#30 tag 24jam
Gibran: AI Bantu Picu Kreativitas, Bukan Gantikan Kemampuan Berpikir
Wapres Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya penguasaan AI saat ini, bukan masa depan, untuk mendukung Indonesia Emas 2045. AI harus digunakan untuk kreativitas dan inovasi, bukan menggantikan [796] url asal
#ai-indonesia #ai-masa-depan #ai-hari-ini #kecerdasan-buatan #literasi-digital #transformasi-digital #teknologi-ai #ai-open-source #ai-pendidikan #ai-dan-etika #ai-dan-kreativitas #ai-dan-inovasi
(Bisnis.Com - Teknologi) 17/06/26 11:45
v/251903/
Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengajak pelajar, guru, dan orang tua untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menguasai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam keterangan yang disampaikan melalui tayangan video di akun YouTube Wakil Presiden Republik Indonesia, Rabu (17/6/2026), Gibran menegaskan bahwa perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat sehingga masyarakat tidak bisa lagi memandang AI sebagai teknologi masa depan.
"Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyampaikan bahwa AI bukan lagi masa depan, AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekedar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujar Gibran.
Menurutnya, transformasi digital telah mengubah cara masyarakat memahami literasi. Jika sebelumnya fokus pada kemampuan baca tulis, kini penguasaan literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Gibran menilai AI dapat menjadi alat yang membantu pelajar meningkatkan kemampuan belajar dan mempercepat penguasaan berbagai bidang ilmu pengetahuan.
"Oleh sebab itu, kepada adik-adik pelajar, saya ingin kalian memahami bahwa AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas," katanya.
Dia menjelaskan AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten pribadi untuk membantu proses belajar, mencari data, mempelajari bahasa asing, hingga memahami materi pelajaran yang kompleks dengan cara yang lebih sederhana.
"AI bisa membantu mengejar ketertinggalan kita, namun penguasaan teknologi ini tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis," ujarnya.
Karena itu, Gibran mengingatkan agar generasi muda menggunakan AI untuk mendorong kreativitas dan inovasi, bukan menggantikan kemampuan berpikir secara mandiri.
"Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," tegasnya.
Wapres juga menyoroti semakin luasnya akses terhadap teknologi AI yang bersifat open source dan dapat dipelajari secara bebas oleh masyarakat.
"Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja," kata Gibran.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi generasi muda Indonesia untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing di tingkat global.
"Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia. Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekedar impian, tetapi sebuah kepastian," ujarnya.
Selain menyasar pelajar, Gibran juga memberikan pesan khusus kepada para guru agar terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ia memahami masih terdapat kekhawatiran terhadap kehadiran AI di dunia pendidikan. Namun, menurutnya, guru yang mampu memanfaatkan teknologi justru akan memiliki kemampuan yang lebih besar dalam mendukung proses pembelajaran.
"Saya harap para guru tidak pernah menyerah untuk meningkatkan kemampuan diri," katanya.
Menurut Gibran, AI dapat membantu guru mengurangi beban administratif, mulai dari penyusunan soal, penyederhanaan materi pembelajaran, hingga penyajian contoh-contoh yang lebih mudah dipahami siswa.
"Guru yang menguasai AI akan memiliki kekuatan super untuk mendidik dengan lebih efektif," ujarnya.
Dengan dukungan teknologi, guru dinilai dapat memiliki lebih banyak waktu untuk membangun karakter dan memberikan pendampingan secara langsung kepada peserta didik.
"Sehingga Bapak-Ibu punya lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid-murid kita," katanya.
Gibran juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak-anak di era digital.
Menurutnya, orang tua tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi yang digunakan generasi muda.
"Jangan sampai anak-anak kita terbang tinggi dengan teknologi, tapi kita sebagai orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses," ujarnya.
Meski menekankan pentingnya penguasaan teknologi, Gibran menilai aspek etika harus menjadi fondasi utama dalam pemanfaatan AI.
"Teknologi tanpa etika itu berbahaya," katanya.
Ia mengingatkan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai inovasi positif, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, hingga melanggar privasi orang lain.
"Saya ingin mengingatkan, pemanfaatan AI harus didasari oleh nilai-nilai integritas," tegasnya.
Gibran meminta masyarakat tidak menggunakan AI untuk tujuan yang merugikan pihak lain.
"Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology (RAM) AI yang disusun UNESCO sebagai instrumen untuk menilai kesiapan dan tata kelola kecerdasan buatan di Indonesia.
Menurutnya, penyelesaian asesmen tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem pengembangan AI yang selaras dengan prinsip etika dan tata kelola yang baik.
"Pemerintah Indonesia telah berhasil menyelesaikan Readiness Assessment Methodology untuk AI yang disusun UNESCO, yang berfungsi sebagai alat diagnose untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI Indonesia di masa datang sesuai perduman etika," kata Gibran
Dia menegaskan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan teknologi berbasis AI, asalkan didukung oleh peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan ekosistem yang memadai.
"Kita punya potensi besar, Indonesia punya talenta-talenta hebat, tugas pemerintah adalah menyiapkan ekosistemnya, dan tugas kita semua adalah mempersiapkan kapasitas diri kita masing-masing. Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya, mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermatabat," pungkasnya.
Polytron Gelar Kompetisi Desain Fox 200 untuk Pelajar dan Mahasiswa
Periode pengumpulan karya berlangsung pada 27 April hingga 18 Mei 2026. [367] url asal
#kendaraan-listrik #kompetisi-desain #motor-listrik #polytron-fox-200 #generasi-muda #kreativitas #transportasi-ramah-lingkungan #lokakarya-kreatif #orisinalitas-desain #mobilitas-harian
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produsen kendaraan listrik Polytron menggelar kompetisi desain motor listrik bertajuk Fox Berkreasik Design Competition yang ditujukan bagi pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan kendaraan listrik dengan generasi muda melalui pendekatan kreatif.
Kompetisi ini berfokus pada desain bodi motor listrik Polytron Fox 200. Peserta diminta membuat karya visual orisinal yang nantinya akan dinilai oleh dewan kurator dari kalangan pegiat seni dan komunitas otomotif.
Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap kendaraan listrik. Berdasarkan survei Lokadata terhadap 1.500 responden berusia 18-34 tahun, sekitar 75 persen responden menyatakan memiliki minat untuk beralih ke kendaraan listrik dalam lima tahun mendatang.
Head of Group Product EV 2W Polytron, Ilman Fachrian Fadly, menilai salah satu tantangan pengembangan kendaraan listrik saat ini bukan hanya soal teknologi dan harga, melainkan juga bagaimana produk tersebut dapat diterima sebagai bagian dari gaya hidup anak muda.
"Transisi ke kendaraan listrik di kalangan anak muda akan berjalan lebih masif jika produk tersebut bisa masuk dan menjadi bagian dari keseharian mereka. Kami ingin menunjukkan bahwa motor listrik tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga dapat menjadi medium ekspresi," kata Ilman dalam keterangan tertulis pada Sabtu (6/6/2026).
Selain kompetisi desain, penyelenggara juga menghadirkan sesi lokakarya kreatif bersama seniman visual Hard13. Dalam kegiatan tersebut peserta mendapatkan pembekalan mengenai proses kreatif, pengembangan ide, hingga teknik visual yang relevan dengan tren desain saat ini.
Hard13 bersama Adega, yang dikenal sebagai pegiat komunitas skuter, akan terlibat dalam proses kurasi karya peserta. Penilaian tidak hanya mempertimbangkan aspek estetika, tetapi juga orisinalitas dan relevansi desain dengan karakter kendaraan.
Polytron memilih Fox 200 sebagai basis kompetisi karena model tersebut memiliki bidang bodi yang relatif luas sehingga memungkinkan eksplorasi desain yang lebih beragam. Motor listrik itu juga menyasar segmen pengguna muda yang membutuhkan kendaraan untuk mobilitas harian.
Kompetisi dibuka untuk peserta berusia 17 hingga 25 tahun dengan periode pengumpulan karya berlangsung pada 27 April hingga 18 Mei 2026. Seluruh proses pendaftaran dan pengiriman karya dilakukan secara daring menggunakan template resmi yang disediakan penyelenggara.
Pemenang utama akan memperoleh satu unit Fox 200 yang diproduksi menggunakan desain karyanya sendiri. Selain itu tersedia sejumlah hadiah lain berupa perangkat elektronik dan voucher belanja.
