Bisnis.com, JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto mencatatkan capaian signifikan dalam diplomasi ekonomi pada kuartal I/2026. Melalui rangkaian kunjungan ke sejumlah negara mitra strategis, Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi senilai total Rp1.314,71 triliun.
Tentunya, capaian komitmen investasi sebesar Rp1.314,71 triliun hasil safari global Presiden Prabowo Subianto menuai apresiasi sekaligus catatan kritis dari kalangan ekonom. Nilai jumbo tersebut dinilai sebagai sinyal positif kepercayaan investor global, namun belum menjamin peningkatan daya saing ekonomi Indonesia secara struktural.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman menilai bahwa angka komitmen investasi kerap kali tidak sejalan dengan realisasi di lapangan.
“Capaian komitmen investasi Rp1.314,71 triliun ini memang kuat sebagai signal of confidence, tetapi belum otomatis mencerminkan peningkatan daya saing struktural Indonesia,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (6/4/2026).
Dia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kesenjangan cukup lebar antara komitmen dan realisasi investasi. Pada 2025, realisasi investasi Indonesia berada di kisaran Rp1.900 triliun—angka yang secara historis sering kali lebih kecil dibandingkan total komitmen yang diumumkan pemerintah.
“Artinya, daya saing Indonesia belum ditentukan oleh kemampuan menarik MoU, melainkan oleh kemampuan mengeksekusi proyek secara cepat, pasti, dan efisien,” tegasnya.
Meski begitu, Rizal juga menyoroti posisi Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara pesaing di kawasan seperti Vietnam, khususnya dalam integrasi rantai pasok dan kemudahan ekspor.
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan klasik, mulai dari biaya logistik tinggi, ketidakpastian regulasi, hingga inkonsistensi kebijakan.
“Diplomasi ini positif, tetapi belum cukup untuk memastikan Indonesia menjadi destinasi utama di kawasan tanpa perbaikan fundamental di dalam negeri,” jelasnya.
Bottleneck di Tahap Implementasi
Lebih lanjut, Rizal menekankan bahwa tantangan utama justru terletak pada tahap implementasi proyek di dalam negeri. Sejumlah persoalan seperti tumpang tindih regulasi pusat dan daerah, kesiapan lahan, hingga kepastian utilitas masih menjadi penghambat utama.
“Persoalan klasik seperti tumpang tindih regulasi pusat-daerah, kesiapan lahan, kepastian utilitas (energi dan infrastruktur), serta kualitas SDM masih menjadi bottleneck utama,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dia juga mengingatkan risiko enclave economy, di mana investasi besar tidak memiliki keterkaitan kuat dengan ekonomi domestik.
“Ini yang sering menjelaskan mengapa investasi besar tidak selalu berbanding lurus dengan penciptaan nilai tambah dan lapangan kerja,” tambahnya.
Dalam pandangannya, diplomasi ekonomi harus diiringi reformasi konkret di dalam negeri, seperti penyederhanaan perizinan berbasis waktu, penguatan koordinasi pusat-daerah, serta pemberian insentif berbasis kinerja.
“Diplomasi ekonomi harus diikuti dengan reformasi eksekusi. Tanpa itu, angka komitmen hanya akan menjadi headline, bukan engine of growth,” tegas Rizal.
Rizal juga menyoroti bahwa dampak investasi terhadap penciptaan lapangan kerja sangat bergantung pada jenis proyek yang masuk. Jika didominasi sektor padat modal seperti hilirisasi berbasis teknologi, maka efek terhadap penyerapan tenaga kerja cenderung terbatas dalam jangka pendek.
Selain itu, kondisi global seperti ketegangan geopolitik dan volatilitas harga energi berpotensi membuat investor menunda realisasi investasi.
Realisasi Masih Jadi PR Besar
Senada, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira menilai bahwa persoalan utama memang terletak pada realisasi investasi.
Dia mencontohkan, komitmen investasi sebesar Rp294,9 triliun hasil kunjungan ke enam negara pada November 2025 belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA) pada awal 2026.
“Belum terlihat dari komitmen jadi realisasi investasi sehingga antara komitmen dan realisasi gap-nya masih besar,” ujarnya.
Bhima menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah proyek-proyek investasi masih membutuhkan proses uji kelayakan (feasibility study) yang panjang, sehingga memperlambat eksekusi. Selain itu, ketidakpastian kebijakan juga menjadi faktor penghambat, termasuk isu perubahan aturan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Banyak ketidakpastian kebijakan… ikut jadi pertimbangan sebelum financial closing suatu proyek,” jelasnya.
Faktor Global Picu Sikap Wait and See
Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik global seperti konflik yang memicu inflasi energi turut memengaruhi keputusan investor. “Investor wait and see dulu karena khawatir asumsi dalam perencanaan proyek berubah signifikan,” imbuh Bhima.
