#30 tag 24jam
Telkom
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp17,8 triliun adalah laba bersih Perseroan pada 2025. Pembayaran dividen akan dilakukan selambat-lambatnya pada 10 Juli 2026. [686] url asal
#telkom #rupst-2025 #laba-bersih #dividen #rupst-2025 #andy-kelana #nanang-hendarno #rofikoh-rokhim #tlkm-30 #veranita-yosephine #ossy-dermawan #rizal-mallarangeng #telkomgroup #infranexia #admedika
(CNN Indonesia - Ekonomi) 09/06/26 09:48
v/244352/
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar secara daring pada Senin (8/6) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar kurang lebih Rp21,9 triliun. Pembayaran dividen akan dilakukan selambat-lambatnya pada 10 Juli 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp17,8 triliun dari keseluruhan laba bersih yang diperoleh Perseroan pada tahun 2025. Sementara, sisanya sekitar Rp4,2 triliun merupakan laba ditahan Perseroan tahun sebelumnya. Dividen akan diberikan kepada para pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada penutupan perdagangan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia pada 19 Juni mendatang.
Dalam rapat tersebut, para pemegang saham menyetujui sejumlah agenda Perseroan, tiga di antaranya adalah penggunaan laba bersih tahun buku 2025, program pembelian kembali saham (buyback), serta perubahan susunan pengurus Perseroan guna memperkuat struktur kepemimpinan dan mendukung keberlanjutan transformasi TelkomGroup di tahun 2026.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini menyampaikan bahwa dalam memperhitungkan pembayaran dividen Perseroan telah mempertimbangkan berbagai aspek, khususnya keseimbangan antara pengembalian kepada pemegang saham dan kebutuhan investasi jangka panjang.
"Meskipun menghadapi tekanan industri dan ketidakpastian sepanjang tahun 2025, Perseroan telah berhasil membuktikan bahwa fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas juga kian menguat. Sehingga, keputusan pemegang saham atas persetujuan dividen hari ini mencerminkan kepercayaan terhadap transformasi dan arah pertumbuhan yang kami bangun," kata Dian.
Selain pembagian dividen, RUPST juga menyetujui rencana program buyback saham Perseroan dengan nilai sebesar-besarnya Rp4 triliun. Buyback dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek, baik secara bertahap atau sekaligus, dan diselesaikan dalam periode dua belas bulan setelah disetujui pada RUPST, yakni sejak 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.
Aksi korporasi ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan nilai pemegang saham, juga sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga saham Perseroan di tengah dinamika pasar.
RUPST juga menyetujui perubahan Susunan Pengurus Dewan Komisaris guna memperkuat fondasi kepemimpinan Telkom seperti berikut:Dewan KomisarisKomisaris Utama: Angga Raka PrabowoKomisaris Independen: Deswandhy AgusmanKomisaris Independen: Anthony LeongKomisaris Independen: Ira NoviartiKomisaris Independen: Rofikoh RokhimKomisaris: Rizal MallarangengKomisaris: Edwin Hidayat AbdullahKomisaris: Ossy Dermawan
Jajaran DireksiDirektur Utama: Dian SiswariniDirektur Enterprise & Business Service: Veranita YosephineDirektur Human Capital Management: Willy SaelanDirektur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra Direktur Network : Nanang HendarnoDirektur Strategic Business Development & Portfolio: Seno SoemadjiDirektur Wholesale & International Service: Budi Satria Dharma PurbaDirektur IT Digital: Faizal R. DjoemadiDirektur Legal & Compliance: Andy Kelana
Pertegas Komitmen Akselerasi Transformasi
Sepanjang tahun 2025 hingga periode kuartal pertama 2026, Telkom memperlihatkan progres eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara signifikan dengan fokus pada empat pilar utama. Dari sisi Operational & Service Excellence, perusahaan berhasil meningkatkan efisiensi melalui program TOTEX, perbaikan arus kas operasional, serta implementasi program Pensiun Dini dan Governance Reset.
Upaya Perseroan dalam merealisasikan transformasi menghasilkan pencapaian kinerja pada 2025, yang antara lain ditunjukkan dengan pencapaian pendapatan sebesar Rp146,74 triliun, pencapaian EBITDA sebesar Rp72,24 triliun, dan pencapaian net income sebesar Rp17,81 triliun.
Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset, Perseroan melakukan percepatan depresiasi yang berdampak pada kontraksi net income. Namun demikian, dampak tersebut bersifat non-cash sehingga secara operasional fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas tetap kuat.
Pada aspek Streamlining, Telkom melakukan penyederhanaan portofolio bisnis, termasuk divestasi non core dan fokus kembali ke bisnis inti telekomunikasi dan digital. Sebanyak enam entitas telah dirampingkan, dengan transaksi divestasi AdMedika Group telah diselesaikan pada awal Juni ini.
Di sisi Unlocking Value, Telkom telah memulai monetisasi aset infrastruktur melalui spin-off aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia dengan target penyelesaian pada kuartal ketiga, serta membuka kembali inisiatif kemitraan strategis bisnis data center.
Sementara dalam Modus-operandi shift, Telkom mulai bertransisi ke model HoldCo-OpCo dengan pelaporan berbasis segmen untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja. Secara keseluruhan, 2025 menjadi tahun fondasi untuk memperkuat struktur bisnis dan menyiapkan pertumbuhan yang lebih berkualitas ke depan, sejalan dengan upaya penciptaan nilai dan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.
"Keputusan-keputusan yang diambil dalam RUPST ini mencerminkan komitmen Telkom untuk terus meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai tambah. Tahun ini, kami melakukan percepatan dalam eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara disiplin dan terukur, serta memastikan setiap langkah yang diambil mampu berkontribusi dalam membangun ekosistem digital nasional yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing global," pungkas Dian.
Logo PT Telkom Indonesia Tbk terpampang di kantor pusat perseroan.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk akan membagikan dividen tunai sebesar Rp21,9 triliun kepada pemegang saham dari laba tahun buku 2025. [323] url asal
#saham #telkom #dividen #bumn #buyback-saham #rupst #rapat-umum-pemegang-saham-tahunan #bursa-efek-indonesia #telkom-indonesia #dian-siswarini #tlkm-30 #strategi #monetisasi #eksekusi #telkom-guyur
(CNN Indonesia - Ekonomi) 08/06/26 20:15
v/243937/
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk akan membagikan dividen tunai sebesar Rp21,9 triliun kepada pemegang saham dari laba tahun buku 2025. Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Senin (8/6).
Dari total dividen dibagikan, sekitar Rp17,8 triliun berasal dari laba bersih tahun buku 2025, sedangkan sisanya sekitar Rp4,2 triliun berasal dari laba ditahan tahun-tahun sebelumnya.
Pembayaran dividen akan dilakukan paling lambat pada 10 Juli 2026 kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada 19 Juni 2026.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan keputusan pembagian dividen mempertimbangkan keseimbangan antara pengembalian kepada pemegang saham dan kebutuhan investasi jangka panjang perusahaan.
"Meskipun menghadapi tekanan industri dan ketidakpastian sepanjang tahun 2025, Perseroan telah berhasil membuktikan bahwa fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas juga kian menguat. Sehingga, keputusan pemegang saham atas persetujuan dividen hari ini mencerminkan kepercayaan terhadap transformasi dan arah pertumbuhan yang kami bangun," ujar Dian dalam keterangan resmi.
Selain menyetujui pembagian dividen, pemegang saham juga menyetujui program pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp4 triliun.
Buyback akan dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek secara bertahap atau sekaligus dalam periode 12 bulan sejak mendapat persetujuan RUPST, yakni mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.