Medsos Bikin Capek Mental, Ini 10 Tips agar Kamu Tetap Waras Digital
Media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental. Gunakan dengan bijak: ikuti konten positif, jaga privasi, dan hindari doomscrolling untuk tetap sehat secara digital. [537] url asal
#media-sosial #kesehatan-mental #kesejahteraan-sosial #hubungan-sosial #efek-media-sosial #mengurangi-kesepian #menjaga-diri #tagar-motivasi #unggahan-positif #emosi-menular #ruang-kreativitas #teman-n
(Bisnis.Com - Terbaru) 09/05/26 18:17
v/216603/
Bisnis.com, BANDA ACEH — Media sosial bisa jadi ruang yang support banget buat kesehatan mental, asalkan dipakai dengan sadar, positif, dan tidak sampai menggantikan relasi sosial di dunia nyata.
American Psychiatric Association (APA) menyebut kesejahteraan sosial punya peran penting dalam memengaruhi kebahagiaan dan kesehatan mental yang positif. UNICEF juga menilai dunia online membuka banyak peluang untuk terhubung, belajar, dan berbagi hal penting, tetapi tetap punya tantangan tersendiri bagi kesehatan mental.
Menggunakan media sosial untuk menjaga kesejahteraan mental perlu dimulai dari kesadaran soal dampaknya terhadap emosi, pikiran, dan perilaku. APA mencatat hubungan sosial bisa menjadi faktor pelindung dari gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan.
Namun, efek media sosial tidak selalu sama untuk semua orang. APA menyebut rasa kesepian bisa meningkat ketika media sosial dipakai sebagai pelarian dari interaksi sosial.
Sebaliknya, media sosial bisa membantu mengurangi kesepian jika dipakai untuk memperkuat hubungan yang sudah ada dan membangun koneksi sosial baru. UNICEF mengingatkan kamu agar tetap menjaga diri dan orang lain di ruang digital, terutama ketika media sosial mulai memicu stres, iri, kesepian, rendah diri, atau kecemasan sosial.
Berikut tips menggunakan media sosial untuk menjaga kesehatan mental yang sudah Bisnis rangkum:
1. Ikuti tagar dan topik yang memotivasi
APA menyarankan kamu mengikuti tagar seputar topik, tempat, aktivitas, nutrisi, seni, musik, atau hal lain yang bisa bikin lebih termotivasi dan merasa lebih grounded, seperti #mindfulness, #selfcare, #bodypositivity, dan #dailypoet.
2. Bagikan unggahan yang positif
Coba unggah ulang, bagikan, dan ikut berinteraksi dengan konten yang vibes-nya positif, membangkitkan semangat, penuh rasa syukur, atau berisi perayaan atas hal-hal baik.
3. Pahami bahwa emosi di media sosial dapat menular
APA menyebut penelitian terhadap pengguna Facebook menunjukkan adanya penularan emosi. Artinya, emosi yang diekspresikan orang lain di media sosial bisa ikut memengaruhi emosi kamu, baik ke arah positif maupun negatif.
4. Gunakan media sosial sebagai ruang kreativitas
Media sosial bisa dipakai sebagai tempat untuk berkreativitas dan mengekspresikan diri. Kamu bisa mengikuti akun dan tagar komunitas yang menginspirasi atau membantu bertumbuh sebagai seniman.
5. Fokus pada teman nyata dan hubungan yang terjaga
Kamu disarankan tetap fokus pada teman nyata dan hubungan yang memang perlu dijaga, bukan cuma sibuk mengamati kehidupan orang lain. Kebiasaan sekadar melihat hidup orang lain bisa meningkatkan rasa kesepian dan perasaan tidak baik.
6. Tetap jalani kehidupan di luar internet
Internet tidak seharusnya menggantikan aktivitas luring. Dunia online sebaiknya dipakai untuk memperkuat hubungan sosial yang sudah dimiliki, bukan membuat kamu makin jauh dari kehidupan nyata.
7. Selektif terhadap informasi yang dikonsumsi dan dibagikan
APA menyarankan kamu tetap kritis dan selektif terhadap informasi yang dikonsumsi maupun dibagikan. Kamu perlu mengecek sumber, isi, dan kredibilitas riset atau laporan sebelum ikut menyebarkan informasi.
8. Periksa pengaturan privasi
Kamu perlu melakukan pengecekan privasi di platform media sosial. Langkah ini penting supaya kamu tahu informasi apa saja yang dibagikan dan siapa saja yang bisa melihatnya.
9. Gunakan platform online untuk mendukung kesehatan mental
Platform online juga bisa dipakai untuk mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan. Bentuknya bisa berupa aplikasi meditasi, platform untuk membangun identitas diri, alat belajar online, kelas olahraga, sampai konten positif dan memotivasi.
10. Hindari doomscrolling
Kamu perlu memperhatikan bagaimana media sosial dan konten online memengaruhi emosi, pikiran, atau tindakan. Dengan memahami alasan menggunakan internet dan dampaknya terhadap perasaan, kamu bisa menetapkan batas pribadi soal waktu yang dihabiskan di media sosial atau aplikasi lain.
Ketua LPS Ungkap Tujuan Utama Jogja Financial Festival 2026
Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, 22-24 Mei, akan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan dengan target 10 ribu peserta. [417] url asal
#jogja-financial-festival #lembaga-penjamin-simpanan #anggito-abimanyu #lps #gik #gelanggang-inovasi-dan-kreativitas #transmedia #dewan-komisioner-lembaga-penjamin-simpanan #juicy-luicy #ugm #jogja
(CNN Indonesia - Ekonomi) 24/04/26 11:52
v/201534/
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, mengatakan ajang Jogja Financial Festival 2026 yang bakal berlangsung di Yogyakarta, 22-24 Mei mendatang, digelar untuk meningkatkan literasi keuangan dan inklusi keuangan.
Ajang Jogja Financial Festival 2026 ditargetkan menyedot hingga 10 ribu pengunjung dan diharapkan menjadi pusat literasi keuangan nasional.
Festival ini merupakan hasil kolaborasi berbagai otoritas sektor keuangan yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Anggito juga menyebut kolaborasi ini untuk stabilisasi dan pendalaman sektor keuangan.
"Ini merupakan core kepentingan kami berempat, yaitu Bank Indonesia, OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan. Kami bersama-sama melakukan stabilisasi dan pendalaman sektor keuangan," ujar Anggito dalam konferensi pers di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sleman, Jumat (24/4).
"Jogja ini kota edukasi, literasinya tinggi, tapi transaksinya masih belum cukup tinggi. Karena itu kami memilih Jogja agar ada peningkatan kegiatan keuangan," ujarnya menambahkan.
Jogja Financial Festival 2026 akan berlangsung di dua lokasi, yakni di Jogja Expo Center, Bantul, untuk acara Jogja Financial Fwstival dan UGM untuk acara Jogja Run D-City.
Selain menghadirkan edukasi keuangan dari otoritas, acara juga melibatkan perbankan, fintech, hingga pelaku industri kreatif dan UMKM. Tokoh-tokoh sektor keuangan dan sosok inspiratif dalam negeri ini akan memberikan edukasi dan kisah inspiratif, yang pastinya akan berguna bagi para peserta yang hadir.
Nantinya kelas-kelas edukasi keuangan akan digelar secara eksklusif, sehingga para peserta bisa mendapatkan ilmu-ilmu keuangan dan tips investasi yang bisa menjadi pilihan ke depan.
Sejumlah pelaku industri keuangan, antara lain perbankan, pasar modal, asuransi, kripto, hingga fintech akan meramaikan acara ini dengan membuka booth-booth dengan kemasan dan games-games yang menarik dan edukatif. Booth-booth UMKM juga akan ikut meramaikan acara ini.
Anggito menyebut, antusiasme peserta diperkirakan tinggi. Panitia pun menargetkan kehadiran sekitar 10 ribu orang selama pelaksanaan acara.
"Kami akan memanfaatkan tempat ini, yang insyaallah akan dihadiri 10 ribu orang. Mudah-mudahan cukup," kata Anggito.
Jogja Financial Festival 2026, yang digelar LPS bekerja sama dengan Transmedia, juga akan diramaikan berbagai kegiatan seperti pameran, literasi keuangan, hingga event olahraga seperti fun run dan exhibition basket.
Acara ini bakal digelar di Jogja Expo Center pada 22-24 Mei 2026. Dalam rangkaian ajang ini juga ada event lari Jogja Run D-City 2026 yang digelar pada 24 Mei 2026.
