#30 tag 24jam
Peneliti Ungkap Merebus Air Efektif Kurangi Partikel Plastik dalam Air Minum
Merebus dan menyaring air efektif mengurangi mikroplastik hingga 90%, terutama pada air dengan mineral tinggi, menurut penelitian dari China. [668] url asal
#merebus-air #mengurangi-mikroplastik #air-minum #partikel-plastik #air-keran #nanoplastik #saring-air #air-sadah #kalsium-karbonat #risiko-kesehatan #plastik-dalam-tubuh #mikrobioma-usus #resistensi-a
(Bisnis.Com - Terbaru) 02/06/26 05:45
v/237044/
Bisnis.com, JAKARTA – Penelitian terbaru menemukan kebiasan merebus air minum sebelum dikonsumsi berpotensi dapat membantu mengurangi paparan mikroplastik dan nanoplastik yang masuk ke tubuh manusia melalui air keran.
Mengutip penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology Letters, tim peneliti dari China menemukan proses merebus air lalu menyaring endapannya mampu mengurangi kandungan nano dan mikroplastik di dalam air keran. Metode sederhana tersebut dinilai cukup efektif dan dapat dilakukan masyarakat menggunakan peralatan dapur biasa.
Dalam penelitian itu, para ilmuwan menguji air lunak dan air sadah atau hard water yang mengandung mineral lebih tinggi. Air kemudian dicampur partikel nano dan mikroplastik sebelum direbus dan disaring untuk melihat seberapa besar pengurangan partikel plastik yang terjadi.
Hasil penelitian menunjukkan proses perebusan dan penyaringan mampu mengurangi partikel nano dan mikroplastik hingga 90 persen pada beberapa jenis air. Efektivitasnya disebut berbeda tergantung kandungan mineral dalam air yang digunakan.
“Partikel nano dan mikroplastik dalam air keran menjadi perhatian global karena berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia melalui konsumsi air,” tulis peneliti dalam publikasi tersebut, dikutip Kamis (21/5/2026).
Peneliti menjelaskan air dengan kandungan mineral lebih tinggi atau hard water justru mampu mengurangi partikel plastik lebih banyak setelah direbus. Kondisi tersebut terjadi karena pemanasan membuat kalsium karbonat atau kerak kapur terbentuk dan menangkap partikel plastik di permukaannya.
Kerak kapur yang biasanya muncul di ketel atau panci setelah air direbus disebut membantu menjebak partikel plastik sehingga lebih mudah disaring. Peneliti menyebut partikel plastik yang terperangkap kemudian dapat dipisahkan menggunakan saringan sederhana seperti saringan teh berbahan stainless steel.
“Hasil kami menunjukkan efisiensi pengendapan nanoplastik meningkat seiring naiknya tingkat kesadahan air saat direbus,” tulis tim peneliti.
Dalam penelitian tersebut, air dengan kadar kalsium karbonat tinggi mampu mengurangi partikel plastik hingga sekitar 84 persen sampai 90 persen. Sementara pada air lunak, pengurangan partikel plastik tetap terjadi meski jumlahnya lebih rendah, yakni sekitar 25 persen.
Di sisi lain, penelitian sebelumnya juga menemukan partikel plastik seperti polystyrene, polyethylene, polypropylene, dan polyethylene terephthalate atau PET banyak ditemukan dalam air minum sehari-hari. Partikel tersebut berasal dari berbagai sumber seperti pakaian, peralatan dapur, produk perawatan tubuh, hingga limbah plastik rumah tangga.
Tinjauan literatur dari The University of Texas at Arlington juga menyebut sebagian besar paparan mikroplastik manusia diduga berasal dari air minum. Instalasi pengolahan air limbah disebut memang mampu mengurangi partikel plastik, tetapi belum sepenuhnya efektif menghilangkannya.
Secara global, produksi plastik juga terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Peneliti menyebut sekitar 9 miliar ton plastik telah diproduksi sejak awal penggunaan plastik modern dan sebagian besar kini terurai menjadi partikel kecil yang menyebar ke lingkungan.
Partikel plastik tersebut kini ditemukan hampir di berbagai tempat, termasuk dalam tubuh manusia. Sejumlah penelitian sebelumnya juga mulai mengaitkan mikroplastik dengan gangguan mikrobioma usus hingga peningkatan resistensi antibiotik.
Selain penelitian laboratorium, data paparan harian nano dan mikroplastik melalui air minum juga menunjukkan perbedaan cukup besar antarwilayah dunia. Grafik penelitian memperlihatkan konsumsi air keran menghasilkan paparan partikel plastik lebih tinggi dibandingkan air matang di hampir semua kawasan.
Afrika tercatat menjadi wilayah dengan paparan tertinggi dari air keran, mencapai sekitar 620 partikel nano dan mikroplastik per hari. Asia berada di posisi berikutnya dengan sekitar 500 partikel per hari, sedangkan Amerika Selatan sekitar 400 partikel per hari.
Sementara itu, Eropa, Amerika Utara, dan Oseania memiliki tingkat paparan lebih rendah dari air keran, yakni sekitar 50 hingga 100 partikel per hari. Pada air matang, jumlah partikel yang masuk ke tubuh terlihat jauh lebih rendah di hampir semua wilayah.
Afrika tetap menjadi wilayah dengan paparan tertinggi dari air matang sekitar 150 hingga 170 partikel per hari. Asia berada di kisaran sekitar 150 partikel per hari, sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan Oseania hanya sekitar 20 hingga 60 partikel per hari.
Peneliti menilai kebiasaan merebus air minum berpotensi menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan partikel plastik dalam tubuh. Mereka juga berharap penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk memahami dampak kesehatan jangka panjang dari mikroplastik serta efektivitas metode perebusan air dalam kehidupan sehari-hari.
“Minum air matang tampaknya menjadi strategi jangka panjang yang memungkinkan untuk mengurangi paparan nano dan mikroplastik pada manusia,” tulis peneliti dalam laporan tersebut.
Riset: Biji Kelor Mampu Serap 98% Mikroplastik dalam Air Minum
Ekstrak biji kelor 98,5% efektif menghilangkan mikroplastik dari air keran. Ini lebih tinggi daripada alumunium dan tawas yang sering dipakai dalam sistem filtrasi. [568] url asal
#mikroplastik #daun-kelor #update-me #ekonomi-karbon
(Katadata - Ekonomi Hijau) 13/05/26 18:35
v/224437/
Pohon moringa atau pohon kelor sudah lama dimanfaatkan masyarakat di bidang kesehatan. Dalam studi terbaru, tanaman dengan kandungan nutrisi tinggi ini juga terbukti efektif menghilangkan mikroplastik dalam air.
Riset bertajuk ‘Removal of Microplastics from Drinking Water by Moringa oliefera Seed: Comparative Performance with Alum in Direct and in-Line Filtration Systems’ (2026) mengungkap, ekstrak biji kelor sama efektifnya dengan bahan kimia yang umum digunakan untuk menghilangkan mikroplastik pada air minum.
Adriano G. dos Reis, salah satu peneliti, menjelaskan pengujian fokus pada mikroplastik polyvinyl chloride (PVC), karena termasuk jenis plastik yang paling bahaya dan banyak ditemukan dalam air minum.
Sebagai informasi, mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil – bisa mencapai 1 mikrometer – yang apabila masuk ke dalam tubuh, dapat memunculkan berbagai risiko kesehatan. Masalahnya, partikel ini banyak ditemukan di berbagai tempat.
Melansir CNN, sebuah studi pada 2024 mengungkap, mikroplastik telah mencemari 83% air keran yang diuji di berbagai belahan dunia. Mikroplastik juga telah ditemukan di dalam tubuh manusia, seperti otak, organ reproduksi, dan sistem kardiovaskular.
Pengujian dilakukan dengan mikroplastik berukuran rata-rata 18,8 mikrometer – sekitar seperempat rata-rata tebal rambut manusia – dan menyaringnya dengan ekstrak biji kelor dalam sistem filtrasi. Hasilnya, ekstrak biji tersebut 98,5% efektif menghilangkan mikroplastik dari air keran.
Efisiensi ini hampir sebanding dengan koagulan – zat yang membuat partikel kecil dalam air saling menempel – kimia yang umum digunakan, seperti aluminium sulfat atau tawas. Para ilmuwan bahkan menilai kinerja biji kelor ini lebih baik daripada tawas, saat digunakan dalam air dengan pH tinggi (alkalis).
