mencapai 41% dari total pendapatan.
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Raka Junico mengatakan selain dividen, buyback juga diharapkan memainkan peran penting untuk meningkatkan kepercayaan diri pasar terkait fundamental dan nilai saham TOBA.
“Ini artinya bahwa manajemen punya keyakinan bahwa harga saham saat ini belum benar-benar mencerminkan valuasi wajarnya,” kata Raka.
Dia menambahkan selain saldo laba yang masih positif, arus kas TOBA yang solid turut mendukung kemampuan Perseroan untuk melakukan dua aksi korporasi ini secara sekaligus. Percepatan pergeseran portofolio TOBA membutuhkan penguatan modal yang diyakini akan difasilitasi melalui aksi PMHMETD untuk mendukung ambisi ekspansi jangka panjang.
“Skema rights issue bisa memfasilitasi investor strategis untuk masuk dan ambil bagian dalam pertumbuhan jangka panjang suatu perusahaan. Ini yang menjadi keuntungannya,” katanya.
Adapun, agenda RUPS TOBA bisa menjadi katalis positif untuk pergerakan harga sahamnya dalam jangka pendek.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
TOBA Rugi Rp2,7 T di 2025, Intip Analisis Fundamental TBS Energi Utama
PT TBS Energi Utama (TOBA) mencatat rugi Rp2,7 triliun di 2025 akibat divestasi aset, tetapi tetap kuat secara kas dan fokus pada bisnis hijau. [501] url asal
#toba-rugi-2025 #tbs-energi-utama #analisis-fundamental-toba #bisnis-hijau-toba #pendapatan-toba-2025 #divestasi-aset-toba #arus-kas-toba #transformasi-bisnis-toba #portofolio-bisnis-hijau #pengelolaan
(Bisnis.Com - Market) 10/03/26 14:28
v/160475/
Bisnis.com, JAKARTA — PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) mencatatkan rugi bersih sebesar rugi bersih sebesar US$162,26 juta atau setara Rp2,7 triliun pada tahun buku 2025. Namun, analis menyoroti fundamental perusahaan yang tengah melakukan pengembangan bisnis hijau tersebut.
Berdasarkan Laporan Keuangan 2025, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$380,22 juta atau setara Rp6,35 triliun. Pendapatan ini turun 14,7% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$445,6 juta.
Analis Philip Sekuritas, Edo Ardiansyah menilai kerugian yang tercatat pada 2025 tidak mencerminkan pelemahan fundamental operasional perusahaan.
“Rugi yang muncul lebih merupakan dampak akuntansi dari divestasi aset pembangkit. Dari sisi arus kas justru terlihat lebih kuat karena perusahaan memperoleh fleksibilitas keuangan untuk mendanai ekspansi bisnis berkelanjutan,” kata Edo dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).
Dia menjelaskan kerugian tersebut terutama dipengaruhi oleh pencatatan akuntansi yang bersifat non-kas dan tidak berulang (non-recurring) seiring langkah transformasi bisnis Perseroan menuju portofolio bisnis hijau.
Adapun, sebagian besar kerugian berasal dari dampak divestasi dua aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yakni PT Minahasa Cahaya Lestari dan PT Gorontalo Listrik Perdana.
Menurutnya, dalam standar akuntansi proyek Independent Power Producer (IPP) dengan skema Build-Own-Operate-Transfer (BOOT), nilai aset yang tercatat sebelumnya juga mencerminkan pendapatan masa depan yang belum direalisasikan. Ketika aset tersebut dilepas, bagian pendapatan yang belum jatuh tempo harus dihapus dari pembukuan sehingga tercatat sebagai rugi non-kas dalam laporan laba rugi.
Di tengah pencatatan rugi akuntansi tersebut, fundamental arus kas Perseroan tetap menunjukkan ketahanan. TBS mencatatkan adjusted EBITDA sebesar US$47,2 juta pada 2025, sementara posisi kas meningkat 15% menjadi US$102,3 juta. Kondisi ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga likuiditas di tengah proses transformasi portofolio bisnis.
Dia mengatakan langkah strategis TBS untuk melepas aset pembangkit batu bara dan mempercepat pengembangan bisnis hijau merupakan bagian dari restrukturisasi portofolio jangka panjang. Dengan struktur bisnis yang semakin terdiversifikasi, ketergantungan terhadap siklus harga batu bara juga akan berkurang secara bertahap.