Festival ini juga bakal menghadirkan nama-nama artis musik besar seperti Ari Lasso dan Juicy Luicy.
Informasi lengkap seputar Jogja Run D-City 2026 bisa didapat melalui Instagram @jogjarundcity. Sementara pendaftaran Jogja Run D-City 2026 bisa dilakukan melalui link berikut ini.
Lengkapnya baca di sini.
CT Sebut Jogja Financial Festival Efektif Tingkatkan Literasi Keuangan
Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, luncurkan Jogja Financial Festival 2026 yang digelar gratis 22-23 Mei 2026 guna tingkatkan literasi keuangan dengan hiburan. [658] url asal
#berita-daerah #jogja-financial-festival #ct-corp #transmedia #literasi-keuangan #edukasi-keuangan #jogja-financial-festival-2026 #gelanggang-inovasi-dan-kreativitas #d-city #lembaga-penjamin-s
(CNN Indonesia - Ekonomi) 03/04/26 16:56
v/181144/
Chairman CT Corp, Chairul Tanjung (CT) menyiapkan pendekatan demi mendorong literasi keuangan di Indonesia dengan memadukan edukasi serius dengan hiburan massal melalui Jogja Financial Festival 2026.
Festival keuangan itu akan digelar 22-23 Mei di Jogja Expo Center, Bantul, DIY, dan merupakan kolaborasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Transmedia. Festival itu ditargetkan menjangkau ribuan masyarakat secara langsung dan lebih luas untuk literasi keuangan.
Acara tersebut nantinya bakal mempertemukan para pemangku kepentingan di sektor keuangan. Mereka dari mulai pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri keuangan, akademisi, hingga masyarakat luas untuk berdiskusi, berbagi perspektif, serta mendorong peningkatan literasi keuangan di Indonesia.
Bagi CT, masalah utama literasi keuangan bukan sekadar kurangnya materi, melainkan cara penyampaiannya sekarang ini yang kurang memikat hati masyarakat.
"Nah, salah satu cara yang paling efektif untuk melakukan literasi keuangan adalah yang pertama mengumpulkan sebanyak-banyaknya orang, ya. Lalu diberi pendidikan, tapi kalau cuma diberi pendidikan, hilang ya," kata CT dalam acara Breakfast Meeting prapenyelenggaraan Jogja Financial Festival dan Jogja Run D-City di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), UGM, Sleman, DIY, Jumat (3/4).
Momen breakfast meeting ini turut dihadiri Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, perwakilan Kementerian Keuangan, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan jajaran petinggi kampus UGM juga hadir dalam acara.
CT mengatakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka Jogja Financial Festival 2026 dirancang bak magnet massa: edukasi dikemas di antara konser, hiburan, hingga kehadiran publik figur.
Misi utamanya, membuat orang datang, bertahan, lalu menyerap pesan.
"Makanya di antara itu selalu ada hiburan yang membuat orang itu tidak bergerak dari posisi duduknya," imbuh CT.
Lebih dari sekadar acara seremonial, CT ingin seluruh industri keuangan turun langsung menyentuh masyarakat. Bank, asuransi, hingga institusi keuangan lainnya didorong membuka stan interaktif dan menggelar kelas edukasi nan praktis.
Menurutnya, memberikan literasi keuangan lewat konsep ini bakal lebih mengena ketimbang melalui ceramah panjang lebar.
Menariknya, seluruh festival ini dibuka gratis untuk publik. Hal tersebut, katanya, menjadi sebuah strategi untuk menghilangkan hambatan partisipasi sekaligus memperluas jangkauan edukasi.
"Dan semua yang namanya Financial Festival ini gratis seratus persen karena semua dibiayai oleh LPS beserta para sponsor," tegas CT.
Di balik konsep festival, CT tetap menekankan manajemen yang ketat. Dia mengatakan jumlah peserta dibatasi, apalagi mengingat pengalaman penyelenggaraan sebelumnya di Medan menunjukkan animo tinggi saat sesi hiburan berlangsung.
Rangkaian acara Jogja Financial Festival itu akan diiringi Jogja Run D-City pada 24 Mei 2026. Ajang lari itu digelar dengan pendekatan berbeda yakni berbayar, namun dengan tujuan sosial.
"Seratus persen akan dihibahkan untuk UGM, sebagai apa dana untuk membantu mungkin adik-adik kita yang di UGM yang memang membutuhkan beasiswa," kata CT menjelaskan soal akan kemana uang pendaftaran peserta Jogja Run D-City tersebut mengalir.
Jogja Run D-City akan terdiri dari Fun Run 5K dan Race Run 10K dengan hadiah mencapai puluhan juta rupiah.
Ajang lari ini memiliki rute spesial berupa sederet landmark ikonik Yogyakarta. Rute dimulai dari kawasan Universitas Gadjah Mada dan RSUP Dr. Sardjito, kemudian melintasi Tugu Yogyakarta yang legendaris, menyusuri Jalan Malioboro yang penuh warna, hingga finis di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Melalui kombinasi edukasi, hiburan, dan aksi sosial ini, CT ingin menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak harus kaku dan justru bisa menjadi gerakan besar yang melibatkan semua pihak.
"Saya tahu bahwa kesuksesan ini tidak akan pernah mungkin tanpa dukungan kita semua, tanpa kebersatuan kita dalam melangkah," katanya.
Pengunjung juga akan diajak bergembira lewat sesi Stand Up Comedy dari Kiky Saputri, serta penampilan musik dari Ari Lasso, Happy Asmara hingga Juicy Lucy.
Dua program unggulan Transmedia, yaitu 'Lapor Pak!' dan 'Arisan' yang dipandu host Surya Insomnia akan turut memeriahkan festival keuangan ini.
Jogja Financial Festival 2026 turut berkontribusi di sektor kesehatan melalui helatan
Keseruan acara ditutup Celebrity Match di Kampus UGM, menghadirkan selebritas Denny Sumargo dan Duta Modjo 'Sheila On 7', juga penampilan dari Ndarboy.
CT dalam kunjungannya ke Yogyakarta kali ini menyempatkan waktu untuk meninjau langsung JEC di Bantul sebagai venue Jogja Financial Festival 2026. Ia didampingi salah satunya Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.
Ketika satu pekerjaan tak lagi cukup
Belakangan ini, cerita tentang pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan semakin sering muncul di ruang publik.Ada pegawai kantor yang setelah jam kerja ... [1,242] url asal
#tenaga-kerja #pekerjaan-sampingan #pekerja-informal #kreativitas-ekonomi #digital #ekonomi-digital
Di banyak rumah tangga, pekerjaan sampingan menjadi cara untuk menutup kesenjangan antara pendapatan dan kebutuhan hidup
Jakarta (ANTARA) - Belakangan ini, cerita tentang pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan semakin sering muncul di ruang publik.
Ada pegawai kantor yang setelah jam kerja menjadi pengemudi ojek daring, karyawan yang mengelola toko daring pada malam hari, hingga pekerja muda yang menawarkan berbagai jasa digital. Istilah side hustle—aktivitas ekonomi tambahan di luar pekerjaan utama—perlahan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Fenomena ini kerap dipandang sebagai tanda kreativitas ekonomi masyarakat di era digital. Teknologi membuka peluang memperoleh penghasilan tambahan tanpa meninggalkan pekerjaan utama. Namun, di balik gambaran tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa semakin banyak pekerja merasa perlu memiliki lebih dari satu sumber penghasilan?
Pertanyaan ini membawa kita pada gambaran lebih luas tentang kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia. Dalam statistik ketenagakerjaan, keberadaan pekerjaan tambahan bukan sekadar soal pilihan gaya hidup atau semangat kewirausahaan. Ia sering berkaitan dengan kualitas pekerjaan utama, stabilitas pendapatan, serta struktur pasar kerja.
Jika pekerjaan utama mampu memberikan penghidupan yang cukup dan stabil, pekerjaan tambahan biasanya hadir sebagai pilihan. Namun ketika penghasilan dari pekerjaan utama belum sepenuhnya mampu menopang kebutuhan hidup, pekerjaan sampingan perlahan berubah dari sekadar pilihan menjadi strategi bertahan.
Data ketenagakerjaan BPS menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja Indonesia terus meningkat. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 mencatat jumlah angkatan kerja mencapai sekitar 154 juta orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ini mencerminkan dinamika demografis dan ekonomi. Setiap tahun, jutaan orang memasuki pasar kerja dengan harapan memperoleh pekerjaan yang mampu menopang kehidupan mereka. Namun bertambahnya jumlah pekerja tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pekerjaan yang tersedia.