Biji Kelor Mudah Terurai dan Risiko Toksisitasnya Rendah
Pemanfaatan biji kelor memiliki sejumlah keunggulan. Ini antara lain termasuk sumber daya yang dapat diperbarui, mudah terurai secara alami, tidak menghasilkan banyak lumpur, dan memiliki risiko toksisitas lebih rendah. Sementara, penggunaan bahan aluminium seperti tawas berisiko menyebabkan gangguan pada saraf.
Profesor Ilmu Farmasi dari Health Sciences Center University of New Mexico, Matthew Campen, mengatakan bahwa produk alami ini dapat menggantikan sistem filtrasi berbasis aluminium.
“Mungkin menawarkan solusi yang lebih murah dan lebih berkelanjutan untuk menghilangkan mikroplastik PVC,” ucap dia, dikutip dari CNN. Sebagai informasi, Campen tak terlibat dalam penelitian ini.
Jika ditarik lebih jauh, pemanfaatan biji kelor dalam sistem filtrasi juga akan mengurangi kebutuhan penambangan aluminium, yang berdampak negatif pada lingkungan.
Akan tetapi, butuh biji kelor dalam jumlah besar jika dimanfaatkan dalam instalasi pengolahan air perkotaan besar dengan aliran air tinggi. Inovasi ini lebih cocok untuk komunitas kecil atau tempat dimana koagulan kimia sulit diakses.
Namun, semakin banyak biji yang digunakan, semakin banyak pula residu organik yang tertinggal di dalam air. Partikel ini juga perlu dibersihkan.
Sebab itu, menurut Campen, perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana ekstrak biji kelor terdegradasi, kemudian apa yang terjadi pada PVC yang ditangkap, hingga seberapa mudah dan hemat konsep ini diterapkan.
“Penting juga untuk melihat apakah moringa efektif melawan jenis mikroplastik lainnya, serta nanoplastik,” ujar dia. Ukuran nanoplastik ini lebih kecil dibandingkan mikroplastik.
Ilmuwan dari Inggris dan Brasil yang menyusun riset tersebut telah mempelajari biji kelor selama satu dekade. Mereka mengamati peran biji kelor sebagai ‘koagulan’ atau zat yang menyebabkan partikel-partikel kecil dalam air saling menempel dan kemudian tersaring.
Tebaran mikroplastik di lautan hingga pegunungan, membuat para ilmuwan ini meneliti lebih lanjut potensi biji kelor untuk menghilangkan mikroplastik. Namun jauh sebelum itu, kelor sudah lama digunakan untuk menjernihkan air. Bukti penggunaannya bahkan ditemukan pada peradaban Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno.
Aktivis Greenpeace Soroti Ancaman Sampah Plastik pada Pembukaan KTT Asean 2026
Aktivis Greenpeace mendesak Asean atasi krisis sampah plastik dan bahan bakar fosil pada KTT 2026, menyoroti dampak kesehatan dan ekonomi di Asia Tenggara. [744] url asal
#aktivis-greenpeace #ancaman-sampah-plastik #ktt-asean-2026 #krisis-sampah #bahan-bakar-fosil #krisis-iklim #asia-tenggara #polusi-plastik #perubahan-iklim #bencana-sampah #mikroplastik #ketidakadilan
(Bisnis.Com - Terbaru) 08/05/26 15:40
v/215692/
Bisnis.com, JAKARTA — Aktivis Greenpeace Asia Tenggara menggelar aksi damai pada hari pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 Asean.
Melansir siaran pers Greenpeace, para aktivis mendesak keketuaan Asean untuk segera mengatasi krisis sampah dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang dinilai memperparah dampak krisis iklim di Asia Tenggara. Desakan ini muncul di tengah maraknya bencana terkait sampah di berbagai negara kawasan.
Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Malaysia Dunxin Wen menilai rangkaian bencana yang terjadi di Asia Tenggara menunjukkan adanya kegagalan sistemik, bukan sekadar insiden yang berdiri sendiri.
“Krisis ini adalah krisis bersama bagi seluruh kawasan Asia Tenggara yang membutuhkan respon kolektif yang berakar pada keadilan, kesetaraan, dan solidaritas. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang menimpa komunitas yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis ini. Para pemimpin Asean tidak bisa hanya datang ke KTT, menandatangani deklarasi, dan menyebutnya sebagai terobosan. Kita juga berhak atas lingkungan yang aman, bersih, sehat, dan berkelanjutan,” katanya.
Selain aktivis dari Malaysia, perwakilan Greenpeace Asia Tenggara (GPSEA) dari sejumlah negara lain juga menyuarakan tuntutan serupa kepada para pemimpin Asean. Mereka menilai KTT Asean ke-48 menjadi momentum penting bagi para pemimpin kawasan untuk menangani krisis ganda, yakni polusi plastik dan perubahan iklim.
Berbagai dampak dari polusi sampah plastik pun telah dirasakan di sejumlah negara. Pada awal 2026, masyarakat Filipina dilanda bencana longsor sampah di Kota Cebu dan Rizal. Tak lama kemudian, Indonesia juga mengalami kejadian serupa di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang menewaskan tujuh pekerja dan warga sekitar.
Sementara itu, sejumlah tempat pembuangan sampah di Thailand dan Malaysia mengalami kebakaran yang menyebabkan wilayah di sekitarnya diselimuti asap beracun.
Para aktivis menilai krisis plastik kini telah menjadi ancaman regional yang serius. Enam negara Asean tercatat menghasilkan sekitar 31 juta ton sampah plastik setiap tahun.
Selain menimbulkan risiko kesehatan akibat bahan kimia berbahaya dalam plastik, mikroplastik, serta polusi beracun dari tempat pembuangan sampah, krisis ini juga memicu kerugian ekonomi yang besar. Mikroplastik disebut mengancam hingga 14% tanaman pangan pokok global, sementara polusi laut menyebabkan kerugian jasa ekosistem hingga triliunan dolar.
Para aktivis menyebut, beban terbesar dari dampak tersebut dinilai lebih banyak ditanggung kelompok rentan dan terpinggirkan, seperti masyarakat berpenghasilan rendah, perempuan, dan Masyarakat Adat, sehingga memperdalam ketidakadilan lingkungan dan sosial di kawasan.
“Dampak buruk dari ketergantungan plastik dapat kita lihat dengan mata telanjang. Plastik berbahaya bagi kesehatan, mencemari ekosistem, mengkontaminasi makanan dan air, serta mengganggu perekonomian kita. Terlepas dari bahayanya bagi manusia dan iklim, para pemimpin di kawasan ini gagal meminta pertanggungjawaban perusahaan atas polusi dan dampak yang mereka timbulkan. Asean tidak bisa terus mengabaikan krisis ini,” tegas Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Filipina, Marian Ledesma.
Perwakilan Greenpeace Thailand, Pichmol Rugrod, juga menekankan bahwa krisis plastik merupakan dampak dari model ekonomi linear ekstrak-produksi-buang. Dia menyebut sekitar 99% plastik berasal dari industri petrokimia yang berkaitan erat dengan bahan bakar fosil.
“Alih-alih memperdalam ketergantungan pada plastik berbasis fosil, Asean dapat memimpin jalur yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan yang lebih sedikit terpapar volatilitas harga bahan bakar fosil, risiko rantai pasokan, polusi plastik, dampak kesehatan, dan dampak iklim,” ujarnya.
Greenpeace pun mendesak Asean mengadopsi pendekatan berbasis hak asasi manusia dalam menangani polusi plastik. Mereka mendorong transisi berkeadilan yang melibatkan kaum muda, perempuan, dan pekerja pengumpul sampah informal dengan menjunjung prinsip Persetujuan atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa).
Menurut Greenpeace, Asean dapat menciptakan masa depan kawasan yang lebih tangguh dengan menempatkan kesehatan manusia dan kesetaraan sosial di atas kepentingan korporasi.
“Kita tidak punya banyak waktu untuk berubah. Momentum ini harus menjadi titik balik untuk mengurangi plastik sekali pakai, mendorong sistem guna ulang, dan mempercepat transisi untuk keluar dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Jika perubahan tidak segera dilakukan, kita akan terus terkunci pada jebakan bahan bakar fosil, serta sulit bertransisi ke pilihan alternatif dan terbarukan,” tandas Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar.
