#30 tag 24jam
Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2026, Ada 11 Orang dari Indonesia
Forbes 30 Under 30 Asia 2026 menampilkan 11 talenta muda Indonesia yang berprestasi di berbagai bidang, termasuk musik, teknologi, dan bisnis. [1,285] url asal
#forbes-30-under-30 #forbes-asia-2026 #talenta-muda-asia #kecerdasan-buatan #perusahaan-rintisan #joyin-technology #robot-pendamping #startup-indonesia #tiara-andini #santi-tan #se-039-indonesia #daur
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 03/06/26 17:27
v/239000/
Bisnis.com, JAKARTA - Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2026 menyoroti talenta muda paling cemerlang di seluruh kawasan.
Para penerima penghargaan tahun ini mendorong batasan di bidang masing-masing pada saat kecerdasan buatan (AI) dengan cepat menjadi bagian integral dari pekerjaan dan hiburan.
Menampilkan beragam talenta, jajaran ini mencakup para pebisnis muda di balik perusahaan rintisan baru, seperti JoyIn Technology, pembuat robot pendamping asal Tiongkok untuk lansia dan anak-anak, yang berencana untuk berekspansi ke luar negeri.
Didirikan pada tahun 2024 oleh Guo Renjie, perusahaan rintisan ini telah meluncurkan empat robot humanoid, termasuk Zeroth M1 setinggi 50 cm, yang diresmikan pada bulan Januari.
Guo mengatakan bahwa hingga April, perusahaan telah menerima hampir 20.000 pra-pemesanan untuk model M1, yang mampu mengukur ekspresi wajah dan memulai percakapan jika seseorang tampak kesepian, serta dapat membacakan buku untuk anak-anak.
JoyIn dinilai sebesar $351 juta pada bulan Oktober dan telah mengumpulkan lebih dari US$70 juta dalam tiga putaran pendanaan. Ini adalah salah satu dari tujuh perusahaan rintisan robotika Tiongkok yang para pendirinya masuk dalam daftar tersebut, yang menggarisbawahi sektor robotika negara yang sedang berkembang pesat.
Dari Indonesia setidaknya ada enam orang yang dianggap bertalenta dan masuk daftar tersebut.
Berikut daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2026 dari Indonesia
1. Tiara Andini
Setelah meraih juara kedua di Indonesian Idol 2020, Tiara Andini merilis single pertamanya, 'Gemintang Hatiku'. Di tahun yang sama, ia memenangkan penghargaan Pendatang Baru Terbaik di Anugerah Musik Indonesia dan Artis Asia Baru Terbaik (Indonesia) di Mnet Asian Music Awards. Album debutnya yang berjudul sama, dirilis pada tahun 2021, memenangkan Album Terbaik Tahun Ini di Indonesian Music Awards 2022. Andini, yang memiliki sekitar 7 juta pendengar bulanan di Spotify, juga memenangkan penghargaan Artis Media Sosial Terbaik Tahun Ini di Indonesian Music Awards 2025.
2. Santi Tan
Santi Tan adalah pendiri Saff & Co., merek parfum yang berbasis di Jakarta yang diluncurkan pada tahun 2020. Melihat bahwa pasar parfum Indonesia sebagian besar didominasi oleh merek internasional, Tan bertekad untuk membangun alternatif lokal. Saff & Co. memulai dengan menjual produknya secara online melalui saluran e-commerce seperti Shopee, kemudian berekspansi ke toko offline dan pengecer kecantikan di kota-kota besar Indonesia. Merek ini juga telah memperluas lini produknya di luar parfum hingga mencakup wewangian ruangan dan tekstil.
3. Se'Indonesia
Didirikan bersama oleh Rinaldi Dharma Utama dan Christian Wilfandio, Se'Indonesia adalah jaringan makanan cepat saji yang mengkhususkan diri dalam se'i, hidangan daging asap tradisional dari Indonesia bagian timur, dengan harga terjangkau.
Utama, yang menghabiskan tiga tahun di Kopi Kenangan, dan Wilfandio meluncurkan dapur awan pertama mereka, Lakuliner, pada tahun 2021 kemudian berganti nama menjadi Se'Indonesia setahun kemudian, menawarkan nasi mangkuk daging sapi dan ayam mulai dari hanya 25.000 rupiah ($1,50).
Se'Indonesia beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, memanfaatkan dapur terpusat dan kehadiran digital yang kuat untuk menyediakan layanan pengiriman yang selalu aktif. Perusahaan ini sekarang mengoperasikan lebih dari 200 gerai pengiriman dan bawa pulang serta 23 restoran makan di tempat di seluruh Indonesia. Pada April 2025, Se'Indonesia mengumpulkan pendanaan Seri A sebesar $9,7 juta yang dipimpin oleh Insignia Ventures.
4. Farrel Alvian Purnama
Farrel Alvian Purnama ikut mendirikan perusahaan daur ulang limbah elektronik Daur Material Indonesia, yang dikenal sebagai Remind, pada tahun 2020 bersama Muhammad Dzikri Ahira Soefihara (lebih dari 30).
Berbasis di Banten, Indonesia, Remind mengekstrak tembaga dan logam lainnya dari papan sirkuit, kabel, dan komponen bekas lainnya untuk digunakan kembali. Pada Mei 2025, Remind mengumpulkan dana sebesar $1,3 juta dalam putaran pendanaan yang dipimpin oleh Bali Investment Club dan BEENEXT, dengan partisipasi Spiral Ventures.
5. Arif Rachmat
Sebagai ketua eksekutif Triputra Agro Persada (TAP) Group, Arif Rachmat mengawasi salah satu produsen minyak sawit terbesar di Indonesia. Ia juga merupakan direktur dewan di konglomerat Indonesia Triputra Group, yang memiliki bisnis di industri karet dan logistik, antara lain. Sebelumnya, Rachmat bekerja di perusahaan industri raksasa General Electric dalam berbagai peran kepemimpinan.
6. Erika Richardo
Untuk menandai peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada Agustus 2025, maskapai penerbangan milik negara Garuda Indonesia menugaskan seniman dan influencer lokal Erika Richardo untuk melukis mural di pesawat Boeing 737.
Richardo, yang mengatakan butuh berbulan-bulan untuk meyakinkan maskapai tersebut, menghasilkan karya yang dipadukan dengan elemen batik yang menggambarkan 16 kelompok etnis dari seluruh kepulauan. Video yang mendokumentasikan proses tersebut menjadi viral, mendapatkan ribuan penonton di media sosial.
Menggunakan seni sebagai sarana bercerita dan menciptakan dampak sosial telah membuat Richardo memiliki lebih dari 18 juta pengikut di TikTok. Dia adalah salah satu kreator terkemuka Indonesia di platform tersebut, memenangkan penghargaan selama tiga tahun berturut-turut, dimulai pada tahun 2022. Dia menjadi sensasi online pada tahun 2021 setelah melukis Porsche milik seorang temannya dengan motif barong Bali, makhluk mitos mirip singa.
7. Brigitta Gunawan
Brigitta Gunawan adalah seorang advokat kelautan di balik 30x30 Indonesia, sebuah kampanye yang meningkatkan kesadaran akan ekosistem laut negara ini, dan Diverseas, sebuah program pendidikan yang mengajarkan siswa tentang kehidupan laut melalui lokakarya dan realitas virtual.
Dinamakan sesuai dengan tujuan PBB untuk melindungi 30% lautan dunia pada tahun 2030, 30x30 Indonesia menyediakan sumber daya tentang ilmu dan kebijakan lingkungan, serta peluang bagi generasi muda Indonesia. National Geographic Society dan The Nature Conservancy telah menyediakan dana untuk mendirikan 30x30 Coral Garden, sebuah lokasi restorasi terumbu karang lokal di Tulamben, Bali.