Menurut manajemen, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus menjaga stabilitas harga saham di tengah dinamika pasar.
Sepanjang 2025, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp146,74 triliun, EBITDA Rp72,24 triliun, dan laba bersih Rp17,81 triliun.
Dian mengatakan 2025 menjadi tahun penting bagi Telkom dalam mempercepat transformasi bisnis melalui strategi TLKM 30 yang mencakup efisiensi operasional, penyederhanaan portofolio bisnis, monetisasi aset, hingga transformasi model bisnis.
"Keputusan-keputusan yang diambil dalam RUPST ini mencerminkan komitmen Telkom untuk terus meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai tambah. Tahun ini, kami melakukan percepatan dalam eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara disiplin dan terukur," ujar Dian.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini
Akselerasi eksekusi strategi transformasi TLKM 30, tingkatkan efektivitas model operasi dan tata kelola perseroan. [976] url asal
#telkom #kinerja-keuangan #tsr #laba-bersih #transformasi-perusahaan #tlkm-30 #ebitda #dividen #dian-siswarini #conditional-spin-off-agreement #admedika #b2c #tlkm-30 #arpu #fy25 #danantara-in
(CNN Indonesia - Ekonomi) 01/06/26 13:01
v/236700/
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja yang mencerminkan keberlanjutan penciptaan nilai bagi pemegang saham, seiring dengan percepatan eksekusi agenda transformasi perusahaan.
Sepanjang 2025, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun. Dari capaian tersebut, perseroan mencatat laba bersih (net income) sebesar Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen. Sementara itu, laba bersih yang telah dinormalisasi (normalized net income) tercatat sebesar Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen.
Kinerja operasional perusahaan juga tetap solid. EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) konsolidasi mencapai Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2 persen. Adapun normalized EBITDA tercatat Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen.
Sejalan dengan arah transformasi dan penguatan fundamental, perseroan mencatat Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7% sepanjang 2025, yang terdiri dari capital gain sebesar 28,4% dan dividend yield 7,3%.
Hal ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom, yang turut didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio sebesar 89% untuk pembayaran tahun buku 2024 serta pelaksanaan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026.
Akselerasi Eksekusi Strategi Transformasi TLKM 30
Di tengah tekanan kondisi makroekonomi dan tantangan yang dihadapi sektor telekomunikasi dalam beberapa tahun terakhir, Telkom terus beradaptasi dan bertransformasi baik dari sisi strategi perusahaan, model bisnis, maupun produk dan layanan.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi telah menjadi fokus utama perseroan sejak 2025.
"Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Dian dikutip Senin (1/6).
Melalui strategi transformasi jangka menengah TLKM 30, Telkom fokus pada eksekusi empat pilar besar, pilar pertama yakni Operational & Service Excellence, sebagai upaya memperkuat prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Hal ini juga mendorong peningkatan disiplin organisasi yang berkelanjutan, termasuk budaya kerja unggul, proses yang efisien, serta peningkatan kualitas layanan untuk mendukung pengalaman pelanggan yang lebih baik.
Pada pilar transformasi kedua, perseroan melakukan Streamlining sebagai strategi penataan portofolio non-core business agar perseroan dapat kembali mendorong kontribusi yang lebih optimal dan efisiensi operasional, serta meningkatkan keunggulan kompetitif pada core business di sektor telekomunikasi dan digital.
Implementasi strategi tersebut tercermin melalui proses divestasi AdMedika dan anak usahanya TelkoMedika yang telah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.
Divestasi penuh atas AdMedika dan TelkoMedika juga akan berkontribusi terhadap peningkatan arus dividen (dividend stream). Beberapa entitas dengan bisnis serupa atau tidak sesuai dengan core business di ekosistem TelkomGroup juga sedang dirampingkan.
Selanjutnya, pada pilar transformasi ketiga perseroan berfokus pada upaya peningkatan nilai tambah (Unlock Value), salah satunya melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital yaitu konektivitas fiber.
Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets (ROA), sekaligus memperluas kontribusi Telkom dalam mendukung konektivitas nasional.
Pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025 yang merupakan fase carve-out tahap pertama.
Langkah ini juga menjadi bagian dari arah transformasi menuju strategic holding yang lebih fokus pada penguatan penciptaan nilai, pengelolaan portofolio bisnis yang lebih optimal, serta percepatan eksekusi strategi secara berkelanjutan.
Sebagai pilar transformasi keempat, Telkom tengah menjalankan Modus-operandi shift, perubahan dari operating holding menjadi strategic holding, dengan melakukan delayering untuk memperkuat fokus bisnis di empat segmen Operating Company (OpCo), yakni pada segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Telkom sebagai entitas strategic holding nantinya akan berfokus pada sinergi penciptaan nilai dan penguatan tata kelola antar segmen, sementara operasional bisnis dijalankan di entitas OpCo dengan lini usaha yang terfokus.
Transformasi ini diharapkan semakin memperkuat fundamental perusahaan, mengharmonisasi lini bisnis sehingga tidak terjadi tumpang tindih, sekaligus meningkatkan penciptaan nilai yang berkelanjutan.
Perubahan Kebijakan Akuntansi dan Penyajian Laporan Keuangan
Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi guna meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk memastikan prinsip yang digunakan dalam menentukan satuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.
Hal ini menyebabkan performa laba bersih mengalami kontraksi sebesar 9,5% YoY, sebagai dampak peningkatan beban percepatan depresiasi. Seiring penerapan kebijakan tersebut, perseroan turut melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024. Inisiatif ini sekaligus
memperkuat praktik tata kelola yang transparan, prinsip kehati-hatian, dan disiplin dalam pengelolaan aset, sejalan dengan implementasi pilar pertama TLKM 30, yakni Operational and Service Excellence.
Pemulihan Pasar di Segmen B2C
Segmen Mobile dan Fixed Broadband (B2C) masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai OpCo yang fokus pada segmen B2C berhasil membukukan pendapatan tahun buku 2025 sebesar Rp109,2 triliun secara konsolidasian.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan digital berkualitas mendorong kenaikan signifikan trafik data sebesar 15% YoY.
Average Revenue Per User (ARPU) juga bergerak ke arah pemulihan positif yang menunjukkan kondisi pasar yang lebih stabil mulai dari paruh kedua 2025 dan diperkirakan secara bertahap akan terus meningkat, sejalan dengan kompetisi industri yang lebih sehat.
Sehingga pada 2026, Telkomsel akan terus fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan memastikan keunggulan kualitas jaringan guna menekan angka perpindahan pelanggan.
Langkah ini diiringi dengan penguatan ekosistem digital agar layanan Telkomsel tetap relevan bagi masyarakat.
Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah kini dilakukan secara lebih tajam dengan memperhatikan kemampuan belanja masyarakat serta memastikan efektivitas pemanfaatan modal untuk menjaga pertumbuhan perusahaan yang sehat secara jangka panjang.
"Sepanjang tahun 2025 Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30. Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi," kata Dian
"Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan. Ke depan, Telkom akan terus melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan," tutup Dian.
Telkom
Telkom mengumumkan kinerja keuangan pada kuartal pertama tahun 2026 dengan pertumbuhan progresif di sebagian segmen bisnis. [1,033] url asal
#telkom #kinerja-keuangan #tlkm-30 #b2c #infranexia #tlkm-30 #arpu #b2b-infrastructure #unit-wholesale-amp-international-service #telkomgroup #dian-siswarini #fttt #opco #admedika-group #qoq #asia
(CNN Indonesia - Ekonomi) 01/06/26 12:51
v/236680/
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mengumumkan kinerja keuangan pada kuartal pertama tahun 2026 dengan pertumbuhan progresif di sebagian segmen bisnis. Hal ini mencerminkan konsistensi perusahaan menerapkan disiplin operasional seraya mengakselerasi eksekusi strategi transformasi TLKM 30.