Transformasi tersebut juga mulai tecermin dalam komposisi bisnis Perseroan. Segmen pengelolaan limbah kini menjadi salah satu kontributor utama pendapatan dengan nilai mencapai US$155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan konsolidasian perusahaan.
“Jika melihat perkembangan saat ini, bisnis waste management sudah menjadi tulang punggung baru perusahaan. Sementara itu kendaraan listrik dan energi terbarukan memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.
Selain memperkuat bisnis pengelolaan limbah melalui platform regional CORA Environment, TBS juga terus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum yang hingga akhir 2025 telah mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dengan dukungan sekitar 364 stasiun penukaran baterai.
Di sektor energi terbarukan, proyek pembangkit mini hidro berkapasitas 6 MW di Lampung telah mulai beroperasi sejak awal 2025. Sementara proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam dengan kapasitas 46 MWp masih berada dalam tahap konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sektor Swasta Himpun Dana Transisi Energi Hingga Rp3.859 Triliun dalam 10 Tahun
Sektor swasta himpun Rp3.859 triliun untuk transisi energi dalam 10 tahun, namun sebagian besar dana belum diinvestasikan. [355] url asal
#transisi-energi #sektor-swasta #dana-transisi-energi #energi-hijau #energi-terbarukan #investasi-energi #perubahan-iklim #emisi-nol #transportasi-listrik #jaringan-listrik #bisnis-hijau #internal-rate
(Bisnis.Com - Terbaru) 30/01/26 08:11
v/119332/
Bisnis.com, JAKARTA — Data yang dihimpun BloombergNEF mengungkap bahwa penghimpunan dana untuk transisi energi dari sektor swasta mencapai US$230 miliar atau sekitar Rp3.859 triliun dalam sedekade terakhir. Dana ini menjadi sumber pembiayaan penting bagi proyek energi hijau dan terbarukan yang terus berkembang.
Namun, sebagian besar modal tersebut belum tersalurkan. Sekitar US$92 miliar masih belum diinvestasikan, kata Ryan Loughead, senior associate BNEF di London.
“Ini adalah kantong dana yang terus bertambah dan jumlahnya tidak kecil,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg, Jumat (30/1/2026).
Sejumlah manajer aset seperti Brookfield Asset Management, Blackstone Inc., BlackRock Inc., dan Copenhagen Infrastructure Partners menilai kenaikan permintaan energi serta membaiknya keekonomian energi terbarukan akan terus mendorong investasi. Dalam laporan yang diterbitkan Kamis, BNEF menyebut dana-dana ini mulai menjadi sumber modal yang signifikan bagi transisi energi.
Meski demikian, kebutuhan pendanaan global masih jauh dari memadai untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim. BNEF memperkirakan kebutuhan belanja tahunan untuk memastikan ekonomi global tetap dalam jalur menuju emisi nol menembus US$5,2 triliun.
Di sisi lain, realisasi investasi di transportasi listrik, energi terbarukan, jaringan listrik, dan bisnis hijau lainnya mencapai rekor US$2,3 triliun pada tahun lalu. Meski demikian, angka ini masih jauh di bawah kebutuhan ideal.
Berdasarkan data yang tersedia, BNEF memperkirakan median internal rate of return (IRR) dana transisi energi berkisar antara 7% hingga lebih dari 20% per tahun pada periode 2015–2022, meski periode pengembalian modal bervariasi.
Pasar privat yang mencakup investasi pada aset yang tidak diperdagangkan di bursa juga memperlihatkan pertumbuhan. McKinsey & Co. memperkirakan aset kelolaan di pasar modal privat meningkat hampir 20 kali lipat menjadi sekitar US$22 triliun sepanjang 2000–2024.
Secara keseluruhan, pasar privat telah menghimpun US$2,7 triliun untuk berbagai jenis dana energi, termasuk bahan bakar fosil, dalam satu dekade terakhir, menurut BNEF.
Brookfield Asset Management tercatat melakukan sejumlah transaksi hijau besar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pembelian saham senilai 1,75 miliar poundsterling (US$2,4 miliar) di proyek ladang angin lepas pantai Inggris dari Orsted A/S. Manajer aset tersebut juga bermitra dengan Microsoft Corp. pada 2024 dalam kesepakatan pembelian energi bersih korporasi terbesar yang pernah diumumkan saat itu.