Brigitta Gunawan memegang gelar Sarjana Sains (B.Sc.) di bidang Ekologi dan Biologi Konservasi dari Universitas Monash.
8. Nisrina Firyal Fadhlannisa
Nisrina Firyal Fadhlannisa adalah seorang manajer investasi yang berbasis di Jakarta di Arsari Group milik taipan Indonesia Hashim Djojohadikusumo, yang memiliki investasi di bidang telekomunikasi, energi terbarukan, agroforestri, dan pertambangan.
Fadhlannisa bergabung dengan Arsari pada April 2026 setelah empat tahun di Vertex Ventures Asia Tenggara dan India milik Temasek, di mana ia mengerjakan putaran pendanaan awal (seed round) pengembang perangkat lunak manajemen buku besar Matchmade dan pendanaan tahap awal operator toko gaya hidup K-Life.
Fadhlannisa memulai karir modal venturanya di Venturra Capital, divisi VC dari Lippo Group Indonesia. Ia memperoleh gelar sarjana teknik elektro dari Universitas Indonesia.
9. Dharmadi Gusanto
Dharmadi Gusanto adalah wakil presiden di Alpha JWC Ventures, sebuah perusahaan modal ventura Indonesia yang telah mendukung startup unicorn seperti Carro dan Kopi Kenangan.
Dia fokus pada startup perangkat lunak di Asia Tenggara dan kesepakatannya termasuk ESB, penyedia perangkat lunak manajemen restoran di Indonesia dengan lebih dari 40.000 pedagang, dan Omni HR yang berbasis di Singapura, yang perangkat lunaknya membantu bisnis mengelola karyawan mereka di berbagai negara. Gusanto bergabung dengan Alpha JWC Ventures pada tahun 2020 sebagai analis dan dipromosikan menjadi wakil presiden pada tahun 2024. Sebelumnya, ia adalah investor di MDI Ventures, sebuah perusahaan VC yang didukung oleh Telkom Indonesia.
10. Athaya Kadzima
Berbasis di Jakarta, Athaya Kadzima adalah seorang associate senior di BNI Ventures, divisi modal ventura korporat dari Bank Negara Indonesia. Sebagai mantan penasihat risiko keuangan di Deloitte, Kadzima fokus pada startup Indonesia di bidang perangkat lunak perusahaan, iklim, dan infrastruktur digital.
Selain berinvestasi, Kadzima juga menjadi mentor di InnovateHer Academy, program dukungan startup oleh FWD Insurance, akselerator bisnis KUMPUL.ID, dan UN Women Indonesia untuk para pendiri perempuan. Sebelum bergabung dengan BNI Ventures pada tahun 2023, Kadzima adalah seorang associate di Indogen Capital, salah satu pendukung Carsome.
11. Larry Susanto
Larry Susanto adalah wakil presiden investasi di ACV Capital, sebuah perusahaan modal ventura yang berbasis di Jakarta dengan lebih dari 120 investasi di seluruh Asia Tenggara dan aset kelolaan lebih dari $550 juta.
Susanto memimpin inisiatif teknologi AI dan iklim, mengidentifikasi perusahaan-perusahaan dengan pertumbuhan tinggi yang menggabungkan dampak lingkungan dengan potensi komersial yang kuat, seperti perusahaan penyewaan panel surya Xurya, perusahaan rintisan konstruksi berkelanjutan BRIK, dan perusahaan e-commerce Astro.
Sebelum bergabung dengan ACV pada tahun 2024, Susanto, lulusan teknik kimia UC Berkeley, bekerja sebagai insinyur riset di perusahaan pembuat panel surya Plant PV, manajer produk di perusahaan e-commerce Bukalapak, dan konsultan di Bain & Company.
Ini yang Dicari Startup Digital dari Layanan Cloud
Startup digital kini mencari layanan cloud yang fleksibel, aman, dan efisien biaya untuk mendukung pertumbuhan bisnis dan inovasi cepat di era digital [385] url asal
#startup-digital #layanan-cloud #ekonomi-digital #perusahaan-rintisan #penyedia-cloud #infrastruktur-cloud #keamanan-data #cloud-native #oracle-cloud-infrastructure #beban-kerja-tinggi #artificial-inte
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/05/26 14:24
v/213064/
Bisnis.com, JAKARTA — Seiring meningkatnya kompetisi di ekonomi digital Indonesia, perusahaan rintisan dan platform digital tidak lagi hanya mencari penyedia cloud dengan kapasitas penyimpanan besar. Saat ini, tuntutan yang muncul adalah infrastruktur yang mampu mengikuti laju pertumbuhan bisnis mulai dari kemampuan menangani lonjakan trafik, menjaga ketersediaan layanan, hingga mengendalikan biaya operasional.
Persoalan ini bukan hal baru. Sejumlah pelaku industri digital mengakui bahwa pendekatan cloud konvensional sering kali menjadi penghambat ketika perusahaan harus meluncurkan fitur baru dengan cepat atau ketika pola permintaan berubah drastis dalam hitungan minggu. Belum lagi soal keamanan data yang menjadi aspek yang tidak bisa ditawar di tengah makin ketatnya regulasi perlindungan data pribadi.
Tren global menunjukkan bahwa perusahaan digital mulai beralih ke arsitektur cloud-native yang menawarkan ketangkasan dan ketahanan lebih tinggi. Pendekatan ini memungkinkan pembaruan layanan secara cepat, performa yang terukur, serta postur keamanan yang melekat sejak awal dan bukan ditempelkan belakangan.
Oracle Cloud Infrastructure (OCI) termasuk penyedia yang mengusung pendekatan ini. Platform tersebut dirancang untuk menangani beban kerja dengan throughput tinggi, seperti yang umum terjadi pada platform ride-hailing, e-commerce, maupun layanan finansial digital. Salah satu contoh penerapannya terlihat pada GetGo Technologies, layanan car-sharing terbesar di Singapura, yang mengembangkan akal imitasi (artificial intelligence) pada peladen (server)untuk menganalisis puluhan ribu foto kendaraan setiap hari guna mendeteksi kerusakan secara otomatis.
Potensi besar ekonomi digital Indonesia tidak luput dari perhatian para pemain global. Oracle, misalnya, meluncurkan region public cloud Indonesia pada 2025 untuk mendukung kedaulatan data lokal sebagai bagian dari ekspansi infrastrukturnya di Asia Tenggara.

“Oracle tidak hanya membawa teknologi dan investasi, tetapi juga membangun infrastruktur yang siap menjawab kebutuhan lokal, mulai dari keamanan data hingga ekosistem digital yang berkelanjutan,” ujar Rusly Askar, Country Managing Director Oracle untuk Indonesia.
Bagi pelaku industri digital domestik, kehadiran lebih banyak pilihan cloud kelas enterprise di dalam negeri tentu menjadi kabar baik. Persaingan antarpenyedia cloud pada akhirnya akan mendorong harga yang lebih kompetitif, layanan yang lebih dekat dengan kebutuhan lokal, serta percepatan adopsi teknologi seperti akal imitasi (artificial intelligence) dan analitik data yang selama ini menjadi pembeda daya saing.
Yang pasti, era di mana cloud hanya dilihat sebagai tempat menyimpan data sudah lewat. Kini, infrastruktur cloud menjadi pilar strategis yang menentukan seberapa cepat dan seberapa efisien sebuah perusahaan digital bisa tumbuh.
Explore how Oracle can power your business with AI, performance, and cost efficiency.