Sebagai informasi, GPSEA juga telah menyusun rekomendasi agar Asean memasukkan intervensi “hulu” secara agresif ke dalam Rencana Aksi Regional (RPA). Rekomendasi tersebut tertuang dalam makalah yang dirilis menjelang KTT Asean.
Dalam dokumen itu, GPSEA mendorong pengurangan produksi plastik hingga 75% pada 2040 serta penghapusan total plastik sekali pakai yang bermasalah, seperti kemasan saset. Upaya tersebut dinilai perlu didukung melalui kerangka kerja regional yang mendorong sistem guna ulang dan isi ulang, lengkap dengan infrastruktur bersama serta insentif fiskal agar penerapannya berjalan berkelanjutan.
Dengan memprioritaskan pengelolaan sumber daya dibanding pembuangan limbah, Asean dinilai dapat mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan emisi karbon yang menyumbang sekitar 90% dari siklus hidup plastik.
Mimpi Buruk Pemanasan Global Akibat Timbunan Sampah Plastik di Samudra Pasifik
Mikroplastik dan nanoplastik menghasilkan dampak pemanasan sekitar 16% dari karbon hitam, atau jelaga, yang merupakan polutan udara yang sangat berbahaya. [857] url asal
#sampah-plastik #samudra-pasifik #ekonomi-karbon #mikroplastik #pemanasan-global #educate-me
(Katadata - Ekonomi Hijau) 06/05/26 13:57
v/213053/
Di Samudra Pasifik, tepatnya di antara Hawaii dan California, terdapat Great Pacific Garbage Patch, sebuah pusaran sampah plastik yang luasnya lebih dari dua kali lipat luas negara bagian Texas. Saat potongan-potongan plastik saling bertabrakan, mereka hancur menjadi partikel-partikel yang cukup kecil untuk terbawa angin ke udara.
Penelitian terbaru menunjukkan partikel-partikel plastik yang terlepas ke udara itu bakal memiliki dampak iklim yang dapat memengaruhi kita semua: pemanasan global.
Great Pacific Garbage Patch merupakan sumber utama mikroplastik dan nanoplastik yang terbawa udara. Namun, ada banyak tempat lain di mana partikel mikroplastik dapat terhempas ke langit, termasuk dari tempat pembuangan sampah, sampah di pinggir jalan, dan ban mobil.
Sebuah tim ilmuwan dari Tiongkok dan AS telah mempelajari komposisi dan perilaku plastik-plastik ini. Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature, pada Senin (4/5), para peneliti menemukan bahwa mikroplastik dan nanoplastik berkontribusi terhadap pemanasan global.
Sebagian besar penelitian tentang mikroplastik berfokus pada bahaya kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkannya. "Laporan ini mengungkap hubungan yang selama ini terabaikan antara polusi plastik dan perubahan iklim,” kata Hongbo Fu, salah satu penulis studi dan ilmuwan atmosfer di Universitas Fudan di Shanghai, seperti dikutip CNN.
Para ilmuwan memfokuskan penelitian mereka pada mikroplastik — yang umumnya berukuran sebesar penghapus pensil atau lebih kecil — serta nanoplastik, yaitu partikel-partikel terkecil yang ukurannya berkali-kali lipat lebih kecil daripada lebar rambut manusia. Mereka menganalisis warna, ukuran, dan komposisi kimianya untuk memahami lebih lanjut bagaimana partikel-partikel tersebut berinteraksi dengan sinar matahari.
Mereka ingin mengetahui apakah partikel-partikel tersebut memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa — yang berarti partikel-partikel tersebut akan memberikan pengaruh pendinginan pada planet ini — atau apakah partikel-partikel tersebut menyerap sinar matahari, yang akan memberikan dampak pemanasan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan kontribusi mikroplastik terhadap pemanasan global dapat diabaikan, tetapi analisis sering kali mengasumsikan partikel-partikel tersebut berwarna bening. Temuan terbaru dari para peneliti menunjukkan partikel mikroplastik yang mereka teliti berwarna-warni seperti pelangi.
Plastik berwarna, terutama merah, kuning, biru, dan hitam, menyerap cahaya sekitar 75 kali lebih banyak daripada plastik murni yang tidak berpigmen, demikian temuan studi tersebut. "Plastik-plastik tersebut berfungsi seperti kaos hitam, mereka menyerap panas,” kata Fu.
Ukuran juga menjadi faktor, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Semakin kecil partikelnya, semakin banyak sinar matahari yang dapat diserapnya, demikian temuan laporan tersebut. “Nanoplastik berukuran sangat kecil namun sangat berpengaruh. Partikel ini bertahan lebih lama di udara dan, dengan massa yang sama, menyerap sinar matahari jauh lebih banyak daripada mikroplastik,” kata Fu.
Dampak Pemanasan Plastik Berubah Seiring Waktu
Para ilmuwan juga menemukan dampak pemanasan plastik dapat berubah seiring waktu. Mereka secara artifisial menuakan partikel-partikel tersebut di laboratorium menggunakan lampu ultraviolet dan menemukan partikel putih cenderung menguning. Artinya, mereka menyerap lebih banyak sinar matahari. Partikel merah, di sisi lain, kadang-kadang memutih, artinya mereka memantulkan lebih banyak cahaya.
"Sebagian besar partikel berwarna lebih gelap, baik karena memang awalnya begitu atau menjadi gelap saat mengambang di atmosfer dan menua," kata Drew Shindell, penulis studi dan profesor ilmu Bumi di Duke University. Kemajuan besar dari makalah ini adalah manusia dapat memastikan efek bersih dari hampir semua partikel ini lebih banyak memanaskan daripada mendinginkan Bumi.
Efek pemanasan mungkin kecil jika dilihat dari skala global, tetapi para ilmuwan menilai hal itu tidak bisa dianggap remeh. Mikroplastik dan nanoplastik menghasilkan dampak pemanasan sekitar 16% dari karbon hitam, atau jelaga, yang merupakan polutan udara yang sangat berbahaya.
Di wilayah laut tempat plastik terperangkap dalam arus yang berputar, seperti Great Pacific Garbage Patch, dampak pemanasan sangat terasa dan mungkin melebihi karbon hitam. “Potongan-potongan plastik yang menghantam potongan plastik lainnya lah yang menyebabkan aliran material yang sangat besar ke atmosfer,” kata Shindell.
Para ahli mengatakan hasil studi ini menarik dan memperkuat temuan sebelumnya, namun memiliki keterbatasan yang signifikan.
“Yang baru di sini adalah angka-angkanya,” kata Zamin Kanji, pemimpin kelompok di Laboratorium Fisika Atmosfer di ETH Zürich, Swiss, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Studi ini secara sistematis mengukur ukuran dan pigmen berbagai jenis plastik serta dampaknya terhadap sinar matahari.
Temuan bahwa mikroplastik memiliki dampak pemanasan bukanlah hal baru. Kani merujuk pada sebuah studi tahun 2021 yang menyimpulkan hal yang sama. “Angka dalam studi terbaru ini lebih tinggi,” kata Kanji kepada CNN. Namun, jurnal sebelumnya memperkirakan dampak tersebut kemungkinan akan meningkat seiring dengan ketersediaan data yang lebih banyak, meningkatnya produksi plastik, dan terurai-nya plastik yang sudah ada di lingkungan.
"Kita tidak akan mendapatkan gambaran lengkap tentang dampak iklim sampai kita memiliki data yang lebih baik mengenai berapa banyak plastik yang ada di atmosfer. Ini akan memakan waktu lama untuk mengukurnya secara akurat,” katanya.
Natalie Mahowald, Ketua Departemen Ilmu Bumi dan Atmosfer di Cornell University, yang juga tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan studi tersebut menunjukkan tingkat mikroplastik saat ini memiliki dampak iklim yang sangat kecil, meskipun hal itu dapat berubah jika tingkatnya meningkat secara signifikan.
“Menurut saya, dampak paling penting dari mikroplastik kemungkinan besar terkait dengan kesehatan, tetapi kita masih belum tahu banyak tentang hal itu,” kata Mahowald kepada CNN.