Dalam melihat dinamika pasar kerja, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang bekerja. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah pekerjaan tersebut mampu memberikan penghasilan yang memadai, stabilitas ekonomi, serta perlindungan sosial yang cukup. Dari perspektif inilah fenomena pekerja sampingan dapat dibaca secara berbeda. Ia bukan semata-mata mencerminkan fleksibilitas ekonomi, tetapi juga dapat menjadi sinyal bahwa banyak pekerjaan utama belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Struktur pekerjaan di Indonesia memberikan gambaran yang menarik mengenai kondisi ini. Data Sakernas menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja masih berada dalam kategori yang relatif rentan dari sisi pendapatan maupun stabilitas kerja. Pada Agustus 2025, sekitar 38,74 persen pekerja berstatus buruh/karyawan/pegawai. Sementara itu, 21,40 persen berusaha sendiri, 13,86 persen berusaha dibantu buruh tidak tetap, dan 9,58 persen berstatus pekerja bebas. Selain itu, hampir 13 persen pekerja merupakan pekerja keluarga.
Ekonomi skala kecil
Komposisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja Indonesia masih berada dalam kegiatan ekonomi berskala kecil atau usaha mandiri yang pendapatannya tidak selalu pasti. Dalam konteks seperti ini, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan sering kali bukan sekadar pilihan, melainkan strategi bertahan. Di banyak rumah tangga, pekerjaan sampingan menjadi cara untuk menutup kesenjangan antara pendapatan dan kebutuhan hidup. Ketika penghasilan dari pekerjaan utama tidak cukup stabil atau tidak cukup besar, pekerjaan tambahan menjadi penopang ekonomi keluarga.
Kondisi ini semakin relevan jika dilihat dari dinamika pekerjaan informal di Indonesia. Pekerjaan informal masih menyerap proporsi besar tenaga kerja, termasuk di wilayah perkotaan. Pada Agustus 2025, proporsi pekerja informal di perkotaan bahkan mencapai 51,19 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pasar kerja perkotaan belum sepenuhnya didominasi pekerjaan formal dengan perlindungan kerja yang kuat. Sebaliknya, banyak pekerja berada dalam bentuk hubungan kerja yang fleksibel, tetapi tidak selalu memberikan kepastian ekonomi.
Di satu sisi, fleksibilitas tersebut memberi ruang bagi pekerja untuk mengombinasikan berbagai sumber penghasilan. Namun di sisi lain, fleksibilitas ini juga berarti bahwa risiko ekonomi lebih banyak harus ditanggung oleh individu pekerja itu sendiri.
Fenomena pekerja sampingan juga berkaitan dengan dinamika struktur pekerjaan dalam beberapa tahun terakhir. Struktur ketenagakerjaan Indonesia masih menunjukkan dominasi pekerjaan mandiri, mulai dari mereka yang berusaha sendiri hingga pekerja bebas di berbagai sektor. Dalam kondisi seperti ini, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan menjadi strategi yang cukup rasional bagi banyak pekerja.
Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Platform daring membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan melalui berbagai aktivitas ekonomi. Pekerjaan berbasis aplikasi, perdagangan digital, maupun jasa berbasis internet menjadi semakin mudah diakses. Bagi sebagian orang, peluang ini bahkan berkembang menjadi usaha utama. Banyak pekerja memulai usaha kecil dari aktivitas sampingan yang kemudian berkembang.
Namun fleksibilitas ekonomi digital tidak selalu identik dengan keamanan ekonomi. Pendapatan dalam pekerjaan berbasis platform sering kali bersifat fluktuatif, jam kerja tidak selalu pasti, dan perlindungan sosial masih terbatas. Dalam situasi seperti ini, memiliki lebih dari satu pekerjaan menjadi cara untuk mengurangi ketidakpastian pendapatan. Seorang pekerja dapat menggabungkan pekerjaan tetap dengan pekerjaan berbasis platform, atau menjalankan usaha kecil sebagai penghasilan tambahan.
Strategi ini memang dapat meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, fenomena ini juga dapat menunjukkan adanya kesenjangan antara produktivitas pekerjaan dan tingkat kesejahteraan pekerja. Jika semakin banyak orang merasa perlu memiliki dua atau bahkan tiga pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, persoalannya bukan lagi sekadar tentang etos kerja masyarakat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah struktur pasar kerja telah memberikan imbal hasil yang cukup bagi tenaga kerja.
Kondisi pasar kerja
Bagi sebagian orang, menganggur bukanlah pilihan. Tekanan ekonomi membuat mereka harus tetap bekerja dalam kondisi apa pun, bahkan jika itu berarti menjalani lebih dari satu pekerjaan sekaligus. Dalam konteks seperti ini, tingkat pengangguran yang rendah tidak selalu mencerminkan kondisi pasar kerja yang ideal. Banyak orang memang bekerja, tetapi tidak semua pekerjaan mampu memberikan kesejahteraan yang memadai.
Karena itu, memahami kondisi pasar tenaga kerja tidak cukup hanya melihat angka pengangguran. Indikator lain seperti jam kerja, status pekerjaan, tingkat informalitas, serta tingkat pendapatan menjadi penting untuk menggambarkan kualitas pekerjaan secara lebih utuh. Di Indonesia, misalnya, masih terdapat pekerja yang jam kerjanya rendah bukan karena pilihan, melainkan karena keterbatasan kesempatan kerja. Sebagian dari mereka tergolong setengah penganggur—bekerja kurang dari jam kerja normal dan masih ingin menambah jam kerja.
Kelompok inilah yang sering menjadi bagian dari dinamika pekerja sampingan. Ketika jam kerja utama tidak mencukupi atau pendapatan terlalu rendah, mereka mencari pekerjaan tambahan untuk meningkatkan penghasilan.
Fenomena pekerja sampingan, dengan demikian, memiliki dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia mencerminkan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan ekonomi. Teknologi digital, fleksibilitas kerja, serta berkembangnya ekonomi kreatif membuka ruang baru bagi individu untuk menciptakan sumber penghasilan tambahan.
Namun di sisi lain, fenomena ini juga dapat menjadi cerminan dari tantangan struktural dalam pasar tenaga kerja. Ketika pekerjaan utama belum sepenuhnya mampu memberikan stabilitas ekonomi, pekerja terdorong mencari alternatif lain untuk bertahan.
Di sinilah upaya peningkatan kualitas pekerjaan menjadi semakin penting. Pekerjaan yang layak bukan sekadar soal terserapnya tenaga kerja, tetapi juga tentang kemampuan pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang memadai, keamanan kerja, serta peluang peningkatan keterampilan. Peningkatan produktivitas tenaga kerja menjadi kunci dalam proses ini. Tanpa produktivitas yang lebih tinggi, sulit bagi perekonomian untuk menciptakan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik dan stabil.
Pada akhirnya, maraknya pekerja sampingan tidak hanya dapat dilihat sebagai tren gaya hidup ekonomi modern. Ia juga menjadi jendela untuk memahami realitas pasar kerja yang lebih dalam. Di balik berbagai upaya pekerja mencari penghasilan tambahan, terdapat pertanyaan besar tentang bagaimana perekonomian menghargai tenaga kerja.
Jika pekerjaan utama mampu memberikan kehidupan yang layak, pekerjaan tambahan akan hadir sebagai pilihan—bukan keharusan. Namun, jika pekerjaan utama belum cukup menopang kehidupan, maka pekerjaan sampingan akan terus menjadi strategi bertahan bagi banyak pekerja. Fenomena ini mengingatkan bahwa tujuan pembangunan ekonomi bukan sekadar menciptakan pekerjaan, tetapi pekerjaan yang memungkinkan setiap orang hidup dengan bermartabat.
Dan di situlah ukuran keberhasilan pasar tenaga kerja yang sesungguhnya.