Geliat Bisnis Hijau TBS Energi, Potensi Kerek Valuasi TOBA
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) bertransformasi ke bisnis hijau, fokus pada energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan kendaraan listrik, berpotensi meningkatkan valuasi. [521] url asal
#tbs-energi #bisnis-hijau #valuasi-toba #energi-terbarukan #pengelolaan-limbah #kendaraan-listrik #transformasi-bisnis #saham-toba #investasi-hijau #ekspansi-regional #netral-karbon #pembangkit-listrik
(Bisnis.Com - Terbaru) 17/11/25 10:08
v/40224/
Bisnis.com, JAKARTA — Analis pasar modal menilai langkah transformasi bisnis hijau PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dapat membuka peluang untuk meningkatkan valuasi di masa mendatang.
Analis Phillip Sekuritas, Edo Ardiansyah mengatakan TOBA menjadikan strategi keberlanjutan ke dalam nilai fundamental perusahaan melalui bisnis energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan kendaraan listrik.
“Langkah berani meninggalkan bisnis batu bara cenderung dihargai investor yang fokus pada fundamental,” ujar Edo dalam keterangannya, Senin (17/11/2025).
Dia menambahkan, kenaikan harga saham TOBA yang mencapai 105% secara year to date (YTD) terjadi justru ketika perusahaan mencatatkan rugi secara akuntansi akibat divestasi PLTU.
Berdasarkan laporan keuangan periode Januari–September 2025, TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$127,38 juta, berbalik dari laba bersih sebesar US$34,84 juta pada periode yang sama pada 2024.
“Jadi kalau nanti perusahaan mulai mencatatkan laba kembali dari bisnis barunya, peluang apresiasi investor akan makin besar,” katanya.
Sementara, riset UOB Kay Hian menyebutkan bahwa emiten yang fokus pada bisnis berkelanjutan umumnya diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi.
Beberapa pembanding global seperti Waste Management Inc (PBV 8,6x), Republic Services Inc (5,6x), dan Clean Harbors Inc (4,6x) menunjukkan bahwa perusahaan dengan portofolio ramah lingkungan sering kali mendapatkan penghargaan lebih besar dari pasar.
TOBA saat ini masih relatif undervalued dengan PBV sekitar 1,94x, sehingga potensi re-rating valuasi terbuka lebar seiring konsistensi transisi menuju portofolio hijau.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, Kamis (13/11/2025), TOBA masuk ke fase ekspansi regional di bisnis hijaunya. Transformasi ini tidak hanya berupa pergantian identitas visual, tetapi mencerminkan ekspansi strategis TBS di tiga sektor bernilai tinggi, pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.
Presiden Direktur & CEO TBS Dicky Yordan menjelaskan bahwa transformasi ini memasuki fase eksekusi setelah tiga tahun berjalan di bawah kerangka TBS2030, peta jalan menuju netral karbon yang diluncurkan pada 2021.
“Kami tidak hanya melakukan rebranding. Kami mengonsolidasikan ekspansi bisnis hijau yang selama tiga tahun terakhir mulai menghasilkan skala yang signifikan,” ujarnya.
Perubahan arah ini diiringi langkah nyata di lapangan. TBS telah menyelesaikan divestasi dua PLTU berkapasitas total 200 MW, serta menargetkan penghentian tiga konsesi tambang batu bara paling lambat 2027.
Di sisi lain, perusahaan memperluas bisnis pengelolaan limbah melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH Environmental Indonesia (ARAH) yang memperkuat ekosistem pengelolaan limbah medis, industri, dan domestik di Indonesia.
Integrasi berlanjut dengan akuisisi penuh Sembcorp Environment Pte. Ltd. (SembEnviro) di Singapura yang kini berevolusi menjadi CORA Environment, memperluas jangkauan TBS ke pasar regional dan memperkuat kapabilitas teknologi serta operasional di Asia Tenggara.
Pada sisi energi terbarukan, TBS telah mengoperasikan pembangkit listrik mikrohidro 2x3 MW di Lampung dan tengah menyelesaikan proyek Tembesi Floating Solar Power Plant berkapasitas 46 MWp di Batam bersama PLN Nusantara Power. Proyek PLTS terapung ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dan akan memperkuat bauran energi bersih nasional.