Pendanaan Startup RI Seret, CELIOS: Investor Global Lebih Percaya Singapura
Pendanaan startup Indonesia menurun karena investor global lebih percaya Singapura, yang memiliki ekosistem keuangan matang dan regulasi menguntungkan. [611] url asal
#startup-indonesia #pendanaan-startup #investor-global #perusahaan-rintisan #singapura-investasi #southeast-asia-startup #venture-capital #ekosistem-keuangan #perusahaan-digital #transaksi-startup #asi
(Bisnis.Com - Teknologi) 25/02/26 14:10
v/146951/
Bisnis.com, JAKARTA— Rendahnya pendanaan yang masuk ke startup Indonesia disinyalir karena kepercayaan investor global terhadap perusahaan rintisan di dalam negeri mengalami penurunan. Pemodal global lebih percaya menaruh dana mereka di perusahaan rintisan Singapura.
Pendanaan startup di Indonesia sepanjang 2025 tercatat mencapai US$340 juta atau sekitar Rp5,72 triliun dengan asumsi kurs Rp16.844 per dolar AS. Capaian tersebut berdasarkan laporan Southeast Asia Startup Funding Report 2025 yang dirilis DealStreetAsia.
Nilai pendanaan tersebut setara dengan 6,3% dari total investasi startup di Asia Tenggara pada periode yang sama. Angka tersebut masih tertinggal jauh dibandingkan Singapura yang mendominasi pendanaan startup di kawasan Asia Tenggara sepanjang 2025.
Singapura mencatat sebanyak 283 transaksi dengan total nilai pendanaan mencapai sekitar US$4,20 miliar atau setara Rp70,75 triliun.
Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan secara regional Singapura telah menjadi pusat keuangan di Asia Tenggara, di mana banyak perusahaan digital menempatkan kantor mereka di negara tersebut.
“Perusahaan-perusahaan bonafide misal Meta ataupun Google, memiliki kantor perwakilan Asia Tenggara dan menempatkannya di Singapura,” kata Huda saat dihubungi Bisnis pada Rabu (25/2/2026).
Selain itu, Huda menyebut perusahaan-perusahaan venture capital global juga memilih Singapura sebagai pusat bisnis mereka di Asia Tenggara. Oleh sebab itu, secara keuangan investor dinilai lebih percaya terhadap Singapura dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
Huda menambahkan arus investasi dari venture capital umumnya akan “mampir” terlebih dahulu ke Singapura sebelum masuk ke Indonesia, Malaysia, maupun negara Asia Tenggara lainnya.
Dia menambahkan salah satu faktor utama yang membuat investasi banyak mengalir ke Singapura adalah ekosistem keuangan yang telah matang, didukung oleh regulasi yang dinilai menguntungkan bagi venture capital maupun perusahaan digital. Bahkan, menurutnya, sejumlah perusahaan digital di Indonesia memiliki perusahaan gabungan yang ditempatkan di Singapura untuk mempermudah akses pendanaan.
“Ada beberapa aturan dan insentif di Singapura yang membuat pengembangan di sana jauh lebih maju,” katanya.
Secara tahunan, Huda mengatakan data dari dealroom.co menunjukkan adanya “rebound” investasi ke perusahaan digital di Indonesia jika dibandingkan dengan tahun 2024. Pada 2026, menurutnya, apabila tidak terjadi kejadian serius, kinerja investasi seharusnya dapat tumbuh lebih positif.
Meski demikian, dia menilai capaian tersebut masih cukup jauh apabila dibandingkan dengan periode puncak investasi pada 2021.
“Sektor keuangan seperti bank digital, BNPL, hingga pinjaman daring masih bisa menjadi penopang bagi ekosistem digital kita. Terutama bank digital dan BNPL yang memang sedang naik daun,” ungkapnya.
Sementara itu, laporan DealStreetAsia juga mencatat Malaysia menempati posisi berikutnya setelah Indonesia dengan 40 transaksi dan nilai pendanaan sekitar US$0,26 miliar atau setara Rp4,38 triliun. Vietnam menyusul dengan 36 transaksi senilai sekitar US$0,36 miliar atau sekitar Rp6,06 triliun.
Adapun Filipina membukukan 23 transaksi dengan nilai sekitar US$0,12 miliar atau setara Rp2,02 triliun. Thailand mencatat 10 transaksi senilai sekitar US$0,08 miliar atau sekitar Rp1,35 triliun, sementara Kamboja membukukan tiga transaksi dengan nilai sekitar US$0,02 miliar atau setara Rp336,9 miliar.
Dari sisi tahapan pendanaan, laporan tersebut mencatat pemulihan transaksi pada paruh kedua 2025 lebih banyak ditopang oleh pendanaan tahap lanjut (late-stage). Sebaliknya, volume transaksi tahap awal (early-stage) cenderung menurun secara bertahap sepanjang semester kedua.
Kondisi tersebut turut memengaruhi distribusi pendanaan di negara-negara dengan ekosistem startup yang masih bergantung pada pendanaan tahap awal, termasuk Indonesia.
Sepanjang 2025, Asia Tenggara juga melahirkan empat startup unicorn baru. Mayoritas perusahaan dengan valuasi di atas US$1 miliar tersebut berbasis di Singapura. Empat unicorn baru yang tercatat pada 2025 antara lain Ultragrn.ai, Synut, Thunes, dan Ashita Group, yang masing-masing bergerak di sektor teknologi hijau, enterprise technology, layanan pembayaran lintas negara, serta manufaktur dan perdagangan terintegrasi.
Sementara itu, tidak terdapat tambahan unicorn baru dari Indonesia sepanjang 2025.
Google hingga Microsoft, Ini 8 Perusahaan yang Sukses Cetak 54 Miliarder Dunia
Delapan perusahaan teknologi seperti Google dan Microsoft telah mencetak 54 miliarder, dengan Google/Alphabet memimpin dengan 10 miliarder. Perusahaan ini berutang kesuksesan pada pertumbuhan saham da [1,692] url asal
#google-miliarder #microsoft-miliarder #perusahaan-teknologi #app-lovin #meta-miliarder #nvidia-miliarder #perusahaan-rintisan #saham-perusahaan #pasar-saham #pendiri-google #pendiri-microsoft #pendiri
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 02/01/26 09:10
v/91051/
Bisnis.com, JAKARTA - Sebagian besar bisnis yang berhasil menjadi besar dikatakan cukup sukses ketika berhasil menjadikan salah satu pendirinya menjadi miliarder.
Bahkan ada beberapa yang menjadikan satu atau dua karyawan awal mereka sangat kaya.
Namun, ada juga beberapa perusahaan raksasa yang beruntung karena telah melahirkan banyak miliarder. Di antara 680 miliarder Amerika yang sukses membangun kekayaan sendiri, 54 di antaranya sebagian besar berutang kekayaan mereka kepada salah satu dari hanya delapan perusahaan.
Sebagian besar adalah perusahaan yang bergerak di bisnis teknologi konsumen. Beberapa perusahaan, seperti Anthropic dan perusahaan periklanan digital AppLovin, yang memiliki delapan miliarder, adalah perusahaan rintisan muda yang sahamnya telah meroket karena kegilaan investor terhadap AI selama setahun terakhir.
Dilansir Forbes, Anthropic memulai tahun 2025 dengan valuasi yang dilaporkan sebesar US$18 miliar. Pada September lalu, perusahaan mengumumkan putaran pendanaan US$13 miliar dengan valuasi US$183 miliar.