*) Lili Retnosari, statisti Badan Pusat Statistik (BPS), Pemerhati Isu Sosial Ekonomi
Copyright © ANTARA 2026
KUR dan masa depan pembiayaan usaha kreatif anak bangsa
Ekonomi kreatif saat ini diposisikan sebagai the New Engine of Growth. Slogan tersebut bukan sekadar arah kebijakan, melainkan refleksi atas perkembangan ... [1,067] url asal
#ekonomi-kreatif #kredit-usaha-rakyat #kur #pembiayaan #kreativitas #inovasi
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, pengakuan kekayaan intelektual dalam skema KUR tetap merupakan langkah maju. Kebijakan ini dapat menjadi pemicu terbentuknya ekosistem pembiayaan ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perk
Jakarta (ANTARA) - Ekonomi kreatif saat ini diposisikan sebagai the New Engine of Growth. Slogan tersebut bukan sekadar arah kebijakan, melainkan refleksi atas perkembangan ekonomi global yang semakin bertumpu pada ide, kreativitas, dan inovasi.
Ekonomi kreatif merupakan perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari kreativitas manusia, yang berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan, dan/atau teknologi. Dalam konteks Indonesia, kekayaan budaya yang melimpah, bonus demografi, serta berkembangnya teknologi digital yang semakin luas menjadi fondasi yang memperkuat posisi sektor ini sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi baru.
Berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, film, musik, penerbitan, desain, aplikasi, gim, hingga konten digital, telah menunjukkan kontribusi nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan usaha baru.
Di tengah dinamika ekonomi global yang tidak stabil, sektor ini relatif adaptif karena berbasis pada kreativitas dan kemampuan membaca perubahan selera pasar. Banyak pelaku usaha kreatif tumbuh dari skala mikro dan kecil, memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan lintas negara.
Namun, di balik potensi yang besar tersebut, persoalan akses pembiayaan masih menjadi tantangan utama bagi banyak pegiat ekonomi kreatif.
Selama ini, sistem pembiayaan nasional masih sangat bergantung pada paradigma lama yang menempatkan aset berwujud sebagai syarat utama kelayakan kredit. Tanah, bangunan, kendaraan, atau persediaan barang menjadi ukuran yang lazim digunakan untuk menilai kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban.
Paradigma ini mungkin relevan dalam ekonomi berbasis manufaktur dan perdagangan konvensional, tetapi menjadi kurang memadai ketika dihadapkan pada model bisnis yang bertumpu pada ide dan kreativitas seperti pegiat ekonomi kreatif. Kondisi ini membuat pegiat ekonomi kreatif berada pada posisi yang kurang menguntungkan dalam mengakses pembiayaan formal.
Banyak usaha kreatif memiliki produk bernilai, basis pelanggan yang jelas, serta potensi pertumbuhan yang menjanjikan. Namun, masih banyak pegiat ekonomi kreatif kesulitan memperoleh kredit karena tidak memiliki agunan fisik yang memadai.
Padahal, kekuatan utama usaha kreatif justru terletak pada kekayaan intelektual baik dalam bentuk hak cipta, merek, desain industri, ataupun paten. Nilai ekonominya tidak selalu tercermin dalam bentuk fisik, tetapi nyata dalam kemampuan menghasilkan pendapatan melalui penjualan, lisensi, royalti, atau kolaborasi komersial. Ketika sistem pembiayaan belum sepenuhnya mengakomodasi karakter ini, maka potensi ekonomi kreatif memiliki tantangan tidak berkembang secara optimal.
Keterbatasan akses pembiayaan berdampak langsung pada kemampuan usaha kreatif untuk tumbuh. Tanpa dukungan modal yang memadai, pegiat ekonomi kreatif sulit meningkatkan kapasitas produksi, memperluas distribusi, memperkuat promosi, atau berinvestasi pada riset dan inovasi baru.
Banyak ide kreatif berhenti pada tahap prototipe karena tidak memperoleh dukungan pendanaan untuk masuk ke tahap komersialisasi. Jika kondisi ini dibiarkan, kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional tidak akan maksimal, padahal potensinya untuk mendorong pertumbuhan inklusif sangat besar.
Dalam konteks tersebut, terbitnya Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi penting untuk dicermati. Regulasi ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan pembiayaan dengan perubahan struktur ekonomi yang semakin berbasis ide dan kreativitas. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara tidak lagi memandang pembiayaan usaha semata-mata melalui kacamata aset fisik, tetapi mulai membuka ruang bagi pengakuan terhadap aset tidak berwujud.
Salah satu poin penting dalam kebijakan tersebut adalah dibukanya ruang bagi kekayaan intelektual sebagai agunan tambahan dalam penyaluran KUR. Ketentuan ini memberi sinyal kuat bahwa negara mulai mengakui nilai ekonomi dari ide, karya, dan inovasi yang dihasilkan pegiat ekonomi kreatif.
Pengakuan ini memiliki makna simbolik sekaligus praktis. Secara simbolik, ia menegaskan bahwa kreativitas memiliki tempat dalam sistem kebijakan ekonomi nasional. Secara praktis, regulasi ini membuka peluang baru bagi pegiat ekonomi kreatif untuk mengakses pembiayaan formal yang sebelumnya sulit dijangkau.
Pengakuan terhadap kekayaan intelektual bukan hanya soal penyesuaian regulasi pembiayaan, tetapi juga tentang perubahan cara berpikir. Publik diajak memahami bahwa kekayaan intelektual tidak berhenti pada perlindungan hukum semata.
Selama ini, banyak pegiat ekonomi kreatif melihat pendaftaran hak cipta atau merek sebagai langkah administratif untuk mencegah pembajakan. Padahal, dalam praktik global, kekayaan intelektual merupakan aset produktif yang dapat dimonetisasi melalui lisensi, waralaba, royalti, atau berbagai bentuk kerja sama komersial lainnya. Perspektif ini mempertegas bahwa ide dan kreativitas memiliki nilai ekonomi yang nyata dan dapat menjadi instrumen penggerak pertumbuhan.
Meski demikian, kekayaan intelektual dalam skema KUR masih diposisikan sebagai agunan tambahan, bukan agunan utama. Artinya, perbankan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menilai kelayakan usaha.
Penilaian kredit tetap mempertimbangkan berbagai aspek, seperti prospek pasar, rekam jejak usaha, arus kas, serta kemampuan pelaku usaha dalam mengelola kekayaan intelektualnya secara berkelanjutan. Pendekatan ini mencerminkan keseimbangan antara inovasi kebijakan dan prinsip prudensial dalam sistem keuangan.
Keberhasilan kebijakan ini juga sangat bergantung pada kesiapan pegiat ekonomi kreatif sendiri. Masih banyak pegiat ekonomi kreatif belum mendaftarkan atau mengelola kekayaan intelektualnya secara formal. Padahal, kepemilikan kekayaan intelektual yang tercatat menjadi salah satu faktor penting agar aset tersebut dapat dinilai dalam proses pembiayaan. Tanpa bukti kepemilikan yang jelas, sulit bagi lembaga keuangan untuk memasukkan kekayaan intelektual dalam skema penilaian agunan.
Oleh karena itu, peningkatan literasi tentang kekayaan intelektual dan manajemen usaha kreatif menjadi pekerjaan rumah bersama. Pemerintah, lembaga pendidikan, asosiasi industri, dan komunitas kreatif perlu mendorong kesadaran bahwa perlindungan dan pengelolaan kekayaan intelektual adalah bagian integral dari strategi bisnis.
Di sisi lain, sektor keuangan juga perlu meningkatkan pemahaman terhadap karakter dan model bisnis kreatif yang dinamis, berbasis proyek, dan sering kali memanfaatkan ekosistem digital. Tanpa pemahaman yang memadai, ruang kebijakan yang telah dibuka berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal di tingkat implementasi.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, pengakuan kekayaan intelektual dalam skema KUR tetap merupakan langkah maju. Kebijakan ini dapat menjadi pemicu terbentuknya ekosistem pembiayaan ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam jangka panjang, langkah ini berpotensi mendorong usaha kreatif naik kelas, memperluas skala bisnis, menciptakan lapangan kerja baru, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
Lebih dari sekadar kebijakan teknis, arah baru KUR mencerminkan kesadaran bahwa kreativitas dan inovasi anak bangsa adalah modal strategis pembangunan. Ketika ide dan kekayaan intelektual mulai diakui sebagai bagian dari sistem pembiayaan, Indonesia sedang meneguhkan langkah menuju kemandirian ekonomi berbasis sumber daya manusia. Transformasi ini menandai pergeseran penting: dari ekonomi yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam menuju ekonomi yang mengandalkan kekuatan gagasan.
Dalam perjalanan menuju masa depan tersebut, penguatan peran kekayaan intelektual dalam sistem pembiayaan bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru pembangunan ekonomi kreatif Indonesia.