Para penulis studi mengatakan, sangat sulit untuk mengukur secara tepat berapa banyak partikel plastik yang ada di udara, tetapi mereka yakin meskipun ada ketidakpastian ini, dampak bersihnya adalah pemanasan. “Penelitian kami menunjukkan bahwa model iklim perlu diperbarui,” kata Fu.
Apa Itu Mikroplastik? Kenali Bahaya, Efek Kesehatan, dan Cara Mengurangi Paparannya
Mikroplastik adalah partikel plastik kecil yang mencemari lingkungan dan makanan, berisiko bagi kesehatan manusia. Hindari dengan mengurangi penggunaan plastik. [1,438] url asal
#mikroplastik #bahaya-mikroplastik #efek-kesehatan-mikroplastik #cara-mengurangi-mikroplastik #mikroplastik-di-lingkungan #mikroplastik-dalam-makanan #mikroplastik-dalam-tubuh #mikroplastik-dan-kesehat
(Bisnis.Com - Terbaru) 20/04/26 10:12
v/196387/
Bisnis.com, JAKARTA — Mikroplastik kian menjadi ancaman tersembunyi yang sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga telah masuk ke dalam rantai makanan manusia sehingga memunculkan kekhawatiran baru terhadap dampaknya bagi kesehatan.
Penelitian dalam jurnal Environmental Research yang dipublikasikan pada Februari 2024 mengungkapkan bahwa berbagai produk protein dan sayuran bahkan telah terkontaminasi mikroplastik.
Lantas, apa sebenarnya mikroplastik dan bagaimana dampak serta bahayanya bagi kesehatan? Bagaimana pula cara menghindari partikel plastik tak kasat mata ini?
Melansir wwf.id, sampah mikroplastik merupakan fragmen kecil plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik umumnya terbagi dalam dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder.
Mikroplastik primer adalah mikroplastik yang sengaja diproduksi dalam bentuk kecil (mikro), sedangkan mikroplastik sekunder merupakan mikroplastik hasil degradasi dari plastik yang berukuran lebih besar yang tercecer di lingkungan dan kemudian berubah bentuk.
Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi suhu tinggi, sinar matahari, limpasan air, angin dan organisme pendegradasi plastik.
Adapun, mikroplastik umumnya dilepaskan selama produksi, penggunaan, dan pembuangan produk-produk plastik, sehingga bisa dikatakan tidak ada satu tempat pun yang terbebas dari partikel mikroplastik yang sangat kecil.
Sampah mikroplastik berasal dari berbagai sumber, termasuk limbah industri, pembuangan sampah yang tidak sesuai, dan degradasi plastik yang lebih besar.
Dengan ukurannya yang super kecil, membuat sampah jenis ini lebih mudah menyebar ke berbagai lingkungan, termasuk perairan dan tanah di Indonesia.
Di sisi lain, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa setiap harinya kehidupan dan aktivitas manusia menghasilkan volume timbunan sampah sebanyak 71.688,84 ton, dengan volume sampah plastik menduduki peringkat kedua terbanyak setelah sampah sisa makanan.
Sebuah studi pada tahun 2024 menemukan adanya mikroplastik di dalam sumbatan arteri pembuluh darah yang bisa berdampak pada kesehatan manusia.
Mengutip Science Alert, dari studi yang dilakukan para peneliti di China melaporkan bahwa ditemukan mikroplastik dalam gumpalan darah yang diangkat melalui pembedahan dari arteri di jantung dan otak, serta vena dalam di kaki bagian bawah.
Penelitian yang telah dipublikasikan di eBioMedicine tersebut berskala kecil, yang hanya melibatkan 30 pasien. Namun, temuan itu serupa dengan penelitian yang dilakukan di Italia, yang menemukan keberadaan mikroplastik dalam plak meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke.
Tim peneliti di China juga menemukan hubungan potensial antara tingkat mikroplastik dalam pembekuan darah dan tingkat keparahan penyakit.
Mikroplastik dengan berbagai bentuk dan ukuran dideteksi menggunakan teknik analisis kimia pada 24 dari 30 bekuan darah yang diteliti, pada konsentrasi yang bervariasi.
Pengujian juga mengidentifikasi jenis plastik yang sama seperti yang terdeteksi dalam penelitian plak arteri yang dipimpin Italia, yakni polivinil klorida (PVC) dan polietilen (PE).Hal ini tidak mengherankan karena PVC (sering digunakan dalam konstruksi) dan PE yang umumnya digunakan dalam botol dan tas belanja, adalah dua plastik yang paling umum diproduksi.
Dengan mikroplastik yang sebelumnya terdeteksi di jaringan paru-paru dan sampel darah manusia, mudah untuk membayangkan bagaimana potongan-potongan plastik mikroskopis ini berpindah dari lingkungan ke dalam tubuh.
Karena keberadaan mikroplastik di lingkungan dan produk sehari-hari, paparan manusia terhadap anggota parlemen tidak dapat dihindari.
“Oleh karena itu, polutan mikroplastik telah memicu kekhawatiran karena keberadaannya yang tersebar luas dan potensi implikasinya terhadap kesehatan,” kata Tingting Wang, seorang ilmuwan klinis di First Affiliated Hospital of Shantou University Medical College di China, yang turut melakukan penelitian.
Riset tahun 2024 juga menemukan plastik mikro dalam hampir semua bagian tubuh manusia. Terbukti bahwa adanya plastik mikro dalam tubuh dalam jumlah tinggi, risiko masalah jantung dan sistem reproduksi juga meningkat.
Beberapa pasien penyakit jantung dalam studi tersebut ditemukan memiliki plastik mikro dalam pembuluh darah mereka. Pasien yang mengalami hal ini, terutama di pembuluh darah bagian leher, 2 kali lebih berpotensi serangan jantung atau stroke.
Lebih mengejutkan lagi, risiko kematian mereka lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki plastik mikro dalam pembuluh darah.
Selain itu, sejumlah kandungan dalam plastik mikro seperti flame retardant, plasticizer, dan antioksidan berpotensi mengganggu fungsi sistem hormon dan reproduksi. Perkembangan otak dan ginjal juga kemungkinan terganggu, bahkan, beberapa ikan ditemukan memiliki tumor akibat terpapar kandungan-kandungan ini.
Menurut studi pada hewan yang terpapar plastik mikro, serpihan ini dapat mengganggu hormon testosteron, masalah pada usus, dan kerusakan ingatan.
Hal ini karena plastik mikro dapat luluh atau “tercuci” dalam tubuh, mengeluarkan zat-zat berbahayanya di dalam berbagai bagian tubuh. Polutan dan organisme lain juga dapat menempel pada plastik mikro yang masuk ke dalam tubuh.
Sejumlah penelitian menunjukkan konsentrasi mikroplastik di dalam ruangan..
Paparan Mikroplastik Dalam Ruangan
Adapun, sejumlah penelitian menunjukkan konsentrasi mikroplastik di dalam ruangan justru lebih tinggi dibandingkan dnegan di luar ruangan. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyaknya penggunaan material berbasis plastik dalam kehidupan sehari-hari di rumah serta minimnya pertukaran udara di ruang tertutup.
Debu rumah menjadi salah satu tempat utama berkumpulnya partikel mikroplastik sebelum kembali terangkat ke udara. Aktivitas seperti berjalan, membersihkan rumah, hingga penggunaan furnitur dapat membuat partikel tersebut kembali beterbangan dan tanpa sadar terhirup.
Penelitian yang dilakukan biogeochemist dari French National Center for Scientific Research juga menemukan adanya mikroplastik berukuran sangat kecil di udara dalam ruangan.
Studi yang dilakukan di beberapa apartemen di Toulouse, Prancis, serta di dalam mobil menunjukkan rata-rata lebih dari 500 partikel per meter kubik udara di dalam ruangan dan lebih dari 2.200 partikel di dalam kabin mobil.
Peneliti juga mencatat bahwa paparan bisa lebih tinggi pada kelompok rentan seperti bayi yang berada dekat lantai. Dalam kondisi tertentu, bayi dapat menghirup sekitar 19.000 hingga 75.000 partikel per hari, sementara orang dewasa berkisar 28.000 hingga 108.000 partikel per hari, meski angka ini masih memiliki keterbatasan pengukuran.