Dengan demikian, capaian diplomasi ekonomi pemerintah memang membuka peluang besar. Namun tanpa perbaikan fundamental di dalam negeri, terutama dalam eksekusi proyek dan kepastian regulasi, angka komitmen tersebut berisiko hanya menjadi pencapaian di atas kertas tanpa dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan data Sekretariat Presiden menunjukkan, agenda lawatan luar negeri tersebut tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga diarahkan untuk menarik investasi di sektor-sektor prioritas, mulai dari energi, mineral kritis, hingga teknologi masa depan.
Inggris Buka Keran Investasi Maritim
Kunjungan awal Prabowo pada 18—21 Januari 2026 ke Britania Raya menghasilkan komitmen investasi sebesar £4 miliar atau sekitar Rp90 triliun. Investasi ini difokuskan pada sektor maritim, termasuk pembangunan 1.582 kapal ikan, penguatan pendidikan, serta pengembangan ekosistem industri terkait.
Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia sekaligus meningkatkan produktivitas sektor perikanan nasional.
Agenda dilanjutkan ke Swiss, tepatnya di Davos, pada 21—23 Januari, yang menjadi ajang konsolidasi dengan pelaku ekonomi global. Meski tidak menghasilkan angka investasi langsung, forum ini dimanfaatkan untuk memperluas jejaring dan membuka peluang kerja sama.
Setelah itu, Prabowo bertolak ke Prancis pada 23—24 Januari guna memperkuat hubungan bilateral, khususnya di sektor pertahanan dan ekonomi.
Puncak komitmen investasi terjadi saat kunjungan ke Amerika Serikat pada 17—21 Februari 2026. Dalam lawatan tersebut, Indonesia berhasil mengamankan investasi senilai US$38,4 miliar atau sekitar Rp650 triliun melalui 11 nota kesepahaman (MoU).
Kesepakatan tersebut mencakup sektor strategis, antara lain mineral kritis dan mineral langka, pemulihan ladang minyak dan energi, komoditas pangan seperti jagung dan tekstil, teknologi semikonduktor, hingga pengembangan kawasan perdagangan bebas. Nilai investasi ini menjadi yang terbesar sepanjang kuartal I/2026 dan mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Kunjungan lanjutan ke London pada 23—24 Februari menitikberatkan pada kerja sama transfer teknologi. Salah satu kesepakatan penting adalah perjanjian kerangka kerja antara Danantara dan Arm Limited.
Kerja sama ini ditargetkan mampu melatih hingga 15.000 insinyur Indonesia, sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor teknologi tinggi.
Prabowo juga menyambangi Yordania dan Uni Emirat Arab pada akhir Februari. Di Abu Dhabi, pembahasan difokuskan pada peningkatan investasi UEA di Indonesia, terutama di sektor infrastruktur dan energi.
Langkah ini mempertegas strategi diversifikasi sumber investasi Indonesia, tidak hanya bergantung pada negara Barat, tetapi juga kawasan Timur Tengah.
Jepang dan Korea Selatan Perkuat Industri Masa Depan
Memasuki akhir kuartal I/2026, Indonesia mengamankan komitmen investasi besar dari Asia Timur. Kunjungan ke Jepang pada 29—31 Maret menghasilkan investasi senilai US$23,63 miliar atau sekitar Rp401,71 triliun melalui 11 MoU.
Kerja sama tersebut mencakup sektor energi dan sumber daya alam, teknologi dan digital, keuangan dan investasi hingga gaya hidup (lifestyle).
Sementara itu, lawatan ke Korea Selatan pada 31 Maret—2 April membukukan komitmen investasi sebesar US$10,2 miliar atau sekitar Rp173 triliun melalui 10 MoU dengan sektor prioritas meliputi ekonomi, energi, digital, kesehatan, hingga industri masa depan.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan kunjungan kenegaraan ke Republik Korea menghasilkan capaian konkret berupa komitmen kerja sama bisnis dengan nilai yang sangat signifikan.
Teddy menjelaskan bahwa total nilai kesepakatan bisnis yang berhasil dihimpun dari kedua negara mencapai US$33,89 miliar atau setara dengan Rp575 triliun.
“Dari Jepang tercatat komitmen bisnis sebesar US$23,63 miliar atau setara Rp401,7 triliun, sementara dari Republik Korea mencapai US$10,26 miliar atau setara Rp174 triliun. Sehingga total keseluruhan mencapai US$33,89 miliar atau sekitar Rp575 triliun,” ujar Teddy.