*) Stepanus Dwi Nugroho Adi, S.M. adalah Analis Kebijakan di Direktorat Pengembangan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif
Copyright © ANTARA 2026
Sam Altman: AI Tak Akan Gantikan Manusia, Tapi…
Sam Altman dari OpenAI menyatakan bahwa AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi mereka yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak. AI adalah alat yang mempercepat pekerjaan dan meningkatkan p [751] url asal
#ai-dan-manusia #ai-dalam-bisnis #ai-dalam-kehidupan-sehari-hari #ai-menggantikan-pekerjaan #ai-sebagai-alat #ai-dan-kreativitas #ai-dan-pembelajaran #ai-dan-teknologi #ai-dan-masa-depan #ai-dan-pe
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 30/01/26 15:45
v/119953/
Bisnis.com, JAKARTA - Teknologi terus berkembang lebih cepat dari sebelumnya di dunia saat ini, yang berubah dengan cepat. Termasuk AI, atau kecerdasan buatan yang kini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
AI sudah dipergunakan dan menjadi pekerja di balik layar dalam banyak hal, seperti mesin pencari, telepon seluler, perangkat lunak perkantoran, dan belanja online.
Sebagian orang antusias dengan perubahan ini, sementara yang lain khawatir karena bisa menyebabkan kehilangan pekerjaan dan menyebabkan suatu pekerjaan menjadi kurang penting.
Namun, Pendiri Open AI, Sam Altman, memberikan kejelasan dan harapan dalam situasi ini. Dia mengatakan bahwa AI tidak akan mengambil alih peran manusia.
"Tetapi orang-orang yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak menggunakannya," lanjutnya.
Kalimat sederhana ini mengingatkan bahwa mesin tidak memiliki masa depan, jika tak ada campur tangan manusia.
Orang-orang yang bersedia belajar, berubah, dan berkembang bersama teknologi, alih-alih menghindarinya, justru menguasainya.
Pada awalnya, kutipan Sam Altman mungkin tampak terlalu kasar. Tetapi jika kita perhatikan lebih dekat, kutipan ini memiliki pesan yang baik. Dia bukan mengatakan bahwa manusia akan menjadi tidak berguna. Dia justru menegaskan bahwa orang-orang yang tahu cara menggunakan AI dengan benar akan memiliki keunggulan.
AI adalah alat, sama seperti komputer, telepon, dan internet di masa lalu. Banyak orang takut dengan teknologi baru ini ketika pertama kali muncul.
Orang-orang yang belajar cara menggunakannya menjadi lebih baik seiring waktu. Hal ini juga terjadi pada AI saat ini.
Kutipan ini memberi tahu orang-orang untuk menganggap AI sebagai teman, bukan musuh.
Gagasan Altman tersebut memberi tahu kita bahwa kemampuan untuk mempelajari hal-hal baru dan beradaptasi lebih penting dari sebelumnya.
Hal-hal seperti pekerjaan, sekolah, dan bisnis berubah sangat cepat saat ini. AI sekarang digunakan oleh banyak bisnis untuk menulis, mendesain, membantu pelanggan, menganalisis data, dan merencanakan. Siswa bahkan sudah menggunakan AI untuk melakukan penelitian dan belajar.
Bahkan pemilik usaha kecil pun menggunakan alat digital untuk melacak penjualan dan pelanggan.
Karena itu, orang yang tidak ingin mempelajari alat baru mungkin akan tertinggal. Bukan karena mereka kurang berbakat, tetapi karena mereka tidak mengikuti perubahan.
Kata-kata Sam Altman mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat menghentikan kemajuan. Kita tidak boleh takut akan hal itu, tapi kita harus bersiap untuk itu.
Bagaimana AI Mengubah Kehidupan Sehari-hari
AI bukan hanya untuk ilmuwan atau bisnis besar lagi. Sekarang AI adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang menggunakan AI ketika mereka mencari informasi di internet, mengubah bahasa, mengubah tampilan foto dan video, mengirim email dan menulis makalah, bahkan hingga memantau kesehatan dan kebugaran.
Alat-alat ini mengurangi beban kerja dan menghemat waktu. Alat-alat ini membantu orang berkonsentrasi pada kreativitas, pemecahan masalah, dan pengembangan diri.
Orang yang belajar menggunakan alat-alat ini dengan bijak seringkali mendapati pekerjaan menjadi lebih mudah dan lebih produktif.
Untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, pelajari cara menggunakan alat AI dasar yang terkait dengan pekerjaan Anda, seperti asisten penulisan, aplikasi desain, atau alat data.
Gunakan AI untuk membantu Anda dalam tugas sehari-hari seperti membuat catatan, penjadwalan, dan melakukan riset sehingga Anda dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan penting dan kreatif.
Jangan lupa untuk tetap memeriksa fakta dan jangan terlalu bergantung pada hasil otomatis untuk mempelajari cara menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Perbarui keterampilan digital Anda agar Anda tetap percaya diri di lingkungan kerja yang selalu berubah. AI dapat membantu Anda menghemat waktu untuk hal-hal yang Anda lakukan setiap hari, seperti merencanakan perjalanan, melacak keuangan Anda, atau mempelajari hal-hal baru.
Alih-alih takut pada teknologi, beri tahu teman, rekan kerja, dan anggota keluarga Anda untuk belajar dan berkembang bersamanya.
Gunakan teknologi ini dengan cara yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, empati, dan berpikir kritis.
AI memang kuat, tetapi tidak mampu meniru semua hal yang membuat manusia unik. Kreativitas, kecerdasan emosional, penilaian moral, dan imajinasi tetap merupakan ciri khas manusia.
Mesin dapat memberi Anda informasi, tetapi tidak dapat merasakan belas kasihan kepada Anda. Mesin dapat menganalisis data, tetapi tidak dapat benar-benar memahami bagaimana perasaan manusia. Itulah mengapa individu dengan kemampuan teknis dan nilai-nilai akan selalu dihargai.
Kutipan ini mengingatkan siswa untuk mempelajari hal-hal baru serta mengerjakan tugas sekolah reguler mereka. Mempelajari teknologi sejak dini dapat membantu Anda dalam banyak hal di kemudian hari.
Bagi orang dewasa dan sudah bekerja, ini adalah pertanda untuk terus mempelajari hal-hal baru. Pembelajaran tidak pernah berhenti, terutama di era digital ini. Bahkan hal-hal kecil, seperti mempelajari satu alat baru dalam satu waktu, dapat memberikan dampak besar.
Bagi pemilik bisnis, berarti harus mulai menggunakan AI untuk meningkatkan layanan, memangkas biaya, dan melayani pelanggan dengan lebih baik.
Perempuan dan Teknologi: Melawan Stigma “Dunia Laki-laki”
Shinta menapaki dunia digital sejak 1996, ketika internet belum dikenal luas. [542] url asal
#bubu #cultural-intelligence-agency #branding #industri-digital #komunitas #esports #teknologi #kreativitas #transformasi-bisnis #kecerdasan-buatan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stigma teknologi sebagai “dunia laki-laki” masih menjadi salah satu penghalang utama keterlibatan perempuan di sektor digital. Penekanan itu disampaikan Pendiri Bubu.com, Shinta Witoyo Dhanuwardono, saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin di kantornya, kawasan Pondok Indah, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Berbekal pengalaman lebih dari tiga dekade di industri teknologi, Shinta menilai tantangan tersebut bersumber dari pola pikir, bukan keterbatasan kemampuan.
Shinta menapaki dunia digital sejak 1996, ketika internet belum dikenal luas di Indonesia dan ekosistem teknologi nyaris belum terbentuk. Latar belakang pendidikan arsitektur tidak menghalanginya terjun ke dunia teknologi setelah ia mengenal World Wide Web saat menempuh studi magister bisnis di Amerika Serikat dan bekerja di laboratorium komputer Portland State University.
“Waktu itu saya melihat dengan mata sendiri internet itu dahsyat. Saya jatuh cinta karena bisa belajar sendiri bagaimana membuat website melalui internet, dan itu sudah menjadi game changer,” ujarnya.
Pengalaman awal tersebut membentuk keyakinannya menempatkan teknologi sebagai alat pembelajaran dan pemberdayaan. Sepulang ke Tanah Air, ia mendirikan Bubu bersama sejumlah mitra yang memiliki visi serupa, memperkenalkan teknologi digital sebagai sarana mengubah cara kerja dan cara berpikir. Perjalanan tersebut tidak selalu mulus, terutama saat krisis dot-com awal 2000-an yang memaksanya menutup lebih dari lima perusahaan rintisan.