Mengawali tiga bulan pertama 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5% YoY. EBITDA tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan EBITDA margin pada 48,3%, dan laba bersih sebesar Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7%.
Sedangkan untuk laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp5,1 triliun dengan margin laba bersih yang dinormalisasi 13,8%. Kontraksi pada laba bersih terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan dari percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi.
Namun, tekanan ini bersifat transisional dan non-cash, sementara secara fundamental kinerja operasional tetap terjaga. Arus kas operasional perseroan juga tumbuh 3,1% YoY menjadi Rp17,3 triliun, didorong implementasi program efisiensi TOTEX, serta disiplin penagihan yang semakin baik.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini mengatakan bahwa tahun ini, Telkom gencar mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi penciptaan value yang optimal, serta keberlangsungan perusahaan yang semakin solid.
"Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap guna memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat dan negara," tutur Dian.
Pada segmen B2C (Mobile dan Fixed Broadband), Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3% YoY, didorong pendapatan bisnis digital. Payload data juga meningkat 2,3% YoY, didukung upaya memperkuat kualitas dan ekspansi jaringan melalui investasi yang disiplin dan berkelanjutan.
Strategi disiplin harga, penyederhanaan produk, serta menghadirkan pengalaman terbaik pelanggan terbukti mendorong pertumbuhan ARPU menjadi Rp45.100 atau naik 6,4% YoY. Hal ini mencerminkan inisiatif perbaikan pasar yang semakin sehat, dan kondisi industri yang lebih stabil.
Telkomsel menyatakan akan terus fokus menjaga ARPU melalui peningkatan produktivitas pelanggan dan inovasi layanan digital lifestyle. Menurut Dian, dari sisi pasar saat ini, industri telekomunikasi masih prospektif karena konektivitas dan internet yang sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat.
"Dalam beberapa tahun terakhir pun kami melihat kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan adanya tren penurunan. Kami optimistis untuk memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan customer experience yang baik," katanya.
Adapun segmen B2B Infrastructure menunjukkan kinerja positif dengan pendapatan sebesar Rp2,4 triliun atau tumbuh 6,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi berkelanjutan bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT).
Pada bisnis menara telekomunikasi dan FTTT yang digawangi oleh Mitratel, perseroan membukukan pendapatan Rp2,3 triliun atau tumbuh 1,4% YoY, dengan Tower Leasing dan Tower-Related Business tetap menjadi kontributor utama. Berkat efektivitas pengelolaan biaya dan fundamental bisnis yang kuat, Mitratel berhasil menjaga EBITDA margin stabil di 82,7%.
Sebagai pemimpin pasar menara telekomunikasi di Asia Tenggara, Mitratel memperkuat strategi portofolio pada aset fiber optic. Di kuartal I, Mitratel berekspansi sepanjang 1.080 km fiber optic yang menjadikan total kepemilikan mencapai 58.279 km. Strategi itu berhasil mendorong pertumbuhan bisnis FTTT, serta memperkuat kapabilitas Mitratel sebagai Next-Gen Tower Company yang terintegrasi.
Pada bisnis data center, pendapatan diperoleh dari fasilitas data center dan colocation data center NeutraDC Group, serta fasilitas edge data center NeuCentrIX yang saat ini berada di bawah kendali operasional Telkom. Data center menjadi salah satu platform digital dengan permintaan tinggi seiring perkembangan industri digital.
Melihat potensi itu, lahir inisiatif konsolidasi untuk menjadikan NeutraDC pengelola keseluruha aset data center secara lebih fokus. Pendekatan ini akan mampu membuka peluang perluasan layanan, monetisasi aset, serta pertumbuhan bisnis melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
Pada unit Wholesale & International Service, pendapatan tercatat Rp2,8 triliun, dengan pertumbuhan layanan interkoneksi 18,9% QoQ berkat meningkatnya aktivitas international wholesale voice business.
Selanjutnya, di segmen B2B ICT, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp3,1 triliun. Di tengah proses restrukturisasi, aktivitas bisnis cenderung melandai seiring pendekatan yang lebih disiplin dan selektif dalam penjajakan kerja sama baru. Meskipun berdampak pada perlambatan jangka pendek, langkah restrukturisasi tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan untuk mendorong margin yang lebih sehat, menghilangkan tumpang tindih penawaran produk, serta memperkuat posisi kompetitif di pasar dalam jangka panjang.
Eksekusi Transformasi dan Prioritas Strategis
Pencapaian positif segmen B2C dan B2B Infrastructure Telkom pada periode ini tidak lepas dari transformasi dan percepatan eksekusi strategi TLKM 30. Realisasi belanja modal mencapai Rp4,9 triliun atau 13,2% dari pendapatan. Sebanyak 99% dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur di segmen inti B2C, B2B Infrastructure, dan International, serta sisanya untuk pengembangan platform digital secara disiplin.
Adapun efisiensi operasional terus diciptakan melalui inisiatif streamlining dan penataan portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo, termasuk divestasi, merger, maupun likuidasi entitas non-core. Salah satu progress streamlining yang berjalan adalah divestasi AdMedika Group kepada investor strategis dengan target selesai pada akhir semester pertama 2026. Divestasi ini diharapkan dapat membuka peluang pertumbuhan dan inovasi bagi AdMedika Group, serta menghadirkan kualitas layanan yang semakin baik.
Di sisi unlock value, Telkom berada dalam fase persiapan pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap kedua kepada InfraNexia yang ditargetkan rampung pada kuartal III 2026. Proses ini turut mempertimbangkan evaluasi terhadap prioritas inisiatif guna memastikan implementasi yang lebih optimal. Secara keseluruhan proses pemisahan berjalan sesuai rencana, sebagai bagian dari strategi Telkom mendorong pengelolaan aset fiber yang lebih tangkas dan efisien, serta membuka peluang bisnis lebih luas ke depan.
Inisiatif tersebut sejalan dengan fokus transformasi Telkom dalam mendorong pertumbuhan melalui monetisasi aset dan infrastruktur ke pasar eksternal. Dengan penguatan di segmen B2B, khususnya InfraNexia yang diproyeksikan sebagai motor pertumbuhan baru, TelkomGroup dapat membuka peluang peningkatan pendapatan eksternal, serta memperkuat fundamental bisnis perusahaan.
Saat ini, kontribusi bisnis fiber masih berada di kisaran 15% dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25% seiring optimalisasi utilisasi infrastruktur, penyelesaian transfer aset, dan operasional yang berjalan penuh.
Kemudian, Telkom juga memperkuat bisnis B2B ICT dan International guna menangkap potensi kebutuhan industri yang terus berkembang di tengah adopsi teknologi berbasis AI. Ke depan, langkah ini diharapkan dapat menciptakan komposisi pendapatan segmen B2C dan B2B TelkomGroup yang lebih seimbang.
"Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas," tutup Dian.
Telkom Catat Pendapatan Rp 37,2 Triliun pada Kuartal I-2026
Telkom mencatat pendapatan Rp 37,2 triliun pada kuartal I-2026, ditopang pertumbuhan B2C dan B2B Infrastructure. [1,119] url asal
#telkomsel #telkom #telkom-indonesia #kinerja-keuangan #mitratel #neutradc #infranexia #tlkm-30 #kuartal-i-2026
(Kompas.com - Money) 31/05/26 09:41
v/236022/
KOMPAS.com - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp 37,2 triliun pada kuartal I-2026.
Angka tersebut tumbuh 1,5 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) di tengah kondisi makroekonomi yang masih penuh ketidakpastian.