Lebih lanjut, Teddy menegaskan bahwa keterlibatan langsung Presiden Prabowo dalam dialog dengan para pelaku usaha menjadi faktor kunci dalam mendorong terwujudnya kesepakatan tersebut.
“Bapak Presiden tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi aktif mendengarkan, merespons cepat, dan memberikan solusi serta perintah langsung atas berbagai masukan dari dunia usaha. Ini yang membuat kepercayaan investor semakin kuat,” tandas Teddy.
Konsolidasi Diplomasi Ekonomi
Secara keseluruhan, rangkaian kunjungan ini mencerminkan strategi agresif pemerintah dalam mendorong diplomasi ekonomi. Tidak hanya berburu investasi, pemerintah juga menekankan transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan industri berbasis nilai tambah.
Dengan capaian Rp1.314,71 triliun dalam satu kuartal, pemerintah menempatkan investasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan realisasi dari seluruh komitmen tersebut agar benar-benar berdampak pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan industri domestik, serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani menyebutkan bahwa keterlibatan langsung Presiden Prabowo dalam berdialog dengan pelaku usaha menjadi faktor kunci yang mendorong respons positif dari dunia usaha.
“Mereka bisa menyampaikan langsung ke Bapak Presiden inputnya, kemudian feedback-nya, dan juga apa kendala-kendalanya yang memang mereka ada di Indonesia dan Bapak Presiden sangat responsif dan sangat terbuka. Dan ini sangat-sangat direspons positif oleh dunia usaha,” ujar Rosan pada Rabu (1/4/2026).
Lebih lanjut, Rosan mengungkapkan bahwa kehadiran Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia turut meningkatkan kepercayaan investor untuk melakukan investasi bersama (co-investment).
Termasuk, Rosan juga menyoroti bahwa banyak investor yang telah beroperasi di Indonesia kini justru berkomitmen untuk memperluas investasinya ke tahap berikutnya.
Menurut Rosan, kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi merupakan salah satu faktor utama yang diakui oleh investor sebagai fondasi penting dalam pengambilan keputusan investasi jangka panjang.
“Karena itu adalah modal utama dari setiap investasi yang merupakan long term commitment kepada Indonesia. Dan ini juga diakui oleh mereka semua sehingga investasi yang masuk itu mereka malah menyampaikan untuk yang fase kedua,” jelasnya.
Dia pun menegaskan bahwa pemerintah akan terus menindaklanjuti berbagai kesepakatan yang telah dicapai agar segera terealisasi dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
“Kami meyakini ke depannya investasi yang masuk ke Indonesia ini akan terus berkembang, dan memberikan, kembali lagi yang Pak Presiden sampaikan, manfaat untuk kita semua,” pungkas Rosan.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada Kuartal I/2026
Tanggal | Negara | Tempat | Komitmen Nilai Investasi | Rincian |
18—21 Januari | Britania Raya | London | £4 miliar atau kurang lebih Rp90 triliun | Inggris berkomitmen menanamkan investasi, difokuskan pada sektor maritim, termasuk pembangunan 1.582 kapal ikan, pendidikan, dan ekosistem terkait. |
21—23 Januari | Swiss | Davos | - | - |
23—24 Januari | Paris | Paris | - | - |
17—21 Februari | Amerika Serikat | Washington D.C | US$38,4 miliar atau sekitar Rp650 triliun | 11 Memorandum of Understanding (MoU) Fokus: - Mineral kritis dan mineral jarang.
- Pemulihan ladang minyak dan energi.
- Komoditas pangan (jagung) dan tekstil.
- Teknologi semikonduktor.
- Kawasan perdagangan bebas.
|
23—24 Februari | Britania Raya | London | Transfer teknologi | Perjanjian kerangka kerja Danantara-Arm Limited diharapkan menjadi dasar diadakannya pelatihan untuk 15.000 insinyur Indonesia |
24—25 Februari | Yordania | Amman | - | - |
25—26 Februari | Uni Emirat Arab | Abu Dhabi | - | Pembahasan peningkatan investasi UEA di RI |
29—31 Maret | Jepang | Tokyo | US$23,63 miliar atau sekitar Rp401,71 triliun | 11 Memorandum of Understanding (MoU) Fokus di bidang: - Energi dan Sumber Daya Alam
- Teknologi dan Digital
- Ekonomi, Investasi dan keuangan
- Lifestyle
|
31 Mar—2 April | Korea Selatan | Seoul | US$10,2 miliar atau sekitar Rp173 triliun | 10 Memorandum of Understanding (MoU) Sektor prioritas, mulai dari ekonomi, energi, digital, hingga kesehatan dan industri masa depan. |
Total Komitmen Investasi sepanjang Kuartal I/2026 | | | Rp 1.314,71 triliun | |
Sumber: Sekretariat Presiden (diolah) 2026