Temuan ini menunjukkan bahwa bayi juga bisa lebih banyak terpapar mikroplastik dibanding orang dewasa karena posisinya yang lebih dekat dengan lantai. Karena itu, penting untuk mulai mengurangi paparan mikroplastik di rumah dalam aktivitas sehari-hari.
Peneliti kesehatan lingkungan Universitas Emory, Dana Barr, mengatakan mikroplastik sudah tersebar luas di lingkungan sehingga hampir tidak bisa dihindari. Namun, dia menegaskan paparan tersebut tetap dapat dikurangi melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.
“Mikroplastik ada di mana-mana, dan tidak ada cara untuk benar-benar menghindarinya, tetapi ada cara yang bisa secara signifikan mengurangi paparan seiring waktu, dan itu sebagian besar melalui perubahan perilaku,” ujarnya dikutip dalam BBC, Senin (13/4/2026).
Keberadaan mikroplastik kini ditemukan hampir di seluruh ekosistem..
Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik
Keberadaan mikroplastik kini ditemukan hampir di seluruh ekosistem, termasuk air laut, tanah, udara, hingga makanan dan minuman. Sejumlah studi menunjukkan bahwa manusia dapat terpapar mikroplastik melalui konsumsi air minum, makanan laut, garam, bahkan udara yang dihirup.
Sumbernya beragam, mulai dari degradasi plastik besar seperti kantong dan botol, hingga produk sehari-hari seperti kosmetik, pakaian sintetis, dan ban kendaraan. Seiring waktu, plastik yang terpapar sinar matahari, panas, dan gesekan akan terurai menjadi partikel-partikel kecil yang sulit terdeteksi secara kasat mata.
Dalam tubuh manusia, mikroplastik berpotensi masuk melalui sistem pencernaan dan pernapasan. Beberapa penelitian awal menemukan partikel ini dalam darah, paru-paru, hingga plasenta.
Meskipun dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, paparan mikroplastik diduga berkaitan dengan peradangan, gangguan sistem imun, serta potensi risiko penyakit kronis.
Risiko kesehatan yang mungkin timbul belum sepenuhnya dipahami, tetapi tren temuan mikroplastik dalam tubuh manusia menunjukkan urgensi pengendalian paparan. Ketidakpastian ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas kesehatan dan lingkungan dalam merumuskan kebijakan mitigasi yang efektif.
Upaya menghindari mikroplastik dapat dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah utama, termasuk membawa botol minum sendiri dan menghindari kemasan berlebih. Memilih produk dengan bahan alami, terutama untuk pakaian dan kosmetik, juga dapat menekan potensi paparan.
Selain itu, penggunaan filter air minum dapat membantu mengurangi partikel mikroplastik dalam air. Menghindari pemanasan makanan dalam wadah plastik, terutama di microwave, juga penting untuk mencegah pelepasan partikel berbahaya.
Di sisi lain, peran industri dan pemerintah menjadi krusial dalam menekan produksi plastik dan meningkatkan sistem pengelolaan limbah. Tanpa intervensi yang lebih luas, mikroplastik akan terus terakumulasi di lingkungan dan memperbesar risiko bagi kesehatan manusia.
Secara lebih ringkas, berikut langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari untuk mengurangi paparan mikroplastik:
- Mengurangi penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai. Disarankan pula untuk menggunakan wadah kaca daripada plastik ketika memanaskan makanan dengan microwave, mengingat suhu tinggi mempercepat penguraian plastik.
- Hindari minuman botol berkemasan plastik. Menurut riset, tutup botol kemasan minuman plastik yang ditutup dan dibuka secara berulang-ulang menimbulkan munculnya plastik mikro yang bisa jatuh ke dalam air dan dikonsumsi.
- Mengurangi penggunaan pakaian berbahan sintetis dan menggantinya dengan bahan alami seperti katun atau wol.
- Menggunakan filter pada mesin cuci untuk menahan serat mikroplastik agar tidak terbuang ke lingkungan.
- Membersihkan debu dengan kain basah sebelum menyapu atau menyedot debu agar partikel tidak kembali beterbangan.
- Menggunakan vacuum cleaner dengan filter HEPA untuk menangkap partikel berukuran sangat kecil.
- Menjaga sirkulasi udara dengan membuka jendela atau menggunakan alat penyaring udara (air purifier). (Mutiara Nabila/Angel Rinella)
Banyak Ditemukan di Sayur dan Buah, Apa Itu Mikroplastik?
Mikroplastik banyak ditemukan dalam buah dan sayur seperti apel dan wortel. Simak apa itu mikroplastik dan bahayanya bagi tubuh. [401] url asal
#mikroplastik #mikroplastik-di-makanan #mikroplastik-di-sayur #mikroplastik-di-buah #mikroplastik-di-apel #mikroplastik-di-wortel #bahaya-mikroplastik #dampak-mikroplastik #jenis-mikroplastik #mikropla
(Bisnis.Com - Terbaru) 20/04/26 08:36
v/196258/
Bisnis.com, JAKARTA - Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research mengungkapkan bahwa mikroplastik banyak ditemukan di sayur dan buah-buahan. Partikel mikroplastik punya dampak yang buruk bagi kesehatan jika masuk ke dalam tubuh.
Temuan mikroplastik dalam makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari terungkap dalam jurnal yang diterbitkan Environmental Research pada 2024.
Ilmuwan melakukan penelitian dengan menganalisis lebih dari 12 sumber protein yang sering dikonsumsi sehari-hari, seperti daging ayam, daging sapi, makanan laut, produk olahan, bahkan buah dan sayuran.
Hasilnya pun cukup memprihatinkan, hampir 90% sumber protein yang diuji mengandung mikroplastik dalam jumlah beragam.
Dalam jurnal sebelumnya yang diterbitkan Environmental Research pada Agustus 2020, ada sekitar 52.050 hingga 233.000 mikroplastik yang terdapat dalam buah dan sayur.
Apel dan wortel mengandung jumlah mikroplastik paling banyak, yakni lebih dari 100.000 partikel per gram.
Apel mengandung sekitar 195.500 partikel mikroplastik per gram, disusul pir dengan 189.500 partikel.
Dari kategori sayuran, wortel dan brokoli menjadi yang tertinggi dengan kandungan mikroplastik lebih dari 100.000 per gram.
"Saat kita menggigit apel, kemungkinan besar kita juga ikut mengonsumsi mikroplastik," ujar Sion Chan, aktivis Greenpeace Asia Timur yang berbasis di Hong Kong yang menyoroti isu pencemaran mikroplastik pada produk pangan, terutama buah dan sayuran.
Lalu apa sebenarnya mikroplastik dan seberapa bahaya bagi kesehatan? Berikut ulasannya:
Apa Itu Mikroplastik dan Bahayanya bagi Kesehatan
Apa Itu Mikroplastik
Dilansir dari Hello Sehat, mikroplastik adalah serpihan plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter. Materi ini bisa ditemukan dalam air, tanah, maupun udara yang dihirup.
Limbah plastik mengalami proses penguraian oleh lingkungan, termasuk dari sinar matahari. Proses ini kemudian membuat plastik jadi rapuh dan pecah.
Karena tidak terurai dengan sempurna, partikel plastik ini berubah menjadi potongan-potongan kecil yang disebut mikroplastik.
Selain bersumber dari penguraian plastik besar, mikroplastik juga bisa sengaja dibuat oleh manusia sebagai bahan abrasif untuk prosedur sandblasting hingga butiran mikro (microbeads) untuk pembersih wajah.
Jenis-Jenis Mikroplastik
- Bisphenol-A (BPA): Bahan kimia untuk menghasilkan plastik polikarbonat yang kuat, seperti pada wadah makanan dan produk kebersihan.
- Ftalat (phthalate): Bahan kimia untuk menghasilkan plastik yang fleksibel, transparan, dan tahan lama seperti pada wadah makan.
- Dioksin: Bahan kimia yang merupakan produk sampingan herbisida dan pemutih kertas yang mencemari lingkungan.
- Polietilen dan polipropilen: Bahan kimia untuk kemasan plastik makanan, seperti polyethylene terephthalate (PET), high density polyethylene (HDPE), low density polyethylene (LDPE), dan polypropylene (PP).