Capaian itu mencerminkan konsistensi Telkom dalam menerapkan disiplin operasional sekaligus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30.
Selain pendapatan, Telkom juga membukukan EBITDA sebesar Rp 18 triliun dengan margin EBITDA 48,3 persen.
Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp 4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7 persen. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi tercatat sebesar Rp 5,1 triliun dengan margin 13,8 persen.
Kontraksi pada laba bersih terutama dipengaruhi dampak lanjutan dari percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi.
Meski demikian, tekanan tersebut bersifat transisional dan non-kas. Secara fundamental, kinerja operasional Telkom tetap terjaga.
Arus kas operasional perseroan juga tumbuh 3,1 persen yoy menjadi Rp 17,3 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong implementasi program efisiensi total expenditure (TOTEX) serta disiplin penagihan yang semakin baik.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, Telkom akan terus mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 untuk menciptakan nilai yang optimal dan memastikan keberlanjutan perusahaan.
“Tahun ini, Telkom akan semakin gencar dalam mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi menciptakan value yang optimal dan memastikan keberlangsungan perusahaan yang semakin solid ke depannya,” ujar Dian dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Dian, kinerja kuartal I-2026 menjadi awal yang baik bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan secara bertahap.
Upaya tersebut dilakukan agar perusahaan dapat memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat, dan negara.
Segmen B2C tumbuh
Pada segmen business-to-consumer (B2C), yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 27,6 triliun.
Pendapatan tersebut tumbuh 1,3 persen yoy, terutama didorong oleh bisnis digital.
Payload data Telkomsel juga meningkat 2,3 persen yoy. Peningkatan ini didukung upaya perusahaan memperkuat kualitas dan ekspansi jaringan melalui investasi yang disiplin dan berkelanjutan.
Strategi disiplin harga, penyederhanaan produk, serta peningkatan pengalaman pelanggan turut mendorong pertumbuhan average revenue per user (ARPU) Telkomsel. ARPU Telkomsel tercatat mencapai Rp 45.100 atau naik 6,4 persen yoy.
Capaian tersebut mencerminkan inisiatif perbaikan pasar yang semakin sehat serta kondisi industri yang lebih stabil dan rasional.
DOK. Telkom. Direktur Utama Telkom Dian Siswarini.Ke depan, Telkomsel akan terus menjaga ARPU melalui peningkatan produktivitas pelanggan dan inovasi layanan digital lifestyle yang selaras dengan kebutuhan masyarakat.
Dian menilai, industri telekomunikasi masih prospektif karena konektivitas dan internet telah menjadi kebutuhan primer masyarakat.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan adanya tren penurunan,” kata Dian.
Ia mengatakan, Telkom optimistis dapat memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan pengalaman pelanggan.
B2B Infrastructure tumbuh 6,8 persen
Segmen B2B Infrastructure juga menunjukkan kinerja positif pada kuartal I-2026. Segmen ini mencatat pendapatan sebesar Rp 2,4 triliun atau tumbuh 6,8 persen ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi berkelanjutan bisnis fiber-to-the-tower (FTTT).
Pada bisnis menara telekomunikasi dan FTTT yang dijalankan Mitratel, pendapatan tercatat Rp 2,3 triliun atau tumbuh 1,4 persen yoy.
Tower leasing dan tower-related business tetap menjadi kontributor utama yang menopang stabilitas pendapatan Mitratel.
Berkat efektivitas pengelolaan biaya serta fundamental bisnis yang kuat, Mitratel berhasil menjaga margin EBITDA tetap stabil di level 82,7 persen.
Sebagai bagian dari strategi memperkuat portofolio aset fiber optik, Mitratel menambah 1.080 kilometer jaringan fiber optik sepanjang kuartal I-2026.
Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan fiber optik Mitratel mencapai 58.279 kilometer.
Ekspansi ini turut memperkuat posisi Mitratel sebagai next-generation tower company yang terintegrasi.
Pada bisnis pusat data, pendapatan diperoleh dari fasilitas data center dan colocation milik NeutraDC Group, serta fasilitas edge data center NeuCentrIX yang masih berada di bawah kendali operasional Telkom.
Telkom melihat data center sebagai salah satu platform digital dengan permintaan yang terus meningkat seiring berkembangnya aktivitas industri digital.
Karena itu, konsolidasi bisnis data center menjadi langkah strategis agar NeutraDC dapat mengelola keseluruhan aset data center secara lebih fokus.
Pendekatan tersebut diharapkan membuka peluang perluasan layanan, monetisasi aset, serta pertumbuhan bisnis melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
Pada unit Wholesale and International Service, pendapatan tercatat sebesar Rp 2,8 triliun. Pertumbuhan layanan interkoneksi mencapai 18,9 persen secara kuartalan atau quarter-on-quarter (qoq). Capaian ini didorong meningkatnya aktivitas international wholesale voice business. Sementara itu, segmen B2B ICT mencatat pendapatan sebesar Rp 3,1 triliun.
Di tengah proses restrukturisasi yang berlangsung, aktivitas bisnis pada segmen ini cenderung melandai karena Telkom menerapkan pendekatan yang lebih disiplin dan selektif dalam menjajaki kerja sama baru.
Meski berdampak pada perlambatan jangka pendek, restrukturisasi tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan untuk mendorong margin yang lebih sehat, menghilangkan tumpang tindih penawaran produk, serta memperkuat posisi kompetitif dalam jangka panjang.
Transformasi berjalan sesuai rencana
Telkom menyatakan, pencapaian positif pada segmen B2C dan B2B Infrastructure tidak lepas dari percepatan eksekusi strategi TLKM 30.
Pada kuartal I-2026, realisasi belanja modal Telkom mencapai Rp 4,9 triliun atau 13,2 persen dari pendapatan.
Sebanyak 99 persen belanja modal dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur di segmen inti B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk pengembangan platform digital secara disiplin.
Efisiensi operasional juga terus dilakukan melalui inisiatif streamlining dan penataan portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo.
Langkah tersebut mencakup divestasi, merger, hingga likuidasi entitas non-core.
Salah satu proses streamlining yang berjalan adalah divestasi AdMedika Group kepada investor strategis. Proses divestasi ini ditargetkan selesai pada akhir semester I-2026.
Telkom menilai, divestasi tersebut dapat membuka peluang pertumbuhan dan inovasi bagi AdMedika Group sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat Indonesia dan kawasan regional.
DOK. Telkom. Ilustrasi pekerja Telkom.Dari sisi unlock value, Telkom juga tengah mempersiapkan pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap kedua kepada InfraNexia. Proses tersebut ditargetkan rampung pada kuartal III-2026.
Pemisahan ini menjadi bagian dari strategi Telkom dalam mendorong pengelolaan aset fiber yang lebih tangkas dan efisien, serta membuka peluang bisnis yang lebih luas.
Saat ini, kontribusi bisnis fiber masih berada di kisaran 15 persen. Telkom menargetkan kontribusi tersebut meningkat menjadi sekitar 25 persen seiring optimalisasi utilisasi infrastruktur, penyelesaian transfer aset, dan operasional yang berjalan penuh.
Telkom juga terus memperkuat bisnis B2B ICT dan International untuk menangkap potensi kebutuhan industri yang berkembang di tengah pesatnya adopsi teknologi berbasis artificial intelligence (AI).
Ke depan, langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan komposisi pendapatan segmen B2C dan B2B TelkomGroup yang lebih seimbang.
“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi,” ujar Dian.
Ia mengatakan, strategi tersebut dilakukan untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas.