Sementara itu, saham perusahaan AppLovin juga naik lebih dari 1.000% sejak go public di Nasdaq pada tahun 2021, termasuk lonjakan 100% pada tahun 2025, menempatkan kapitalisasi pasar perusahaan hampir US$250 miliar.
Perusahaan-perusahaan besar lainnya adalah nama-nama yang sudah dikenal luas, seperti Meta, Google, dan Microsoft. Raksasa teknologi ini telah memperkaya para pendiri dan investor utama mereka selama beberapa dekade pertumbuhan harga saham.
Sekarang, dengan pasar saham AS yang mencapai rekor tertinggi, dan dengan perusahaan-perusahaan ini bertaruh besar pada AI, mereka sebagian besar memiliki lebih banyak miliarder, yang juga lebih kaya daripada sebelumnya.
Pendiri Microsoft, Bill Gates, telah lama menjadi miliarder, begitu pula seorang pengembang perangkat lunak awal, mantan CEO, dan, mulai tahun ini, CEO saat ini, Satya Nadella. Meta telah menjadikan Mark Zuckerberg dan para pendirinya, ditambah dua mantan eksekutif dan tiga investor awal, sebagai miliarder.
Selain itu, tidak ada perusahaan yang menghasilkan lebih banyak miliarder AS daripada Alphabet, perusahaan induk Google. Raksasa pencarian ini telah menciptakan 10 miliarder saat ini sejak didirikan pada tahun 1998, dengan total kekayaan lebih dari US$600 miliar, milik dua pendiri, seorang mantan CEO, seorang CEO saat ini, dan setengah lusin investor, termasuk seorang profesor Stanford yang memberikan cek US$100.000 di awal investasinya.
Penghasil miliarder utama lainnya termasuk perusahaan penyimpanan data cloud dan dua raksasa ekuitas swasta yang melakukan investasi besar di perusahaan rintisan AI dan pusat data.
Para miliarder ini telah membangun kekayaan mereka sejak lama, tetapi persahabatan baru di Washington tampaknya telah membantu banyak dari mereka meningkatkan kekayaan mereka secara drastis selama setahun terakhir.
Namun, sebuah perusahaan yang menjadi pabrik miliarder bukanlah jaminan untuk tetap menjadi pabrik miliarder.
Nvidia misalnya, yang jadi contoh utama dari booming AI. Perusahaan ini memenuhi syarat untuk peringkat perusahaan penghasil miliarder teratas ini pada Oktober lalu, ketika sempat mencapai puncak dengan kapitalisasi pasar US$5 triliun yang memecahkan rekor. Kala itu, Nvidia menciptakan dua miliarder baru dalam prosesnya.
Namun, sahamnya sejak itu telah turun 10%, cukup untuk menurunkan status tiga orang kembali ke status "seratus juta-an dolar" saja.
Berikut adalah delapan perusahaan AS yang telah menghasilkan miliarder mandiri terbanyak menurut Forbes per Desember 2025:
1. Google/Alphabet
• 10 miliarder
• Kekayaan bersih kolektif: US$618,2 miliar
Larry Page (kekayaan bersih: US$255 miliar) dan Sergey Brin (US$235 miliar) mendirikan Google pada tahun 1998, bekerja dari garasi mendiang teman mereka, Susan Wojcicki, di Menlo Park, California.
Setelah mendengar presentasi dari Page dan Brin di beranda depan rumah profesor Stanford University, David Cheriton (US$21,5 miliar), Cheriton dan salah satu pendiri Sun Microsystems, Andreas von Bechtolsheim (US$27,6 miliar), terkenal karena menulis cek senilai US$100.000 untuk perusahaan tersebut, menjadi investor malaikat pertama Google.
Tak lama kemudian, investor Kavitark Ram Shriram (US$3,7 miliar) menambahkan US$250.000. Kemudian, pada tahun 1999, perusahaan modal ventura Sequoia dan Kleiner Perkins membeli saham Google, yang akhirnya membantu menjadikan para VC John Doerr (US$20 miliar), Mark Stevens (US$10,8 miliar), dan Michael Moritz (US$7,7 miliar) sebagai miliarder.
Lalu ada para CEO, dari Eric Schmidt (US$35,4 miliar), yang direkrut dari Novell untuk menjabat sebagai kepala eksekutif kedua Google dari tahun 2001 hingga 2011, sampai Sundar Pichai (US$1,5 miliar), yang mengambil alih sebagai CEO pada tahun 2015.
2. Facebook/Meta
• 8 miliarder
• Kekayaan bersih kolektif: US$314 miliar
Pada tahun 2004, Mark Zuckerberg (US$227 miliar) mendirikan Facebook bersama beberapa teman sekamarnya, termasuk Eduardo Saverin (US$36,4 miliar) dan Dustin Moskovitz (US$11,3 miliar).
Ketika perusahaan tersebut baru berusia beberapa bulan, pendiri Napster dan anak ajaib teknologi Sean Parker (US$3 miliar) bertemu dengan Zuckerberg dan Saverin, yang menjadikannya presiden perusahaan pada usia 24 tahun.
Parker memiliki 4% saham perusahaan ketika IPO pada tahun 2012. Setelah menjual perusahaannya ke eBay, pendiri Paypal Peter Thiel (US$27,5 miliar) menjadi investor malaikat pertama Facebook pada tahun 2004, memberikan perusahaan tersebut US$500.000.
Jim Breyer (US$3,2 miliar) menyusul pada tahun 2005, ketika dia memimpin putaran pendanaan Seri A Accel Partners senilai US$12,7 juta dengan valuasi $98 juta. Pada waktu yang hampir bersamaan, Jeff Rothschild (US$3,2 miliar), mitra usaha lain di Accel, direkrut sebagai konsultan untuk membantu Facebook dalam mengembangkan bisnisnya. Dia kemudian menjadi wakil presiden infrastruktur perusahaan, dan mendapatkan banyak saham Facebook.
Ada pula Sheryl Sandberg (US$2,4 miliar) yang bergabung dengan jejaring sosial tersebut pada tahun 2008 setelah direkrut dari Google untuk menjabat sebagai kepala operasional.
3. AppLovin
• 8 miliarder
• Kekayaan bersih kolektif: US$76,6 miliar
Perusahaan periklanan digital AppLovin didirikan pada tahun 2012 oleh Adam Foroughi (US$26,5 miliar), Andrew Karam (US$10,5 miliar), dan John Krystynak (US$5 miliar).
Pada tahun yang sama, insinyur perangkat lunak Vasily Shikin (US$3,5 miliar) bergabung dengan perusahaan sebagai wakil presiden bidang teknik.
Pada tahun 2018, investor ekuitas swasta Herald Chen (US$2,6 miliar) memimpin KKR untuk berinvestasi US$400 juta di AppLovin. Chen bergabung dengan AppLovin setahun kemudian dan diberikan opsi saham yang berjumlah hampir 1% dari perusahaan.
Tak banyak yang diketahui tentang Hao Tang (US$9,8 miliar) dan Ling Tang (US$13 miliar). Satu yang jelas, mereka menjadi investor pra-IPO utama di AppLovin melalui perusahaan cangkang. Mereka masing-masing memiliki 4% dan 5%.
Kemudian ada Eduardo Vivas (US$5,7 miliar) juga berinvestasi sebelum AppLovin go public pada tahun 2021 dan saat ini memiliki sekitar 2%.
4. Anthropic
• 7 miliarder
• Kekayaan bersih kolektif: US$25,9 miliar
Sebagai perusahaan penghasil miliarder termuda, Anthropic didirikan oleh beberapa alumni OpenAI pada tahun 2021, yaitu kakak beradik Daniela Amodei (US$3,7 miliar) dan Dario Amodei (US$3,7 miliar), ditambah Tom Brown (US$3,7 miliar), Jack Clark (US$3,7 miliar), Jared Kaplan (US$3,7 miliar), Sam Mccandlish (US$3,7 miliar), dan Christopher Olah (US$3,7 miliar).