Sementara pada sektor kendaraan listrik, TBS melalui Electrum melanjutkan pembangunan ekosistem EV terintegrasi mencakup teknologi baterai, perakitan kendaraan, hingga infrastruktur penukaran baterai.
Direktur & CFO TBS Juli Oktarina mengungkapkan bahwa total investasi yang disiapkan untuk menopang transformasi ini mencapai US$600 juta hingga 2030 akan difokuskan untuk tiga bisnis baru.
“Tahun depan porsi terbesar akan datang dari bisnis waste management,” kata Juli.
Semangat Wirausahawan Muda Bisnis Hijau Semakin Menguat
Di tengah meningkatnya kebutuhan solusi lingkungan dan energi yang berkelanjutan, indonesia membutuhkan wirausaha muda yang fokus kepada pelestarian lingkungan. [548] url asal
#wirausahawan #wirausahawan-muda #bisnis-hijau #semangat-wirausahawan-muda-bisnis-hijau-semakin-menguat #pelaku-usaha
(MedCom - Enterpreneurship) 16/11/25 06:11
v/39763/
Jakarta: Di tengah meningkatnya kebutuhan solusi lingkungan dan energi yang berkelanjutan, indonesia membutuhkan wirausahawan muda yang fokus kepada pelestarian lingkungan.Data resmi menunjukkan pada Februari 2024 terdapat sekitar 56,56 juta orang yang berwirausaha di Indonesia, setara dengan 37,86% dari total angkatan kerja (149,38 juta). Namun, sebagian besar masuk kategori wirausaha pemula.
Sisi lain rasio wirausaha formal/baru yang sering dipakai untuk membandingkan tingkat kewirausahaan antarnegara tercatat jauh lebih kecil, di kisaran 3,3–3,5% menurut Kementerian Koperasi/UKM.
Studi perencanaan menunjukkan transisi hijau dapat mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan penciptaan juta-an pekerjaan ramah lingkungan dengan proyeksi 1,8 juta pekerjaan hijau sampai 2030. Itu membuka peluang besar untuk bisnis green jobs, pelatihan, dan layanan pendukung.
Gelaran “Maju:ON Hackathon 2025” merupakan inisiatif kewirausahaan muda yang berfokus pada isu lingkungan dan energi. Dengan menggandeng SK Innovation E&S serta bekerja sama dengan delapan universitas utama seperti UI, UGM, Telkom University, hingga Primakara University, program ini membangun jalur sistematis mulai dari pelatihan, mentoring, hackathon, hingga koneksi investasi.
Dan dari ratusan peserta yang hadir, satu pesan besar terasa: masa depan wirausaha lingkungan di Indonesia ada di tangan para pemuda.
Dalam pembukaan acara, Direktur Perencanaan Kementerian ESDM Hariyanto menekankan pentingnya partisipasi generasi muda dalam mencari ide-ide segar demi menjawab tantangan sektor energi dan lingkungan yang semakin kompleks.
CEO UD Impact, Kim Jeongheon, mengatakan hackathon ini bukan hanya ajang kompetisi, melainkan “ruang belajar yang nyata” bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan bisnis dan berpikir solusi.
“Wadah pembelajaran yang nyata bagi para pemuda Indonesia untuk mengasah kemampuan kewirausahaan mereka dalam memecahkan masalah di pasar sesungguhnya.”tegas dia.
Ia menegaskan komitmen UD Impact untuk memperluas program melalui akselerasi dan koneksi investasi, agar lebih banyak inovasi lingkungan dari Indonesia bisa berkembang, bahkan menembus pasar global.
Krisis iklim, tantangan energi bersih, dan masalah sampah membutuhkan solusi baru dan itu tidak bisa menunggu. Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya kritis, tetapi berani menciptakan bisnis yang berdampak.
Dengan dukungan terus-menerus dari UD Impact, SK Innovation E&S, dan kampus-kampus besar Indonesia, proyek ini menjadi fondasi penting dalam membentuk ekosistem wirausaha hijau. Tujuannya menemukan startup inovatif di bidang lingkungan dan energi, sekaligus membangun ekosistem ESG yang memberikan dampak sosial positif.