Telkom (TLKM) Kaji Ulang Prioritas Ekspansi Infrastruktur Imbas Tekanan Kurs
Telkom Indonesia menyesuaikan prioritas ekspansi infrastruktur akibat tekanan kurs dolar AS, fokus pada strategi TLKM 30 dan pergeseran pendapatan dari B2C ke B2B. [386] url asal
#telkom-indonesia #telkom-ekspansi #tekanan-kurs #investasi-infrastruktur #nilai-tukar-dolar #pasar-telekomunikasi #kebutuhan-internet #ekonomi-makro #komponen-impor #strategi-tlkm-30 #perbaikan-tata-k
(Bisnis.Com - Teknologi) 20/05/26 22:41
v/227019/
Bisnis.com, Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengalkulasi ulang rencana investasi masa depan akibat gejolak ekonomi makro, terutama menyusul lonjakan nilai tukar dolar AS yang mengerek biaya impor perangkat telekomunikasi.
Kendati pertumbuhan pasar tetap kokoh didorong oleh tingginya kebutuhan internet masyarakat, emiten telekomunikasi pelat merah ini memilih berhati-hati dan belum bersedia membeberkan secara rinci detail rencana bisnis tahun ini.
Diketahui, pada Rabu (20/5/2026), posisi Rupiah berada di level 17.635. Nilai tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan dengan periode yang sama bulan lalu di mana dolar saat itu masih berada dikisaran 17.123.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan kondisi ekonomi makro saat ini menjadi tantangan eksternal yang sulit diprediksi.
Mengingat sebagian besar investasi infrastruktur jaringan masih bergantung pada komponen impor dengan transaksi berbasis dolar AS, penyesuaian anggaran dan skala prioritas menjadi langkah yang tidak terhindarkan bagi perseroan.
"Karena mungkin investasi kita dalam dolar, ada beberapa yang mungkin hari ini kami sesuaikan. Namun sebetulnya dari sisi market dan kebutuhan pelanggan, internet itu tumbuh terus," ujar Dian dalam paparan TLKM 30 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Diketahui, sepanjang 2025, Telkom (TLKM) merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp27,5 triliun. Angka ini setara dengan 18,8% dari total pendapatan perseroan, dengan fokus alokasi yang lebih terarah dan berorientasi pada pengembalian investasi.
Meskipun harus merombak rencana belanja modal akibat tekanan kurs, manajemen melihat industri telekomunikasi tetap menjadi kebutuhan primer yang resilien.
Telkom kini fokus memperkuat benteng internal lewat strategi TLKM 30 yang mencakup empat pilar utama. Langkah ini meliputi perbaikan tata kelola, perampingan anak usaha, optimalisasi nilai bisnis melalui InfraNexia, serta integrasi operasional guna mengeliminasi tumpang tindih.
Mengenai arah ekspansi dan proyeksi korporasi yang lebih spesifik ke depan, Dian masih menyimpan rapat rencana strategis mereka. Perusahaan memilih fokus mematangkan portofolio di berbagai lini, terutama pengalihan ketergantungan pendapatan dari segmen konsumen (B2C) menuju segmen bisnis (B2B).
Saat ini kontribusi bisnis Telkom masih didominasi oleh segmen B2C sebesar 70%, sementara 30 persen sisanya disumbang oleh B2B dan bisnis lainnya.
Perseroan menargetkan komposisi ini dapat berimbang pada 2030, ditopang oleh pertumbuhan agresif dari B2B Infra seperti Infranexia, Mitratel, Neutra DC, serta segmen internasional melalui Telin.
"Segmen B2B Infra dan internasional sudah memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa. Untuk yang B2B ICT ini sekarang lagi dimasak supaya ke depannya bisa menjadi sumber pertumbuhan yang baru," pungkas Dian.
Telkom tegaskan perbaikan tata kelola menyusul investigasi SEC
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menegaskan komitmen dalam perbaikan tata kelola (governance) menyusul investigasi yang dilakukan Komisi Sekuritas dan Bursa ... [323] url asal
#telkom #telkom-indonesia #pt-telkom-indonesia #sec #bei #tlkm-30
Dari segi governance, kita akan lebih perbaiki, supaya kita lebih disiplin di dalam melakukan business operation
Jakarta (ANTARA) - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menegaskan komitmen dalam perbaikan tata kelola (governance) menyusul investigasi yang dilakukan Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (Securities and Exchange Commission/SEC).
“Dari segi governance, kita akan lebih perbaiki, supaya kita lebih disiplin di dalam melakukan business operation, di dalam kita (melakukan) accounting kita lebih transparan dan juga lebih clean,” kata Direktur Utama Telkom Dian Siswarini dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.
Adapun perbaikan tata kelola ini, lanjut Dian, merupakan satu dari empat pilar utama dalam transformasi Telkom bertajuk TLKM 30.
Telkom pun melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi guna meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk memastikan prinsip yang digunakan dalam menentukan satuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.
Seiring penerapan kebijakan tersebut, perseroan turut melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024.
Inisiatif ini sekaligus memperkuat praktik tata kelola yang transparan, prinsip kehati-hatian, dan disiplin dalam pengelolaan aset.
Perusahaan juga sudah membentuk Direktorat Legal & Compliance serta Chief Integrity Officer (CIO) guna memperkuat fungsi hukum, kepatuhan, tata kelola, integritas proses bisnis, dan pengawasan internal.
Dian mengatakan, investigasi SEC yang telah dilakukan sejak Oktober 2023 terkait proyek BAKTI Kominfo dan kemudian berkembang mencakup isu akuntansi ini merupakan imbas dari masalah yang sudah menumpuk sejak lama.
Ia pun tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan bisa mendapatkan sanksi oleh SEC.
Namun, ia memastikan perusahaan akan mencoba memberikan penjelasan lebih jauh dan mendalam terkait investigasi tersebut.
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan tengah melakukan pengawasan terhadap PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terkait investigasi yang dilakukan SEC.
“Bursa telah melakukan serangkaian tindakan pemantauan dan pengawasan melalui pelaksanaan dengar pendapat dengan Perseroan pada 8 April 2026, dan telah menyampaikan beberapa permintaan penjelasan atas kasus yang dialami oleh Perseroan serta berkoordinasi dengan OJK,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna di Jakarta, Senin (11/5).
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Telkom Bukukan Laba Rp17,8 Triliun, Strategi TLKM 30 Mulai Tunjukkan Hasil
Kinerja Telkom 2025 tetap solid di tengah tantangan industri telekomunikasi. Pendapatan tembus Rp146,7 triliun dan TSR capai 35,7 persen. [687] url asal
#telkom-indonesia #kinerja-telkom-2025 #saham-tlkm #tlkm-30 #telkomsel #tsr-telkom #laba-telkom #bisnis-digital-telkom #infrastruktur-digital-indonesia #data-center-telkom #mitratel #telkom
Jakarta: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berhasil menutup tahun buku 2025 dengan performa yang tetap solid di tengah tekanan industri telekomunikasi dan kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.Melalui strategi transformasi TLKM 30, Telkom berhasil menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat fundamental perusahaan untuk jangka panjang.
Sepanjang 2025, Telkom mencatat net income sebesar Rp17,8 triliun dengan net income margin 12,1 persen, sedangkan untuk normalized net income tercatat sebesar Rp22,7 triliun dengan normalized net income margin 15,4 persen.
Pencapaian ini diperoleh dari pendapatan konsolidasi perseroan yang tercatat sebesar Rp146,7 triliun. EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) konsolidasi perseroan tahun 2025 tercatat Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2 persen. Sementara normalized EBITDA tercatat sebesar Rp73,2 triliun dengan normalized EBITDA margin sebesar 49,9 persen.
Sejalan dengan arah transformasi dan penguatan fundamental, perseroan mencatat Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7 persen sepanjang 2025, yang terdiri dari capital gain sebesar 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
Hal ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom, yang turut didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024 serta pelaksanaan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026.