Perusahaan ini dengan cepat bergabung dalam perlombaan senjata AI, mengembangkan Claude, sebuah chatbot untuk menyaingi ChatGPT milik OpenAI dan Gemini milik Google.
Perusahaan ini mencapai valuasi lebih dari US$60 miliar pada awal tahun 2025, menempatkan ketujuh pendirinya ke dalam klub miliarder.
5. Blackstone
• 6 miliarder
• Kekayaan bersih kumulatif: US$68,5 miliar
Stephen Schwarzman (US$48,3 miliar) dan Peter Peterson (meninggal 2018) memulai Blackstone Group pada tahun 1985. Perusahaan ini dimulai sebagai firma yang memberikan nasihat kepada perusahaan tentang merger dan akuisisi.
Lalu Jonathan Gray (US$9,7 miliar) bergabung sebagai manajer aset setelah lulus kuliah pada tahun 1992 dan sekarang menjabat sebagai kepala operasional. J. Tomilson Hill (US$3,4 miliar) bergabung pada tahun 1993, setelah dipecat sebagai salah satu CEO Lehman Brothers.
Michael Chae (US$1,2 miliar) kemudian bergabung pada tahun 1997 dan menjalankan bisnis ekuitas swasta internasionalnya sebelum ditunjuk untuk mengawasi keuangan perusahaan.
Setelah mencoba beberapa perusahaan investasi lain, Joseph Baratta (US$1,2 miliar) bergabung dengan Blackstone pada tahun 1998 dan sekarang menjadi kepala ekuitas swasta global raksasa manajemen aset tersebut.
Sementara itu, Hamilton "Tony" James (US$4,8 miliar) direkrut dari Credit Suisse pada tahun 2002 untuk membantu Blackstone menjalankan bisnis ekuitas swasta dan manajemen asetnya yang berkembang pesat.
6. Microsoft
• 5 miliarder
• Kekayaan bersih kumulatif: US$290,5 miliar
Berharap untuk memanfaatkan penyebaran komputer pribadi, Bill Gates (US$104 miliar) keluar dari Harvard untuk mendirikan Microsoft bersama Paul Allen (meninggal 2018) pada tahun 1975.
Steve Ballmer (US$148 miliar) kemudian bergabung pada tahun 1980 sebagai karyawan No. 30 setelah keluar dari program MBA Stanford. Ballmer menjabat sebagai CEO Microsoft dari tahun 2000 hingga 2014.
Pengembang perangkat lunak Charles Simonyi (US$8,2 miliar) bergabung dengan Microsoft sebagai karyawan No. 40 pada tahun 1981 dan membantu mempelopori beberapa perangkat lunak paling ikonik, termasuk Word dan Excel.
Melinda French Gates (US$29,3 miliar) juga bergabung, dia memulai kariernya di Microsoft sebagai pengembang produk pada tahun 1987. Dia menikah dengan Bill Gates pada tahun 1994 dan pasangan tersebut bercerai pada tahun 2021.
Selanjutnya, Satya Nadella (US$1 miliar), yang mengambil alih posisi CEO ketika Ballmer pensiun, bergabung dengan perusahaan tersebut pada tahun 1992.
7. Snowflake
• 5 miliarder
• Kekayaan bersih kumulaitf: US$9,2 miliar
Arsitek Oracle Benoît Dageville (US$1,6 miliar) dan Thierry Cruanes (US$1,4 miliar) bekerja sama untuk mendirikan perusahaan layanan cloud Snowflake pada tahun 2012 dan melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada tahun 2020.
Sepanjang perjalanannya, perusahaan ini telah menjadikan tiga CEO berturut-turut sebagai miliarder. Mereka adalah Mike Speiser (US$1,5 miliar) adalah investor awal dan menjabat sebagai CEO pendiri dari tahun 2012 hingga 2014.
Kemudian Bob Muglia (US$1,3 miliar), bergabung pada tahun 2014 dan mengambil alih. Dia menyerahkan kendali kepada Frank Slootman (US$3,4 miliar) pada tahun 2019.
8. Thoma Bravo
• 5 miliarder
• Kekayaan bersih kumulatif: US$33,2 miliar
Carl Thoma (US$5,7 miliar) memulai perusahaan investasi Thoma Cressey pada tahun 1998 dan dengan cepat merekrut seorang dealmaker muda, Orlando Bravo (US$12,8 miliar), yang kemudian akan membangun strategi perangkat lunak perusahaan tersebut.
Duo ini berpisah dari Cressey pada tahun 2008 untuk membentuk perusahaan investasi mereka sendiri yang berfokus pada perangkat lunak, Thoma Bravo.
Mereka kemudian bergabung dengan alumni Summit Partners dan Hewlett-Packard, Scott Crabill (US$4,9 miliar) pada tahun 2002. Tiga tahun kemudian, Holden Spaht (US$4,9 miliar) dan Seth Boro (US$4,9 miliar) bergabung. Saat ini, kelimanya adalah mitra pengelola aset perusahaan (Asset Under Management/AUM) senilai US$181 miliar.
Deretan 8 Miliarder Baru yang Lahir dari AI sepanjang 2025
Forbes merilis 50 miliarder terbaru yang lahir dari AI, berikut 8 terkaya. [834] url asal
#ai-miliarder #miliarder-baru #ai-2025 #forbes-miliarder #ai-kekayaan #startup-ai #ai-perusahaan-rintisan #ai-pendiri #ai-valuasi #ai-pendapatan #ai-aplikasi #ai-investasi #ai-teknologi #ai-silicon-val
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 31/12/25 17:07
v/89918/
Bisnis.com, JAKARTA — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi topik pembicaraan besar pada 2025, terutama karena kemampuannya melahirkan puluhan miliarder baru, dalam dolar AS.
Tahun ini, AI menjadi generator kekayaan besar bagi para pengusaha yang membangun model, infrastruktur, dan aplikasi yang dengan cepat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, membantu menciptakan lebih dari 50 miliarder baru.
Tak hanya perusahaan besar yang memanfaatkan AI, tapi juga beberapa perusahaan rintisan berhasil menembus valuasi besar hingga bisa turut menambah jumlah miliarder dunia.
Forbes merilis daftar beberapa pendiri startup AI terkenal yang menjadi miliarder tahun ini, diurutkan dari yang terkaya hingga "termiskin".
Berikut daftar 8 miliarder yang menjadi orang terkaya berkat AI:
1. Edwin Chen
- Kekayaan bersih: US$18 miliar
- Sumber kekayaan: Surge AI
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Dalam waktu kurang dari lima tahun, Chen membangun perusahaan pelabelan data Surge AI, menjadi raksasa yang menghasilkan pendapatan US$1,2 miliar pada tahun 2024, tanpa dukungan modal ventura.
Dengan pelanggan seperti Google, Meta, Microsoft, dan lab AI Anthropic dan Mistral, perusahaan ini diperkirakan bernilai US$24 miliar berdasarkan pendapatannya saja.
Dengan perkiraan kepemilikan saham CEO Chen sebesar 75% di perusahaan tersebut diperkirakan bernilai US$18 miliar dan menjadikannya pendatang baru terkaya dalam daftar Forbes 400 tahun ini tentang orang Amerika terkaya. Pada usia 37 tahun, ia juga merupakan anggota termuda dalam daftar tersebut.