Dampak Mikroplastik bagi Kesehatan
- Gangguan hormon
- Mengganggu perkembangan janin
- Memicu peradangan usus
- Meningkatkan risiko penyakit kronis seperti jantung dan diabetes tipe 2
Mikroplastik Mudah Terhirup di Rumah, Ini Cara Menguranginya
Mikroplastik di rumah dapat terhirup dari pakaian sintetis dan debu. Kurangi paparan dengan memilih bahan alami, gunakan filter, dan jaga sirkulasi udara. [456] url asal
#mikroplastik-rumah #mikroplastik-terhirup #paparan-mikroplastik #mikroplastik-pakaian-sintetis #debu-mikroplastik #mikroplastik-di-udara #mengurangi-mikroplastik #mikroplastik-di-rumah #mikroplastik-d
(Bisnis.Com - Terbaru) 15/04/26 14:10
v/192087/
Bisnis.com, JAKARTA — Paparan mikroplastik di dalam rumah kini menjadi perhatian para peneliti karena partikel berukuran sangat kecil ini dapat terhirup tanpa disadari dalam aktivitas sehari-hari yang sumber utamanya berasal dari material plastik di sekitar rumah, terutama pakaian sintetis, furnitur, dan debu yang menumpuk di dalam ruangan.
Setiap kali pakaian berbahan sintetis digunakan, dicuci, atau dikeringkan, serat mikroplastik dapat terlepas ke udara dan bercampur dengan debu rumah. Partikel ini kemudian melayang di udara dan berpotensi masuk ke saluran pernapasan saat seseorang beraktivitas di dalam rumah.
Peneliti kesehatan lingkungan Universitas Emory, Dana Barr, mengatakan mikroplastik sudah tersebar luas di lingkungan sehingga hampir tidak bisa dihindari. Namun, dia menegaskan paparan tersebut tetap dapat dikurangi melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.
“Mikroplastik ada di mana-mana, dan tidak ada cara untuk benar-benar menghindarinya, tetapi ada cara yang bisa secara signifikan mengurangi paparan Anda seiring waktu, dan itu sebagian besar melalui perubahan perilaku,” ujarnya dikutip dalam BBC, Senin (13/4/2026).
Sejumlah penelitian menunjukkan konsentrasi mikroplastik di dalam ruangan justru lebih tinggi dibandingkan di luar ruangan. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyaknya penggunaan material berbasis plastik dalam kehidupan sehari-hari di rumah serta minimnya pertukaran udara di ruang tertutup.
Debu rumah menjadi salah satu tempat utama berkumpulnya partikel mikroplastik sebelum kembali terangkat ke udara. Aktivitas seperti berjalan, membersihkan rumah, hingga penggunaan furnitur dapat membuat partikel tersebut kembali beterbangan dan tanpa sadar terhirup.
Penelitian yang dilakukan biogeochemist dari French National Center for Scientific Research juga menemukan adanya mikroplastik berukuran sangat kecil di udara dalam ruangan. Studi yang dilakukan di beberapa apartemen di Toulouse, Prancis, serta di dalam mobil menunjukkan rata-rata lebih dari 500 partikel per meter kubik udara di dalam ruangan dan lebih dari 2.200 partikel di dalam kabin mobil.
Peneliti juga mencatat bahwa paparan bisa lebih tinggi pada kelompok rentan seperti bayi yang berada dekat lantai. Dalam kondisi tertentu, bayi dapat menghirup sekitar 19.000 hingga 75.000 partikel per hari, sementara orang dewasa berkisar 28.000 hingga 108.000 partikel per hari, meski angka ini masih memiliki keterbatasan pengukuran.
Temuan ini menunjukkan bahwa bayi juga bisa lebih banyak terpapar mikroplastik dibanding orang dewasa karena posisinya yang lebih dekat dengan lantai. Karena itu, penting untuk mulai mengurangi paparan mikroplastik di rumah dalam aktivitas sehari-hari.
Mengutip dari Healthline, berikut langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari untuk mengurangi paparan mikroplastik:
- Mengurangi penggunaan pakaian berbahan sintetis dan menggantinya dengan bahan alami seperti katun atau wol
- Menggunakan filter pada mesin cuci untuk menahan serat mikroplastik agar tidak terbuang ke lingkungan
- Membersihkan debu dengan kain basah sebelum menyapu atau menyedot debu agar partikel tidak kembali beterbangan
- Menggunakan vacuum cleaner dengan filter HEPA untuk menangkap partikel berukuran sangat kecil
- Menjaga sirkulasi udara dengan membuka jendela atau menggunakan alat penyaring udara (air purifier)
Cemaran Mikroplastik dari Tekstil Masif: 60% Pakaian Berbahan Sintetis
Sekitar 60 persen pakaian yang diproduksi secara global berbahan serat sintetis yang menjadi sumber mikroplastik. [464] url asal
#mikroplastik #pakaian-bekas #sampah-tekstil #impor-pakaian-bekas #ekonomi-sirkular #pencemaran-lingkungan #industri-hijau #update-me
(Katadata - Ekonomi Hijau) 13/04/26 17:03
v/189867/
Mikroplastik bukan hanya berasal dari kemasan plastik tapi tekstil. Sebab, tidak semua pakaian terbuat dari serat organik. Banyak juga pakaian yang terbuat dari bahan sintetis seperti poliester, nilon, akrilik, dan spandek.
Saat ini, mayoritas pakaian terbuat dari serat sintetis. Organisasi advokasi kesehatan dan keamanan konsumen, Public Interest Research Groups (PIRG), mencatat sekitar 60 persen pakaian yang diproduksi secara global berbahan serat sintetis. Sekitar 35 persen mikroplastik di laut diperkirakan berasal dari pakaian yang terbuat dari serat sintetis.
LSM di bidang lingkungan dan kesehatan Ecoton memperingatkan risiko kesehatan dari masifnya pencemaran mikropastik. Mikroplastik telah mencemari lingkungan hingga tubuh manusia. Berbagai riset menemukan mikroplastik di sperma, darah, dan air ketuban.
Masyarakat pun didorong untuk mengurangi pembelian baju baru berbahan sintetis, selain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Gunakan, rawat, dan tukar pakaian yang sudah ada untuk mengurangi serat mikro dan menekan fast fashion,” demikian tertulis, dalam unggahan Instagram Ecoton, pekan lalu.
Di Indonesia, berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, porsi sampah plastik mencapai 19 persen dari total sampah nasional yang terdata pada 2023, sedangkan sampah kain sekitar 2,9 persen.
Tambahan Beban Mikroplastik dari Pakaian Bekas Impor
Organisasi lingkungan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, United Nations Environment Programme (UNEP), mengutip laporan dari Ellen MacArthur Foundation, mengungkapkan produksi sampah tekstil global mencapai 92 juta ton tiap tahun, dan banyak di antaranya berakhir di negara-negara berpendapatan rendah.
“Pakaian yang dibuang kerap berakhir di negara-negara berpendapatan rendah. Keterbatasan infrastruktur pengelolaan limbah di negara-negara tersebut menyebabkan pakaian dibuang ke tempat pembuangan terbuka atau dibakar, dengan dampak lingkungan dan sosial yang serius,” demikian tertulis dalam rilis UNEP, tahun lalu.
Meski risiko lingkungannya besar, pemerintah Indonesia menyepakati impor pakaian bekas yang telah dicacah dari Amerika Serikat -- keputusan ini menuai kontroversi meskipun tujuannya untuk daur ulang. Kesepakatan ini masuk dalam Perjanjian Dagang Resiprokal atau The Agreement on Reciprocal Trade yang ditandatangani Indonesia dan AS pada 19 Februari lalu.
Di Artikel 2.8 jelas tertulis: “Indonesia akan mengizinkan impor pakaian bekas yang telah dihancurkan dari Amerika Serikat guna mendorong perdagangan dan sirkularitas dalam industri pakaian daur ulang Amerika Serikat yang sangat berkembang.”
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, pakaian bekas cacah atau worn shredded clothing (SWC) akan dimanfaatkan sebagai bahan baku kain perca dan produk tekstil lainnya, seperti benang daur ulang.
"Pemerintah telah memastikan bahwa sudah ada industri dalam negeri yang akan menampung seluruh impor SWC tersebut sebagai bahan baku produksi, sehingga tidak ada produk yang masuk ke pasar sebagai pakaian bekas," kata dia melalui keterangan tertulis, Februari lalu.