Akselerasi eksekusi strategi transformasi TLKM 30
Di tengah tekanan kondisi makroekonomi dan tantangan yang dihadapi sektor telekomunikasi dalam beberapatahun terakhir, Telkom terus beradaptasi dan bertransformasi baik dari sisi strategi perusahaan, model bisnis, maupun produk dan layanan.Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, menegaskan eksekusi strategi transformasi telah menjadi fokus utama perseroan sejak 2025.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," jelasnya dikutip dari siaran pers, Selasa, 12 Mei 2026.
Perubahan kebijakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan
Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi guna meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk memastikan prinsip yang digunakan dalam menentukan satuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.Hal ini menyebabkan performa laba bersih mengalami kontraksi sebesar 9,5 persen YoY, sebagai dampak peningkatan beban percepatan depresiasi.
Seiring penerapan kebijakan tersebut, perseroan turut melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024. Inisiatif ini sekaligus memperkuat praktik tata kelola yang transparan, prinsip kehati-hatian, dan disiplin dalam pengelolaan aset, sejalan dengan implementasi pilar pertama TLKM 30, yakni Operational and Service Excellence.
Pemulihan pasar di Segmen B2C
Segmen B2C (Mobile dan Fixed Broadband) masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai OpCo yang fokus pada segmen B2C berhasil membukukan pendapatan tahun buku 2025sebesar Rp109,2 triliun secara konsolidasian. Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan digital berkualitas mendorong kenaikan signifikan trafik data sebesar 15 persen YoY.Kinerja resilien pada segmen B2B infrastructure, international, dan B2B ICT
Pada segmen B2B Infrastructure, melalui sinergi kekuatan dan kepemilikan infrastruktur yang ekstensif, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional.Mulai dari backbone serat optik dengan total lebih dari 210.000 km, menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh nusantara, layanan data center dan cloud, dan konektivitas satelit untuk menjangkau area blank spot dan wilayah geografis yang menantang.
Selaras dengan strategi transformasi dan penguatan posisi sebagai perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, pendapatan perseroan dari segmen B2B Infrastructure sebesar Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2 persn YoY yang ditopang oleh bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber.
Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-tower (FTTT), Mitratel membukukan pendapatan sebesarRp9,5 triliun dengan net income margin sebesar 22,2 persen dan EBITDA margin 82,2 persen.
Selanjutnya, pada bisnis Wholesale & International Service, perseroan berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp10,7 triliun. Hingga saat ini, TelkomGroup melalui Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.
Pada segmen B2B ICT, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp15,3 triliun yang terdiri dari bisnis Konektivitas, Manage Solution dan Digital.
“Sepanjang tahun 2025 Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30. Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi," tutur Dian.
(ANN)
Telkom Bukukan Pendapatan Bersih Rp 17,8 Triliun pada 2025
Bisnis infrastruktur digital dan layanan data menjadi motor pertumbuhan Telkom. [332] url asal
#pt-telkom-indonesia #pendapatan-bersih #transformasi-tlkm-30 #ebitda #total-shareholder-return #segmen-b2c #infrastruktur-digital #layanan-digital #belanja-modal #kinerja-perusahaan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan pendapatan bersih (net income) sebesar Rp 17,8 triliun dengan net income margin 12,1 persen pada kinerja perseroan tahun buku 2025.
“Sepanjang tahun 2025 Telkom berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30,” kata Direktur Utama Telkom Dian Siswarini dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Dian mengatakan, perusahaan mencatat normalized net income sebesar Rp 22,7 triliun dengan normalized net income margin 15,4 persen. Pencapaian ini diperoleh dari pendapatan konsolidasi perseroan yang tercatat sebesar Rp 146,7 triliun.
EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization) konsolidasi perseroan tahun 2025 tercatat Rp 72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2 persen. Sementara normalized EBITDA tercatat sebesar Rp 73,2 triliun dengan normalized EBITDA margin sebesar 49,9 persen.
Sejalan dengan arah transformasi dan penguatan fundamental, perseroan mencatat total shareholder return (TSR) sebesar 35,7 persen sepanjang 2025, yang terdiri atas capital gain sebesar 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
Dian mengatakan, hal ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom yang turut didukung kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024 serta pelaksanaan program share buyback dengan nilai maksimal Rp 3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026.
Lebih lanjut, ia mengatakan Telkom terus beradaptasi dan bertransformasi, baik dari sisi strategi perusahaan, model bisnis, maupun produk dan layanan melalui transformasi TLKM 30.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Segmen B2C (mobile dan fixed broadband) masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perseroan.
Telkomsel sebagai OpCo yang fokus pada segmen B2C berhasil membukukan pendapatan tahun buku 2025 sebesar Rp 109,2 triliun secara konsolidasian.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan digital berkualitas mendorong kenaikan signifikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan.
Performa Tangguh Telkom Cetak Return 35,7 Persen di 2025
Di tengah tekanan kondisi makroekonomi, Telkom terus beradaptasi dan bertransformasi, baik dari strategi perusahaan, model bisnis, maupun produk dan layanan. [1,025] url asal
#telkom #laba #tahun-buku-2025 #b2b-infrastructure #telkomsel #tlkm-30 #serpong #mitratel #arpu #surabaya #wholesale #dian-siswarini #service #opco #telkomgroup #neutradc #admedika #average-revenue-p
(CNN Indonesia - Ekonomi) 12/05/26 09:47
v/218645/
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menutup kinerja perseroan tahun buku 2025 dengan net income sebesar Rp17,8 triliun dan net income margin 12,1%, sedangkan untuk normalized net income tercatat sebesar Rp22,7 triliun dengan normalized net income margin 15,4%.
Pencapaian diperoleh dari pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun. EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) konsolidasi perseroan tahun 2025 tercatat Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2%. Sementara normalized EBITDA tercatat sebesar Rp73,2 triliun dengan normalized EBITDA margin sebesar 49,9%.
Sejalan arah transformasi dan penguatan fundamental, perseroan mencatat Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7% di 2025, yag terdiri dari capital gain sebesar 28,4% dan dividend yield 7,3%. Hal ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom, yang turut didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio sebesar 89% untuk pembayaran tahun buku 2024, serta pelaksanaan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.
Di tengah tekanan kondisi makroekonomi, Telkom terus beradaptasi dan bertransformasi, baik dari sisi strategi perusahaan, model bisnis, maupun produk dan layanan. Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, mengatakan bahwa eksekusi strategi transformasi telah menjadi fokus utama sejak 2025.
"Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Dian.
Melalui strategi transformasi TLKM 30, Telkom fokus pada eksekusi empat pilar besar. Pertama, Operational & Service Excellence sebagai upaya memperkuat prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Kedua, perseroan melakukan Streamlining sebagai strategi penataan portofolio non-core business, yang antara lain tercermin melalui proses divestasi AdMedika dan anak usahanya TelkoMedika.
Pilar ketiga, perseroan meningkatkan nilai tambah (Unlock Value), salah satunya melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital yaitu konektivitas fiber. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets (ROA).
Pilar terakhir, Telkom tengah menjalankan Modus-operandi shift, perubahan dari operating holding menjadi strategic holding, dengan melakukan delayering untuk memperkuat fokus bisnis di empat segmen Operating Company (OpCo), yakni pada segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Telkom sebagai entitas strategic holding nantinya akan berfokus pada sinergi penciptaan nilai dan penguatan tata kelola antar segmen, sementara operasional bisnis dijalankan di entitas OpCo dengan lini usaha yang terfokus.
Sebagai lanjutan agenda total governance reset, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi guna meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk memastikan prinsip yang digunakan dalam menentukan satuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.