2. Bret Taylor dan Clay Bavor
- Kekayaan bersih: US$2,5 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Sierra
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Tokoh-tokoh terkemuka Silicon Valley, Taylor dan Bavor, menjadi miliarder pada bulan September ketika perusahaan rintisan mereka, Sierra, mengumpulkan dana sebesar US$350 juta dalam putaran pendanaan yang menilai perusahaan tersebut sebesar US$10 miliar.
Keduanya mendirikan perusahaan rintisan pada tahun 2023, yang menggantikan layanan pelanggan dengan agen AI untuk ratusan perusahaan besar, seperti The North Face dan produsen kendaraan listrik Rivian. Lebih dari setengah pelanggannya memiliki pendapatan di atas US$1 miliar, dan 20% di antaranya memiliki pendapatan lebih dari US$10 miliar, kata perusahaan tersebut.
Menurut perkiraan Forbes, Taylor dan Bavor masing-masing memiliki sekitar 25% saham perusahaan.
3. Brendan Foody, Adarsh Hiremath, dan Surya Midha
- Kekayaan bersih: US$2,2 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Mercor
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Pada Oktober 2025, Foody, Hiremath, dan Midha menjadi miliarder mandiri termuda sepanjang masa pada usia 22 tahun ketika perusahaan rintisan mereka, Mercor, mengumpulkan dana sebesar US$350 juta, yang memberi nilai perusahaan sebesar US$10 miliar.
Mereka mengalahkan Mark Zuckerberg, yang menjadi miliarder hampir dua dekade lalu pada usia 23 tahun.
Mercor didirikan oleh trio ini pada 2023, untuk membantu laboratorium AI terbesar di Silicon Valley seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta untuk melatih model mereka dengan merekrut para ahli dan PhD untuk mengevaluasi dan menyempurnakan data. Forbes memperkirakan setiap pendiri memiliki sekitar 22% saham di perusahaan tersebut.
4. Anton Osika dan Fabian Hedin
- Kekayaan bersih: US$1,6 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Lovable
- Kewarganegaraan: Swedia
Dua pendiri startup 'Vibe coding' Lovable menjadi miliarder pada Desember setelah mengumpulkan dana sebesar US$330 juta dengan valuasi US$6,6 miliar.
Perusahaan ini menjadi perusahaan perangkat lunak dengan pertumbuhan tercepat sepanjang masa, setelah mencapai pendapatan tahunan lebih dari US$100 juta hanya dalam delapan bulan dengan memungkinkan pengguna, bahkan mereka yang tidak memiliki pengalaman coding, untuk membuat situs web dan aplikasi hanya dengan perintah tertulis.
Forbes memperkirakan bahwa pendiri Osika dan Hedin masing-masing memiliki sekitar 24% saham di perusahaan tersebut.
6. Lucy Guo
- Kekayaan bersih: US$1,4 miliar
- Sumber kekayaan: Scale AI
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Guo yang berusia 31 tahun menggusur Taylor Swift sebagai miliarder wanita termuda di dunia yang sukses membangun kekayaannya sendiri ketika Meta membeli 49% saham di perusahaan pelabelan data Scale AI, yang dia dirikan bersama Alexandr Wang pada 2016.
Meskipun dia meninggalkan perusahaan dua tahun kemudian, tetapi dia tetap mempertahankan sahamnya, yang telah terdilusi menjadi sekitar 3%.
Ditambah dengan startup keduanya, Passes, sebuah aplikasi mirip Patreon untuk kreator konten, yang bernilai lebih dari US$150 juta, Forbes memperkirakan kekayaan bersihnya mencapai sekitar US$1,4 miliar.
7. Michael Truell, Aman Sanger, Sualeh Asif, dan Arvid Lunnemark
- Kekayaan bersih: US$1,3 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Cursor
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat, Pakistan, Swedia
Alat pengkodean AI Cursor mengumpulkan US$2,3 miliar pada November, yang memberi nilai perusahaan rintisan berusia tiga tahun ini sebesar US$29,3 miliar.
Perusahaan mengumumkan telah mencapai pendapatan tahunan lebih dari US$1 miliar dari pelanggan termasuk Nvidia, Adobe, Uber, Shopify, dan PayPal.
Forbes memperkirakan bahwa keempat pendiri masing-masing memegang 4% saham di perusahaan tersebut.
8. Mati Staniszewski dan Piotr Dabkowski
- Kekayaan bersih: US$1,1 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: ElevenLabs
- Kewarganegaraan: Polandia
Telah berhasil mengumpulkan total US$300 juta, ElevenLabs, yang menawarkan model AI yang menghasilkan suara seperti manusia, mencapai valuasi US$6,6 miliar pada Oktober, menjadikan para pendirinya miliarder.
Sebagai salah satu startup paling berharga di Eropa, perusahaan ini menghasilkan pendapatan hampir US$200 juta dalam 12 bulan terakhir.
Setengah dari pendapatan tersebut berasal dari perusahaan besar seperti Cisco dan Twilio, yang menggunakan alat ini untuk panggilan layanan pelanggan atau wawancara kerja. Setengah lainnya berasal dari YouTuber, podcaster, dan penulis, kata perusahaan tersebut.
Forbes memperkirakan bahwa setiap pendiri memiliki saham sebesar 17%.
Pemerintah Ingin Gig Economy Segera Naik Kelas Jadi Start Up agar Bisa Ajukan KUR
Pemerintah mendorong gig economy agar lekas menjadi startup dan kemudian bisa mengajukan diri untuk mendapatkan fasilitas KUR. [291] url asal
#gig-economy #start-up #pemerintah-dorong #work-from-anywhere #work-from-mall #jakarta-creative-hub #mentoring-gig-economy #kredit-usaha-rakyat #ekonomi-freelancing #perusahaan-rintisan #work-station
(Bisnis.Com - Ekonomi) 27/12/25 16:25
v/86076/
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah ingin mendoronggig economydi Indonesia untuk segera naik kelas dan menjadi perusahaan rintisan aliasstart up. Langkah pemerintah itu sejalan dengan paket stimulus ekonomi akhir tahun yakni dengan menyediakan fasilitas untuk work from anywhere(WFA).
Hal itu disampaikan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat meninjau kesiapan implementasi program Work From Mall untuk mendukung program BINA dan Indonesia Great Sale di Mal Pondok Indah, Jakarta, Jumat (27/12/2025).
Untuk diketahui, penyediaan tempat untukgig economymerupakan satu dari delapan program paket ekonomi 2025 yang diluncurkan September lalu. Airlangga menyebut pemerintah memanfaatkan tren WFA yang identik dengan anak muda guna mendukunggig economy. Proyek percontohannya berada di Jakarta.
Airlangga menyebut pemerintah pusat dan pemerintah provinsi Jakarta untuk menggunakan Jakarta Creative Hub di MH Thamrin. Adapun pemerintah pusat akan menyediakanmentoringuntuk proyekgig economydi Jakarta.
"Di managig economyitu anak muda disediakan meja, WiFi dan kopinya disediakan, mereka silahkan berkreasi selama satu tahun," terang Airlangga kepada wartawan, dikutip Sabtu (27/12/2025).
Setelah satu tahun, terang Airlangga, proyekgig economyyang nantinya berhasil menciptakan suatu produk bisa memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari pemerintah. Contohnya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang anggarannya disiapkan Rp10 triliun.
Harapannya, ekonomi berbasisfreelancingitu bisa menjadi usaha yang produktif dan masuk ke kategori perusahaan rintisan (startup). Airlangga berharap nantinya pusat perbelanjaan bisa ikut menyediakanwork stationserupa untuk mengembangkangig economytersebut.