Keputusan ini tetap menuai sorotan lantaran selama ini banyak sampah tekstil di dalam negeri yang tidak tertangani dengan baik. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2021, Indonesia menghasilkan kurang lebih 2,3 juta ton limbah tekstil. Namun, hanya 0,3 juta ton yang didaur ulang.
Darurat Mikroplastik dan Timbal, Indonesia Terancam Kehilangan Generasi
Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP Vita Ervina menegaskan ancaman paparan mikroplastik dan logam berat seperti timbal terhadap anak Indonesia telah masuk... | Halaman Lengkap [470] url asal
#mikroplastik #limbah-mikroplastik #generasi-muda #lingkungan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 11/04/26 15:26
v/188471/
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP Vita Ervina menegaskan ancaman paparan mikroplastik dan logam berat seperti timbal terhadap anak Indonesia telah masuk fase darurat dan tidak bisa lagi dianggap isu sepele. Peringatan yang disampaikan Ikatan Dokter Anak Indonesia menjadi bukti kuat bahwa paparan zat berbahaya ini sudah terjadi, bahkan sejak bayi dalam kandungan.Temuan mikroplastik dalam mekonium atau tinja pertama bayi baru lahir menunjukkan bahwa partikel berbahaya tersebut telah ditransfer dari ibu melalui plasenta. Kondisi ini mempertegas ancaman kesehatan tidak lagi datang dari luar semata, tetapi sudah masuk ke sistem biologis manusia sejak fase paling awal kehidupan.
Dalam berbagai studi global, manusia bahkan diperkirakan dapat terpapar mikroplastik hingga sekitar 15 gram per bulan, sementara satu dari tiga anak di dunia berisiko memiliki kadar timbal dalam darah di atas ambang batas aman.
Vita menilai kondisi ini sebagai ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan. Paparan mikroplastik dan timbal diketahui berdampak langsung pada sistem saraf pusat anak, yang dapat berujung pada penurunan kecerdasan, gangguan perilaku, hingga hambatan tumbuh kembang yang bersifat permanen.
Dia mengingatkan tanpa langkah cepat dan terukur, Indonesia berpotensi menghadapi risiko kehilangan generasi akibat paparan zat berbahaya yang tidak kasat mata namun sangat merusak.
Vita menyoroti sumber paparan tersebut justru berasal dari lingkungan terdekat anak dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Penggunaan wadah plastik untuk memanaskan makanan, botol susu berbahan plastik yang terpapar suhu tinggi, mainan anak yang tidak memenuhi standar keamanan, hingga cat dinding mengelupas yang mengandung timbal menjadi sumber risiko yang sering diabaikan.
Di sisi lain, paparan juga datang dari debu, udara, serta aktivitas ekonomi informal seperti daur ulang aki bekas yang tidak terkendali. Kondisi ini menuntut kehadiran negara secara lebih tegas, terutama dalam memperkuat langkah pencegahan sejak dini.
Edukasi kepada ibu hamil harus diperluas agar mampu meminimalkan paparan sejak masa kehamilan diikuti dengan pengawasan ketat terhadap produk bayi dan anak yang beredar di pasaran.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya pelarangan penggunaan bahan plastik berisiko tinggi untuk kebutuhan konsumsi anak. Di sisi hilir, kesiapan sistem kesehatan juga menjadi krusial. Fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas harus diperkuat agar mampu melakukan deteksi dini terhadap paparan lingkungan, termasuk skrining risiko timbal dan gangguan tumbuh kembang berbasis paparan.
Tenaga kesehatan juga perlu dibekali dengan kapasitas yang memadai untuk mengenali dan menangani dampak paparan mikroplastik dan logam berat secara komprehensif.
Vita juga mendorong penguatan regulasi dan pengawasan industri, termasuk pengetatan batas aman kandungan bahan berbahaya dalam produk konsumen serta penertiban aktivitas berisiko tinggi yang menjadi sumber pencemaran.
Dia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk pembentukan satuan tugas nasional yang fokus pada penanganan paparan mikroplastik dan logam berat. “Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi menyangkut masa depan bangsa. Negara tidak boleh menunggu sampai dampaknya terlihat dalam bentuk generasi yang kehilangan potensi. Kita harus bertindak sekarang dengan kebijakan yang konkret, terukur, dan berpihak pada kesehatan anak Indonesia,” ungkapnya.
Paparan Mikroplastik Bisa Ganggu Perkembangan Otak Anak
Paparan mikroplastik dan timbal pada anak meningkat, berisiko ganggu perkembangan otak. Orang tua harus waspada terhadap bahan plastik dan lingkungan sekitar. [440] url asal
#mikroplastik #timbal #paparan-mikroplastik #paparan-timbal #perkembangan-otak-anak #mikroplastik-pada-anak #timbal-pada-anak #bahaya-mikroplastik #bahaya-timbal #mikroplastik-dalam-mekonium #dampak-mi
(Bisnis.Com - Terbaru) 06/04/26 21:19
v/183240/
Bisnis.com, JAKARTA - Paparan mikroplastik dan timbal pada anak menjadi hal penting yang perlu diperhatikan, karena kondisi dalam tren meningkat.
Ketua Piprim Basarah Yanuarso mengingatkan bahwa paparan mikroplastik dan timbal pada anak semakin mengkhawatirkan setiap tahunnya. Menurutnya, keberadaan zat-zat berbahaya ini menunjukkan tren yang meningkat dan tidak boleh diabaikan begitu saja.
Dokter Piprim menyebut mikroplastik dan timbal bahkan telah terdeteksi dalam mekonium, atau feses pertama bayi. Hal ini menunjukkan bahwa paparan zat berbahaya tersebut bisa lebih luas dan bahkan kemungkinan sudah terjadi sejak masa kehamilan.
"Ya, pada mekonium bayi yang baru lahir pun sudah ditemukan mikroplastik. Artinya, kadar mikroplastik dalam darah ibu bisa tersalurkan melalui plasenta, masuk ke tubuh janin, dan akhirnya menjadi mekonium pada bayi tersebut," kata Piprim dalam acara IDAI soal Dampak Cemaran Mikroplastik pada Anak & Pemeriksaan Jantung Gratis untuk Anak Disabilitas dan Autis di Balai Budaya, Menteng, Jakarta, Senin, (6/4/2026)
Kendati demikian, katanya, fenomena ini masih memerlukan penelitian lebih mendalam. Hal ini penting untuk mengetahui seberapa besar paparan yang memungkinkan mikroplastik berpindah dari ibu ke bayi.
Namun, pihaknya tetap mengingatkan orang tua agar lebih berhati-hati terhadap bahan-bahan plastik yang digunakan untuk makanan, minuman, maupun mainan anak, terutama yang sensitif terhadap panas, karena berpotensi membahayakan kesehatan.
Saat ini, IDAI juga terus melakukan kajian dan sebelum nantinya mengeluarkan rekomendasi resmi begitu bukti ilmiah yang cukup tersedia.
"Sekarang yang bisa dilakukan orang tua ialah membiasakan membaca informasi pada benda yang dipakai anak. Pastikan ada standar keamanan yang jelas, termasuk jenis plastik yang digunakan dan jaminan dari produsen," imbuhnya.
Sementara itu, Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI Irene Yuniar mengatakan anak-anak bisa terpapar mikroplastik dan timbal dari berbagai sumber, termasuk udara, tanah, hingga makanan.
Selain itu, sumber paparan juga bisa datang dari hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian, seperti cat rumah yang mengelupas, debu lingkungan, emisi kendaraan, pipa lama, maupun hidup di lingkungan industri.
Dokter Irene menyebutkan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan paparan tinggi, misalnya di sekitar kawasan industri atau lokasi peleburan, cenderung memiliki kadar timbal yang lebih tinggi dalam tubuh. Paparan ini tidak hanya berdampak pada para pekerja, tetapi juga bisa mengenai anggota keluarga mereka, termasuk ibu dan anak.
"Penelitian juga menunjukkan dampak lanjutan seperti, gangguan hormonal, penurunan IQ, risiko tekanan darah tinggi di masa depan," imbuhnya.