Hal ini mendorong performa laba bersih mengalami kontraksi sebesar 9,5% YoY, sebagai dampak peningkatan beban percepatan depresiasi. Seiring penerapan kebijakan, perseroan turut melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024 yang memperkuat praktik tata kelola yang transparan, prinsip kehati-hatian, dan disiplin dalam pengelolaan aset, sejalan dengan implementasi pilar pertama TLKM 30.
Pemulihan Pasar
Segmen B2C (Mobile dan Fixed Broadband) masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai OpCo berhasil membukukan pendapatan tahun buku 2025 sebesar Rp109,2 triliun secara konsolidasian.
Peningkatan kebutuhan akan layanan digital berkualitas mendorong kenaikan signifikan trafik data sebesar 15% YoY. Average Revenue Per User (ARPU) juga menunjukkan kondisi pasar yang lebih stabil mulai paruh kedua 2025, dan diperkirakan secara bertahap akan terus meningkat.
Sehingga di 2026, Telkomsel terus fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan memastikan keunggulan kualitas jaringan guna menekan perpindahan pelanggan. Langkah ini diiringi penguatan ekosistem digital agar layanan Telkomsel tetap relevan.
Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah dilakukan lebih tajam dengan memperhatikan kemampuan belanja masyarakatm serta memastikan efektivitas pemanfaatan modal untuk menjaga pertumbuhan perusahaan yang sehat secara jangka panjang.
Pada segmen B2B Infrastructure, melalui sinergi kekuatan dan kepemilikan infrastruktur yang ekstensif, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional. Mulai dari backbone serat optik dengan total lebih dari 210.000 km, menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh nusantara, layanan data center dan cloud, dan konektivitas satelit untuk menjangkau area blank spot dan wilayah geografis yang menantang.
Selaras dengan strategi transformasi dan penguatan posisi, pendapatan perseroan dari segmen B2B Infrastructure tercatat sebesar Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2% YoY ditopang oleh bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber.
Pendapatan bisnis data center diperoleh dari dua fasilitas hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga fasilitas enterprise data center di Serpong, Surabaya dan Sentul, dan dua fasilitas co- location data center di Singapura yang seluruhnya dikelola oleh NeutraDC.
Selain itu, TelkomGroup juga mengoperasikan 28 fasilitas edge data center NeuCentrIX dengan skala dan kapasitas lebih kecil, guna mendukung kebutuhan layanan data center dan cloud yang lebih dekat dengan pengguna.
Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-tower (FTTT), Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp9,5 triliun dengan net income margin sebesar 22,2% dan EBITDA margin 82,2%. Kinerja tersebut didukung oleh rasio jumlah penyewa sebesar 1,57x atas kepemilikan dari sebanyak 40.230 menara telekomunikasi, menjadikan Mitratel sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.
Selanjutnya pada bisnis Wholesale & International Service, perseroan berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp10,7 triliun. Hingga saat ini, TelkomGroup melalui Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.
Pada segmen B2B ICT, perseroan membukukan pendapatan Rp15,3 triliun dari bisnis Konektivitas, Manage Solution dan Digital. Dengan kebijakan efisiensi pemerintah yang berdampak pada penurunan permintaan solusi korporasi, Telkom tetap optimistis dan mendorong inovasi dan penguatan kapabilitas, seperti lewat Connectivity+, Cybersecurity, Artificial Intelligence (AI), serta mendorong pengembangan melalui kemitraan strategis dengan pemain teknologi global.
Pertumbuhan bisnis infrastruktur didorong oleh konsistensi TelkomGroup dalam menjaga disiplin investasi, dengan realisasi belanja modal di 2025 sebesar Rp27,5 triliun atau 18,8% dari total pendapatan. Sebanyak 93% belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur segmen B2C, B2B Infrastructure, dan Internasional. Sementara investasi yang tersisa dialokasikan untuk mendukung pengembangan platform digital dengan tetap mengoptimalkan synergy value.
"Sepanjang tahun 2025 Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30. Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi," kata Dian.
Ia optimis, dengan disiplin operasional, Telkom dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan.
"Ke depan, Telkom akan terus melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan," tutup Dian.
Strategi TLKM 30, Telkom Perkuat Fundamental dan Tata Kelola
Telkom meluncurkan strategi TLKM 30 untuk memperkuat fundamental bisnis dan tata kelola hingga 2030. Fokus pada portofolio bisnis, tata kelola, dan efisiensi operasional [723] url asal
#telkom-transformasi #tlkm-30 #telkom-fundamental #tata-kelola-telkom #good-corporate-governance #telkomgroup-business-update #telkom-digital-ecosystem #telkom-operational-excellence #telkom-strategic
(Bisnis.Com - Market) 17/03/26 13:45
v/167114/
Bisnis.com, JAKARTA - Transformasi TLKM 30 merupakan agenda reformasi menyeluruh yang dijalankan Telkom sebagai upaya untuk terus memperkuat fundamental bisnis.
Tahun 2026 menjadi momentum eksekusi bagi Telkom dalam membuktikan implementasi strategi tersebut, yang mencakup penataan portofolio bisnis, penguatan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), restrukturisasi dan streamlining anak usaha, serta pembentukan strategic holding guna mendorong operational excellence dan unlocking value dari aset yang dimiliki TelkomGroup.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Dian Siswarini pada agenda TelkomGroup Business Update yang diselenggarakan di Jakarta, pada Jumat (6/3).
Turut hadir pada kegiatan tersebut Direktur Legal & Compliance Telkom Andy Kelana, Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur IT Digital Telkom Faizal Rochmad Djoemadi, dan Direktur Human Capital Management Willy Saelan.
TLKM 30 dirancang sebagai strategi transformasi jangka menengah hingga tahun 2030 untuk meningkatkan kinerja sekaligus daya saing Telkom sebagai enabler ekosistem digital yang berdaya saing global.
Melalui inisiatif ini, Telkom melakukan penataan portofolio bisnis secara lebih terarah serta memperkuat praktik tata kelola perusahaan agar setiap lini bisnis dapat berkembang optimal dan menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi perusahaan serta seluruh pemangku kepentingan.
Transformasi TLKM 30 juga sejalan dengan agenda total governance reset pada pengelolaan BUMN yang didorong oleh misi Danantara, dengan menekankan penguatan praktik tata kelola yang transparan, prudent, serta disiplin dalam pengelolaan aset perusahaan.
Upaya tersebut mencakup normalisasi dan peningkatan kualitas aset, praktik pengeluaran yang akuntabel, serta penyelarasan pencatatan keuangan agar laporan perusahaan semakin akurat dan wajar.
Dalam implementasinya, Telkom mendorong peningkatan operational excellence melalui penguatan disiplin, perbaikan proses bisnis, serta pengelolaan alokasi modal yang lebih efisien.
Hal ini juga didukung oleh transformasi budaya perusahaan yang menekankan kolaborasi, akuntabilitas, serta orientasi pada kinerja dan penciptaan nilai. Langkah-langkah tersebut mengakselerasi efisiensi pengelolaan sumber dayasehingga fundamental bisnis Telkom semakin solid utamanya di tengah tantangan ketidakpastian global dan kebutuhan akan kemandirian infrastruktur digital. Sebagai perusahaan yang dual listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE), Telkom juga senantiasa memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia maupun di Amerika Serikat.
Sejumlah progres transformasi mulai terlihat sejak implementasi TLKM 30 pada pertengahan tahun lalu. Salah satunya adalah pembentukan entitas FiberCo melalui spin-off sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia sebagai langkah pertama untuk unlocking value pada bisnis infrastruktur digital.