Solusi lapangan
Para peserta membuktikan kreativitas dan kepedulian lingkungan bukan lagi sebatas wacana. Ide yang mereka bawa mencakup topik strategis seperti energi terbarukan, manajemen limbah, hingga solusi berbasis kecerdasan buatan.Lebih dari 100 wirausahawan muda baik mahasiswa maupun founder startup tahap awal berkompetisi intensif selama dua hari, menghadirkan solusi yang tak hanya inovatif, tapi juga berpotensi memberikan dampak nyata.
Penilaian dilakukan oleh perwakilan SK Innovation E&S, ANGIN, serta CEO startup lokal di bidang lingkungan dan energi. Mereka menilai bukan sekadar “ide bagus”, tetapi solusi yang bisa diterapkan di dunia nyata dan mampu membawa perubahan sosial.
Hasilnya, dua tim menunjukkan kekuatan visi dan eksekusi yakni Student Track Winner Mycomarine (UGM) Kemasan ramah lingkungan berbahan miselium jamur, solusi yang menjawab isu plastik sekali pakai.
Kemudian Early-Stage Entrepreneur Track Winner GISACT sebagai Platform geospasial berbasis AI yang membantu pemetaan dan pengelolaan lingkungan. Keduanya menegaskan bahwa anak muda Indonesia mampu menggabungkan sains, teknologi, dan semangat kewirausahaan untuk menciptakan dampak.
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(SAW)
Garap Bisnis Hijau, TBS Energi (TOBA) Siapkan Capex US$600 Juta
TBS Energi Utama (TOBA) alokasikan capex US$600 juta untuk transisi ke energi hijau dan kendaraan listrik, seiring penutupan bisnis batu bara hingga 2030. [631] url asal
#tbs-energi #bisnis-hijau #capex-us-600-juta #energi-terbarukan #kendaraan-listrik #pengolahan-limbah #transformasi-bisnis #roadmap-tbs-2030 #transisi-energi #keberlanjutan-perusahaan #investasi-hijau
(Bisnis.Com - Market) 12/11/25 21:15
v/36849/
Bisnis.com, JAKARTA – PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) hingga US$ 600 juta untuk 5 tahun ke depan. Penyerapan belanja modal akan disesuaikan dengan kebutuhan, baik untuk mengejar pertumbuhan bisnis secara organik maupun anorganik.
Capex jumbo TOBA itu sejalan dengan ekspansi perseroan yang menyasar bisnis pengolahan limbah ke sejumlah negara tetangga. Di saat bersamaan, manajemen juga tengah menuntaskan sejumlah proyek energi terbarukan dan mengembangkan ekosistem bisnis kendaraan listrik.
Juli Oktarina, Direktur TBS Energi Utama mengatakan bahwa bisnis batu bara perseroan akan segera memasuki tahap penutupan secara bertahap.
“Bisnis TBS di batu bara masih berjalan, tapi cadangannya akan habis dalam 1–2 tahun ke depan. Karena itu, kami sudah menyiapkan fase transisinya, termasuk penutupan tambang dan proses reklamasi sesuai peraturan yang berlaku,” ujarnya di Jakarta, Rabu (12/11/2026).
Menurut Juli, langkah ini bukan hanya soal perubahan portofolio bisnis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab lingkungan dan sosial perusahaan.
“Kami memastikan seluruh proses transisi dilakukan secara bertanggung jawab, baik dari sisi lingkungan hidup, tenaga kerja, maupun keberlanjutan ekonomi daerah sekitar tambang,” tegasnya.
Langkah transformasi itu merupakan bagian dari roadmap TBS 2030, yang menargetkan transisi menyeluruh dari bisnis berbasis batu bara menuju energi baru terbarukan (EBT).
TBS Energi Utama kini fokus mengembangkan tiga pilar bisnis utama di luar batu bara yakni manajemen limbah (waste management), energi baru dan terbarukan (new energy), serta kendaraan listrik (electric vehicles/EV).
Juli menambahkan hingga 2030 TBS Energi Utama akan mengalokasikan sekitar US$600 juta untuk mendanai proyek-proyek hijau yang masuk dalam tiga lini bisnis utama tersebut. Pendanaan ini akan berasal dari berbagai sumber, termasuk kombinasi dana internal, pembiayaan eksternal, serta potensi kerja sama strategis dengan mitra global.