"Bunganya 6% untuk menjadistartupyang kemudian berjalan. Nah itu bisa diadopsi di berbagai mal karena itu cocok denganlifestyleyang ada di mal," papar Menko Perekonomian sejak 2019 itu.
Sebagai informasi, melalui konsepwork from mall, pemerintah mendorong pemanfaatan pusat perbelanjaan sebagai ruang kerja alternatif yang mendukung perkembangan ekonomi digital dangig economy.
Program ini akan dikembangkan secara bertahap di sejumlah provinsi dengan dukungan pemerintah daerah serta perusahaan teknologi, memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia seperti konektivitas internet, sumber daya listrik, dan layanan penunjang lainnya.
Uni Eropa Longgarkan Target Kendaran Listrik pada 2035, Perusahaan Rintisan Gigit Jari
Komisi Uni Eropa lebih fleksibel terhadap kendaraan listrik dengan melonggarkan rencana ambisiusnya untuk melarang penjualan mobil berbahan bakan bensin. [301] url asal
#uni-eropa #kendaraan-listrik #kendaraan-berbahan-bakar-bensin #perusahaan-rintisan #perusahaan-otomotif #produsen-mobil
(IDX-Channel - Economics) 22/12/25 05:00
v/80639/
IDXChannel - Komisi Uni Eropa mengambil sikap lebih fleksibel terhadap kendaraan listrik dengan melonggarkan rencana ambisiusnya untuk melarang penjualan mobil berbahan bakar bensin pada 2035.
Alih-alih mewajibkan 100 persen mobil baru dengan kendaraan tanpa emisi pada tahun tersebut, rencana yang direvisi akan mengizinkan 10 persen penjualan mobil baru berupa kendaraan hibrida atau kendaraan lain selama produsen membeli kompensasi karbon untuk mengimbangi emisi.
Perubahan ini merupakan bagian dari ‘Paket Otomotif’ yang lebih luas yang dirancang untuk membantu industri mobil Eropa menjadi bersih dan kompetitif.
Jika Parlemen Eropa menyetujui perubahan ini, kemungkinan besar akan memuaskan produsen mobil tradisional Eropa yang telah meminta lebih banyak waktu untuk beralih dari kendaraan hibrida.
Perusahaan-perusahaan tersebut berjuang untuk bersaing dengan Tesla dan lonjakan kendaraan listrik (EV) terjangkau yang berasal dari China. Tetapi perubahan kebijakan itu telah menciptakan perpecahan di antara perusahaan rintisan kendaraan listrik dan investor mereka.
“China sudah mendominasi manufaktur kendaraan listrik,” kata mitra di World Fund, Craig Douglas. Word Fund meurpakan sebuah perusahaan modal ventura Eropa yang berfokus pada iklim.
“Jika Eropa tidak bersaing dengan sinyal kebijakan yang jelas dan ambisius, Eropa akan kehilangan kepemimpinan di industri penting global lainnya. dan semua manfaat ekonomi yang menyertainya,” sambung dia.
Douglas termasuk di antara orang yang menandatangani “Take Charge Europe”, sebuah surat terbuka kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen yang diterbitkan pada September.
Para eksekutif senior dari perusahaan termasuk Cabify, EDF, Einride, Iberdrola, dan sejumlah perusahaan rintisan terkait kendaraan listrik menandatangani surat tersebut, mendesak Komisi untuk tetap teguh pada target nol emisi 2035 yang semula.
Permohonan mereka tidak cukup untuk melawan tekanan dari industri otomotif tradisional, yang mewakili 6,1 persen dari total lapangan kerja Uni Eropa.
Tetapi tekanan yang berkelanjutan telah memicu perdebatan di dalam komunitas perusahaan rintisan tentang jalur terbaik bagi Eropa jika ingin tetap kompetitif selama transisi energi.
(Febrina Ratna Iskana)
Quorum 4.0 Hadirkan 300 Founder & CEO Bahas Masa Depan Ekonomi Indonesia
Quorum 4.0 menyoroti peran perusahaan emerging enterprise sebagai penggerak ekonomi [447] url asal
#perusahaan-rintisan #qverse #init-6-venture-capital #qourum #emerging-enterprise
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Qverse bersama Init-6 Venture Capital sukses menggelar forum diskusi tahunan Quorum 4.0 di Jakarta, dihadiri lebih dari 300 founders, CEO, dan eksekutif perusahaan rintisan dari berbagai sektor. Ajang ini menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku usaha untuk membaca arah ekonomi Indonesia di tengah momentum pertumbuhan industri, hilirisasi, dan digitalisasi.
Dalam penyelenggaraan tahun keempat ini, Quorum mengangkat tema “What’s Next For Indonesia: Positioning Emerging Enterprise in The Era of Industrial Growth.” Forum ini menyoroti peran perusahaan emerging enterprise sebagai motor penggerak ekonomi melalui peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, hingga inovasi yang berorientasi pada kualitas hidup masyarakat.
Tidak ada kode iklan yang tersedia.Pemerintah menilai dukungan terhadap pelaku usaha menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing nasional. Staf Ahli Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan, Arief Wibisono, yang hadir mewakili Menteri Keuangan, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus untuk mendukung iklim bisnis yang inklusif dan progresif.
“Kementerian Keuangan berkomitmen menciptakan ekosistem bisnis yang kondusif dan berfokus pada inovasi,” ujar Arief.
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh McKinsey melalui presentasi riset The Enterprising Archipelago: Propelling Indonesia’s Productivity. Riset tersebut menekankan bahwa peningkatan produktivitas nasional tak hanya bergantung pada financial capital, melainkan juga human capital, institutional capital, infrastructure capital, dan entrepreneurial capital. McKinsey menilai Indonesia perlu membangun organisasi adaptif dan talenta dengan keterampilan berpendapatan tinggi untuk bersaing di level global.
Pada sesi panel terakhir, forum menyoroti penguatan kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi pertumbuhan industri nasional. Para panelis menegaskan bahwa sinergi antara regulator, investor, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk memastikan percepatan produktivitas nasional berjalan inklusif dan berkelanjutan.
Managing Director Investment Danantara, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menilai Indonesia masih menjadi sorotan investor berkat potensi kelas menengah dan demografi usia produktif yang besar. Menurutnya, momentum tersebut harus dibarengi penguatan fundamental perusahaan.
“Founders harus memiliki bisnis solid, tata kelola transparan, dan kemampuan tumbuh berkelanjutan,” kata Stefanus.
Sementara itu, Ketua Komite Kajian Ekonomi Regional Kadin, Telisa Falianty, menekankan pentingnya konsistensi kebijakan dan kapasitas kelembagaan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. “Kolaborasi lintas lembaga serta investasi infrastruktur menjadi kunci mewujudkan pertumbuhan yang berdaya saing global,” katanya.
Dari perspektif pelaku usaha, Founder Brawijaya Healthcare Group, Amira Ganis, menyampaikan bahwa inovasi dan empati sosial merupakan fondasi bagi keberlanjutan perusahaan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan bisnis diukur dari dampaknya terhadap masyarakat.
“Bisnis tidak hanya tentang valuasi, tapi juga kualitas hidup masyarakat yang meningkat,” ucap Amira.
CEO Qverse, Gena Bijaksana, menutup acara dengan menegaskan pentingnya ekosistem usaha yang kolaboratif. “Pertumbuhan industri harus berjalan bersama kolaborasi dan inovasi yang menciptakan dampak ekonomi dan sosial,” kata Gena.
Founding Partner Init-6, Achmad Zaky, turut menegaskan optimisme serupa. “What’s next for Indonesia bukan hanya soal teknologi atau investasi, tetapi membangun ekosistem bisnis yang kuat dan tangguh,” ujarnya.