InfraNexia akan fokus mengembangkan bisnis fiber sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan investasi, serta membuka peluang network sharing dan kemitraan strategis guna menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
Ke depan, entitas ini diharapkan menjadi salah satu engine of growth baru bagi TelkomGroup. Selain FiberCo, Telkom juga menyiapkan langkah strategis untuk membuka potensi nilai dari aset infrastruktur lainnya, termasuk bisnis data center dan tower melalui NeutraDC dan Mitratel.
Sebagai bagian dari langkah transformasi, Telkom juga menjalankan streamlining melalui penataan portofolio entitas usaha di lingkup TelkomGroup. Perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai entitas anak usaha guna memastikan fokus pada core business di sektor telekomunikasi dan digital, sekaligus menciptakan struktur organisasi yang lebih ramping dan efisien.
Implementasi awal dari upaya streamlining tersebut adalah penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Sale and Purchase Agreement/CSPA) yang telah dilakukan oleh PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra) menuju divestasi penuh atas PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta entitas anak usahanya TelkoMedika yang bergerak di bidang third party administrator pada sektor kesehatan sebagai bentuk penataan portofolio bisnis non-core di TelkomGroup. Pada saat yang sama, Telkom turut memperkuat peran perusahaan sebagai strategic holding.
Dalam model ini, Telkom berfokus pada fungsi value creation dan governance oversight, sementara operasional bisnis dijalankan oleh entitas operating company yang menjadi penggerak utama pada masing-masing lini usaha.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa TelkomGroup akan memperkuat struktur bisnis melalui operating company yang berfokus pada empat pilar utama sebagai mesin pertumbuhan perusahaan ke depan, yakni B2C, B2B ICT, Digital Infrastructure, serta International Business.
Melalui struktur ini, Telkom berupaya memastikan setiap lini bisnis memiliki fokus yang lebih tajam sekaligus mampu bergerak lebih lincah dalam mengoptimalkan potensi ekosistem digital di Indonesia.
“TLKM 30 kami jalankan untuk membuka nilai yang lebih besar dari seluruh potensi bisnis Telkom sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan kepada negara dan pemegang saham, melalui peningkatan nilai dan dividen. Pada saat yang sama, dengan dukungan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan, transformasi ini kami dorong untuk memberikan dampak positif bagi perekonomian dan masyarakat melalui layanan konektivitas digital yang semakin merata dan berkualitas,” tutup Dian.
Telkom Perkuat Fundamental dan Tata Kelola Lewat Eksekusi TLKM 30
Tahun 2026 menjadi momentum eksekusi bagi Telkom dalam membuktikan implementasi strategi transformasi TLKM 30 guna memperkuat fundamental bisnis. [622] url asal
#telkom #mitratel #b2c #cspa #fiberco #danantara #business-update #telkomgroup #tlkm-30 #jakarta #infranexia #infrastructure #new-york-stock-exchange #nyse #dian-siswarini #purchase-agreement #amerika
(CNN Indonesia - Ekonomi) 11/03/26 15:35
v/161965/
PT Telkom Indonesia (Persro) Tbk (Telkom) menjadikan transformasi TLKM 30 sebagai agenda reformasi menyeluruh guna memperkuat fundamental bisnis.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini menyampaikan bahwa tahun 2026 menjadi momentum eksekusi bagi Telkom dalam membuktikan implementasi strategi tersebut, yang mencakup penataan portofolio bisnis, penguatan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), restrukturisasi dan streamlining anak usaha, serta pembentukan strategicholding untuk mendorong operational excellence dan membuka nilai aset TelkomGroup.
TLKM 30 dirancang sebagai strategi transformasi jangka menengah hingga 2030 untuk meningkatkan kinerja dan daya saing Telkom sebagai enabler ekosistem digital. Melalui inisiatif ini, Telkom melakukan penataan portofolio bisnis secara lebih terarah, serta memperkuat praktik tata kelola perusahaan agar setiap lini bisnis dapat berkembang optimal dan berkelanjutan, baik bagi perusahaan maupun seluruh pemangku kepentingan.
"TLKM 30 kami jalankan untuk membuka nilai yang lebih besar dari seluruh potensi bisnis Telkom, sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan kepada negara dan pemegang saham, melalui peningkatan nilai dan dividen. Pada saat yang sama, dengan dukungan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan, transformasi ini kami dorong untuk memberikan dampak positif bagi perekonomian dan masyarakat melalui layanan konektivitas digital yang semakin merata dan berkualitas," papar Dian dalam agenda TelkomGroup Business Update di Jakarta, Jumat (6/3).
Transformasi TLKM 30 ini juga sejalan dengan agenda total governance reset pada pengelolaan BUMN dari Danantara, dengan menekankan penguatan praktik tata kelola yang transparan, prudent, serta disiplin dalam pengelolaan aset perusahaan.
Upaya ini mencakup normalisasi dan peningkatan kualitas aset, praktik pengeluaran yang akuntabel, serta penyelarasan pencatatan keuangan agar laporan perusahaan semakin akurat dan wajar.
Dalam implementasinya, Telkom mendorong peningkatan operational excellence melalui penguatan disiplin, perbaikan proses bisnis, serta pengelolaan alokasi modal yang lebih efisien. Hal ini didukung oleh transformasi budaya perusahaan yang menekankan kolaborasi, akuntabilitas, serta orientasi pada kinerja dan penciptaan nilai.
Langkah-langkah itu mengakselerasi efisiensi pengelolaan sumber daya, sehingga fundamental bisnis Telkom semakin solid di tengah tantangan ketidakpastian global dan kebutuhan akan kemandirian infrastruktur digital. Sebagai perusahaan yang dual listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE), Telkom menegaskan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia maupun di Amerika Serikat.
Sejumlah progres transformasi mulai terlihat sejak implementasi TLKM 30 pada pertengahan tahun lalu. Salah satunya, pembentukan entitas FiberCo melalui spin-off sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia.
InfraNexia akan fokus mengembangkan bisnis fiber, meningkatkan efisiensi operasional dan investasi, serta membuka peluang network sharing dan kemitraan strategis. Ke depannya, entitas ini diharapkan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi TelkomGroup.
Selain FiberCo, Telkom juga menyiapkan langkah strategis untuk membuka potensi nilai dari aset infrastruktur lainnya, termasuk bisnis data center dan tower melalui NeutraDC dan Mitratel.
Sebagai bagian dari langkah transformasi, Telkom juga menjalankan streamlining melalui penataan portofolio entitas usaha di lingkup TelkomGroup. Perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai entitas anak usaha guna memastikan fokus di sektor telekomunikasi dan digital, serta menciptakan struktur organisasi yang lebih ramping dan efisien.
Implementasi awal dari upaya streamlining adalah penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Sale and Purchase Agreement/CSPA) oleh PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra) menuju divestasi penuh atas PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta entitas anak usahanya, TelkoMedika, yang bergerak di bidang third party administrator pada sektor kesehatan sebagai bentuk penataan portofolio bisnis non-core di TelkomGroup.
Pada saat yang sama, Telkom turut memperkuat peran perusahaan sebagai strategic holding. Dalam model ini, Telkom berfokus pada fungsi value creation dan governance oversight, sementara operasional bisnis dijalankan oleh entitas operating company sebagai penggerak utama pada masing-masing lini usaha.
Dian menambahkan, TelkomGroup akan memperkuat struktur bisnis melalui operating company yang berfokus pada empat pilar utama, yakni B2C, B2B ICT, Digital Infrastructure, serta International Business. Melalui struktur ini, Telkom berupaya memastikan setiap lini bisnis memiliki fokus lebih tajam, yang mampu bergerak lebih lincah dalam mengoptimalkan potensi ekosistem digital di Indonesia.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56