Tekanan dan kegagalan berulang justru menguatkan pandangannya tentang ketangguhan perempuan di dunia teknologi. Shinta menilai perempuan memiliki kapasitas untuk mengelola kompleksitas, termasuk bisnis, keluarga, dan peran sosial, ketika teknologi dimanfaatkan secara tepat.
“Perempuan sebenarnya bisa banyak menggunakan teknologi untuk membantu meringankan pekerjaan sehari-hari. Bukan hanya mengelola perusahaan, tapi juga mengelola semuanya, termasuk keluarga,” kata pendiri Nusantara Ventures itu.
Ia menilai persepsi teknologi sebagai ranah yang rumit dan maskulin kerap membuat perempuan enggan mendekat. Padahal, kemajuan teknologi justru menyederhanakan banyak proses. Media sosial, e-commerce, dan kecerdasan buatan membuka ruang luas bagi perempuan untuk berbisnis, membangun personal branding, serta menciptakan nilai tanpa batasan ruang dan waktu.
Dalam praktik kepemimpinan digital, Shinta menekankan pentingnya kemauan belajar tanpa henti, kreativitas, dan keberanian beradaptasi. Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut pemimpin bersikap luwes sekaligus berani mengambil risiko ketika model lama tidak lagi relevan.
Pandangan tersebut tercermin dari transformasi Bubu menjadi Cultural Intelligence Agency setelah tiga dekade beroperasi. Pendekatan berbasis pemahaman kultur dan komunitas dipadukan dengan teknologi, termasuk pemanfaatan AI melalui divisi KisahVisual.ai untuk membantu pelaku usaha kecil membangun cerita merek secara efisien.
Shinta menilai kecerdasan buatan tidak perlu diposisikan sebagai ancaman. Di industri kreatif, AI justru membuka peluang model bisnis baru dan memperluas peran manusia selama teknologi dikendalikan sebagai alat.
“Internet tetap tool, AI tetap tool. Kita yang harus mengoperasikan dan mengendalikan, lalu mengambil manfaatnya,” ujarnya.
Refleksi tentang peran perempuan di dunia teknologi juga berakar dari sejarah keluarganya. Shinta menyebut Eyang Supeni, diplomat perempuan Indonesia pada era Presiden Soekarno yang memimpin delegasi Indonesia di Sidang Umum PBB pada 1960, sebagai salah satu sumber inspirasi. Pengalaman tersebut meneguhkan keyakinannya bahwa tidak ada batasan peran berdasarkan gender.
Menurut dia, keunggulan perempuan terletak pada soft power seperti empati dan kemampuan melakukan banyak peran sekaligus. Ketika dipadukan dengan teknologi, kelebihan tersebut meningkatkan nilai dan daya saing perempuan di ruang digital yang semakin kompetitif.
Teknologi, dalam pandangan Shinta, seharusnya menjadi sarana pembebasan, bukan pembatas. Selama perempuan berani belajar dan memanfaatkan teknologi, stigma “dunia laki-laki” akan runtuh oleh praktik dan capaian nyata.
Redcomm Cetak Rekor 8 Tahun Berturut-turut Raih Indonesia Agency of the Year
Redcomm menegaskan evolusi bisnis berbasis inovasi digital dan kreativitas manusia. [434] url asal
#redcomm #penghargaan #agensi-independen #inovasi-digital #marketing #kreativitas #ai-kecerdasan-buatan #strategi-bisnis #kampanye-pemasaran #insight-data
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Redcomm kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu agensi independen paling konsisten di Indonesia dengan meraih dua penghargaan bergengsi pada ajang Campaign Asia-Pacific Agency of the Year 2025 (Southeast Asia). Dua Gold Awards yang diraih, yakni Indonesia Independent Agency of the Year dan Indonesia Digital Innovation Agency of the Year, tidak hanya menambah deretan prestasi, tetapi juga memperkuat sinyal arah baru industri marketing di kawasan.
Kemenangan ini sekaligus menandai tahun ke-8 berturut-turut Redcomm meraih Agency of the Year dari Campaign Asia, memperpanjang rekam jejak kemenangan sejak 2018 hingga 2025. Konsistensi tersebut menjadi bukti agensi independen mampu bersaing dengan jaringan global melalui kecepatan eksekusi, kedekatan dengan kebutuhan bisnis klien, serta kepemimpinan yang gesit.
Dalam pandangan Redcomm, kemenangan beruntun bukan lagi sekadar soal prestise, melainkan bukti evolusi berkelanjutan. Chairman Redcomm Damon Hakim menegaskan delapan tahun berturut-turut ini bukan tentang menang lagi, tetapi tentang membuktikan bahwa kami terus berevolusi.
"Di era ketika AI dan data menjadi baseline baru, tantangannya adalah menjaga kreativitas tetap tajam, strategi tetap relevan, dan inovasi tetap menghasilkan dampak nyata bagi brand," katanya dalam siaran persnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi bisnis Redcomm yang menjadikan penghargaan sebagai validasi strategi jangka panjang, bukan tujuan akhir. Redcomm membangun kapabilitas AI bukan sebagai jargon, melainkan sebagai sistem kerja yang terintegrasi dalam workflow harian.
Dengan prinsip human-in-the-loop, AI dimanfaatkan untuk mempercepat riset dan insight dari data lintas kanal, mengoptimalkan produksi serta personalisasi komunikasi, dan mempercepat eksperimen melalui pendekatan test-and-learn yang lebih disiplin.
Pendekatan ini sejalan dengan tren global ketika Generative AI semakin menjadi baseline dalam industri marketing. Namun, Redcomm menegaskan kreativitas manusia tetap menjadi pembeda utama di tengah era otomatisasi.
Kemenangan di kategori Digital Innovation Agency of the Year menegaskan inovasi digital kini diukur dari kemampuan membangun solusi yang dapat digunakan, diadopsi, dan menghasilkan dampak nyata. Managing Director Redcomm Group Lenny Chan menekankan inovasi digital bukan proyek satu kali.
"Ini tentang membangun cara kerja yang membuat brand lebih cepat belajar, lebih presisi bertindak, dan lebih siap menghadapi perubahan platform, data, dan perilaku konsumen,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan Redcomm memandang inovasi sebagai investasi jangka panjang yang melekat dalam sistem kerja, bukan sekadar kampanye sesaat.
Kemenangan Redcomm mencerminkan sejumlah tren besar yang membentuk ulang cara brand membangun pertumbuhan, antara lain AI tidak lagi sekadar alat, tetapi menjadi operating model yang mempercepat riset, produksi, dan pengambilan keputusan. Kreativitas manusia menjadi aset bernilai tinggi di tengah otomatisasi.
Pemanfaatan multi-sumber data yang dikombinasikan dengan kemampuan manusia menghasilkan insight dan strategi kreatif yang lebih unggul. Integrasi video dan social commerce semakin menyatu dengan konversi, menuntut brand berpikir lintas format dan lintas kanal.
Dorong Kreativitas Wirausaha Muda, KB Bank Gelar GenKBiz dan Star Festival di Bandung
KB Bank menggelar GenKBiz 2025 dan Star Festival 2025 di Bandung untuk mendorong kreativitas wirausaha muda. [544] url asal
#kreativitas #bandung #wirausaha-muda #kb-bank #genkbiz #star-festival
(Kompas.com - Money) 06/12/25 15:48
v/63266/
KOMPAS.com - PT Bank KB Indonesia (KB Bank) kembali menegaskan komitmennya untuk memberdayakan generasi muda Indonesia dengan menggelar GenKBiz dan Star Festival 2025 di Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/12/2025).
Program tersebut merupakan inisiatif KB Bank untuk mendorong kreativitas, literasi finansial, dan kemampuan wirausaha generasi (gen) Z yang kini menjadi penggerak utama ekonomi kreatif Indonesia.
Sebelumnya, GenKBiz telah sukses digelar di Batam. Pada rangkaian kedua, KB Bank memilih Bandung karena kota ini dikenal sebagai pusat komunitas kreatif dengan ekosistem wirausaha muda yang berkembang pesat.
Hal tersebut tercermin dari tingginya antusiasme peserta, dengan ratusan ide bisnis inovatif yang masuk dari berbagai kategori, seperti teknologi digital, sustainability, hingga social entrepreneurship.
Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengapresiasi antusiasme peserta di Bandung. Ia menegaskan bahwa berinvestasi pada generasi muda merupakan langkah strategis dalam membangun masa depan ekonomi Indonesia.