Menurut Irene, dampak pada anak akan sangat beragam, tergantung jumlah paparan dan respons tubuh. Untuk paparan rendah, dampak umumnya dapat berupa gangguan perilaku, penurunan kemampuan belajar yang berujung pada gangguan kemampuan kognitif, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Sementara pada kadar yang lebih tinggi, dampaknya bisa lebih serius, termasuk gangguan pada sistem saraf, anemia, hambatan pertumbuhan, penurunan IQ, hingga kerusakan organ.
Ragam Makanan Warna-Warni untuk Mengurangi Dampak Mikroplastik dalam Tubuh
Antioksidan bersama antosianin disebut mampu mengurangi dampak berbahaya mikroplastik atau nanoplastik pada sistem reproduksi. [456] url asal
#mikroplastik #plastik #pencemaran-lingkungan #ekonomi-sirkular #industri-hijau #update-me
(Katadata - Ekonomi Hijau) 02/04/26 14:12
v/180034/
Tingginya konsumsi plastik dunia menyebabkan masifnya pencemaran mikroplastik dan nanoplastik. Berbagai laporan menunjukkan potongan-potongan kecil plastik tersebut ditemukan di udara, air, bahkan makanan yang dikonsumsi manusia.
Partikel hasil penguraian produk plastik bisa mengandung ribuan bahan kimia, termasuk bisfenol A (BPA), Phthalates (Ftalat) dan Per- and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS) yang dapat memicu risiko kesehatan serius.
Beragam studi mengungkap, BPA dapat memengaruhi perkembangan otak dan perilaku, serta kesuburan. Ftalat bahkan diidentifikasi sebagai ‘racun reproduksi’, sementara PFAS dapat mengganggu metabolisme dan sistem kekebalan tubuh, fungsi hati, serta fungsi tiroid.
Ragam kampanye pun dilakukan organisasi-organisasi pemerhati lingkungan untuk mengurangi konsumsi plastik, demi menekan tebaran mikroplastik di lingkungan.
Di tengah situasi darurat mikroplastik, studi menemukan antosianin yang terkandung dalam kacang-kacangan, buah, dan sayur warna-warni berkhasiat menangkal atau mengurangi risiko kesehatan dari mikroplastik.
Literatur ilmiah berjudul “Exploring the potential protective role of anthocyanins in mitigating micro/nanoplastic-induced reproductive toxicity: A steroid receptor perspective” mengungkap bahwa antioksidan bersama antosianin mampu mengurangi dampak berbahaya mikroplastik atau nanoplastik pada sistem reproduksi.
Dalam literatur tersebut dijelaskan, senyawa ini dapat melindungi tubuh dari penurunan testosteron dan estrogen, penurunan jumlah dan kualitas sperma, disfungsi ereksi, serta kerusakan ovarium.
“Antosianin telah menunjukkan potensi efek perlindungan terhadap toksisitas terhadap reproduksi yang disebabkan oleh mikroplastik,” tulis para penulis literatur yang tergabung dalam Jaringan Pangan dan Kesehatan Finlandia-Tiongkok, dikutip pada Kamis (2/4).
Antosianin mampu membantu memulihkan produksi testosteron dengan melindungi sel leydig, sel yang bertanggung jawab terhadap produksi hormon testosteron.
Sedangkan pada perempuan, mikroplastik dapat menyebabkan peradangan pada jaringan ovarium yang berdampak pada penurunan kadar estrogen dan hormon lainnya. Penelitian ini mengungkap, antosianin dapat melindunginya dari risiko-risiko tersebut.
“Sifat antioksidannya membantu menjaga fungsi ovarium dan berpotensi mempertahankan kesuburan, menyoroti potensi terapeutiknya dalam mengatasi kerusakan ovarium,” demikian tertulis dalam hasil risetnya.
Mengutip The Guardian, antosianin adalah antioksidan yang memberi warna cerah pada buah dan bunga. Antosianin banyak ditemukan dalam kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Misalnya pada blueberry, kubis merah, wortel hitam, dan kentang ungu.
Bila melansir EatingWell, blackberry, blackcurrant, elderberry, buah ceri, dan beras hitam bahkan memiliki kandungan antosianin lebih tinggi dibandingkan blueberry.
Sederet Cara Menghindari Konsumsi Mikroplastik
Berbagai cara bisa dilakukan untuk mencegah konsumsi tak sengaja mikroplastik. Melansir The New York Times, cara-cara yang dimaksud antara lain dengan mengurangi konsumsi dari air kemasan plastik, menghindari menyimpan makanan dalam wadah plastik, serta tidak memanaskan makanan atau minuman dalam plastik.
Menghindari masuknya mikroplastik ke dalam tubuh juga dapat dilakukan dengan tidak menggunakan kembali plastik sekali pakai untuk makanan dan minuman, serta menggunakan alat masak berbahan kayu atau bambu.
Cara lainnya, memanfaatkan filter air, rutin membersihkan ruangan dari debu untuk mengurangi mikroplastik di udara, serta membersihkan alat makan dan masak berbahan plastik secara manual. Sebab, suhu mesin pencuci piring rentan merusak plastik dan menyebabkan pelepasan mikroplastik.
Riset Ecoton: Mikroplastik Ditemukan di Air Ketuban 42 Ibu Melahirkan di Gresik
Semakin sering ibu hamil menggunakan plastik sekali pakai, semakin tinggi pula paparan mikroplastik pada janin. [343] url asal
#mikroplastik #ibu-hamil #mikroplastik-dalam-ketuban #kesehatan #pencemaran-lingkungan #ekonomi-hijau-ekonomi-sirkular #update-me #ekonomi-karbon
(Katadata - Ekonomi Hijau) 27/02/26 12:43
v/149380/
Mikroplastik ditemukan dalam air ketuban 42 ibu melahirkan di Gresik, Jawa Timur. Ini berdasarkan penelitian terbaru Ecoton Foundation bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Lab FTIR Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Penelitian tersebut menemukan sebanyak 40,5 persen mikroplastik yang ditemukan dalam air ketuban berjenis polyethylene (PE), bahan yang umum digunakan pada kresek, botol plastik, kemasan makanan, gelas minuman panas, atau mika sekali pakai.
Sedangkan sisanya beragam, yaitu mikroplastik polyisobutylene 16,7 persen;polyphenylene Sulfide 7,1 persen; PET-Like 7,1 persen; dan polypropylene 9,5 persen.
Semakin sering ibu hamil menggunakan plastik sekali pakai, maka semakin tinggi pula paparan mikroplastik pada janin.
Dampak mikroplastik terhadap janin tidak bisa dipandang remeh. Kepala Laboratorium ECOTON Rafika Aprilianti menjelaskan, mikroplastik dalam ketuban dapat memengaruhi pertumbuhan janin.
“Ada korelasi kuat antara keberadaan partikel plastik dengan peningkatan Malondialdehide (MDA), yaitu penanda peradangan yang bisa mengganggu perkembangan janin,” kata Rafika, dalam keterangan resmi dikutip pada Jumat (27/2).
Selain dapat menyebabkan peradangan, partikel kecil itu dapat memicu stres pada sel-sel tubuh, merusak atau mematikan sel, serta mengganggu kerja plasenta. Padahal, plasenta merupakan jalur kehidupan bagi janin. Bila fungsinya terganggu, pertumbuhan janin rentan terlambat, memicu kelahiran prematur, serta menyebabkan tekanan darah tinggi pada ibu.
Dalam beberapa studi yang dihimpun Ecoton, mikroplastik tak hanya ditemukan di air ketuban, tetapi juga ditemukan di kulit, testis dan sperma, plasenta, ASI, darah, tulang, paru-paru, hati dan ginjal, hingga otak manusia.
Indonesia Juara Satu Konsumsi Mikroplastik
Berdasarkan hasil studi jurnal Environmental Science & Technology 2024, masyarakat Indonesia paling banyak mengonsumsi mikroplastik di dunia, rata-rata 15 gram per bulan. Ini kurang lebih setara satu kartu ATM.
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm. Plastik dapat terdegradasi menjadi mikroplastik maupun nanoplastik karena paparan panas, radiasi ultraviolet, atau gesekan mekanis.
Hasil degradasi itu kemudian bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai jalur, baik udara, air, maupun konsumsi makanan.
Mengutip Ecoton, plastik mengandung lebih dari 16.000 bahan kimia dengan ribuan di antaranya bersifat berbahaya. Sekitar 4.219 bahan kimia tersebut digolongkan sebagai bahan kimia yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia serta lingkungan.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