Transformasi juga diwujudkan melalui peluncuran logo baru TBS yang menandai era baru perusahaan. Presiden Direktur & CEO TBS Energi Utama, Dicky Yordan, menjelaskan bahwa pergantian identitas visual bukan sekadar penyegaran tampilan, melainkan refleksi dari arah strategis perusahaan menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.
“Transformasi ini bukan sekadar pergantian logo, tetapi representasi dari perjalanan panjang TBS untuk menjadi perusahaan yang fokus pada keberlanjutan. Kami ingin memperkuat sinergi lintas unit bisnis dan menghadirkan solusi hijau yang memberi nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat,” ujar Dicky.
Logo baru TBS mengusung elemen visual berbentuk angka “8” yang melambangkan kesinambungan dan kemakmuran. Motifnya terinspirasi dari tenun ikat khas Indonesia, seperti dari Toraja dan Flores, yang mencerminkan warisan budaya lokal dan semangat keberlanjutan.
Warna hijau mendominasi logo sebagai simbol energi bersih, inovasi, dan harmoni dengan alam.
“Bentuk infinity ini menggambarkan keberlanjutan dan keseimbangan. Sementara motif tenun menjadi simbol kolaborasi, kreativitas, dan akar budaya Indonesia yang kami bawa dalam perjalanan menuju energi hijau,” ujar Juli.
Transformasi TBS Energi Utama berlandaskan dua prinsip utama yakni for good dan for growth. Prinsip for good bermakna bahwa seluruh lini bisnis baru yang dikembangkan harus memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, sementara for growth menegaskan komitmen perusahaan untuk tetap tumbuh melalui inovasi dan diversifikasi usaha.
“Dua prinsip ini berjalan berdampingan. Kami ingin bisnis yang tumbuh sehat, tetapi juga berdampak positif bagi banyak pihak,” ujar Juli.
Untuk mendukung transformasi, TBS memperkuat peran TBS Foundation, yang menjadi pilar sosial perusahaan.
Anugraha Dezmercoledi, Executive Director TBS Foundation menjelaskan bahwa yayasan ini menjadi wadah tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan fokus pada tiga bidang utama yakni pendidikan berkualitas (quality education), kepemimpinan dan kebijakan industri berkelanjutan (top leadership & policy), serta pemberdayaan sosial (impact and equity).
“Melalui pilar pendidikan, kami ingin menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi industri hijau masa depan, terutama lewat pendidikan vokasi. Kami juga mendorong riset dan kebijakan publik yang mendukung transisi energi serta menciptakan akses pendanaan bagi bisnis sosial yang berorientasi keberlanjutan,” jelasnya.
---------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rapor Kinerja TOBA, INDY dan ADRO setelah Tinggalkan Batu Bara, Bisnis Hijau Tumbuh?
Pendapatan ADRO, INDY, dan TOBA kompak turun seiring dengan lesunya bisnis batu bara dan upaya diversifikasi bisnis emiten-emiten tersebut. [1,346] url asal
#batu-bara #bisnis-hijau #emiten-batu-bara #adro-kinerja #indy-kinerja #toba-kinerja #transisi-energi #bisnis-nonbatu-bara #pendapatan-adro #pendapatan-indy #pendapatan-toba #energi-terbarukan #pengelo
(Bisnis.Com - Terbaru) 06/11/25 11:00
v/29444/
Bisnis.com, JAKARTA — Upaya sejumlah emiten untuk mengurangi eksposur bisnis batu bara berlanjut. Hal ini tecermin dari berkurangnya kontribusi emas hitam dalam kinerja keuangan korporasi besar seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Indika Energi Tbk. (INDY) dan PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) sampai pengujung September 2025.
Berdasarkan laporan keuangan per akhir kuartal III/2025 yang dihimpun Bisnis, ketiga emiten ini kompak membukukan penurunan pendapatan. Turunnya kinerja tak lepas dari tren harga jual rata-rata batu bara yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu, selain karena porsinya pada keseluruhan bisnis yang berkurang.
Makin lemahnya magnet tambang batu bara bagi emiten sejalan dengan janji Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Setahun lalu dalam KTT G20 di Brasil, Prabowo berjanji akan memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam jangka 15 tahun, sekaligus mencapai target netral karbon pada 2060.
Lantas bagaimana perkembangan kinerja emiten-emiten ini sepanjang periode sembilan bulan 2025?