“Kami percaya bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menciptakan perubahan,” ujar Kunardy dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (6/12/2025).
Melalui GenKBiz, lanjut dia, KB Bank ingin hadir sebagai mitra yang memberikan ruang, kesempatan, dan dukungan, agar anak muda dapat membangun ide, tumbuh sebagai wirausaha, dan memulai perjalanan dengan fondasi finansial yang kuat.
“Kehadiran ratusan peserta dengan energi positif, kreativitas tinggi, dan keberanian untuk bermimpi membuktikan bahwa Bandung adalah rumah bagi talenta masa depan,” kata Kunardy.
Ia menegaskan bahwa KB Bank berkomitmen menjadikan program GenKBiz sebagai platform berkelanjutan yang tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga membuka akses ke jaringan, pembiayaan, dan peluang kolaborasi.
Program GenKBiz diawali dengan proses seleksi yang menentukan 20 semifinalis untuk mengikuti bootcamp.
Dalam sesi bootcamp, para peserta mendapatkan pembekalan intensif tentang strategi bisnis, perencanaan keuangan, pemasaran digital, hingga pematangan model bisnis dari mentor dan praktisi industri.
Dari 20 semifinalis, dipilih 10 finalis terbaik yang berkesempatan menampilkan pitch bisnis mereka dalam sesi final pitching GenKBiz Bandung 2025.
Star Festival Bandung 2025
Sebagai pelengkap program GenKBiz, KB Bank menyelenggarakan Star Festival Bandung 2025 yang memadukan unsur hiburan, edukasi, dan pemberdayaan. Acara ini digelar di KB Bank Kantor Cabang Utama (KCU) Bandung yang berlokasi di Jalan Asia Afrika.
Star Festival Bandung 2025 menghadirkan berbagai aktivitas yang menarik perhatian masyarakat, seperti kompetisi dance “Be The Superstar!” untuk komunitas K-pop dan dancer lokal serta sesi noraebang atau karaoke ala Korea yang menjadi favorit pengunjung.
Selain itu, terdapat juga bazaar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menampilkan berbagai produk kreatif lokal KB Bank. Star Festival Bandung 2025 ditutup dengan final pitching GenKBiz Bandung 2025 sebagai puncak acara kompetisi bisnis.
Kunardy menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang interaksi antara komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan calon wirausaha muda dalam suasana yang inklusif dan inspiratif.
Program tersebut menjadi langkah strategis KB Bank dalam membangun ekosistem generasi muda yang kreatif, memiliki literasi finansial yang lebih baik, berdaya saing tinggi, dan memiliki keberanian untuk memulai usaha.
“KB Bank ingin memastikan bahwa setiap anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, mencoba, dan maju. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat menjadi pengusaha tangguh yang memberikan dampak positif bagi masyarakat,” jelas Kunardy.
Untuk memeriahkan Star Festival di Bandung, KB Bank menawarkan promo cashback 50 persen bagi pengguna KBStar yang bertransaksi menggunakan QRIS KBStar di tenant Star Festival Bandung 2025.
Adapun rangkaian GenKBiz dan Star Festival selanjutnya akan hadir di Surabaya, Yogyakarta, dan Makassar.
Honda Culture Vol.2 Jadi Ajang Kumpul Komunitas H Tegak Terbesar di Tanah Air
Honda Culture tahun ini mempertemukan 37 komunitas aktif Honda. [603] url asal
#honda #honda-culture #otomotif #komunitas #jakarta #acara #pameran #lifestyle #kreativitas #cibis-park
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Honda Culture Indonesia hadir untuk kali kedua bagi para pengguna dan pencinta Honda di Tanah Air. Acara yang diinisiasi PT Honda Prospect Motor ini berlangsung pada 15–16 November 2025 di CIBIS Park, Jakarta.
Ajang ini menjadi titik akhir dari rangkaian roadshow di 10 kota besar Indonesia, sekaligus mempertemukan berbagai komunitas, pelaku kreatif, dan penggemar Honda dari berbagai daerah.
Honda Culture Indonesia Vol. 2 2025 mengusung tagline "Menyala Sepanjang Masa", memberikan gambaran tentang semangat kebersamaan dan lintas generasi komunitas Honda yang sudah berlangsung puluhan tahun dan tetap terjaga hingga saat ini.
Pada edisi kedua ini, Honda Culture Indonesia tampil dengan penyelenggaraan yang lebih panjang serta rangkaian konten yang semakin variatif dibandingkan tahun lalu. Selama dua hari, pengunjung dapat menikmati pameran mobil ikonik, zona komunitas, kompetisi budaya urban, perawatan mobil, hingga program penjualan eksklusif yang hanya tersedia sepanjang acara.
President Director PT Honda Prospect Motor Shugo Watanabe mengatakan, acara ini merupakan ruang kolaborasi yang merangkul berbagai generasi pemilik Honda. “Kami sangat senang dapat kembali menghadirkan Honda Culture Indonesia untuk kedua kalinya. Acara ini bukan sekadar perayaan otomotif, tetapi juga wadah ekspresi lintas generasi,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).
Honda Culture tahun ini mempertemukan 37 komunitas aktif Honda dengan lebih dari 100 chapter dan 50.000 anggota di seluruh Indonesia. Kehadiran komunitas dalam jumlah besar ini sekaligus menegaskan bagaimana Honda menjadi bagian penting perjalanan otomotif masyarakat Indonesia selama puluhan tahun.
Acara dibagi menjadi empat zona utama, yakni Main Zone, Lifestyle Zone, Relax Zone, dan Culture Zone. Masing-masing menghadirkan pengalaman berbeda.
Main Zone menjadi pusat perhatian berkat tampilnya 17 Special Car dan 3 Bike Display, mulai dari model klasik seperti Honda TN-360, S500, hingga S800, sampai ikon modern seperti CR-V Gen 1, Civic Estilo, Prelude, Civic Type R FN2, Civic FL5 Mugen, serta sang legenda Honda NSX NA1. Koleksi roda dua seperti Honda NSR MC dan Honda CB450 “Red Dragon” juga melengkapi suasana nostalgia Honda.
Zona ini juga memamerkan 10 Regional Favorite Car hasil roadshow, serta 24 mobil perwakilan komunitas yang membawa gaya modifikasi khas daerah masing-masing. Sementara itu, panggung hiburan menghadirkan Diskopantera dan Moluccan Soul di hari pertama serta Diskoria feat. Neida pada hari kedua, lengkap dengan Customer Lounge dan booth sponsor seperti Wincos, Dunex, dan Torsion Wheels.
Honda turut merilis program penjualan spesial berupa Program Referral, Saatnya Punya Honda Sekarang, hingga paket DP ringan dan bunga rendah. Layanan purna jual pun diperkuat dengan promo voucher servis, diskon aksesoris, dan program tukar tambah Honda Certified Used Car yang diminati pengunjung.
Lifestyle Zone tampil sebagai ruang lintas budaya, menggandeng Twilo untuk menghadirkan kompetisi skate, dance performance, hingga workshop kreatif.
Bagi pengunjung yang ingin bersantai, Relax Zone menawarkan suasana lebih tenang. Di sini terdapat booth Honda Racing Indonesia dan area eksplorasi elektrifikasi Honda melalui model Step WGN. Pengunjung juga dapat menikmati Hayomoto Gallery Walk yang menampilkan 15 karya foto terbaik dari perjalanan Honda Culture Indonesia. Komunitas fotografi Hayomoto menghidupkan zona ini lewat Photo Challenge bertema “Through the Years, Through the Lens” serta workshop “Automotive Photography”.
Culture Zone menjadi jantung budaya Honda, menampilkan HCI Booth dengan Racing Simulator dan Honda Culture Canvas, kanvas raksasa berisi tanda tangan komunitas dari 10 kota sebagai simbol kebersamaan. Honda Service Point juga hadir melayani pengecekan ringan hingga penggantian oli, sementara uji performa mesin dyno menjadi salah satu aktivitas favorit penggemar performa.
Pengunjung pun bisa merasakan karakter mobil Honda secara langsung lewat unit test drive, mulai dari Brio, WR-V, N7X Concept, HR-V e:HEV, hingga Step WGN. Aktivitas uji coba ini melengkapi pengalaman yang membuat Honda Culture Indonesia Vol.2 bukan sekadar perayaan, tetapi perjalanan emosional antara Honda, pengguna, dan budaya otomotif nasional.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56