Ekosistem Startup ASEAN Mulai Pulih, Indonesia Diprediksi Pimpin Pemulihan
Dengan struktur yang kian matang dan tata kelola yang membaik, Indonesia dinilai siap menjadi motor utama kebangkitan sektor ini pada 2026. [536] url asal
#startup #perusahaan-rintisan #pendiri-startup #ekosistem-startup
(Kompas.com - Money) 24/10/25 19:21
v/14961/
JAKARTA, KOMPAS.com — Antler, perusahaan modal ventura global yang berfokus pada pendanaan tahap awal (early-stage), menilai ekosistem startup di Asia Tenggara mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah dua tahun masa koreksi.
Dengan struktur yang kian matang dan tata kelola yang membaik, Indonesia dinilai siap menjadi motor utama kebangkitan sektor ini pada 2026.
“Setelah periode rekalibrasi selama dua tahun, kami melihat fase pertumbuhan baru dengan fondasi yang lebih kuat,” ujar Jussi Salovaara, Co-Founder dan Managing Partner Antler Southeast Asia, dalam keterangan tertulis, Jumat (24/10/2025).
PIXABAY/GERD ALTMANN Ilustrasi startup, perusahan rintisan.Menurut Jussi, pemulihan tersebut terlihat dari ketahanan makroekonomi, standar tata kelola yang meningkat, serta kedisiplinan penggunaan modal di kalangan pendiri startup.
“Indikasi pemulihan masih awal, tetapi konsisten dan mengarah pada siklus yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.
Koreksi dan perbaikan tata kelola
Dalam 18 bulan terakhir, sektor investasi startup di kawasan Asia Tenggara menghadapi fase penataan yang disebut para pelaku sebagai periode “koreksi sehat”.
Beberapa kasus berprofil tinggi yang mencuat di sektor modal ventura mendorong munculnya penegakan hukum dan akuntabilitas di tingkat perusahaan rintisan.
“Ini fase koreksi yang tidak mudah, namun diperlukan,” ujar Agung Bezharie Hadinegoro, Partner Antler Indonesia.
“Kami melihat penegakan akuntabilitas mulai berjalan, dengan sejumlah proses hukum yang sedang berlangsung. Kepercayaan pasar berangsur terbentuk kembali," imbuh dia.
FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi startup, perusahan rintisan.Sebagai respons atas dinamika tersebut, lima asosiasi modal ventura di kawasan pada April 2025 meluncurkan Maturation Map.
Ini adalah kerangka tata kelola yang menekankan lima pilar, yakni Active Diligence, pemanfaatan teknologi, ekosistem penasihat, standar tinggi, dan penegakan kepatuhan.
Aktivitas exit meningkat, investor lebih selektif
Antler juga menyoroti data dari KPMG Venture Pulse Q3 2025 yang menunjukkan peningkatan aktivitas exit di Asia. Nilai IPO hingga akhir kuartal III tahun ini telah melampaui total nilai exit sepanjang 2024.
Salah satu penanda optimisme datang dari Airalo, startup penyedia layanan eSIM global yang kini berstatus unicorn dan merupakan portofolio awal Antler sejak 2018.
“Airalo memberi alasan untuk optimistis. Startup ini menjadi contoh bahwa founder hebat yang membidik pasar global sejak awal bisa membangun bisnis kelas dunia yang berkelanjutan," tutur Jussi.
Agung menambahkan, minat investor asing mulai berangsur kembali ke kawasan.
"Ketahanan makro, perbaikan tata kelola, dan generasi founder yang disiplin menjadikan Indonesia pasar yang patut diperhatikan pada 2026,” ujarnya.
Generasi founder baru: fokus operasional dan profitabilitas
Jussi menyebut generasi pendiri startup saat ini memiliki kualitas berbeda dibanding satu dekade sebelumnya.
“Founder yang kami temui kini dapat dikatakan sebagai angkatan founder terbaik dalam satu dekade terakhir,” ungkap dia.
Menurutnya, startup angkatan 2023 sampai 2025 menunjukkan unit economics yang sehat, traksi pendapatan awal, serta potensi ekspansi lintas negara.
Beberapa di antaranya bahkan berekspansi ke pasar global lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.
Antler mencontohkan startup portofolio asal Indonesia seperti SPUN, Gapai, dan Match Made yang mengadopsi model “born-global” sejak awal.
“Pendekatan ini menunjukkan founder tidak lagi mengejar valuasi semata, tetapi membangun pertumbuhan yang berkelanjutan dan dapat diskalakan,” papar Jussi.
Agung menambahkan, momentum pemulihan saat ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas ekosistem regional.
“Ini momentum Asia Tenggara untuk menjadi ekosistem yang kita idamkan, yakni ekosistem yang transparan, selektif, dan kompetitif secara global,” ujarnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
Kementerian Ekonomi Kreatif bantu pengembangan perusahaan rintisan
Kementerian Ekonomi Kreatif menjalankan program seperti Badan Ekraf for Startup (BEKUP) dan Badan Ekraf Scale-Up Champion (BSC) untuk membantu pengembangan ... [278] url asal
#perusahaan-rintisan #pengembangan-startup #semesta-ai-pitch-day
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif menjalankan program seperti Badan Ekraf for Startup (BEKUP) dan Badan Ekraf Scale-Up Champion (BSC) untuk membantu pengembangan perusahaan-perusahaan rintisan.
Program yang meliputi lokakarya dan pelatihan teknologi, bimbingan dalam penguatan model bisnis, serta fasilitasi untuk mengakses pendanaan tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan-perusahaan rintisan menghadapi tantangan dalam membangun dan mengembangkan usaha.
"Talenta-talenta startup kita menghadapi tantangan secara marketing, regulasi, dan apa yang paling diperhatikan hari ini, fungsi pendanaan," kata Direktur Aplikasi Kementerian Ekonomi Kreatif Muhammad Azhar Iskandar Zainal dalam acara Semesta AI Pitch Day 2025 di Jakarta, Selasa.
Selain itu, Azhar mengatakan, para investor sekarang lebih selektif dalam menanamkan modal pada perusahaan rintisan dan menuntut model bisnis yang terukur.
Dia mengemukakan bahwa tanpa fondasi bisnis yang kuat, pemerintahan yang baik, dan produk yang cocok dengan pasar, perusahaan rintisan yang terkenal pun bisa gagal.
"Ini adalah bidang yang kita hadapi, potensi besar yang dihadapi oleh tantangan pendanaan yang tinggi, isu bisnis fundamental, dan rekomendasi pasar," katanya.
Guna membantu perusahaan rintisan, Kementerian Ekonomi Kreatif menjalankan Program BEKUP dan BSC.
Program BEKUP mencakup BEKUP Create yang ditujukan untuk mengembangkan bakat kreatif menjadi talenta unggul dan BEKUP Accelerate yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas pendiri perusahaan rintisan.
Sedangkan BSC dijalankan untuk membantu perusahaan rintisan melangkah ke tataran global dengan memperkuat fondasi, meningkatkan inovasi, membangun koneksi global, dan membuka pasar yang lebih luas.
Menurut Azhar, BSC juga menjembatani perusahaan rintisan untuk menjalin hubungan dengan fasilitator yang memiliki reputasi baik.
"Kementerian Ekonomi Kreatif mengambil langkah untuk membangun sistem startup yang kuat. Namun, kami sadar bahwa kekuatan kita akan bertambah berkali lipat dengan bersinergi dan ini era mendatang adalah kolaborasi," katanya.
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56