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO)
Emiten yang dahulu bernama PT Adaro Energy Indonesia Tbk. tersebut resmi mengalihkan fokus dari emas hitam dengan memisahkan atau spin-off lini bisnis batu bara termal ke PT Adaro Andalan Indonesia (AADI).
ADRO pun menyatakan tengah mengupayakan ekspansi strategis dan diversifikasi di segmen nonpertambangan batu bara. Hal ini bertujuan untuk menciptakan portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target untuk menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari nonbatu bara termal paling lambat pada 2030.
Buntut dari langkah ini adalah pendapatan dan laba bersih yang tergerus selama periode Januari–September 2025 dibandingkan dengan kurun yang sama tahun sebelumnya.
ADRO tercatat membukukan laba bersih US$301,5 juta atau setara dengan Rp5,03 triliun (kurs Jisdor BI 30 September 2025 Rp16.692 per dolar AS) sampai akhir September 2025. Laba bersih ini mencerminkan koreksi sebesar 74,5% secara tahunan, dari US$1,18 miliar pada Januari–September 2024.
Dalam laporan keuangannya, manajemen ADRO menjelaskan bahwa penurunan laba bersih disebabkan oleh penjualan bisnis batu bara termal PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) melalui penawaran umum pemegang saham (PUPS). ADRO masih mengkonsolidasikan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lainnya dari AADI sampai akhir September tahun lalu.
Dari sisi pendapatan, ADRO mengantongi pemasukan sebesar US$1,34 miliar sepanjang Januari–September 2025. Angka tersebut merefleksikan koreksi sebesar 12,97% secara tahunan dibandingkan dengan US$1,54 miliar yang diperoleh pada periode yang sama pada 2024.
Pendapatan ini dikontribusi oleh penjualan hasil tambang domestik ke pihak ketiga sebesar US$223,4 juta, dan penjualan ekspor hasil tambang ke pihak ketiga senilai US$127,7 juta.
Berdasarkan segmennya, segmen pertambangan dan jasa pertambangan masih mendominasi sumber pemasukan ADRO, masing-masing dengan nilai US$672,03 juta dan US$742,53 juta. Sementara itu, segmen lain-lain hanya berkontribusi sebesar US$33,72 juta, atau turun daripada Januari–September 2024 yang mencapai US$63,49 juta.
PT Indika Energi Tbk. (INDY)
Sebagaimana ADRO, Indika turut melaporkan penyusutan pundi-pundi pendapatan dan laba selama Januari–September 2025.
INDY membukukan penurunan pendapatan hingga 19,1% year-on-year (YoY) dari sebelumnya US$1,78 miliar, menjadi US$1,44 miliar per September 2025.
Sebagian besar pendapatan ini disumbang oleh Kideco, dengan nilai US$1,15 miliar. Sementara itu, lini bisnis INDY lainnya yaitu Indika Resources mencetak pendapatan sebesar US$47,2 juta, Tripatra sebesar US$176,2 juta, Interport sebesar US$93,1 juta, dan pendapatan lain-lain sebesar US$59,5 juta.
Adapun, turunnya pendapatan ini menurut manajemen INDY disebabkan terutama oleh penurunan kontribusi dari Kideco karena penurunan harga jual rata-rata dan dari Indika Resources karena penurunan volume perdagangan.
INDY menjelaskan untuk Kideco, dari sisi tujuan pasar, pada 9 bulan 2025 Kideco menjual 9,6 juta ton batu bara atau 43% dari total volume penjualan ke pasar domestik, dan 12,6 juta ton atau 57% ke pasar ekspor. Harga jual rata-rata (average selling price) batu bara turun 14,7% secara tahunan.
Sementara itu, manajemen INDY menjelaskan pendapatan Indika Resources jeblok 66,0% YoY menjadi US$47,2 juta pada 9 bulan 2025. Pendapatan dari perdagangan batu bara merosot dari US$138,9 juta dengan volume 2,7 juta ton pada 9 bulan 2024 menjadi US$28,7 juta dengan volume 500.000 ton pada 9 bulan 2025, disebabkan oleh melemahnya permintaan di pasar ekspor.
Jika ditilik berdasarkan segmennya, bisnis sumber daya energi dan jasa energi masih menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi INDY, masing-masing dengan nilai US$1,18 miliar dan US$165,48 juta. Meski demikian, segmen bisnis hijau INDY tercatat tumbuh 5,99% YoY, dari US$38,03 juta pada Januari–September 2024 menjadi US$40,31 juta per September 2025.
Belum lama ini, INDY melalui anak usahanya juga merampungkan akuisisi proyek sewa daya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang memasok ke PT PLN Indonesia Geothermal senilai Rp31 miliar.
Adi Pramono, Sekretaris Perusahaan INDY, menyampaikan transaksi itu dilakukan oleh anak usaha perseroan PT Indika Empat Mitra Surya (IEMS) sebagai pihak pembeli dan PT Tripatra Multi Energi (TIME) sebagai pihak penjual.
Adapun, pembelian itu bernilai Rp31 miliar dengan IEMS dan TIME telah memenuhi syarat penyelesaian yang ditetapkan dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) pada 30 Oktober 2025.
PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA)
Bisnis pengelolaan sampah menjadi penopang kinerja PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) hingga pengujung kuartal III/2025, bahkan ketika perseroan membukukan kerugian. Segmen ini tercatat melesat di atas 1.000% dalam kurun Januari–September 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan Laporan Keuangan periode Januari–September 2025, TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$127,38 juta, berbalik dari laba bersih sebesar US$34,84 juta pada periode yang sama pada 2024.
Kinerja negatif bottom line ini merefleksikan performa total pendapatan TOBA yang sepanjang Januari–September 2025 susut 14,40% YoY dari US$336,65 juta menjadi US$288,17 juta.
Namun, pendapatan TOBA dari segmen waste management atau pengelolaan limbah melejit 1.047%, dari US$9,75 juta per September 2024 menjadi US$111,92 juta pada akhir kuartal III/2025. Kontribusi lini bisnis ini terhadap total pendapatan juga melesat dari hanya 2,89% menjadi 38,84%.
Sebaliknya, pendapatan dari segmen penjualan batu bara per September 2025 susut 44,43% YoY dari US$271,04 juta menjadi US$150,62 juta. Kontribusi segmen penjualan batu bara terhadap total pendapatan juga turun dari 80,51% pada akhir kuartal III/2024 menjadi 52,26% tahun ini.
Data-data keuangan tersebut menjadi pertanda bahwa transisi emiten batu bara ini ke bisnis hijau berada di jalur yang tepat. Apalagi, perseroan menargetkan bisnis batu bara sepenuhnya ditinggalkan pada 2030, atau bisa lebih cepat dari itu.
"Jadi pure waste [pendapatan didominasi dari manajemen limbah], dalam dua tahun ke depan itu mulai sudah tidak ada elemen batu baranya," ujar SVP Corporate Finance and Investor Relations TOBA Mirza Rinaldy Hippy dalam paparan kinerja kuartal III/2025, di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Mirza menjelaskan inisiasi bisnis pengelolaan limbah TBS Energi telah dimulai sejak 2018 dan menunjukkan hasil kinerja yang nyata sejak perseroan melakukan ekspansi bisnis ke pasar Asia Tenggara pada 2023 dengan mengakuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES), disusul CORA Environment pada 2025.
CORA Environment sebelumnya bernama SembWaste dan Sembcorp Environment, yang diakuisisi TOBA pada awal tahun ini. Sembcorp Environment Pte Ltd merupakan perusahaan regional Asia Tenggara berbasis di Singapura yang fokus pada bisnis ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah.
Untuk mempersiapkan CORA Environment menjadi salah satu motor bisnis utama pengganti batu bara, telah disiapkan investasi lebih dari 200 juta dolar Singapura (SGD) atau sekitar Rp2,56 triliun (kurs Rp12.821 per SGD) dalam lima tahun mendatang. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat jaringan pengelolaan limbah, termasuk pembangunan infrastruktur daur ulang (recycling) yang ditargetkan rampung pada 2026.
Saat ini, CORA memiliki 700 karyawan dan 300 armada operasional, menjalankan layanan pengumpulan, daur ulang, insinerasi, serta pemulihan sumber daya berbasis digital untuk meningkatkan efisiensi dan kepatuhan lingkungan.
"Saat ini, TBS sedang menjajaki peluang investasi dan akuisisi bisnis hijau di pasar regional, seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand," katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56